Home

Minggu, 24 Januari 2010

Allah Usia Lima Tahun

Aku Lahir Bersambut Azan Dan Iqamat

Tariak Tangis Seolah Kesediaan

Terima Sadar Satu Pengakuan

Atas Satu Di antara Ribuan

Tuhan Yang Dibelai

Manusia Tak Terhitung

Katanya Ini Takdir

Aku Berjamin surga

Dalam Perjanjian Di Tepi Realitas Tertinggal

Allah, Aku melafalnya Alloh dengan w sesudah a

Tak pernah terutara

Tiap Mengucapnya

Umurku Lima tahun

Bayang imut Manis

Semacam Pijaran

Tuhan, sering kudilarang

Karena dibalik Hantu

Tiap mengucapnya

Umurku Lima Tahun

Ondel-ondel Besar Yang selalu ada dibelakang kita

Mengejar menakuti

Malaikat

Besar tinggi berjubah putih... gagah perkasa

Sosialisasi Sebaya Sebabtisan Setakdir

Membawa keisengan mengadu

Bagiku malaikat jagoan

Kutanya Ibu

“Ma, Allah Sama Malaikat menang malaikat kan ma?”

“Ya menang Allah”

Aku Tak Paham

Kuda Terus mengayuh pada belasan

Terasa Doa Dan Nikmat Allah Terpancar

Kenapa Dia misteri

Diakah Allah

Selain Agamaku, Doa-doa orang hanya kecohan setan?

Mendekat duapuluhan

Semakin Nikmat banyak terbuka

Yakin Tuhan Ada

Tapi Tak Tahu Siapa

Benarkah Nikmat selain agamaku hanya dunia?

Kafir Murtadkah pikiranku

Yang Berjalan Sendiri menanya-nanya siapa sebenarnya Kamu?

Menjelang Dhuha

Saling Atas Nama Tuhan Di mataku

Menggali Sumur darah

Atas Nama Surga masing-masing

Poin Di surga bertambah dari nyawa saudara

Seonggok daging

Kenikmatan Di Akhirat

Mati Juga Surga

Kok Begini

Tuhan Sarana Perang

Aku Menjarak

Tuhan Masih Sayang

Aku Mendekat Tuhan Makin Sayang

Tapi Tak Berdaya

Menjagal Tuhan Lainnya

Yang Tergantung di leher saudara-saudaraku

Selasa, 19 Januari 2010

Untuk Saudara, Kawan dan Lawanku di Dunia, Aku Pamit


Meneguk air kematian
Patahkan waktu
Setelah Surat Izin Mati Ku kantongi
Ssssst Jangan tertawa…
Kuputus tali kehidupan
Ini Bukan keputusasaan
Ini Keputusan
Menyerah
Mengaku Lemah
Karena Dia satu-satunya
Yang Maha Kuat
Ternyata Lorong Barzah
Begitu Berwarna
Kekosongan
Kesendirian
Berpadu
Mencipta harmoni
Terwujud nyanyian
Menyumpal telingaku
Dari Pekik Kontradiksi
Tak ada Lagi cinta
Tak ada rasa
Tak ada benci
Tak ada nafsu
Siluet penyempurnaan hidup yang tak sempurna
Lenyap lengkap
Di tempat timbangan amal kusendiri
Aku Yakin sangat Yakin
Ini Bukan Mimpi
Di dunia sana aku tahu saat ini
19 Januari 2010
Aku telah tinggalkan Bumi

Wahai wanita yang kukenal sehari
ku tahu kau tak sanggup sesali pergiku ini
Wajahmu abadi
Saat mencium si kecil dihadapanku
Ku tunggu di alam ini
atau kuganti sepuluh bidadari

Minggu, 10 Januari 2010

Lanjutan Cita-Citaku Chapter III


Aku Menyesal Bercita-cita Menjadi Orang Berguna Bagi Nusa, Bangsa Serta Aga
ma
Dari teman-teman aktivis Pramuka saat ku SMP ini, ku dapat cita-cita baru, yang menurutku kala itu sangat mulya, abstrak dan luhur. Dahulu ada kebiasaan menuliskan profil di diary masing-masing. Bahkan ada kesalahan menurutku, yakni buku diary adalah buku yang memuat profil-profil teman saja. Dalam profil tersebut lengkap tercantum nama, TTL, alamat, hobby hingga cita-cita. Banyak di antaranya, termasuk aku yang menuliskan cita-cita: “menjadi orang yang berguna bagi nusa , bangsa serta agama.”
Cita-cita itu aku pegang teguh hingga mendarah daging. Aku telah merasa pas “ ingin menjadi orang berguna bagi nusa bangsa serta agama. Ini kubawa hingga jenjang pendidikan SMA. Terlebih masa SMA aku habiskan di sebuah Pesantren milik pamanku. Dalam doktrin di Pesantren ini, diperkuat dengan doktrin keluargaku, yang rata-rata kiyai, “Seorang penuntut ilmu hendaklah tak memikirkan apapun. Artinya, seorang santri hendaklah berfikir menuntut ilmu belaka. Masalah harta, sandang, pangan dan papan itu akan datang sendiri.”
Meski pernah kubuktikan bahwa selama jatah hidup kita ada, selama itupula riski untuk makan mengalir, tapi salahku tak menentukan kran atau pipa ledeng riskiku. Ya hidupku mengalir saja. Walau sempat ku mengerucutkan cita-cita menjadi tiga, yakni politisi, agamawan dan penulis, namun hatiku masih memegang keinginan menjadi orang berguna. Sampai pada saat awal masuk kuliah dosenku bertanya tentang cita-cita, aku masih menjawabnya demikian.
Mungkin cita-cita ingin menjadi orang yang berguna inilah yang membuatku selalu kalah. Aku baru menyadarinya lima tahun setelah aku kuliah S1 dan belum lulus-lulus. Dalam renunganku kurefleksikan mengapa aku selalu kalah dalam persaingan? Serang teman menjawab pertanyaanku. Menurutnya aku orangnya terlalu mudah berkorban tanpa memedulikan bagaimana kondisiku. Lalu aku berfikir, “Ah, apa ini karena pengaruh dari cita-citaku ingin menjadi orang berguna?” jadi terlalu gampang aku berkorban bagi orang, bagi organisasi yang mengatasnamakan idealisme, demi nusa bangsa dan sebagainya.” Wah kalau begitu aku menyesal telah bercita-cita jadi orang berguna. Bagaimana kalau aku sekarang membalik cita-cita, “Bukan menjadi Orang Yang berguna, Tatapi Menjadi Orang yang Menggunakan.” Sebab capai kalau jadi orang yang berguna melulu.
Bersambung...

Cita-citaku Chapter II


Posturku Lebih Mirip Sosok Jin Daripada Manusia

Kelas VI SD, pertengahan tahun menjelang lulus, kembali ku didera demam olahraga. Kali ini sepak bola. Waktu itu TV telah menjadi kebutuhan tiap rumah warga kampungku. Di rumahku juga ada. Banyak kawan yang sering mengajakku nonton pertandingan bola, baik liga lokal maupun Eropa.
Sebenarnya aku masih sadar, fisikku tak cocok menyandang gelar atlet atau olahragawan. Aku kurus, pendek, sakit-sakitan postur tubuh tak seimbang. Ukuran kepalaku terlalu besar untuk badan. Bahkan aku sempat bertanya-tanya dalam hati, “Benarkah aku ini keturunan manusia? Kalau melihat ciri-ciri fisikku lebih mirip gambaran fisik Jin, dalam buku Dialog Dengan Jin Muslim. Ya, seingatku buku itu menjelaskan, fisik Jin itu kepalanya terlihat lebih besar dari badannya.
Tapi semua itu tak kuhiraukan. Meski beberapa kali teman-teman menertawaiku cara lariku saat coba-coba ikut main bola, aku tak peduli. Bagiku Tuhan Maha Kuasa. Jika dia menghendaki keinginanku menjadi pesepak bola handal, pastilah bisa. Aku memilih ingin menjadi seorang penjaga gawang. Cita-cita ini bertahan hingga aku di jenjang pendidikan SMP.
Kugambar kaos timku dengan nomor punggung satu. Namun teman-temanku selalu menertawakanku saat berada di lapangan. Aku menjadi bahan komedi. Lama-kelamaan aku menyerah. Sebab aku juga tak pernah masuk timnas kampungku. Aku tersingkir dan hanya bermain bola iseng di jalanan. Ketersingkiranku ini kuganti dengan selalu mengamati pertandingan-pertandingan di TV serta Highlight-highlight-nya.
Masa SMP yang kulewati tanpa kedua orang tua kujalani monoton. Ortuku di Riau bersama dua adikku. Aku tinggal bersama kakek nenekku di Lampung. Hari-hariku hanya di isi sekolah dan TV. Hari minggu aku selalu ikut kegiatan pramuka. Begitulah, aku mngisolasi diri dari kawan bermain. Karena berbagai kekurangan. Tak ada hari istimewa selain hari sabtu. Di hari tersebut aku selalu menyambut dengan hati tersenyum saat bel pulang sekolah berbunyi. Pasalnya, macam-macam acara olahraga, seperti highlight sepak bola bertaburan.
Di tengah ketakjelasan skill hoby sepak bolaku, beberapa tetangga berusia bapak-bapak sering mampir nonton acara Gelar Tinju Profesional (GPU). Akupun ikut hanyut. Dan karenanya, sempat pula aku ingin menjadi seorang petinju. Nenekku, hanya melihat heran saat kuisi sebuah kantong beras dengan pasir. Kugantungkan kantong itu pada kayu-kayu kaso atau range genting yang terletak dipinggir rumah. Ku tonjok-tonjok karung itu tiap pagi dan sore. Nenek marah-marah. “Nanti lama-lama karung itu bisa membuat rumah kita roboh,” kata nenekku. Kupindah karung isi pasir itu pada sebatang pohon di belakang rumah. Kuteruskan aktivitasku.
Terus kutonton GPU tiap malam jumat. Lama-lama aku berfikir, “kuatkah kepalaku ditonjok-tonjok seperti itu. Bisa kacau otakku. Orang jatoh di jalan dari sepeda aja aku pingsan.” Akhirnya, ku alihkan fokus pada kegiatan eks-school Pramuka. Harapanku ingin masuk menjadi anggota Pramuka Garuda yang ikut perlombaan tingkat Internasional dan mengharumkan nama bangsa Indonesia.
Lagi-lagi, itu semua jauh arang dari panggang. Menurut cerita, dahulu kala jauh sebelum aku masuk, Gugus Depan Pramuka yang aku geluti sempat jaya. Setidakkya di tingkat propinsi. Tapi saat ku masuk, semua tinggal kenangan. Tingkat kecamatan pun tak diperhitungkan. Apa karena ada aku? Aku tak tak tahu.
Berlanjut Ke Chapter III : Aku Menyesal Bercita-cita Menjadi Orang Berguna Bagi Nusa, Bangsa Serta Agama

Cita-citaku Chapter I

Ingin Jadi Guru, Astronot, Petinju, Kiper Hingga Pebulu Tangkis
Aku tak ingat cita-citaku sebelum masuk SD. Kalau tidak salah, aku sempat ingin jadi kiyai. Itu tak lepas dari latar belakang keluargaku. Dari kakek buyut hingga bapak dan saudara-saudara kami, rata-rata adalah tokoh agama dan masyarakat. Bapakku seorang mubaligh. Ya aku keturunan kiyai. Karenanya aku ingin melanjutkan status keluarga kiyai ini.
Menginjak kelas III SD, aku berubah arah ingin jadi seorang guru. Mungkin karena doktrin, ‘guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa’. Itu sangat digembar-gemborkan pada masaku dulu. Aku meleleh dalam doktrin mulya tersebut.
Salah-satu guru SD faforitku adalah Ibu Narti. Dia mengajar Ilmu Pengetahuan Alam. Ia mengenalkanku pada benda-benda angkasa, hingga ku dibuat terpesona dan sadar, ternyata di luar sana terbentang ruang yang luas tak kutahu batasnya.
Takjub pada benda-benda langit, memicu benakku menjadi astronot. Aku sangat serius waktu itu. Semua buku tentang planet dan angkasa luar aku lahap. Kutata kamar tidur secanggih mungkin, biar serasa di angkasa. Begitu seriusnya, sampai-sampai aku bertanya, “kalau nanti aku jadi astronot, lalu aku terbang meninggalkan bumi, kemanakah arah kiblat saat aku shalat?” Pertanyaan itu ku ajukan pada guru ngajiku, yang tak lain adalah santri bapakku sendiri. Guru ngajiku menjawab sambil tersenyum tak percaya, “ya yang penting niat nyembah Allah.”
Belum hilang kekaguman pada semesta raya, demam bulutangkis menyerangku. Kalau tak salah kelas IV, saat Ricki Subagia dan Rexy Mainaki menjadi pemboyong mendali emas di Olimpiade pada cabang bulu tangkis.
Aku sendiri tak menonton pertandingannya. Tahun itu, TV di kampungku belum banyak. Hanya orang-orang kaya yang butuh TV. Salah-satunya tetanggaku. Seperti malam sebelumnya, dalam terang bintang kususuri jarak sepuluh meter menuju rumah Lisnawati, tetanggaku. Aku dan beberapa teman hanyut dalam sebuah sinetron. Kalau nggak salah lagi, sampai jam 21.00.
Entah karena apa, aku lupa. Yang jelas hal itu membuat aku sedikit gengsi nonton pertandingan itu. Kalau tak salah nih, yang memberitahuku tentang jadwal pertandingan itu adalah teman yang sedang aku benci. Sehingga aku merasa gengsi kalau ikut nonton karena ajakan dia. Aku jawab saja, “halah bulu tangkis, ngapain ditonton, mendingan tidur.”
Pagi hari di sekolah, aku cuma bengong saat semua teman membincang kemenangan Ricki dan Rexy. Lagi-lagi karena gengsi, kukatakan semalam aku juga nonton. Larut dalam euforia kemenangan, hampir setiap orang mengisi waktu luangnya dengan bulutangkis. Tak terkecuali aku dan teman-teman sekelas.
Walau merasa rugi karena tak mendapatkan kegimbaraan seperti yang lain yang nonton langsung pertandingan, tapi aku ikut saja saat dua siswi dan satu siswa sekelas mengajakku bermain pukul bulu itu. Begitu leburnya dalam keasyikan, kami mengidentikan diri masing-masing pada para pebulutangkis nasional. Teman-teman membaiatku sebagai Ricki Subagia. Aku bangga-bangga saja dipanggil demikian. Sejak itulah cita-citaku ingin jadi pemain bulu tangkis nasional.
Berbagai pertarungan kecil-kecilan kami gelar. Baik di sekolah saat jam istirahat atau pada jam mainku pulang sekolah. Kesadaranku kembali pulih. Kutahu fisikku tak merelakanku untuk bergelut di bidang olahraga fisik. Lagi pula, modal gemar saja ternyata tak cukup. Aku selalu kalah telak saat bertanding.
Pada moment yang tak berjauhan, aku membentuk sebuah genk Power Rangers. Aku bersama lima teman lainnya kebetulan sama-sama suka nonton serial Power Rangers. Di genk ini aku berperan sebagai Tommy, sang RangerPutih.
Masa itu aku lewatkan dengan imajinasi ada kekuatan dahsyat yang menimpaku. Dan aku benar-benar menjadi Sang Super Hero penakluk monster. Akupun berkhayal terbang ke berbagai penjuru jagad. Hinggap di planet-planet terluar dari Tata Surya memakai baju Ranger Putih. Tapi sayang, genk Power Rangers ini tak berjalan lama. Kawan-kawanku buru-buru bosen dengan genk kanak-kanakan ini. Bahkan setiap senin kami ketemu, tak lagi mendiskusikan serial Power Rangers yang tanyang hari minggu. Sebagian sudah beralih hoby nonton Dragon Balls, yang jam tayangnya bentrok dengan Power Rangers. Jadilah aku single rangers.
Berlanjut Ke Chapter II: Posturku Lebih Mirip Sosok Jin Daripada Manusia