Home

Senin, 29 Agustus 2016

Tanpa Basa-basi

Bisakah kita bertemu dan berpisah tanpa basa basi
Tanpa apa apa kabar dan sampai jumpa
Apa adanya
seperti pagi dan senja tanpa mega-mega
Jika memang harus diam tetaplah sunyi
Biar sekitar beraksi
Toh kakiku, kakimu, dengus napas kita sudah cukup bersuara
Kau tahu maksudku, kutahu maksudmu

Ah kita tanpa basa basi bukanlah apa-apa

Senin, 08 Agustus 2016

Iblis

Iblis datang
Iblis menghilang
Iblis datang bisa lewat apa saja
Iblis makhluk kesepian yang mencari hiburan
Iblis tak bisa tertawa itulah yang membuatnya menderita
Iblis hanya mampu menertawakan
Karenanya
Iblis datang dengan kesombongan yang memesona
Iblis mengolok-olok dan menantang manusia
Iblis tak henti-henti mengajak dan menggoda
Iblis kadang memelas mengiba merasakan derita bersama targetnya
Iblis punya tujuan agar manusia sama seperti dia
Tabiatnya
Iblis mengajak bersama menjalani segalanya
Iblis baru akan berhenti ketika yang mengikutinya telah jauh dari jalan semula
Iblis tidak bertanggungjawab atas segala yang telah dilakukan oleh manusia
Iblis hanya punya dua saran, tetaplah menertawakan mereka yang tertipu mengikuti kita
Iblis datang dengan aneka rupa
Iblis kadang menyerupai manusia
Iblis juga meminjam  tubuh, mulut, tangan, barang milik kolega
Iblis juga bisa menyelinap lewat celah pori rambut dan bersarang di kepala

Dua karakter Iblis ialah sombong dan tidak bertanggungjawab. Dua karakter itu mampu memperdaya emosional setiap manusia untuk terpana, takjub, heran dan bertanya-tanya. Penasaran lalu tanpa sadar mengikutinya. Setelah terjerumus dan menyesal, Iblis baru memperlihatkan seringainya. Ia tertawa dan berkata, aku tidak bersalah apa-apa. Semua yang kamu lakukan jadi tanggungjawabmu. Itu bukan tanggungjawabku. Semua salahmu, bukan salah temanmu, tangan temanmu, mulut temanmu, atau barang temanmu. Tentu juga bukan salahku. Ini sudah menjadi pekerjaanku sejak jutaan tahun yang lalu.

Kebenaran Tak Pernah Terungkap


Tidak ada kebenaran. Jika pun ada, ia merupakan sesuatu yang tidak terungkap. Semua keterangan tentang kebenaran tak lebih hanya sesuatu yang dianggap atau diyakini benar.
Jika sampai kau mati-matian membela keyakinan itu, apakah ya bahwa kau benar-benar membelanya?
Bukankah itu sekadar keyakinan yang baru akan terbukti benar pada suatu saat nanti?
Entah kapan kau akan jumpai. Jangan-jangan kau hanya membela diri sendiri. Karena ketika kau telah menjumpai kebebenaran, bisa jadi kau akan lenyap bersamanya tak terbaca oleh semua. Bisa saja.

Kamis, 04 Agustus 2016

Dunia Paralel


Kuangkat kaki berlunjur di atas kursi di depanku.
Kuijinkan kakimu bertumpu menimpa pergelangan kakiku.
Kita bercerita tentang dunia paralel.
 Kau bukan pecinta kopi hitamku, tapi caffelate caramel.
Kukira awal, ternyata akhir.
Kakiku terkilir.

Rabu, 20 Juli 2016

Teman dan Musuh

Kadang
musuh adalah teman yang berada di kejauhan
dan teman adalah musuh yang dekat

Rabu, 29 Juni 2016

Cara ketoprak setan memberi pengumuman lewat bisikan.


Legoso - Ceritanya saya lagi di Kediaman Rumah Legoso (KRL). Tiba-tiba saya suntuk, kemudian membanting tubuh ke springbed. Lalu terpikir, makan atau minum apa yang bisa membuat pikiran fres?
"Ketoprak Setan," kata suatu bisikan di otak saya.
Setelah mengambil dompet, mengenakan jaket, saya bergegas ke warung ketoprak setan, yang tak jauh dari KRL.
Tumben sepi. Oh, sepertinya baru buka. Tapi piring-piring untuk meracik sajian sudah terjajar.
"Lebaran pulang pak?" tanya saya ke bapak penjual yg biasanya ditemani istrinya.
"Nggak."
"Kalau nggak pulang, leberan ke berapa Pak (warung) buka lagi?"
"Hari kedua lebaran paling udah buka. Tapi buka pagi, nggak malam lagi. Kami sudah enam tahun buka malam, nanti sehabis lebaran mau buka pagi," ungkap si Bapak mengumumkan.
Di benak saya ada yang berbisik, 'umumkan...!! Umumkan lewat medsos...!!!'

Rabu, 22 Juni 2016

Bapak Tua Penjual Arah 2


Hari masih terang. Mentari yang condong ke barat menurunkan derajat panasnya. Aku memandangi kegiatan bapak tua penjual arah melayani pembeli atau pengunjungnya. Mereka berasal dari suatu tempat yang entah dan hendak bergegas menuju entah. Di tempat ini mereka butuh arah. Karena salah satu langkah bisa berarti seribu tahun di belahan dunia lainya.
Bapak tua penjual arah itu amat bersemangat ketika ada pembeli. Tak sekalipun matanya mengarahku ketika asyik melayani. Ia hanya menyambangi tempatku, yang hanya berjarak lima langkah dari lapaknya, ketika sedang sela atau sepi sekadar untuk menikmati secangkir kopi.
Ia tak pernah menanyakan personalku, keberadaanku, tujuanku, asalku dan sebagainya. Kita hanya  mengobrolkan seputar orang-orang yang lewat di depan mata. Mereka tingkahnya aneh-aneh. Juga penampilannya. Juga jalannya. Ada yang sendiri, ada yang berdua, ada juga yang bergerombol. Ada yang saling bercanda tertawa terbahak-bahak, ada yang saling caci, berdebat, bahkan berkelahi. Ada yang mesra, ada yang mesum, ada yang datar-datar saja. Tentu ada yang kelelahan seperti kehilangan harapan.
Tak jarang di antara mereka mampir memohon atau menawari minum. Lalu saling berbincang tetang apa saja. Tentang rindu dan air mata atau tentang diri kita masing-masing. Pastinya aku berpikir dan berperasaan bahwa mereka kian hari kian asing. Bukan karena mereka belum pernah kujumpai, tapi tiap orang yang kemudian menetap di simpang jalan ini selama beberapa hari, tambah waktu pun tambah tak kukanal. Jiwa dan tubuh mereka seperti disepuh angin. Berubah per detiknya. Dari yang mulanya tampak akrab dekat dan seakan kerabat karena teman senasib seperjalananan, berubah menjadi orang yang sama sekali lain tak kutahu.
Aku tak tahu bahwa apa dan siapa aku di benak mereka. Tapi aku masih ingat pertama kali kami jumpa, menikmati kopi dan menghisap satu batang rokok untuk ramai-ramai, pernah ada juga yang berdua.
Sudahlah. Bisa jadi bukan mereka yang berubah, tapi aku. Hanya saja aku tak tahu berubah bagian mananya hingga mereka tak mengenalku lagi.
Tapi bukan saja mereka, bapak tua penjual arah juga begitu. Ia menjadi sangat cuek sudah lama ini terhadapku. Seolah kita tak pernah saling seduh kopi. Baiklah kalau begitu.
Maka, di suatu senja, ketika Bapak Tua hendak menggulung lapaknya, aku mengendap-endap di antara pejalan yang lewat, lalu menyelinap, menggerakkan kilat tangan kiriku mengambil selembar peta. Sukses.
***
Malam kian hitam. Aku pandang perhatikan pelajari penuh teliti dan seksama kode-kode peta curian itu dengan penerang lilin hadiah seorang pejalan yang sekarang ada di entah.
Setelah pusat gelap berada di atas kepala, kuputarkan cahaya lilin menerangi batas lingkaran di tanah yang aku buat dengan ranting untuk membatasi wilayah kekuasaanku. Aku hapus dengan telanjang telapak kaki. Aneh, setiap kali kugesek, gurat lingkaran di tanah itu muncul lagi. Kuhapus lagi, muncul lagi.
Akhirnya aku bosan dan begitu saja melangkahi lingkaran. Aku tinggalkan dengan perasaan hilang. Sedih sekaligus lega meninggalkan kalangan yang aku diami selama sejak bertahun-tahun silam. Aku berjalan mengikuti jejak peta. Hingga lelah dan tiba di suatu tempat yang sama sekali baru ketika matahari telah setinggi galah.
Sebelum benar-benar lunglai tak sadar, kupastikan aku telah keluar dari garis lingkaran di tanah yang kubuat dengan ranting untuk membatasi wilayah kedaulatanku. Kupandangi sekitar semuanya memang betul sudah baru. Tidak ada lagi pepohonan yang dihuni oleh cicak, tokek, dan burung-burung liar. Hanya gedung-gedung tinggi menjulang tanpa jiwa. Beratus atau beribu tahun lagi mereka pasti juga akan tiada.
“Baiklah. Aku sudah jauh dari tempat semula,” benakku sebelum terlelap kelelahan di pinggir jalan.
“Peta, peta, arah, arah...! Peta, peta, arah, arah...!!!” pekik suara mengejutkanku. Matahari hampir terbenam. Sekerumunan orang dengan pakaian jaket, sweater, flanel warna-warni berkumpul mengerubuti suara itu.
“Sial. Bapak penjual arah?! Aku belum beranjak dari tempat semula! Ngepet!”
Tiba-tiba gaduh serine membuyarkan kerumunan. Mereka tunggang langgang, namun begitu 100 meter kemudian berjalan melangkah biasa saja. Seolah tak pernah berniat membeli peta. Tiga orang petugas berlari beringas menghampiriku. Tapi bukan untuk menangkapku. Ia mengincar bocah kecil yang mendekap bergulung-gulung peta di dadanya dan bersembunyi di belakangku.
“Kamu orang asing?” tanya salah satu petugas itu. Anak penjual peta menggigil ketakutan di kakiku.
“Iya pak. Saya baru datang di kota ini semalam.”
“Kamu kenal anak itu?”
“Iya pak. Dia penjual ...,” belum selesai kalimatku, anak tersebut mencengkeram betisku.
“Kopi,” lanjut mulutku tanpa kusadari sebelumnya.
“Lalu apa itu ditangannya?”
“Teremos isi air panas untuk menyeduh kopi, pak.”
Tiga petugas itu tanpa memeriksa lalu bergegas menuju mobil patroli. Membunyikan sirene memekakkan telinga. Lalu hilang.
“Mana si bapak tua penjual arah?” tanyaku. Bocah itu mengernyitkan dahi tanda tak tahu apa yang kutanyakan.

“Baiklah. Kamu penjual peta yang jujur?” tanyaku pada bocah kecil yang masih menggigil ketakutan.

Selasa, 21 Juni 2016

Bapak Tua Penjual Arah


“Sejauh-jauh perjalanan hanya untuk kembali.”
Entah sejak kapan kalimat itu sering terngiang di kepala. Namun aku terus mengayunkan kaki. Melangkah menuju entah. Menyusuri jalan yang kapan aku tak tahu akan berujung.
Hawa siang kian hari kian terasa panas. Debu-debu menyesak hidung, melekat menutup lobang-lobang pori. Burung, cicak, tokek, dan binatang-binatang hinggap di satu dua pohon yang kulewati. Mereka makin asing. Orang-orang yang kujumpai di jalan ini juga tambah ke sini tambah tak kukenal. Semua seakan menatapku penuh tanya, curiga. Mungkin mengira aku adalah agen intelijen dari suatu masa yang dikirim untuk melakukan tindakan mata-mata terhadap zaman mereka.
Aku lupa menghitung malam. Berapa sudah yang kulalui hingga sudah pagi lagi. Dan di sore senja. Saat remang-remang cahaya surya mulai memoles awan, aku memutuskan untuk berhenti di sebuah simpang jalan. Seorang penjual arah tengah bersiap pulang. Barang-barang dagangannya telah dikemas.
“Permisi.”
“Iya. Maaf, saya sudah tutup. Besok pagi saat mentari setinggi galah, kembalilah,” ujarnya.
“Tapi Bapak, saya seorang pejalan. Apa jadinya kalau saya berhenti di sini hanya menunggu Bapak sampai besok pagi?”
“Tidak jadi apa. Sekarang sangat susah menemukan penjual arah yang benar dan ikhlas. Terserah kalau Nak ingin tetap berjalan. Saya tidak bisa melarang.”
“Tapi bagaimana saya tahu tentang penjual yang ikhlas atau tidak, Pak?”
“Ya, memang susah. Tapi saya tetap tidak bisa melayanimu sekarang. Saya harus pulang. Anak istriku menunggu untuk buka puasa bersama.”
“Baik Pak. Kalau begitu selamat berbuka bersama keluarga.”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Saya pulang duluan.”
Bapak tua dengan pakaian kusam itu bergegas menghilang ditelan kejauhan. Aku masih terpaku di simpang jalan. Malam bertambah gelap.
***
Mentari sudah setinggi galah. Aktivitas bapak tua penjual arah membuka barang dagangannya membangunkanku dari lelap.
“Tidak jadi jalan Nak tadi malam?” tanyanya.
“Tidak Pak.”
“Baik, apa yang bisa saya bantu?”
“Ini Pak, saya mau tanya, tapi saya tidak punya uang untuk beli peta.”
“Iya, tidak apa.”
“Saya mau tanya, di mana posisi saya sekarang dan seberapa jauh dari tujuan asal?”
Bapak tua penjual arah itu membuka segulung lembaran. Dengan telunjuk yang ujung kukunya kehitaman ia menunjuk satu titik koordinat dari sebuah peta.
“Di sini,” ucapnya.
“Tapi Bapak, itu adalah titik yang sudah saya capai dan saya tinggalkan dalam perjalanan selama 15 tahun silam?” heranku.
“Apakah Nak pernah menghitung berapa malam yang telah Nak tempuh?”
“Tidak. Tapi sudah sekian malam dan siang saya berjalan?”
Bapak tua itu tersenyum teduh, membuatku kebingungan.
“Nak tidak pernah kemana-mana. Nak di sini saja. Di depan tempat Bapak berjualan,” katanya kembali tersenyum.
Kepalaku kemudian seperti diputar-putar. Tersibak apa saja yang kulakukan selama bertahun-tahun di simpang jalan ini. Aku hanya duduk, berdiri, berjalan di tempat memutari garis lingkaran di tanah yang kubuat dengan sebatang tongkat dari potongan ranting guna menegaskan batas wilayah kekuasaanku. Lalu duduk, berbaring, dan tidur. Begitu seterusnya.
“Nak tidak pernah berjalan. Nak hanya berputar-putar dan berdiam. Yang berjalan adalah yang ada di sekitar Nak. Mereka itu,” Bapak tua menunjuk orang-orang yang berjalan datang dan hilang pergi entah kemana.
Aku tak mau dikuasai kebingungan yang terus menjadi. “Lalu, seberapa jauh saat ini saya dari tujuan?”
“Sangat dekat, tapi juga sangat jauh,” si Bapak lagi-lagi hanya senyum-senyum aneh.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Sejauh-jauh perjalanan hanya untuk kembali,” ujar bapak itu mengejutkanku. Kali ini ia tidak senyum.
“Berarti saya harus balik arah?”
“Tidak.”
Aku lebih tak paham.
“Nak tidak perlu meneruskan langkah ke depan atau balik kanan.”
“Lalu?”
“Nak hanya perlu melangkah ke ...,”
“Manapun saya mau,” terusku melanjutkan perjalanan di dalam lingkaran garis lingkaran di tanah yang kubuat dengan sebatang tongkat dari potongan ranting.

Legoso, 21 Juni 2016, 03.31 WIB

Minggu, 19 Juni 2016

Penghianat Musik


“Sok filosofis!” ucapmu membuatku tercengang.

Kukira kau akan suka saat kuputar tembang-tembang dengan lirik mendalam penuh perenungan kehidupan dan sangat reflektif, disertai aransemen musik yang tak bisa dimainkan oleh sembarang orang dengan penguasaan kunci-kunci dasar.

Hening ruangan. Kau diam. Aku beku.

“Hm, mau dengar Sia? John Legend? Meghan Trainor?” tawarku mencairkan keadaan.

Hening lagi jadi jeda antara kita.

“Apa aja, jangan lagu yang tadi.”

Aku mencari folder-folder lagu-lagu Barat rock dan metal.

“Yang kekinian aja,” ujarmu memotong cemariku yang menggerakan tetikus komputer jinjing.

“Cari di Youtube aja berarti.”

“Nah,  iya.”

“Lu jadi anak youtube sekarang?”

Kau hanya menatapku tanda iya tanpa menggeser posisi dan sudut wajah. Maka kupilihkan lagu-lagu yang katanya disebut sebagai electronic dance music (EDM). Tentu yang kekinian.

Tanganmu lalu menggapai gitar yang bersandar di sudut ruangan. Lalu kau pasang pendengaran baik-baik sambil memiringkan kepala. Cemarimu meraba kunci nada yang terpancar dari pengeras suara.

Aneh bagiku orang sepertimu menyukai musik anak-anak ABG jaman sekarang. Aku heran. Kita seumuran. Seharusnya memiliki selera musik yang sama. Kita tumbuh dari zaman dan tren musik yang berbeda dengan anak-anak tanggung masa kini. Lagu-lagu yang kita nyanyikan dan dengarkan mestinya adalah lagu-lagu cerdas, yang bukan sekadar mengaduk-aduk emosi, mengumbar dan membangkitkan kesenangan.

Lagu-lagu kita adalah lagu yang peduli sosial, politik, kemasyarakatan, kehidupan dan kebenaran. Setidaknya membuat sisi kemanusiaan masyarakat bangkit atau memicu untuk berkembang. Di mana kepekaan dan kepedulian nuranimu? Ingatkah bahwa gitar diharamkan bukan karena gitarnya itu sendiri. Bukan lantaran ia adalah alat musik. Karena jika sekadar alat musik, kotak bungkus hp juga bisa jadi. Apakah kotak itu juga harus masuk neraka? Tidak. Musik diharamkan karena dapat menghilangkan akal sehat kita. Bisa membuat kita lupa diri dan terjerembab dalam perihal dunia semata. Tahukah apa jadinya jika demikian? Seperti para koruptor. Mereka tak peduli tentang uang yang mereka dapatkan dengan cara apa, asal kenyang, bisa membuat keluarga senang, tak peduli lain-lain hal.

Atau kalau pun harus tentang percintaan dan romantisme ya jangan lagu-lagu jaman sekarang lah, jaman kita dulu kan banyak band dan musisi handal dengan permainan musik yang mumpuni. Kenapa harus musik anak-anak yang masih alay?

“Penghianat!” kataku. Bercanda tapi serius dari hati, dan kita tertawa bersama. Karena kau senang, akupun ikut senang. Aku tak suka menangis di kala teman tertawa.

***

Seminggu kemudian kau singgah lagi ke rumahku. Aku tengah memutar lagu-lagu blues. Dari raut mukamu, kau tampak tersiksa. Aku tak mau semena-mena membuatmu pergi atau tetap tinggal dengan kuping menderita. Maka kupersembahkan 100 hits lagu-lagu kekinian.

“Kenapa lu suka lagu beginian sekarang?” tanyaku serius.

“Nggak apa-apa,” jawabmu. Aku diam tak puas. Mukamu menyiratkan rasa bersalah padaku.
Aku masih ingat, jaman kuliah dulu, kau adalah orang yang paling pedas mengkritik jika ada teman menyukai atau memutar musik-musik kekinian yang gampang dimainkan oleh siapa saja. Atau musik-musik dance, trance, house, DJ dan sejenisnya karena bagimu memabukan.

“Gua males dengerin musik yang mikir. Gua pengen menikmati musik. Gua nggak mau dengerin musik tapi masih mikir. Capai. Gua sekarang pengen enjoy,” katamu.

“Oh, lu sudah berubah. Oke, lanjut...,” pikirku.  “Tapi kalau melihat lu dengerin dan nyanyiin lagu-lagu kayak gini, gua kebayang Syifa adiknya temen gua yang masih kelas 3 SMP, yang juga anak youtube, yang kerjaannya terus memantau perkembangan musik di Youtube, lalu jingkrak-jingkrak joged di kamar. Ya ampun, lu joged jingkrak-jingkrak sama anak kelas 3 SMP” ucapku tertawa geli.

“Iya,” ujarmu mesem sok cool.

“Mungkin dulu lu terlalu keras kepada diri sendiri,” ujarku selintas tanpa ke mukamu yang sudah kubebaskan kubiarkan.

Kamu hanya mesem.

“Penghianat!” ujarku pada setiap teman yang berubah pikiran, tindakan, pandangan, atau yang dulu pernah sama-sama menolak atau memperjuangkan sesuatu namun kini berbalik arah, termasuk musik. Meski aku sadar bahwa tak ada yang tak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Jadi, semuanya penghianat, kecuali perubahan.

Jumat, 27 Mei 2016

Karena Kau Orang Biasa yang Mudah Sembuh dari Luka

Seberapa berat rasa sakit di jiwamu kubuat, sebesar itu aku yakin kau kuat meneruskan laku sampai tiba saat sekarat.
Lupa tidak mungkin tapi mengatasinya hingga terabai tertinggal terpendam dalam-dalam tak mustahil.
Aku tahu kau seperti orang pada umumnya, biasa mengagung-agungkan rasa lalu menjadi bahan canda, sudah itu membuangnya. Bagimu dan kebanyakan manusia, sebuah rasa tentang kejadian di masa silam seakan ampas, tinja, sampah tak berguna.
Masa lalu hanya ilusi yang biasa saja untuk diketawai.
Karenanya, haruskah aku merasa bersalah? Pantaskah aku khawatir bahwa kau akan menderita rasa sebagaimana padaku mendera?
Aku percaya kau kuat. Karena rindu itu berat, biar aku saja.
Rasa abadi hanya untuk orang-orang luar biasa. Kalau kau ternyata menanggung rasa itu seumur hidupmu, kau sosok pilihan yang beda dari kerumunan.