Home

Sabtu, 03 Desember 2016

Kenakalan dan Kesalehan

Kau yang suka kenakalanku takkan suka kesalehanku

Kenapa Ahok Menista Alquran?

Kenapa orang-orang di bawah komando FPI dan Riziq Shihab meminta Ahok dipenjara?
-          Karena Ahok menista alquran
Emang apa yang dilakukan Ahok menista alquran?
-          Googling aja
(Googling) Saya tidak melihat Ahok menista alquran?
-          Kamu nggak baca beritanya?
Kamu sepakat dengan berita yang menyebut Ahok menista alquran?
-          Iya lah.
Menurut kamu menista alqur’an itu bagaimana?
-          Ih susah ngomong sama orang bebal. Baca aja beritanya
Iya, aku sudah baca. Tapi sekarang proses hukum sedang berjalan.
-          Iya betul.
Berarti itu masih dugaan. Kalau hasil akhir proses hukum menyatakan Ahok tidak menista alquran?
-          Ahok harus tetap menista alquran. Makanya dia harus dipenjara
Kamu siapa sih? Kok ngotot banget Ahok harus dipenjara? Ngotot banget Ahok menista alquran? Kamu jaksa atau hakim?
-          Aku seorang Muslim. Seorang Muslim itu harus hakim
Maksudnya, seorang Muslim harus hakim?
-          Hakim itu orang yang memutuskan hukum.
Kamu yakin kamu benar
-          Yakinlah. Makanya saya ikut aksi 411 dan 212
Apa hubungannya benar dengan ikut aksi 411 dan 212?
-          Ih, kamu tuh bego atau bebal sih. Jelas-jelas Ahok menistakan agama. Lihat aja di google. Dia harus dihukum.
Kan proses hukum sedang berjalan.
-          Makanya harus kita kawal. Biar hukum tidak dimainin sama Ahok cs. Biar Ahok dihukum. Dipenjara, karena dia sudah tersangka. Seperti kasus-kasus penistaan agama, ketika sudah tersangka yang bersangkutan langsung ditahan. Ini Ahok bebas.
Emang kenapa kalau Ahok belum ditahan? Kan memang masih dalam proses. Lagi pula ini tidak menyalahi aturan hukum?
-          Kalau dia tidak ditahan, ini akan menjadi preseden buruk bagi para penista agama selanjutnya. Kalau tidak ditahan, Ahok berpotensi melakukan penistaan-penistaan selanjutnya.
Bukannya bagus kalau Ahok melakukan penistaan-penistaan agama selanjutnya?
-          Bagus gimana? Kamu tuh bego banget ya? Kamu Muslim bukan sih?
Insyaallah aku Muslim, sama seperti kamu.
-          Kamu nggak sakit hati sama Ahok.
Nggak
-          Berarti keislamanmu perlu dipertanyakan
Emangnya aku harus sakit hati kepada Ahok untuk menjadi seorang Muslim?
-          Nih denger ya, kalau orang-orang kayak Ahok dibiarkan, dia akan ngelunjak. Dia akan semena-mena. Dia akan meremehkan umat Muslim. Dia akan berkomplot dengan cukong-cukong jahat untuk menghancurkan umat Muslim. Makanya sebelum itu terjadi, kita dorong dia masuk ke penjara.
Jadi alasan kamu meminta Ahok masuk penjara karena kamu takut Ahok akan menindas umat Islam?
-          Ya kurang lebih begitu
Kamu takut kepada Ahok atau takut kepada Allah?
-          Justru karena aku takut kepada Allah, aku cinta kepada Allah, kita tuntut Ahok masuk penjara
Emang kalau nggak menuntut Ahok dipenjara, kita dianggap nggak takut sama Allah?
-          Kamu tuh ya, dasar antek-antek Ahok. Aku memilih Allah, bukan Ahok. Makanya aku bela agama Allah, kitab Allah, bukan bela Ahok.
Kok kamu berkesimpulan bahwa aku antek Ahok?
-          Karena kamu belain Ahok.
Oke. Emang apa salahnya kalau belain Ahok?
-          Jelas Ahok salah. Ahok nggak perlu dibela. Membela orang yang salah itu sama saja dengan melakukan kesalahan
Siapa yang berhak menentukan orang telah berbuat salah atau benar?
-          Semua sudah jelas. Orang yang salah harus dipenjara
Dia bersalah kepada siapa?
-          Kepada seluruh umat Muslim. Kecuali kamu, yang muslimnya cuma nggaku-ngaku.
Kok ngaku-ngaku?
-          Buktinya kamu nggak marah sama Ahok. Kamu pasti dibayar untuk dukung Ahok.
Jangan asal tuduh. Aku marah dan nggak marah itu hakku. Aku punya penilaian sendiri. Aku harus mempertanggungjawabkan pikiran dan tindakanku sendiri, bukan atas dasar pikiran dan tindakan orang lain. Kalau aku merasa dan menurut akal sehatku nggak harus marah, kenapa aku harus marah?
-          Marah itu soal perasaan, bukan akal sehat
Nah itu. berarti kamu bertindak atas dasar perasaan bukan akal sehat
-          Emang aku robot, nggak punya perasaan? Dan juga, siapa bilang aku nggak pakai akal sehat? Aku bisa tahu dan menilai Ahok bersalah karena menista agama itu dengan akal sehat
Lalu, kenapa kamu memaksakan kehendakmu agar Ahok dipenjara?
-          Karena ini kebenaran. Kebenaran harus ditegakan.
Tanpa menghargai proses hukum?
-          Kalau hukum dipermainkan, kita harus mengawalnya.
Berarti kalau Ahok bebas itu menurutmu hukum dipermainkan?
-          Ya. Jelas.
Kok begitu? Emang kamu hukum itu sendiri?
-          Aku berpegang pada hukum Allah
Hukum Allah yang mana?
-          Alquran dan Sunnah
Terus?
-          Terus apa? Ya Ahok harus dipenjara.
Sesuai hukum alquran dan sunnah?
-          Sesuai hukum yang berlaku di Indonesia lah. Kalau Ahok bebas, ini bertentangan dengan quran dan sunah. Aku mendukung NKRI selagi tidak bertentangan dengan Quran dan Sunnah.
Kan Ahok sudah minta maaf?
-          Kok balik lagi ke situ? Ahok sudah minta maaf. Tapi hukum harus ditegakan. Pokoknya kalau Ahok tidak dipenjara, berarti hukum sudah dipermainkan.
Itu namanya memaksakan kehendak. Yang kamu lakukan juga bisa dibilang sebagai tindakan mengintervensi hukum.
-          Biar. Hukum harus diintervensi oleh kebenaran.
Kamu dan teman-temanmu adalah kebenaran?
-          Kami membela kebenaran
Dengan memaksakan kehendak?
-          Kebenaran harus dipaksakan, jika tidak berarti kita tunduk kepada kedzaliman
Siapa yang menjamin tindakanmu benar?
-          Tindakanku sesuai dengan quran dan sunnah yang aku yakini
Yakin?
-          Yakin.
Berarti itu subjektif kamu
-          Keyakinan memang subjektif
Lalu kenapa kamu memaksakan subjektivitasmu kepada orang lain?
-          Ini sudah menjadi multi subjektif. Lihat massa aksi 411 dan 212, banyak kan? Bukan Cuma aku saja yang punya keyakinan ini
Apakah kuantitas menentukan kualitas?
-          Ngomong apa lagi kamu? Orang sebanyak itu dengan satu visi misi tidak mungkin meyakini secara bersama-sama sesuatu yang salah. Umat Muhammad tidak akan bersepakat mendukung kesealahan, pasti mayoritas mendukung kebenaran.
Kalau begitu, kamu tidak menghargai perbedaan. Kamu menurutku mengancam keberagaman untuk memaksakan suatu keyakinan kepada orang lain. Mereka yang berbeda keyakinan dan pikiran darimu dan kelompokmu adalah salah.
-          Ya harus. Karena kalau kita tidak punya keyakinan, untuk apa kita hidup di dunia?
Ya tapi kan nggak harus memaksakan kehendak. Hanya Allah yang punya kehendak mutlak. Emangnya kamu Allah?
-          Terserah.







Kamis, 24 November 2016

Pikir Dulu Sebelum Kau Ucap Kasihan, Sekadarkah Solek Kata atau Citra di Social Media?

Ketika kau melihat saudara-saudaramu teraniaya di seberang negeri sana
Kau bilang, "sini, ke sini, tinggallah bersama kami."
Seriuskan perkataanmu?
Aku yakin, itu hanya emosi sesaatmu.
Kau tidak tahu betul pahitnya derita
Yang kau punya hanya rasa iba, yang menurutmu tuntas dengan bermanis-manis kata di media sosial
Ketika kutanya, apa tindakan nyatamu untuk menolongnya
Jawabmu, semampuku, jika tak ada harta benda hanya doa
Baiklah. Doa, cukup.
Tak usah banyak cakap bermanis ria menunjukan kepedulianmu
Mungkin saja kamu sanggup menampung mereka, tapi tak mungkin untuk derita
Mungkin saja hartamu cukup menafkahi mereka, tapi tidak luka batinnya
Mungkin saja kau bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka, tapi tidak dengan pikiran yang telah melalui jalan lalu dan berkelana di jalan depan mereka.
Turunlah ke jalan. Menggelandang di negeri antah berantah. Maka kau akan dapatkan apa yang mereka rasakan

Selasa, 22 November 2016

Transit atawa persinggahan


Pintu yang akan dibuka adalah pintu sebelah kiri dari arah datangnya kereta. Stasiun transit Manggarai. Dari pintu sebelah kiri pula kita melanjutkan perjalanan. Turut dalam laju kereta.

Turun lewat pintu kanan di stasiun yang sama. Hati pun mungkin serupa, penuh kedongkolan. Tapi tak semua sama bisa menyambungkan kata-kata kita, bukan?

Apalah arti keberangkatan dan tujuan tanpa sebuah persinggahan? Tanpa dunia, akhirat yang dipuja-puja tanpa makna.

Tapi dunialah yang bengal. Bikin kesal.
Transit bikin sembelit
Mana beruntung banyak luang dan sedikit

Kubelah dadaku menganga neraka
Buanglah segala benci dan risihmu ke sana jangan biarkan ia singgah terlalu lama mendera-dera karena derita
Jangan! Jangan bilang, sudahlah. Itu biasa.

Senin, 21 November 2016

Mimpi usai bangun tidur



Ujung pistol menempel di pelipis kanan. Sebiji peluru tajam berwarna keemasan bersiap dengan kuda-kuda. Menunggu aba-aba sang pelatuk yang telah pasrah kepada ibu jari dan telunjuk yang saling bekerja sama dalam sepersekian detik.
Satu hentakan memercik api kecil, mendorong sebutir peluru menuju moncong pistol. Ujung runcingnya membuat lubang di pelipis tengkorak kanan lalu bersarang di otak.
Selesai
Kita sudah hidup kembali. Kita punya waktu sekitar 20 jam ke depan sebelum mati.
Setelah mati berkali-kali, apa yang kau takuti di hidup ini?

Melawan Tindakan Rasis

Mengutuk pembantaian Rohingnya itu bukan karena mereka Muslim. Tapi tentang kemanusian.
Apakah Anda bersuara hanya karena orang Rohingnya itu Muslim?
Dan ketika mereka bukan Muslim, Anda akan diam dan mendukung pendindasan serta pembantaian?

Bicara soal SARA, misalnya tindakan atau perkataan rasis, apapun alasannya jelas tidak dibenarkan. Kalau ada orang lain yang bertindak/bersikap/berprilaku/berkata rasis terhadap kita, bukan berarti itu membolehkan kita melakukan hal yang sama yakni rasis juga kepada dia atau mereka. 

Janganlah tindakan mereka mengatur tindakan kita.
 

Seperti kasus pembantaian Muslim Rohingnya. Kita mestinya membela orang Rohingnya bukan lantaran mereka Muslim, tapi karena kemanusiaan. 

Kalau membela hanya karena mereka Muslim, apakah bila mereka bukan Muslim kita cuek-cuek saja? Tidak dong. Kalau kita cuek orang Rohingnya ditindas karena misalnya mereka non-Muslim, berarti kita tidak ada bedanya dengan penindas itu.

Minggu, 20 November 2016

Buat Lu, Normal Nggak Perlu

Mata terbuka. Dari jendela, di luar tampak gelap.
Adzan baru saja sayup-sayup ku dengar dalam keadaan setangah tidur.

Aku bangun dan bergerak ke ruang depan. Melihat jam.
Jarum menunjuk pukul 06.15.

Dua orang teman telanjang dada beraktivitas biasa. Mereka tampak habis kegerahan.

"Gua tidur jam sepuluh pagi, bangun jam enam sore. Normal, kan?" tanyaku.

"Buat lu mah nggak perlu normal lah," jawab salah satu dari mereka.

Lalu semua berjalan seperti sebelum-sebelumnya. Aku mulai menyeduh kopi, ke warung sebelah membeli sebungkus rokok kretek dari Surabaia. Menyalakan komputer mendengarkan musik. Buka media sosial dan menulis.

Beberapa jam kemudian dua orang teman tadi beranjak istirahat untuk siap-siap menghadapi Seninnya masing-masing.



Jumat, 18 November 2016

Manusia, Setan dan Tuhan

Di hadapan Tuhan, kita semua sama*
Berhadapan dengan setan, kita masing-masing
Meskipun sedang berdua
Strategi kompromi atau pilih tanding



*tergantung derajat ketakwaan yang tak seorang pun dapat menilainya.

Senin, 24 Oktober 2016

Kehidupan Malam dan Keputusasaan

Malam selalu bergerak menggumuli fantasi kesunyian, harapan, keheningan dan keputusasaan. 
Malam adalah kerinduan akan penyatuan serta realita keterpisahan yang menenangkan sekaligus menakutkan. Menegangkan seperti Senin menjadi hari untuk mengawali kebosanan.
Malam selalu bergerak di antara fantasi kesunyian, harapan, keheningan dan keputusasaan. 
Mengapa kau menyesal atas apa yang telah kita lakukan? Bukankah kenyataan bahwa itu hal yang selalu kau kenang? Kau rindukan tapi pula buatmu memalukan.
Untuk apa kau ingkari hanya demi menjaga anggapan sosial bahwa aku dan kamu baik-baik saja, sayang

Senin, 29 Agustus 2016

Tanpa Basa-basi

Bisakah kita bertemu dan berpisah tanpa basa basi
Tanpa apa apa kabar dan sampai jumpa
Apa adanya
seperti pagi dan senja tanpa mega-mega
Jika memang harus diam tetaplah sunyi
Biar sekitar beraksi
Toh kakiku, kakimu, dengus napas kita sudah cukup bersuara
Kau tahu maksudku, kutahu maksudmu

Ah kita tanpa basa basi bukanlah apa-apa