Home

Rabu, 19 Desember 2012

Your Lost



We both know that perfection is boring
Deficiency should meet with deficiencies that grew completeness
I'm perfect
you're perfect
in the faithful
So, moving what else will be created?
and I realized
your departure
reduced me very much
I was very arrogant when it
I'm just a person who does not understand how to move the existing fittings for you

Sabtu, 15 Desember 2012

Apa Ada Apa


Cobalah petik selembar daun 
Urai seratnya hingga butir-butir terkecil 
Kupas perlembar debu yang rekat di hitam putih kulitmu 
Cacah hingga tak mampu kau membagi 
Tulangmu, dagingmu, darahmu, suara dan udara yang keluar masuk 
berdiri 
sendiri sendiri 
Menyusuplah diantara keping terdalam angkasa raya 
Apalagi yang kau jumpa 
kalau bukan tiada 
Bahkan tiada pun tiada. 
Jangan coba tertawa 
sebab masing-masing partikel tangis dan gembira telah terberai 
Jangan tanya mau apa 
karena kemauan tak lebih sekian kosong yang menggumpal

Oktober 2012

Belum Sempat


ku miripkan wajah 
potong rambut sinar matamu 
pada mungilnya bocah 
gelisah bersandar di pangku bunda 
Dalam angkutan 
kota yang lapar 
menelan lebih dua kali keresahan 
Manja tanyamu lentik bersuara, "Bunda, kapan sampainya?" 

Di gugur kering 
daun-daun rasamu rasaku 
menyatu tanah kesabaran 
yang wangi pedesaaan 
tanpa cemar nafsu 
tak tergoda tingkah laku 
terhubung kemurnian 
rindu terikat melankolika setia 

Lepaslah rindumu 
rinduku setiamu 
setiaku terbakar bercumbu abu 
Sedang jasad 
kita diurai keraguan 
Tak mungkin sempat 
kau cium punggung tangan ini 
Sembunyimu telah abadi 
di balik hitam pintu 
terkunci

Ramadan 1433 H

Jarak

Sepuluh langkah dariku 
matamu melihat keagungan 
Sedepa denganku 
kau dapati kebosanan 
Sejengkal di hadapan berarti 
keindahan atau kemuakan 
Menyatuiku itulah kebahagiaan 
keabadian 

Ciputat, 2010--2012

Bila Diteruskan


Setelah semua hangus terbakar
hasrat nafsu
pulas terkapar
kenyang tak berdaya
Tiada yang ada
Tiada yang tinggal
Kecuali tulusku padamu

Dalam kubangan lumpur
mutiara tetaplah mutiara

Kamar Instalasi, Legoso, 12 Agustus 2012

Minggu, 09 Desember 2012

Kesederhanaan

Kesederhanaan ini, bukan berarti aku harus kehilanganmu.

Lampung, Ramadan lalu...

Julie

Tak ada yang lebih bijak dari hujan di bulan Juni,
kata Sapardi Djoko Damono
kenapa bulan Juli tidak? Aku sangat yakin, itu lebih bijak. Apalagi di bulan Agustus.
Tapi cukuplah Juli
Karena tengah-tengah, yang tengah-tengah itu yang enak
Juli juga nama legendaris dalam kisah cinta
Juli, bulan lahir seorang kekasih
Juli tambah e, jadi kekasih ilusi lainnya menuliskan namanaya sendiri
Ilusi pun tak tepat menggambarkan
karena membayangkan bersama saja, tak bisa
Entah sisi mana jiwaku yang mencintainya
Yang pasti dia sangat membenciku
Oke, aku bukan Romeo
Aku bukan orang bertempel topeng alami bernama alter ego yang dipujanya
Cukup mencintainya, entah dari sudut jiwaku yang mana
dan kubebaskan Julie membenci, merendahkan, menghina, dan jijik pada cintaku
Kubebaskan dia terbang, melayanglah tinggi sebagai simbol merpati
Kapan telah siap, mari kita bergulat dan berkelahi.
Aku siap kau kalahkan
Kau dan Aku hanya setititk debu yang beterbangan

Ciputat Macet


Aku hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi ini bukan pantai. Ini Ciputat dengan penduduknya yang padat. Ciputat bukan gunung atau tebing yang mampu meneruskan teriakan ke jurang-jurang. Menggaung berulang dan menimbulkan trance. Hanya musik dari pemutar mp3 yang sanggup menenangkan kemarahan jiwa, menstabilkan pikiran, di Ciputat.
Aku ingin marah, mengacak-acak segala gala. Aku bosan mendengar dan melihat kepura-puraan. Aku jengah dengan kekakuan. Di jalan, tivi, semua tempat pendidikan, kerja, dan perjuangan, tak ada ketulusan. Cinta hanya di atas kertas, menjadi tameng atas nama. Senjata penipu. Cinta sebenarnya terpenjara di atas bukit, dikurung dalam kisah-kisah roman, atau ayat-ayat agung. Cinta tinggal kata-kata tanpa hakikat. Di jalan yang macet, aku kehilangan arah.

Selasa, 04 Desember 2012

Minggu, 02 Desember 2012

Kiamat Itu Hari Jumat


Banyak yang ribut dan takut kalau kiamat tiba. Sampai saat ini, saya belum paham kenapa mereka takut pada kiamat. Padahal seperti dijelaskan, kiamat itu adalah saat kehancuran dunia. Artinya tak ada cara lain selain menerimanya. Mati sama-sama, hancur sama-sama, seluruh dunia. Lalu apa yang ditakutkan?

Banyak ramalan tentang kapan kiamat tiba. Menurut ramalan suku Maya dan Inca, kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Kalau kita lihat kalender, tanggal tersebut jatuh pada hari Jumat.
So, masihkah kamu takut? Saya berani bertaruh, yang menjawab "nggak takut" itu lebih didasari karena tak percaya bahwa pada tanggal tersebut kiamat terjadi. Dan sekali lagi yang saya bingungkan adalah mereka yang takut. Apa alasannya, sampai mereka takut?

Berikut saya cantumkan hadits Nabi saw tentang kapan kiamat tiba.  
Rasulullah saw berkata, "Hari Jumat adalah penghulu segala hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari Jumat ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari Jumat terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari Jumat juga Adam dimatikan, di hari Jumat terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari Jumat pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari Jumat." (HR. Ahmad)

Ah, pasti kamu-kamu yang takut itu karena merasa punya dosa yang banyak ya? Ya sudah, kalau itu masalahnya cepat-cepat bertobatlah. Lagi pula nggak cuma kamu kok yang punya dosa. Semua manusia juga sama. Ah, kamu takut neraka? Tenang, kamu kan percaya Tuhan. Sesungguhnya Tuhan Maha Kuasa. Tak butuh alasan baginya untuk memasukkanmu ke surga atau neraka. Apalagi yang kau takuti dari kiamat?

Sabtu, 17 November 2012

Lima Menit ke Puncak



Lima meter dari kamar kost yang kusewa adalah jalan raya. Meski bukan jalan utama, aktivitasnya tak tak kalah padat di pagi dan sore hari. Ribuan mobil dan motor menyemarakan pesta kehidupan. Ribuan pula nyawa berdesak ketegangan demi menghilangkan rasa bosan jika tanpa kegiatan. Demi membayar ongkos hidup. Guna mencantumkan papan nama pada dinding kebanggaan.

Hanya itu sudah cukup membuatku bosan. Raung kendaraan, asap kenlpot yang hitam, setiap waktu menghantui. Aku bersyukur kalau hujan tiba. Udara tercuci bersih, meski tak mungkin bertahan lama. Selain itu, dinginnya aku suka. Kamarku yang tanpa AC membuat udara panas Jakarta terus mendidihkan darahku, mempercepat detak-detak jantungkuLima meter dari kamar kost yang kusewa adalah jalan raya. Meski bukan jalan utama, aktivitasnya tak tak kalah padat di pagi dan sore hari. Ribuan mobil dan motor menyemarakan pesta kehidupan. Ribuan pula nyawa berdesak ketegangan demi menghilangkan rasa bosan jika tanpa kegiatan. Demi membayar ongkos hidup. Guna mencantumkan papan nama pada dinding kebanggaan.

 Andai di Jakarta, dan sekitarnya, turun salju. Aku pasti bilang, “wow…!”, mengungkapkan kegirangan. Sambil koprol dan salto berguling-guling atau sujud, rukuk, takbiratul ikram, dan sebagainya. Kubayangkan duduk di teras mengenakan jas tebal, yang menjuntai sampai lutut. Menikmati kopi, yang cangkirnya kudekap-dekap supaya darah di tangan tak menggigil kedinginan. Ah, itu sekadar khayalan. Layak umat merindukan Messiah atas frustasi sebab kenyataan.

Satu-satunya cara paling dekat, sebagai simulasi hidup sehari seperti di negeri Barat, adalah pergi ke Puncak, Bogor. Kebetulan 15 November 2012 hari Kamis adalah tangal merah. Libur. Memperingati tahun baru hijriah. Seyogyanya cuti bersama digelar hingga hari Minggu. Tapi sayang, hari Sabtu ada kewajiban piket. Jadi ingin kumanfaatkan dua hari sebelumnya untuk merealisasikan keinginanku. Bersama teman-teman terdekat.

Entah kenapa rasa ragu susah hilang dari benakku. Sudah kukabarkan pada seorang teman rencana itu lewat media sosial, Twitter. Tapi mungkin karena aku ragu, yang tanpa sebab, membuat temanku itu juga ragu atas ajakanku. Ia baru datang tanpa kuduga, bersama lima teman lainnya, di malam Sabtu. Niatnya hanya bersambang saja.  Jelang dia mau pamit karena sudah larut malam, aku ingat dua hari sebelumnya kita niat ke Puncak. Aku utarakan saja hal itu padanya. Dia antusias. Aku kebingungan. Bingung tanpa sebab. Seperti ada yang mengganjal. Tapi entah apa.

Tanya-tanya soal villa, ada teman yang punya. Siap disinggahi tanpa uang sewa. Kamipun sepakat semua. Namun satu orang di antara kita, tampak mengikuti keraguanku. Ia masih mikir-mikir kalau harus berangkat ke Puncak sekarang juga. Aku dan empat teman lain memberinya waktu untuk berpikir memutuskan. Ternyata hanya soal biaya dan motornya, yang tanpa STNK. Berarti itu bisa kami atasi.

Lima menit kami bersiap berangkat. Sudah terbayang hawa dingin Puncak. Aku baru ingat, hari Sabtu itu besoknya. Aku piket. Lima menit itupula hawa dingin Puncak menghilang. Kita bubar ke rumah masing-masing. Ke kamar kost masing-masing. Sungguh perjalanan yang sangat cepat.

Jumat, 02 November 2012

Menggenggam Dunia



Setiap syair yang tertuang adalah jelmaan air mata
Di dalamnya sedih dan bahagia mengalir
pelan menelusup celah-celah kekosongan
Sepekat rimba menjaring awan
Mencipta rasa aneka warna
yang terpisah merindukan asal Esa
Sebab tiada satu tanpa jumlah
Tiada waktu tanpa ruang
Seluas aku mencari diri 
sendiri yang telah pergi
Sebesar itu kebahagiaanku
Maka ku tegaskan,
Walau tanpa bantuan sekian banyak orang, dunia tetap akan mampu ku genggam

Kamis, 19 Juli 2012

Dua Sisi

Tiap orang memiliki dua sisi
baik dan buruk
masa lalu dan masa depan
Carilah keduanya
pada orang yang kau cintai

#The Tourist

Rabu, 18 Juli 2012

Selamat Datang


Rabalah dadaku
Masuk dan silakan duduk
Anggap seperti hatimu sendiri
Jangan sungkan-sungkan
seduh secangkir kopi
jika kau ingin

Ciputat, 18 Juli 2012

Sabtu, 14 Juli 2012

Bayang-Bayang

Bayang-bayang tetaplah bayang-bayang
hitam dan setia
dalam pekat ia sempurna
meraksasa
lalu menyebarkan dingin aneka rasa

Di angkasa luar begitu luasnya
Tiada sinar menandingi kebesarannya
Bermilyar galaksi
sekadar perhiasan
pernak-pernik bagi keanggunan
keagungannya

Pernah suatu dulu
bintang besar meledakkan diri
niat melipat bayang-bayang
yang menyusup dalam hampa hitam

Tapi
bayang-bayang tetaplah bayang-bayang
akan selalu hadir
pada sempit dan luasnya ruang
di jengkal gelap maupun terang

Tamita Netshop, 14 Juli 2012, 03.43

Minggu, 17 Juni 2012

Profesi Baru

Gulung Tikar Kenangan

Menyedihkan. Senja itu aku sendiri keluar kamar. Bukan mencari udara segar. Mungkin cukup secangkir kopi. Menyeruputnya demi sedikit, diasapi samsu, dan satu lagi, mendengarkan cerita. Cerita apa saja, dari seorang teman atau kenalan. Kupikir itu sejenak membantu melupakan diri sendiri yang kacau. Mungkin juga, Pendengar Cerita adalah profesi baru yang belum banyak orang tahu. Barangkali.

Langit cerah sore itu. Setelah adzan magrib, ku saksikan jejak surya berupa mega kemerah-merahan. Seperti wajah pengantin baru malu-malu mau masuk kamar.

Tapi sudahlah, yang penting akhirnya ada satu teman ngopi dan siap ku dengarkan ceritanya. Cerita apa saja.
Kami berdua meluncur, menyeberangi deras lintas jalanan, mencari sebuah angkringan, yang kalau tak salah berlokasi di Jl. Pisangan. Ternyata tutup. Mungkin bangkrut.

Kami meluncur lagi, berbalik arah, memotong jalan, menuju daerah Mabad. Menurut temanku itu, ada sebuah angkringan juga di sana. Ia pernah ngopi bersama pacar yang telah berubah mantan, beberapa waktu silam.

Aku setuju. Sekalian mengantarnya ke muara nostalgia. Mengusap-ngusap pudaran memori, dan apa sajalah.
Apapun bisa mengikat kenangan. Entah suara, warna, tempat, juga bau Termasuk angkringan yang kami tuju.
Hmm, pasti temanku ini akan bolak-balik cerita tentang mantannya, melebihi panjang jarak tempuh roda motor atau sekuat dan setabah semburan lumpur Lapindo. Mengingat akhir kisah mereka kurang stabil. Begitu yang ku terima menurut kesaksian beberapa teman dan saksi kunci.

Di atas motor yang kami kangkangi, muter-muter tak ketemu. Angkringan itu tanpa bekas. Tutup pun tidak. Tak ada jejak. Mungkin gulung tikar.

Begitulah, kenangan seorang teman yang gulung tikar.

Selasa, 05 Juni 2012

Nirkomunikasi

Lanjut bahasa apa lagi?
Tiada abjad
kalimat
terentang sepanjang abad
bernyali dikemudi
menego masa lalu
melobi masa depan

Terjebak kekinian
alas paling dasar
segala kesadaran
mewaktu selamanya
tanpa kenal keabadian

Sendiri
dan mati

Mei 2012

Hujan di Sore Hari


Di ujung hari yang mendung
serombongan anak-anak angin yang nakal
mulai berisik
menggelisahkan semedi daun-daun
Biru langit tertutup pelan
katak-katak tersenyum
menanti datangnya hujan

Lendir seharian menyumbat penciuman
mengingatkan aroma
hadirkan masa lalu

Ketika tersentak teriak lembut ibu
membangunkan tidur
Kucing belang menunggu di depan tungku
usai sembahyang
ku nikmati teh hangat
bersamanya dan sepotong roti pagi (ini memang tak biasa di desa-desa, spesial buatku)
Ingus di hidung merekatkan kesan kuatnya nuansa

Kini hadir kembali
Di taburi wangi balsem menghangati dada
Balur minyak kayu putih di kepala
Ah sore yang gerah

April 2012

Jumat, 18 Mei 2012

Aku Hanya (Seperti) Seorang Nabi

-->Kemarin, aku pulang sangat larut. Nyaris pukul 00.00. Jalan Legoso Raya mulai sepi pelintas saat aku meninggalkan sebuah kafe, tempat nongkrong bersama beberapa kawan muda. Hanya sekitar seratus meter, langkahku menyeberangi jalan untuk mencapai sebuah gang ke kamar kostku, 10m dari jalan raya.
Tak seperti kamar kost atau kontrakan umumnya, yang berderet rapat dengan lorong utama menghadapkan pintu dengan pintu lainnya. Kamarku punya halaman. Meski tak seluas halaman rumah di kampung, tapi cukup buat parkir 10—15 motor.
Tepat di belokan mengiri, ada gerbang di sebelah kanan dengan empat buah anak tangga turunan. Begitulah kamarku berada. Malam itu ada dua motor berjajar. Pertanda tamu telah tiba sebelum kedatanganku. Pintu terbuka. Cukup senyum untuk menyapa dua orang teman dan seorang teman se-kost-ku.
Mereka bicara banyak hal. Menyaruk-nyaruk masalah seni dan sastra, diiringi lagu-lagu Led Zeppelin di media player komputer pentium III. Komputer yang tak sesuai zaman sekarang. Tapi slow saja, Led Zepplin masih bisa konser di situ.
Aku yang lelah, berlagak authis, tak terlalu larut menanggapi obrolan mereka. Kecuali menghisap beberapa batang samsu, menyeduh kopi baru, menambahkan tiga buah reggea Bob Marley, lagu-lagu sountrack Into The Wild-nya Eddie Vedder, dan lagu-lagu sountrack The Boat That Rock seperti Elenore, Stay With Me Baby dan lainnya. Lalu aku berbaring di sela-sela serunya obrolan mereka.
Kurang lebih dua jam berebah, sayup-sayup kusimak obrolan mereka. Aku langsung ingat cerita Gus Mus tentang Gus Dur saat keduanya menjalani studi di Mesir. Gus Mus yang selalu belajar dan Gus Dur tidur saja. Tapi apa yang dipelajari Gus Mus, ditangkap lebih dalam oleh Gus Dur yang tidur.
Serunya pembahasan ketiga teman itu layak nyamuk-nyamuk yang terbang hinggap berputar di kaki tanganku telanjang. Membuat aku bangun sekitar pukul 03.00. Setelah cuci muka, aku bergabung. Teman sekamarku minta maaf karena telah membuat tidurku terganggu. “Slow…,” kataku.
Aku menyimak sampai di mana mereka. Masih seputar sastera dan metodelogi ilmu pengetahuan. Begitu kurang lebih yang boleh ku ceritakan padamu. Tapi obrolan mereka sangat liar. Wajar, karena memang tak ada rencana dan alur kesepakatan kemana arah pembicaraan. Sebentar singgah di ranah kecengan, candaan. Singgah lagi di wilayah culture studies, meluncur ke masa klasik Islam saat terbunuhnya para khulafaurasyiddin. Dan pada suatu menit, singgah lagi ke kamar. Menyorot kehidupan asmara seorang dari kami. Di sinilah yang akan ku ceritakan. Karena memang sedikit erat dengan konsep kenabian.
Aku berkontribusi menggunakan analisa dan saran atas dasar zodiak. Aku mencoba memahami bagaimana seorang yang berzodiak sama denganku. Menganalisa kepribadiannya dan memberi solusi atas permasalahan yang terjadi.
Seketika itu, kedua teman yang malam itu berstatus tamu agung, meminta pendapatku menjelaskan bagaimana masing-masing pribadi dengan takdir zodiaknya.
Aku langsung berkilah. Kalau mereka mau tahu, cari saja di internet atau buku-buku mitos tentang karakter zodiak masing-masing. Selama ini, aku hanya mencari tahu, menelusuri, semua hal, baik tentang zodiak atau perhitungan yang berkaitan denganku. Aku hanya seperti seorang nabi, bukan rasul. Di dunia ini ada banyak nabi ketimbang rasul. Nabi hanyalah orang yang mendapat pengetahuan dari tuhan untuk diri sendiri, sementara rasul mendapat pengetahuan dari tuhan untuk dan wajib disebarkan kepada seluruh umat manusia.
Langsung pula, satu di antara kami ingat akan pernyataan Yazid, seorang teman yang tak ada di sini. Pernah Yazid mengatakan, semua pengetahuan yang kita dapat hendaknya hanya untuk diri sendiri, untuk menilai dan mengukur diri sendiri. Bukan sebaliknya untuk mengukur dan menilai orang lain atau masyarakat. Karena kalau demikian, akibatnya kita akan gampang men-judge, mengafirkan, menyalahkan, atau menganggap sesat orang lain.
Demikianlah, aku mendapat, memperoleh, mengunduh, dan menelusuri pengetahuan tentang zodiak, primbon, weton, jumlah tanggal, hari, bulan, dan tahun kelahiran hanya untuk diriku. Menilai dan mengukur diri sendiri. Sehingga jangan tanya bagaimana hubungan zodiakmu dengan zodiak pacarmu, jika tak sama dengan zodiakku. Kalau toh sama, aku hanya akan memaparkan sejauh yang ku tahu tentangku, tentang zodiakku, sejauh berkait dengan pengalamanku. Tidak untuk memaksamu memakai penilaianku atas diriku untuk menilai dirimu. Dan karena itu pula, tak perlu kuceritakan apa yang kutangkap saat tidur atas obrolan ketiga kawanku malam itu.

Pagi yang tak ku harapkan

Bayang-bayang hitam teralis pada lembar kain yang menutup rapat jendala kaca kamarku jelas condong ke barat. Hari selasa masih muda. Mobil dan motor nyaring di telinga. Kamarku berposisi tepat di belokan sebuah gang,10m dari jalan raya.
Sejak memutuskan untuk mengakhiri semua, ini adalah pagi kesekian kalinya yang ku jumpa. Pagi yang dulu teramat sulit aku temui. Apakah berarti semua setan dan iblis telah pergi? Cuma lantaran aku memutuskan tujuan akhir hidupku dengan bunuh diri?
Entahlah. Tujuh tahun lalu, ketika sedang getol-gotolnya mengejar fajar, demi duduk di bangku kuliah tepat waktu, aku kesulitan tidur malam. Seperti ada yang menarik-narik pikiran. Melayang, mengawang, penuh dengan keresahan. Akibatnya mataku tak bisa terpejam hingga lantang suara adzan berdatangan dari segala penjuru. Dan aku kelabakan. Kuliahku berantakan. Terus menerus berulang.
Kalau tidak begitu, kesehatanku rentan terganggu. Entah perut, entah kepala, entah paru-paru, demam berdarah, liver, typus, dan segala macam penyakit menghadang siang. Tubuhku penuh kelemasan. Semua itu memaksaku untuk berikhtiar ketat menjaga pola makan, berjuang keras menghindari hal-hal yang membahayakan kesehatan. Caranya macam-macam. Sesempatnya aku joging, olahraga, minum vitamin, pakai lotion anti nyamuk DBD, banyak minum air putih, memaskeri hidung dari asap-asap komplek kehidupan, dan sebagainya.
Ah, tapi musibah datang dari mana saja. Selalu ku syukuri masa sembuh dari penyakit yang beberapa kali nyaris membunuhku. Hingga saat ini, ku sesali semua usaha penyembuhan itu. Menyesal karena tak memanfaatkan penyakit-penyakit ganas menjemput ajalku. Dengan begitu aku bisa mati normal, bukan bunuh diri.
Sekarang, aku tak tahu kemana perginya semua penyakit yang mengelukan itu. Setelah banyak cita dan harapan ku tanggalkan, mengabaikan segala prosedur hidup sehat, berharap sekarat datang, tapi malah sebaliknya yang ku dapat. Aku baik-baik saja. Tak ada lemas, tak ada nyeri di perut, kepala, dada, dan seluruh anggota badan. Kepala yang selalu berkeringat pertanda gejala sakit jantung, kini kerontang. Racun yang ku minum dan ku makan berubah kecing dan berak belaka. Di mana perahu-perahu yang bisa mengantarku ke pulau baka itu?
Malah pagi yang ku jumpa. Pagi yang bising. Klakson di jalan memekikkan kebenaran masing-masing. Mereka bilang pergi karena uang, pulang karena cinta. Ah bullshit…!!! Kalau ku tanya, untuk apa mereka bergelut dan memutari semua? Untuk apa mereka hidup dan memabrikkan manusia? Tak ada jawabannya.
Lalu mereka balik tanya, mengapa aku tak ingin hidup? Membuang asa? Mengharap-harap alam baka segera menyapa? Jawabku, mengapa tidak? Dan mereka pun menilai dan memandangku sebagai penyakit. Padahal mata mereka sakit. Hidup untuk pengulangan, sok tahu perihal kematian.
Atau aku yang memang tak tahu apa itu tujuan? Mungkin tak tahu bagaimana cara berjalan? Kaki-kaki jiwaku lumpuh, sebab tiada dataran keras pijakan. Hanya orang tolol yang mau menolongku. Mengangkatku dari lumpur dengan resiko tenggelam bersama.
Kalau sekadar kata-kata mutiara, seperti super mario bross itu aku pun punya. Tak ingatkah kau, berapa orang yang meminta saranku, dan mereka menjalankannya, mengamininya, dan hidup lebih berharga, setidakknya menurut masyarakat yang gila dan kaku. Yang dengan struktur, aturan, dan kotak-kotaknya melelehkan Sang Aku. Fuck, soceity, crazy ending.
Apa? Kau  mau tanya, kenapa aku tidak menjalankan kata-kataku? Lihat, kakiku! Kaki jiwaku! Mana?! Dan kau hanya mengumpatku. Apa yang bisa kau tawarkan agar aku tetap memilih hidup dan membuang jauh-jauh asa akan kematian? Kau ingin menjadikanku tuan? Atau menawariku jadi budakmu? Jadi kawanmu? Itu saja? Aah, aku juga punya. Aku punya tuan, aku juga punya budak. Kawan? Apalagi..
Nah, sekarang kau mencoba membohongiku. Kau bilang, aku, kau, dan mereka, kita semua pernah punya perjanjian dengan tuhan untuk tunduk dan menjadikan ia sebagai tujuan? Perjanjian yang mana? Kapan? Aku benar-benar tak ingat. Sama-sekali. Aku yakin kau juga. Cuma karena ketakutan pada bayangan neraka dan mengharap bayangan surga itu kau paksa akal dan hatimu untuk percaya. Ah, seperti anak kecil saja kau, mengharap hadiah dan takut siksa.
Eh, tapi sebentar. Perjanjian itu adalah hukum. Ada aturannya. Aku benar-benar tak ingat kapan, dimana, bagaimana kondisinya, siapa saksinya, dan segala macam yang terkait dengan perjanjian itu. Apakah aku berdosa dan bodoh? Aku benar-benar tak ingat. Lalu tiba-tiba saja kau menyodorkan sebuah kisah, yang asing bagiku. Mana tanda tanganku di situ? Mana bukti kesepakatan antara aku dan tuhan?
Oke, kalau memang hidup ini tujuannya untuk tuhan, mengapa aku tak boleh segara mengakhiri kefanaan ini? Hidup kan fana? Dan hidup itu bukan tuhan? Iya toh? Kalau hidup itu bagian dari tuhan, maka orang-orang yang mengakhiri hidupnya itu berarti mengakhiri tuhan? Bukan?
Aku tahu, kau sedang ketakutan. Takut siksa neraka. Dan benakmu, memohon ampun tuhan berulang-ulang. Hanya lantaran membaca tulisan ini sampai di sini. Baiklah aku maafkan. Nah, mau lanjut?
Sudahlah, banyak cara menggapai kebenaran. Ada yang berjalan, berlari, atau melompat. Biarkan aku melompat. Kalau tak sampai ya nggak apa-apa. Toh, di manapun aku berada nggak akan lepas dari tuhan. Begitu kan keyakinanmu?
Oke, kembali ke kamarku. Kenapa aku malah sering bangun bagi akhir-akhir ini? Di kala fajar tak lagi menarik minatku. Di kala mataku begadang sampai tarkhim berteriakan. Di kala badan ku buat capai tak ketulungan, kenapa tetap saja di pagi harinya aku bangun? Kenapa nggak tidur selamanya?
Tapi ya sudahlah. Jalani saja. Nanti juga tiba saatnya minum baygon. Dan beberapa kali ku baca di beberapa media, itu berhasil. Oke bradah… sampai jumpa, entah di mana… bye…

Minggu, 22 April 2012

Kabut

Slide 5
Kabut aku merindumu
di tangan terik terang
penuh polusi
tak sedikitpun kau datang
Hanya rintik-rintik hujan
malas dan terpaksa
mengabarkan kesan kelabu

Kabut masihkah kau di kampung
atau enggan turun gunung
bersembunyi di balik rimbun pepohonan
yang basah karena embun
mendinginkan gelora magma bumi
Terang pendar-pendar cahaya
tak nyata tanpamu
gelap gulita
sepah di lidah sepi
Ciputat, Januari 2012

Kamis, 19 April 2012

Alamat

Harus berkabar

jengahku tanpa sketsa

Di mana menemukanmu bila tak tahu tepatnya aku

Umpama rindu membalas suratmu

alamat siapa yang kan kau pinjam

sedang trotoar telah dikuasai pedagang

juga kebisingan

dan persinggahan dibeli coret-coret liar

membawa pesan dari masa silam, buram