Kamis, 14 September 2017

Hidangan di Atas Medsos


Saya tahu apa yang di benak para pengunggah makanan yang mereka santap bersama teman, orang tercinta atau pun sekadar sendiri. Mereka sedang berbahagia dan sebagaimana perasaan lainnya, ingin diungkapkan dan dibagikan. Karena seperti kutipan dalam film “Into The Wild” kebahagiaan hanya nyata bila dibagikan.
Saya mungkin sakit hati. Setidaknya itu yang saya rasakan dan tidak dapat saya sembunyikan. Sakit hati memang tidak rasional. Entah karena iri atau karena memang sedang tak bisa seperti mereka yang membagikan foto-foto kelezatan makanan di media sosial. Pastinya, saat ini, saya sedang tidak bisa seperti mereka. Saya sedang lapar dan kelaparan. Melihat foto-foto makanan, sekalipun itu hidangan sederhana, rasanya seperti tambah mengaduk-aduk dan mengiris-iris isi perut.
Seperti mereka yang ingin membagikan perasaan bahagia atas hidangan dari Tuhan, saya juga tak tahan untuk membagikan perasaan kepedihan yang terus menggumpal dalam perut, hati dan pikiran.
Saya ingin memanipulasi perasaan setidaknya memolesnya dalam bentuk cerita fiksi, esai, atau semacamnya. Tapi mungkin terlalu perih ya isi perut. Terlalu asam mulut karena hanya diisi oleh asap tembakau dan secangkir kopi.
Apapun yang terjadi, saya mesti bersyukur karena masih bisa menyeruput kopi dan menghisap nikotin sebagai penahan lilitan perut ini.

Ini merupakan kemarahan, yang sebenarnya saya tujukan untuk diri sendiri. Saya tak sedang ingin dikasihani atau mengutuki diri sendiri dan orang lain. Tidak. Karena semua itu jelas percuma. Saya juga tidak berharap ada yang membaca tulisan ini. Tapi tetap saja ada orang yang tersesat membuka, membaca, dan bahkan ikut merasakan derita gara-gara membaca tulisan ini. silakan saja. Nikmati saja. Semoga kau tak mengutuki nasibmu.

Related Posts:

  • Penghianat Musik “Sok filosofis!” ucapmu membuatku tercengang. Kukira kau akan suka saat kuputar tembang-tembang dengan lirik mendalam penuh perenungan kehidu… Read More
  • Bapak Tua Penjual Arah “Sejauh-jauh perjalanan hanya untuk kembali.” Entah sejak kapan kalimat itu sering terngiang di kepala. Namun aku terus mengayunkan kaki. Melang… Read More
  • Jaket, sweater, dan lainnya Beberapa menit setelah saya masuk dan duduk di lantai rumah, saya selalu terkejut. Pasalnya saya tak pernah ingat kapan melepas jaket, sweater, bahk… Read More
  • Karena Kau Orang Biasa yang Mudah Sembuh dari LukaSeberapa berat rasa sakit di jiwamu kubuat, sebesar itu aku yakin kau kuat meneruskan laku sampai tiba saat sekarat. Lupa tidak mungkin tapi mengatasi… Read More
  • Bapak Tua Penjual Arah 2 Hari masih terang. Mentari yang condong ke barat menurunkan derajat panasnya. Aku memandangi kegiatan bapak tua penjual arah melayani pembeli ata… Read More

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html