Sepuluh langkah
keagungan.
Sedepa
kebosanan.
Sejengkal
kemuakan.
Menyatu
keabadian
Ciputat, 2010—2012/21
Sabtu, 17 April 2021
Minggu, 28 Maret 2021
Puisi Pohon Pinang
Pohon pinang menjulang
basah karena hujan
dari senja yang lelah
menunggu fajar, resah
meniti jalan pasrah
tawakal 'alallah
Warna-warna ceria
bertumbuk lebur
di bawah bola
surya gemerlap
menyengat
gairah melipat
detik demi detik
mewanti persentase
baterai hape
Ciputat, 27 Maret 2021
Minggu, 20 Desember 2020
Sahabat Sejati
Jangan kau sematkan label
sahabat sejati karena selalu Ada
saat sedih dan duka.
Tak perlu merasa di level
sahabat sejati karena selalu Ada
saat sedih dan duka.
Hadir dan alpanya tiada terjadi
tanpa Yang Menghadirkan.
Ada dan tiadanya tak mungkin
tanpa izin Yang Mengadakan.
Lesapkan penghadapan
kutub utara dan selatan
tak berarti bagi
semesta raya sonder tepi
Pondok Hijau, Ciputat, 20 Desember 2020
Minggu, 08 Desember 2019
Bahagia Menderita
Aku tidak akan membunuhmu
aku sedang melakukannya
Kau akan mati pelan-pelan
seperti kepercayaan orang yang benci pada perokok
dan yakin bahwa rokok membunuhmu.
Kematianmu pasti
sekaratmu kutunggu
bersama sekaratku
kita satu dalam penderitaan
kita satu dalam ranjang penderitaan
Inikah cinta yang kau maksud? Tanyamu.
Ya. Cinta sebagaimana juga kau maksud.
Tapi, bukan dendamku yang menyakiti
tapi benih kesakitan yang tertanam
Kini mulai bersemi. Melumat kastil keceriaanmu.
Dalam realita fisik, aku mencabik-cabik dada hingga perutmu
dengan pisau kesombongan
dengan belati keluguan
dengan silet kepolosan
mari menderita bersama
Ajak sebanyak mungkin orang
Jika kau kira mereka menolongmu
Silakan
Mereka akan sebarisan kita
menjerit kesakitan
Diabaikan kehidupan
Bahagialah berasama kesengsaraan
aku sedang melakukannya
Kau akan mati pelan-pelan
seperti kepercayaan orang yang benci pada perokok
dan yakin bahwa rokok membunuhmu.
Kematianmu pasti
sekaratmu kutunggu
bersama sekaratku
kita satu dalam penderitaan
kita satu dalam ranjang penderitaan
Inikah cinta yang kau maksud? Tanyamu.
Ya. Cinta sebagaimana juga kau maksud.
Tapi, bukan dendamku yang menyakiti
tapi benih kesakitan yang tertanam
Kini mulai bersemi. Melumat kastil keceriaanmu.
Dalam realita fisik, aku mencabik-cabik dada hingga perutmu
dengan pisau kesombongan
dengan belati keluguan
dengan silet kepolosan
mari menderita bersama
Ajak sebanyak mungkin orang
Jika kau kira mereka menolongmu
Silakan
Mereka akan sebarisan kita
menjerit kesakitan
Diabaikan kehidupan
Bahagialah berasama kesengsaraan
Selasa, 03 Desember 2019
Makanan Berlabel Setan
Di Legoso, Ciputat, Tangsel, ada beberapa makanan / warung makan memakai label 'jahat'/'haram'. Di antaranya ketoprak SETAN. Terus gak jauh dari ketoprak SETAN, ada sambal SETAN. Agak jalan sekira 200 m ada warung makan yang selalu ngajak ribut, namanya sambal PERANG. Warung-warung tersebut selalu dan begitu laris tiap harinya. Sebagai orang dengan lidah dan perut Nusantara, ketiga warung makan itu cukup memenuhi apa yang saya inginkan dan saya butuhkan.Enak, murah, dan bikin kenyang. Saya yakin kelarisan dan rasa enak itu bukan karena bantuan SETAN. Saya sudah pernah melakukan eksperimen, dg baca doa, bismillah, atau makan makanan tsb sambil mendengarkan ayat-ayat suci al-Qur'an. Hasilnya, tetap enak dan bikin kenyang. Baik itu dimakan di tempat atau dibawa pulang (dimakan di rumah). Baik pesan via go-food ataupun grabfood (kecuali ketoprak setan karena tidak sesuai dg aplikasi, ya pak)
Minggu, 06 Oktober 2019
Selamat Menempuh Hidup Bau
Kita kini dua orang asing
Bahkan raga telah berbeda bukan lagi yang pernah bersentuhan
asing dan beda
Jangan gagu untuk menyebut gue lu
Aku kamuku untuk spesial kesepakatan dan tulisan
Berkaryalah
Untuk apa senja bila hanya jadi malam
Untuk apa turun ke jalan kalau cuma buat konten instagram
Untuk apa untuk mengisi jagad digital
Jika DPR bikin patah hati
untuk apa jika tak jadi royalti
Tangan kiri terkepal
tangan kanan mendokumentasikan
Kaulah alam ruh yang masih terekam
Kaulah alam khayal yang masih relevan
Besok kita ketemu Joker dan menertawakan hidup ini
bukan tragedi tapi komedi
Getir serasa petai, jaling, jering dan jengkol mentah
lahap sebagai lalap
Jangan mengeluh di pagi hari
takut seisi langit mengutuki
Sebelum terbit matahari
Ucapkanlah
alhamdulillah
Jumat, 12 Juli 2019
'Padu' (adu mulut) dengan pelaku #curanrek
Wahai kamu, yang suka bawel dan nyinyir kepada para pelaku #Curanrek, plis jangan lebai. Korek tidak lebih berharga dari kemanusiaan. 9 dari 10 pelaku curanrek itu mengambil korek teman bukan karena niat atau kesengajaan tapi karena kebiasaan.
- Iya sih, harganya paling cuma Rp.2000, tapi kan nyebelin! Nyusahin! kalau pas gw butuh api, eh korek ilang karena lu embat! Kan bang*tit*
Oke, nyebelin. Tapi emang lu gak punya teman yang lebih nyebelin dari pelaku #Curanrek? Kalau gak punya, oke. Lu masuk list yang koreknya gw tandain gak bakal kebawa kaya perasaan
Minggu, 24 Februari 2019
Berdiamlah
Aku pejamkan mata dan menyapu ruang yang lebih luas
dibanding tatapan.
Dalam gelap kau masih dapat melihat.
Sebentar, biar kusiapkan tempat pantas untukmu,
agar bisa kukunjungi sewaktu-waktu
yang aman dari intaian pemburu dan pencemburu.
Di sudut itu kau bisa tunggu,
jangan pergi-pergi lagi mengganggu.
Bersemilah dengan suplai gizi masa lalu.
Jumat, 23 November 2018
Ramainya Gunung Padang, Tanda Kiamat Sudah Dekat?
Jutaan
tahun silam, gunung api purba itu mengakhiri masa aktifnya. Meninggalkan
gundukan tanah perbukitan dan batu-batu balok dengan pola prismatik yang
berserak di kakinya. Pohon-pohon tumbuh bersemi. Kera-kera liar dan kawanan
hewan lainnya singgah lalu mendiami.
Kemudian
sekelompok ras manusia yang telah memiliki kesadaran spiritual mencapai tempat
ini pada sekitar tahun 200 SM. Mereka menetap dan melakukan berbagai aktivitas
untuk memenuhi kebutuhan individu dan sosial, termasuk kebutuhan untuk
berkomunikasi dengan hal yang bersifat supranatural.
Berkat
intuisi yang mereka dapat pada masanya, sekitar 117 SM, mereka mulai menyusun
sedemikian rupa balok-balok batu prismatik yang berasal dari hasil proses
vulkanik gunung api purba itu. Mereka angkut balok-balok yang terserak di kaki
bukit, lalu menatanya di atas hamparan bukit Gunung Padang yang berundak-undak
seluas sekitar 29 hektar dan tinggi 220 m. Susunan batu menghasilkan dinding
tembok pagar, tangga demi tangga, pintu-pintu gerbang dan altar pemujaan.
Cara
meletakan batu atau menhir tidak ditanam dengan menggali tanah, melainkan hanya
dihujamkan atau didirikan begitu saja. "Masyarakat dulu itu mendirikan
balok batu itu tidak dibuatkan lobang gali tapi langsung menghujamkan ke tanah.
Batu dengan berat 300 kg, mereka hantamkan ke tanah. Kenapa itu bisa? Banyak
faktor-faktor. Mereka religius emosinya menyatu. Itulah bagian dari nilai
religius punden berundak Gunung Padang," terang Dr Lutfi Yondri, M.Hum,
peneliti utama Balai Arkeologi Jawa Barat, dalam pemaran tentang seluk beluk
situs Gunung Padang kepada Forum Masyarakat Peduli Gunung Padang, yang
difasilitasi Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Museum, Kemdikbud RI,
Sabtu (3/11/2018).
Secara
sederhana, punden berundak Gunung Padang terdiri dari beberapa titik bangunan.
Ada sumur tua disebut sumur kahuripan, kemudian tangga utama, teras satu sampai
lima, dinding pembatas teras, tangga teras, serta dinding batas halaman.
Perlu waktu
tiga generasi atau sekitar 62 tahun untuk menyelesaikan pembangungannya. Dari
tahun 117 SM, Punden berundak Gunung Padang sempurna sebagai altar pemujaan
pada sekitar 45 SM. Diawali kontruksi dari teras paling bawah hingga paling
atas. Mereka juga menggali sumur di bagian bawah, untuk kebutuhan logistik dan
nantinya menjadi tempat bersuci sebelum mendaki melakukan ritual ibadah di
puncak altar.
"Di
bawah teras empat (yakni teras tiga, dua dan satu), saya eskavasi, saya ambil
sampel arang, ada tembikar, ada temuan di sana. Kemudian saya analisis, di
teras empat itu didapat angka 45 SM. Sementara di teras satu angkanya lebih tua
117 SM. Jadi gunung padang itu dibangun paling tidak selama 62 tahun. Kalau
kita bandingkan dengan sekarang, dalam tiga generasi," jelas Lutfi.
Dari kajian
naskah, ada beberapa yang menyebut Gunung Padang. Tapi menurut Lutfi, yang
disebut dalam naskah-naskah itu bukan Gunung Padang di Cianjur tapi di Ciamis,
mengingat kondisi lingkungan yang diceritakan berbeda. "Di Tasikmalaya
kita juga temukan ada yang disebut Gunung Padang, temuan-temuannya gerabah tapi
tidak ada hamparan punden berundak," kata Lutfi.
Meski
pernah ada temuan gerabah di sekitar punden berundak Gunung Padang, namun
keberadaan permukiman sebagai bagian dari satu peradaban besar belum dapat
dibuktikan alias masih misteri. Terlebih, situs ini berasal dari masa pra
sejarah, yang mana belum didukung budaya tulis. "Bisa saja, Gunung Padang
ini tempat upacara yang didatangi oleh orang-orang masa pra sejarah (dari
tempat-tempat pemukiman yang jauh)," ungkap peraih doktor terbaik dari
Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran dengan bahasan Gunung Padang
ini.
Demikianlah,
situs Gunung Padang berdiri sebagai salah satu tempat pemujaan berbentuk punden
berundak terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya turut memotret waktu yang tak
kasat mata. Ia berjuang menyikapi perubahan kepadatan tanah serta ancaman
longsor, dan bertahan dari guncangan. Perlu diketahui, Gunung Padang ini
berdiri di atas dua sesar aktif yang rawan gempa.
Manusia
datang dan pergi, membawa serta budaya dan kepercayaan yang silih berganti.
Sampai pada masa Prabu Siliwangi, raja di masa keemasan Pajajaran yang
memerintah antara 1482- 1521 M dengan gelar Sri Baduga Maharaja. Diyakini,
Prabu Siliwangi pernah mendiami Gunung Padang, termasuk untuk bertapa atau
bersemedi. Jejak-jejaknya terekam dalam beberapa relief serta area-area
tertentu yang menjadi cerita turun temurun juru kunci Gunung Padang.
Ketika
pemerintah kolonial Belanda menguasai Nusantara, mereka tahu ada kandungan emas
di area Gunung Padang. Mereka sampai di Gunung Padang seiring pembangunan rel
kereta api yang melintasi bukit ini.
R. D. M.
Verbeek (1891) dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin
Dinas Kepurbakalaan Hindia-Belanda) serta De Corte dan kemudian sejarawan N.J.
Krom (1914) adalah nama-nama yang pernah mendokumentasikan catatan tentang
Gunung Padang. Melihat struktur bangunan situs Gunung Padang, mereka menduga
ini hanyalah semacam kuburan kuno.
![]() |
| Juru Kunci Gunung Padang, Nanang Sukmana (tiga dari kiri) dan Pakar Gunung Padang / Peneliti Utama Balai Arkeologi Jawa Barat, Dr. Lutfi Yondri, M.Hum (tiga dari kanan). |
"Saya
sudah lakukan eskavasi di Gunung Padang itu tidak menemukan indikasi kuburan.
Yang kuat itu gunung padang tempat masyarakat jaman dulu melakukan upacara
ritual pemujaan masyarakat," jelas Luthfi.
Gunung
Padang Sempat Hilang Ditelan Pepohonan dan Semak Belukar
Setelah
Indonesia merdeka, Gunung Padang kembali redup dari pandangan. Ilalang dan
rumput liar tumbuh rimbun menutup Punden berundak di puncak bukit dengan lima
teras itu. Beberapa pohon besar pun menjulang. Akarnya yang lebar menelan
menhir-menhir yang sebelumnya tersusun sebagai altar pemujaan.
Pada 1979
M, tiga penduduk Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa
Barat bernama Endi, Soma, dan Abidin berniat membabat semak ilalang untuk
berladang. Mereka mendapati tumpukan batu-batu persegi dengan beragam ukuran
tersusun di area berundak yang menghadap ke Gunung Gede. Mereka lalu
melaporkannya ke Penilik Kebudayaan wilayah setempat. Pada tahun 1980-an, para
arkeolog Indonesia memulai kembali penelitian dan eskavasi Gunung Padang.
Tiga
penduduk yang menemukan Gunung Padang tadi didapuk sebagai juru kunci atau juru
pelestari. Di antara tanggung jawab mereka adalah menjaga dan merawat
kelestarian situs Gunung Padang. Setelah lanjut usia, tugas juru kunci mereka
turunkan ke anak cucunya. Salah satunya Nanang Sukmana (43), cucu dari Soma, salah
satu penemu Gunung Padang.
Dari
kakeknya, Nanang mewarisi banyak pengetahuan dan cerita seputar situs purbakala
ini. Detail lokasi serta relief di tiap menhir ia ketahui. Juga hal-hal yang
bersifat metafisika.
Nanang
masih berusia 7 tahun, ketika kakeknya berkisah bahwa Gunung Padang memiliki
nama lama Nagara Siang Padang. Namun, sang kakek tidak menjelaskan apa itu
Negara Siang Padang. Ia hanya berpesan kepada cucunya untuk mencari tahu makna
di balik nama tersebut.
Berdasarkan
penelesuran spiritual dan refleksinya, Nanang mendapatkan maksud Nagara bisa
berarti negara atau tatanan komunitas dan semacamnya. Sementara Siang berarti
telat, penghujung, atau akhir. Lalu Padang bermakna terang, cahaya atau bisa
juga lapang. Jadi Nagara Siang Padang memiliki makna kurang lebih semacam
tatanan atau rangkaian pencerahan di ujung atau akhir zaman.
Kepada
Nanang, kakeknya juga menunjuk tempat-tempat di sekitar perbukitan Gunung
Padang. "Nanti di sini akan ada jalan lebar dan bagus. Di sana ada pasar,
di sini banyak orang datang dan berjualan, banyak penduduk yang semula bertani
jadi pedagang dan suatu saat Gunung Padang akan ramai dikunjungi banyak
orang."
![]() |
| Juru Kunci Gunung Padang, Nanang Sukmana |
Nanang yang
masih kecil hanya iya iya saja. Antara percaya dan tak percaya. Pasalnya, kala
itu semua yang ditunjuk oleh sang kakek masih berupa hutan belantara. Jalan
menuju punden berundak Gunung Padang juga masih harus melewati gunung lain dari
wilayah Sukabumi.
Ia mulai
sadar ujaran kekeknya jadi kenyataan pada tahun-tahun belakangan. Tempat yang
ditunjuk akan menjadi pasar, benar jadi pasar. Begitu pula dengan jalan baru
yang mulus, lebar, dan sebagainya, serta ramainya pengunjung yang datang ke
Gunung Padang.
Namun ada
pesan kakenya, yang membuatnya cukup merinding, "Yang membuat saya sampai
sekarang masih bertanya-tanya, kata kakek saya, 'kalau Gunung Padang sudah
ramai dikunjungi banyak orang, kalau Gunung Padang sudah ramai, itu pertanda
Kiamat sudah dekat,'" kata Nanang di sela-sela obrolan santai di teras
rumahnya, yang tak jauh dari kantor Juru Pelestari (Jupel) Gunung Padang,
Minggu (4/11/2018).
"Tapi
ya, soal kiamat itu hanya Allah yang tahu. Wallahu a'lam," imbuh Nanang.
Situs
Gunung Padang ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan pada 1998. Kemudian pada 2014 menjadi cagar budaya
nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 023/M/2014.
Pelestarian tentang cagar budaya ini juga telah diatur dalam Undang-undang
Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya.
Pemerintah
Susun Zonasi untuk Pecah Kepadatan Pengunjung
Kian
ramainya wisatawan datang ke Situs Gunung Padang membuat Pemerintah, Pemda,
Juru Pelestari serta warga setempat yang peduli akan kelestarian ini bekerja
keras. Mereka turut merawat, menjaga dan mengingatkan pengunjung untuk peduli
dan tidak sembarangan melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan kerusakan.
Seperti buang sampah sembarangan atau duduk dan berdiri di atas menhir. Selain
itu, karena berada di perbukitan, Gunung Padang juga rentan longsor. Terlebih
juga harus menahan beban jumlah pengunjung yang terus meningkat.
Oleh sebab
itu, pemerintah telah menyusun zonasi untuk menentukan area mana saja yang
menjadi zona inti, pengembangan, dan pemanfaatan. "Zonasi di UU No. 11
tahun2010 ada empat, zona inti, zona penyangga, zona pengembangan dan zona
pemanfaatan. Untuk zona inti khusus pelestarian. Zona satu dua tiga untuk
pelestarian," jelas Dewi Kurnianingsih dari direktorat Pelestarian Cagar
Budaya dan Museum, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Ia
menambahkan, target pariwisata untuk situs Gunung Padang ini ingin menghadirkan
jutaan pengunjung. Tapi melihat situasi dan kondisi yang berada di perbukitan,
banyak kekhawatiran timbulnya bahaya seperti longsor dan sebagainya.
"Nggak mungkin (Gunung Padang) menampung jutaan pengunjung. Makanya,
pemerintah ingin memecah perhatian pengunjung. Kita pecah spot-spotnya.
Masterplan-nya yang membuat Pemda. Pemda Cianjur termasuk pemda yang pro aktif
tanpa paksaan dari kita. Jalan-jalan juga sekarang sudah dilebarkan dua kali
lipat, beberapa bulan lalu ke sini jalan masih sempit. Sekarang sudah
lebar," terang Dewi.
Kajian dan
penyusunan zonasi ini, menurut Lutfi Yondri, penting juga untuk mendongkrak
perekonomian masyarakat. Sehingga potensi lokal lain di sekitar Gunung Padang
juga turut terangkat.
"Ini
salah satu tinggalan nilai luhur dari nenek moyang kita di tataran Sunda.
Menjadi pembelajaran, punya nilai politik dan nilai keluhuran bangsa,"
kata Lutfi.
"Setelah
kajian zonasi kita akan rapat dan sosialisasikan supaya lebih terarah. Kita
sudah lakukan kajian domestik dan pariwista. Gunung Padang tidak mungkin
menampung orang dengan jumlah banyak. Mereka harus diatur, dialihkan juga
perhatian mereka sehingga potensi lokal lainnya bisa bergerak."
"Nanti
akan dibikin homestay, (berupa) rumah masyarakat, bukan hotel
untuk pengunjung," ungkap Lutfi.
Mari kita
rawat peninggalan masa lalu sebagai kekayaan budaya milik Indonesia. Kita
Kunjungi, Lindungi dan Lestarikan Cagar Budaya Indonesia.[]
*Tulisan
ini telah diunggah di akun saya di Kompasiana.com dengan judul "Situs Gunung Padang dan Tanda Kiamat Sudah Dekat". Berikut
link artikelnya: https://www.kompasiana.com/bigbangbow/5bf1c5eb12ae944aa352b722/situs-gunung-padang-dan-tanda-kiamat-sudah-dekat
Kamis, 22 November 2018
Gunung Padang, Punden Berundak Tertua pra Sejarah Nusantara Dibangun Selama 62 Tahun
Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, menjadi destinasi
wisata yang tepat buat kamu yang ingin merasakan liburan atau jalan-jalan yang
berbeda. Menuju lokasi yang pernah menjadi tempat peribadatan masyarakat
purbakala di puncak bukit, kita akan langsung disuguhi pemandangan alam,
hamparan kebun teh nan hijau di sisi kiri dan kanan, serta udara nan segar.
Tak kalah penting, jalan menuju ke sana sudah mulus. Pemerintah
daerah (Pemda) Kabupaten Cianjur dan Provinsi Jawa Barat tengah serius menata aset
cagar budaya peninggalan masa pra sejarah tersebut. Untuk sampai di pintu masuk
Situs Gunung Padang, kita perlu melewati 20 km dari jalan raya Cianjur-Sukabumi.
Meski daerah perbukitan dan dataran tinggi dengan medan menanjak dan
berkelok-kelok, kita tak perlu khawatir jalan terjal. Pemerintah telah melebarkan
jalan seluas kurang lebih 8 m dan memuluskannya dengan cor.
Sampai di pintu masuk, kita hanya butuh Rp.5000 per orang
untuk tiket, selenjutnya dipersilakan mendaki tangga menuju lima teras situs
pemujaan roh leluhur dari tahun 117 SM.
Ada dua pilihan tangga. Pertama tangga
curam, yang tersusun dari bebatuan setinggi 175 m. Ini tangga asli sejak situs
Gunung Padang ditemukan. Bisa jadi, sejak sebelum masehi itu. Pilihan kedua
adalah tangga landai dengan bahan semen cor sejauh atau setinggi 300 m.Teras Satu
Pas di ujung tangga naik tadi, ada dua balok yang disebut
sebagai gerbang pertama. Sedikit ke tengah area teras satu ini, puluhan menhir
tertancap berdiri membentuk ruangan kotak persegi panjang. Dua menhir di
antaranya lebih besar dan tinggi, disebut sebagai gerbang kedua. Di bagian
dalam, agak ke ujung, ada batu pipih sejenis batu dolmen namun tanpa penyangga.
Warnanya berbeda, lebih menyerupai oranye kekuning-kuningan.
Juru kunci Gunung Padang, Nanang Sukmana menerangkan, pada
masa silam, nenek moyang kita menggunakan tempat ini untuk acara-acara khusus.
Setelah selesai, dari tempat ini kemudian menuju ke teras dua, tiga, empat dan
lima melalui gerbang sederhana, yang juga berupa dua pancang menhir balok batu.
Masih di teras satu, dekat tangga ke teras dua, ada batu
musik, disebut juga batu bonang atau batu gamelan dan ada juga batu kecapi.
Batu ini bisa mengelurkan nada khas Sunda, Da Mi Na Ti La Da, ditabuh
menggunakan jari tangan. Pada ujung batu musik tersebut terdapat relief lima jari.
Konon, sering bunyi sendiri di malam hari. Tapi ada pakar yang mengatakan ini
adalah sarana untuk menyetel atau stem alat musik.
Pola prisma menhir rata-rata persegi lima. Namun kata arkeolog
pakar Gunung Padang, Dr. Lutfi Yondri, M.Hum, sebenarnya tidak semua batu polanya
demikian sebagaimana legenda yang berkembang di masyarakat. Ada persegi empat,
tujuh hingga yang paling sempurna yakni segi delapan. Berdasarkan penelitiannya,
yang sudah dimulai lebih 30 tahun lalu, sejak 1980an, semua batu-batu tersebut
berasal dari proses vulkanik. Gunung Padang sendiri merupakan bekas gunung api
purba, meninggalkan gundukan bukit dan balok-balok batu berjumlah ribuan, ada
yang menyatakan jutaan.
Pada 117 SM yang lalu, nenek moyang kita di tempat ini mulai
menyusun batu-batu tersebut menjadi kuil peribadatan atau pemujaan. Hasil tes
laboratorium yang dilakukan Lutfi Yondri dan rekan-rekan penelitinya menyatakan
bahwa susunan batuan yang berada di teras satu atau paling bawah usianya lebih
tua dari teras dua dan seterusnya. Sampai di teras empat, diperoleh angka tahun
45 SM. Ini menandakan Situs Gunung Padang dibangun secara bertahap dari bagian
paling bawah menuju tempat paling atas, selama kurang lebih 62 tahun.
Masih di teras satu, terdapat sebuah pohon besar. Akarnya menelan
batu-batu yang cukup banyak di bawahnya. Jumlah batu di teras satu ini lebih
banyak dari teras-teras berikutnya. Semakin ke atas semakin sedikit. Bahkan di
teras empat nyaris lapang. Namun kepadatan atau jumlah batu/menhir kembali
terjadi di teras lima atau puncak Gunung Padang. Hal itu karena teras yang
paling atas merupakan area paling vital dalam ritual atau pemujaan.
“Punden berundak Gunung Padang, kalau dibagi secara
sederhana, ada sumur tua yang disebut sumur kahuripan, ada tangga utama, ada
teras satu sampai lima, ada dinding pembatas teras, ada tangga teras, dinding
batas halaman,” jelas Lutfi kepada Forum Masyarakat Peduli Gunung Padang di
bawah naungan Yayasan Dapuran Kipahare, di Kantor Juru Pelestari (Jupel) Gunung
Padang, Cianjur, Sabtu (3/11/2018).
Ia meyakinkan bahwa tidak ada piramida di situs Gunung
Padang sebagaimana kabar yang dihembuskan Ali Akbar dan peneliti lain pada
sekitar tahun 2011 hingga 2013. “Sebenarnya di dalam Gunung Padang itu bukan
ruangan, tapi lapisan tanah yang basah. Di situ ada hidrolitik. Ada hidrologi di
sana, sehingga di Gunung Padang itu tidak pernah kering. Itu yang menyimpan air
sehingga Gunung Padang tidak pernah kering. Masih ada tangga yang asli dari
susunan jaman dulu, ribuan tahun lalu,” tegasnya.
Namun sejalan waktu, karena proses alam dan juga fenomena
seperti gempa, maka terdapat bagian yang tak utuh lagi. Perlu diketahui, Gunung
Padang ini dilalui dua sesar aktif. Meski begitu, masih banyak bagian dan
susunan altar di teras satu sampai teras lima yang masih utuh setelah melalui
waktu ribuan tahun lamanya.
Teras satu menyambung dengan tumpukan batu menggunung,
hampir mencapai teras dua. Ada bekas tangga yang sudah tidak dapat dipakai.
Warga menyebut ini sebagai bukit masigit atau mahkota dunia. Pada puncak
gunungan itu tumbuh pohon tinggi yang cukup rindang. Menurut kepercayaan, ini
adalah tempat atau gudang ilmu. Area ini merupakan yang paling sejuk dibanding
teras-teras lainnya.
Walau pagar tali mengelilinginya, pengunjung boleh mendaki tumpukan menhir tersebut dari teras dua, dengan syarat melepas alas kaki. Tujuannya untuk menjaga dan melindungi menhir-menhir yang ada. Dari situ pula, kita bisa menyaksikan, hamparan teras satu dan tangga di bawahnya atau meneropong jauh ke atas hingga ke teras lima, menyaksikan perbukitan di sekeliling gunung padang, serta puncak gunung Pangrango di kejauhan.
Melangkah ke gerbang teras dua, ada yang disebut batu kursi.
Ini merupakan tempat duduk raja atau pemimpin. Dari tempat duduk ini bisa
menikmati panorama alam, tampak pula puncak gunung gede pangrango bila cuaca
cerah.
Di teras tiga, terdapat menhir yang disebut Batu Kujang. Berupa
menhir besar, posisinya sudah roboh atau terbaring. Disebut batu kujang karena
pada satu sisinya terukir gambar senjata khas masyarakat Sunda atau Jawa Barat
itu. Ukuran reliefnya cukup besar. Nanang Sukmana meneceritakan, ukiran ini
sudah ada sejak situs dibuka kembali pada 1979.
Di teras tiga ini juga, ada batu yang dikenal dengan jejak
maung atau harimau. Batunya pun beda dari menhir-menhir lainnya. Ukurannya
besar terbaring dan lumayan bulat tidak sempurna. Nanang menjelaskan, memang
sekilas relief itu mirip tapak haraimau. Kebetulan juga maung adalah bahasa
Sunda yang artinya harimau. Namun dalam arti lain, maung itu singkatan dari
manusia unggul. Jadi relief ini merupakan jejak dari pertapaan yang dilakukan
oleh manusia unggul. Jika dihitung, jejak maung itu memiliki cekungan berjumlah
sembilan. Di sisi bawah, ada relief jejak tumit kiri dan kanan, lalu di batu
depannya ada jejak tongkat. Jika dipraktikkan, maka duduk sesuai dengan jejak
tapak, tumit dan tongkat itu menghadap ke timur alias menyongsong mentari atau sunrise.
Naik ke teras empat. Ini adalah teras yang paling lapang.
Balok-balok batu kebanyakan hanya tertancap sebagai pagar di sekeliling teras.
Namun ada satu blok di dekat sebuah pohon yang tumbuh menjulang. Batu yang
ukurannya lumayan besar ketimbang menhir-menhir di sekelilingnya. Berpagar batu-batu
lebih kecil, menhir itu tegak berdiri namun menapak tidak terpendam tanah.
Kini, juru pelestari mengamankannya dengan kawat karena posisinya kerap
berpindah-pindah, rawan hilang dan rusak. Itu karena banyak pengunjung yang
berusaha mengangkat dan memindahkannya.
Menurut kepercayaan yang berkembang, siapa yang dapat
mengangkat batu tersebut, maka hajatnya akan terkabul. Nanang Sukmana
menegaskan, sebenarnya itu merupakan kesalahpahaman. Ini adalah batu
kanuragaan. Dalam budaya masa lalu, batu ini merupakan simbol pengujian. Menhir
ini dipercaya sebagai batu yang mampu menyerap dan mentransformasikan energi
alam semesta. Ia akan terasa begitu panas di siang hari akibat energi dari
matahari, dan sebaliknya begitu dingin di malam hari karena menyimpan energi
dari bumi.
Baru kemudian di teras lima, jumlah menhir kembali padat.
Hampir sebanyak jumlah batu yang ada di teras satu dan dua. Ada yang tersusun
sedemikian rupa menempel dengan tanah, menjadi semacam tempat tidur. Dinamai
sebagai singgahsana. Nanang mengatakan, ini adalah tempat tidur atau istirahat Eyang
Prabu Siliwangi ketika bertapa atau berdiam di tempat ini. Pada malam hari,
ketika berbaring di tempat ini, tampak bintang-bintang di angkasa tanpa
terhalang suatu apapun.
Tak jauh dari tempat peristarahatan tersebut, batu paling
besar, saat ini posisinya terbaring. Pagar tali mengelilinginya. Menurut kisah,
dulunya batu besar ini berdiri dan di depannya terdapat altar. Di samping kanan
dan kiri area batu besar tersebut masih ada dua titik, yang disebut tempat
sunan rama dan sunan ambu sebagai simbol ayah dan ibu. Nabi Adam dan Siti Hawa.
Punden berundak Gunung Padang merupakan situs pemujaan
berbentuk punden berundak tertua di Indonesia. Ini juga menjadi salah satu yang
terbesar di Asia Tenggara dengan luas 29 hektar dan tinggi 220 m, yang masih
terjaga hingga kini. Meski sudah tidak dipakai sebagai tempat pemujaan, beberapa
masyarakat dari Bali, yang beragama Hindu, diketahui kerap datang ke sini.
Menurut Lutfi, mungkin mereka memiliki rasa kedekatan dengan budaya dari
leluhur di masa silam tersebut.
Tiap hari puluhan wisatawan lokal dan luar negeri
berdatangan mengunjungi tempat ini. Rata-rata per bulannya, 300an turis manca
negara tercatat menyambangi situs yang sempat heboh karena diduga merupakan
piramida yang lebih tua dari Mesir itu.
*Artikel ini telah diunggah di akun saya di Kompasiana.com dengan judul serupa namun sedikit editing perupahan. Berikut link-nya https://www.kompasiana.com/bigbangbow/5beed273aeebe11de2429332/menapaki-punden-berundak-tertua-di-nusantara-dibangun-selama-62-tahun
































