Selasa, 13 Juli 2010

Pasrah III

Kisah Cinta Bunda Dan Om

Ini cerita dari Bunda Opie, Isri guru kami Om Budi.*
Setahun lebih sudah usia pernikah Bunda Opi dan Om Budi. Sebelum menikah, mereka telah berstatus janda dan duda. Om Budi menduda setelah ditinggal wafat istrinya. Sementara mengenai latarbelakang kejandaan Bunda Opie kami tak begitu tahu.
Om Budi dan Bunda Opie berkenalan melalui seorang teman. Kebetulan keduanya memiliki latar belakang seniman. Selain itu, keduanya juga pernah mengalami kegagalan cinta. Om Budi sendiri, pernah bercerai dengan almarhumah istrinya, demi mengejar perempuan lain. Meski akhirnya ia kembali kepada almarhum sang istri, namun rasa bersalahnya amat dalam ketika sang istri mendahului menghadap Sang Maha Kuasa. Sedangkan mengenai masa lalu dan kegagalan cinta Bunda Opie, kami tak bisa menceritakan karena kami tak tahu dengan jelas. Tapi yang pasti keduanya pernah bermasalah membina rumah tangga. Bedanya, Om Budi pernah mengalami penyesalan akibat sebuah kesalahan, sedang Bunda Opie pernah menyesal karena dikecewakan.
Karena latarbelakang itu, pada mulanya, Bunda Opie tak begitu saja percaya dengan Om Budi. Bunda tak mau kisah pahitnya terulang. Begitupula Om Budi, penyesalan mendalam, membuatnya jera berkubang pada kesalahan.

Merasa telah cocok, Om Budi langsung mengutarakan niat menikahnya pada kedua orang tua Bunda Opie. Padahal, Bunda Opie kala itu masih belum benar-benar percaya dengan Om Budi. Banyak pertimbangan di atas kepalanya. Beberapakali mereka janjian ketemu, Bunda Opie sengaja datang telat. Tanpa tujuan, ia harus muter-muter mall, hanya demi memenuhi rasa ketidakpercayaannya. Setelah itu baru ia datang ke tempat perjanjian.
Sampai di sini mulai terlihat karakter protektif Om Budi. Protektif karena sayang. Bermula ketika Om Budi menemani Bunda membuka facebook di warnet. Om Budi melihat ada sebuah pesan di Inbox FB Bunda, yang isinya sebuah ucapan selamat atas hubungan mereka. Pengirimnya adalah seorang lelaki. Dia adalah mantan pacar Bunda, pasca menjanda.
Om Budi pun langsung terbakar cemburu. Ia marah dan meninggalkan Bunda begitu saja. Karena merasa tak ada yang aneh dengan isi inbox di FB-nya, Bunda tak merasa salah. Ia membiarkan Om Budi pergi meninggalkan amarah dan sempat menghenyakkan kedua pundak bunda.
Beberapa hari berselang, rindu yang tak biasa melanda keduanya. Namun gengsi perempuan masih memaksa Bunda untuk tidak menerima telpon dari Om Budi. Hingga suatu hari Om Budi mengabarkan lewat pesan singkat bahwa ia sedang sakit.
Rindu mendalam semakin matang dengan bumbu rasa iba. Berat hati tak dihiraukan Bunda. Ia angkat ponsel dan menelepon Om Budi. Tapi ternyata emosi masih bercokol di hati keduanya. Terjadilah adu mulut. Bunda menilai sikap Om Budi kekanak-kanakan, tidak dewasa dan nggak jelas. Kecemburuan Om Budi adalah cemburu buta tanpa dasar. Sebaliknya Om Budi tetap bersikukuh agar Bunda menghapus pesan inbox itu serta me-remove lelaki itu dari FB dan kehidupannya.
Bunda tetap kukuh dengan pendiriannya. Baginya keinginan Om Budi itu tak berdasar dan sangat kekanak-kanakan. Sampai tiba-tiba terdengar suara benturan berkali-kali dari speaker HP Bunda. “Dug-dug-dug braaaakkk”. Bunda kaget. Ia menanyakan apa yang terjadi di sana. Tapi Om Budi tak menjawab jelas. “Sudah, sudah, aku pusing. Pusing, pusing banget,” kata Om Budi disamput putusnya HP. Tak jelas apa yang kini dirasakan Bunda dalam hati. Tapi ia harus datang ke rumah Om Budi esok siang.
Keraguan semakin besar hinggap di jantung Bunda. Siang itu ia bertarung antara iya dan tidak. Terpaksa untuk memilih dua hal itu, Bunda harus kembali melakukan kebiasaanya saat kebingungan. Muter-muter Mall tanpa ada tujuan membeli sesuatu.
Menjelang magrib, tekad Bunda bulat datang ke rumah Om Budi. Sampai di sana, Bunda disambut Encang, bapak almarhum istri Om Budi yang tinggal di rumah itu. Om Budi sendiri terbaring di kasur busa yang tergeletak di lantai ruang tamu. Di depannya TV menyala ceria.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bunda berlutut memegang tangan Om Budi.
“Kamu kenapa sih?” tanya balik Om Budi.
“Kenapa apanya?” Bunda heran.
“Ya kenapa seperti itu?” Om Budi bertanya lagi.
Diam menyelimuti ruangan. TV di depan juga menayangkan sebuah sinetron dengan adegan tangisan. Tak lama kemudian Om Budi bangkit, duduk di samping Bunda. Ia menyatakan ketulusannya untuk menikahi Bunda. Mendengar hal itu, Bunda kembali diam. Ia tak tahu harus bicara apa.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam. Bunda harus pulang. Ia bangkit dan berpamitan pada Om Budi serta Encang.
Om Budi masih terpaku dalam duduknya. Ia tak mau beranjak saat Bunda berpamitan. Mereka diam berhadapan selama beberapa detik. Akhirnya Bunda tetap beranjak dan meninggalkan Om Budi dengan ucapan salam. Namun langkah Bunda tertahan di teras rumah. Om Budi berdiri dan memenggilnya. Tatap mata mereka kembali beradu. Diam. Selang beberapa detik Om Budi mencoba membuka mulutnya.
“Kamu kenapa?” tanya Om Budi mencengkeram kedua lengan Bunda.
“Kenapa apanya sih?” tanya Bunda sebal berusaha memberontak dari cengkraman tangan Om Budi.
Beberapa mobil dan motor yang melewati rumah di Jl. Swadaya Pondok Ranji itu seperti tak bersuara. Di dunia ini serasa hanya ada dua mahluk, Om Budi dan Bunda.
“Kamu kenapa seperti ini?” tanya Om Budi lagi.
Bunda diam menatap tajam. Sorot matanya menembus lubang pupil mata Om Budi. Seakan ia mencari sesuatu dari celah kecil yang tampak lebar itu. Demikian pula Om Budi, ia membiarkan Bunda mengacak-acak ruang hatinya. Om Budi membiarkan Bunda seperti seorang polisi yang ingin mencari barang bukti. Menggeledah setiap sudut ruang hatinya. Berharap menemukan sebuah barang bukti.
“Kamu kenapa seperti ini?” Om Budi tak tahan mengulangi tanyanya.
“Mmm..., aku masing ingin...,” kalimat Bunda tersendat ditenggorokan. Om Budi diam menanti lanjutan kata itu.
“.... aku ingin mencari yang terbaik?”
“Memangnya aku nggak baik?” sambar Om Budi tiba-tiba. Perlahan ia melepaskan cengkraman tangannya. Diusapnya kepala perempuan yang berbalut kerudung di depannya itu. Bunda meninggalkan Om Budi dengan rasa tak keruan. Sebelum benar-benar hilang ditelan jalan, Bunda dan Om Budi saling memandang dari jarak sepuluh meter. Entah apa yang mereka rasa saat ini....

Bersambung Ke Pasrah IV

Pasrah II


-->
Ini adalah lanjutan cerita Pasrah I. Masih tentang kisah mahasiswa sebelumnya. Namun demi memudahkan pemahaman, kita sebut saja mahasiswa tersebut dengan nama Riki (bukan nama sebenarnya).
Susah masih terus menghinggapi batang kehidupan Riki. Sebagimana diceritakan di bagian I, Riki telah mendapat kiriman dari orang tuanya. Tapi kiriman itu tak seberapa. Hanya cukup buat makan satu minggu. Itupun tanpa aksesoris lain, seperti rokok, kopi, cemilan dan sebagainya.
Karena itu ia belum berani tinggal di sebuah rumah kost. Takut tak mampu bayar. Berbagai peristiwa suka duka ia jalani. Dari menemukan barang-barang yang ia inginkan, difinah mencuri. hingga mendapat pacar yang baik dan pengertian. Riki menembak perempuan itu selang lima hari setelah berspekulasi ikut nge-kost bareng temannya. Ini terjadi begitu saja. Tanpa ada rencana dan tanpa ada aba-aba.
Riki mulai kesulitan mengatur kebutuhan hidup, kost-an dan pacaran. Tapi untungnya, perempuan yang menjadi pacarnya sangat baik dan pengertian. Bahkan ia berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup Riki. Begitu baik dan royalnya perempuan itu, membuat Riki lupa bahwa ia pernah miskin. Riki kemudian biasa menghabiskan uang sebesar 25.000/hari. Hal itu tak bisa ia kontrol dan membuat benak Riki ditumbuhi keheranan ganda. Dua buah keheranan yang berujung dua tanya.
Pertama, kenapa dirinya tak mampu menghemat uang? Padahal dulu ia bisa selama lebih empat bulan tanpa uang. Selalu ada kebutuhan yang tanpa disadarinya telah menghabiskan kocek sebanyak itu.
Kedua, darimana pacarnya mendapatkan uang? Riki tahu, pacarnya seorang yang kuliah sambil bekerja. Tapi kenapa pacarnya rela memberi uang sebanyak itu per hari? Dan kalau Riki menolak pemberian itu, pacarnya akan marah dan merasa tak dihargai. Riki pun serba salah. Hingga akhirnya sebuah peristiwa terjadi dan harus memisahkan hati mereka berdua. Orang ketiga datang ikut memerkeruh suasana. Pacar Riki selalu tak mau kalah.
Akhirnya putus sudahlah hubungan mereka berdua. Riki kembali dengan kesendirian. Dia harus memutar otak agar kebutuhan sehari-harinya cukup. Tambah lagi perkembangan jiwanya, memaksa Riki untuk mengontrak sebuah kamar kost sendiri. Ia pun pasrah pada Tuhan. Riki yakin, Tuhan telah menyediakan dana untuk kamar kost barunya ini. Dan benar. Enam bulan ia lewati, kamar kost-nya pun selalu terbayar. Walau kadang telat. Tapi itu biasa. Betul apa tidak ibu kost yang manis??? ;-)
Pada suatu hari, Riki merenung di tengah ramainya Kantin. Ia ingat akan kepasrahan yang memberinya kekuatan. Terus bertanya-tanya dengan pernyataan kawannya, “ketika kamu pasrah, bukan berarti kau tidak melakukan apa-apa. Otakmu tetap bekerja walau raga telah menghentikan pekerjaannya..”
Riki tetap belum paham maksud kalimat ini. Hingga akhirnya ia menjumpai sebuah peristiwa besar….
Berkorelasi ke Pasrah III

Pasrah I

Pasrah. Siapapun pasti pernah berada dalam keadaan ini. Biasanya, orang mengambil sikap pasrah setelah merasa tak ada lagi usaha lain yang ia bisa lakukan. Pada posisi itu, ia hanya berharap pada keajaiban agar apa yang diinginkan tercapai.
Hal itu pernah dialami oleh seorang mahasiswa, yang tak mendapat kiriman dari orang tuanya selama berbulan-bulan. Ia juga tak punya cukup waktu untuk melakukan pekerjaan sambilan yang menghasilkan uang, sebab jadwal kuliah dan kegiatannya sangat padat. (Tentu saja, tak semua mahasiswa pernah mengalami hal semacam ini). Penulis sengaja tak menyebutkan namanya, demi menjaga privasi sang pemilik cerita hidup.
Menghadapi situasi tak menggembirakan ini, sang mahasiswa terpaksa harus numpang nimbrung makan di tempat teman, ngutang di warteg langganan dan pastinya pasrah pada Tuhan. Ia berkeyakinan penuh, tak ada satupun makhluk ciptaan Tuhan yang tidak diberikan-Nya rizki. Selama seseorang masih ditakdirkan hidup, selama itu pula rizki dari Tuhan ada untukknya.
Bagi mereka yang pernah mengalami hidup sebagai mahasiswa, tanpa kost-an, tanpa kiriman uang, tanpa penghasilan dan seterusnya, pasti akan tercengang ketika mereka menyadari telah melewati waktu 4-5 bulan tanpa kiriman, dan masih hidup serta sehat-sehat saja. Tentu ada pula yang lebih lama dari ini. Yang pasti, secara fisik dan psikis, hidup semacam ini sangat tidak nyaman,
Waktu itu, mahasiswa dalam tulisan ini, memang benar-benar tak punya uang. Mau ngutang pun sudah malu, sebab kredit utangnya telah melewati batas normal. Ia hanya berharap, ada acara-acara seminar di kampus yang menyediakan nasi kotak gratis. Tapi sialnya, seminar yang digelar oleh beberapa BEM Fakultas hari-hari itu, hanya menyediakan ilmu dan segelas air mineral.
Menjelang pukul 12.00 malam, perutnya mulai melilit. Tapi ia berusaha untuk tak merasaknya. Ia coba membaca buku di kosan temannya. Lagi-lagi ia gagal memfokuskan kosentrasi. Ia pun meneguk beberapa gelas air putih, demi menjaga metabolisme tubuh. Kemudian ia berbaring dan memejamkan mata. Tapi karena perut kosong, pikiran pun jadi bengong.
Seorang kawan mengajakknya untuk bermain kartu remi. Ia bangkit penuh semangat. Harapannya satu, semoga permain ini membuatnya lupa akan lapar. Apalagi tak mungkin orang main kartu tanpa kopi dan rokok. Ia bisa ikut menikmati hembusan nikotin dan lumasan kafein gratis.
Terkabulah harapannya. Bermain kartu mampu memotong waktu. Tak terasa jarum jam telah bergeser ke angka 06.00 pagi. Enam jam sudah ia lewati. Lelahpun dengan sopan menggodanya. Pukul 06.30 ia memejamkan mata dengan tenang.
Karena tubuh kurang asupan gizi, ditambah kecapaian seusai main kartu, mahasiswa itu tidur pulas. Beberapakali ia terjaga, namun badan menariknya kembali memeluk kasur libat yang ditindihnya. Sampailah ia pada pukul 15.00, saat di mana kantuk telah bosan mencumbu kelopak mata. Padahal lemas masih membekap tubuh erat-erat.
Ia bangkit menuju kamar mandi. Kemurnian air telah merembes melewati porinya menuju lubang jiwa. Menyulut derap langkah untuk menjalankan aktivitas seperti biasa.
Ia menuju Kantin Ushuluddin. Berharap ada teman yang membelikan gorengan, sebatang rokok dan beberapa sruput kopi. Hingga gelap membenamkannya kembali pada malam.
Kali ini ia tak lagi memotong lapar dengan kartu remi. Ia pergi ke tempat forum diskusi. Malam itu ada diskusi Filsafat Barat. Dan pastinya, cowok-cowok pegiat diskusi tak mungkin tak berpeluh asap. Ini bisa membuat relax dan sedikit melupakan lapar. Hanya beberapa jam saja lapar mengurungnya. Sesudah itu, kondisi tubuh kembali normal.
Paginya, ia kembali ke kantin. Bercanda dan berwacana serta berkelakar dengan teman-teman. Berbagai hal-hal tak penting ia umbar, membuat mentari enggan berlama-lama menyaksikan. Akhirnya malam tiba berkendara senja. Wajah ayu rembulan tampak pasrah. Bulan tak mau melihat orang yang tengah berlari dari kejaran rasa lapar dan bertingkah semuanya. Tapi bulan tak sanggup menolak tugasnya malam itu. Ini jadwalnya tampil penuh satu lingkaran. Tanggal hijriyah menunjuk 15.
Kali ini sang mahasiswa mencari cara lain untuk bersembunyi dari rasa lapar. Ia pergi ke basecamp sebuah band. Di sana ada gitar. Ia punya rencana, jika lapar datang tiba-tiba, ia akan menyanyikan lagu-lagu metal atau rock. Ia berharap nyanyian itu melenakan rasa lapar hingga tak mengganggu perut serta impian.
Ia memulai dengan sebuah lagu berjudul “Ada Yang Hilang” miliknya Ipank. Teriakannya penuh penghayatan. Mengundang teman-teman tetangga kosan, mengerubunginya. Terkumpulah empat kawanan jomblo. Mereka punya yel-yel “Jomblo Bersatu Tak Bisa Dikalahkan!!!” Setelah yakin tak ada acara lain, keempat jomblowan itu memutuskan waktunya untuk bersantai dengan bernyanyi. Karenanya, segelas kopi dan beberapa batang rokok harus tersedia.
Dua jam lebih bernyanyi, membuat sang mahasiswa lelah dan serak. Disudahinya kegilaan ini. Tapi ia merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu itu adalah rasa lapar. Kini ia dapat melangkah dengan leluasa melewati jalan malam. Tanpa rasa lemas dan rasa cemas.
Di pinggir jalan ia menyapa beberapa kawan yang sedang asyik nongkrong menghidupkan perbincangan dan membincangkan kehidupan. Ia pun mampir. Di sini pun pasti, asap dan kopi tersedia, gratis.
Menjelang subuh, kantuk memanggilnya. Di kosan teman ia terbaring. Hingga ashar tiba ia tak kunjung bangun. Temannya mulai cemas. Takut terjadi apa-apa dengan dia. Pasalnya, ia tidur pulas dari pukul 05.00-17.00. Dengan ketegaan yang minim, teman itu membangunkan sang mahasiswa. Ditanyalah kesehatannya. Sang mahasiswa itu bilang, “baik-baik saja. Cuma kecapaian saja.”
Setelah mandi, sang mahasiswa itu melanjutkan perjalanan laparnya ke Pesanggrahan. Di jumpai Warung Pecel Lele, yang juga menjadi langganan berhutang. Ia mengelus perutnya. Sebenarnya rasa lapar belum datang. Mungkin laparnya masih tertidur di kost-an. Namun sang mahasiswa kasihan dengan lambungnya. Lalu ia memutuskan untuk mengakhiri puasa nasi. Tentu saja dengan jalan hutang.
Hari-hari berikutnya, ia masih kesulitan dalam ekonomi. Namun tak separah empat hari itu. Minimal dua hari sekali, pasti ada saja nasi yang ketemu. Entah itu diajak makan teman, dibayarin, ngutang, dari acara-acara seminar dan sebagainya.
Beberapa bulan kemudian, kondisi ekonomi sang mahasiswa mulai membaik. Kini ia mendapat kiriman, walau jumlah kiriman itu tak seberapa dibandingkan biaya hidupnya di Jakarta. Tapi setidaknya, kiriman itu tak membuat ia menahan lapar berbulan-bulan atau empat hari dengan lambung tanpa nasi. Karenanya, demi menghemat biaya hidup, ia terpaksa menyusun rencana untuk makan nasi dua hari sekali. Tapi ternyata tak berhasil. Baru sehari semalam saja, badannya sudah gemeta, lemas dan keluar keringat dingin. Kepasrahan yang ia punya tak mampu melampaui kepasrahan ketika ia benar-benar tak memegang uang. Ia pun bertanya kenapa demikian? Beberapa tahun kemudian ia menemukan jawaban dari seorang kawan bahwa ketika kamu pasrah, bukan berarti kau tidak melakukan apa-apa. Otakmu tetap bekerja walau raga telah menghentikan pekerjaannya… Namun sang mahasiswa belum paham benar dengan apa yang temannya utarakan. Di malam menjelang tidur, kalimat kawannya itupun terngiang-ngiang, membentuk tanda tanya besar… pasrah bukan berarti diam?

Bersambung ke Pasrah II

Senin, 12 Juli 2010

Aku Tresno Karo Kowe (Anak Monyet)


Special Post Theme "Cinta Monyet"
Pernah mendengar ungkapan hati dalam bahasa Jawa “Aku Tresno Karo Kowe”? Ya, artinya sama dengan “aku cinta sama kamu” atau aisiteru alias I love you.
Namun tahukah kamu, bahwa bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan? Dan ungkapan di atas adalah bahasa Jawa yang berada pada tingkatan awam, umum atau paling kasar?
Seperti kita pahami, kata terakhir “kowe” memiliki arti “kamu”, dengan tingkatan bahasa paling kasar di bawah awakmu, sampean, panjengan dst.
Tetapi, “Kowe” juga memiliki arti lain selain “kamu”. Orang Jawa biasanya memberi sebutan khusus untuk anak binatang. Misalnya anak sapi = pedet, anak kucing = manis, anak gajah = bleduk, anak ayam = piyik, anak entok = minthi dan sebagainya.
Nah, kata “kowe” juga digunakan untuk sebutan anak binatang? Ya, “Kowe” adalah sebutan untuk anak monyet.
Jadi, ketika seseorang mengatakan “Aku Tresno Karo Kowe, bisa juga berarti Aku Cinta Sama (pada) anak monyet…..
Wkwkwkwkwkwkw

Senin, 05 Juli 2010

Titim, Titin, Minin apa Titit….???

Pendahuluan.

Menjadi mahasiswa UIN Jakarta, kadang susah dan kadang enak. Susahnya, ya tak perlu dijelaskan. Cukup pikir serta rasakanlah sendiri. Sedangkan enaknya jadi mahasiswa ialah memeroleh fasilitas dan pelayanan kampus, baik pandidikan, kesehatan, kegiatan dan lain-lain. Ini wajar karena tiap semester, mahasiswa telah membayar semua itu.
Tapi tak jarang, mahasiswa sering merasakan pelayanan yang kurang prima. Hal ini menyulut aksi protes mahasiswa, mulai dari demonstrasi, obrolan kantin, forum diskusi dan sebagainya. Salah-satu yang kerap menjadi keluhan mahasiswa adalah pelayanan kesehatan.
Kita tahu, jumlah mahasiwa UIN Jakarta saat ini kurang lebih 22.000 kepala. Tiap semester, mereka wajib membayar Dana Kesehatan Mahasiswa (DKM), sebesar Rp.25.000-30.000, tergantung ankatan (*bener nggak?). Jika dikalikan, total DKM berjumlah Rp.550.000.000 (bener nggak nih? Gak jago matematika gw…;) Ini baru satu semester saja. Kalau dalam setahun ya, kalikan dua saja. Berapa coba?
Dengan total dana sebesar itu, seharusnya mahasiswa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memuaskan dari Rumah Sakit Syarif Hidayatullah (RS Syahid / RS-nya UIN). Tapi kenyataannya tidak demikian. Tak percaya? Coba dengarkan cerita-cerita temanmu (mahasiswa UIN). Mereka yang pernah atau sering berobat ke RS Syahid, pasti mengenal tablet bernama amoxilin. Bagi RS Syahid, amoxilin adalah pil mujarab yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Sebab mahasiswa yang berobat dengan DKM, akan mendapatkan tiga resep obat dari dokter. Satu di antaranya adalah amoxilin. (ini rata-rata loh, tak percaya? Survey saja sendiri).
Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya transparasi DKM. Berapa jumlah total uang DKM yang masuk kampus dan RS Syahid? Berapa jumlah mahasiswa yang sakit per tahun atau per semester? Dan mahasiswa pun cenderung diam. Tak tahu apakah mereka tak paham hitungan atau malas saja mengurus hal-hal yang dimikian karena kewajibannya hanya belajar di bangku kuliah saja? Wallahu a’lam.

Kejadian di RS Syahid.*

Oke. Kita lupakan sejenak masalah DKM. Ada peristiwa unik, yang pernah dialami Nabil, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum. Ketika itu, kalender di kost-an Nabil menunjukkan tanggal tua. Itu artinya, Nabil tengah menghadapi masa krisis bulanan sebagai mahasiswa rantau.
Karena tak ada jam kuliah, pagi itu Nabil bangun pukul 11.00. Ia baru tidur selepas subuh. Setelah minum air putih dan cuci muka, Nabil merasakan ketidakberesan terjadi di tubuhnya. Meriyang dan sedikit panas. Ia pun segera mandi dan menuju Warteg, dengan sisa kehidupan yang ia punya.
Setelah makan dan minum obat yang ia beli dari toko di Jl. Pesanggrahan, Nabil berjalan lemas kembali ke kost-annya. Ia tak nyaman melakukan aktivitas dengan kondisi kesehatan yang demikian. Ia pun beristirahan merebahkan tubuh di kasur lipat, sambil mendengarkan lantunan musik blues.
Hingga ashar menjelang, Nabil belum pulih dari meriangnya. Badan terasa sakit dan pegal-pegal, plus lemas. Pukul 16.00, lelaki bertubuh gemuk standar ini memaksakan diri berobat ke RS Syahid. Berbekal KTM dan slip pembayaran, Nabil menyongsong haknya sebagai mahasiswa UIN Jakarta untuk berobat gratis.
Sampai di RS Syahid, Nabil harus antri untuk registrasi sebelum ke dokter umum. Ada lima orang di depan Nabil. Satu persatu mereka meninggalkan antrian dengan sepucuk kertas. Tinggalah Nabil dan Seorang perempuan di depannya. Saat itu, petugas yang melayani registrasi adalah seorang pria, tak terlalu tua tapi juga tidak muda lagi.
Nabil memerhatikan perempuan di depannya itu. Kemudian ia menatap petugas yang tampak lelah karena seharian bekerja menghadapi orang-orang sakit. Wajah petugas itu kaku dan tampak kejam. Tak sedikitpun ada senyum di bibirnya. Terbersit sebal juga melihat tampang petugas itu. mungkin juga agak ngeri.
“Nama?” tanya petugas itu pada perempuan di depan Nabil.
“Titim,” jawab perempuan itu meringis menahan sakitnya.
“Hah? Titin?”
“Bukan pak, Titim pakai M...”
“Mimin?”
“Bukan, pakai T, T..”
“Titit..?” tanya petugas itu memastikan.

Mendengar dan menyaksikan dialog tersebut, Nabil tak sanggup menahan tawa. Segera itu juga, meriyang dan panas yang diderita Nabil lenyap di telan canda.

*Kejadian ini nyata tanpa rekayasa. Hanya sedikit dipoles karena proses transformasi dari lisan ke tulisan. Di tulis oleh Pagar Dewo, pada 5 Juli 2010, pukul 04.45 WIC.

Sabtu, 26 Juni 2010

Perempuan Negeri

Dua Ribu tahun lebih terkapar

Mendekam dalam jurang

Tanpa sisi tanpa dekapan

Sekepang tali cinta mengikatku

Ia rasa itu nafsu

Aku rasa itu cemburu

Sayup senyumrencana alam

Membekap gelang kaki

Dalam lubang kenikmatan

Sinar mata membutakan

Dengus nafas menyatu

Tanpa Kata cinta

Tanpa Rasa nafsu

Demi profesionalitas kita bercumbu

Semalam untuk satu hari

Tak puas aku dalam lena

Ia terburu

Pergi dalam bekap jabat tangan

Melempar senyuman

Memerintahkan

Cintaku terpaku

Di sebrang latar warna biru

Kau tak pernah jawab tanyaku

Mengapa selalu menutup pelepah itu

Padahal aku ingin menyusu

Mengusap lembut citra ayumu

Dan engkau tak pernah lena

Hangat terasa selamanya

Langit retak oleh senja

Aku Kaku

Riuh manusia tak berakal

Yang tadi bersorak memekakkan

Mati dalam sampah-sampah bertebar

MTW

Langit kamar berseru
Pergilah! Cari langit selainku
Aku diam
Wajah meringis
Menahan pantul teriaknya
Pikiran mengalir deras
Tumpah tanpa wadah
reagee sedari tadi menemani
Tak lagi jadi konduktor sempurna
Kutikamkan belati
Semakin luber merah darah
Mengalunkan sayatan blues
Senar-senar tajam
Gergaji otakku
Buncah derasnya menghalau
Aku terhempas….
Bertahan pada dinding tripleks
Hanya mampu memejam
Menangis
Merintih
Muntah
Muntah tanpa wadah

Aku mulai

Menari sendiri
Sendiri menari
Menari Bersama
Bersama Menari

Di atas potong-potong jari
Belati
Menembus telinga
Tanpa basa
Basi sampai ke hati

Menari di altarnya
Menggali subur hatiku
Tinggalkan sebiji benih
Yang tumbuh sebatang senyum
Berbuah di bibirku
Birbirmu
Bibirmu yang mana
Yang ini
bibirku
Kau tak punya bibir
Aku tertawa lega

Senin, 21 Juni 2010

Cerita Orang Stress

From One New Port Two Amer

Ah, semalam terjadi lagi. Sungguh aku malu dan membuat malu. Berawal sore pukul 16.00, aku mau ke Galeri Indosat untuk membetulkan nomor. Seorang kawan menawariku makan di warteg. Seorang lagi ingin mengantarku ke Bintaro, ke Galeri Indosat.
Ketika makan, kelopak mata kanan bagian bawah kedutan/berdenyut. Biasanya ini pertanda buruk atau kekecewaan. Spontan aku berdoa memohon perlindungan Tuhan dari hal-hal buruk dan keburukan dari pertanda itu.
Pukul setengah enam, di Bintaro. Galeri Indosat sudah tutup. Ah, ini mungkin yang dimaksud pertanda tadi. Aku menemui kekecewaan karena tak jadi mengurus nomor di Galeri Indosat. Tapi itu bisa aku lakukan esok. Masih banyak waktu.
Akhirnya, kusempatkan waktu untuk menikmati karoke box di Plaza Bintaro. Setelahnya pulang. Sampai di Ciputat, maghrib telah berlalu. Aku coba menikmati New Port. Belum pernah aku coba sebelumnya. Setelahnya, aku merasa agak naik. Sepertinya ini kentang. Aku membeli Two Amer. Dan Terjadilah.

Aku tak sadarkan diri. Meraung-raung berantakan. Bernyanyi dan memainkan lagu pilu, lagu sendu, lagu ceria dan sebagainya. Di kepalaku berputar-putar Ayah, Ibu, Adik-adikku, LS, RTH, Iy, B. AB dan banyak lagi. Dan yang paling mengganggu adalah Icha. Ah, hampir saja aku hendak mendatangi dia. Niatku sih cuma mau bilang I Love U. Padahal saat itu aku sadar, Icha itu nggak bener. Dia juga sudah menyakiti aku. Berjanji berulangkali dan cuma dibayar dengan kalimat “maaf aku tak bisa menepati.”
But, I don’t know, kenapa aku seperti cinta mati sama dia. Aku selalu ingat dia dan ingin dia kembali. Terlebih waktu aku lagi tinggi, seperti malam tadi. Apakah ini karena aku terlanjur berjanji untuk mencintainya selamanya? Atau ini cuma perasaan biasa, karena aku belum mendapat penggantinnya saja? Atau jangan-jangan aku dipelet? Ah itu tak mungkin. Yang terakhir ini mengada-ada.
Jalanku sempoyongan lewat lorong, kemudian sampai di depan Aula Insan Cita. Di sana banyak berkumpul kawan-kawan HMI Ushuluddin. Mereka sedang menggelar rapat akhir tahun komisariat.
Tak jelas siapa saja di situ. Tapi aku ingat ada Opank, Imen, Daud, dan Iyan. Ya kepada semuanya aku minta maaf kalau semalam itu aku ngaco. Sekali lagi maafkan aku. Kalian tahu aku tak bermaksud buruk. Itu hanya sisi lain ketidaksadaranku sebagai manusia. I Love U All My Brother, I Love U Hening, Amunizi Welcouple and NewPlan. Hihihihihi.
Akhirnya Iyan membawaku ke Lapangan MP. Di sana ia menyuruhku terserah kalau mau guling-guling. Hahahahahahaha. Aku berkali-kali minta diantarkannya pada Icha. Tapi Iyan tak segera beranjak. Aku malah dibelikan rokok, nasi goreng, air mineral dan duduk di kursi official team. Beeuuuh… rasanya seperti jadi Jose Morinho. Aku kembali ke lapangan. Berteriak tentang Icha. Icha yang tak mungkin kembali lagi. Aku tahu dan paham, dia bukan cewek baik. Maksudnya bukan cewek baik buatku. Tapi aku sangat sakit hati. Mungkin ini yang membuatku selalu ingat dia. Aku Sakit Hati Maka Aku Ingat Dia. Hahahaha. Dulu, sewaktu dia sering cemburu dan takut aku selingkuh, aku sangat risih. Akhirnya kutantang dia. “Mari kita buktikan, siapa yang paling setia di antara kita? Dan Siapa yang akan selingkuh? Dia menyanggupi. Dan aku keluar sebagai pemenang. Tapi kemenangan itu sakit. Hahahahhaa.
Nggak, sebenarnya Icha itu orang yang sangat polos dan jujur. Apa yang ada dan tampak luar, semua adalah isi dalamnya. Dulu itu dia sayang banget sama gua. Makanya dia selalu bilang, tak mau berpisah lah, setiap akhir pekan akan memelukku terus lah dan sebagainya. Dia juga bilang, mungkin aku ini karma buat dia. Sebelum sama aku, katanya dia sering nyakitin cowok. Dan ketika berpacaran denganku, dia seperti orang gila. Gila padaku. Semua janji dia obral. Dan begonya aku percaya itu. padahal kan dia lagi gila. Gila sama aku. Hahahaha aku percaya sama orang gila. Makanya sakit hati ya hahahaahaha. Nggak, ini beneran. Waktu icha dulu sayang banget sama gue, ya memang dia sayang. Itu ia ekspresikan lewat janji-janjinya, ketakutan akan kehilanganku, cemburu bahkan takut aku dijodohkan oleh ortu dengan perempuan lain. Dan ketika dia nggak cinta lagi, ya sudah, dia ucapkan dan ekspresikan ketidakcintaan itu. dan itu adalah kejujuran. Kejujuran memang menyakitkan ya… hahahahahahaha
Di lapangan MP, aku masih guling-guling. Beberapa kali kutatap langit, pohon, lantai, gawang dan mobil yang mondar-mandir di jalan. Mataku fokus pada angka jam di HP gua. Susah banget. Tapi akhirnya berhasil. Aku melihat pukul 01 lewat berapa gitu, lupa. Akhirnya aku ajak Iyan pulang, karena aku yakin tak mungkin lagi menemui Icha jam segini. Iyan tak mau. Oya ada Betet di sana. (Tet, sory ya, lo dah ngeliat w gila… ahahahahaha, jangan diambil hati ya… ahahahahahahaha)
AKu ajak iyan pulang. Dia tak mau. Dia masih takut kali kalau aku ngamuk. Coz di lapangan MP aku mengeluarkan beberapa jurus perang. Setelah aku coba jalan sendiri, akhirnya iyan turut jua. Dia bonceng aku diapit Betet. Sampai di basekamp, aku diledekin kawan-kawan. Bajuku kotor. Tapi aku tak peduli. Aku disuruh tidur. Aku tetap berkoar-koar tentang Icha. Hingga akhirnya tak sadarkan diri.

SADAR….

Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Setengah tujuh pagi. Badan sakit semua. Malu banget rasanya mengingat kegilaan itu… hahahahahahaha. Malam tadi harus berarti. Harus menjadi tonggak kebangkitanku. Kebangkitan merangkai masa depan yang indah. Kebangkitan Kesuksesan dan Kebahagiaan.
Maaf kawan-kawan sudah bikin onar, bikin malu dan bikin bikin. Hahahahhahaha
Maaf juga kalau sudah baca sampai selesai. Menyita waktu kan? Hahahahahahahahahahahahaha

-->
Tanks Iyan, My Brother. Semalam sudah menolongku… I Don’t Know How To Pay That… Yaa I Know Now, You Hope me unrepeat it. I Will

Sabtu, 12 Juni 2010

Herbert Marcuse; Manusia Satu Dimensi

One-Dimensional Man atau Manusia Satu Dimensi, adalah salah-satu buku fenomenal dan terlaris yang ditulis oleh Herbert Marcuse. Judul buku tersebut dapat dikatakan sebagai kesimpulan umum dari keseluruhan isinya. Melalui karya ini, Marcuse ingin mengatakan, yang sekaligus mengritik, bahwa manusia modern adalah manusia berdimensi satu.
Mengacu pada konteks penulisannya, buku ini merupakan hasil dari studi Marcuse yang menganalis secara kritis masyarakat industri modern seperti Amerika, Eropa dan Uni Soviet. Namun bukan berarti uraian-uraiannya tak punya relevansi bagi kawasan-kawasan lain di dunia.
Pemikiran Herbert Marcuse bertautan dengan suasana filsafat Hegelian dan Marxisme. Marx dan Hegel memandang filsafat sebagai suatu usaha untuk mengerti masyarakat dan periode sejarah di masa hidupnya. Marcuse mengambil semangat revolusi Marx, sebagai keinginan agar dengan pemikiran filosofisnya ia dapat menyumbangkan terjadinya perubahan radikal dalam masyarakat.


Penindasan Manusia Dalam Masyarakat Industri Modern.

Ciri khas dari masyarakat industri modern adalah peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasionalitas zaman ini adalah rasionalitas teknologi. Segalanya dipandang dan dihargai sejauh dapat dikuasai, digunakan, diperalat, dimanipulasi dan ditangani.
Instrumentalisasi menjadi semacam kata kunci dalam pandangan teknologis. Manusia menciptakan, memanipulasi dan memeralat benda-benda, alam serta mesin-mesin, untuk memudahkan hidupnya. Di saat yang sama, hal itu juga berlangsung di wilayah politik dan kultural. Di sinilah manusia dan masyarakat tak terkecuali berada dalam penguasaan dan manipulasi teknologi.
Selain instrumentalisasi, ilmu pengetahuan modern juga ditandai dengan istilah operasionalisasi. Maksud dari operasionalisasi ini menyatakan, ilmu-ilmu pengetahuan hanya berguna sejauh dapat diterapkan dan bersifat operabel. Ini tampak dalam penelitian sosial, di mana setiap perubahan yang sifatnya kualitatif disingkirkan.
Marcuse mengambil contoh di bidang penelitian sosial pada sebuah studi tentang relasi kerja dalam pabrik Western Electric Company di Hawthrorne. Ketika mendengar karyawan-karyawan pabrik ini mengeluhkan gaji yang tak cukup, para peneliti menganggap keluhan ini terlalu kabur. Karanenya perlu dioperasionalisasikan. Artinya, perlu diterjemahkan dalam situasi dan tingkah laku yang konkrit.
Misalnya, saudara X mengeluh gajinya tak cukup. Itu berarti ia tak sanggup memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangganya, diantaranya berobat, pakaian atau biaya pendidikan anak-anaknya dan lain-lain. Solusi dari kesulitan-kesulitan ini ialah perusahaan membentuk badan kesejahteraan sosial yang menangani kasus-kasus serupa. Singkatnya, masalah atau kesukaran disingkirkan tanpa mengubah struktur masyarakat. Sistem tetap dipertahankan. Dengan demikian, menurut Marcuse, ucapan para buruh “gaji tak cukup sama sekali berubah artinya.
Marcuse mengungkapkan, dewasa ini yang terjadi bukanlah manusia menindas manusia lainnya, golongan tertentu menindas golongan lainnya. Tak ada lagi orang atau golongan yang ditunjuk sebagai penindas. Melainkan terdapat suatu sistem totaliter yang menguasai semua orang, seluruh realitas alamiah dan sosial. Tak ada orang yang dapat memengaruhi sistem anonim itu. Sistem yang tampak dalam segala bidang ini, menonjolkan diri baik di negara-negara maju maupun di negara berkembang.
Satu dimensinya masyarakat industri semakin jelas dengan berubahnya sama sekali peranan kaum buruh. Dahulu Marx berfikir bahwa kemiskinan kaum buruh akan bertambah parah dan luas. Pada akhirnya kapitalisme akan ambruk. Dengan ini, lahirlah suatu masyarakat baru tanpa kelas.
Harapan itu tak terpenuhi. Kaum buruh telah kehilangan semangat revolusionernya. Mereka sudah menjadi konsumen yang memiliki mobil, TV dan berbagai fasilitas yang tak beda dengan kaum borjuis.


Teknologi

Bagi Marcuse, teknologi bukan merupakan sesuatu yang bebas nilai atau netral. Sistem teknologis membangkitkan pada manusia keinginan-keinginan yang diperlukan, sistem dapat memertahankan diri dan terus berkembang.
Dengan teknologi, manusia dapat memeroleh apa yang diinginkan. Namun pada dasarnya, apa yang diinginkan manusia hanyalah apa yang dikehendaki sistem itu sendiri. Ini seperti lingkaran setan yang menjepit manusia. Di satu sisi, produktivitas semakin besar untuk memungkinkan konsumsi yang makin besar pula. Di lain sisi, satu-satunya alasan konsumsi ialah menjamin berlangsungnya produktivitas.
Manusia modern mengira, ia benar-benar bebas dan ia hidup dalam dunia yang menyajikan kemungkinan-kemungkinan untuk dipilih dan direalisasikan. Tapi pada kenyataannya, apa yang dikehendaki manusia sebenarnya hanyalah apa yang yang didiktekan kepadanya. Dengan kata lain, manusia tidak membuat dan memilih lain daripada apa yang dianggap perlu oleh sistem teknologis yang totaliter untuk memertahankan dirinya.
Berbagai jenis kebebasan merebak di negara-negara maju. Kebebasan pers, kebabasan pendapat, berkumpul dan sebagainya hampir tanpa batas. Tapi demikian, massa besar tidak kritis. Berbagai kritik ditolerir dengan leluasa, tapi dengan segera dilumpuhkan juga. Itu karena hal ini segera menjadi hal menarik untuk dikonsumsi dalam bentuk hiburan kultural dan sensasi. Terdapat privasi yang serentak juga privasi itu ditiadakan dengan cetak dan elektronik. Terdapat waktu luang yang banyak dengan banyaknya waktu libur, sekaligus bersamaan waktu luang itu diberi tempat dan diberi tempat dalam proses konsumsi, melalui acara TV, biro-biro perjalanan, pariwisata, dan iklan-iklan lainnya. Tak ada lagi kelas sosial dalam membuang waktu berlibur. Baik kaum buruh maupun borjuis, mereka seolah bebas memilih tempat pariwisata mereka. Padahal mereka tak berbuat lain daripada pergi ke tempat yang telah disuruh oleh publisitas periklanan.


Seksualitas

Manusia modern merasa bebas dan dibebaskan secara istimewa dalam hal seksualitas. Berbagai istilah revolusi seksual pun dengan lantang berkumandang diberbagai penjuru masyarakat. Namun ini juga hanya tak lain dari sekadar tipu muslihat dari sistem totaliter.
Hal itu adalah salah-satu bentuk toleransi, yang seakan-akan menyajikan kebebasan seluas-luasnya. Padahal maksudnya tak lain adalah menindas atau menguasai. Ketika emansipasi telah dialami secara langsung pada wilayah terbatas, maka ia tidak akan memberontak melawan sistem sebagai keseluruhan. Dengan kata lain, kebebasan itu dijadikan alat untuk menguasai. Marcuse menyebut fenomena ini dengan istilah toleransi represif. Sebuah toleransi yang menandai masyarakat modern.


Tiga Penentu Satu Dimensi

Masyarakat industri maju adalah masyarakat berdimensi satu. Pemikiran yang mereka praktikan pun adalah pemikiran berdimensi satu. Mereka tak mengenal betul adanya oposisi ataupun alternatif. Kondisi ini bisa dilihat dari fenomena partai-partai politik, yang seolah menawarkan berbagai perbedaan dan perubahan. Tapi kenyataannya, secara praksis tak ada bedanya antara partai satu dengan yang lain. Tak terkecuali dengan partai yang memiliki dasar ideologi sangat berlawanan. Semua telah menjadi mekanisme yang mengumpulkan suara-suara, supaya sejumlah elit politik dapat memertahankan kekuasaannya.
Pemikiran berdimensi satu secara sistematis telah menjalar pada para kepala politik dan penguasa. Mereka menguasai media massa. Manusia modern diindoktrinasi dengan slogan-slogan yang didikte begitu saja.
Perbedaan antara paham besar dunia, yakni sosialisme dan kapitalisme menjadi sangat tipis sekali. Sistem totaliter teknologis telah menguasai keduanya, yang ditentukan oleh trio yang terdiri dari ekonomi – politik – ilmu pengetahuan. Pada kedua belah pihak, trio tersebut telah bekerja keras menghasilkan persenjataan yang dahsyat. Apalagi, keduanya juga saling membutuhkan satu sama lain, supaya masing-masing terus bertahan. Persenjataan dibuat dengan tujuan agar tak ada pertempuran. Sehingga antara perdamaian dan peperangan memiliki hubungan erat.
Menurut Marcuse, ini bukti bahwa masyarakat modern secara fundamental bersifat rasional dalam bagian-bagiannya, tapi irasional secara keseluruhan.


Kritik Atas Positivisme dan Filsafat Analitis.

Marcuse mengeritik aliran-aliran filosifis seperti positivisme dan filsafat analitis. Menurutnya, mereka mematikan pemikiran negatif. Selanjutnya, aliran-aliran semacam itu tak berbuat lain daripada menyesuaikan diri dengan realitas yang ada. Dengan demikian, filsafat memihak pada status quo dan tak akan pernah menghasilkan perubahan kualitatif dalam masyarakat.


Solusi Menuju Masyarakat Baru.

Tak seperti Jean Jasque Rousseau menanggapi jamannya dengan romantisismenya yang ingin kembali ke keadaan asali. Marcuse memberi tempat pada ilmu pengetahuan, teknologi dan industri modern. Semua itu tetap perlu bagi masyarakat yang akan datang. Sebab dengan itu, baru dimungkinkan untuk mengurangi pekerjaan dan memuaskan semua kebutuhan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi tak harus dibuang, melainkan diubah secara kualitatif. Sehingga timbul juga masyarakat yang kualitatif lain. Selain itu, rasio sendiri juga harus berfungsi lain. Rasio harus berfungsi meniggalkan logika penguasaan dan memajukan seni hidup.
Untuk memerjuangkan masyarakt baru, secara konkret Marcuse menunjuk dua hal. Pertama, perlu sebisa mungkin orang mengurangi kekuasaan, yang menjadi konsentrasi kekuasaan dalam sistem yang mengurung selama ini. Kedua, mengurangi perkembangan yang berlebihan. Maksudnya, menolak kebutuhan-kebutuhan palsu, yang secara artifisual dibangkitkan oleh sistem produksi modern dan meninggalkan semua usaha untuk makin meningkatkan mutu kehidupan. Untuk memerjuangkan masyarakat kualitatif lain, oang harus mulai dengan mengurangi yang kuantitatif.
Hanya sedikit orang yang bisa melepaskan diri dari prilaku dan pemikiran masyarat industri maju ini. Marcuse menunjuk pada golongan-golongan marjinal, mereka yang berada di pinggiran masyarakat sekarang. Mereka harus mengucapkan The Great Refusal (Penolakan Akbar). Dalam Essay on Liberty Marcuse menyatakan harapannya pada intelektual-intelektual muda dari golongan menengah.
Kemudian, di beberapa karyanya selanjutnya Marcuse mengakui hak golongan oposisional untuk menggunakan kekerasan. Alasan utamanya ialah, masyarakat berdimensi satu senantiasa memakai kekerasan yang dilembagakan, dengan memaksa setiap orang untuk menyesuaikan diri dengan status quo. Untuk menghadapinya hanya ada satu jalan, yakni membalas dengan kekerasan. Tapi ia menekankan, yang dimaksud dengan kekerasan tak lain daripada civil disobidience.

Sumber Bacaan:
- Filsafat Barat Kontemporer; Inggris-Jerman, K. Bertens, Gramedia, Jakarta, 2002
- Manusia Satu Dimensi, Herbert Marcuse, Bentang, Yogyakarta, 2000

Curhat Dini Hari II

11 Juni 2010
Kemarin aku bangun pukul 06.00. Satu jam berikutnya, aku telah menyelasikan kegiatan rutin pagi. Mencuci baju, beres-beres kamar dan sebagainya. Pukul 07.30 aku berjalan ke kampus. Ada matakuliah Metodelogi Penelitian. Sebenarnya tadi pagi masih cukup ngantuk. Dan setelah kupaksakan, kantuk itu menyerah juga. Aku fit dan sempurna.
Usai kuliah aku berharap bertemu dengan Junaidi, mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta. Aku mau mendiskusikan film Zietgieszt, yang kemarin ia tonton dariku. Tapi ia malah balik tanya, “apa yang mau didiskusikan?”
Oh, itu film dokumenter tentang agama, perang, ekonomi dan hubungannya pada setting besar masyarakat dunia. Kenapa ia bertanya begitu? Ah, pantas saja, ia belum nonton filmnya sampai selesai.
Akupun beranjak ke meja Kantin Ushuluddin. Ada beberapa kawan. Namun mereka buru-buru pergi. Ada urusan. Aku kini sendiri. Berusaha bertahan dari kejenuhan. Melawan BT.
Latihan menahan BT di kantin ini pernah dilakukan oleh temanku, Otong. Ia pernah iseng mencoba nongkrong di Kantin Ushuluddin ini dari jam 09.00-21.00. Ia berhasil. Bahkan melebihi target, yakni sampai pukul 22.00.
Sekilas melakukan hal semacam itu memang tak ada gunanya. Tapi harus disadari, orang yang mampu bertahan dari rasa BT, saat sendiri, menunggu seseorang, berfikir dan sebagainya, adalah orang yang mampu bersatu dengan dirinya.

Curhat Dini Hari I

Rabu, 9 Juni 2010. Tak terasa, aku telah berdiri di pertengahan tahun. Ya cepat sekali. Selama itu aku telah melakukan banyak hal. Kini, semua itu adalah modalku menuju hari-hari berikutnya. Terima kasih kehidupan. Kau telah tiupkan kebahagiaan. Kini, kebahagiaan itu menyatu dengan jiwaku. Jiwa itu adalah aku sesungguhnya.
Aku. Hanya Aku. Bahkan aku sendiri itu bukanlah Aku. MS Wibowo adalah nama yang tercatat dalam papan kelahiranku. Bapak menulis di papan itu beberapa waktu setelah raga-Ku keluar dari rahim ibu. Bowo, Pagar Dewo atau Dewo, bagitulah aku-aku lain selalu menyebutku. Tanpa Bowo, Pagar Dewo atau MS Wibowo, orang akan bingung mencirikanku. Walau Aku punya banyak perbedaan dari manusia atau aku lain, namun mereka pasti tak mau pusing memanggilku atas dasar perbedaan-perbedaan yang kumiliki. Karenanya, segala ketidaksamaanku atas mahluk lain ini, terangkum dalam MS Wibowo, Pagar Dewo dan Bowo.

Faiz, direktur Komunitas Lesehan Keboedayaan (Kolekan), menawari Aku tampil mengisi acara di ultah kedua komunitas ini. Tanpa ba-bi-bu, aku menyanggupinya. Aku telah merencanakan mengisi acara itu dengan penampilan musik akustik. Segera kuhubungi Iyan. Saudaraku yang sekaligus drummer dan leader band Amunizi Welcouple.
Tapi Iyan menolak tampil. Akhirnya aku bertekad tampil solo. Ini kali pertamanya aku bernyanyi di hadapan publik tanpa band atau orang yang memainkan musik di belakangku. Biasanya, aku selalu berada di panggung hanya dengan mikropon.
Pagi tiba. Aku bangun pukul 9.00. Ada kuliah Pemikiran Dalam Islam di Indonesia. Ini hari terakhir kuliah di semester genap. Usai kuliah, aku menikmati hari dengan beberapa gelas kopi dan berbatang-batang rokok kretek. Tentu saja dengan beberapa kawan. Iseng-iseng di kantin sambil menunggu namaku dipanggi oleh pembawa acara.
Pukul 15.00. Faiz mengirim pesan di HP-ku. Aku tampil sekarang juga. Lumayan grogi sih. Sebab aku belum terlalu siap. Menurut pemberitahuan sebelumnya, jatah unjuk gigiku adalah jam 16.00. Tapi apa boleh buat, ada perubahan acara mendadak. Akupun maju dengan gagah berani.
Selain aku, semua pengisia acara adalah perwakilan dari komunitas, organisasi atau forum diskusi tertentu. Dan memang, aku lebih dikenal kawan-kawan dengan background jurnalis kampus di LPM INSTITUT. Tapi sudah dua tahun lebih aku lengser dari kepengurusan dan tak aktif lagi. Akhirnya seorang kawan, yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Aliran Jomblo Kebatinan, memintaku untuk membawa nama aliran baru kami ini.
Puji syukur pada Yang Maha Sempurna. Aku tampil memukau dan dahsyat. Tiga lagu yang kubawakan adalah, Republik Sulap milik Tony q Rastafara, Bongkar punya Bang Iwan Fals, dan Buruh Tani dari arranger Red Flag. Tanks Kolekan, and so pasti Tanks God.
Malam harinya, Junaidi dan Fikri datang ke kamarku di Kontrakan Sanggar Ayu, Semanggi II Ciputat. Mereka meminta film Zeitgeszt. Tak hanya itu, aku memberi bonus atas usaha mereka menambah pengetahuan baru dari film itu. Bonus ini berupa beberapa klip video klip dan orkestra. Karena ditunggu kawan, Fikri dan Junaidi buru-buru meninggalkanku. Tapi sesuai tradisi Ushuluddin, kami selalu menyempatakan berdiskusi, walau beberapa menit. Kali ini temanya tentang nilai seni, keindahan dan estetika yang terkandung dalam sebuah gubahan musik.

Minggu, 06 Juni 2010

Tiga Sumber Kehidupan


Harta, Tahta Dan Sex
“Rrrrrrrrrruuuuuuuuwweeeenngg…! Csssiiiitttzzz…!!! Weeeng!!!” Deru motor itu mengundang mulut berteriak, “Mampus, sialan lo!” Diiringi sebuah tanya tak terdengar, “punya nyawa double lo ye?”
Begitulah, Lanu mengendalikan motor di jalan. Darah mudanya memerintah nyali agar selalu terdepan. Ia tak betah antri dalam deret kemacetan jalan kota. Berbagai celah di antara sisi mobil menjadi lobang percobaan. Seolah menantang sela-sela maut, Lanu tak pernah peduli umpatan orang sekitar. Jika kebetulan memboceng teman, yang kemudian mengingatkan tindakan Lanu, ia selalu menjawab enteng, “terserah gua dong, ini motor siapa?”
Sore itu, Lanu beranjak dari rumahnya di Pasar Minggu menuju sebuah warung kopi, tempat ia biasa nongkrong. Di sana telah menunggu Doreng dan Menon. Hampir tiap malam, tempat ini menjadi saksi bisu onani pikiran ketiga pemuda berstatus mahasiswa itu.
Doreng dan Menon menyambut kedatangan Lanu dengan senyum sederhana.
“Kopi item dong bang,” pesan Lanu pada penjaga Warkop, sambil melepas sarung tangan hitam.
“Dah lama bro?” tanya Lanu pada dua kawannya.
“Lumayan, baru tiga ribu tahun yang lalu,” jawab Doreng sembari menghisap rokok dalam-dalam. Ungkapan Doreng itu langsung disambut tawa dan celotehan ketiga temannya.
“Lo kalau ngomong yang bener napa? Mana ada, baru tiga ribu tahun yang lalu? Itu mah kesannya kita tak bernyawa. Cukup bilang, ‘baru tiga ribu tahun’, gitooo,” sambut Lanu.
“Terserah gua dong, ini mulut siapa?” sahut Doreng sembari tertawa lepas.
Ketiganya pun larut dalam obrolan tak tentu arah. Dari masalah hidup sehari-hari, kuliah, kerja, politik, ekonomi, alam ghaib hingga seks. Pada topik terakhir ini, pebincangan berkutat agak lama. Masing-masing fokus dan berusaha mempertahankan keyakinannya. Terlebih ketika masalah terakhir dihubungkan dengan kehidupan.
“Gua sepakat ama Nietzche, bahwa hidup adalah kehendak untuk berkuasa,” cetus Doreng. “Jadi, kehidupan ini terisi dan bergerak atas dasar kehendak untuk berkuasa. Masing-masing ingin menjadi penguasa atas lainnya. Tapi karena itulah roda hidup berputar. Kalau nggak ada orang yang saling ingin menguasai, kehidupan nggak berkembang, beku, kaya alamnya para malaikat.”
Rentetan celoteh Doreng segera disergap ucapan-ucapan Lanu.
“Emang Nietzche pernah bilang gitu? Di buku apa? Ah lo suka ngarang?”
Doreng terperanga mendengar sergahan Lanu. Belum sempat ia balas menjawab, Lanu kembali lanjut bicara.
“Dari siapapun asal pendapat itu, gua tak sepakat kalau hidup ini adalah kehendak untuk berkuasa. Kalau gua simpel aja, hidup itu intinya pada keberanian. Sekaya apapun lo, kalau nggak pernah berani mengembangkan hartanya percuma. Lama-lama hartanya habis. Sama seperti di jalanan. Kalau lo nggak berani ngebut, nyelip-nyelip, lo bakalan telat dan jadi orang terbelakang. Ujung-ujungnya cuma ngedumel sendirian.”
“Eh,” timpal Doreng. “Lo bisa ngebut, berani nyelip-nyelip itu karena lo punya kekuasaan atas motor lo. Dan mengapa lo ingin salalu jadi yang terdepan dan nggak mau diam dalam kemacetan, karena lo ingin menjadi penguasa jalanan. Jadi, tetap aja, sebenarnya lo tuh ingin menjadi penguasa, ingin diakui hebat, ya setidakknya menurut lo sendiri. Kakuasaan menurut gua, bukan harus atas orang lain. Tapi yang lebih penting adalah atas diri sendiri. Sebelum menguasai orang lain, lo harus menguasai diri lo dulu. Kenapa lo berani seenakknya dijalanan, itu karena lo sudah bisa menguasai diri dan memarjinalkan ketakutan lo. Tetap, intinya hasrat untuk berkuasa.” Ujar Doreng.
“Halah, lo pada ngomongin apa sih? Yang penting tuh makan,” celetuk Monon yang dari tadi jadi pendengar setia. Rupanya ia sedang asyik makan.
“Ya ya bener, kalau punya kekuasaan yang besar, kita mudah mendapatkan kekayaan, tentu mudah pula kita makan. Juga mudah dapat istri yang cantik, seksi, smart dan macem-macem lah,” Ujar Doreng semangat.
“Kalau lo nggak punya duit, tetap aja susah ngedapetin kekuasaan. Kecuali tiba-tiba lo diangkat jadi menantu Raja Minyak. Makanya, kita harus berani nembak cewek yang cantik plus tajir agar kita dapat kekayaan dan kekuasaan,” kata Lanu.
“Nah, kekuasaan kan?” sergah Doreng.
“Ya tapi tetap aja, kalau nggak berani nembak cewek ya nggak bakalan dapat semuanya. Kaya lo..., hahahahaha,” pekik Lanu.
“Eiits liat saja dua tahun lagi, kalau gua sudah kerja, punya duit banyak, cewek juga bakalan gue kantongin,”
“Iya tapi kapan?” ejek Monon. “Eh friend, hidup itu adalah harta, tahta, wanita. Eh maksudnya seks. Jadi harta, tahta dan seks. Ini tak terbatas untuk laki-laki atau perempuan. Semua akan bahagia di dunia manakala ketiga hal ini sudah dimiliki. Dan yang paling mutlak harus dimiliki di antara ketiganya adalah seks.”
“Ah lo aja yang mesum, kebanyakan nonton bokep ama coli sih lo, Non,” sergah Doreng.
“Hey, tunggu dulu,” Monon melanjutkan. Lo boleh tajir, atau punya banyak anak buah, tapi kalau lo nggak bisa ngeseks, percuma. Orang kalau nggak bisa muasin istri aja udah pusing minta ampun.” Jadi bagi lo yang miskin-miskin nih, gue saranin perkuat kemampuan seks kalian berdua. Biar nggak sengsara dikemudian hari.”
“Aah, yang penting tajir dulu. Kalau udah tajir, semua bisa dilakuin, termasuk beli obat dan jamu seks terhebat. Mau manjangin atau nggedein penis lo sesuka lo juga bisa kalau udah tajir,” sahut Doreng mulai tak konsisten.
“Hahaha, emang punya lo kecil ya? Hahahaha....” ejek Monon lagi diiringi tawa semua orang di warung kopi itu.
“Sialan lo, mau liat segede apa punya gua?”
“Mana coba kalau berani,” tantang Lanu.
“Ya nggak sopan lah, banyak orang.”
“Alaaaah ngeles mulu, bilang aja kalau kecil. Makanya nih, kalau lo punya duit mendingin lebih dulu dialokasikan buat ngurus abang kecil lo itu. Daripada entar telat,” kata Monon.
Monon menambahkan, “jadi, tetap aja cuy, intinya ada pada seks. Lo tadi bilang kalau udah tajir semua bisa dilakukan, termasuk seks kan. Coba gue tanya, kalau lo tajir, punya kekuasaan atau keberanian dan bisa memiliki dan melakukan semuanya, apakah lo sudah nggak mau bisa ngesek kuat dan hebat. Serta dikagumi para kaum Hawa?”
“Kalau lo berhasil dalam kekayaan dan kukuasaan, otomatis lo akan berusaha hebat dalam hal seksual. Tapi, kalau kekayaan dan kekuasaan lo tak seberapa, asal masih punya kekuatan seks dan bisa memuaskan pasangan lo, itu sudah cukup luar biasa. Intinya memang tetap, hanya di seksualitas. Harta dan Kekuasaan itu Cuma alat, bukan sumber kebahagiaan. Sumber kebahagiaan itu hanya ada di kemampuan seks yang hebat. Makanya, almarhum Mak Erot dulu begitu populer kan?” papar Monon.
“Oke. Kalau lo punya kekuatan seks luar biasa. Sampai bini lo ketagihan tiap dua jam sekali. Tapi lo tak punya keberanian berantem, tetap saja istri lo bakal gampang direbut orang. Apalagi dia sudah lo latih ketagihan seks sejam sekali,” kata Lanu terbahak-bahak.
“Gak bakalan lah coy. Orang bini gua sudah puas sama gue. Mana mungkin dia mau digoda sama lelaki lain?” bantah Monon.
“Ya, kalau ada cowok yang menggoda dan merangsang istri lo, sampai istri lo horny gimana?” timpal Doreng membela Lanu.
“Ya gua hajar tuh cowok,” kata Monon emosi.
“Lah, tapi kan posisi lo di sini sebagai orang yang tak punya keberanian dan kekuasaan?” tanya Lanu dengan senyum kemenangan.
“Kalau sudah terdesak insting bertarung tetap akan muncul Nu,” kata Monon.
“Ya, tapi kamu pasti kalah berantem sama tuh cowok. Karena kamu tak punya kekuatan, kekuasan dan Keberanian. Dan kalau ternyata tu cowok lebih tangguh seksualitasnya ketimbang lo, maka istri lo bakal berpaling sama dia,” tegas Lanu dengan senyum sinis mengejek.
“Tuh kan, tetap seks yang penting,” kata Monon.
“Ya, tapi tanpa keberanian, kemampuan seks lo cuma jadi bahan latihan istri lo. Bukan bahan pertarungan. Dan lo nggak bisa melindungi istri lo dari godaan lelaki berkuasa dan pemberani,” kata Lanu.
“Heh,” Doreng ikut bicara. “Kalau lo punya harta banyak, lo bisa apa saja. Lo bisa bikin rumah yang aman buat keluarga, bisa nyewa bodyguard, nyewa preman untuk ngelindungi lo dan meningkatkan kekuatan seksualitas lo.”
“Kalau bodyguard lo yang macam-macam sama istri lo gimana?” sanggah Lanu.
“Ya tinggal bayar orang untuk ngebantai tu bodyguard. Beres kan?”
“Ah, kalau lo tak punya keberanian juga percuma. Semua anak buah lo bakalan melawan dan menentang lo. Ya paling tidak dari belakang. Sebab kalau dari depan dia takut sama harta lo,” kata Lanu.
“Hey, Lanu. Harta dan kekuasaan itu membuat orang berani melakukan apa saja,” Kata Doreng.
“Belum tentu coy. Kalau dasar orangnya penakut, tetap aja bakal dikibulin banyak orang. Termasuk anak buahnya,” kata Lanu. “Sebaliknya, keberanian bisa mendatangkan kekayaan dan kekuasaan.”
“Tetap saja coy, tanpa seks percuma. Istri-istri lo pada bakalan nggak betah tanpa kemampuan seks lo yang kuat. Harta lo, keberanian dan kekuasaan lo adalah benteng untuk melindungi dan mengembangkan kemampuan seks lo. Jadi, harta paling berharga adalah kemampuan seks yang begitu besar,” kata Monon sambil mengelus-elus isi celananya.
Belum selesai ketiga sobat itu bertarung wacana, warung sudah mau tutup. Tak terasa, jam telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Jalanan lengang. Hanya sedikit pemuda duduk melingkar di sebelah kios depan pintu kecil kampus UIN Tangsel. Mereka asyik main kartu. Dan pastinya tak peduli dengan obrolan Lanu, Doreng dan Monon.
Doreng dan Monon kembali ke kosan masing-masing. Sementara Lanu makin ugal-ugalan di jalan malam yang sepi.[MSW Pagar Dewo]
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html