Home

Senin, 23 Februari 2009

Pacaran

Oleh MS Wibowo
Pacaran. Dalam pergaulan anak-anak, hal itu kadang jadi bahan perbicangan untuk mengolok-olok teman. Pacaran di dunia mereka, mungkin sebatas rasa suka tehadap lain jenis. Cukup bahagia ketika berjumpa atau memandang wajah sang pujaan hati. Ditambah rasa malu, saat teman yang pernah dicurhati menyebarkan perasaan kita kepada orang lain.
Bagi teman yang mengejek atau ngecengin, pacaran memang bukan aib. Tapi merupakan perbincangan mengasikkan dalam sela-sela waktu santai. Atau sekadar cukup sebagai bahan untuk membuat malu. Malu yang tidak memalukan. Mungkin hanya karena prilaku pacaran dalam pandangan para anak-anak merupakan hal yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa.
Minggu (22/2), sekitar pukul 13.30 aku terbangun dari tidur siangku. Tidur yang aku mulai sejak pukul 11.00 tengah hari. Setelah melakukan upacara pengumpulan nyawa dengan membasuh muka dan minum air putih, aku putuskan untuk membeli beberapa batang rokok kretek dan sebungkus kopi instant. Aku memilih toko yang agak jauh dari kamar kost-ku. Sebab warung samping, tempat biasa aku beli, kebetulan tutup.
Di pertigaan lorong yang menjadi jalanku, berkerumun segerombol anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Mereka duduk di sisi kanan dan kiri jalan. Tiga meter sebelum aku melewati mereka, salah-seorang dari mereka berkata, ‘yang merasaaa, nggak punya pacar …, duduk!’ Kata terahir ini jatuh pas lima detik aku berada tepat di tengah-tengah mereka. Dengan cepat dan reflek yang tajam, seorang anak lelaki bertubuh gemuk di antara mereka, langsung mengacungkan telunjuk ke arahku dan berteriak, “dia!”.
Seketika aku bengong. Akukah yang ia tunjuk? Atau anak lainnya yang posisinya di belakangku? Sembari memerlambat langkah, aku lihat sekeliling. Semua anak tercengang. Tapi ada yang tertawa sambil melihatku, ada pula yang memandang anak laki-laki gemuk tadi. Ada yang ngedumel, “ih kamu nih, sembarangan aja nunjuk orang.”
Aku lihat anak yang menunjukku tadi. Dia hanya cengar-cengir sambil merasa menang karena telah memergoki seseorang yang telah punya pacar. Aku terus berjalan. Aku masih bingung, mengapa anak tadi menunjukku? Mengapa yang anak itu dan sebagian lainnya tertawa? Oh, MG, bodoh sekali aku ini. Aku baru ingat apa yang tadi barusan dikatakan sang komando, ‘yang merasa nggak punya pacar duduk’. Aku kan nggak duduk. Berarti aku punya pacar.
Sialan, kataku dalam hati. Ingin ku pelototin saja anak tadi. Mau tahu juga aku, bagaimana reaksi dia. Ngajak berantemkah dia karena merasa tidak salah? Atau bagaimana? Tapi sudahlah, masa aku balik kanan menuju nyamperin mereka. Toh mereka hanya anak-anak ingusan yang belum tahu apa itu pacaran. Walau mungkin arti cinta yang mereka pahami, lebih murni daripada pemahaman orang dewasa.
Sampai di toko, aku masih memikirkan kejadian barusan. Saat aku berjalan pulang ke kamar kost-ku, aku akan melewati jalan yang sama. Aku mau perlihatkan muka kecut pada anak-anak tersebut. Wabilkhusus pada si gemuk tadi. Namun sampai di gang itu, mereka telah menghilang. Mungkin takut aku membalas perlakuan mereka yang telah memermalukanku. Takut melihat mukaku yang sejak sore kemarin belum mandi. Atau juga mungkin mereka pacaran dengan pasangan masing-masing. Karena dalam gerombolan tadi terdiri laki-laki dan perempuan. Ya terserah mereka. Aku cuma bilang, kali ini bukan dalam hati, tapi otakku, ‘wallahu a’lam bishshowab’.

Rabu, 18 Februari 2009

Zombie


MS Wibowo

Aku adalah mayat hidup. Zombie, ya zombie. Waktu dengan sadis telah membunuhku. Detik-detik yang terus membentakku, merupakan serpihan-serpihan tajam. Lama kelamaan menyatu, kokoh dan menjadi besar. Mereka menjadi menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu dan dasa-dasa warsa.
Jam itu menjadi pisau. Perlahan ia menjadi samurai, baik dengan atau tanpa persetujuanku. Kekejamannya menusukku, menebasku, menamparku dan mengoyak jiwa dan raga. Aku hanya terpaku. Kadang terkapar, kadang bersimpuh memohon ampun. Tak jarang pula aku melawannya, walau aku lebih sering tersungkur akibat kebodohan yang tiada batas.
Aku juga kerap berdamai dengannya. Ia kadang menyenangkan. Ia memberiku kebahagiaan manakala aku mau dibantainya. Tapi yang dia kasih tak selalu sesuai dengan kondisi dan waktu inginku. Ia gila kekuasaan, ingin selalu ditaati, kolot dan merasa benar. Aku pernah bertaruh dengannya mengenai suatu hasil kebenaran dari rencana kami masing-masing. Ia lebih sering benar. Aku juga tak selalu salah.
Aku mahluk lemah. Telah sering kalah. Sangat kurang memiliki kemampuan menaklukan segalanya, termasuk menghajarnya. Aku ingin sekali membantingnya, meninju dan menghempas-hempaskan serta membentur-benturkannya di permukaan batu cadas.
Dibandingkan aku, dia lebih berpengalaman. Ia tidak hidup tapi Ada. Ia berkuasa sejak adanya Ada. Kata orang ia bisa dikalahkan, tapi bagiku susah. Ingin ku menghindarinya, tapi kemana aku harus lari. Haruskah aku sembunyi di dalam kantong plastik? Ah masa iya?
Beberapa orang mengikuti langkah sejarah. Mereka menghajarnya dengan berjamaah, berkoloni dan berkelompok. Mereka yakin, kekelompokan itu akan memhempaskan jeratannya. Tapi…, aku orang yang mental dari hampir semua kelompok. Di kelompok ini aku dianggap musuh, yang lainnya menganggapku mata-mata. Sementara kelompok lain lagi tak memercayaiku dan menganggap penghianat.
Kelompok yang bersedia menampungku ada, tapi aku belum temukan di sana bangku empukku untuk sedikit berlega napas dari pertempuranku dengannya. Padahal ia terus mengejar dan menyerangku. Syaraf lelahnya telah tiada. Tiada sebelum adanya ketiadaan. Juga sebelum adanya Ada.
Tampilanku sangar. Membuat orang yang memusihiku kalang-kabut melihatku. Aku dituduh mampu memersatukan dunia oleh para pecinta penindasan dan penjilat kekuasaan. Aku dituduh berkekuatan dahsyat.
Kawan-kawanku yang lain jauh menyendirikanku di pinggir jalan ini. Mereka naik jet. Melesat. Ya sudah, itu mereka. Aku doakan semoga mereka melesat sambil meleset. Tapi itu nggak baik. Aku biarkan saja. Aku di sini, dibantai waktu dengan damai. Aku masih punya teman yang sayang padaku. Aku tak tahu sedalam apa rasa sayang itu. Banyak mereka mengenalku dan menyukai kelebihanku. Sehingga seperti kata ST 12, satu jam saja mereka telah bisa sayangi aku aku aku. Tapi bagaimana kalau mereka tahu kurangku. Pasti mereka kaget.
Waktu lebih dewasa, aku masih sering kekanak-kanakan. Ia tak perlu membaca situasi, tak perlu mengenali diri. Ia mungkin telah tahu kapan ia akan berhenti dan tempat pemberhentiannya. Aku belum. Usaha demi usaha sering aku coba. Koloni demi koloni telah aku gauli. Tampaknya aku harus mengempurnya sendiriaan. Entah bisa atau tidak. Walau kata para presentator MLM pasti bisa!. Aku belum diketemukan, tapi waktu telah menemukan. Ya aku adalah zombie. Mau ikut-ikutan jadi zombie. Atau mau membentuk komunitas zombie Indonesia? Terserah. Aku akan mendukung. Dukungan paling kecilku adalah restu.[]

Kamis, 05 Februari 2009

Cinta Cap Baterai III


Begitulah, masa pacaran Adi dan Nova tak selalu dibarengi kesamaan dan kesetaraan. Banyak perbedaan yang sering berbenturan. Tapi bagi dua pejalan asmara, itu adalah bumbu penyedap rasa cinta. Ketimpangan yang agak mencolok, terdapat pada motivasi serta visi misi pacaran, Nova menganggap dan sangat berharap jalinan kasih mereka berbuah pelaminan. Sementara Adi masih merasa bahwa hubungan mereka hanyalah sementara. Ia hanya tak mau masa mudanya dilewati tanpa romantika cinta.
Di samping itu meski Adi lebih tua umurnya, tapi jenjang pendidikan Nova lebih tinggi. SMA, sembari mengabdi/mengajar di almamaternya, Nova kuliah D3. Sedang Adi masih nganggur setahun, dalam arti belum nerusin kuliah pasca lulus. Baru tahun berikutnya ia memutuskan hijrah ke Jakarta, kuliah di Jurusan Perbankan Syariah UIN Jakarta.
Satu minggu menjelang keberangkatan ke Jakarta, di sebuah kafe tempat biasa Nova dan Adi menghabiskan waktu pacaran, Adi memutuskan tali cinta secara sepihak. Alasannya sudah pasti, mau kuliah ke Jakarta. Itu doang. Tentu saja Nova tak bersedia putus. Menurut Nova itu bukan alasan yang rasional. Jarak tak bisa memisahkan cinta. Seketika itu pula Nova menangis sendu, memohon Adi agar mengurungkan niat pemutusannya. Adi tetap keukeuh. Sambil menahan rasa malu dan tak enak pada pengunjug sekitar karena tangisan Nova yang begitu keras, Adi menarik tangan kekasihnya dan mengajak keluar kafe dengan penuh rasa bersalah. Puluhan tatap mata yang membidik mereka tak dihiraukannya.
Motor segera tancap gas. Sampai di sebuah halte, kurang lebih berjarak 1KM dari kafe, Adi berhenti. Tangis Nova belum surut. Adi coba menghentikan isakan Nova. Tapi tak berhasil. Selanjutnya Nova berlari pergi menghampiri sebuah angkot sambil mengucap kata, "Sampai kapanpun, Aa Adi tetap pacar Nova. Nova tak mau menikah kecuali sama Aa Adi. Aku akan menunggu Aa Adi sampai kapan pun.
Enam hari berikutnya pra keberangkatan Adi ke Jakarta, Nova selalu datang ke rumah Adi. Saking seringnya Nova menemui Adi dan terlihat tak mau kehilangan cowoknya itu, ayah Adi sampai bertanya, "Sudah kamu apain aja cewek ini, sampai begitunya ia tak mau lepas dari Adi?" Dalam kesempatan enam hari itu pula Nova mengutarakan bahwa tak masalah di Jakarta Adi selingkuh atau punya pacar lagi. Asal Nova jangan diputusin. Dan kelak akan kembali lagi pada Nova. Adi tak komentar.
Sampai di Jakarta, memasuki hari kuliahnya Adi sengaja tak pernah menghubungi Nova. Tapi wanita itu hampir tiap hari menelepon dan sms ke Adi. Meski respon Adi tak bersahabat, Nova tetap setia. Beberapa bulan kemudian, Adi ganti nomor HP agar Nova tak menghubunginya. Namun Nova selalu mencari tahu seputar keberadaan Adi. Ia sering bertandang ke rumah orang tua Adi. Ia juga tetap menjalin komunikasi dengan teman-teman Adi.
Kehidupan Adi di Jakarta nyaris datar-datar saja. Selain kuliah, kesibukannya hanya bermain musik. itu hobinya. Bersama teman satu alumni pesantrennya, ia membentuk sebuah band. Rute pola hidupnya berputar antara kelas, gitar dan kamar kostnya. Itu saja. Hingga sampai pada suatu senja dalam jarak setahun berikutnya, HP Adi berdering. Dilihatnya nomor asing berkelap-kelip dilayar HP.
"halo, assalmualaikum," sapa Adi.
"Wa'alaikum salam wr. wb. ini benar dengan kak Adi?" tanya Nova.
"Iya benar, ni siapa ya?"
"Ini Nova kak."
"Nova, yang mana ya? fakultas apa? anak UIN bukan?"
"Ya ampun Nova pacar kak Adi, gimana sih sampai lupa."
"oh Nova, apa kabar? Sekarang udah lulus kan? Kerja dimana?"
" Ngajar di SMA 2 Kak."
"Tau nomor kakak dari siapa?"
"Dari papa kak Adi. Kak, ada yang mau Nova obrolin nih."
"Soal apa?"
"Begini kak, Nova dilamar sama orang, sama PNS juga."
"Baguslah, terus apa masalahnya, nikah ya tinggal nikah aja," kata Adi sedikit lembut.
"Tapi Novanya nikah sama kak Adi doang"
Sejenak sunyi. hanya suara desisan dalam HP yang terdengar. Adi bingung harus berkata apalagi tuk meyakinkan bahwa dirinya telah menutup hati untuk Nova. Akhirnya Novalah yang memecah kesunyian itu, "gimana kak? kakak mau kan nikah sama Nova?"
"Nova, kakak kan udah bilang jangan mikirin kakak lagi. ya sudah terima saja lamaran itu, Nova nikah aja."
"Nggak mau, maunya sama kak Adi saja, titik."
"Eh, Nov, sebenarnya kenapa sih? apa yang Nova harapkan dari kakak?"
"Nova nggak ngarepin apa-apa, cinta Nova cuma buat kak Adi."
"Nova..., kak Adi ini tak seperti yang Nova kira, kakak ini pemabuk, suka maen cewek, cewek yang gak bener lagi. Mang mau Nova nikah sama pemabok dan pezina seperti kakak?"
"Gak pa pa, mang kenapa. Nova mau menerima kakak apapun adanya. Meski kak Adi telah menjadi bekas sepuluh wanita atau berapa pun, Nova tetap mau menerima kakak," tegas Nova.
Adi bingung, tak mampu berkata apa-apa lagi. Dalam hati hanya terpikir, "Gila nih perempuan."
Tak lama, Nova pun bersuara, "Kak Adi, aku tuh kalau melihat HP selalu ingat kakak."
"Mang ada apa dengan HP?" tanya Adi.
"Masih inget nggak waktu kita jalan-jalan, terus baterei HP Nova lowbat?"
"Oh ya, yang terus aa belikan baterei itu?"
"Iya A, sampai kapanpun, HP ini nggak akan Nova jual. Kalaupun terpaksa harus dijual, tapi baterainya akan tetap Nova simpan."
Obrolan pun mengarah pada masa lalu. Berdua hanyut dalam kubangan memory, yang bagi Nova, begitu indah. Tapi tak terlalu indah bagi Adi. Ia tak mau mengingat-ingat lagi masa-masa itu, sebab hanya akan membangkitkan rasa bersalahnya.
Beberapa minggu setelah kejadian ini, Adi ganti nomor HP lagi. Sudah tau kan apa maksudnya, agar Nova tak menghubungi dia. Lima bulan berlalu, Nova kembali mendapatkan nomor baru Adi, serta mengutarakan hal yang hampir serupa dengan sebelumnya. Bedanya ia mendapatkan nomor ini dari Syaikhu, teman lama Adi dan Nova. Dalam kesempatan ini, Nova kembali mengutarakan perihal lamaran seseorang pria yang ditolaknya. Itu semua hanya demi menunggu Adi. Tapi Kekerasan hati Adi tak berubah. Ia tetap meminta Nova menjauh dari hidupnya.
Hal yang sama terjadi hingga kali ketiga, saat Nova dilamar oleh seorang pegawai di instansi pemerintah daerah tingkat II. Adi yang keras kepala, dan entah alasan apa ia tetap tak mau menerima panggilan cinta Nova. Ia membentak Nova, "Ya sudahlah terima aja lamaran itu, emang kamu mau jadi perawan tua hanya karena nungguin aku? Mulai detik ini, nggak usah nghubungin aku lagi. Jangan ganggu kuliahku, aku baru semester V, kamu kan udah lulus." Obrolan terputus. Dan Nova pun tak pernah lagi muncul di log panggilan HP Adi.
Setahun berikutnya, setelah Adi menginjak semester VII, ia mendengar kabar dari Syaikhu bahwa Nova telah menikah. Adi pun lega. Tapi di saat itu juga Adi mulai merasa jenuh dengan rutinitas kehidupannya yang monoton. Ia pun sering iri melihat kawan-kawannya yang bergandeng mesra dengan pasangannya. Dan Adi sering gondok jika melihat seorang kawan yang sering gonta-ganti pacar. Ia berfikir, "Alangkah mudah mereka mendapatkan pacar. Sementara ia selalu gagal setiap kali PDKT sama cewek. Alhasih, ia belum pernah merasakan madu asmara selama kuliah di UIN Jakarta.
Suatu malam Adi dalam kondisi BT akut. Ia datang ke kamar kost temannya. Di sana ia curahkan seluruh kegerahan jiwanya. Ia butuh kasihsayang seorang kekasih. Tapi kenapa selalu saja ada halangan dan gagal sebelum mendapatkan pacar. Kepada kawannya itu Adi juga menceritakan kisah cintanya dengan Nova. Sang teman akhirnya mengambil kesimpulan bahwa mungkin Adi kena karma dari Nova. Adi disarankan untuk meminta maaf pada Nova.
Selama dua minggu lebih Adi memikirkan saran temannya tadi. Ia tak percaya adanya karma di dunia. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin juga itu bisa terjadi. Dan tak ada salahnya meminta maaf ke Nova. Dicarinya segala informasi tentang Nova. Ia menelepon Syaikhu untuk meminta nomor HP Nova. Namun Syaikhu malah marah-marah dan meminta Adi, sekarang jangan ganggu Nova lagi. Ia sudah punya suami. Syaikhu pun tak mau menerima apapun alasan Adi. Tapi setelah melalui perdebatan sengit, serta Adi berjanji setelah menelepon Nova akan menghapus nomor Nova, akhirnya Syaikhu memberitahu nomor Nova. Setelah itu juga, ditelponlah Nova.
Tuuut, tuutt, tuuut "Halo assalamualaikum," sapa Nova lembut.
"Nova?" tanya Adi.
"Ya betul,"
"Ini Kak Adi Nov,"
"Adi? Adi siapa yah,"
"Adi, masa lupa sama Aa," sambut Adi penuh penasaran, heran dan sebagainya. tak menyangka bahwa Nova telah lupa dengan namanya.
"Iya, Adi siapa? teman bang Roni? tanya Nova sambil menyebut nama suaminya.
"Eem, Nova masih inget nggak dulu HP Nova pas lowbat, terus siapa yang membelikan baterey?"
Hening sejenak. "Oooh kak Adi itu,"
"Iya, pa kabar Nov?"
"Tau nomor Nova dari Syaikhu ya?" tanya Nova tanpa ekspresi.
"Iya,"
"Terus ada apa nih kak, tumben-tumbenan mau menghubungi Nova,"
"Enggak, cuma mau minta maaf aja. Kakak merasa punya dosa sama Nova, maafin kakak yah,"
Sunyi menguasai gagang HP keduanya. Tak ada suara. Adi hanya menunggu jawaban Nova. Tampak dalam bayangannya, Nova tengah memandang ke depan dengan tatapan kosong. Adi mencoba memecah kesunyian itu. "Nova masih ingat baterai yang kakak beliin dulu nggak?" tanya Adi.
"Eem, iya. Tapi udah Nova buang," jawab Nova dengan ekspresi kejengkelan
"Berarti Nova udah benar-benar melupakan kakak Adi yah?"
Nova mendesah dan diam sejenak. Lalu ia berkata, "Tapi..."
"Tapi kenapa?" tanya Adi
"Tapi...."
"Nova udah nikah kan," sambut Adi seketika.
"Ya, dan Nova mungkin nggak akan bisa ngelupain Kak Adi kalau Nova tidak menikah."
"Ya Nov, karena itu kakak mau minta maaf. Selama ini kakak selalu gagal ngedapetin cewek pasca putus dari Nova. mungkin kakak kena karma dari Nova. Maafin kak Adi ya,"
Nova hanya menjawab pendek, "Ya."
"Terima kasih Nov, semoga bahagia selalu bersamamu dan suamimu serta keluargamu," kata Adi.
Di balik HP Adi, terdengar lirih Nova menjauhkan gagang HP-nya. Terdengar Isak tangisnya dari kejauhan.
"Nov, Nova, Nova," panggil Adi.
"Ya," jawab Nova tampak menahan air mata.
"Udah dulu ya, maaf telah membuat Nova sakit, dan maaf kalau telah mengganggu. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Telpon terputus. Dan sesuai janjinya Adi langsung menghapus nomor Nova dari memory phone-nya. Tak berapalama Adi menghubungi Syaikhu dan menceritakan semua kejadian yang baru terjadi. Adi pun minta maaf dan berjanji tak akan mengganggu Nova lagi.

Begitulah kisah nyata ini. Hingga sekarang, mahasiswa angkatan 2005 ini belum mendapatkan kekasih kembali. Terahir PDKT-nya kandas, karena wanita incerannya, yang saat itu udah deket ama Adi, ditikung orang saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Sukabumi. Tamat

Sumbr gambar :
pattiro.net/blog/?p=37