Home

Minggu, 19 Juni 2011

Berdiri

Kau yang datang
membangunkan
Membantu berdiri dan memapahku ke tepi

Aku tersuruk
Digaruk jalanan
Tertatih menambati batang-batang kegelapan
Lampu penerangan
sorot kendaraan menatap kejam
Menyukuri air coklat
genang lobang jalan
abadi membercak di kaos putihku

Ada yang tertawa
Ada yang mencerca
Pun menangisi
Atau iba menyembahkan kata
Semua dari pikiran yang kupinjamkan

Kau yang memapah
Karena luka di kakiku
Jika telah sanggup berlari
Tersenyumkah raga menjauh
Garis bawah segitiga
Aku di tengahnya
Dia dan lajumu
diagonal
Aku vertikal
Hanyakah pintasan yang pantas petaskan jurang

Lihatlah mafia dan para antagonis
menangkar belahan hati karena kejahatan atau kejantanan?
Baik dan buruk bagian dari cinta
Lalu mengapa
kau salahkan
bu guru
mengajar alfabeta dan abatatsa
musuhmu tak selalu musuhku
tapi temanmu sudah pasti temanku

Jumat, 17 Juni 2011

Janji dan Dendam

Janji dan dendam

Saudara kembar

dari proses kandung tak sempurna

Akibat radiasi suara

gerak lingkungan yang berwarna

Lahir menuntut bukti

mustahil di mata awam

Janji dan dendam tidaklah nyata

Mengejar masa

terkurung ruang yang berbeda

Halang rintang menjadi musuh

realisasi buah bukti

Janji dan dendam

tak sembarang kuat memagang

tak setiap orang sanggup mengeja

Menerimanya adalah ketakpastian

Menghampiri hamparan ketidakmungkinan

Keduanya punya senjata

Kesejukan penumpah dahaga

Api pembawa petaka

Bukti nama tuhannya

Kebenaran cuma keyakinan

terwujud di suatu mendatang

Tak butuh kapan bagaimana

bukti tetap menyala

dalam sekam mengakar

di tujuh lapis tanah hati

Janji dan dendam

Adakah arti hidup tanpamu?

Kamar Instalasi-elGoso, 17 Juni 2011, 15.30

Bu Guru

Bu Guru

Aku murid kesayanganmu

dulu

kukalahkan teman-teman bengalku

dengan kebaikan

kepatuhan yang kau ajarkan

Bu Guru

mereka murid yang membangkangmu

kini

mengalahkan teman-teman baikku

dengan kemunafikan

kesombongan yang kau larang

Bu Guru

saking munafiknya

lidahku kelu merekatkan kata itu ke mereka

apa aku terlalu lugu

Jika sedikit bergeser norma-norma

ingin kuproteskan padamu

Bu Guru

Kenapa tak biarkanku

dulu

membedakan antara baik dan lugu

Kamar Instalasi - Legoso, 16 Juni 2011

Tuhan Bukan Satu, Tapi Nol

Keragaman dan kesatuan itu sama. Keberadaan keduanya saling menegaskan. Walau terdapat unsur-unsur yang tampak saling bertentangan, tapi dalam keberagaman semua saling membutuhkan. Keberagaman dalam jumlah keseluruhan dan keterkaitan merupakan himpunan tak terbatas. Ketakterbatasan yang sekaligus merupakan ketiadaan.
Sebenarnya, alam raya ini lebih mudah dipahami dan masuk akal jika tak terbatas. Dalam ketakterbatasan tersebut terdapat himpunan-himpunan yang ditentukan berdasarkan fungsi, kesamaan, keterkaitan dan seterusnya, yang sifatnya sewenang-wenang dan saling mendukung.
Lalu kenapa ketakterbatasan itu sekaligus ketiadaan? Menjawab pertanyaan ini, hanya butuh penjelasan sederhana. Jika kita terus memerkecil atau mengurai wilayah himpunan, misalnya dari seluruh jagad raya pada manusia hingga sel terkecilnya, maka akan kita jumpa kekosongan. Itulah ketiadaan. Kekosongan inilah satu-satunya unsur yang mampu berdiri-sendiri. Dalam matematika kekosongan adalah nol (0).
Nol adalah satu-satunya bilangan yang mampu berdiri sendiri. Berbeda dengan bilangan lain. Tiga (3) misalnya, tak dapat disebut 3 tanpa adanya 1, 2, 4, dan seterusnya. Semua bilangan itu mampu dibagi sampai tak berhingga. Selain itu semuanya membutuhkan 0,
Lain halnya dengan nol itu sendiri. Ia ada tanpa harus ada bilangan lainnya, baik minus maupun plus. Jika dikalikan dengan angka berapapun, hasilnya tetap nol. Sementara jika dibagikan, maka hasilnya tak bisa didefinisikan alias error. Jika diletakan di sebelah kanan (setelah koma) bilangan lainnya, memerbanyak dan di sebelah kiri (sebelum koma) mengurang atau memperkecil.
Nol merupakan ketiadaan, itu mudah dipahami. Nol juga sebagai ketakterhinggaan karena seluruh bilangan tak lepas atau tak dapat berdiri tanpanya. Bilangan yang tak terbatas, jika di hitung dari satu sampai seterusnya, sama dengan nol yang tak terhingga. Karena itulah, nol lebih tepat untuk melambangkan Tuhan.

Sajak Masa Muda

Kalau cinta lawannya benci

Keduanya mesti terpisah

Demi posisi

putar rotasi

Kalau cinta dan benci menyatu

Hanya dia yang tahu cara pengaturan

Darah dan uang takkan membayar

Dampak fusi dan badainya

Kalau cinta dan benci menyatu

Tiada lagi matapencaharian

Tiada lagi peranakan

Tiada lagi peradaban

Karena perang bukan solusi

Toleransi apalagi

Kalau cinta dan benci menyatu

Hanya sendiri teman setia

eL-Goso-Kamar Instalasi, Dini Hari, 10 Juni 2011

Kaukah Demikian

Ketika sendiriku meradang

Aku paham lebih kau merasakan

Maka kusyukuri kehidupan

Saat sepi bertandang di beranda pikiran

Aku tahu, yang kau rasa lebih dari senyapnya malam

Karenanya aku gembira

Ketika sedih menusuk hati

Aku sadar, deritamu lebih dari ini

Jadilah aku tenang

Saat duka merasuk mimpi

Aku yakin kau demikian

Lalu aku bahagia

Ketika rindu ingin bertemu

Aku ingat kaupun begitu

Karenanya aku tersenyum

Tapi

Sewaktu ku bahagia

Apakah juga kau di sana?

Di tempo aku senang

Begitukah kau di keadaan?

Dan kala gembira

Kaukah juga bersuka-cita?

Itulah masa sendiri, sepi, duka dan rindu sungguh-sungguh

Aku bisa menikmati duka

Karena kutahu kau lebih menduka

Tapi suka-cita

Terasa pincang tanpamu

Hanya bisa kurengkuh denganmu

Laraku sembuh karena kau di pikir dan hatiku

Senangku tak demikian

Waktu telah ditugas pertemukan satu hati dua insan.

eL-Goso-Kosan Instalasi, Pukul Sebelas, 10 Juni 2011

Mengisi C

Kalau rindu

liputan bayang melipatku.

Diibaratkan

cinta adalah wadah

sanggup menampung seluruh kehidupan.

Itu yang kupunya.

Doakan aku, Hunny, mampu memenuhi.

Jika cinta adalah ruang,

kehidupan adalah waktu.

Kode Tiga

I

Anak SMP pukul sembilan

Cari sensasi di pinggir jalan

Menghisap rokok berbangga

Menggoda gadis berbedak tebal

Di sekeliling aktivitas

Mengangkat teralis setengah nyawa

Matahari kernyitkan mata

Dunia normal masih membisu

II

Kata,

nilainya tiga

Sama dengan jumlah lahirmu

Via bahasa kita bertemu

Menyambung di kabel terkulupas

Dari rasa itu,

membangun gubuk

tinggi dan perjalanan

Aku mengumpat ke pengendara

Menyelip macet semau-maunya

III

Di puncak,

kami berpesta

Anak-anak lelap di kecapaian

Kita bercinta cerita asyik sekali

Mengulang masa depan

Mendulang kala silam

Dan kau sandarkan kepala, di bahuku

Kuelus dan kuendus senyummu yang alami

Mengecup keningmu benar-benar

Puji Tuhan, cinta nikmat rasanya

IV

Rumah tiga ini selalu dilupa

Di-tek-no-lo-gi-kan pahit

tablet duka saja

Wajar, jika para penguasa

Mengurungnya di kotak P3K

Aku mohon wakil-wakil kita diterpa bencana

Demi kebahagiaan rakyat semua

Biar tersentak bahwa cinta

bukan sekadar obat penenang

dan dibenci sehat wal affiat

el-Goso-Kosan Instalasi, Pukul Sembilan, 10 Juni 2011

Kamis, 16 Juni 2011

Masih Bermain Simbol

By MS Wibowo

Lalu apa kalau bukan

nol titik temu arah berlawanan

awal penciptaan

bergerak merangkak

atau melesat ke kanan

Kau sebut tujuh karena kau

delapan dan ku lima

Lalu apa kalau bukan

nol langkah mula segala

Kita terasa oleh sebab

menujunya

ada dan tiadanya

tak terhingga

alun-alun hamparan

sangkan tepi tanpa batasan


Kamar Instalasi, 16 Juni 2011, 08.30

Selasa, 14 Juni 2011

Sabar

Mengistirahatkan kata
menutup import rasa
sementara
bersandar di dermaga setia
Letakkan skop di daun keriting
Di bawah permata scop mengekor hati tujuh
petaskan kemenangan.

Kau berkata getar
dari pikiran yang kupijamkan
Berulang kuunggah sepura
lalu kekhawatiran
menjatuhkan anti materi
cahaya menelan kota

Di sudut sempit aku berjanji
setahun lagi
bila belum sedang mengenakan topi
kau akan kunikahi
bermaskawin mimpi yang terjaga
asal kau yakin sebagaimana tibanya
akhir zaman menyusunkan istana
rumah surga kita

Bakar khawatirmu dengan api kesabaran
Jika gusar, izinkan aku memelukmu
Walau sendiri, kecupku ini hanya milikmu
Imani cinta Ada
seperti kau percaya adanya surga dan neraka

Minggu, 12 Juni 2011

Cinta

Selama dianggap penghuni novel roman picisan

wajar korupsi subur setia.

Selama masih memisahkan

satu nyata dan seharusnya,

maklumkan derita ada.

Ketika hanya untuk dipuja,

transendenkan jauh di surga,

yang wujud imanen derita,

nafsu semu kepuasan,

serakah penghianat

pemeras dan bajingan koruptor

mengada karena alpanya.

Lihatlah, cinta kesepian di arsy singgahsana

tanpa manusia

pahami dan menurunkannya

kegelapan nyata dari bolos cahaya


kita adalah cermin retak

tak sempurna pantulkannya

jangan salahkan rimba

atau

jangan salahkan yang ada karena izin sang kuasa

kalau kau tak menyatuinya

Di Perjalanan, menuju Semanggi II, 12 Juni 2011

Senin, 06 Juni 2011

212 Jati Diri Bangsa Indonesia

Tahun 2004, aku lulus dari Madrasah Aliah Hasyim Asy'ari (MA-HA) Tegaldlimo, Banyuwangi, Jawa Timur. Kelulusan yang aku rasakan dengan kegembiraan, penyesalan dan kekhawatiran.
Gembira karena akhirnya lulus dan bebas untuk menentukan tempat belajar mana yang akan kupilih. Sebab memang bukan niat dan keinginanku sekolah di situ sejak dulu.
Tapi aku juga menyesal karena tak lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Kala itu aku memilih UGM dan Unibraw. Ujian dilaksanakan di Universitas Negeri Jember (UNEJ).
Ketidaklulusan ini membuatku menyalahkan MA-HA. Arogansi dan kesombonganku berkata, seandainya tak sekolah di sini, aku pasti lulus SPMB. Sejak kelas I SD hingga III SLTA, aku selalu juara kelas. Tapi karena di sini bukan sekolah yang membuatku enjoy dengan sistem belajar-mengajarnya, aku gagal SPMB.
Untuk mengatasi frustasi, aku pamit pada paman, yang sekaligus kiyai pesantrenku, untuk mengembara ke Bandung. Selama sekolah di MA-HA, dialah yang membiayaiku. Tapi kini, ia membebaskanku menjalani hidup sendiri. Dan aku berangkat.
Berbagai peristiwa di jalan Banyuwangi-Bandung kulewati. Hingga aku singgah di Pondok Pesantren (Pon-Pes) Daruttauhid, asuhan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Di sinilah aku bertemu dengan pemuda, yang mondar-mandir ke mana-mana memakai topeng dari kaos menutup muka. Hanya sepasang mata dari lubang leher kaos yang terlihat darinya. Tepat di atas lubang mata tersebut tertera tulisan 212.
Aku akrab ngobrol dengan dia. Meski ternyata omongannya melantur tak karuan. Ia mengembara dari Jakarta. Singgah di sini dengan alasan menebar kedamaian. Namanya Rekson.
Saat menjelang kepergian kami dari Daruttauhid, kami berpapasan dengan Aa Gym, usai mengimami shalat jamaah. Kepada Rekson, Aa Gym bertanya, "itu kenapa wajahnya? Sakit?"
Rekson menjawab, "Bukan. Ini 212. Yakni, 2+1+2=5. Pancasila ada lima."
Aa Gym, yang saat itu sedang naik pamornya, melanggang meninggalkan kami berdua, bersama hilir mudik jamaah di Masjid Daruttauhid.
Aku tak tahu, di bulan lahirnya Pancasila ini, apakah Aa Gym ingat peristiwa itu? Aku pikir sudah lupa.
Ya, kita memang perlu belajar dari Wiro Sableng dengan Senjata Kapak Maut Naga Geni 212 Pancasila.
Selamat memeringati falsafah bangsa kita..
Hidup Nusantara...!!! Hati-hati dengan para tetangga. Mencuri dan main klaim adalah tindakan halal menurut agama mereka..

Void, Kau Hanya Nol, Kosong

Kau, dulunya tak terpikir. Berawal gumul kata, dari bibir-bibir berbusa. Dilantangkan para pujangga. Mata pencaharian ulama. Kaum cendikia saling beda. Ada yang bilang tiada guna. Sebagian yakin landasan utama. Lapak pecinta seni. Takkan redup digelap waktu.
Ada kecewa, tak lagi percaya.
Kau ungkapan segala kesah. Pos kedewasaan. Dikuahi ragu, bumbu penasaran.
Aku meraba kaca. Terhubung via gelombang asmara. Koneksi getar angka-angka.
Apa guna, pengejaran telah sampai. Kau hanya nol. Kosong, yang sanggup berdiri sendiri tanpa keseluruhan angka.
Jauh melangkah hingga 99. Ternyata kau juga yang kujumpa. Nol. Ketiadaanmu ketakterbatasan.
Kini di pusarmu, haruskah kueja ulang satu? Atau butuh sebongkah pijakan? Batu-batu yang kutebar, mengapali pelaut liar.
Mengapa harus dipuja kalau terpisah dari nyata?
Nol. Amat luas buat selonjor. Semua bilangan merebutkan.
Lalu aku di pihak mana? Kalau sumber kisruh sejati ketiadaan.
Surga di atas, hangus dijilat neraka. Hujan air mata bukan solusi padamkan putihnya bara.
Yang kucari dan mereka, yang menjadi alas atap setiap, jalan keluar dan jawaban, darmaga sandar pilu, optimisasi ialah void[]

Segera Mengembara Setelah Lulus

Ya.
Aku lewat.
Telah mengabaikan standar-standar umum.
Usia dan Masa.
Lulus dan wisuda adalah anugerah bahagia.
Setelahnya bisa ku mengembara.

Sabtu, 04 Juni 2011

Cerita dari Kawanku

Ia Pernah Minum. Katanya Sampai Mabok. Dalam Keadaan itu, di luar kendalinya, ia datangi seorang perempuan yang ia cinta dan langsung menyatakan isi hatinya. Si cewek lari ketakutan.
Siang harinya, kawanku itu sadar dan terbangun. Ia heran dengan apa yang telah terjadi. Kenapa ia sampai sanggup menjadi aktor dalam kejadian semalam. Yang lebih mengherankannya, sikap si cewek yang ketakutan, ketika mnghadapinya. Mungkin karena pandangan umum yang menyatakan, orang mabok itu berbahaya. Jadi si cewek, sebagai orang awam ketakutan pula. Padahal, kata temanku itu, ia takkan berbuat macam-macam padanya, selain ingin bilang cinta dan meminta jawaban yang tertunda. Seterusnya paling nerocos dikit.
Aku tanya ke dia, "Bagaimana kau yakin takkan berbuat macam-macam saat itu?"
Kawanku menjawab, "Ah, kau juga masih awam ternyata. Kukira kau sudah khawasul khawas. Yang jelas ya berdasarkan pengalaman. Aku pernah mabok dan nembak cewek sebelumnya. Si cewek nolak dan malah ngajak ngobrol dan kasih nasihat.”
Kawanku itu juga bilang, dalam track record hidupnya juga jelas, dia tak pernah berantem atau berusaha melukai orang. Apalagi orang yang ia cinta. “Tapi ada untungnya juga kejadian gila itu. Sebab setelahnya aku jadi lega,” ujar kawanku menambahkan buru-buru.
"Oke kawan, semoga kau ikhlas menerima pemberian Tuhan ini. Penderitaanmu akan jadi kenangan di masa depan. Sementara bagi mereka yang menyia-nyiakanmu, kesenangan dan kebanggaan hanya akan jadi luka yang menyiksa. Kau Punya mimpi, jagalah mimpimu," begitulah aku menghiburnya. Lalu kuminta izin untuk menulis note ini. Dia mengizinkan dengan syarat tak menyebutkan identitasnya.