Jumat, 30 Agustus 2013

Kutampar Kau


Aku bukan penantimu
Tidak juga mengharapmu
Terbukti dengan tak peduli
meski lelana kata melakonkan bisiknya
menyusup kuping-kuping ‘kepo’ yang tiada harap sensasi
hanya pengisi kesenjangan antar pribadi
tiada pula menghakimi
selain kadar membalutku dengan gunjingan
membuatmu merasa tereksekusi, terusik

kau berharap pergi
perkenalan dulu bencana buatmu
getah pisang di baju putih
simbol pengabdian duka atas kemerdekaan semu

Kau tak punya satu bukti pun
selebih peristiwa paling ‘dhaif’ serta puluhan saksi ragu
dan para para ‘rawi’ iseng pecanda
pengolok-olok santai
kemudian mengasihimu
karena merasa dikorbankan kobaran malam
yang meledak-ledak di langit awal putaran surya

Kalau memang kau ku trisna
jangan kira pada ‘bondol’ rambut dan aduhai tubuh yang diidam si Kacau berkutu
Bila cinta kusebut pas
sebelum namamu tertulis
maka mengacu perempuan ayu di sanggar khayal
Bukan padamu, walau kudu diakui
kaulah pemicu
terciptanya bayangan mulia yang kutentukan
Suguhkan pipimu di mukaku
Kepalan ini telah mekar siap menampar menyadarkanmu

Masih Kamar Instalasi, Legoso, 30 Agustus 2013

Rabu, 27 Maret 2013

Loneliness Effect



Ini efek dari kesunyian yang lahir dari kesendirian. Bukan tiada orang lain di sekelilingku, tapi aku tak terhubung dengan apapun. Baik mereka yang jauh maupun yang di sekitarku. Aku adalah planet yang berputar-putar di angkasa luar. Sendiri dan kegelapan, tanpa orbit tanpa bintang panutan.
Tak ada gravitasi yang memelukku. Tak ada cahaya yang menerangiku. Tak ada kehidupan di permukaanku. Aku beku.
Satu keinginanku adalah pergi jauh. Jauh sekali. Ke suatu tempat entah di mana.
Aku ingin melarikan diri.
Melarikan diri dari kesunyian.
Melarikan diri dari kesendirian.
Dari kesepian yang telah lama menjadi tempat aku tidur, bangun, makan, buang kotoran, berteriak, melamun dan merenung.
Aku hanya ingin pergi.
Pergi.

tanpa arah


Sejak senja kemarin, aku kedatangan nuansa dan suasana hati dari masa lalu. Mereka kelabu, sendu, dan selalu memelihara kesan asingnya. Meski begitu aku seperti telah akrab.
Mereka mengantarku ke titik waktu yang belum amat lama aku lewati. Kurang lebih satu tahun dari sekarang. Kurang lebih juga di bulan yang sama, yakni Maret 2012.
Kala itu, aku kehilangan harapan. Aku sama sekali tak menemukan alas an dan keyakinan kuat untuk apa dan kenapa aku harus mempertahankan hidup. Kuputuskan bunuh diri. Telah aku pesan dan kubeli racun tikus tanpa merek tapi cukup ampuh membunuh tanpa rasa pahit. Ternyata takdir masih memberiku kesempatan hidup. Ada secercah jalan keluar dari kebuntuan. Ada peristiwa-peristiwa janggal yang intinya masih mengikat nyawaku pada raga ini.
Mungkin aku putus asa saat itu. Aku berusaha melarikan diri. Aku merasa gagal dan tak tahu harus berbuat apa, kemana, atau bagaimana. Hidup tanpa tujuan, tanpa kegiatan dan rutinitas. Bisa kau bayangkan, bukankah itu sangat membosankan. Tiap hari hanya berada di kamar kost, mendengar musik, bermain di media sosial, atau sekadar ngopi dengan teman-teman yang bukan seangkatan.
Dapat kau dengarkan, betapa teriakan, cibiran, tertawaan, cercaan, dan sebagainya mengarah padaku. Aku seperti pecundang. Kuliah gagal, tak punya pacar dan pekerjaan. Aku hanya mengaku sebagai penulis. Aku memang berusaha untuk itu. Tapi aku mengulang berkali-kali, menulis cerpen, novel, atau semacamnya. Hasilnya, taka da yang sempurna. Berantakan dan tak memuaskan.
Menurutku sendiri, aku punya karisma. Tapi skill menulisku sangat kurang. Aku bahkan kesusahan membuat deskripsi. Menjelaskan detail ruang berukuran 4x5 pun kesulitan. Bisa kau bayangkan betapa aku ini penulis sialan.
Aku punya seorang yang aku anggap sebagai salah satu guru menulis. Tapi dia sendiri menyebutku tak punya bakat menjadi novelis, cerpenis, atau sajakis. Ya, aku sadar itu. Aku memang lemah. Otak kanan dan kiriku kurang baik berfungsi. Aku bahkan tak tahu apa bakatku.
Ah, sudahlah, aku telah memilih jadi penulis. Siapa yang mengakuiku sebagai penulis? Kupaksa diriku sendiri mengakui itu. Semoga merembet ke orang lain. Tapi yang kusedihkan, aku sudah amat tua. Orang seumuranku telah umum berkeluarga. Aku juga mestinya telah mampu membayar cicilan haji orangtua. Aku masih menyusahkan ibunda.
Entah mengapa dan bagaimana aku bisa sampai di sini. Tiba dan tinggal di sebuah pengalaman, perasaan, dan pemikiran yang menyatakan bahwa tak ada satupun yang lepas dari kemunafikan. Tengoklah karya-karya seni dan sastra. Tema-tema dalam novel, cerpen, film, lagu-lagu dan sebagainya. Semua mengagung-agungkan kejujuran, ketulusan, kebenaran, bukan kemunafikan, kebohongan dan kecurangan. Dalam kenyataannya semua itu terbalik. Bahkan semacam ada pengaminan bersama dengan adanya ruang privat dan ruang publik.
Secara pribadi atau di kelompok-kelompok atau organisasi khusus, orang boleh saja dan sah mengatakan bahwa tidak ada tuhan. Tuhan telah mati. Tapi di ruang publik mesti sebaliknya.
Secara pribadi, individu atau kelompok, korupsi, trik, tipuan, muslihat, dan segala akal-akalan boleh saja dilakukan. Tapi di depan public, apapun yang terjadi semua itu harus ditentang, dilawan, dibasmi, meski sekadar dalam bentuk kata-kata kosong.
Dan aku orang yang kecele. Orang yang ketipu. Aku tak bisa dan sangat tidak bisa basa-basi atau berpura-pura. Aku terlalu polos menapaki kehidupan. Kukira semua akan mudah dengan kejujuran. Tidak juga. Kepura-puraan sangat dibutuhkan untuk bertahan di kota hayat. Sedangkan untuk di kota, fisikku tidak terlalu kuat.
Lihatlah, apa yang aku tulis ini? Ketidakjelasan. Ketanpaarahan. Menyebalkan bukan? Sialan!!!

Senin, 11 Maret 2013

Sudah Tak "Masih Aja"













Jadi ingat masa lalu, katamu.
Bah...
Usang!
Kalau aku kangen kamu atau kamu kangen aku, bukan karena aku dan kamunya, tapi lebih pada yang terlalui. Jadi, yang dirindu, dengan cinta atau benci, itu momen, peristiwanya.
Kini dan esok, aku dan kau bukan lagi orang yang sama.

Yang kusebalkan! Masih saja kau mengulang ungkapan serta gelagat serupa tatkala sesekali waktu mempertemukan seperti ini. Seolah hatiku masih ada untukmu.
Hallo...!!! Jelas aku bukan yang dulu. Trisnaku padamu telah luntur gara-gara kau curangi sobatku kala itu. Meski akhirnya ia memaafkanmu, menerima tobatmu, tapi entah malah aku yang tak rela,
seraya bersyukur lantaran beban rasa atasmu hilang terhanyut ketaksetianmu. Dan aku bebas.

Kemudian, perpisahan memecah belah ruang. 

Sekarang, aku dan kau bagai ikan yang menghirupi udara air yang berbeda. Kujanjikan senyuman dan kutanyakan lain hal tempo nanti kita berjumpa. Aku yakin kau berubah. Begitu pun aku,
hingga kini tak pernah ada reinkarnasi cinta untukmu lagi. Demi Tuhan.

Marah

Aku khilaf
Aku lupa punya kata
Ketawa saja yang menggema
di telinga dada
Nyala emosi
telah pasti
Tapi kalimat tak kunjung padat
bulat
Maka Geram
ambil tindakan mengepal awan
menanti leleh sebab panasnya didih air mata
Jelas bukan tetes kesedihan
juga haru
tapi kesal yang tak berhak menyesal
Maka tataplah langit
Rasakan dingin cibir
teguh seiring jeda-jeda yang menganga
Ya sudah, selamat datang di jeda pekan
Jeda yang selalu memberi ruang tumbukan rasa-rasa
Hentikan ini semua
apa guna menjemur buah mentah?
Sepah...!!!


Cipuat, 5 Januari 2013

Lilin Kecil

menyibak gelap dengan lilin kecil
sinar rapuhnya bersikeras mencolok-colok pekat
kadang meredup lalu patah
bila padam tak terelak
tiada lain kecuali
meminta batu api membakar sumbunya
sang tuan harus tetap berjalan
persetan kelam menghujam
walau entah kapan terang terbit berjaya
tubuh lilin kecil meleleh putih di tengah hitam

Kamar Instalasi, Legoso, 24-2-2013

Jumat, 01 Februari 2013

Minggu, 20 Januari 2013

Nilai Penting Kreativitas*


 Manusia membutuhkan kreativitas dalam usahanya mengatasi problematika hidup, atau menciptakan suatu karya dan hal baru. Tapi tak sedikit orang malah memandangnya sebagai barang mewah, yang bermuara pada pemborosan, dan ketakseriusan. Apalagi jika dihadapkan pada sebuah sistem, beragam upaya inovasi dan pembaruan seakan tak mendapat ruang karena dianggap bisa merusak kemapanan.
Paradigma semacam itu banyak terdapat di dunia bisnis. Padahal jelas bahwa kreativitas sangat perlu di semua situasi, bahkan semestinya mendapat tempat terdepan demi tercapainya kemajuan dan keberlangsungan perusahaan. Pola pikir tak mementingkan kreativitas hanya akan melahirkan mental ‘tak bisa’ yang membunuh.
Banyak perusahaan hanya mengutamakan pengembangan pada segelintir orang yang dinilai sebagai ujung tombak untuk meraup keuntungan finansial. Misalnya, para salesmen atau frontiner-nya. Ada pula yang rela membayar mahal para ahli keuangan dengan tujuan serupa dan atas dasar efesiensi. Tindakan ini justru akan mematikan kreativitas dari yang lainnya. Mereka diajak berpikir untuk tidak berpikir karena sudah ada ahlinya. Padahal seperti diungkapkan David Brooks, ekonomi kreatif hanya terjadi bila semua orang merasakan pentingnya untuk senantiasa berubah, menawarkan nilai baru ke pelanggan dan menyampaikannya sesegera mungkin.
Seluruh jajaran, mulai dari yang paling atas hingga bawah, perlu membiasakan diri untuk mendisiplinkan kreativitas dan saling menebarkan semangat “can do”. Ketika semangat itu telah menjadi ruh yang mengikat segenap awak perusaan, tak ada pusing lagi sewaktu mendapati kompetitor lain. Tak perlu mematikan atau menjelek-jelekkan pesaing itu, karena kita selalu mampu tempil beda.
Perlu disadari bahwa kreativitas bukanlah bakat alam, melainkan ketrampilan yang diasah dan dikembangkan. Semakin rajin diasah, akan semakin tajam. Jangan pernah berhenti untuk mengembangkan kreativitas. Karena itulah yang akan mengembangkan kualitas hidup secara menyeluruh dan memberi kontribusi pada kemajuan bisnis serta masyarakat.

*Iseng-iseng baca Klasika Kompas, Minggu (20/1/2012) dapat artikel tentang kreativitas. Saya suguhkan singkat dengan bahasa saya dalam tulisan ini.

Rabu, 19 Desember 2012

Your Lost



We both know that perfection is boring
Deficiency should meet with deficiencies that grew completeness
I'm perfect
you're perfect
in the faithful
So, moving what else will be created?
and I realized
your departure
reduced me very much
I was very arrogant when it
I'm just a person who does not understand how to move the existing fittings for you

Sabtu, 15 Desember 2012

Apa Ada Apa


Cobalah petik selembar daun 
Urai seratnya hingga butir-butir terkecil 
Kupas perlembar debu yang rekat di hitam putih kulitmu 
Cacah hingga tak mampu kau membagi 
Tulangmu, dagingmu, darahmu, suara dan udara yang keluar masuk 
berdiri 
sendiri sendiri 
Menyusuplah diantara keping terdalam angkasa raya 
Apalagi yang kau jumpa 
kalau bukan tiada 
Bahkan tiada pun tiada. 
Jangan coba tertawa 
sebab masing-masing partikel tangis dan gembira telah terberai 
Jangan tanya mau apa 
karena kemauan tak lebih sekian kosong yang menggumpal

Oktober 2012

Belum Sempat


ku miripkan wajah 
potong rambut sinar matamu 
pada mungilnya bocah 
gelisah bersandar di pangku bunda 
Dalam angkutan 
kota yang lapar 
menelan lebih dua kali keresahan 
Manja tanyamu lentik bersuara, "Bunda, kapan sampainya?" 

Di gugur kering 
daun-daun rasamu rasaku 
menyatu tanah kesabaran 
yang wangi pedesaaan 
tanpa cemar nafsu 
tak tergoda tingkah laku 
terhubung kemurnian 
rindu terikat melankolika setia 

Lepaslah rindumu 
rinduku setiamu 
setiaku terbakar bercumbu abu 
Sedang jasad 
kita diurai keraguan 
Tak mungkin sempat 
kau cium punggung tangan ini 
Sembunyimu telah abadi 
di balik hitam pintu 
terkunci

Ramadan 1433 H

Minggu, 09 Desember 2012

Julie

Tak ada yang lebih bijak dari hujan di bulan Juni,
kata Sapardi Djoko Damono
kenapa bulan Juli tidak? Aku sangat yakin, itu lebih bijak. Apalagi di bulan Agustus.
Tapi cukuplah Juli
Karena tengah-tengah, yang tengah-tengah itu yang enak
Juli juga nama legendaris dalam kisah cinta
Juli, bulan lahir seorang kekasih
Juli tambah e, jadi kekasih ilusi lainnya menuliskan namanaya sendiri
Ilusi pun tak tepat menggambarkan
karena membayangkan bersama saja, tak bisa
Entah sisi mana jiwaku yang mencintainya
Yang pasti dia sangat membenciku
Oke, aku bukan Romeo
Aku bukan orang bertempel topeng alami bernama alter ego yang dipujanya
Cukup mencintainya, entah dari sudut jiwaku yang mana
dan kubebaskan Julie membenci, merendahkan, menghina, dan jijik pada cintaku
Kubebaskan dia terbang, melayanglah tinggi sebagai simbol merpati
Kapan telah siap, mari kita bergulat dan berkelahi.
Aku siap kau kalahkan
Kau dan Aku hanya setititk debu yang beterbangan

Ciputat Macet


Aku hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi ini bukan pantai. Ini Ciputat dengan penduduknya yang padat. Ciputat bukan gunung atau tebing yang mampu meneruskan teriakan ke jurang-jurang. Menggaung berulang dan menimbulkan trance. Hanya musik dari pemutar mp3 yang sanggup menenangkan kemarahan jiwa, menstabilkan pikiran, di Ciputat.
Aku ingin marah, mengacak-acak segala gala. Aku bosan mendengar dan melihat kepura-puraan. Aku jengah dengan kekakuan. Di jalan, tivi, semua tempat pendidikan, kerja, dan perjuangan, tak ada ketulusan. Cinta hanya di atas kertas, menjadi tameng atas nama. Senjata penipu. Cinta sebenarnya terpenjara di atas bukit, dikurung dalam kisah-kisah roman, atau ayat-ayat agung. Cinta tinggal kata-kata tanpa hakikat. Di jalan yang macet, aku kehilangan arah.

Selasa, 04 Desember 2012

Minggu, 02 Desember 2012

Kiamat Itu Hari Jumat


Banyak yang ribut dan takut kalau kiamat tiba. Sampai saat ini, saya belum paham kenapa mereka takut pada kiamat. Padahal seperti dijelaskan, kiamat itu adalah saat kehancuran dunia. Artinya tak ada cara lain selain menerimanya. Mati sama-sama, hancur sama-sama, seluruh dunia. Lalu apa yang ditakutkan?

Banyak ramalan tentang kapan kiamat tiba. Menurut ramalan suku Maya dan Inca, kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Kalau kita lihat kalender, tanggal tersebut jatuh pada hari Jumat.
So, masihkah kamu takut? Saya berani bertaruh, yang menjawab "nggak takut" itu lebih didasari karena tak percaya bahwa pada tanggal tersebut kiamat terjadi. Dan sekali lagi yang saya bingungkan adalah mereka yang takut. Apa alasannya, sampai mereka takut?

Berikut saya cantumkan hadits Nabi saw tentang kapan kiamat tiba.  
Rasulullah saw berkata, "Hari Jumat adalah penghulu segala hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari Jumat ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari Jumat terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari Jumat juga Adam dimatikan, di hari Jumat terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari Jumat pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari Jumat." (HR. Ahmad)

Ah, pasti kamu-kamu yang takut itu karena merasa punya dosa yang banyak ya? Ya sudah, kalau itu masalahnya cepat-cepat bertobatlah. Lagi pula nggak cuma kamu kok yang punya dosa. Semua manusia juga sama. Ah, kamu takut neraka? Tenang, kamu kan percaya Tuhan. Sesungguhnya Tuhan Maha Kuasa. Tak butuh alasan baginya untuk memasukkanmu ke surga atau neraka. Apalagi yang kau takuti dari kiamat?

Sabtu, 17 November 2012

Lima Menit ke Puncak



Lima meter dari kamar kost yang kusewa adalah jalan raya. Meski bukan jalan utama, aktivitasnya tak tak kalah padat di pagi dan sore hari. Ribuan mobil dan motor menyemarakan pesta kehidupan. Ribuan pula nyawa berdesak ketegangan demi menghilangkan rasa bosan jika tanpa kegiatan. Demi membayar ongkos hidup. Guna mencantumkan papan nama pada dinding kebanggaan.

Hanya itu sudah cukup membuatku bosan. Raung kendaraan, asap kenlpot yang hitam, setiap waktu menghantui. Aku bersyukur kalau hujan tiba. Udara tercuci bersih, meski tak mungkin bertahan lama. Selain itu, dinginnya aku suka. Kamarku yang tanpa AC membuat udara panas Jakarta terus mendidihkan darahku, mempercepat detak-detak jantungkuLima meter dari kamar kost yang kusewa adalah jalan raya. Meski bukan jalan utama, aktivitasnya tak tak kalah padat di pagi dan sore hari. Ribuan mobil dan motor menyemarakan pesta kehidupan. Ribuan pula nyawa berdesak ketegangan demi menghilangkan rasa bosan jika tanpa kegiatan. Demi membayar ongkos hidup. Guna mencantumkan papan nama pada dinding kebanggaan.

 Andai di Jakarta, dan sekitarnya, turun salju. Aku pasti bilang, “wow…!”, mengungkapkan kegirangan. Sambil koprol dan salto berguling-guling atau sujud, rukuk, takbiratul ikram, dan sebagainya. Kubayangkan duduk di teras mengenakan jas tebal, yang menjuntai sampai lutut. Menikmati kopi, yang cangkirnya kudekap-dekap supaya darah di tangan tak menggigil kedinginan. Ah, itu sekadar khayalan. Layak umat merindukan Messiah atas frustasi sebab kenyataan.

Satu-satunya cara paling dekat, sebagai simulasi hidup sehari seperti di negeri Barat, adalah pergi ke Puncak, Bogor. Kebetulan 15 November 2012 hari Kamis adalah tangal merah. Libur. Memperingati tahun baru hijriah. Seyogyanya cuti bersama digelar hingga hari Minggu. Tapi sayang, hari Sabtu ada kewajiban piket. Jadi ingin kumanfaatkan dua hari sebelumnya untuk merealisasikan keinginanku. Bersama teman-teman terdekat.

Entah kenapa rasa ragu susah hilang dari benakku. Sudah kukabarkan pada seorang teman rencana itu lewat media sosial, Twitter. Tapi mungkin karena aku ragu, yang tanpa sebab, membuat temanku itu juga ragu atas ajakanku. Ia baru datang tanpa kuduga, bersama lima teman lainnya, di malam Sabtu. Niatnya hanya bersambang saja.  Jelang dia mau pamit karena sudah larut malam, aku ingat dua hari sebelumnya kita niat ke Puncak. Aku utarakan saja hal itu padanya. Dia antusias. Aku kebingungan. Bingung tanpa sebab. Seperti ada yang mengganjal. Tapi entah apa.

Tanya-tanya soal villa, ada teman yang punya. Siap disinggahi tanpa uang sewa. Kamipun sepakat semua. Namun satu orang di antara kita, tampak mengikuti keraguanku. Ia masih mikir-mikir kalau harus berangkat ke Puncak sekarang juga. Aku dan empat teman lain memberinya waktu untuk berpikir memutuskan. Ternyata hanya soal biaya dan motornya, yang tanpa STNK. Berarti itu bisa kami atasi.

Lima menit kami bersiap berangkat. Sudah terbayang hawa dingin Puncak. Aku baru ingat, hari Sabtu itu besoknya. Aku piket. Lima menit itupula hawa dingin Puncak menghilang. Kita bubar ke rumah masing-masing. Ke kamar kost masing-masing. Sungguh perjalanan yang sangat cepat.

Jumat, 02 November 2012

Menggenggam Dunia



Setiap syair yang tertuang adalah jelmaan air mata
Di dalamnya sedih dan bahagia mengalir
pelan menelusup celah-celah kekosongan
Sepekat rimba menjaring awan
Mencipta rasa aneka warna
yang terpisah merindukan asal Esa
Sebab tiada satu tanpa jumlah
Tiada waktu tanpa ruang
Seluas aku mencari diri 
sendiri yang telah pergi
Sebesar itu kebahagiaanku
Maka ku tegaskan,
Walau tanpa bantuan sekian banyak orang, dunia tetap akan mampu ku genggam
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html