Home

Selasa, 17 Juli 2018

Nyaru

Saat kita menyatu, segala menjadi nyaru.
Aku tak pasti, mana itu aku mana itu kamu.
Mana perasaanku mana perasaanmu.
Aku juga tak tentu sebenarnya kita saling mendekat atau menjauh.
Kebersamaan ini, semakin kuat atau rapuh.
Atau kita rindu yang dulu, yang pura-pura mengejar pura-pura lari
Menjaga rekayasa untuk saling curi hati

Kamis, 28 Juni 2018

Mari Bersembunyi

Tetaplah bersembunyi
di balik tirai-tirai misteri.
Jangan ketemu
biar ku terus mencari
agar ku senantiasa mengakali
jalan menuju pelukmu.

Penghalang adalah jarak
berkatnya mengalir gerak
Pada tiap kejauhan
terdapat dekat yang hakiki
di hati

Kamis, 24 Mei 2018

Bau Aku

Ya, waktu itu di mall, kamu cuma pakai kaos oblong. Mungkin karena belum makan, kena ac, jadi masuk angin. Aku pinjamkan sweater karena kamu kedinginan.
"Bau kamu," katamu mengomentari sweaterku. Tapi tetap kau pakai juga.
"Emang gimana, kayak apa bau aku?"
"Ya, kayak bau kamu."
Dan kamu memakai sweaterku sampai kita berpisah, kamu pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian, kamu kirim pesan WA. "Aku muntah-muntah."
Itu pasti efek masuk angin, bukan karena bau aku. Aku yakin itu.

Selasa, 22 Mei 2018

Bahagiamu Bukan Untukku


Aku sedang dalam perjalanan menuju hamparan kebahagianmu. Sudah hampir lelah aku melangkah, belum juga kulihat senyum suka citamu. Semoga aku tidak menyerah sampai tiba di hadapanku adalah riangmu.

Namun bila ceriamu tak kunjung ku jumpa, mungkin ku salah arah, atau girangmu telah terisolasi dalam sebuah benteng dekapan lain yang amat kokoh, sehingga tak ada celah untukku mengintip gembiramu. Yang tertatap pandangku hanya tinggal sisi getirmu, gundah, lara dan pilu.

Rabu, 25 April 2018

Kau adalah Buku yang Kupinjam

Bagaimana aku habis membacanya

"Kau adalah buku yang kupinjam diam-diam, belum tuntas aku baca, sudah kembali pada yang punya" (17 April 2018)


Selasa, 26 Desember 2017

Isi Waktu Menunggu dengan Berdzikir

Kita sering mendengar, bahkan mungkin juga sering mengatakan, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Hampir dapat dipastikan, dalam hidup kita pernah dihadapkan pada situasi harus menunggu seseorang atau sesuatu. Memang, tidak semua kegiatan menunggu itu membosankan. Adakalanya penuh kecemasan atau ketakutan. Rasa cemas dan takut tentu saja berbeda dengan rasa bosan karena di situ yang muncul adalah was-was dan kekhawatiran. Misalnya menunggu hasil ujian masuk perguruan tinggi, menunggu panggilan kerja, menunggu kelahiran sang buah hati dan sebagainya.

Menunggu yang membosankan lebih sering terkait dengan kehadiran seseorang. Misalnya kita telah sama-sama membuat janji untuk bertemu di suatu tempat, tapi kita tiba lebih dulu atau pada waktu yang telah ditentukan orang yang akan kita temui tak kunjung datang. Kebosanan pun mulai menumpuk perlahan. Pikiran tertuju pada orang yang kita tunggu, sementara kita tak tahu harus berbuat apa selain duduk diam menghitung detik demi detik waktu berjalan.

Di era saat ini, masalah seperti itu mungkin terpecahkan dengan adanya smartphone atau gawai. Rata-rata orang jaman sekarang secara refleks akan memungut gawainya manakala kebosanan mulai menyapa. Membuka media sosial atau membaca berita dapat menjadi solusi untuk sejenak mengalihkan pikiran. Namun jika habis lebih dua atau tiga berita sementara yang kita tunggu belum muncul juga, lama-lama bisa jengah juga. Apalagi kalau gawai yang kita punya lowbat dan tak ada charger. Tambah nggak karu-karuan deh bete-nya.

Untuk itu, seabrek tips dapat kita temukan di blog-blog yang bisa kita cari via google tentang mengatasi kebosanan saat menunggu. Di antaranya kita bisa mengisi waktu menunggu dengan membaca, menulis, hingga mengamati tingkah laku orang di sekitar kita, siapa tahu bisa jadi sumber inspirasi dan sebagainya. Ada pula cara yang bisa kita lakukan agar kegiatan menunggu tidak sia-sia, yakni berdzikir. Nilai lebihnya kita jadi lebih religius dan insyaallah lebih dekat pada Sang Pencipta.

Khusus untuk berdzikir, bagi saudara-saudara Muslim, banyak sekali ayat al-Qur’an maupun Hadits Nabi yang memerintahkan ibadah yang satu ini. Berhubungan dengan aktivitas menunggu, kita bisa mengisinya dengan berbagai macam dzikir seperti tahmid, tasbih, tahlil maupun bacaan solawat pada Nabi Muhammad saw. Kita juga bisa menghitung dzikir yang kita lafalkan dengan ruas-ruas jari kita sebagaimana sunah yang terdapat dalam salah satu hadits nabi.


Dalam postingan ini, saya tidak cantumkan dalil-dalil tentang berdzikir. Bila berkenan silakan cari sendiri di google, sudah banyak sekali blog atau website yang memuatnya. Tapi intinya, selain menjadikan aktivitas menunggu jadi lebih bermakna, mengisi waktu menunggu dengan berdzikir insyaallah juga akan mendatangkan pahala. Hal itu lebih berarti daripada waktu kita terbuang sia-sia. 

Rabu, 11 Oktober 2017

Budaya Gendongan Bayi “Fertil, Barakat, Ayom”


Budaya Gendongan Bayi
“Fertil, Barakat, Ayom”
20- 29 Oktober 2017, 09.00- 16.00 WIB
Ruang Pameran Temporer Gedung B, Museum Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Jakarta Pusat
Gendongan bayi. Simbol cinta dan kasih sayang mendalam dan universal. Manusia mengenal cinta melalui dunia gendongan bayi. Bersandar pada dada dan punggung ibu. Mencium harum dan merasakan suhu tubuhnya, merasakan perlindungan dan memahami makna cinta orang tuanya.
Selain memiliki makna kasih sayang yang esensial untuk mempererat hubungan ibu dan anak dengan fungsi melindungi, gendongan bayi memiliki kekayaan makna budaya. Di seluruh penjuru dunia khususnya Asia, manusia menggunakan cara dan bentuk gendongan bayi yang berbeda-beda dan berkaitan erat dengan pola asuh anak. Penggunaan keahlian membordir, menjahit dan pemberian manik-manik dari wanita dari berbagai tempat di dunia memperluas hiasan gendongan bayi, tak hanya menjadi ekspresi dari seni budaya, juga manifestasi konkrit ekspresi kultural dari pengharapan terhadap kesuburan, berkat, dan perlindungan
Pameran “Fertil, Barakat, Ayom-Budaya Gendongan Bayi” (Fertility, Blessings and Protection- Cultures of Baby Carriers) pada 20-29 Oktober 2017 merupakan kerjasama Museum Nasional Prasejarah-Taiwan (National Museum of Prehistory-Taiwan) bersama Studiohanafi dan Museum Nasional Indonesia. Pameran ini bagian dari tour internasional setelah diselenggarakan di Taiwan dan New York-Amerika.
Pada pameran kali ini, Studiohanafi memvisualkan pameran dengan pendekatan etnografi dan membahasakannya dalam display kontemporer agar lebih dekat dengan publik saat ini. Sebanyak 27 karya koleksi gendongan bayi dari National Museum Of Prehistory (NMP) akan diboyong ke Indonesia bersanding dengan koleksi dari Museum Nasional Indonesia. Setiap karya berisi uraian makna dan filosofi gendongan bayi dari sejarah, makna pola hingga cara menggendong.
“Salah satu metode yang selalu kami sertakan dalam program-program kesenian, khususnya pameran gendongan bayi ini tak bisa kami luputkan dari penelitian etnografi. Maka, jauh-jauh hari sebelum pameran ini dirancang seperti sekarang, kami dan pihak Taiwan melakukan kerja etnografi selama beberapa waktu di Taiwan” tutur Hanafi yang melakukan riset ke Taitung dan Taipei pada Agustus silam.
Melalui display kontemporer, Hanafi bersama Enrico Halim (Aikon) akan mendesain ruang pamer temporer Museum Nasional Indonesia menjadi bentuk rahim. Tak ada sudut yang tajam. Segalanya lembut, nyaman dan halus.
Pengunjung akan memasuki ruangan dengan lantai kayu yang mengambang. Melihat satu persatu koleksi gendongan bayi, foto, narasi teks budaya dan video bersama iringan lagu pengantar bayi (lullaby). Ditambah, untuk memperkuat tema sebagai pameran etnografi, pada salah satu ruang akan berisi koleksi gendongan bayi dari Dayak-Kalimantan bersama sosok ibu yang menenun.
Selain gendongan bayi, pameran akan diisi oleh pendamping acara berupa seminar antropologi tentang gendongan bayi Asia dan pola asuh anak di suku-suku asli Indonesia dan Taiwan dengan tiga pembicara sebagai narasumber antropolog dari Universitas Indonesia – Dr. Tony  Rudyansjah, M.A. dan Dr. Dave Lumenta, Ph.D  dan Chi-Shan Chang, Ph.D selaku Kurator dari National Museum of Prehistory- Taiwan.
“Kami tidak hanya ingin menampilkan pameran tapi juga pengetahuan kepada publik seni Indonesia dan menjalin hubungan yang lebih panjang dengan Taiwan melalui jalan kebudayaan” ungkap Hanafi.
Museum Nasional Prasejarah-Taiwan (NMP) menyambut baik tur pameran istimewa ke Indonesia berdasarkan misi pertukaran budaya. Gendongan bayi sebagai benda-benda buatan tangan yang amat halus secara bertahap menjadi warisan budaya yang tak ternilai harganya. NMP mengutamakan pilihan potongan-potongan yang sarat akan makna cinta serta berkah tentang kelahiran dan membesarkan anak, dan berharap bisa memberi gambaran dengan baik kepada para pengunjung di Museum Nasional, Indonesia.
“Taiwan sebagai titik awal, pameran istimewa ini akan memungkinkan interaksi dan kolaborasi antara seni, budaya masyarakat, lembaga akademik antara Taiwan dan Indonesia. Tujuan dari pameran ini adalah untuk menyadarkan nilai universal tentang keadaan manusia “sejak tali pusar menopang sampai ke gendongan bayi.” Tutur Chi-Shan Chang sebagai kurator National Museum of Prehistory-Taiwan.

Budaya Gendongan Bayi
“Fertil, Barakat, Ayom”
20- 29 Oktober 2017, 09.00- 16.00 WIB
Ruang Pameran Temporer Gedung B, Museum Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Jakarta Pusat
ARTISTIK
Hanafi
Enrico Halim
KURATOR
Chi-Shan Chang, National Museum of Prehistory-Taiwan
KARYA
27 koleksi gendongan bayi dari National Museum of Prehistory-Taiwan, 6 koleksi kain gendongan bayi  dari Museum Nasional Indonesia. Karya lain: narasi teks, fotografi, video dan lagu.
PEMBUKAAN
Kamis, 19 Oktober 2017
Pukul 19.30 WIB
di Lobby Museum Nasional Indonesia
Pertunjukan “Ayun Ambing” oleh Lena Guslina dan Doddy Satya Ekagustdiman
Diresmikan oleh:
Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Siswanto, Kepala Museum Nasional Indonesia
Chi Shan-Chang, Kurator National Museum of Prehistory-Taiwan
Perwakilan, Taipei Economic and Trade Office (TETO)
Hanafi, seniman
PAMERAN
20-29 Oktober 2017
Pukul 09.00 – 16.00 WIB
di Ruang Pameran Temporer Gedung B, Museum Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Jakarta Pusat
* Terbuka untuk umum dan bebas biaya
KONFERENSI PERS
19 Oktober 2017, 16.00 WIB
Pembicara:

Hanafi, seniman
Enrico Halim, seniman
Chi-Shan Chang, Kurator National Museum of Prehistory-Taiwan
Adinda Luthvianti, Art Program pameran
Ratu Selvi Agnesia, manajer pameran
Sari Wulandari, periset suku Dayak
Semi Ikra Anggara, stage manager
Milliya,  keuangan dan administrasi
Lena Guslina, penampil
Doddy Satya Ekagustdiman, penampil
PROGRAM PUBLIK 
  • Seminar “Gendongan Bayi Asia”
Jumat, 20 Oktober 2017, 15.00 WIB di Ruang Seminar Museum Nasional Indonesia
Narasumber:
Chi-San Chang (Kurator National Museum of Prehistory-Taiwan),
Tony Rudjansyah (Antropolog)
 Dave Lumenta (Antropolog) 
Moderrator: Debra H.Yatim
* Terbuka untuk umum dan bebas biaya
Contact Person:
Ratu Selvi Agnesia (Selvi)
Art manager studiohanafi
085721941986 / studio.hanafi72@gmail.com
www.studiohanafi.com

Selasa, 19 September 2017

Angka-angka itu datang lagi

Menghantui. Angka-angka itu datang menerorku lagi. Mereka datang detik demi detik tanpa dapat aku hindari. Tulisan ini adalah upayaku menghindar dari angka-angka kembar tersebut. Hari ini selama tiga jam kurang lebih sudah lima kali aku disambanginya.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak tahu itu pertanda apa. Pasrah. Tak ada yang bisa kulakukan. Seharusnya selesai dengan pasrah. Tapi ketakutan dan kekhawatiran terus merongrong hati dan pikiran.
Tak ada saran tak ada tempat tak ada teman yang bisa diajak untuk berbagi. Hanya kepasrahan pada Tuhan. Tapi raga, pikiran, hatiku entah kenapa memberontak. Apakah mereka telah berkhianat. Kalau mereka berkhianat, aku apakan sebaiknya mereka? Aku penjarakan? Aku siksa? Itu artinya juga sama saja memenjarakan dan menyiksa diriku sendiri.
Putus asa. Sepertinya hanya frasa itu yang pas untuk menggambarkan kondisi saat ini. Bunuh diri tak mudah. Banyak aspek yang menghalangi, banyak tahap yang harus dilewati, banyak pihak yang harus dilibatkan. Takutkah kau membaca tulisan ini?

Tulisan ini adalah tulisan frustasi. Tulisan yang bisa dijadikan bahan ghibah bagi kalian yang mengenalku, si penulis tulisan ini. Tapi, apa kau benar-benar mengenal penulis tulisan ini? Terserah kalau masih mau ghibah, karena hanya itu yang bisa kau lakukan. Aku juga pernah berada di posisimu, mungkin. 

Kamis, 14 September 2017

Hidangan di Atas Medsos


Saya tahu apa yang di benak para pengunggah makanan yang mereka santap bersama teman, orang tercinta atau pun sekadar sendiri. Mereka sedang berbahagia dan sebagaimana perasaan lainnya, ingin diungkapkan dan dibagikan. Karena seperti kutipan dalam film “Into The Wild” kebahagiaan hanya nyata bila dibagikan.
Saya mungkin sakit hati. Setidaknya itu yang saya rasakan dan tidak dapat saya sembunyikan. Sakit hati memang tidak rasional. Entah karena iri atau karena memang sedang tak bisa seperti mereka yang membagikan foto-foto kelezatan makanan di media sosial. Pastinya, saat ini, saya sedang tidak bisa seperti mereka. Saya sedang lapar dan kelaparan. Melihat foto-foto makanan, sekalipun itu hidangan sederhana, rasanya seperti tambah mengaduk-aduk dan mengiris-iris isi perut.
Seperti mereka yang ingin membagikan perasaan bahagia atas hidangan dari Tuhan, saya juga tak tahan untuk membagikan perasaan kepedihan yang terus menggumpal dalam perut, hati dan pikiran.
Saya ingin memanipulasi perasaan setidaknya memolesnya dalam bentuk cerita fiksi, esai, atau semacamnya. Tapi mungkin terlalu perih ya isi perut. Terlalu asam mulut karena hanya diisi oleh asap tembakau dan secangkir kopi.
Apapun yang terjadi, saya mesti bersyukur karena masih bisa menyeruput kopi dan menghisap nikotin sebagai penahan lilitan perut ini.

Ini merupakan kemarahan, yang sebenarnya saya tujukan untuk diri sendiri. Saya tak sedang ingin dikasihani atau mengutuki diri sendiri dan orang lain. Tidak. Karena semua itu jelas percuma. Saya juga tidak berharap ada yang membaca tulisan ini. Tapi tetap saja ada orang yang tersesat membuka, membaca, dan bahkan ikut merasakan derita gara-gara membaca tulisan ini. silakan saja. Nikmati saja. Semoga kau tak mengutuki nasibmu.

Sabtu, 15 Juli 2017

Menepi demi Kejernihan

Segeralah berhenti untuk menepi sejenak manakala hilang kejernihan pada pandangan ke depan

Meski demikian, tak ada kepastian segalanya bisa kita kendalikan. Hanya sabar, kepasrahan, dan syukur. Semua ini kehendak Allah