Rabu, 22 April 2015

Kartini dan Ayah Saya

“Selamat Hari Kartini.” Banyak yang menulis itu di media sosial. Beberapa menyematkan kutipan dan diakhiri nama Ibu Kita tersebut. “Habis Gelap Terbitlah Terang ~Kartini”, “Terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu ~Kartini", dan sebagainya.

Avatar, display picture, foto profil dan sebagainya berubah lukisan sang Raden Ajeng. Tanda pagar dibuat agar jadi topik tren. Di sekolah, anak-anak TK, khususnya perempuan, didandani dengan kebaya. Belakangan masih ada juga yang mengirim broadcast message berisi ucapan tentang hari itu.

Ini tentang 21 April. Hari lahir Pahlawan Perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Semarak yang patut kita sama-sama apresiasi.

Tentu sudah basi untuk bertanya, apakah mereka yang penuh euforia mengucapkan selamat Hari Kartini itu kenal Kartini? Dalam arti tahu betul siapa itu Kartini? Apa saja yang telah dia lakukan atau perjuangkan? Membaca karyanya? Kenapa ia jadi salah satu pahlawan nasional?  Dan sebagainya.

Basi saya katakan atas dasar dua alasan. Pertama, saya yakin minimal 70% akun di gawai saya agak kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Setidaknya jika tidak kesulitan, jawaban yang keluar masih mengandung keraguan. Kedua, kalau memang benar ada yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, solusinya cuma satu, Google. Klik langsung ketemu di Wikipedia. Basi kan?

Oke, karena itu, saya akan bercerita tentang Kartini dan almarhum ayah saya.

Sebagai warga negara yang wajib mengenyam pendidikan sembilan tahun, saya tahu siapa Kartini. Saya sering melihat gambarnya di tembok ruang kelas, dari SD-SMA. Di kelas saat Universitas tidak lagi.

Selain dari gambar, pengetahuan tentang pejuang wanita ini saya dapat dari buku pelajaran sejarah dan lagu ciptaan W.R. Supratman berjudul “Ibu Kita Kartini”. Belakangan, materi tentang Kartini juga mengendap di kepala akibat bahan stand up comedy yang sempat dibawakan Dodit Mulyanto beberapa waktu silam. Lain dari pada itu, saya kira tidak ada lagi.

Kaitan dengan ayah, ini cukup mengherankan. Khususnya bagi saya kala itu. Saya tidak ingat persis tanggal, bulan dan tahun kejadiannya. Yang pasti bukan di Hari Kartini. Status saya masih belajar di Sekolah Dasar, kelas III.

Tiada angin tiada hujan, di sela-sela santai siang, sambil melepas lelah di ruang tengah, Ayah bertanya, “Le, tanggal lahir Ibu Kita Kartini itu tanggal berapa ya?”

Tak hanya diajukan pada saya, tapi ibu dan adik saya juga. 

Waktu itu saya lupa atau malah tidak tahu tanggal berapa Ibu Kita Kartini lahir. Dan saya masih ingat betul nada pertanyaan ayah serius, bukan ngetes atau bercanda. Adik saya yang masih Kelas I SD dan Ibu pun tak ingat.

Maka saya langsung membuka lemari, mencari buku sejarah dan membuka halaman demi halaman. Juga catatan-catatan. Kebetulan masa itu saya belum kenal si dukun pintar, mbah Google. Sayang sekali, ketika saya telah menemukan jawaban, ayah sudah duluan. Entah dari mana dia dapat.

Yang sampai sekarang jadi pertanyaan saya adalah untuk apa ayah mencari tanggal lahir Kartini. Mau menyelenggarakan karnaval kebaya? Tidak mungkin. Ayah bukan seorang pamong desa. Lagi pula kejadian itu bukan pada bulan April. Untuk bahan ujian? Tidak juga. Ia sudah tidak sekolah.

Hingga ayah meninggal, saya tetap tidak tahu untuk apa ia menanyakan tanggal lahir Ibu Kita Kartini waktu itu.

Dan, di Hari Kartini ini, 21 April 2015, saya teringat kembali almarhum ayah tercinta. 

Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa ayah, menerima semua amal baik ayah dan semoga ayah mendapat sebaik-baik tempat di sisi-Nya. Alfatihah.


Pesanggrahan-Ciputat, 21 April 2015

Rabu, 15 April 2015

Senin, 06 April 2015

Selasa, 31 Maret 2015

Kamis, 05 Maret 2015

Senin, 16 Februari 2015

Merawat Kesunyian

Aku ingin merawat kesunyian
Menjaga lelap manisnya yang mendengkur merdu
Ssst... jangan berisik
Maukah ia terusik bangun dan marah
mengacak-acak ketenangan
Biarkan ia telena dalam timangan aku dan kau

Kita adalah gelegar tawa
Ledak canda tingkah kanak-kanak
ceria
senyum yang memecah pekat
Kau dan aku itulah gembira
Di antaranya jeda berwujud hening
Bening yang mengeras dari bekuan air
mata yang tak sanggup mengharap

Ia berdiri kokoh
Apalah arti aku dan kau tanpa penghubung yang menyatukan
Apalah aku dan kau
Tanpa predikat cinta
Tanpa untuk
Tanpa sayang
Aku cinta kau
Aku untuk kau
Aku sayang kau
Untuk cinta dan sayang lebih nyata keberadaannya
Lebih terjal dan berdarah-darah proses penggapaian, pengendapan dan penyimpannya
Di banding keberadaan kita.

Maka biar kujaga keheningannya.

Catatan Tersembunyi di 7 Desember 2014 6.04

Senin, 08 Desember 2014

Ke Tempat Itu Aku akan Kembali. Di Sini Kau Menciumku


Sesungguhnya aku sudah gumoh. Namun seperti film-film bersekuel yang baik, tempat itu masih saja meninggalkan penasaran. Ini yang memaksaku berjanji bahwa suatu saat nanti kita akan kembali menginjaknya.


Terakhir kali aku pergi bersama dengan seseorang. Tujuanku hanyalah menunaikan janji kekurang puasan menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang kujumpa pertama kali dalam rekreasi beberapa tahun silam. 

Ruang dan waktu yang berada di bawah kekuasaan Tuhan tiba saatnya mengizinkan. Tak banyak perubahan yang kujumpa pada tempat itu. Aku hanya mengubah rundown kegiatan yang kita gelar berdua. Tiba malam hari, istirahat di gubuk dan melanjutkan perjalanan menuju puncak acara keesokannya. 

Pada kunjungan pertamaku dulu, aku datang langsung menuju puncak, turun jelang petang, dan pulang ke Jakarta saat malam mulai matang.


Sekarang, ya saat ini, marilah kita berada di ruangan itu. Gubuk itu. 

Di sebuah bilik panggung setingi setengah meter, dengan dinding geribik anyaman bambu bercat coklat.

Sekarang, ya saat ini, jadilah dia. Berperanlah. Ada yang ingin aku sampaikan bahwa,

Di sinilah kau menciumku.”
“Harus mati dulu agar bisa melupakannya. Mungkin mati pun tak bisa lupa.”
“Mungkin aku akan jadi lelaki di “Pohon Gantung”. Masih menunggu jawaban.” *


Lalu kau berjalan ke arahku dan menempelkan bibirmu ke bibirku. Kita merasakan panas, debu, dan derita. Rasa yang mengejutkan untuk ciuman yang begitu lembut.
Dan aku yang lebih dulu menjauh sembari melempar senyum getir.

“Aku tahu kau akan menciumku.” *

Aku yakin kau tak tahu dan tak pernah tahu ini.
Kenapa aku bisa tahu? 

“Karena aku sedang menderita.”
“Itu satu-satunya cara agar aku mendapat perhatianmu.”
“Jangan kuatir. Semua akan berlalu.” *

Dan kutinggalkan kau pergi berlalu tanpa sempat mengucap sepatah kata pun balas jawaban.

Tiba masanya nanti, aku ingin kembali ke sana. Ke tempat itu. Takkan kuijinkan kau mencium bibirku terlebih dahulu. Tak pula akan kumemulainya. Hanya keningmu sebagai tanda sayang hormatku. Biarkan segalanya berjalan apa adanya. Aku tak ingin diantara kita terbeban luka. Karena aku telah menyadari kelemahan, menjadi tiada akibat gigitan taringmu. 

Bila itu harus terjadi, kuingin tak satu pun aku atau kamu yang memulai. Aku berharap bisa ikhlas mati sehingga gerbang maut adalah pintu untuk kelahiran kembali.


*Gale, Hunger Games “MOCKINGJAY

Sabtu, 29 November 2014

Berlebihan

Kejahatan pun perlu jika sekadarnya
tanpa kejahatan, kebaikan tak sempurna
Cinta benci
persahabatan permusuhan
jalinan kasih sayang
lingkaran angkara dendam
normal
Namun bila sudah berlebihan
semua jadi bencana
Cinta hanyalah siksa
apalagi benci
kasih sayang bentuk lain kekang pasungan
persahabatan tinggal istilah untuk ekslusifitas terhadap liyan
melokalisasi kroni menciptakan lawan di luar kalangan

Selasa, 25 November 2014

Senin, 17 November 2014

Minggu, 09 November 2014

Menatapmu


seperti sebelum-sebelumnya ketika kita sedang berdua, 
aku suka menatapmu. 
Ini kebiasaan aneh, aku tahu. 
Tapi aku begitu mengagumimu. 
Aku merasakan bahagia bersamamu. 
Aku ingin menyimpan gambarmu banyak-banyak dalam benak. 
Biasanya, 
kamu segera membalas tatapanku dengan tatapanmu yang sayu, lalu tertunduk. 
Entah malu atau ragu, 
yang pasti kau ingin mengatakan, 
“sudah, cukup. Jangan menatapku seperti itu.”

Aku Tak Punya Apa-apa*

Aku tak punya apa-apa untuk keberikan padamu sebagai kenang-kenangan.
Aku ingin kau mengingatku
karena setelah ini
semua tak lagi sama, tak mungkin semula
Simpanlah momentum perjalanan melangkahi 11-12
Oktober yang kental trauma
melintas Cipularang
terlarang
menumpang kendaraan yang entah
kapan kau jamah

Sandarkan kepalamu di bahuku
Genggam tanganku
remas erat cemariku
dan sirnalah ketakutan

Aku tak punya kata-kata untuk melukiskan kebersamaan
kita
memetik strawberi merah semerkah bibirmu
atau pendakian dengan ontang-anting gila
menggapai kawah yang tak seputih kulitmu.

Jika kau sedang sendiri
takut dan sepi
Aku tak punya apa-apa
berharap kau mengingatku


Legoso, Kosan Transisi, 8 November 2014

*Untuk gadis bibir strawberi

Kejujuran

Kejujuran itu hanya untuk disanjung dan diagungkan
bukan dipraktikan melalui tindakan ataupun kata-kata
jangan disampaikan pada siapa pun manusia

Tiada seorang sanggup menerima
kecuali diri sendiri

Jika kau laki-laki, ingat dan rasakan
tak akan pernah bisa mendapat wanita yang kau idam
tatkala mengejarnya dan mencintai dengan kejujuran
Jika kau perempuan
betapa mudahnya dipermainkan
Jika kau seorang pemimpin
betapa gampang digulingkan
atau lemah tanpa kuasa

Kejujuran adalah harta yang mesti selalu kau simpan
ditutupi dan dibungkus rapih
dengan kebohongan dan kepura-puraan
Itulah yang akan selalu membuatnya indah
dan berharga
Karena sekali terbuka
kejujuran tiada lagi bermakna.

Sabtu, 08 November 2014

Jumat, 07 November 2014

Selamat Ulang Tahun Ragaku

Dini hari 7 November 2014
00.59 terus berjalan
Aku menanti keistimewaan di hari jadi.
Selamat ulangtahun, ragaku.
Semoga kita tetap kuat bersama melaksanakan tugas kehidupan
Semoga Allah yang maha kuasa memberi petunjuk dan pertolongan di tengah gelapnya langkah menggapai impian yang entah.
Tak ada cara lain kecuali tetap berjalan menapaki waktu yang dikuasai tawa ejekan
yang keluar atas dasar kelemahan diri
Makin kokohlah kaki, kuatlah mendaki.
Walau air mata terkucur lalu terkubur

Catatan penutup malam

Berlalu sudah badai yang mendera
jiwa
Sisa puing-puing berserak
di malam yang menua
Lantunan instrumental
memuluskan laju waktu
Mengalir halus dan syahdu
Menegaskan pagi
adalah waktu berbenah diri
membangun kembali kemenangan
dari kegagalan-kegagalan jahil
yang datang berulang
secepat kilat menghantam
tanpa kesempatan menyusun pertahanan
Kini, tak ada lagi niat
yang dapat digenggam erat
selain lagi dan lagi
menegakkan harapan
menyusun menara
tangga menuju surga bahagia.
Kilau fajar telah menapaki ujung hati
Selamat malam
dan pagi menantimu berbagi.


Kosan Transisi, 4 November 2014

Rabu, 05 November 2014

Badai

Di dalam dadaku gemuruh badai
Bermula gerimis di waktu petang
Dalam benakku mengamuk topan
Mengamuk menyapu membabi buta mendesak-desak semua celah badan yang kusumbat dengan diam.
Entah sampai kapan ku kuat menahan
Sedang di tenggorokan berulang-menyembur lenguhan
Hidung kembang kepis ditiup napas dari paru-paru
Keras memompa selaju ritme detak jatung yang kian cepat
Bola mata menyorotkan pandang buram. Blur tiada fokus. Terpaku di titik kekosongan. Hampa.
Telingaku melewatkan semua panggilan. Hanya suaranya yang terngiang.
 Cemariku kelu menahan hasrat untuk menekan tombol-tombol abjad, meraih sebatang pena lalu menggoreskan tinta pada selembar kertas dan setiap dinding
yang dingin.
Batin pun menyalak marah. Merah.
 Untuk siapa semua ini? Tidakkah kalian bisa tenang diam di dalam saja?
Badai pun membekukan luka

Senin, 03 November 2014

Umpatan

Kepada siapa umpatan ditujukan?
Tentu pada setiap telinga yang mendengar
atau pada mata yang membaca

tak peduli mulut dan cemari menunjuk-nunjuk seisi dunia
atau pada diri sendiri

Saat terlontar, Sang Pengucap telah wafat
umpatan terjun bebas
menimpa keping-keping hati seluruh penduduk jagad

Kosan Transisi, 3 November 2014


Masih Gelap

Bismillah aku menyerah
Dengan raga bercucur keringat basah
Tersudut pada dinding takdir
lunglai lemas tiada berdaya
Aku pasrah
Saat menembus batas
terperangkap gelap pekat
tiada arah dan tujuan
tiada mimpi dan harapan
tiada pula teman sejalan
bahu sandaran tatkala lelah
gundah gelisah
Dan gelap masih saja pekat
tak boleh jengah melangkah
menuju pelita
kebebasan merdeka

Kosan Transisi, 3 November 2014

Sabtu, 01 November 2014

Rabu, 22 Oktober 2014

Selasa, 21 Oktober 2014

Merah Strawberi

putih susu kulitmu
merah strawberi bibirmu
kau langit dan bumi
berlapis aneka
menumbuhkan pepohonan dan bunga
bintang-bintang dan mega
awan putih dan gelap
hujan angin gelora
badai hasrat
dan kilat petir kebalau membentang
sepanjang usia

Layak kebenaran sejati
butuh menempuh maqam-maqam
untuk tiba di puncak kemakrifatan
manunggaling sira ingsun

Saat tiba di altar hakikatmu
aku lebur tiada
kesunyataan nyata

Di sini kukabarkan yang tak terkata, terbaca
edelweis yang bukan e-d-e-l-w-e-i-s

Syukur terhatur
pada anugrah kuberebah
di ladang rasa benak jiwa
kita atau
kau atau
aku atau
dia atau
Sang Sejati
mengimplan satu ide sederhana
terus mengembang di ruang hampa.

kusimpan sebagai bara
menyala dalam dada

takkan salah kegelapan
tak juga keliru kesesatan
karena pelita telah kugengam.

Bibirmu dan bibirku bertemu
sekali untuk selamanya
menyala.

Ruang Asap, KPU, 21 Oktober 2014

Minggu, 31 Agustus 2014

D dalam BBM Semalam.

BBM semalam pesan spontan. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikiran dan ingin aku sampaikan seketika kepadamu via BBM. Ketika mengetiknya, aku juga diusik oleh rasa cemburu. Sebuah rasa yang keliru. Tidak tepat, karena kau sudah lama bukan milikku.

Lebih kurangnya empat setengah tahun kau menyudahi hubungan kita dengan cara yang rumit. Aku membalasnya dengan kesal dan kejam. Bayangkan sendiri seperti apa kekesalan dan kekejaman atas cara rumitmu memutuskanku. Biarlah. Biar sama-sama sakit. Inilah kalimat yang menjadi saran dari seorang teman ketika mendengar kisahku.

Tapi malam tadi, aku mendadak khawatir, jangan-jangan saat ini kau dekat dengan temanku yang memberi saran itu. Ini bukan tanpa alasan. Kesibukanmu sebagai penjual dan penyuplai alat-alat out door itu aku tahu berkaitan dengan orang-orang yang kerap nongkrong dengan temanku tadi. Apalagi, teman itu juga berzodiak sama denganku. Scorpio. Sementara kau Cancer. Aku tahu, kedua bintang ini sangat cocok menali jalinan, entah dalam kadar seksualitas atau yang lebih dalam. Kemudian, menimbang tabiat, sifat dan tempat atau lokasi aktivitas antara kau dan temanku, aku jadi takut kalian saling akrab dan, ah tidak. Aku berat mengatakannya.

Sekarang sudah sore. Matahari tak lagi garang panasnya. Belum satu pun bunyi pesan BBM kudengar di telinga. Aku juga enggan menengok ponselku, sekadar memastikan status pesan BBM-ku sudah R atau masih D. Aku berusaha tak peduli. Itulah yang semestinya aku sikapkan. Untuk apa aku peduli? Kau pun akan lebih senang aku cuek. Perhatianku terhadapmu malah bikin risih.

Aku ingin menunggu ada pesan lain yang masuk. Sehingga niatku membuka password ponselku bukan langsung untuk mengetahui R atau D.

Sudah pukul 15.30, tak ada juga pesan masuk. Alhamdulillah masih D. Mungkin kau sengaja tak membukanya, karena kalimatku hanya satu baris. Tak perlu diklik juga sudah terbaca. “Chol, kamu sudah tidak (kerja) di Kuin ya?”

Kosan Transisi, 31 Agustus 2014, 15.31

Senin, 25 Agustus 2014

Minggu, 20 Juli 2014

Kamis, 29 Mei 2014

Ternyata Tinggi Badan Bisa Menyusut


Kelas I Sekolah Dasar. Di dalam kelas, entah sedang menjelaskan mata pelajaran apa, aku lupa. Itu terjadi sekitar 23 tahun silam. Guruku mengatakan bahwa kami, para murid, harus sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Hal itu agar di kelas dapat belajar dengan sehat dan bersemangat. Selain itu makanan juga harus bergizi. Empat sehat lima sempurna. Ini mengingat kami adalah anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Sehingga kebutuhan jasmani kita terpenuhi. Jangan lupa pula untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalsium. Nanti, di atas usia 21, tinggi seseorang akan berhenti. Tidak akan bertambah atau berkurang, kecuali gemuk atau kurus.


Aku percaya penjelasan itu. Tapi aku tak mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Makanku apa adanya. Bahkan aku ketika menginjak masa kelas IV sudah hobi puasa. Tambah lagi saat masuk SMA, aku tinggal di pesantren paman. Tirakat adalah hobiku. Aku merasa menjadi lebih dari orang lain saat sanggup melakukannya.

Bisa jadi karena itu, pertumbuhanku kurang maksimal. Mungkin. Karena tak sedikit juga orang yang hobi tirakat tapi pertumbuhannya bagus.

Aku baru sadar bahwa tinggi badanku kurang dari teman-teman pada umumnya, ketika duduk di bangku 
kuliah semester VIII. Saat itu aku berkunjung ke kampus lain dalam suatu pertemuan antar pers mahasiswa. Seusai acara kami berfoto bareng. Tampaklah dalam gambar bahwa aku paling kurus dan pendek. Kesimpulannya, tubuhku kecil di antara yang lain.

Beberapa tahun setelah lulus kuliah, saat aku menginjak usia 27 tahun, aku beli celana. Ukuran pinggang 29 tapi ukuran panjang harus dipotong kurang lebih 2-3 cm. Dengan begitu aku mendapatkan ukuran yang sesuai.

Tapi dua tahun kemudian, aku sadari dari hari kehari, celanaku semakin memanjang. Terpikir olehku bahwa ukuran tinggi badanku menyusut. Seketika juga aku ingat penjelasan guru SD-ku bahwa tinggi badan, setelah lewat masa pertumbuhan tidak bisa bertambah maupun berkurang.

Aku pun tenang dan mencoba mengecoh pikiran bahwa celana yang aku pakai saat ini bukanlah celana yang aku potong dua tahun lalu.

Kian hari kian penasaran. Aku heran kenapa semua celanaku harus aku lipat bagian bawahnya. Semua celanaku. Inilah yang membuatku mulai meragukan penjelasan guru SD-ku. Sebab ukuran tinggiku menyusut. Setelah aku perhatikan dengan seksama, benang jahitan celana yang aku kenakan saat ini di bagian bawah berbeda dengan atas. Inilah celana yang dulu pas ukurannya setelah aku potong di tukang jahit.

Makin lama makin memanjang celanaku. Tiap bulan bertambah beberapa mili. Ini jelas bahaya. Aku harus sering-sering naik angkutan Kopaja sambil berdiri menggantungkan tangan pada besi pegangan yang ada di atas langit-langit bus. Semoga saja ini dapat kembali mendongkrak tinggi badanku. Karena kalau memang bisa menyusut berarti masih bisa sebaliknya.

Aku gerah dengan semua ini. Semakin gundah dan khawatir. Tapi buat apa? Sebab guruku memang benar. Aku tidak lagi bisa bertambah tinggi, menyusut tambah rendah pun tidak. Aku hanya bertambah kurus dari hari ke hari. Sehingga celanaku melorot dari ukuruan sebelumnya. Pinggangku yang mengecil. Aku makin kurus. Saat itulah aku kembali percaya dengan pernyataan guruku.

Senin, 31 Maret 2014

Karisma

"Aku punya karisma tersendiri. Dimanapun aku berada, khususnya ketika mendatangi tempat baru, orang-orang akan menganggapku lebih tinggi, lebih, lebih, lebih jago, berilmu, pinter atau segalanya. Sehingga ketika misal ada pemilihan atau pencarian pemimpin baru, sudah dapat kupastikan mereka akan menunjukku."
"Ah, masa? Perasaan lu aja kali itu?" tanggap Asih, yang tampaknya serius.
Melihat raut tanpa guraunya ditambah senyum sinis, aku sedikit gentar. Ingin rasanya segera mencabut pernyataan yang kuutarakan tadi. Tapi telat, semua telah terkata dan terdengar olehnya.
Habis mau bilang apa? Dia sendiri yang memancing agar aku mengucapkan itu. Di sela-sela santai di sebuah kantin, dia tanya soal pengetahuan diri masing-masing. Ya aku jawab apa adanya. Itu jawabanku di atas.
Sebenarnya, rentetan kata itu belum lengkap. Masih ada sambungannya. Aku sengaja jeda berkata beberapa saat untuk menghela napas. Karena kalimat selanjutnya, bagiku lumayan berat diutarakan. Jawaban Lisah itu membuat mulutku tak hanya berat lagi, melainkan lebih parah lagi, terkunci.
Asih pun tiba-tiba terdiam pas usai mengatakan pertanyaan tanggapannya padaku. Air mukanya menyiratkan sedang berpikir. Tapi aku tak mau memastikan demikian. Aku bukan sosok ahli membaca mimik wajah. Bisa saja ia tengah melamunkan mantan cowoknya yang playboy. Bisa juga ia sedang menghayal jorok. Misalnya membayangkan ngupil atau ngorek-ngorek telinga.
Diam diantara kita cukup lama. Ada sekitar tiga menit. Ini lumayan parah untuk ukuran dua orang teman yang sedang ngopi bareng. Hanya gara-gara Asih menanyakan tanggapan atas pertanyaanku.
Aku tak boleh terus begini. Harus ada tips dan solusi, memecah keheningan ini. Nanti pengunjung-pengunjung kantin yang bergeng-geng itu mengira kami sebagai sepasang sejoli yang sedang marahan.

--
Dua hari berselang, Lisah datang ke kamarku. Ia tak sendiri. Ada tiga orang cowok, yang hadir lima menit setelahnya. Tujuan mereka tidak ada. Hanya ngopi di kamarku, ngobrol-ngobrol biasa. Tak apa-apa kan? Nggak dosa.
Kesempatan lima menit ini kami manfaatkan untuk ngobrol bareng. Membincang orang-orang yang punya masalah dengan dunia akademik formal. Ini bukan tanpa pemicu. Awalnya, Lisah melihat buku-buku kuliahku. Lalu menanyakan status kemahasiswaanku. Aku pun bingung, kenapa aku sulit sekali mengikuti aturan akademis, sehingga harus lulus di kampus yang berbeda. Aku juga heran dengan diriku, yang mungkin, sekali lagi mungkin, menderita gangguan kejiwaan bipolar. Aku sering bosan, susah fokus, dan kebetulan juga kadang bisa berada pada kondisi depresi berat. Saat-saat semacam itu, aku biasanya lebih produktif menghasilkan karya tulis, yang dinilai beberapa orang bagus. Bahkan, kau tahu, aku masuk dalam 12 Tokoh Sastra Berpengaruh menyaingi 33 Tokoh Sastra bikinannya Denny Cagur, eh salah, Denny AJ. Eh salah lagi ya, ah, Denny mang ada-ada aja... Denny, simbol kapitalisme Indonesia. :D
Ah, kau pasti tak percaya. Kau yakin ini hanya rekayasa. Ya, rekayasa memang bajingan. Semuanya bisa dipoles asal siap menggelontorkan uang. Aku jadi ingat, nasihat seorang teman, waktu aku kekusahan ngegembel di Jogja. Temanku itu menilai aku terlalu idealis, hingga bisa sampai pada kondisi harus ngemis. Ngemis minjam materi, ngemis makan, jasa, dan sebagainya.
Padahal aku bukan sosok idealis. Aku orang bodoh. Saat jatuh pada kondisi harus ngemis pada sahabat dan teman-teman yang mau menolong, itu karena aku memang tak tahu harus mencari uang dengan gimana lagi. Kerja aku tak bisa tahan lama. Aku sering kalah atas sengatan depresi yang membuatku ingin bunuh diri. Padahal kata orang dan teman-temanku yang lain, itu konyol. Menurutku tidak. Itu pilihan. Ketika semua tak tertahan, ya yang memilih bunuh diri silakan.
Aku sendiri masih hidup sampai saat ini bukan lantaran menilai itu konyol dan menganggap hidup ini lebih berharga daripada mati. Aku ini seorang dengan gangguan jiwa akut. Kalau sudah mencapai level merah depresiku, aku selalu ingin mati. Ingin mematikan diri. Yang tak bisa kutahan adalah rasa sakit. Sementara untuk bunuh diri itu sakitnya nggak ketulungan. Kau tahu bagaimana orang gantung diri, minum racun, mengiris nadi, dan sebagainya. Semua itu butuh proses untuk sampai pada kematian. Orang mesti kejang-kejang, muntah-muntah dengan mulut berbusa,  dan seterusnya. Itu sangat menyakitkan. Aku tak tahan.
Bukan. Bukan aku takut. Aku cuma tak tahan. Aku pernah mencoba mengiris nadi, sakitnya bukan kepalang. Padahal silet baru menyobek beberapa mm kulitku. Sakit bego! Bukan aku takut mati. Aku sudah sangat siap. Terutama waktu itu. Karena aku tak percaya dongeng-dongeng alam kubur. Juga tak masuk akal surga neraka itu. Aku yakin, kematian adalah jalan menuju keabadian. Karena jiwa itu bagian dari ketuhanan, yang tentunya abadi juga. Hanya saja, aku mungkin harus tersiksa karena jiwa atau ruh itu tak bisa melakukan apa-apa tanpa jasad yang bergerak, kecuali hanya keinginan-keinganan dan harapan yang yang menimbun.
Aku juga pernah meminum obat anti nyamuk. Bukan mati malah mabok. Ah, intinya bunuh diri itu sakit. Karena dilakukan atas kesadaran penuh. Maka beruntunglah bagi mereka yang tidak pernah sadar. Karena kehidupan akan terasa indah dan tak mungkin tersakiti.
Tapi aku masih beruntung, semua itu tak tercium oleh orang-orang disekitarku. Aku dikaruniai anugerah berupa karisma. Karisma ini membuatku tercitra seakan sosok orang kuat, pintar, smart, cerdas dan bisa menjalankan skill apapun. Khususnya dalam keilmuan sosial.
"Kenapa ya banyak orang-orang cerdas itu menentang aturan?"
Nah! Itualah pertanyaan Asih yang awalnya menanyakan kondisiku yang bermasalah di kuliah dan pada aturan di tempat kerja. Dia sendiri saja tanpa sadar mengakui bahwa aku punya karisma yang sanggup menutupi berbagai kelemahanku.

Bersambung

Kamis, 16 Januari 2014

Ujian














“Eksistensialisme”-mu sedang diuji.
Masa-masa mengambang
penuh kecemasan.
Terjerat di jaring-jaring zona nyaman.
Sebuah mimpi indah.
Saat terbangun
hanya menyisakan senyum.
Sementara sekam yang menimbun
bara kian terkikis.
Terbuka mata memandang diri
telah berada di lereng jurang.
Bukan ketakutan pada subjek pengancam.
Namun kecemasan
menentukan tindak tunjuk.
Di tiap keputusan teruntai puluhan pilihan
rimbun mengayun menjuntai rumbai mengelap kenyataan
Harapan, keputusasaan, kesabaran, keyakinan berbaur melangkah
di tengah basah bekas hujan di jalan yang sunyi

Jumat, 27 September 2013

Lagu

Sebuah lagu adalah mantra. Mesin waktu yang tiap saat siap menyedot sukma kesadaran pada nuansa yang pernah lalu. Sejak dentam bass dan gesekan ritme gitar itu berbunyi, aku hilang dari kekinian.
Masih di kamar yang sama, kepalaku penuh dengan pikiran dan rasa ketika putus asa menjerat harapan.
“… When you give me love, when you give me love, I have no fear ….”  Begitu diantara kalimat lagu yang didendangkan Katie Melua berjudul No Fear of Heights. Tembang ini kukenal pertama kali sebagai salah satu soundtrack film The Tourist.
When you give me love, I have no fear merupakan kalimat yang langsung masuk pemahamanku. Menyentuh titik sensitif jiwa. Mengarahkan langkah untuk terhubung internet, melakukan pengunduhan.
Kenikmatan mendengarkan lagu tersebut boleh dilukiskan bagai aku berada di pengapungan. Kesedihan dan nikmat yang terkatung-katung diantara keputusasaan, kepasrahan, dan hasrat untuk menghadapi apapun selama deras waktu kehidupan mengalir.
Semomen, karakter melankolisku mendapat pembela. Penguat bahwa jalinan asmaraku dengan seorang perempuan di seberang maya yang kian berkabut, semu, dan terkira buntu, akan tetap berlangsung.
Sebelum ini, keyakinan kami berdua mulai tanggal. Seiring makin menipisnya kenyamanan akibat kian layunya bahagia bunga jumpa pertama. Dia lelah menanti. Aku bingung mencari. Pasti.
Membabat semak belukar, coba mencari jalan lempang ke masa depan yang aman. Sayang, pandang mata kami tidaklah panjang. Pelita di tangan hanya lilin kecil. Cukup saja menerangi diameter tiga jangka. Terbuka satu sisi terang, berarti gelap di sisi lainnya. Dia lelah menanti. Aku bingung mencari. Pasti.
Seandainya bukan lantaran takut akan sakit tak tertahan, mati menjadi satu pilihan. Aku terlalu pengecut untuk berjudi mengambil tindakan. Dia pun mulai bosan. Lampu mercusuar penarik gerakku segera dipadamkan.
“Jangan dulu. Aku segera datang. Gelap ini membuatku ngeri. Tapi itu bukan apa-apa. Karena ketika kau memberikan cinta, aku tak takut lagi.”
Melalui jagat virtual, kusampaikan lagu itu untuk dia dengarkan. Ia pun tersenyum kembali. Kobar mercusuar kembali terang. Tapi apa daya. Bunga terlalu layu. Tak tersisa lagi harumnya.
Kelelahanmu telah kronis, pencarianku makin kritis. Tak dapat lagi kutahan pemadaman abadi sorot mercusuar yang merangsang gerakku.
Sudahlah, aku juga kepalang bingung mengurai pekat untuk meniti arah ke dermaga kehidupan bersamamu.
Padam. Hitam. Senyap. Aku terapung sendiri di tengah samudera, tanpa tahu sebenarnya dimana kau berada. Aku tetap berlayar di samudera keputusasaan. Beragam percobaan untuk menenggelamkan diri hingga mati, aku lakukan. Tapi sedikit kesadaran yang masih kupunya mengatakan, aku tak mungkin tenggelam. Sebab telah berada di perut samudera. Karena kesemuan, segalanya bisa tampak seperti daratan. Layak kampungnya Spongebob, Bikini Bottom.
Meski tak bisa, aku tetap mencoba. Berusaha mengakhiri diri. Hingga kuinsyafi, aku tak bisa mati. Hidup adalah kenyataan yang mau tak mau harus dijalani.
Sampai kini, setelah melewati, merasakan, serta menciptakan berbagai nuansa, rasa itu kembali manakala No Fear of Hights diputar kembali. Nuansa hilangnya cinta. Nuansa putus asa. Nuansa yang tak sanggup berbuat apa-apa. Aku benci itu. Namun dengan hanya mendengarkan lagu ini, aku bisa menghadirkan dia lagi. Hadir yang untuk melukai, lalu pergi. Luka yang nikmat. Menusuk hati, mengalirkan darah untuk membasuh kesedihan. Melapas dahaga kerinduan.
Tak ada cinta yang sia-sia. Cinta hanya berkata dengan bahasa yang tak dapat diterjemahkan ke seluruh tata kata ciptaan manusia. Bahasa cinta adalah bahasa tanpa bahasa.

Gambar: wakpaper.com

Kamar Instalasi - Legoso, 26 September 2013

Selasa, 24 September 2013

Sidang

Aku datang ke ruang yang dianggap pendopo itu lewat nganga mulut perempuan. Lidahnya menari-nari usai kusampaikan kerinduan terhadap seorang teman lama.
Mengendap-endap gaya maling. Sedikit tanya banyak mendengar. Aku menyelinap di balik daun bibir bawahnya. Meluncur pada liuk-liuk lidahnya yang licin.
Tibalah dalam shaf setengah lingkaran. Satu dua partisipan datang terlambat celingukan. Entah datang lewat mulut siapa. Mukanya penasaran.
Dalam shaf setengah lingkaran ini, ekspresi muka terbagi dua secara garis besarnya. Yang membenci dan yang simpati. Yang abu-abu dianggap masih kurang antipati.
Setengah lingkaran shaf tersebut menyudut sosok lelaki. Mimiknya datar. Tak ada ekspersi salah atau menyesal. Hanya pasrah.
Duabelas jam lalu, ia dipergoki mengintip perempuan mandi. Aksinya dilengkapi kegiatan merekam dengan ponsel.
Alhasil, yang diintip marah, lalu membawanya ke sidang besar dengan tuduhan berlapis. Melakukan perbuatan tidak menyenangkan, asusila, dan amoral.
Para teman baik terdakwa hanya geleng kepala, agak tak percaya. Sebagian mereka berharap agar forum memaafkannya, atas alasan yang bersangkutan telah banyak berjasa. Disamping itu, bakat miliknya luarbiasa. Tak hanya potensial, tapi juga telah aktual. Ia adalah mutiara yang kini tercebur di tengah kubangan lumpur. Tapi demikian, mutiara tetaplah mutiara.
Sebagian lainnya tak bisa selain pasrah. Menunggu hasil ketetapan sidang yang akan dijatuhkan.
Beda halnya mereka yang sejak lama memiliki rasa ketidaksukaan pada Terdakwa. Kebencian dengan macam-macam motif, latarbelakang, dan alasan. Mereka kukuh menuntut Terdakwa dihukum berat, dikeluarkan dari lingkungan kekerabatan untuk selama-lamanya.
Musyawarah tak menemu titik cerah. Voting diambil sebagai langkah akhir menyudahi segala kemelut di ruang yang dianggap pendopo itu.
Hasil voting, draw. Membuat ketegangan menjadi-jadi. Umpama dag-dig-dug jantung menyaksikan drama adu penalti dalam final Piala AFF U-19 2013.
Tetua sidang mengusulkan voting ulang. Berharap suara abstain berubah pikiran. Tentu saja pihak penuntut menolak. Argument-argumen diperkuat pakai kutipan pasal-pasal dari buku pedoman.
Terbentuklah kemelut debat yang makin kacau antar kedua pihak.
Menyadari parahnya situasi, Terdakwa mulai membuka mulutnya. Ia akan segera menentukan sikapnya.
Semua mata terpana. Hening muncul akibat lidah-lidah kram kaku terbujur.
Dari mulut pintu masuklah seorang, telat datang. Diberi penjelasan sebentar tentang tragedi yang ada. Diminta menentukan pilihan sekarang juga.
Sang Terdakwa resmi terusir dari kalangan. Ia terbuang dan melanglang. Kabarnya sekarang ada di seberang. Entah seberang yang mana.
Aku duduk di bangku paksa. Bangku yang bukan bangku. Menjadi bangku karena selalu digunakan sebagai tempat duduk.
Di situ aku mencoba membuka pintu lewat kail kata di kolam telinga. Melongok mulut lainnya. Berasa kembali ke waktu sidang itu dilaksanakan. Mencari beda gatra.       Tapi yang tampak hanya bayang titik kecil dikejauhan. Entah itu dimana. Dialah orang yang divonis itu.
Selamat jalan sobat. Aku tak berhak menentukan sikap. Tak guna juga sikapku bila berhak. Mungkin malah negatif efeknya. Kau dan kerabatamu punya hukum dan aturan sendiri. Tatanan, sistem, harmonisasi, body dan anti body.
Tak niat pula aku mengabadikanmu. Karena kau bukan Tuhan. Bukan lantaran aku liyan, tempayan atau kemenyan. Aku cuma ingin menulis. Menulis apa saja saat ngising di kamar boker. Ternyata kisah ini yang terbaca. Mungkin mirip kisahmu, tapi jelas tak sama. Bisa malah melenceng 180 derajat.
Ini hanya tulisan fiktif. Normal aku mengharap kau dan orang-orang yang membaca tidak berpikiran naïf.
Selesai di sini. Selesai begini.
Bersihkan segala kebrutalan pikiran. Aku tidak bertanggungjawab atas tindakan, tuntutan, juga pertanyaan yang tiba-tiba hidup dipikiranmu. Bangkit bagai zombi di otakmu yang malam. Tanpa bulan. Berubah hakim yang menyidangku.
Sekarang, aku yang dipikiranmu tunduk. Dia bukan aku. Dialah satu, untukmu, dari 1000 bayangan yang kusulap.
Sebagai Tuhan pencipta tulisan ini, aku telah mati di sini. Inilah jagat yang kubuat dan kuhancurkan sesukaku.
Di titik akhir paragraf ini, berakhirlah status ketuhananku terhadap alam cerita yang baru kau baca. Tak terkait lagi akuku dengan pikiran prasangka yang muncul di kemudian, di kepalanmu, kepalanku, dan kepalan mereka.

Kamis, 05 September 2013

Membunuh Tiga Perempuan?




Waktu itu sih, gue lagi rebahan. Semalam cuma dapet tidur sejam. Eh, cuaca panas banget. Mana kamar nggak ada kipas angin, apalagi AC. Tapi tetep, gue maksain untuk mejemin mata.
Selang beberapa menit, karena nggak tahan gerah, gue nyerah. Padahal sudah lepas baju pakai kaos doang sama celana boxer tanpa celana dalam.
Akhirnya gue buka mata. Tangan gue sudah menggenggam sebilah pedang! Pedang panjang sekali. Seperti yang dipakai oleh Tipu Sultan. Gagangnya dari perak.
Gue heran.
Lalu pedang itu gue angkat, sembari bangun untuk duduk. Winamp di komputer masih nyala tapi monitor padam. Lagu yang terputar judulnya Anjeun milik Karimata. Tak tahu kenapa, entah sejak kapan lampu kamar gue mati. Gelap sekali. Padahal seingiat gue, sebelum rebahan tadi nggak matiin lampu.
Tangan kiri gue coba meraba-raba mouse. Saat monitor nyala, gue tambah kaget, ada tiga cewek tergelimpangan di samping gue. Dua berambut panjang, satu bondol. Di dada mereka membekas luka masih baru. Darahnya mengalir.
Mata gue langsung tertuju ke pedang di tangan. Ada darahnya juga. Menetes-netes membasahi tangan kanan. Gue bingung, langsung pingsan.
Nggak terasa lama, gue bangun lagi dengan pedang masih di tangan. Bersih mengkilap. Tiga cewek tadi sudah bangun juga. Seger malah, tanpa luka. Yang bondol sok cool menatap gue sekilas. Ditentengnya sebuah laptop. Dengan acuh dia duduk bersila. Pahanya tampak putih mulus, karena hanya mengenakan celana pendek.
Pelan-pelan ia membuka laptop. Cemarinya lentik menulis sesuatu. Saat gue mendekat dan membaca, ternyata ia menulis tentang berbagai kebencian tentang gue. Katanya, gue orang nggak tahu diri, nggak dewasa, gila, konyol, tolol, dan segala sesuatu yang membuatnya ill feel.

“Eh, elo nggak usah ke-GR-an. Gue memang pernah suka sama elo. Tapi mesti elo tahu, suka gue itu tanpa alasan. Nggak logis. Dan gue nggak pernah kan langsung ke elo bahwa gue suka, gue cinta? Kecuali saat gue nggak sadar. Dan elo percaya itu? Percaya pada ketidaksadaran? Gue cerita ke temen-temen bahwa elo cakep, elo cantik. Ya sekadar itu. Padahal gue nggak merasa begitu. Elo tahu gue suka bohong. Tapi kenapa elo percaya bahwa yang gue omongin ke temen-temen itu adalah benar?!” bentak gue padanya.

Dia nyinyir. Nyengir. Mukanya nggak enak. Terkesan makin memandang gue hina. Ia menulis di halaman word di laptopnya. “Terus mau elo apa? Ngancurin hidup gue?”

“Gue juga nggak tahu! Gue melakukan semua ini mengalir. Mengikuti arah angin. Gua adalah perahu layar bajak laut. Yang selalu terpesona oleh keindahan kemilau harta karun. Sepertimu.”

“Elo, kira gue harta buat elo? Elo kira gue santapan, hidangan, persembahan buat elo?”

“Bukan. Gue anggep elo sebagai ciptaan Tuhan yang maha indah. Dan gue mengagumi elo.”

“Pergi elo dari hidup gue. Jangan ganggu gue lagi. Apes buat gue ketemu elo. Gue kira dulu elo keren. Bisa jadi panutan. Ternyata cuma nambah kepenatan di otak gue!”

“Gue mengagumi elo.”

“Gue nggak butuh dikagumi. Gue nggak butuh kagum!”

“Gue cinta…”

“Setop. Gue nggak butuh cinta elo. Gue emang pernah terpesona sama elo. Tapi sekadarnya. Dan sekarang gue jijik sama elo!”

Gua nggak kuat menahan kesedihan akibat kata-kata itu. Gue benci kejijikan seseorang. Maka gue tusukkan pedang di tangan ke dadanya. Biar dia mati selamanya. Enyah dari otak gue.

Musik di playlist winamp memutar gesekan kesedihan karya Bach. Menyayat-nyayat. Mata gue beralih ke satu cewek berambut panjang. Berulang-ulang coba gue palingkan, tapi tetep balik lagi.

“Elo dulu juga pernah kagum sama gue. Lalu meludahi gue. Bermain di belakang gue.”
Langsung gue tusuk juga jantungnya dengan pedang tajam itu.

Masih ada satu cewek lagi. Ingat. Ya masih ada satu lagi. Gue tahu dia juga pernah kagum sama gue.
Dia menggeser langkah perlahan ingin pergi. Antara takut juga jengah akibat hilangnya rasa kagum terhadap gue.
Apa yang mereka kagumi pada diriku? Gue juga nggak tahu pasti. Maka, ketika mereka tak lagi kagum, gue nggak terima. Mereka telah merenggut milik gue, yakni rasa dikagumi.
Cewek rambut panjang yang sisa satu ini mau menghindar. Pergi. Ia takut dan mungkin mulai muak.
Gue ingin mengalihkan mata dari memandangnya. Tapi tak bisa. Gue selalu ingin melihatnya. Dan gue benci dia ketakutan. Gue benci dia perlahan pergi. Rencana gue bulat ingin membunuhnya. Gue angkat pedang. Dia merunduk tak sanggup menghindar. Lalu gue tancapkan dengan sisa kekuatan, kekesalan, kedukaan, kesepian, kesendirian, keterbuangan, rasa ketakmampuan, dan dimarjinalkan oleh semua orang. Gue hunuskan pedang itu.
Sebelum semua ini berakhir, ingin gue jelaskan bahwa gue nggak tega membunuh cewek rambut panjang yang ketakutan pada gue itu. Sekarang dia entah lari kemana. Biarlah, walau gue sedih. Karena kalau pun dia menangis, bukan menangisi gue, tapi lantaran takut akut melihat pedang yang masih tertancap di dada kiri gue.
Winamp kembali memutar sayatan biola Bach. Lampu kamar pecah dengan sendiri. Mati. Di lantai tergeletak tiga sosok dengan luka di dada, jasad gue, satu cewek rambut bondol, dan satu lagi cewek berambut panjang.
Panas suhu udara tak lagi membuat gerah. Tak juga membangunkan gue dari tidur yang panjang.

Kamar Instalasi 3 September 2013  

Gambar: Titanic (1997) - id.wikipedia.org
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html