Home

Senin, 08 Desember 2014

Ke Tempat Itu Aku akan Kembali. Di Sini Kau Menciumku


Sesungguhnya aku sudah gumoh. Namun seperti film-film bersekuel yang baik, tempat itu masih saja meninggalkan penasaran. Ini yang memaksaku berjanji bahwa suatu saat nanti kita akan kembali menginjaknya.


Terakhir kali aku pergi bersama dengan seseorang. Tujuanku hanyalah menunaikan janji kekurang puasan menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang kujumpa pertama kali dalam rekreasi beberapa tahun silam. 

Ruang dan waktu yang berada di bawah kekuasaan Tuhan tiba saatnya mengizinkan. Tak banyak perubahan yang kujumpa pada tempat itu. Aku hanya mengubah rundown kegiatan yang kita gelar berdua. Tiba malam hari, istirahat di gubuk dan melanjutkan perjalanan menuju puncak acara keesokannya. 

Pada kunjungan pertamaku dulu, aku datang langsung menuju puncak, turun jelang petang, dan pulang ke Jakarta saat malam mulai matang.


Sekarang, ya saat ini, marilah kita berada di ruangan itu. Gubuk itu. 

Di sebuah bilik panggung setingi setengah meter, dengan dinding geribik anyaman bambu bercat coklat.

Sekarang, ya saat ini, jadilah dia. Berperanlah. Ada yang ingin aku sampaikan bahwa,

Di sinilah kau menciumku.”
“Harus mati dulu agar bisa melupakannya. Mungkin mati pun tak bisa lupa.”
“Mungkin aku akan jadi lelaki di “Pohon Gantung”. Masih menunggu jawaban.” *


Lalu kau berjalan ke arahku dan menempelkan bibirmu ke bibirku. Kita merasakan panas, debu, dan derita. Rasa yang mengejutkan untuk ciuman yang begitu lembut.
Dan aku yang lebih dulu menjauh sembari melempar senyum getir.

“Aku tahu kau akan menciumku.” *

Aku yakin kau tak tahu dan tak pernah tahu ini.
Kenapa aku bisa tahu? 

“Karena aku sedang menderita.”
“Itu satu-satunya cara agar aku mendapat perhatianmu.”
“Jangan kuatir. Semua akan berlalu.” *

Dan kutinggalkan kau pergi berlalu tanpa sempat mengucap sepatah kata pun balas jawaban.

Tiba masanya nanti, aku ingin kembali ke sana. Ke tempat itu. Takkan kuijinkan kau mencium bibirku terlebih dahulu. Tak pula akan kumemulainya. Hanya keningmu sebagai tanda sayang hormatku. Biarkan segalanya berjalan apa adanya. Aku tak ingin diantara kita terbeban luka. Karena aku telah menyadari kelemahan, menjadi tiada akibat gigitan taringmu. 

Bila itu harus terjadi, kuingin tak satu pun aku atau kamu yang memulai. Aku berharap bisa ikhlas mati sehingga gerbang maut adalah pintu untuk kelahiran kembali.


*Gale, Hunger Games “MOCKINGJAY

Sabtu, 29 November 2014

Berlebihan

Kejahatan pun perlu jika sekadarnya
tanpa kejahatan, kebaikan tak sempurna
Cinta benci
persahabatan permusuhan
jalinan kasih sayang
lingkaran angkara dendam
normal
Namun bila sudah berlebihan
semua jadi bencana
Cinta hanyalah siksa
apalagi benci
kasih sayang bentuk lain kekang pasungan
persahabatan tinggal istilah untuk ekslusifitas terhadap liyan
melokalisasi kroni menciptakan lawan di luar kalangan

tersakiti

Kamu mulai tersakiti, ketika mulai terlalu
perhatian, mulai terlalu sayang, mulai
melakukan segalanya berlebihan.


Tweet from Aiko (@Heloaiko) at 4:56 AM on Fri, May 09, 2014:

Selasa, 25 November 2014

Senin, 17 November 2014

Malam Kosong

Kosong








Kamar Perjuangan, Kramat, 18 November 2014

Kissing

jangan pernah ada subjek dan objek. Jangan salah satu yang memulai. Harus dilakukan bersama. Kesadaran berdua menyatu. Walau sedetik, jangan ada satu mengada satu tiada. Jangan ada.
Sadar. Ada. Menyatu. Lalu Bersama dalam Ketiadaan. Bahagia

Minggu, 09 November 2014

Menatapmu


seperti sebelum-sebelumnya ketika kita sedang berdua, 
aku suka menatapmu. 
Ini kebiasaan aneh, aku tahu. 
Tapi aku begitu mengagumimu. 
Aku merasakan bahagia bersamamu. 
Aku ingin menyimpan gambarmu banyak-banyak dalam benak. 
Biasanya, 
kamu segera membalas tatapanku dengan tatapanmu yang sayu, lalu tertunduk. 
Entah malu atau ragu, 
yang pasti kau ingin mengatakan, 
“sudah, cukup. Jangan menatapku seperti itu.”

Aku Tak Punya Apa-apa*

Aku tak punya apa-apa untuk keberikan padamu sebagai kenang-kenangan.
Aku ingin kau mengingatku
karena setelah ini
semua tak lagi sama, tak mungkin semula
Simpanlah momentum perjalanan melangkahi 11-12
Oktober yang kental trauma
melintas Cipularang
terlarang
menumpang kendaraan yang entah
kapan kau jamah

Sandarkan kepalamu di bahuku
Genggam tanganku
remas erat cemariku
dan sirnalah ketakutan

Aku tak punya kata-kata untuk melukiskan kebersamaan
kita
memetik strawberi merah semerkah bibirmu
atau pendakian dengan ontang-anting gila
menggapai kawah yang tak seputih kulitmu.

Jika kau sedang sendiri
takut dan sepi
Aku tak punya apa-apa
berharap kau mengingatku


Legoso, Kosan Transisi, 8 November 2014

*Untuk gadis bibir strawberi

Kejujuran

Kejujuran itu hanya untuk disanjung dan diagungkan
bukan dipraktikan melalui tindakan ataupun kata-kata
jangan disampaikan pada siapa pun manusia

Tiada seorang sanggup menerima
kecuali diri sendiri

Jika kau laki-laki, ingat dan rasakan
tak akan pernah bisa mendapat wanita yang kau idam
tatkala mengejarnya dan mencintai dengan kejujuran
Jika kau perempuan
betapa mudahnya dipermainkan
Jika kau seorang pemimpin
betapa gampang digulingkan
atau lemah tanpa kuasa

Kejujuran adalah harta yang mesti selalu kau simpan
ditutupi dan dibungkus rapih
dengan kebohongan dan kepura-puraan
Itulah yang akan selalu membuatnya indah
dan berharga
Karena sekali terbuka
kejujuran tiada lagi bermakna.

Sabtu, 08 November 2014

Sakit

Kau bisa saja menyakiti seseorang bukan atas dasar kejahatan. Karena dalam sebuah pilihan dengan opsi "Tepat" atau "Keliru" tak mengenal konsep "Baik" dan "Jahat", juga "Benar" atau "Salah"

Kul

Katakanlah, tak ada yang aku takuti di dunia ini
Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan padaku
Aku tidak mau menanggapi semua tawa dan cibiran serta cemooh yang kau arahkan padaku
Bagimu jalan hidupmu
Bagiku jalan hidupku

Jumat, 07 November 2014

Selamat Ulang Tahun Ragaku

Dini hari 7 November 2014
00.59 terus berjalan
Aku menanti keistimewaan di hari jadi.
Selamat ulangtahun, ragaku.
Semoga kita tetap kuat bersama melaksanakan tugas kehidupan
Semoga Allah yang maha kuasa memberi petunjuk dan pertolongan di tengah gelapnya langkah menggapai impian yang entah.
Tak ada cara lain kecuali tetap berjalan menapaki waktu yang dikuasai tawa ejekan
yang keluar atas dasar kelemahan diri
Makin kokohlah kaki, kuatlah mendaki.
Walau air mata terkucur lalu terkubur

Catatan penutup malam

Berlalu sudah badai yang mendera
jiwa
Sisa puing-puing berserak
di malam yang menua
Lantunan instrumental
memuluskan laju waktu
Mengalir halus dan syahdu
Menegaskan pagi
adalah waktu berbenah diri
membangun kembali kemenangan
dari kegagalan-kegagalan jahil
yang datang berulang
secepat kilat menghantam
tanpa kesempatan menyusun pertahanan
Kini, tak ada lagi niat
yang dapat digenggam erat
selain lagi dan lagi
menegakkan harapan
menyusun menara
tangga menuju surga bahagia.
Kilau fajar telah menapaki ujung hati
Selamat malam
dan pagi menantimu berbagi.


Kosan Transisi, 4 November 2014

Rabu, 05 November 2014

Badai

Di dalam dadaku gemuruh badai
Bermula gerimis di waktu petang
Dalam benakku mengamuk topan
Mengamuk menyapu membabi buta mendesak-desak semua celah badan yang kusumbat dengan diam.
Entah sampai kapan ku kuat menahan
Sedang di tenggorokan berulang-menyembur lenguhan
Hidung kembang kepis ditiup napas dari paru-paru
Keras memompa selaju ritme detak jatung yang kian cepat
Bola mata menyorotkan pandang buram. Blur tiada fokus. Terpaku di titik kekosongan. Hampa.
Telingaku melewatkan semua panggilan. Hanya suaranya yang terngiang.
 Cemariku kelu menahan hasrat untuk menekan tombol-tombol abjad, meraih sebatang pena lalu menggoreskan tinta pada selembar kertas dan setiap dinding
yang dingin.
Batin pun menyalak marah. Merah.
 Untuk siapa semua ini? Tidakkah kalian bisa tenang diam di dalam saja?
Badai pun membekukan luka

Senin, 03 November 2014

Umpatan

Kepada siapa umpatan ditujukan?
Tentu pada setiap telinga yang mendengar
atau pada mata yang membaca

tak peduli mulut dan cemari menunjuk-nunjuk seisi dunia
atau pada diri sendiri

Saat terlontar, Sang Pengucap telah wafat
umpatan terjun bebas
menimpa keping-keping hati seluruh penduduk jagad

Kosan Transisi, 3 November 2014


Masih Gelap

Bismillah aku menyerah
Dengan raga bercucur keringat basah
Tersudut pada dinding takdir
lunglai lemas tiada berdaya
Aku pasrah
Saat menembus batas
terperangkap gelap pekat
tiada arah dan tujuan
tiada mimpi dan harapan
tiada pula teman sejalan
bahu sandaran tatkala lelah
gundah gelisah
Dan gelap masih saja pekat
tak boleh jengah melangkah
menuju pelita
kebebasan merdeka

Kosan Transisi, 3 November 2014

Sabtu, 01 November 2014

Upaya


Tak ada di mana-mana
Berhentilah berlari
sebelum hujan memudar

Bukan pada sepegal langkah kaki
Sejati yang kau miliki tanpa peduli

Kasih yang hanya ada
menyayangi
mencintai
mencumbui
penuh gelora kisah tanpa batas

dalam dirimu

Kembalilah saja


Pondok Indah, 1 November 2014

Rabu, 22 Oktober 2014

Kamu

Bibirmu
Kulitmu
Rambutmu
Suaramu
Manjamu
Pelukmu
Genggammu
Cengkramanmu
Ketakutanmu
Tegakmu
Tamparanmu
Congkakmu
Air mata
Mata air
kebahagiaan

Kau

Kau bukanlah kau
karena rasaku telah sejati
murni
Yang ada bersarang di hati
tertanam di jiwa
bersemi tumbuh mengembang di benakku
adalah kau yang kucintai
bukan kau yang kutemui
yang bekas bibirku transparan di pipi


Selasa, 21 Oktober 2014

Merah Strawberi

putih susu kulitmu
merah strawberi bibirmu
kau langit dan bumi
berlapis aneka
menumbuhkan pepohonan dan bunga
bintang-bintang dan mega
awan putih dan gelap
hujan angin gelora
badai hasrat
dan kilat petir kebalau membentang
sepanjang usia

Layak kebenaran sejati
butuh menempuh maqam-maqam
untuk tiba di puncak kemakrifatan
manunggaling sira ingsun

Saat tiba di altar hakikatmu
aku lebur tiada
kesunyataan nyata

Di sini kukabarkan yang tak terkata, terbaca
edelweis yang bukan e-d-e-l-w-e-i-s

Syukur terhatur
pada anugrah kuberebah
di ladang rasa benak jiwa
kita atau
kau atau
aku atau
dia atau
Sang Sejati
mengimplan satu ide sederhana
terus mengembang di ruang hampa.

kusimpan sebagai bara
menyala dalam dada

takkan salah kegelapan
tak juga keliru kesesatan
karena pelita telah kugengam.

Bibirmu dan bibirku bertemu
sekali untuk selamanya
menyala.

Ruang Asap, KPU, 21 Oktober 2014

Minggu, 31 Agustus 2014

D dalam BBM Semalam.

BBM semalam pesan spontan. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikiran dan ingin aku sampaikan seketika kepadamu via BBM. Ketika mengetiknya, aku juga diusik oleh rasa cemburu. Sebuah rasa yang keliru. Tidak tepat, karena kau sudah lama bukan milikku.

Lebih kurangnya empat setengah tahun kau menyudahi hubungan kita dengan cara yang rumit. Aku membalasnya dengan kesal dan kejam. Bayangkan sendiri seperti apa kekesalan dan kekejaman atas cara rumitmu memutuskanku. Biarlah. Biar sama-sama sakit. Inilah kalimat yang menjadi saran dari seorang teman ketika mendengar kisahku.

Tapi malam tadi, aku mendadak khawatir, jangan-jangan saat ini kau dekat dengan temanku yang memberi saran itu. Ini bukan tanpa alasan. Kesibukanmu sebagai penjual dan penyuplai alat-alat out door itu aku tahu berkaitan dengan orang-orang yang kerap nongkrong dengan temanku tadi. Apalagi, teman itu juga berzodiak sama denganku. Scorpio. Sementara kau Cancer. Aku tahu, kedua bintang ini sangat cocok menali jalinan, entah dalam kadar seksualitas atau yang lebih dalam. Kemudian, menimbang tabiat, sifat dan tempat atau lokasi aktivitas antara kau dan temanku, aku jadi takut kalian saling akrab dan, ah tidak. Aku berat mengatakannya.

Sekarang sudah sore. Matahari tak lagi garang panasnya. Belum satu pun bunyi pesan BBM kudengar di telinga. Aku juga enggan menengok ponselku, sekadar memastikan status pesan BBM-ku sudah R atau masih D. Aku berusaha tak peduli. Itulah yang semestinya aku sikapkan. Untuk apa aku peduli? Kau pun akan lebih senang aku cuek. Perhatianku terhadapmu malah bikin risih.

Aku ingin menunggu ada pesan lain yang masuk. Sehingga niatku membuka password ponselku bukan langsung untuk mengetahui R atau D.

Sudah pukul 15.30, tak ada juga pesan masuk. Alhamdulillah masih D. Mungkin kau sengaja tak membukanya, karena kalimatku hanya satu baris. Tak perlu diklik juga sudah terbaca. “Chol, kamu sudah tidak (kerja) di Kuin ya?”

Kosan Transisi, 31 Agustus 2014, 15.31

Senin, 25 Agustus 2014

Lilin

Yang membekas dari lilin bukanlah lelehnya, 
pijar pelita menentramkan hati dalam pekat relung jiwa.

Jakarta, 25 Agustus 2014

Minggu, 20 Juli 2014

Tetaplah Berjalan

Kaki menghentak debu berhambur
Tebing mengancam di kejauhan angan
tanda jurang masih jauh
Menempuh tetap di bekapan hitam
Tepi cahaya tempat berlabuh
Sibaklah awan
tampiklah gelap
Ambil bintangmu di langit tinggi
Pelita yang mungkin takkan kau genggam
tapi hadirnya adalah harapan

Legoso, 20 Juli 2014

Kamis, 29 Mei 2014

Ternyata Tinggi Badan Bisa Menyusut


Kelas I Sekolah Dasar. Di dalam kelas, entah sedang menjelaskan mata pelajaran apa, aku lupa. Itu terjadi sekitar 23 tahun silam. Guruku mengatakan bahwa kami, para murid, harus sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Hal itu agar di kelas dapat belajar dengan sehat dan bersemangat. Selain itu makanan juga harus bergizi. Empat sehat lima sempurna. Ini mengingat kami adalah anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Sehingga kebutuhan jasmani kita terpenuhi. Jangan lupa pula untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalsium. Nanti, di atas usia 21, tinggi seseorang akan berhenti. Tidak akan bertambah atau berkurang, kecuali gemuk atau kurus.


Aku percaya penjelasan itu. Tapi aku tak mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Makanku apa adanya. Bahkan aku ketika menginjak masa kelas IV sudah hobi puasa. Tambah lagi saat masuk SMA, aku tinggal di pesantren paman. Tirakat adalah hobiku. Aku merasa menjadi lebih dari orang lain saat sanggup melakukannya.

Bisa jadi karena itu, pertumbuhanku kurang maksimal. Mungkin. Karena tak sedikit juga orang yang hobi tirakat tapi pertumbuhannya bagus.

Aku baru sadar bahwa tinggi badanku kurang dari teman-teman pada umumnya, ketika duduk di bangku 
kuliah semester VIII. Saat itu aku berkunjung ke kampus lain dalam suatu pertemuan antar pers mahasiswa. Seusai acara kami berfoto bareng. Tampaklah dalam gambar bahwa aku paling kurus dan pendek. Kesimpulannya, tubuhku kecil di antara yang lain.

Beberapa tahun setelah lulus kuliah, saat aku menginjak usia 27 tahun, aku beli celana. Ukuran pinggang 29 tapi ukuran panjang harus dipotong kurang lebih 2-3 cm. Dengan begitu aku mendapatkan ukuran yang sesuai.

Tapi dua tahun kemudian, aku sadari dari hari kehari, celanaku semakin memanjang. Terpikir olehku bahwa ukuran tinggi badanku menyusut. Seketika juga aku ingat penjelasan guru SD-ku bahwa tinggi badan, setelah lewat masa pertumbuhan tidak bisa bertambah maupun berkurang.

Aku pun tenang dan mencoba mengecoh pikiran bahwa celana yang aku pakai saat ini bukanlah celana yang aku potong dua tahun lalu.

Kian hari kian penasaran. Aku heran kenapa semua celanaku harus aku lipat bagian bawahnya. Semua celanaku. Inilah yang membuatku mulai meragukan penjelasan guru SD-ku. Sebab ukuran tinggiku menyusut. Setelah aku perhatikan dengan seksama, benang jahitan celana yang aku kenakan saat ini di bagian bawah berbeda dengan atas. Inilah celana yang dulu pas ukurannya setelah aku potong di tukang jahit.

Makin lama makin memanjang celanaku. Tiap bulan bertambah beberapa mili. Ini jelas bahaya. Aku harus sering-sering naik angkutan Kopaja sambil berdiri menggantungkan tangan pada besi pegangan yang ada di atas langit-langit bus. Semoga saja ini dapat kembali mendongkrak tinggi badanku. Karena kalau memang bisa menyusut berarti masih bisa sebaliknya.

Aku gerah dengan semua ini. Semakin gundah dan khawatir. Tapi buat apa? Sebab guruku memang benar. Aku tidak lagi bisa bertambah tinggi, menyusut tambah rendah pun tidak. Aku hanya bertambah kurus dari hari ke hari. Sehingga celanaku melorot dari ukuruan sebelumnya. Pinggangku yang mengecil. Aku makin kurus. Saat itulah aku kembali percaya dengan pernyataan guruku.

Senin, 31 Maret 2014

Karisma

"Aku punya karisma tersendiri. Dimanapun aku berada, khususnya ketika mendatangi tempat baru, orang-orang akan menganggapku lebih tinggi, lebih, lebih, lebih jago, berilmu, pinter atau segalanya. Sehingga ketika misal ada pemilihan atau pencarian pemimpin baru, sudah dapat kupastikan mereka akan menunjukku."
"Ah, masa? Perasaan lu aja kali itu?" tanggap Asih, yang tampaknya serius.
Melihat raut tanpa guraunya ditambah senyum sinis, aku sedikit gentar. Ingin rasanya segera mencabut pernyataan yang kuutarakan tadi. Tapi telat, semua telah terkata dan terdengar olehnya.
Habis mau bilang apa? Dia sendiri yang memancing agar aku mengucapkan itu. Di sela-sela santai di sebuah kantin, dia tanya soal pengetahuan diri masing-masing. Ya aku jawab apa adanya. Itu jawabanku di atas.
Sebenarnya, rentetan kata itu belum lengkap. Masih ada sambungannya. Aku sengaja jeda berkata beberapa saat untuk menghela napas. Karena kalimat selanjutnya, bagiku lumayan berat diutarakan. Jawaban Lisah itu membuat mulutku tak hanya berat lagi, melainkan lebih parah lagi, terkunci.
Asih pun tiba-tiba terdiam pas usai mengatakan pertanyaan tanggapannya padaku. Air mukanya menyiratkan sedang berpikir. Tapi aku tak mau memastikan demikian. Aku bukan sosok ahli membaca mimik wajah. Bisa saja ia tengah melamunkan mantan cowoknya yang playboy. Bisa juga ia sedang menghayal jorok. Misalnya membayangkan ngupil atau ngorek-ngorek telinga.
Diam diantara kita cukup lama. Ada sekitar tiga menit. Ini lumayan parah untuk ukuran dua orang teman yang sedang ngopi bareng. Hanya gara-gara Asih menanyakan tanggapan atas pertanyaanku.
Aku tak boleh terus begini. Harus ada tips dan solusi, memecah keheningan ini. Nanti pengunjung-pengunjung kantin yang bergeng-geng itu mengira kami sebagai sepasang sejoli yang sedang marahan.

--
Dua hari berselang, Lisah datang ke kamarku. Ia tak sendiri. Ada tiga orang cowok, yang hadir lima menit setelahnya. Tujuan mereka tidak ada. Hanya ngopi di kamarku, ngobrol-ngobrol biasa. Tak apa-apa kan? Nggak dosa.
Kesempatan lima menit ini kami manfaatkan untuk ngobrol bareng. Membincang orang-orang yang punya masalah dengan dunia akademik formal. Ini bukan tanpa pemicu. Awalnya, Lisah melihat buku-buku kuliahku. Lalu menanyakan status kemahasiswaanku. Aku pun bingung, kenapa aku sulit sekali mengikuti aturan akademis, sehingga harus lulus di kampus yang berbeda. Aku juga heran dengan diriku, yang mungkin, sekali lagi mungkin, menderita gangguan kejiwaan bipolar. Aku sering bosan, susah fokus, dan kebetulan juga kadang bisa berada pada kondisi depresi berat. Saat-saat semacam itu, aku biasanya lebih produktif menghasilkan karya tulis, yang dinilai beberapa orang bagus. Bahkan, kau tahu, aku masuk dalam 12 Tokoh Sastra Berpengaruh menyaingi 33 Tokoh Sastra bikinannya Denny Cagur, eh salah, Denny AJ. Eh salah lagi ya, ah, Denny mang ada-ada aja... Denny, simbol kapitalisme Indonesia. :D
Ah, kau pasti tak percaya. Kau yakin ini hanya rekayasa. Ya, rekayasa memang bajingan. Semuanya bisa dipoles asal siap menggelontorkan uang. Aku jadi ingat, nasihat seorang teman, waktu aku kekusahan ngegembel di Jogja. Temanku itu menilai aku terlalu idealis, hingga bisa sampai pada kondisi harus ngemis. Ngemis minjam materi, ngemis makan, jasa, dan sebagainya.
Padahal aku bukan sosok idealis. Aku orang bodoh. Saat jatuh pada kondisi harus ngemis pada sahabat dan teman-teman yang mau menolong, itu karena aku memang tak tahu harus mencari uang dengan gimana lagi. Kerja aku tak bisa tahan lama. Aku sering kalah atas sengatan depresi yang membuatku ingin bunuh diri. Padahal kata orang dan teman-temanku yang lain, itu konyol. Menurutku tidak. Itu pilihan. Ketika semua tak tertahan, ya yang memilih bunuh diri silakan.
Aku sendiri masih hidup sampai saat ini bukan lantaran menilai itu konyol dan menganggap hidup ini lebih berharga daripada mati. Aku ini seorang dengan gangguan jiwa akut. Kalau sudah mencapai level merah depresiku, aku selalu ingin mati. Ingin mematikan diri. Yang tak bisa kutahan adalah rasa sakit. Sementara untuk bunuh diri itu sakitnya nggak ketulungan. Kau tahu bagaimana orang gantung diri, minum racun, mengiris nadi, dan sebagainya. Semua itu butuh proses untuk sampai pada kematian. Orang mesti kejang-kejang, muntah-muntah dengan mulut berbusa,  dan seterusnya. Itu sangat menyakitkan. Aku tak tahan.
Bukan. Bukan aku takut. Aku cuma tak tahan. Aku pernah mencoba mengiris nadi, sakitnya bukan kepalang. Padahal silet baru menyobek beberapa mm kulitku. Sakit bego! Bukan aku takut mati. Aku sudah sangat siap. Terutama waktu itu. Karena aku tak percaya dongeng-dongeng alam kubur. Juga tak masuk akal surga neraka itu. Aku yakin, kematian adalah jalan menuju keabadian. Karena jiwa itu bagian dari ketuhanan, yang tentunya abadi juga. Hanya saja, aku mungkin harus tersiksa karena jiwa atau ruh itu tak bisa melakukan apa-apa tanpa jasad yang bergerak, kecuali hanya keinginan-keinganan dan harapan yang yang menimbun.
Aku juga pernah meminum obat anti nyamuk. Bukan mati malah mabok. Ah, intinya bunuh diri itu sakit. Karena dilakukan atas kesadaran penuh. Maka beruntunglah bagi mereka yang tidak pernah sadar. Karena kehidupan akan terasa indah dan tak mungkin tersakiti.
Tapi aku masih beruntung, semua itu tak tercium oleh orang-orang disekitarku. Aku dikaruniai anugerah berupa karisma. Karisma ini membuatku tercitra seakan sosok orang kuat, pintar, smart, cerdas dan bisa menjalankan skill apapun. Khususnya dalam keilmuan sosial.
"Kenapa ya banyak orang-orang cerdas itu menentang aturan?"
Nah! Itualah pertanyaan Asih yang awalnya menanyakan kondisiku yang bermasalah di kuliah dan pada aturan di tempat kerja. Dia sendiri saja tanpa sadar mengakui bahwa aku punya karisma yang sanggup menutupi berbagai kelemahanku.

Bersambung

Kamis, 16 Januari 2014

Ujian














“Eksistensialisme”-mu sedang diuji.
Masa-masa mengambang
penuh kecemasan.
Terjerat di jaring-jaring zona nyaman.
Sebuah mimpi indah.
Saat terbangun
hanya menyisakan senyum.
Sementara sekam yang menimbun
bara kian terkikis.
Terbuka mata memandang diri
telah berada di lereng jurang.
Bukan ketakutan pada subjek pengancam.
Namun kecemasan
menentukan tindak tunjuk.
Di tiap keputusan teruntai puluhan pilihan
rimbun mengayun menjuntai rumbai mengelap kenyataan
Harapan, keputusasaan, kesabaran, keyakinan berbaur melangkah
di tengah basah bekas hujan di jalan yang sunyi