Selamat Jumpa Sidang Noters Yang Budiman
Teror Kesadaran dari Kegilaanku
Selamat Jumpa Sidang Noters Yang Budiman
Tiap maghrib dengan sopan
menghidangkan secangkir kopi hitam bernama malam
Pekat malam sehitam kopi di gelasku
Sering kuoploskan lelah di adukannya
Kadang kutumpahkan karena luapnya luka, duka pula cinta
Mungkin juga harta benda
Uh ekonomi
Nyaman saja tiap secangkir malam hitam tiba
Kepul polusi beriring asap rokok
Tak mampu kujelantrahkan
Ingin tutup telinga tutup mata
Tak tega
dengar jerit teriak subuh
Khawatir tanpa dasar
Malam hitam harus kusiramkan di wajah timur
Demi tumbuh mega-mega
yang mudah layu
Bingung menangis sedu
Tak kuasa tatap cahaya
Mesti terima panggang mentari
Walau sakit coba nikmati
Biar kulawan sinarnya
mendidih darahku
cipta kopi senja
Ciputat, 24 November 2010, 23:52
Nonton
Bioskop Yang Cukup
Satu Penontonnya
Ada Yang Pakai Tiket
Ada Yang Gratis
Kalau Bayar
Itu Setelahnya
Kalau Gratis
Sudah Ditanggung Pengelola
Mungkin Negara
Lampu Nyala Terang
Gambar-Gambar
Keluar Dari Kepala
Seiring Kotoran Turun
Ke Bawah
Bau, Baunya
Judul Cerita Bisa Cinta
Atau Hal-Hal Gila
Inspirasi Tulis Kata
Bisa Acara
Semua Saat
Boker Kita
Menyadari sekitar tak kenal kompromi
Bisa jadi salah persepsi
Keriuhan hanya benteng rapuh dari intai kuping-kuping nakal
Kami berdua menepi
Mencari tempat sunyi
Di pojok gedung lalu-lalang sesekali
Malah mengejutkan tak pasti
Berdua menarik diri
Dalam ruang kamar
Kontrakan empat sisi
Tak ada mata peduli
Tak juga kuping nakal iri
Tetap saja
Gelak pintu tetangga
bolak-balik ceramai
Kejutkan
Kagetkan
Tak tenang.
Putuskan tunggu malam
Sampai nyamuk pulas tidurnya
Sampai pintu enggan bicara
Dan kunci kamar berdua
Tak kubiarkan desing kipas mengganggu
Getar komputer raba jiwa
Tak kubiarkan
Dia siap bicara
Aku bicara
Mulut terkatup
Angin bising menangis
Kalah tempur oleh asap kendaraan
Malam kian renta
Kuberitahu tempat aman sedunia
Aku dan dia
Dialog mesra
Dalam dadaku
Lebih dalam
Di kamar rapat
Kiri jantung belok lurus
Tembus tempat tersenyap
Tanpa dengar alir darah
Ruang jiwaku
Di sini kami berbagi
Aku dan dia
Sementara
Biarkan jiwa coba mengintai
Lewat sumsum tulang
Tak mungkin ia dengar
Gelak tawa kita berdua
Ciputat, 5 Oktober 2010
Aku menyerah. Kubebaskan kau menilai. Silakan hina, puja, sanjung atau caci aku. Aku tak peduli. Mungkin benar aku tlah tersesat. Tapi apa kau peduli dan rela menjemput lalu mengantarku ke jalan Semula?
Kalau keberatan tak apa. Biar kujalani sendiri, di sini. Kukumpulkan sisa-sisa porakporanda jejak jalanku. Kujadikan bangun fondasi menara masa depan. Di ujung sana, akan aku daki langit. Berjumpa Tuhan, Kebenaran atau apalah namanya.
Kepada semua lelaki dan perempuan yang telah kukenal dengan guratan semi permanen di hati. Ku tahu kalian cinta aku. Buat para cowok, jangan salah sangka dulu. Dalam hal ini aku ‘normal’. Artikan cinta seluas mungkin, biar kalian tak mau maho denganku.
Tapi jiwaku benar-benar rumit. Satu per satu darimu hanya menyaksikan sisi terang yang tampak saja. Itu bukan aku seutuhnya. Sisi lainnya merupakan sumber sinar terang hingga tak kau lihat. Aku yakin, psikolog atau psikiater kelas dunia nomor wahid pun tak mampu memahami jiwaku.
Jiwaku adalah jiwa dari pertaruang saling serang sinar-sinar maha dahsyat. Aku silau menatapnya. Aku benci menyapanya. Tapi selalu rindu bersama jiwa.
Ya, aku sering hidup tanpa jiwa. Langkahku langkah raga biologis. Jiwaku tertempel di langit bersama awan. Itu sering terjadi.
Kalau benar demikian, lalu siapa yang menulis note ini? Mungkin kesadaran, mungkin juga tanganku saja yang iseng, tiba-tiba ngetik di depan komputer. Yang jelas bukan jiwaku. Karena aku sedang membicarakannya. Pastinya, aku yang menulis.
Aku dan jiwaku adalah dua hal yang berbeda. Aku sering menyaksikan jiwaku penuh emosi memberontak marah-marah dan sebagainya. Kadang ia seperti pamer padaku kalau sedang bahagia. Jiwaku sering duduk merenung sendiri, lalu tertawa. Tak ada orang yang mampu melihatnya, kecuali aku.
Oke. Aku terima semua keporakporandaan ini. Porakporanda akibat pertempuran sisi-sisi jiwa. Coba kau rasakan bau mesiu dan asap serta radiasi nuklir jiwaku. Pertempuran ini telah selesai. Sisi-sisi jiwaku berdamai. Anggap saja tulisan ini sebagai NOTA KESEPAHAMAN JIWA.
Aku bersama sisi-sisi jiwaku, yang sebenarnya satu, melangkah fokus membangun menara untuk menggapai singgahsana Kebenaran. Kalau ada yang minat ikut, aku sangat bahagia. Tapi bagi yang nggak mau, karena takut aweng-awengan di ketinggian, tak apa-apa.
“READING WRITING AND SINGING”
Ciputat 1 Oktober 2010
Aku udara
sukma cadangmu
Penjaga yang tak pantas melindungi
Sebab indahmu merona
Bila sepi di helai mahkota bunga
Suaraku berbisik di telinga
Sayangku beriring sel-sel tubuh waktu
Kau layak kukagumi…
Bukan sekadar boneka kembang coklat
Amat basi sebutmu separuh jiwa
lebay bilangmu pujaan hati
Sebagai hidupmu
Tak apalah kaulupakan
Jika hadirku malah menunda kematian
Sebagai jantungmu
Tak masalah hilang dari ingatan
Aku memompa tak kenal sadar
Kentalkan darah oleh butir-butir cinta
Usai jeda ini
Sadari aku honey
itannya pada tahun 1980an. Ini ditandai dengan berdirinya Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (Ushuluddin) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di fakultas ini, mahasiswa memelajari berbagai disiplin ilmu tentang ushuluddin atau dasar-dasar dari agama dan spiritualitas, serta filsafat, yang merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan.Kau bertanya mengapa aku begini Mengapa kondisiku begitu Dan kau lupa bertanya Apakah keadaanmu posisimu saat ini terjadi ada dan berla...