Home

Rabu, 24 Februari 2010

Sikap Beberapa Guru 'Seni' Terhadap Fenomena Cyber

Ketidakdewasaan Terhadap Umpatan Facebook

Di era ini, mulai benar-benar terasa geseran realitas daru nyata ke dunia maya. Sebagaimana kekhawatiran Mark Slouka, kini jutaan warga dunia berduyun-duyun bermigrasi ke cyber space. Fenomena Facebook salah-satu contohnya. Kita saksikan dahsyatnya dukungan terhadap Prita lewat koin yang digalang mula-mula dari dunia maya. Di samping itu, kita juga terima kenyataan, dunia maya adalah dunia kebebasan. Kita bisa menjadi siapapun, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun. Menyamar dan menghilangkan identitas diri, termasuk jenis kelamin.
Mark Sluoka dalam buku yang diterjemahkan berjudul “Ruang Yang Hilang” mengungkapkan, cyber menjanjikan sebuah dunia sempurna. Sama halnya para agamawan menjanjikan surga sebagai tempat sempurna impian kita. Surga maupun cyber merupakan dunia ketiadaan jasad. Di situ apa yang kita mau akan segera tersedia. Tak ada lagi larangan, hanya kesenangan.
Para ahli teknologi telah mampu menjelmakan surga di dunia ini. Ruang yang dihuni pikiran-pikiran murni manusia. Kita sadar, ini memang bukan surga seperti imajinasi pada agama-agama. Sebuah tempat sejuk dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Tempat yang tak mungkin terdapat di gurun pasir yang seperti neraka.
Dunia maya telah memiliki tempat spesial di otak kita. Atau lebih tepatnya, sebagian jiwa kita telah berada terperangkap di dalamnya. Tepat seperti tulisan pamflet, yang disebar Blogger UIN Jakarta beberapa waktu lalu, “PART OF YOUR MIND IS ON THE CYBER SPACE”.
Bisa dikata, cyber adalah dunia alternatif, terutama untuk gagasan dan ide yang riskan diumbar di realitas nyata. Satu lagi fenomena di facebook, yakni berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI). Kita tahu, otak bangsa Indonesia telah dicuci oleh Rezim Orde Baru, bahwa PKI adalah partai yang membahayakan umat Indonesia. Karenanya tak mungkin ia tumbuh dalam lingkungan nyata sehari-hari. Tapi di ruang maya, PKI bisa berdiri tegak.
Pernyataan Rene Descrates, “aku berfikir, maka aku ada” mungkin tepat untuk disematkan pada fenomena cyber. Sekali lagi, di dunia baru ini hanya ada pikiran-pikiran manusia. Tak ada kelembutan kulit, tak ada kehangatan belai usapan tangan ibu atau kekasih di kelapa kita. Semua itu dapat terjadi di ruang maya dengan pikiran kita.
Siapa sanggup menghentikan laju pikiran manusia. Ketika raga terpenjara, pikiran tetap berjalan. Teror mental pun, tak selalu ampuh mematikan pikiran, mungkin hanya membelokkan.
Dunia maya telah memiliki teretorial sendiri. Sebuah teretorial dengan luas ratusan kali lipat dari jagad nyata. Dengan kecepatan tinggi, ruang itu semakin melebar, merambah, dan menjarah dunia nyata.
Beberapa waktu lalu, empat siswa SMAN 4 Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dikeluarkan sekolah karena mencaci seorang guru kesenian di Facebook (kompas.com). Menyusul kemudian Wahyu, mahasiswa di sebuah universitas negeri di Jember, didakwa oleh jaksa dengan pasal 310 ayat 2 dan Pasal 311 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun. Ini bermula ketika Wahyu meluapkan kekesalannya terhadap Tri Basuki di facebook, salah-seorang instrukturnya di Jember Marching Band. (Kompas 21/2/2010 hal. 26)
Apapun, tak seharusnya itu terjadi. Apalagi sanksi pengeluaran dari sekolah hanya gara-gara mencaci guru di FB. Ini justru menandakan kita (terutama para guru di SD itu) tidak punya kedewasaan. Hukuman drop out adalah tindakan final. Tentu tak sebanding dengan cacian d FB. Dunia maya hanyalah realitas dari pikiran-pikiran yang berkeliaran. Tanpa harus dituangkan di dinding FB, ketiga siswa itu tatap mencaci. Dan ketika mereka ungkap di FB dengan kejujuran, balaslah dengan kejujuran pula di dunia maya (FB dsb).
Para penggugat, yang kebetulan keduanya bergerak di bidang ‘seni’ sangat tak layak. Janganlah dulu orang-orang semacam itu diberi kesempatan mengajar. Biarkan mereka mengasah jiwanya, nuraninya, hatinya untuk tidak selalu berlaku sebagai munafik yang selalu menyimpan kejujurannya dalam kebusukan otak dan hati.

Jumat, 12 Februari 2010

Udara

Sebentar lagi Udara tiba
Mengantarku Kembali Padamu
Ibuku
Kuoleh-olehkan setumpuk kekalahan
Kulipat menumpuk dalam kantong karet
Udara melintasi jalan akal
Tanpa hujan

Selasa, 02 Februari 2010

Parfum dan Kecoa


Sabtu (30/1) kemarin, amunizi band memulai garapan track lagu di Takaza Record. Recording ini direncanakan hingga tiga shift, dengan durasi enam jam per shift-nya. Sengaja kuniatkan malam minggu bersama lima personel band asal Kota Ciputat itu.
Ba’da isya, melalui sms M. Yan (drumer), mengabarkan rekaman segara digelar. Mendung berusaha menghalangi, namun itu tak menciutkan nyaliku melangkah. Tas plus sweeter merangkulku. Aku siap berangkat.
Saat mataku jelalatan mencari kunci kamar, terdengar suara asing di telinga. Kresek-kresek. Aku diam sejenak.
“Ah, siapa nih?” pikirku horor.
Aku tinggal di kamar kontrakan satu petak. Dalam deret panjang, bangunan ini memiliki empat ruang. Hanya dua kamar yang berisi. Kamarku sendiri terapit dua ruang kosong.
“Tak mungkin suara itu berasal dari kamar samping.”
Aku diam. Makin lama, suara itu makin mantap dan jelas. Kudekati tumpukan buku di pojok ruangan. Musik di winamp komputer telah mati. Suara kresek-kresek itu timbul tenggelam. Kudekatkan telinga di samping tumpukan buku-buku filsafat. Berharap para filsuf, yang telah mati bangkit dari teks-teksnya.
Tepat ketika daun kupingku menyentuh Democracy and Education-nya Jhon Dewey, mataku terbelalak kakiku menjingkat spontan. Seekor kecoa lari terbirit-birit seolah ketahuan mau mencuri buku. Aku sendiri takut, geli dan salah-tingkah. Kecoa itu berputar-putar menantang. Sesekali ia mencari sela persembunyian.
Tak Ada Sapu di sini. Akalku berputar mencari senjata pemusnah kecoa. Kebetulan di samping kardus penyimpan baju, tergeletak botol farfum casablanca. Tanpa ampun ku tembak kecoa intelek itu berulang-ulang. Lima kali semprotan luput. Darahnya tak bercecer. Ia kembali pada tumpukan buku. Aku menunggunya. Dua menit berselang, ia seakan nyaman dengan persembunyiannya. Tapi aku tak rela menitipkan kamar pada sang kecoa.
Akhirnya, kulempar dua butir kamper sebagai granat kearah persembunyian musuhku. Ia bergeming. Kulancarkan kembali serangan casablanca. Nah, musuhku tak tahan juga. Ngacir ia menuju selangkangan monitor komputer. Ah sialan pikirku. Aku tak tega melukai komputer dengan senapan wangi ini. Kecoa pun menjawab. Ia lari menuju motor temanku yang kebetulan lagi dititipkan di sini. Tepat di bawah ban depan, gencatan parfum kembali kulancarkan.
“Sayang juga parfum ini dikasih kecoa, pikirku. Tapi tak apalah sedekah. Lagian kecoa pasti nggak pernah mandi. Biar dia merasakan wangi sebelum ajal.” Setelah muter empat lima kali, kecoa tak sadarkan diri telentang. Hanya kaki kanan belakangnya saja masih bergerak. Sepertinya, bidikanku telah menembus hidungnya.
Usai memastikan kecoa tak mungkin bertingkah, kutinggalkan kamar dalam kondisi terkunci. Dua puluh meter berjalan, gerah meradang. Keringat bercucuran. Aku asing dengan tubuhku. “Sepertinya ini bukan raga yang biasa kujalankan.”
Satu menit berfikir, sadarlah aku pergi tak memakai parfum. Aku pun balik kanan ke kamar. “Masa kecoa dipakain parfum, aku tidak.”