Selasa, 05 April 2016

Koran Minggu, Seorang Ibu, dan Pemuda Gondrong

Aku tidak pernah langganan koran. Belum mungkin. Bukan berarti menganggap itu tidak penting. Bukan pula karena sudah marak media online. Beberapa kali niat, tapi selalu gagal. Mungkin tekadnya setengah-setengah. Lagi juga setelah dipikir-pikir, sempat selama beberapa hari rutin beli koran, ternyata tidak dibaca. Hanya ada rasa lega ketika menggenggam segepok koran. Jika pun membaca, paling berita olahraga. Itu pun jika berkaitan tim sepakbola yang aku suka.

Entah kenapa, sering ada rasa muak membaca berita, khususnya politik, kriminal, atau kejadian yang hanya ada di kota-kota dan pusat pemerintahan. Bagiku gitu-gitu saja. Tak ada yang baru. Kaku. Bisa jadi aku tak peka sebagai warga atau apatis.

Hanya satu rubrik yang biasa kubaca sampai habis. Cerpen. Sayang, ini hanya ada tiap sepekan. Karena itu pada hari Minggu aku selalu ngacir ke kios koran di jalan raya sana. Tempatnya di samping belokan jalan menuju sebuah area kompleks dosen kampus negeri.

Dari sekian tempat penjual lain, kios itu yang aku pilih. Penjaganya seorang ibu. Kadang-kadang kalau dia lagi tidak di tempat, anaknya atau suaminya yang ganti melayani pembeli. Anaknya perempuan, suaminya laki-laki.

Di samping kios itu, ada satu ruang sempit berukuran 1x3 m yang ditempati seorang pemuda berambut gondrong. Ruang itu merupakan tempat usaha jasa pembuatan plakat, stempel, dan semacamnya. Aku dan pemuda rambut gondrong itu selalu saling senyum dan sapa, “hai bro” ketika berjumpa. Meski sebetulnya aku tidak pernah kenal siapa dia.

Dulu sekali, tempat usahanya tidak di situ, tapi di seberang jalan dari yang sekarang. Ketika ke kampus, dulu aku sering lewat di depan dereten ruko semi permanen yang kini tinggal kenanangan. Salah satu dari deretan itu adalah kios plakat dan stempel milik pemuda tadi.

Aku tak ingat siapa di antara kami yang pertama kali menyapa hingga akhirnya jadi kebiasaan. Sekadar menyapa tanpa lanjut obrolan, sampai sekarang begitu kalau ketemu. Parah kan? Ia pindah karena penggusuran. Konon, mau ada pembangunan apartemen atau apa. Kabarnya, tanah itu dulunya punya pemerintah. Tapi tak tahulah. Biarkan saja.

Aku tak sempat mengamati apakah tempat usahanya lebih ramai dulu atau sekarang. Muncul keinginanku untuk sekadar mengobrol basa-basi. Sayangnya, ruang sempit bercat orange itu sering kosong ditinggal tanpa orang. Entah kebetulan, tiap ketemu pemuda itu selalu sedang akan pergi. Belakangan aku melihat fotonya di akun facebook salah satu teman. Entah dia atau bukan, belum juga pernah aku tanyakan.

Minggu malam itu hampir usai. Orang-orang sudah siap dengan Senin yang sama seperti sebelumnya. Aku menyela motor. Sampai di kios, si Ibu tetap saja masih bertanya, aku mau beli koran Sabtu apa Minggu. Mungkin di matanya aku selalu tampak seperti seorang pencari kerja atau kurang kerjaan. Padahal sudah jelas, aku tak pernah membeli koran selain koran Minggu. Tapi biarlah, dia tetap seorang ibu.

“Bro,” sapa pemuda itu yang kini sudah tidak gondrong.
“Hey,” balasku. Ia tampak bergegas membawa segepok barang, entah apa.

Selesai transaksi dengan si Ibu, aku tak langsung menggapai motor. Aku mengejar si pemuda yang dulu gondrong itu. Telat. Dia sudah tidak ada. Sepertinya dibawa angkot ke arah Ciputat.

Ya sudah. Aku langsung ke kosan dengan membawa koran. Tiba di kamar, koran aku lempar di lantai begitu saja. Aku bikin kopi, menyalakan laptop, nonton film. Keesokan pagi baru cerpen aku baca.

Minggu depannya, begitu juga. Aku meluncur ke kios, ditanya mau beli koran Sabtu apa Minggu.

Kali ini, Minggu sampai ketemu Minggu, cerpen tak juga aku baca. Dan hasrat untuk membeli koran pada hari Minggu mengantarku ke kios itu lagi. Tiba di kamar, aku buka rubrik cerpennya. Tapi baru dua paragraf, gaya bahasa penulisnya membuatku tak berselera. Akhirnya dua koran Minggu mangkrak sia-sia.

Minggu berikutnya, aku berpikir ulang perlukah membeli koran? Tapi siapa tahu, kalau sekarang belum minat membaca, mungkin hari-hari berikutnya. Jadi aku tetap ke kios itu. Ternyata sama saja. Tiga koran Minggu mangkrak tertumpuk di sudut ruangan. Apa seleraku yang hilang atau memang penulis cerpennya selama tiga pekan berturut-turut tak sealam denganku, aku tak paham.

Minggu esoknya, aku mengatur strategi biar tidak rugi. Yakni dengan harus baca dulu di kios sana. Kalau sekira cerpennya kurang sreg, mending gak usah dibeli. Tapi pas tiba di tempat, si Ibu nanya, “Koran Sabtu apa Minggu?” aku jawab “Minggu. Mau tak mau harus bayar dan tak jadi dibaca.

Begitu seterusnya, berulang dan terus berulang sampai sekarang. Aku dan koran hanya saling menyapa tanpa membaca. Layak aku dan si pemuda itu. Kenapa? ()

Minggu, 14 Februari 2016

Memang Coklat Valentin

● Jangan dekat-dekat denganku, aku orangnya licik.
— Bukankah tiap orang memang licik dengan cara masing-masing?
● Aku jahat. Aku dekat sama orang kalau ada butuhnya saja. Termasuk sama kamu saat ini.
— Semua manusia memang begitu, selalu butuh orang lain. Karena dia makhluk sosial, tak bisa hidup sendiri. Seperti aku butuh kamu.
● Ternyata kamu memang nyebelin ya?
—Oh ya? Ini coklat
● Wah, makasih. Kamu inget ya...
    Eh, tapi ini buat Valentin kan?
"Happiness. Simple as a glass of chocolate or tortuous as the heart. Bitter. Sweet. Alive. (Chocolate Movie)” 

Selasa, 12 Januari 2016

Dariku

Dariku
jika padamu hanya terdengar dalam diam
terasa sebagai kemuakan
menjadi cacat batang waktu lalu 
dan jika cinta yang ku persembahkan tak lebih sebiji kata 
maka ku harap itu adalah doa 
penebus lara 
di esok nanti atau lusa 
Entah apa atau siapa
Lalu aku membeku es mungkin 
mengapung awan 
mungkin berhembus udara 
mungkin gelombang samudera 
bisa pula saripati tanah yang disesap akar-akar pohon berubah buah 
mengembang bunga 
gugur oleh kumbang jatuh terurai bumi 
mengalir sungai hingga tiba ku menjumpa kau
entah telah berupa apa atau siapa

Jumat, 08 Januari 2016

Rabu, 06 Januari 2016

Senin, 04 Januari 2016

Minggu, 03 Januari 2016

Jumat, 01 Januari 2016

Kamis, 17 Desember 2015

Aku Menggigil

Dingin
gelap
mengaliri sekujur rambut
Mentetes satu demi satu di pundak yang telanjang

Dingin
gelap di sekitar pandang dan jarak tempuh langkah
Andai kau..., 

Ah, tak perlulah susah payah. Kau hanya akan lelah
Biar aku saja
menerobos dingin gelap 
sambil memikul kerinduan

Tunggulah di sana
Menunggu siapa? Yang ingin kau tunggu

Dingin 
Dingin 
Dingin

Sampailah gigilku di kehampaan hatimu
Kau tak mengenalnya 
sekadar melihat wujudnya pun, tidak
Kau merasakannya sebagai asing
yang terjerembab di riuh lamunan.

Dingin
Gelap
Terus melangkah tegap 
Jika lelah pasrah kutelungkup tengkurap
Mengapar tak kuasa 
karena dingin gelap

Merangkak sejengkal
Merayap depa 
demi depa

Aku ingin mengecap kecup rindu di keningmu
Sebelum sampai
merengkuh Cahaya
sehingga benderang siapa kita sebenarnya

Legoso, Akhir Hujan Larut Malam Awal Hari, 17 Desember 2015

Kamis, 26 November 2015

Kamis, 05 November 2015

Kau Perahu dan Aku Lautan

Sebagai lautan aku hanya bisa senang ketika perahumu tiba menjamah permukaan yang tenang dan tak kuasa selain merelakan saat perahu harus meninggalkan menuju dermaga yang setia.
Dan aku, tetap sebagai lautan. Bergerak dengan gelombang, mengikuti arus tanpa terbebani laju angin yang kebingungan. Berubah rasa dan hawa karena perpaduan air asin dan tawar, yang telah lama mengangkut sari-sari hidup tanah di daratan.
Maka saat kau kembali di koordinat ini, jangan tinggi anganmu, aku masih lautan yang sama seperti tanggal lima.

Senin, 19 Oktober 2015

Kamis, 15 Oktober 2015

Sama-sama



Kita mungkin pernah satu frekwensi
Dikangkangi dunia yang penuh kemunafikan dan ketidakadilan
membuat kita berpikiran sama
bahwa hidup adalah menyakiti atau disakiti
Setelah menggulung beberapa lipatan
Kita bertemu pada titik
saling menginginkan, saling melengkapi, menyayangi, membutuhkan
sama-sama merasakan.
Logika ditikam atau menikam pun buyar
Kita bukan dua kutub berlawanan
Kita adalah satu berlayar menuju

Ketika satu di antara berubah haluan
bukan satu bahagia dan derita yang lain kesepian
Takdir kita tetap sama-sama
saling mencintai atau saling tersakiti

Purnawarman, Legoso, 15 Oktober 2015

Minggu, 11 Oktober 2015

Spasi Kemerduan


Sudut mana lagi harus kusinggahi
Berapa titik dari detik
yang harus kuputar balik
Halaman demi halaman telah kubuka
Huruf per huruf telah kubaca
Kusadari setelahnya
yang kucari ternyata disebut jeda
Spasi sepersekian mili
yang jarang diperhati
Ada tapi tak nyata
Mustahil terucap dan terliha
namun tanpanya tiada kata tiada kalimat
hingga paragraf menjadi kitab

Udara bening
sebening rasa malam yang hening
induk kemerduan
Terang cahaya utusan
bara berkobaran

panas menyala dalam gelap 
tak tersingkap

Legoso, 11 Oktober 2015

Rabu, 07 Oktober 2015

Marun

Menghabiskan waktu kerinduan
Dengan kepulan asap dan manisnya anggur yang maroon
Menyia-nyiakan masa
Membuktikan tiada gunanya dirimu
Dan kubiarkan kau menang
Kau kira aku berhenti
Kau salah
Aku pergi
Meninggalkan kesia-siaan
Dan kau akan mati tiada guna
Ketika kutukan telah jatuh


Tarumanegara, Legoso, 7 Oktober 2015

*Aw what a seem. So be easy. Keep calm, so must go on. Its just for laugh

Yang Tersembunyi Abadi dalam Gelap

Aku makhluk yang terkutuk rasa
Kau hadir sejak lama sebelum raga kita mengenal
Benturan paralelisme
lintasan hidup
Persimpangan mempertemukan
Kelembutan kita
bersentuhan
Persuaan
Kau dan aku
bukan asing satu sama lain
Takdir telah membaca
Jika dua kutup bersatu
Utara dan selatan
Tanda kehancuran
Lebur dalam gelap angkasa raya
Mata buta
Hanya rasa
Hanya rasa
Rasa
Hanya rasa menggigit sakit dalam denyit jerit suara yang tak satu pun mendengar
Rahasia kita abadi

Galaksi yang mati

Selasa, 06 Oktober 2015

Selasa, 29 September 2015

Minggu, 27 September 2015

Akhir Tahun

Akhir adalah tanda segera munculnya awal baru. Akhir tahun selalu menjadi saat khusus. Pada tanggal 7 November aku berulang tahun. Itu berdasarkan catatan di rapor dan akta kelahiranku.

Cepat sekali waktu memvonisku tua.

Baiklah, kata orang dan memang kenyataannya, tua itu pasti. Karena itu haruskah segera aku memilih menjadi dewasa? Karena dewasa adalah pilihan.

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.

Berarti adalah hakku untuk memilih tetap menjadi anak-anak atau mungkin kekanak-kanakan. Penuh keceriaan dan lebih emosional. Segalanya riang, penuh tantangan, menarik perhatian. Gembira. Selalu mencoba hal-hal baru.

Bukankah dunia ini luas? Jagad raya tak terbatas? Pasti masih ada hal-hal baru senajan kita sudah tua. Asal jangan dewasa. Karena dewasa adalah membatasi diri bahwa dunia seperti ini seperti itu, sebegini sebegitu, saklek. Sedangkan bagi anak-anak, dunia tetap indah berisi petualangan menarik perhatian.

Atau aku harus golput? Maksudnya tidak memilih untuk dewasa juga kanak-kanak?

Selasa, 15 September 2015

Petualangan Air


Selaku setetes air,
siapa tak ingin bersatu samudera.
Tempat kumpul berjuta-juta
sumber kehidupan.
Berbagi cerita petualangan.
Pelayaran mengarungi inci per inci lobang di daratan.
Menyusuri lorong-lorong dalam
sela rongga tubuh manusia,
pori-pori pepohonan,
beceknya tanah,
diinjak-injak bersama rerumputan
yang ceria, tertawa, tempat anak-anak bermain bola.

Perjalanan normal adalah aliran
sungai menuju muara.
Tiap tepinya menyimpan persimpangan
menyesatkan penuh tantangan.
Kau yang terserap oleh tepian
 akan menjalani pengembaraan panjang.
Sebelum menguap ke udara menjadi awan.
Melayang-layang dalam ekstase di ketinggian biru.
Jatuh bersorak ke lautan,
atau terserak keruh selokan,
mungkin pula terserap bergelinjang akar-akar pohon
di rimba hutan.
Memadamkan api yang mengumbar asap menyesakan paru-paru bumi.
Menanti peluang
pulang ke bahari.

Tarumanegara, 15 September 2015

Minggu, 13 September 2015

Aku?

Aku?

Ya kau. Tak perlu melakukan apapun. Diam tak usah kata. Kosong tanpa hasrat. Beku tanpa teori. Jangan ada pergerakan. Itulah sedahsyat-dahsyat perubahan. Kekuatan diam. Kekuatan yang membisu. Tak ada yang perlu dikagumi di luar dirimu. Tak ada yang harus diresahi. Tak ada yang khusus diperhati. Kau makhluk terberkah. Terbaik. Bahwa tahta tertinggi ialah tanpa tahta. Cinta sejati ialah tanpa cinta

Kamis, 10 September 2015

Simulasi Waktu

Lupakan mimpi tentang Eropa.
Di Nusantara kau dan aku
tak butuh daratan baru.

Gemercik klasik sungai dari pedesaan, kicau burung di dahan pohon yang tenang,
biarlah bermutasi bising kendaraan, teriak klakson di kemacetan.
Sementara kau dan aku cukup bersemayam dalam pikiran.

Jarum jam di luar sana meliar.
Melingkar-lingkar
menjerat leher orang yang senang pada ketakutan.

Jika tak cukup pula keberanianmu, aku sajalah yang gila
memeluk rapuhnya waktu. Bukankah, kata Sapardi, ia fana?
Sekejap hancur
diganti detik-detik baru lainnya.
Tak seorang bisa menyeberang sungai sama untuk kedua kalinya.

Menit-menit belia tak paham sejarah.
Merasukan dentang-dentang lonceng hitungan ke dalam sum-sum tulang
dan aliran darah. Anti abadi.
Jasad kan memudar
lenyap menghadap kumpulan masa binasa.

Di tepi gaduh ruang, waktu, dan massa fatamorgana
Hanya kita yang nyata

Tarumanegara, Legoso, 10 September 2015, 09.06

Waktu

Waktu ada tanpa wujud. Ia adalah perpindahan dari suatu gerak kondisi ke kondisi, keadaan ke keadaan, ruang ke ruang. Ia ada tapi tidak rill.

Dalam waktu, orang bisa saja tersesat di gurun, di tengah-tengah samudera, di hutan atau dimana saja, tapi tubuhnya masih ada di rumah, di kamar, atau mengikuti aktivitas sehari-hari. Karena waktu memang tidak nyata hanya ada.
Sejati waktu tidak melingkar berjalan

Minggu, 02 Agustus 2015

Kamis, 16 Juli 2015

Jumat, 26 Juni 2015

Rabu, 17 Juni 2015

Bulan Ramadan, Setan dan Iblis pun Berpuasa

Seperti tahun-tahun sebelumnya dan layak razia rutin Satpol PP terhadap orang-orang jalanan serta segala yang dicap meresahkan masyarakat, anggaplah jelang Ramadan ini setan, iblis, dan semua balanya dari golongan jin berlarian menghindar dari operasi yang digelar tentara malaikat.

Sungguh upaya daya pelarian itu percuma karena pemenjaraan selama bulan suci ini sudah ditetapkan dalam nash oleh Tuhan. Selain itu, kejadian ini juga telah berlangsung rutin setahun sekali, sehingga telah menjadi semacam ritual biasa selama jutaan tahun. Tanpa kesan.

Akhirnya setelah melakukan penelitian dan menggelar rapat evaluasi, para setan dan iblis dari golongan jin ini ramai-ramai secara damai menyerahkan diri untuk dibelenggu selama sebulan. Di bulan Ramadan ini, mereka ingin berbuat baik dengan tidak lagi menyesatkan manusia ke jalan yang sesat dan dosa. Mereka puasa dari tugas menebar dan membisikan kejahatan.

“Kami mungkin memang jahat karena selalu mengajak manusia berbuat maksiat. Kami terima disebut makhluk terkutuk yang mengarahkan manusia menuju neraka. Kami juga terima manusia memaknai kata iblis ataupun setan sebagai sesuatu yang buruk, sesat dan menyesatkan. Tapi ingat, bukan kami saja yang membisiki dan menjadi pangkal dari kejahatan, melainkan juga banyak setan dan iblis dari golongan manusia,” kata salah satu Setan sebelum menyarahkan diri untuk dibelenggu selama bulan suci Ramadan.

“Kini kami menyerahkan diri untuk dibelengu dan dipenjara selama Ramadan. Kami puasa menggoda dan menyesatkan manusia. Sekarang, manusia bebas. Dan mari kita buktikan, tanpa kami masihkan manusia bisa melakukan kejahatan dan maksiat? Mari kita lihat siapa yang paling setan di antara kita. Mari kita buktikan, tanpa kami masihkah manusia tergoda berbuat maksiat?” imbuhnya.

Senin, 25 Mei 2015

Alter Ego, Pergilah...


Sore dalam riuh adzan ashar, aku duduk di antara rengekan alter egoku yang berjumlah beribu. Itu hitungan yang berlebihan. Tapi sampai saat ini berisik seolah begitu banyaknya, padahal semua hanya lima.
Kepada kelima alter ego yang telah akrab dan kukenal, aku ingin menyampaikan pesan. Muka mereka murung. Sebagian sembab. Yang lain tampak merah marah, dua lagi gelisah, satunya kesakitan.

“Sini kalian, ajak teman-teman kita yang tak bisa bebas dari belenggu kejadian. Aku minta tolong padamu Yang Marah, padamu Yang Gelisah, padamu Yang Terluka, padamu Yang Meratap, padamu Yang Didera Cacat akibat separuh bagiannya hilang, pergi. Aku minta tolong ajak teman-teman lain yang terpengaruh akibat kejadian ini. Pergi datangi dan silakan tinggal di sana selamanya, di hati, pikiran, jiwa, batin, dan hati, serta raga seseorang yang mengikat pikiran kalian. Biarkan raga kita, pikiran kita, jiwa kita, batin dan hati kita kosong. Karena kosong adalah isi. Biarkan utuh tanpa kalian rong-rong dengan kekosongan yang menjadi-jadi. Hidup harus tetap berjalan. Walau dia tak mungkin lagi jadi teman setujuan. Ikhlaskan. Biarkan segala ketidakadilan tertinggal di masa silam. Terkubur dan terpendam dalam-dalam. Biarkan raga, pikiran, jiwa, batin dan hati kita memulai sesuatu yang baru tanpa kalian. Sekali lagi mohon maaf. Selamat jalan. Pergilah seiring dengan hembusan ketiga dari tarikan nafasku”

Pesanggrahan 24 Mei 2015
Gambar : chillinaris.wordpress.com

Rabu, 20 Mei 2015

Atheisme dan Dzat Tuhan

“Dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia”

Begitulah kurang lebih terjemahan atau tafsir ayat 4 Quran Surat al-Ikhlas. Ayat itu menerangkan bahwa tak ada sesuatu yang menyamai atau menyerupai Tuhan (Allah) dalam hal apapun. Baik rupa, perbuatan, perkataan dan segala hal yang tentunya dapat dibayangkan manusia.
Lalu bagaimana manusia menyembahnya, bahkan mungkin mempercayainya, jika tidak dapat dibayangkan sama sekali? Itulah menurut saya, mengapa surat tersebut dinamai al-Ikhlas. Kita sepaham bahwa ikhlas itu sendiri berarti melakukan sesuatu tanpa mengharap apapun. Termasuk kepada Tuhan. Kita menyembahnya semata-mata menyembah, beribadah kepadanya semata-mata beribadah. Sesungguhnya tidak untuk dalam rangka mengharapkan surga atau takut pada neraka. Itulah ikhlas.
Jika melihat kata Tuhan atau dalam Islam disebut Allah, akal kita juga bisa mencerna bahwa yang kita sebut Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri, yang kita sebut Allah bukanlah Allah itu sendiri.
Perumpamaannya, Anda menyebut nama saya M.S. Wibowo. Anda tentu tahu bahwa M.S. Wibowo itu yang Anda sebut bukanlah saya pada dzat saya sendiri. Kita juga masih bisa berdebat yang disebut M.S. Wibowo itu yang mana? Keseluruhan tubuh sayakah? Pikiran sayakah? Atau yang mana?
Mungkin Anda, jika bertemu dengan tubuh fisik saya, bisa menyebut dan menunjuk tubuh saya, “Ini adalah MS Wibowo. Tubuh ini beserta keseluruhan aktivitas jasmani rohaninya adalah M.S. Wibowo.” Tapi hal itu tidak bisa Anda lakukan pada Tuhan. Kita sama-sama tahu, akal dan pancaindera kita tidak mungkin menjangkaunya. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengimaninya. Titik. Selanjutnya menjalankan syariat-syariat yang kita yakini dan imani turun berdasarkan perintah-Nya.
Lain halnya dengan seorang atheis, mereka tidak menjalankan perintah-perintah atau syariat Tuhan. Bahkan mereka menyebut tidak percaya kepada Tuhan. Ketidakpercayaan kaum atheis karena mereka beraktivitas menggunakan akal dan observasi inderawi. Hal ini juga dapat dipahami karena kaum atheis tidak mungkin menjangkau Tuhan yang berada diluar kemampuan akal manusia.
Namun pada titik ini, disadari atau tidak disadari, sesungguhnya kaum atheis telah memurnikan dzat Tuhan dari prasangka-prasangka serta definisi-definisi yang membatasi dzat Tuhan itu sendiri. Satu-satunya batasan yang mereka lakukan terhadap Tuhan, adalah mereka menyatakan bahwa alam semesta ini dapat dipahami tercipta dengan sendirinya “Tanpa Campur Tangan Tuhan”.
Saya garis bawahi kalimat “Tanpa Campur Tangan Tuhan” itulah yang menurut saya bahwa kaum atheis masih juga membayangkan Tuhan sebagaimana dipersepsikan oleh orang-orang kebanyakan. Tuhan berupa fisik yang dengan tangannya membangun dan menciptakan alam semesta.
Tapi bagi atheis sejati, semestinya Dzat Tuhan tentu jauh hubungannya dengan alam semesta. Tuhan benar-benar tak terbayangkan. Sehingga yang ada di pikiran Atheis sejati adalah alam bekerja dengan sendirinya melalui suatu hukum tertentu yang sudah tersusun sedemikian rupa. Segala bentuk pengimajinasian tentang tuhan seyogyanya dihilangkan. Karena bahkan dengan mengatakan Tuhan Ada atau Tuhan tidak Ada itu sendiri sudah merupakan bagian dari cari manusia membayangkan keberadaan atau wujud Tuhan. Artinya itu bertentangan dengan Quran Surat al-Ikhlas ayat 4 di atas.
Kalau ada, seorang Atheis yang sama sekali tidak menyinggung ada dan tidaknya Tuhan, maka itulah dia seorang yang sesungguhnya telah bertuhan, meski tanpa agama yang banyak membatasi tuhan dengan definisi-definisinya. Dia (atheis) menjaga kemurnian wujud tuhan dari persekutuan yang dilakukan oleh pikiran, imajinasi dan bahasa manusia. []


Kramat, 20 Mei 2015

Jiwa dan Tubuh Manusia adalah Bagian Big Bang


Jika Teori Big Bang itu benar adanya, maka pada mulanya alam semesta ini adalah sebuah ledakan besar di ruang angkasa gelap nan luas tiada batas. Ledakan tersebut terus mengembang. Satu per satu materi ledakan berputar membentuk galaksi, semacam tata surya, planet, satelit planet dan seterusnya. Semua benda angkasa itu berputar dengan pola, yang seolah tetap.
Di antara benda angkasa raya atau jagad raya alias alam semesta terdapat planet yang memungkinkan adanya kehidupan. Mungkin salah satunya adalah bumi. Karena tak menutup kemungkinan ada planet-planet lain yang juga memiliki kehidupan.
Sejak mulanya, Bumi, yang merupakan satu titik materi dari bagian big bang, terus berputar. Posisi, letak, materi, dan sebagainya, memungkinkan bumi memiliki kehidupan. Selanjutnya terciptalah makhluk-makhluk hidup yang terus berkembang. Satu spesies yang paling canggih dan cerdas adalah manusia.
Selama perputaran bumi bersama dengan gerak matahari dan seluruh alam semesta, manusia sebagaimana makhluk dan benda lain di bumi mengalami evolusi. Beragam jenis dan teori evolusi mencuat, yang paling populer adalah teorinya Darwin.
Terlepas dari kontroversi teori evolusi Darwin, kenyataan evolusi pada manusia banyak yang menyepakati. Salah satunya dari segi ukuruan tubuh. Konon, umat-umat manusia jaman dulu berbadan besar dan tinggi. Ini dipercaya sebagian orang dari dialog antara Musa dengan Muhammad ketika Isra’ Mi’raj. Kala itu Muhammad mendapat perintah salat sebagai kewajiban yang mesti dijalankan umatnya sebanyak 50 rakaat, ada yang bilang 50 waktu. Musa, yang beralasan umat Muhammad kecil-kecil dan lemah, menilai kewajiban salat itu terlalu berat sehingga menyarankan untuk meminta pengurangan. Setelah bolak-balik meminta keringanan dari Tuhan, maka kewajiban salat final menjadi 17 rekaat atau lima waktu.  
Evolusi pada fisik manusia seiring dengan gerak bumi dan alam raya. Jika disaksikan sepintas dan tak perlu dipikir matang-matang, segalanya seperti tampak teratur. Namun sedikit orang yang mau berpikir bahwa keteraturan yang tampak ini merupakan satu bagian kecil dari sebuah ledakan yang maha dahsyat bernama big bang itu sendiri.
Kita ambil contoh sebuah ledakan bom yang polanya berantakan dan paling acak sekalipun, jika kita mampu melihat sampai pada partikel atom terkecilnya, maka akan tampak dalam penglihatan kita suatu gerak dari partikel neutron, proton dan elektron yang begitu teratur. Jika kita bertubuh super duper kecil dan berada di salah satu partikel itu, maka ledakan bom yang besar dan seperti tanpa pola itu hanya akan terlihat sebagai keteraturan yang tidak berbahaya.
Demikian halnya dengan kehidupan manusia, akan terus bergerak berkembang, berevolusi seiring dengan big bang serta alam semesta yang sampai saat ini konon masih terus mengembang. Bisa jadi suatu saat, ukuran tubuh manusia akan semakin mengecil dan sebagainya atau mungkin sebaliknya. Kemungkinan akan selalu ada mengingat segala sesuatu di alam semesta tidak ada yang diam, terus bergerak hingga entah sampai kapan masanya.
Saya sendiri adalah orang yang menyakini adanya hal gaib, dalam arti sesuatu yang sangat sulit dijangkau akal manusia jika tak mau dibilang tidak mungkin. Hal itu salah satunya adalah jiwa dan pikiran manusia. Meski diketahui dalam sains, pikiran manusia berhubungan dengan fisik otak yang terdapat di kepala manusia, namun wujud pikiran serta jiwa manusia itu sendiri tak dapat dilihat, disentuh, dan dicerna melalui panca indera. Manusia hanya bisa merasakan pikirannya, jiwanya, seperti suara yang berbicara di dalam diri. Tentu saja mediumnya adalah bahasa yang diketahui. Karena pada dasarnya bahasa itu bersifat membatasi, maka sudah barang tentu tidak mampu menjelaskan segala hal mencakup realita kebenaran yang ada.
Jiwa dan pikiran manusia juga terus berevolusi. Dan melalalui jiwa serta pikiran ini manusia memang saling terhubung satu sama lain, termasuk dengan jiwa gaib semesta raya. Setidaknya ini hipotesa saya. Jiwa alam semesta serta jiwa manusia juga saling terhubung, bagi yang menyadarinya. Oleh karena itu, Pythagoras, seorang filsuf Yunani kuno, pernah mengatakan bahwa sesungguhnya alam semesta ini bergerak dengan bunyi atau gemuruh tertentu. Jiwa manusia juga merupakan bagian kecil dari sebuah ledakan besar dari jiwa yang maha besar. Bisa jadi inilah yang disebut oleh Filsuf Iran, Suhrawardi, bahwa alam semesta, bumi beserta isinya merupakan suatu pancaran dari cahaya Tuhan.
Pikiran, atau persaan, atau apalah anda menyebutnya, jika kita sadari dan rasakan maka terdiri dari suatu dialektika tertentu. Pikiran kita tak pernah berhenti. Ia terus bergerak dan berjalan. Hanya saja, kita manusia, kadang tidak mau menyadarinya. Demikian halnya dengan tubuh fisik manusia, sudah pasti terus bergerak tumbuh berkembang, mulai dari yang kelihatan besar ataupun sel-sel terkecilnya.

Maka jika kita bisa menyadari, seluruh pergerakan, pertumbuhan, perkembangan pada tubuh, jiwa dan pikiran kita hanya bagian yang sangat kecil dari sebuah ledakan besar di seluruh jagad raya yang maha luas. Maka tepatlah manusia disebut sebagai semesta kecil atau mikro kosmos. []

Kamis, 14 Mei 2015

Aku Malu maka Aku Gila

Dulu, aku pernah merasa gila, aneh, dan lain dari manusia lain pada umumnya. Lepss bebas dari norma dan aturan masyarakat tanpa aku sadari. Memiliki teman bicara yang tak diketahui orang lain kecuali diriku sendiri.
Tapi aku bangga dan selalu terang-terangan menyatakan kegilaanku itu. Aku tak peduli cibiran dan cemooh orang padaku. 
Setelah beberapa tahun aku normal, merasa tak punya teman yang tak tampak, kini semua itu muncul lagi. Ada banyak teman 'hantu'-ku. Mereka berisik dan memaksaku bertingkah aneh. Tapi tak seperti dulu, sekarang aku malu untuk menuruti perintah teman-teman hantuku. Aku memilih diam.
Kenapa aku sekarang memilih diam? Kenapa aku malu bertingkah aneh dari masyarakat? Apa ini berarti aku benar-benar sudah gila dalam arti yang sesungguhnya? Wallahu a'lam. Yang jelas teman-temanku itu nyata. Mereka sering menyebalkan kadang juga menyenangkan. Masing-masing punya kegemaran. Punya ucapan. Mulutnya tangannya sering memaksa bibir dan lidahku mengucap kata kata kalimat yang mereka inginkan. Brengsek memang, tapi mereka kawan-kawanku, teman dan sahabatku. Mereka pintar dan sering mengabarkan informasi sari jauh yang sebelumnya tak pernah aku tahu. Tapi mereka baik. Setidaknya belum pernah memintaku membunuh orang selain diriku sendiri. Ini juga dengan alasan kebaikan kami bersama.

Gantung Menggantung Baju

Saya punya pacar. Waktu ketika main ke kamar kost yang saya tempati dengan beberapa orang teman, ia kebelet pipis.
Tak perlu saya tunjukkan di mana letak kamar mandi. Kotrakan saya tiga petak memanjang. Sudah umum toilet plus kamar mandi berada di belakang. Ia meluncur ke sana.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke ruang depan. Semestinya lega sesiap buang hajat. Tapi ini malah sebaliknya. Ia merengut.
"Kamu masih suka naruh pakaian di gantungan baju di kamar mandi ya?"
"Kadang-kadang," jawab saya.
"Itu di kamar mandi ada baju kamu."
"Itu baru tadi, abis mandi. Buru-buru, belum sempet mindahin ke tempat baju kotor."
"Pokoknya nggak mau tahu, ambil dan taruh di tempat baju kotor. Aku nggak mau punya calon suami jorok."
"Iya benar kan, calon suami kamu bukan jorok, tapi Bowo."
"Bodo! Pokoknya kalau kamu masih naruh pakaian kotor lagi di gantungan kamar mandi, kita putus," ancamnya. Menurutnya, menggantung baju di gantungan kamar mandi itu merusak kulit. Saya pun nurut karena tak mau dipanggil jorok.

Saya punya teman. Sebut panggilannya Abah, walaupun dia bukan ayah saya. Dia adalah teman yang sampai sekarang setengah bangun dan setengah tidur. Waktu ketika saya berdiam di kamar kost-nya, saya gerah dan langsung membuka sweater. Kamarnya berantakan oleh buku. Gantungan baju di belakang pintu penuh. Lagi pula butuh beberapa langkah dari tempat saya duduk untuk mencantolkan sweater saya di gantungan belakang pintu yang terhalang lemari besar penuh buku. Kebetulan tepat di atas kepala ada paku, tempat memajang kalender. Abah menyebutnya almanak.
Saya cantolkan begitu saja sweater di paku almanak itu. Abah tidak tahu karena dia lagi di kamar mandi.
Sekembalinya ke kamar, dia duduk dan langsung bicara, "orang-orang itu selalu suka menggantung baju di almanak ya. Bapak saya juga begitu."
Saya tahu itu menyinggung saya. Tapi saya abaikan karena tidak diancam putus pertemanan gara-gara perbuatan yang tidak menyenangkan ini. Dan yang lebih penting saya disamakan dengan Bapaknya meskipun saya memanggil teman yang satu ini dengan sebutan Abah.

Teman saya lagi namanya Hafidz. Ada yang memanggil Apis, Hapis, Kapid dan lain-lain. Sebagian menyebut dia sebangsa Gus atau Agus alias Ajengan atau Lora.
Soal gantung menggantung baju ini, ia punya kesebalan tersendiri. Apis, Hapis, Kapid dan lain-lain selalu kompain dan merasa risih terhadap jaket, jas, sweater atau kemeja orang yang ditanggalkan di kursi.
Demikian. Di manakah Anda suka menggantung baju?

Minggu, 10 Mei 2015

Cara Terbaik

Jika kata dan tingkahku banyak melukaimu
karena kebodohanku
Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam diamku membatu cinta terpendam berjuang menampakan lahirnya susah payah berupaya agar ia nyata di realita.
Kalau bukan saat ini, mungkin esok nanti. Namun satu hal yang pasti, semangatnya tak pernah mati
memperbaiki memperbarui bagaimana cara terbaik untuk mencintai

Selasa, 05 Mei 2015

Teknisi PLN dan Teh Botol


Pagi, pukul 06.30, saya baru tiba dari begadang kerja semalaman mengedit tulisan sebagai penghasilan tambahan seorang seperti saya yang bekerja freelance serabutan. Dua teman satu kontrakan baru saja meluncur berangkat kerja. Setengah jam kemudian lampu padam. Pulsa listrik habis. Nol.

Ini pertama kali saya berusan dengan pulsa listrik. Baru dua hari pindah kontrakan. Di kontrakan sebelum-sebelumnya pakai meteran lama selalu. Saya tahu harus segera beli pulsa. Tapi karena mengantuk berat, lagi pula tak ada sepeser pun uang di kantong, maka saya putuskan untuk tidur dulu.

Siangnya pukul 13.00 saya bangun. Listrik masih mati. Saya ingat teman saya, yang telah berada di tempat kerja, menjual pulsa. Maka saya hubungi dia untuk mengisi via sambungan elektrik.

Satu jam menunggu belum juga lampu menyala. Tombol skring berulang-ulang saya gerakkan. On off on off. Masih juga padam. Hasilnya malah tambah fatal, saya menjumpai lampu temper kuning menyala kedip-kedip. Di layar tertera tulisan PERIKSA.

Dengan daya yang tersisa di gawai, saya mencari tahu apa yang terjadi via google. Ternyata solusinya tak ada lain kecuali menghubungi petugas/teknisi PLN.

Saya tak sempat untuk menelpon karena kerjaan mengedit sudah menunggu di tempat lain. Akhirnya kamar kontrakan saya tinggalkan sampai malam berganti pagi. Semalaman dua teman saya tidur dalam kegelapan.

Paginya saya pulang. Kamar mandi diterangi lilin. Saya minta teman saya mengisi pulsa gawai saya agar bisa menghubungi petugas/teknisi PLN. Tapi gawai teman saya mati karena sehari semalam tak mendapat asupan listrik. Ia pun berjanji akan mentransfer pulsa sesampainya di kantor setelah mengisi daya baterai gawainya.

Saya langsung putar akal. Dalam benak saya, petugas/teknisi PLN akan segera datang. Meski servis ini harusnya gratis, biasanya teknisi akan minta uang tip. Gaji belum turun. Di kantong saya hanya ada recehan koin Rp.100 dan Rp.500. Tak mungkin kan itu saya berikan untuk tip.

Hal pertama yang saya lakukan adalah tidak mandi. Hal ini karena badan sudah terlanjur lemas dan lapar. Saya buru-buru menuju warung Ibu Romlah. Kemudian menghubungi teman untuk pinjam uang, jaga-jaga teknisi PLN minta tip.

Seorang teman bersedia memberi pinjaman Rp.50.000. Dia juga belum pernah berurusan dengan listrik token. Pengalamannya hanya ancaman dicabut petugas teknisi karena telat bayar pada listrik dengan meteran biasa (yang versi lama).

Dia bilang, kalau petugasnya baik, dia nggak akan minta tip.

“Tapi gua cari-cari dan baca di internet banyak yang mengeluh karena teknisi minta tip melulu. Kira-kira kasih berapa ya coy?”

“Kasih aja Rp.20.000, bilang ini buat beli rokok bang. Dan jangan lupa, kasih dia teh botol. Sediakan teh botol.”

TEH BOTOL.. Ya, TEH BOTOL dan TEKNISI PLN. Sepertinya itu sangat akrab sekali. Saya tidak tahu betul apa kaitan dan sebab musababnya. Kenapa tidak minuman jenis lain, misal kopi, teh tubruk, sirup atau air putih?

Setelah mendapat pinjaman uang Rp.50.000 saya pulang. Lalu menelpon 021123 dan diterima oleh suara perempuan. Setelah memberikan alamat dan detail patokan lokasi, saya diberi semacam nomor aduan. Saya catat. Jika nanti petugas lama tidak datang-datang juga, saya bisa komplain dengan menyertakan nomor tersebut. Di akhir pembicaraan, dia memperingatkan, dalam rangka menegakan budaya bersih, dilarang memberi tip dalam bentuk apapun kepada petugas teknisi yang datang.

Saya catat betul kalimat terakhir itu di otak saya. Saya bisa gugat PLN jika ternyata petugas yang datang meminta bayaran. Tapi saya mempertimbangkan basa-basi ramah tamah khas Indonesia dengan menyiapkan teh botol untuk sang teknisi, yang notabene punya kuasa lebih daripada saya dalam dunia kelistrikan. Ah, ramah tamah memang kadang jadi biang pemicu korupsi.

Sepuluh menit kemudian, gawai saya berbunyi. Sebuah nomor kantor. Suara perempuan kembali menyapa. Dia bilang dari PLN Ciputat. Dia akan membantu masalah saya via sambungan telepon.

Dia minta saya menjalankan intruksinya. Menuju meteran, memencet nomor kode pembukanya, dan listrik saya menyala. Tanpa tip, tanpa teh botol. Ternyata tak seperti yang saya bayangkan, harus kasih teh botol seperti petugas teknisi PLN dulu pada meteran biasa.

Maaf saya telah berburuk sangka, PLN. Melalui tulisan ini saya akan mengungkapkan rasa cinta yang paling sederhana. Seperti seorang penumpang yang menunjukkan arah turun kepada penumpang lain yang kebingungan tanpa sempat saling kenal. Saya ucapkan TERIMAKASIH banyak kepada PLN dan petugasnya yang bekerja profesional.

Mari budayakan Hidup dan Kerja Bersih tanpa Korupsi dan Gratifikasi!!!

Pemendam

Kembalilah
karena
Sejauh-jauh pencarian
hanya untuk jalan pulang
Gemingkan lidah jilatlah ludah
Tak usah hiraukan cibiran
Jika bagimu dia dermaga
Tiada hakku tuk memaksa
Tak perlu ragu mencipta luka
Bukankah luka biasa tercipta?
Jangan takut muncul balasan
aku pemendam bukan pendendam

Purnawarman, Legoso 5 Mei 2015

Penaklukan


cara menaklukan orang yang setia adalah dengan kesetiaan, 
atau setidaknya, jika kau masih brengsek, ya pura-pura setia padanya
Sebaliknya, orang brengsek hanya bisa ditaklukan dengan kebrengsekan pula. 
Mungkin, kalau kau tak bisa, ya pura-pura brengsek, tapi jangan sampai ketahuan 
tapi

my tweet 14 April 2015

Rabu, 22 April 2015

Kartini dan Ayah Saya

“Selamat Hari Kartini.” Banyak yang menulis itu di media sosial. Beberapa menyematkan kutipan dan diakhiri nama Ibu Kita tersebut. “Habis Gelap Terbitlah Terang ~Kartini”, “Terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu ~Kartini", dan sebagainya.

Avatar, display picture, foto profil dan sebagainya berubah lukisan sang Raden Ajeng. Tanda pagar dibuat agar jadi topik tren. Di sekolah, anak-anak TK, khususnya perempuan, didandani dengan kebaya. Belakangan masih ada juga yang mengirim broadcast message berisi ucapan tentang hari itu.

Ini tentang 21 April. Hari lahir Pahlawan Perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Semarak yang patut kita sama-sama apresiasi.

Tentu sudah basi untuk bertanya, apakah mereka yang penuh euforia mengucapkan selamat Hari Kartini itu kenal Kartini? Dalam arti tahu betul siapa itu Kartini? Apa saja yang telah dia lakukan atau perjuangkan? Membaca karyanya? Kenapa ia jadi salah satu pahlawan nasional?  Dan sebagainya.

Basi saya katakan atas dasar dua alasan. Pertama, saya yakin minimal 70% akun di gawai saya agak kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Setidaknya jika tidak kesulitan, jawaban yang keluar masih mengandung keraguan. Kedua, kalau memang benar ada yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, solusinya cuma satu, Google. Klik langsung ketemu di Wikipedia. Basi kan?

Oke, karena itu, saya akan bercerita tentang Kartini dan almarhum ayah saya.

Sebagai warga negara yang wajib mengenyam pendidikan sembilan tahun, saya tahu siapa Kartini. Saya sering melihat gambarnya di tembok ruang kelas, dari SD-SMA. Di kelas saat Universitas tidak lagi.

Selain dari gambar, pengetahuan tentang pejuang wanita ini saya dapat dari buku pelajaran sejarah dan lagu ciptaan W.R. Supratman berjudul “Ibu Kita Kartini”. Belakangan, materi tentang Kartini juga mengendap di kepala akibat bahan stand up comedy yang sempat dibawakan Dodit Mulyanto beberapa waktu silam. Lain dari pada itu, saya kira tidak ada lagi.

Kaitan dengan ayah, ini cukup mengherankan. Khususnya bagi saya kala itu. Saya tidak ingat persis tanggal, bulan dan tahun kejadiannya. Yang pasti bukan di Hari Kartini. Status saya masih belajar di Sekolah Dasar, kelas III.

Tiada angin tiada hujan, di sela-sela santai siang, sambil melepas lelah di ruang tengah, Ayah bertanya, “Le, tanggal lahir Ibu Kita Kartini itu tanggal berapa ya?”

Tak hanya diajukan pada saya, tapi ibu dan adik saya juga. 

Waktu itu saya lupa atau malah tidak tahu tanggal berapa Ibu Kita Kartini lahir. Dan saya masih ingat betul nada pertanyaan ayah serius, bukan ngetes atau bercanda. Adik saya yang masih Kelas I SD dan Ibu pun tak ingat.

Maka saya langsung membuka lemari, mencari buku sejarah dan membuka halaman demi halaman. Juga catatan-catatan. Kebetulan masa itu saya belum kenal si dukun pintar, mbah Google. Sayang sekali, ketika saya telah menemukan jawaban, ayah sudah duluan. Entah dari mana dia dapat.

Yang sampai sekarang jadi pertanyaan saya adalah untuk apa ayah mencari tanggal lahir Kartini. Mau menyelenggarakan karnaval kebaya? Tidak mungkin. Ayah bukan seorang pamong desa. Lagi pula kejadian itu bukan pada bulan April. Untuk bahan ujian? Tidak juga. Ia sudah tidak sekolah.

Hingga ayah meninggal, saya tetap tidak tahu untuk apa ia menanyakan tanggal lahir Ibu Kita Kartini waktu itu.

Dan, di Hari Kartini ini, 21 April 2015, saya teringat kembali almarhum ayah tercinta. 

Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa ayah, menerima semua amal baik ayah dan semoga ayah mendapat sebaik-baik tempat di sisi-Nya. Alfatihah.


Pesanggrahan-Ciputat, 21 April 2015

Rabu, 15 April 2015

Senin, 06 April 2015

Selasa, 31 Maret 2015

Kamis, 05 Maret 2015

Senin, 16 Februari 2015

Merawat Kesunyian

Aku ingin merawat kesunyian
Menjaga lelap manisnya yang mendengkur merdu
Ssst... jangan berisik
Maukah ia terusik bangun dan marah
mengacak-acak ketenangan
Biarkan ia telena dalam timangan aku dan kau

Kita adalah gelegar tawa
Ledak canda tingkah kanak-kanak
ceria
senyum yang memecah pekat
Kau dan aku itulah gembira
Di antaranya jeda berwujud hening
Bening yang mengeras dari bekuan air
mata yang tak sanggup mengharap

Ia berdiri kokoh
Apalah arti aku dan kau tanpa penghubung yang menyatukan
Apalah aku dan kau
Tanpa predikat cinta
Tanpa untuk
Tanpa sayang
Aku cinta kau
Aku untuk kau
Aku sayang kau
Untuk cinta dan sayang lebih nyata keberadaannya
Lebih terjal dan berdarah-darah proses penggapaian, pengendapan dan penyimpannya
Di banding keberadaan kita.

Maka biar kujaga keheningannya.

Catatan Tersembunyi di 7 Desember 2014 6.04

Senin, 08 Desember 2014

Ke Tempat Itu Aku akan Kembali. Di Sini Kau Menciumku


Sesungguhnya aku sudah gumoh. Namun seperti film-film bersekuel yang baik, tempat itu masih saja meninggalkan penasaran. Ini yang memaksaku berjanji bahwa suatu saat nanti kita akan kembali menginjaknya.


Terakhir kali aku pergi bersama dengan seseorang. Tujuanku hanyalah menunaikan janji kekurang puasan menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang kujumpa pertama kali dalam rekreasi beberapa tahun silam. 

Ruang dan waktu yang berada di bawah kekuasaan Tuhan tiba saatnya mengizinkan. Tak banyak perubahan yang kujumpa pada tempat itu. Aku hanya mengubah rundown kegiatan yang kita gelar berdua. Tiba malam hari, istirahat di gubuk dan melanjutkan perjalanan menuju puncak acara keesokannya. 

Pada kunjungan pertamaku dulu, aku datang langsung menuju puncak, turun jelang petang, dan pulang ke Jakarta saat malam mulai matang.


Sekarang, ya saat ini, marilah kita berada di ruangan itu. Gubuk itu. 

Di sebuah bilik panggung setingi setengah meter, dengan dinding geribik anyaman bambu bercat coklat.

Sekarang, ya saat ini, jadilah dia. Berperanlah. Ada yang ingin aku sampaikan bahwa,

Di sinilah kau menciumku.”
“Harus mati dulu agar bisa melupakannya. Mungkin mati pun tak bisa lupa.”
“Mungkin aku akan jadi lelaki di “Pohon Gantung”. Masih menunggu jawaban.” *


Lalu kau berjalan ke arahku dan menempelkan bibirmu ke bibirku. Kita merasakan panas, debu, dan derita. Rasa yang mengejutkan untuk ciuman yang begitu lembut.
Dan aku yang lebih dulu menjauh sembari melempar senyum getir.

“Aku tahu kau akan menciumku.” *

Aku yakin kau tak tahu dan tak pernah tahu ini.
Kenapa aku bisa tahu? 

“Karena aku sedang menderita.”
“Itu satu-satunya cara agar aku mendapat perhatianmu.”
“Jangan kuatir. Semua akan berlalu.” *

Dan kutinggalkan kau pergi berlalu tanpa sempat mengucap sepatah kata pun balas jawaban.

Tiba masanya nanti, aku ingin kembali ke sana. Ke tempat itu. Takkan kuijinkan kau mencium bibirku terlebih dahulu. Tak pula akan kumemulainya. Hanya keningmu sebagai tanda sayang hormatku. Biarkan segalanya berjalan apa adanya. Aku tak ingin diantara kita terbeban luka. Karena aku telah menyadari kelemahan, menjadi tiada akibat gigitan taringmu. 

Bila itu harus terjadi, kuingin tak satu pun aku atau kamu yang memulai. Aku berharap bisa ikhlas mati sehingga gerbang maut adalah pintu untuk kelahiran kembali.


*Gale, Hunger Games “MOCKINGJAY

Sabtu, 29 November 2014

Berlebihan

Kejahatan pun perlu jika sekadarnya
tanpa kejahatan, kebaikan tak sempurna
Cinta benci
persahabatan permusuhan
jalinan kasih sayang
lingkaran angkara dendam
normal
Namun bila sudah berlebihan
semua jadi bencana
Cinta hanyalah siksa
apalagi benci
kasih sayang bentuk lain kekang pasungan
persahabatan tinggal istilah untuk ekslusifitas terhadap liyan
melokalisasi kroni menciptakan lawan di luar kalangan

Selasa, 25 November 2014

Senin, 17 November 2014

Minggu, 09 November 2014

Menatapmu


seperti sebelum-sebelumnya ketika kita sedang berdua, 
aku suka menatapmu. 
Ini kebiasaan aneh, aku tahu. 
Tapi aku begitu mengagumimu. 
Aku merasakan bahagia bersamamu. 
Aku ingin menyimpan gambarmu banyak-banyak dalam benak. 
Biasanya, 
kamu segera membalas tatapanku dengan tatapanmu yang sayu, lalu tertunduk. 
Entah malu atau ragu, 
yang pasti kau ingin mengatakan, 
“sudah, cukup. Jangan menatapku seperti itu.”

Aku Tak Punya Apa-apa*

Aku tak punya apa-apa untuk keberikan padamu sebagai kenang-kenangan.
Aku ingin kau mengingatku
karena setelah ini
semua tak lagi sama, tak mungkin semula
Simpanlah momentum perjalanan melangkahi 11-12
Oktober yang kental trauma
melintas Cipularang
terlarang
menumpang kendaraan yang entah
kapan kau jamah

Sandarkan kepalamu di bahuku
Genggam tanganku
remas erat cemariku
dan sirnalah ketakutan

Aku tak punya kata-kata untuk melukiskan kebersamaan
kita
memetik strawberi merah semerkah bibirmu
atau pendakian dengan ontang-anting gila
menggapai kawah yang tak seputih kulitmu.

Jika kau sedang sendiri
takut dan sepi
Aku tak punya apa-apa
berharap kau mengingatku


Legoso, Kosan Transisi, 8 November 2014

*Untuk gadis bibir strawberi

Kejujuran

Kejujuran itu hanya untuk disanjung dan diagungkan
bukan dipraktikan melalui tindakan ataupun kata-kata
jangan disampaikan pada siapa pun manusia

Tiada seorang sanggup menerima
kecuali diri sendiri

Jika kau laki-laki, ingat dan rasakan
tak akan pernah bisa mendapat wanita yang kau idam
tatkala mengejarnya dan mencintai dengan kejujuran
Jika kau perempuan
betapa mudahnya dipermainkan
Jika kau seorang pemimpin
betapa gampang digulingkan
atau lemah tanpa kuasa

Kejujuran adalah harta yang mesti selalu kau simpan
ditutupi dan dibungkus rapih
dengan kebohongan dan kepura-puraan
Itulah yang akan selalu membuatnya indah
dan berharga
Karena sekali terbuka
kejujuran tiada lagi bermakna.

Sabtu, 08 November 2014

Jumat, 07 November 2014

Selamat Ulang Tahun Ragaku

Dini hari 7 November 2014
00.59 terus berjalan
Aku menanti keistimewaan di hari jadi.
Selamat ulangtahun, ragaku.
Semoga kita tetap kuat bersama melaksanakan tugas kehidupan
Semoga Allah yang maha kuasa memberi petunjuk dan pertolongan di tengah gelapnya langkah menggapai impian yang entah.
Tak ada cara lain kecuali tetap berjalan menapaki waktu yang dikuasai tawa ejekan
yang keluar atas dasar kelemahan diri
Makin kokohlah kaki, kuatlah mendaki.
Walau air mata terkucur lalu terkubur

Catatan penutup malam

Berlalu sudah badai yang mendera
jiwa
Sisa puing-puing berserak
di malam yang menua
Lantunan instrumental
memuluskan laju waktu
Mengalir halus dan syahdu
Menegaskan pagi
adalah waktu berbenah diri
membangun kembali kemenangan
dari kegagalan-kegagalan jahil
yang datang berulang
secepat kilat menghantam
tanpa kesempatan menyusun pertahanan
Kini, tak ada lagi niat
yang dapat digenggam erat
selain lagi dan lagi
menegakkan harapan
menyusun menara
tangga menuju surga bahagia.
Kilau fajar telah menapaki ujung hati
Selamat malam
dan pagi menantimu berbagi.


Kosan Transisi, 4 November 2014

Rabu, 05 November 2014

Badai

Di dalam dadaku gemuruh badai
Bermula gerimis di waktu petang
Dalam benakku mengamuk topan
Mengamuk menyapu membabi buta mendesak-desak semua celah badan yang kusumbat dengan diam.
Entah sampai kapan ku kuat menahan
Sedang di tenggorokan berulang-menyembur lenguhan
Hidung kembang kepis ditiup napas dari paru-paru
Keras memompa selaju ritme detak jatung yang kian cepat
Bola mata menyorotkan pandang buram. Blur tiada fokus. Terpaku di titik kekosongan. Hampa.
Telingaku melewatkan semua panggilan. Hanya suaranya yang terngiang.
 Cemariku kelu menahan hasrat untuk menekan tombol-tombol abjad, meraih sebatang pena lalu menggoreskan tinta pada selembar kertas dan setiap dinding
yang dingin.
Batin pun menyalak marah. Merah.
 Untuk siapa semua ini? Tidakkah kalian bisa tenang diam di dalam saja?
Badai pun membekukan luka

Senin, 03 November 2014

Umpatan

Kepada siapa umpatan ditujukan?
Tentu pada setiap telinga yang mendengar
atau pada mata yang membaca

tak peduli mulut dan cemari menunjuk-nunjuk seisi dunia
atau pada diri sendiri

Saat terlontar, Sang Pengucap telah wafat
umpatan terjun bebas
menimpa keping-keping hati seluruh penduduk jagad

Kosan Transisi, 3 November 2014


Masih Gelap

Bismillah aku menyerah
Dengan raga bercucur keringat basah
Tersudut pada dinding takdir
lunglai lemas tiada berdaya
Aku pasrah
Saat menembus batas
terperangkap gelap pekat
tiada arah dan tujuan
tiada mimpi dan harapan
tiada pula teman sejalan
bahu sandaran tatkala lelah
gundah gelisah
Dan gelap masih saja pekat
tak boleh jengah melangkah
menuju pelita
kebebasan merdeka

Kosan Transisi, 3 November 2014

Sabtu, 01 November 2014

Rabu, 22 Oktober 2014

Selasa, 21 Oktober 2014

Merah Strawberi

putih susu kulitmu
merah strawberi bibirmu
kau langit dan bumi
berlapis aneka
menumbuhkan pepohonan dan bunga
bintang-bintang dan mega
awan putih dan gelap
hujan angin gelora
badai hasrat
dan kilat petir kebalau membentang
sepanjang usia

Layak kebenaran sejati
butuh menempuh maqam-maqam
untuk tiba di puncak kemakrifatan
manunggaling sira ingsun

Saat tiba di altar hakikatmu
aku lebur tiada
kesunyataan nyata

Di sini kukabarkan yang tak terkata, terbaca
edelweis yang bukan e-d-e-l-w-e-i-s

Syukur terhatur
pada anugrah kuberebah
di ladang rasa benak jiwa
kita atau
kau atau
aku atau
dia atau
Sang Sejati
mengimplan satu ide sederhana
terus mengembang di ruang hampa.

kusimpan sebagai bara
menyala dalam dada

takkan salah kegelapan
tak juga keliru kesesatan
karena pelita telah kugengam.

Bibirmu dan bibirku bertemu
sekali untuk selamanya
menyala.

Ruang Asap, KPU, 21 Oktober 2014

Minggu, 31 Agustus 2014

D dalam BBM Semalam.

BBM semalam pesan spontan. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikiran dan ingin aku sampaikan seketika kepadamu via BBM. Ketika mengetiknya, aku juga diusik oleh rasa cemburu. Sebuah rasa yang keliru. Tidak tepat, karena kau sudah lama bukan milikku.

Lebih kurangnya empat setengah tahun kau menyudahi hubungan kita dengan cara yang rumit. Aku membalasnya dengan kesal dan kejam. Bayangkan sendiri seperti apa kekesalan dan kekejaman atas cara rumitmu memutuskanku. Biarlah. Biar sama-sama sakit. Inilah kalimat yang menjadi saran dari seorang teman ketika mendengar kisahku.

Tapi malam tadi, aku mendadak khawatir, jangan-jangan saat ini kau dekat dengan temanku yang memberi saran itu. Ini bukan tanpa alasan. Kesibukanmu sebagai penjual dan penyuplai alat-alat out door itu aku tahu berkaitan dengan orang-orang yang kerap nongkrong dengan temanku tadi. Apalagi, teman itu juga berzodiak sama denganku. Scorpio. Sementara kau Cancer. Aku tahu, kedua bintang ini sangat cocok menali jalinan, entah dalam kadar seksualitas atau yang lebih dalam. Kemudian, menimbang tabiat, sifat dan tempat atau lokasi aktivitas antara kau dan temanku, aku jadi takut kalian saling akrab dan, ah tidak. Aku berat mengatakannya.

Sekarang sudah sore. Matahari tak lagi garang panasnya. Belum satu pun bunyi pesan BBM kudengar di telinga. Aku juga enggan menengok ponselku, sekadar memastikan status pesan BBM-ku sudah R atau masih D. Aku berusaha tak peduli. Itulah yang semestinya aku sikapkan. Untuk apa aku peduli? Kau pun akan lebih senang aku cuek. Perhatianku terhadapmu malah bikin risih.

Aku ingin menunggu ada pesan lain yang masuk. Sehingga niatku membuka password ponselku bukan langsung untuk mengetahui R atau D.

Sudah pukul 15.30, tak ada juga pesan masuk. Alhamdulillah masih D. Mungkin kau sengaja tak membukanya, karena kalimatku hanya satu baris. Tak perlu diklik juga sudah terbaca. “Chol, kamu sudah tidak (kerja) di Kuin ya?”

Kosan Transisi, 31 Agustus 2014, 15.31

Senin, 25 Agustus 2014

Minggu, 20 Juli 2014

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html