Selasa, 06 Desember 2011

Catatan Terakhir I


MS Wibowo (1985-2011)

Ciputat, Legoso, Kamar Instalasi 6 Desember 2011, 05.41 WIB


Jika aku mati tiba-tiba, entah di jalan atau di kamar kosan ini. Jl Legoso Raya No 24, aku cuma titip salam pada ibu dan adik-adikku. Sayangi mama.

Buku-bukuku aku ikhlaskan kepada sahabatku, Abdullah Alawi alias Abah. Dibaca coy, jangan buat bangga-banggan doang.

Komputer dan barang-barangku lainnya, tolong sampaikan pada adik-adiku, Siti Roliyah Wigati dan M Ikhwan Winoto.


Yang terjadi padaku, sebuah keresahan besar. Semua bersumber dari kenyataan bahwa saat ini, di umur jalan 27 aku belum lulus S1. Aku merasa begitu frustasi. Begitu berat beban dikepala. Terlebih aku seorang penakut dan orang yang sangat perasa. Mungkin karena itu aku sering membayangkan hal-hal yang akan terjadi di masa datang dengan sangat dramatis.

Nilai matakuliahku masih 14 lagi belum keluar. Semester 13.

Banyak hal yang aku sesali kenapa aku begitu bodoh. Dulu, waktu semester awal, tak sadar bahwa sesungguhnya aku telah telat tiga tahun masuk kuliah. Harusnya aku angkatan 2003. Tapi karena aku masuk SD pada usia 7 tahun, berhenti setahun pasca SMA, aku jadi masuk kuliah 2005.

Sayangnya aku baru sadar akhir-akhir ini. Sehingga banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul. Mulai dari bagaimana masyarakat kampungku memandangku. Sebab pasti ibu dan keluarga besar di sana telah membawa namaku kemana-mana sebagai seorang yang sedang kuliah di Jakarta. Sementara teman-temanku sebaya mayoritas sudah berkeluarga, bekerja, dan mapan ekonominya.

Aku di sini, masih menjadi parasit. Tapi mungkin aku dasar anak manja juga lemah. Dari kecil aku selalu ditertawakan lingkungan karena tak mampu mandiri dan kurang kreativitas. Kau tahu, bahkan untuk bisa menali sepatu, aku baru benar-benar bisa melakukannya saat kelas III SD.

Entah benar atau tidak, aku dikaruniai otak cerdas. Sejak SD sampai SMA, nilaiku selalu tinggi. Selalu peringkat satu. Sesekali turun paling rendah ya peringkat tiga.

Tapi untuk mendapatkan itu aku tak pernah bekerja keras. Cukup duduk diam di kelas mendengar penjelasan guru. Artinya, aku memang orang yang pasif.

Karena prestasi itu, banyak orang menyanjungku. Banyak orang menganggapku brilian. Lebih dari teman-teman yang kreatif lainnya.


Dan ternyata ketika kuliah, kecerdasanku tak terpakai. Aku yang mencoba untuk benar-benar mengandalkan usaha keras, sering gagal. Sementara untuk mengulang, menjadi seorang pasif seperti dulu sudah terlambat. Karena aku menyadarinya saat aku sudah semester 13.

Selain perasa, aku juga orang yang amat peka pendengarannya. Aku gampang terpengaruh terutama lewat kata-kata. Meski itu tak langsung menjadi tindakan. Biasanya aku, baru menyadari kemudian hari bahwa aku melakukan sesuatu yang dikatakan orang lain. Perkataan itu baik berupa larangan, perintah, anjuran, atau sekadar candaan. Itu biasanya terjadi.

Nah, ketika menyadari, biasanya juga aku coba untuk meyakinkan diri agar bisa kembali semula. Tapi itu sangat sulit. Tak semudah yang aku kira.

Di sini, di Jakarta, di Ciputat tepatnya, aku sendiri. Dalam kebingungan. Tak seorang bisa menolong. Atau segerombolan orang menolongku. Semua tergantung padaku. Orang pasti berpikir, aku harus berjuang mati-matian. Tapi yang lebih aku risaukan, bagaimana aku bisa menjinakkan pikiran agar mengalir tenang tanpa kekhawatiran. Sementara semua kenekatan yang dianggap orang sebagai keberanian, telah hilang padaku. Karena dominasi-dominasi kekhawatiran itu.

Pandangan masyarakat yang sering membuat jengah. Aku sebagai laki-laki dianggap semestinya menyerang semua kegelisahan ini. Tak pantas curhat atau berharap ada seorang perempuan tangguh yang mencintaiku atau sosok untuk memanajeri kehidupanku yang sudah kacau balau ini.

Pada semua, silakan anggap aku bodoh atas tindakan ini. Silakan kalian pintar dengan kehidapanmu masing-masing. Silakan tertawakan aku sepuasmu. Sampai ketemu di alam barzah. Lebih baik mati bunuh diri daripada jadi teroris Islam Fundamentalis, Nasrani Fundamentalis, Yahudi Fundamentalis.

Related Posts:

  • Cita-citaku Chapter IIngin Jadi Guru, Astronot, Petinju, Kiper Hingga Pebulu Tangkis Aku tak ingat cita-citaku sebelum masuk SD. Kalau tidak salah, aku sempat ingin j… Read More
  • Lanjutan Cita-Citaku Chapter IIIAku Menyesal Bercita-cita Menjadi Orang Berguna Bagi Nusa, Bangsa Serta AgamaDari teman-teman aktivis Pramuka saat ku SMP ini, ku dapat cita-cita baru… Read More
  • KejujuranKejujuran itu hanya untuk disanjung dan diagungkan bukan dipraktikan melalui tindakan ataupun kata-kata jangan disampaikan pada siapa pun manusia Tia… Read More
  • Cita-citaku Chapter II Posturku Lebih Mirip Sosok Jin Daripada Manusia Kelas VI SD, pertengahan tahun menjelang lulus, kembali ku didera demam olahraga. Kali ini sepak b… Read More
  • LilinYang membekas dari lilin bukanlah lelehnya,  pijar pelita menentramkan hati dalam pekat relung jiwa. Jakarta, 25 Agustus 2014… Read More

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html