Home

Sabtu, 25 Februari 2012

Tanpa Keyakinan

Aku berjalan di tengah kobaran detak-detak jantung

dan perasaan menyambar-nyambar

liar

Sedang tapak-tapak kaki menurut pada lintasan

penuh duri berkata-kata

kebisuan yang menggema dari relung palung tanpa dasar

Hanya hitam

pekat dan hampa

Sekadar keyakinan dibutuhkan untuk mencapai ketenangan

Bukan apa yang akan dan telah terjadi

Tetapi apa yang kau percayai

Senin, 20 Februari 2012

Childish

Aku tahu
Aku orang perasa
Sangat perasa
Tapi tak ada yang mengingatkanku akan bahayanya menjadi perasa
Aku tahu itu sejak lama
Aku tahu
Aku childish
Tak ada yang mengingatkanku akan bahayanya childish
Aku baru sadar pagi ini, saat bangun antara pukul 05.28-05.31
Itu juga karena mimpi
Mimpi dengan sebuah tongkrongan mahasiswa-mahasiswi muda
Yang dilewati seorang kecil anak perempuan lucu
Salah-satu dari penongkorong cewek itu tak suka meladeni anak kecil
Tapi yang lain suka
Karena anak kecil itu lucu dan menggemaskan
Begitupun aku
Mungkin
Tak ada orang yang mengingatkanku bahayanya childish
Karena aku lucu, menggemaskan, dan menyegarkan suasana

Sabtu, 18 Februari 2012

lost

i look lost
i feel lost
i dont know
i need snow
show me the how

Minggu, 12 Februari 2012

Terhipnotis via Hp


“Bapak lagi di kantor polisi. Tolong isiin pulsa ke nomor ini sekarang. Penting!”
“Ma, kirimin pulsa Rp.20.000 saja.”
“Transfer ke nomor rekening Bank … 12345 a/n Xxxxx. Kalau udah ditransfer tolong sms ya.”
“Anda memenangkan undian …. dll.”

Begitulah sms-sms penipuan yang sering masuk meneror Hp kita. Sms macam itu tak akan berpengaruh jika tak kita tanggapi serius. Namun ada modus lain yang biasa dipakai penipu untuk memperdaya korbannya, sebagaimana kisah di bawah ini.
Sore itu seorang pemuda, sebut saja Wilser, tampak lesu duduk di kantin. Sebatang kretek menyala di sela-sela jarinya, melengkapi segelas cappucino beserta senyum yang tampak dipaksakan. Sesekali dadanya mengembang, menghela napas dalam. Asap rokok menyembur dari mulut dan hidungnya, seakan menghalau kesal yang terus menghantui pandang pikiran.
Ia berusaha menyembunyikan sesal, kesal, dan marah di hati. Ia mencoba tegar dan tampil menyenangkan di hadapan teman-teman. Namun setelah satu-dua obrolan tercipta berujung mati gaya, akibat mood dan pikiran yang kurang stabil, Wilser pun menceritakan kisah kelu yang menimpanya.
Pagi itu, sekitar pukul 10.00, saat sedang menikmati kopi dan mendengarkan lagu kesukaannya, Wilser dikejutkan sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. “Pagi tadi, tiba-tiba ada telpon. Pas gue angkat, ada suara lelaki yang tergesa seperti kebingungan. Orang itu minta tolong. Katanya lagi kena tilang dan berada di kantor polisi. Ketika gue tanya, ‘ini siapa?’ orang itu menjawab dengan suara terburu-buru, dilanjutkan dengan kalimat, ‘yaelah masa lo lupa sih suara gua?’ dengan nada kebingungan,” tutur Wilser.
Kemudian, Wilser langsung menebak nama seorang teman, Fikri. Mengingat suara orang itu mirip dengan suara dan logat Fikri, dan orang itu mengiyakan. Selanjutnya, orang itu (Fikri) menegaskan bahwa ia sedang kena tilang, sementara STNK, SIM, dan surat keterangan lainnya tak dibawa. “Dia minta gue ngaku jadi saudaranya dan mengatakan kalau STNK, SIM, dsb ada dan ketinggalan di tempat gue,” kata Wilser
Karena terdorong rasa simpati dan pertemanan, Wilser mau membantu. Terlebih dulu ia nasehati Fikri untuk berunding dan memelas beralasan ke polisi sebisa mungkin. Tapi suara Fikri terdengar amat kalut dan menyuruh Wilser untuk ngomong ke polisi. Fikri juga bilang, sudah membayar biaya tilang Rp. 50ribu. Sedangkan polisi tetap meminta Rp.150.000.
Akhirnya Fikri memberikan telpon pada suara lain yang mengaku sebagai polisi. Kepada Wilser, polisi itu menjelaskan dengan lancar tentang prosedur hukum dan segala macam urusan tilang menilang. Ia tetap tak bisa membebaskan temannya.
Wilser pun kembali bicara dengan Fikri. Dengan segala kemelasan dan kebingungan Fikri meminta agar Wilser mau menolongnya membayar sisa kurang uang tilang terlebih dulu dengan cara membujuk polisi untuk mau menerima pembayaran lewat transfer pulsa.
Wilser mulai merasa aneh. Mana ada bayar tilang pakai pulsa. Namun Fikri terus memelas dan berjanji akan segera ke kamar kostnya melunasi semuanya. Segala macam saran Wilser dimentahkan oleh kondisi dan perkataan Fikri. Wilser pun luluh. Kebetulan ia sedang memegang uang Rp.100ribu.
Ia berjalan menuju counter pulsa. Polisi itu mencatatkan nomor ponselnya. Fikri dan polisi itu juga berpesan dengan nada yang berbeda agar telpon jangan dimatikan. Sebab, kata mereka, telpon ini disadap. Ini sungguh tidak masuk akal. Wilserpun aneh dengan hal itu. Tapi hal itu tak mencegah Wilser untuk berbuat baik pada temannya.
Setelah pulsa terkirim, Wilser kembali mengangkat telponnya. Baru ia sadar, kode area telpon yang digunakan Fikri bukan kode area Jabotabek. Sedangkan ia bilang, ada di kantor polisi di Cikupa. Tapi tetap saja, Wilser tak diberi kesempatan untuk mengatakan kejanggalan itu. Wilser pun menganggap semua beres.
Namun Fikri urung juga dibebaskan. Ia bilang, sedang menunggu tanda tangan komandan, yang saat itu masih berada di jalan. Sembari menunggu, Fikri minta tolong dibelikan pulsa esia sebesar Rp.200ribu. Menurut penuturannya, pulsa itu untuk teman-teman polisi yang sedang berada di lapangan. Hal ini dipertegas oleh permintaan orang yang mengaku sebagai polisi tadi. Uangnya akan diganti dan sudah dititipkan pada Fikri senilai RP.250ribu, dengan kelebihannya sebagai ucapan terimakasih.
Kali ini Wilser tak menyanggupi. Ia sama sekali tak memegang uang lagi. Sang polisi dan Fikri mencoba terus meyakinkan Wilser. Bahkan Fikri meminta Wilser untuk menggadaikan ponselnya atau mengisikan pulsa dan menunggu kedatangannya di counter pulsa, tempat Wilser berada.
“Saya sempat marah dan menolak permintaan yang kedua itu. Karena itu bukan urusan Fikri lagi. Bodoh sekali kalau Fikri masih mau menuruti permintaan polisi yang satu ini. Semua biayanya sudah terbayar lunas. Kenapa ia mau menyusahkan temannya untuk menunggunya di counter pulsa. Apalagi pertimbangan jarak antara Cikupa dan Ciputat kan lumayan jauh. Dan kalau harus gadai Hp, tak mungkin laku lebih dari Rp.50.000. Sebab Hp gua esia Huawei dan sudah sangat jelek,” jelas Wilser.
Fikri masih memaksa Wilser dengan segala cara. Tapi batas kasihan Wilser cuma sampai di situ. “Gue bilang ke dia, lo bego banget sih mau disuruh mengerjakan sesuatu yang bukan lagi urusan lo. Masalah lo kan sudah beres. Dan lo tahu gue, kalau gue bilang nggak ada, ya nggak ada,” cerita Wilser mulai kesal.
Polisi dan Fikri kembali meyakinkan dengan iming-iming uang imbalan. Tapi Wilser tetap mengatakan tidak. “Nggak! Sekali gue bilang nggak, ya nggak. Lo bilang aja lah sama polisinya, pak saudara saya nggak bisa beliin pulsa lagi. Ia lagi ada kerjaan. Lagi nggak megang uang.”
Terdengar percakapan Fikri menguratarakan kondisi Wilser pada polisi. Cara pengutaraannya seperti orang culun. Wilser menasehati dan menuntun temannya agar mengatakan dengan sopan, santun, dan tepat. “Akhirnya, orang itu bilang, ‘ya udah kata polisinya kalau nggak ada, nggak apa-apa.’”
Sampai di situ Wilser merasa lega. Ia telah membantu temannya lepas dari masalah untuk sementara, sebelum akhirnya harus mengembalikan hutang padanya beserta uang terimakasih yang dijanjikan. “Tapi sebelum menutup telpon, si Fikri bilang, ‘beneran nih, nggak mau diambil kelebihannya?’ Gue jawab, nggak! Lalu beberapa detik kemudian telpon diputus,” jelas Wilser berkisah.
Wilser pun kembali menjalani aktivitasnya. Mandi dan bersiap-siap ke kampus.. Tiba-tiba Wilser menyadari ia merasa linglung. Berkali-kali lupa menaruh barang. “Biasanya gue sering lupa naruh barang itu ketika gue lagi mikirin sesuatu dengan keras. Tapi kali itu gue bingung, lagi mikirin apa gue kok sampai lupa-lupa melulu. Perasaan nggak ada yang menjadi beban pikiran gue,” paparnya.
Di jalan, selintas Wilser merasa lapar, tapi tak memengang uang sama sekali. Terpikir olehnya kedatangan Fikri membayar uangnya. Namun temannya itu belum tahu kamar kostnya yang baru. Karenanya Wilser berniat memberitahu kepada Fikri untuk ketemu di kampus.
Tiba di kampus, Wilser langsung mengurus keperluannya. Sementara ia menunggu seorang kepala lembaga yang ingin ditemuinya, ia mencoba menghubungi Fikri melalui nomor yang tadi. Tapi berkali-kali nomor itu sedang sibuk atau tak dapat dihubungi. Wilser pun mengirim sms ke nomor Fikri yang tersimpan di phonebooknya, dan mendapat balasan, ‘tlp’. Semakin yakinlah Wilser bahwa pulsa Fikri habis karena meminta tolong dan mengurus segala masalahnya tadi.
Nada sambung biasa bersahut suara Fikri. “Halo, Fik. Ketemu di kampus aja,” kata Wilser. Fikri kebingungan. “Ketemu di kampus? Ada apa emang?”
“Lah, katanya tadi lo bilang mau ke sini?” tanya Wilser. “Siapa yang bilang mau ke kampus?” jawab Fikri heran. Wilser pun menjelaskan segala kronologi yang terjadi dan Fikri tidak tahu menahu karena ia sejak pagi berada di rumah.
Wilser langsung lunglai dalam duduknya. Ia baru sadar telah tertipu oleh orang tak dikenal. Tatap matanya mendadak kosong. Sesekali ia menggigit bibirnya, mencoba tegar dan tetap tenang. Ia melangkah menuju keramaian kantin. Kemudian menjalani berbagai aktivitas dan segala urusannya hari itu. Tetap saja, kalut menggelayuti tiap-tiap jengkal tindakan. Ia masih sering lupa. Tapi ia berusaha menyimpan cerita naasnya itu dalam hati hingga ia kembali ke kamar kostnya, pukul 21.00.
Tangannya merogoh kantong celana. Ia terkejut pintu kuncinya tak ada di situ. Lalu tangannya menggapai-gapi atas pintu. Ia kembali heran, “perasaan kunci gue bawa deh. Kok sekarang ada di sini?”
Malam itu Wilser tak dapat tidur. Ia tetap linglung. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Entah apa itu. Dan ia baru sadar, penipuan yang menimpa dirinya tadi pagi bukanlah penipuan biasa. Melainkan dilakukan dengan teknik hipnotis. “Sialan! Gila! Masa gue bisa kena hipnotis?” gerutu dan sesal Wilser.
Ia lalu berusaha mengingat kejadian saat pertama ia menerima telpon dari penipu itu. Susah sekali ia lakukan. Ia benar-benar lupa, sedang apa ia saat itu. Saat itu ia memang sedang memutar lagu di Windows Media Player. Tapi lagu apa, ia lupa. Apakah saat itu ia sedang membuka twitter dan facebook, atau sedang santai, baca buku, tidur-tiduran. Lalu ada telpon dengan nomor tak dikenal.
Demikian kejadian yang menimpa Wilser. Semoga kita waspada dengan berbagai macam jenis penipuan dengan cara dan modus apa saja. Metode hipnotis sering digunakan para penipu untuk memperdaya korbannya. Hipnotis itu ilmiah. Ia memakai logika. Karenanya banyak mahasiswa yang menjadi korban. Sebab mahasiswa adalah orang yang sering menggunakan logika.
Perbedaan hipnotis dengan ilmu mistis, semacam sihir dan sebagainya, terletak pada kesadaran logisnya. Orang yang terkena hipnotis biasanya memiliki alasan. Ia sadar ada sesuatu yang tak beres dengan yang dialaminya, namun ia tak dapat menolaknya. Sebagaimana yang dialami oleh Wilser. Ia melakukan itu karena terdorong rasa pertemanan dan simpat terhadap Fikri. Berbeda dengan orang yang terkena sihir, ilmu mistis dan sebagainya, biasanya menjalankan sesuatu tanpa alasan, tanpa ada proses berpikir dan benar-benar diluar ingatan. Sekian, semoga kita waspada.[]
Sumber gambar: http://www.iswandibanna.com

Rabu, 08 Februari 2012

Bunuh Diri

seringkali kala frustasi
saat semua sia-sia
saat berat kakiku ke depan

aku ingin bunuh diri
biar kaku mati kini
dan lahirlah diriku yang baru

atau terpikir untuk menonaktifkan facebook
agar pikirku tenang
dalam sepi
tanpa kawan nyata di dunia indrawi
tapi ku sadar mestinya
diriku yang dinonaktifkan
sementara atau selamanya

kekacauanku karena
pendidikan mental dan ragawi
yang kurang sempurna dari orangtua
tapi itu kelemahan
dan kekurangannya
aku tak berhak menyalahkan
tak semestinya ku menuliskan
selain sia-sia
hanya itu dari sang pencipta
yang diberikan
untuk membentukku

menyalahkannya hanya akan
membuat ayah dan bunda terluka
terimalah air mata ananda yang tak mampu mengelola bekal-bekal
dari masa cikal bakal

dan kini aku tak tahu harus apa
selain menunggu tenangnya kematian
indahnya kelulusan
berusaha bertahan

thankyou