Minggu, 17 Juni 2012

Profesi Baru

Gulung Tikar Kenangan

Menyedihkan. Senja itu aku sendiri keluar kamar. Bukan mencari udara segar. Mungkin cukup secangkir kopi. Menyeruputnya demi sedikit, diasapi samsu, dan satu lagi, mendengarkan cerita. Cerita apa saja, dari seorang teman atau kenalan. Kupikir itu sejenak membantu melupakan diri sendiri yang kacau. Mungkin juga, Pendengar Cerita adalah profesi baru yang belum banyak orang tahu. Barangkali.

Langit cerah sore itu. Setelah adzan magrib, ku saksikan jejak surya berupa mega kemerah-merahan. Seperti wajah pengantin baru malu-malu mau masuk kamar.

Tapi sudahlah, yang penting akhirnya ada satu teman ngopi dan siap ku dengarkan ceritanya. Cerita apa saja.
Kami berdua meluncur, menyeberangi deras lintas jalanan, mencari sebuah angkringan, yang kalau tak salah berlokasi di Jl. Pisangan. Ternyata tutup. Mungkin bangkrut.

Kami meluncur lagi, berbalik arah, memotong jalan, menuju daerah Mabad. Menurut temanku itu, ada sebuah angkringan juga di sana. Ia pernah ngopi bersama pacar yang telah berubah mantan, beberapa waktu silam.

Aku setuju. Sekalian mengantarnya ke muara nostalgia. Mengusap-ngusap pudaran memori, dan apa sajalah.
Apapun bisa mengikat kenangan. Entah suara, warna, tempat, juga bau Termasuk angkringan yang kami tuju.
Hmm, pasti temanku ini akan bolak-balik cerita tentang mantannya, melebihi panjang jarak tempuh roda motor atau sekuat dan setabah semburan lumpur Lapindo. Mengingat akhir kisah mereka kurang stabil. Begitu yang ku terima menurut kesaksian beberapa teman dan saksi kunci.

Di atas motor yang kami kangkangi, muter-muter tak ketemu. Angkringan itu tanpa bekas. Tutup pun tidak. Tak ada jejak. Mungkin gulung tikar.

Begitulah, kenangan seorang teman yang gulung tikar.

Selasa, 05 Juni 2012

Nirkomunikasi

Lanjut bahasa apa lagi?
Tiada abjad
kalimat
terentang sepanjang abad
bernyali dikemudi
menego masa lalu
melobi masa depan

Terjebak kekinian
alas paling dasar
segala kesadaran
mewaktu selamanya
tanpa kenal keabadian

Sendiri
dan mati

Mei 2012

Hujan di Sore Hari


Di ujung hari yang mendung
serombongan anak-anak angin yang nakal
mulai berisik
menggelisahkan semedi daun-daun
Biru langit tertutup pelan
katak-katak tersenyum
menanti datangnya hujan

Lendir seharian menyumbat penciuman
mengingatkan aroma
hadirkan masa lalu

Ketika tersentak teriak lembut ibu
membangunkan tidur
Kucing belang menunggu di depan tungku
usai sembahyang
ku nikmati teh hangat
bersamanya dan sepotong roti pagi (ini memang tak biasa di desa-desa, spesial buatku)
Ingus di hidung merekatkan kesan kuatnya nuansa

Kini hadir kembali
Di taburi wangi balsem menghangati dada
Balur minyak kayu putih di kepala
Ah sore yang gerah

April 2012

Jumat, 18 Mei 2012

Aku Hanya (Seperti) Seorang Nabi

-->Kemarin, aku pulang sangat larut. Nyaris pukul 00.00. Jalan Legoso Raya mulai sepi pelintas saat aku meninggalkan sebuah kafe, tempat nongkrong bersama beberapa kawan muda. Hanya sekitar seratus meter, langkahku menyeberangi jalan untuk mencapai sebuah gang ke kamar kostku, 10m dari jalan raya.
Tak seperti kamar kost atau kontrakan umumnya, yang berderet rapat dengan lorong utama menghadapkan pintu dengan pintu lainnya. Kamarku punya halaman. Meski tak seluas halaman rumah di kampung, tapi cukup buat parkir 10—15 motor.
Tepat di belokan mengiri, ada gerbang di sebelah kanan dengan empat buah anak tangga turunan. Begitulah kamarku berada. Malam itu ada dua motor berjajar. Pertanda tamu telah tiba sebelum kedatanganku. Pintu terbuka. Cukup senyum untuk menyapa dua orang teman dan seorang teman se-kost-ku.
Mereka bicara banyak hal. Menyaruk-nyaruk masalah seni dan sastra, diiringi lagu-lagu Led Zeppelin di media player komputer pentium III. Komputer yang tak sesuai zaman sekarang. Tapi slow saja, Led Zepplin masih bisa konser di situ.
Aku yang lelah, berlagak authis, tak terlalu larut menanggapi obrolan mereka. Kecuali menghisap beberapa batang samsu, menyeduh kopi baru, menambahkan tiga buah reggea Bob Marley, lagu-lagu sountrack Into The Wild-nya Eddie Vedder, dan lagu-lagu sountrack The Boat That Rock seperti Elenore, Stay With Me Baby dan lainnya. Lalu aku berbaring di sela-sela serunya obrolan mereka.
Kurang lebih dua jam berebah, sayup-sayup kusimak obrolan mereka. Aku langsung ingat cerita Gus Mus tentang Gus Dur saat keduanya menjalani studi di Mesir. Gus Mus yang selalu belajar dan Gus Dur tidur saja. Tapi apa yang dipelajari Gus Mus, ditangkap lebih dalam oleh Gus Dur yang tidur.
Serunya pembahasan ketiga teman itu layak nyamuk-nyamuk yang terbang hinggap berputar di kaki tanganku telanjang. Membuat aku bangun sekitar pukul 03.00. Setelah cuci muka, aku bergabung. Teman sekamarku minta maaf karena telah membuat tidurku terganggu. “Slow…,” kataku.
Aku menyimak sampai di mana mereka. Masih seputar sastera dan metodelogi ilmu pengetahuan. Begitu kurang lebih yang boleh ku ceritakan padamu. Tapi obrolan mereka sangat liar. Wajar, karena memang tak ada rencana dan alur kesepakatan kemana arah pembicaraan. Sebentar singgah di ranah kecengan, candaan. Singgah lagi di wilayah culture studies, meluncur ke masa klasik Islam saat terbunuhnya para khulafaurasyiddin. Dan pada suatu menit, singgah lagi ke kamar. Menyorot kehidupan asmara seorang dari kami. Di sinilah yang akan ku ceritakan. Karena memang sedikit erat dengan konsep kenabian.
Aku berkontribusi menggunakan analisa dan saran atas dasar zodiak. Aku mencoba memahami bagaimana seorang yang berzodiak sama denganku. Menganalisa kepribadiannya dan memberi solusi atas permasalahan yang terjadi.
Seketika itu, kedua teman yang malam itu berstatus tamu agung, meminta pendapatku menjelaskan bagaimana masing-masing pribadi dengan takdir zodiaknya.
Aku langsung berkilah. Kalau mereka mau tahu, cari saja di internet atau buku-buku mitos tentang karakter zodiak masing-masing. Selama ini, aku hanya mencari tahu, menelusuri, semua hal, baik tentang zodiak atau perhitungan yang berkaitan denganku. Aku hanya seperti seorang nabi, bukan rasul. Di dunia ini ada banyak nabi ketimbang rasul. Nabi hanyalah orang yang mendapat pengetahuan dari tuhan untuk diri sendiri, sementara rasul mendapat pengetahuan dari tuhan untuk dan wajib disebarkan kepada seluruh umat manusia.
Langsung pula, satu di antara kami ingat akan pernyataan Yazid, seorang teman yang tak ada di sini. Pernah Yazid mengatakan, semua pengetahuan yang kita dapat hendaknya hanya untuk diri sendiri, untuk menilai dan mengukur diri sendiri. Bukan sebaliknya untuk mengukur dan menilai orang lain atau masyarakat. Karena kalau demikian, akibatnya kita akan gampang men-judge, mengafirkan, menyalahkan, atau menganggap sesat orang lain.
Demikianlah, aku mendapat, memperoleh, mengunduh, dan menelusuri pengetahuan tentang zodiak, primbon, weton, jumlah tanggal, hari, bulan, dan tahun kelahiran hanya untuk diriku. Menilai dan mengukur diri sendiri. Sehingga jangan tanya bagaimana hubungan zodiakmu dengan zodiak pacarmu, jika tak sama dengan zodiakku. Kalau toh sama, aku hanya akan memaparkan sejauh yang ku tahu tentangku, tentang zodiakku, sejauh berkait dengan pengalamanku. Tidak untuk memaksamu memakai penilaianku atas diriku untuk menilai dirimu. Dan karena itu pula, tak perlu kuceritakan apa yang kutangkap saat tidur atas obrolan ketiga kawanku malam itu.

Pagi yang tak ku harapkan

Bayang-bayang hitam teralis pada lembar kain yang menutup rapat jendala kaca kamarku jelas condong ke barat. Hari selasa masih muda. Mobil dan motor nyaring di telinga. Kamarku berposisi tepat di belokan sebuah gang,10m dari jalan raya.
Sejak memutuskan untuk mengakhiri semua, ini adalah pagi kesekian kalinya yang ku jumpa. Pagi yang dulu teramat sulit aku temui. Apakah berarti semua setan dan iblis telah pergi? Cuma lantaran aku memutuskan tujuan akhir hidupku dengan bunuh diri?
Entahlah. Tujuh tahun lalu, ketika sedang getol-gotolnya mengejar fajar, demi duduk di bangku kuliah tepat waktu, aku kesulitan tidur malam. Seperti ada yang menarik-narik pikiran. Melayang, mengawang, penuh dengan keresahan. Akibatnya mataku tak bisa terpejam hingga lantang suara adzan berdatangan dari segala penjuru. Dan aku kelabakan. Kuliahku berantakan. Terus menerus berulang.
Kalau tidak begitu, kesehatanku rentan terganggu. Entah perut, entah kepala, entah paru-paru, demam berdarah, liver, typus, dan segala macam penyakit menghadang siang. Tubuhku penuh kelemasan. Semua itu memaksaku untuk berikhtiar ketat menjaga pola makan, berjuang keras menghindari hal-hal yang membahayakan kesehatan. Caranya macam-macam. Sesempatnya aku joging, olahraga, minum vitamin, pakai lotion anti nyamuk DBD, banyak minum air putih, memaskeri hidung dari asap-asap komplek kehidupan, dan sebagainya.
Ah, tapi musibah datang dari mana saja. Selalu ku syukuri masa sembuh dari penyakit yang beberapa kali nyaris membunuhku. Hingga saat ini, ku sesali semua usaha penyembuhan itu. Menyesal karena tak memanfaatkan penyakit-penyakit ganas menjemput ajalku. Dengan begitu aku bisa mati normal, bukan bunuh diri.
Sekarang, aku tak tahu kemana perginya semua penyakit yang mengelukan itu. Setelah banyak cita dan harapan ku tanggalkan, mengabaikan segala prosedur hidup sehat, berharap sekarat datang, tapi malah sebaliknya yang ku dapat. Aku baik-baik saja. Tak ada lemas, tak ada nyeri di perut, kepala, dada, dan seluruh anggota badan. Kepala yang selalu berkeringat pertanda gejala sakit jantung, kini kerontang. Racun yang ku minum dan ku makan berubah kecing dan berak belaka. Di mana perahu-perahu yang bisa mengantarku ke pulau baka itu?
Malah pagi yang ku jumpa. Pagi yang bising. Klakson di jalan memekikkan kebenaran masing-masing. Mereka bilang pergi karena uang, pulang karena cinta. Ah bullshit…!!! Kalau ku tanya, untuk apa mereka bergelut dan memutari semua? Untuk apa mereka hidup dan memabrikkan manusia? Tak ada jawabannya.
Lalu mereka balik tanya, mengapa aku tak ingin hidup? Membuang asa? Mengharap-harap alam baka segera menyapa? Jawabku, mengapa tidak? Dan mereka pun menilai dan memandangku sebagai penyakit. Padahal mata mereka sakit. Hidup untuk pengulangan, sok tahu perihal kematian.
Atau aku yang memang tak tahu apa itu tujuan? Mungkin tak tahu bagaimana cara berjalan? Kaki-kaki jiwaku lumpuh, sebab tiada dataran keras pijakan. Hanya orang tolol yang mau menolongku. Mengangkatku dari lumpur dengan resiko tenggelam bersama.
Kalau sekadar kata-kata mutiara, seperti super mario bross itu aku pun punya. Tak ingatkah kau, berapa orang yang meminta saranku, dan mereka menjalankannya, mengamininya, dan hidup lebih berharga, setidakknya menurut masyarakat yang gila dan kaku. Yang dengan struktur, aturan, dan kotak-kotaknya melelehkan Sang Aku. Fuck, soceity, crazy ending.
Apa? Kau  mau tanya, kenapa aku tidak menjalankan kata-kataku? Lihat, kakiku! Kaki jiwaku! Mana?! Dan kau hanya mengumpatku. Apa yang bisa kau tawarkan agar aku tetap memilih hidup dan membuang jauh-jauh asa akan kematian? Kau ingin menjadikanku tuan? Atau menawariku jadi budakmu? Jadi kawanmu? Itu saja? Aah, aku juga punya. Aku punya tuan, aku juga punya budak. Kawan? Apalagi..
Nah, sekarang kau mencoba membohongiku. Kau bilang, aku, kau, dan mereka, kita semua pernah punya perjanjian dengan tuhan untuk tunduk dan menjadikan ia sebagai tujuan? Perjanjian yang mana? Kapan? Aku benar-benar tak ingat. Sama-sekali. Aku yakin kau juga. Cuma karena ketakutan pada bayangan neraka dan mengharap bayangan surga itu kau paksa akal dan hatimu untuk percaya. Ah, seperti anak kecil saja kau, mengharap hadiah dan takut siksa.
Eh, tapi sebentar. Perjanjian itu adalah hukum. Ada aturannya. Aku benar-benar tak ingat kapan, dimana, bagaimana kondisinya, siapa saksinya, dan segala macam yang terkait dengan perjanjian itu. Apakah aku berdosa dan bodoh? Aku benar-benar tak ingat. Lalu tiba-tiba saja kau menyodorkan sebuah kisah, yang asing bagiku. Mana tanda tanganku di situ? Mana bukti kesepakatan antara aku dan tuhan?
Oke, kalau memang hidup ini tujuannya untuk tuhan, mengapa aku tak boleh segara mengakhiri kefanaan ini? Hidup kan fana? Dan hidup itu bukan tuhan? Iya toh? Kalau hidup itu bagian dari tuhan, maka orang-orang yang mengakhiri hidupnya itu berarti mengakhiri tuhan? Bukan?
Aku tahu, kau sedang ketakutan. Takut siksa neraka. Dan benakmu, memohon ampun tuhan berulang-ulang. Hanya lantaran membaca tulisan ini sampai di sini. Baiklah aku maafkan. Nah, mau lanjut?
Sudahlah, banyak cara menggapai kebenaran. Ada yang berjalan, berlari, atau melompat. Biarkan aku melompat. Kalau tak sampai ya nggak apa-apa. Toh, di manapun aku berada nggak akan lepas dari tuhan. Begitu kan keyakinanmu?
Oke, kembali ke kamarku. Kenapa aku malah sering bangun bagi akhir-akhir ini? Di kala fajar tak lagi menarik minatku. Di kala mataku begadang sampai tarkhim berteriakan. Di kala badan ku buat capai tak ketulungan, kenapa tetap saja di pagi harinya aku bangun? Kenapa nggak tidur selamanya?
Tapi ya sudahlah. Jalani saja. Nanti juga tiba saatnya minum baygon. Dan beberapa kali ku baca di beberapa media, itu berhasil. Oke bradah… sampai jumpa, entah di mana… bye…

Minggu, 22 April 2012

Kabut

Slide 5
Kabut aku merindumu
di tangan terik terang
penuh polusi
tak sedikitpun kau datang
Hanya rintik-rintik hujan
malas dan terpaksa
mengabarkan kesan kelabu

Kabut masihkah kau di kampung
atau enggan turun gunung
bersembunyi di balik rimbun pepohonan
yang basah karena embun
mendinginkan gelora magma bumi
Terang pendar-pendar cahaya
tak nyata tanpamu
gelap gulita
sepah di lidah sepi
Ciputat, Januari 2012

Kamis, 19 April 2012

Trans

Ketika hati mencapai puncak tertinggi

sementara akal masih saja memijak bumi

tiada lebih ngeri ketimbang hilangnya arah dan tujuan

Kalau tiap jangkah itu ke depan

mundur pasti ke belakang

karena jagad yang bulat

tujuanmu adalah kepergiannya

sampai tiba di titik sana

rindu kan memaksa menjenguk peristiwa, waktu, ruang, dan pernak-pernik gambar

yang telah menjadi silam

Apa arti perjalanan, jika hanya meninggalkan dan untuk kembali mula?

Apa pula ketenangan

berdiri memaku waktu di tengah segala silih berputar?

Diam dan gerakmu berpeluk pelapukan

Jadi hidup sekadar membuang rasa bosan

Kamis, 12 April 2012

Maaf Ernest Hemingway

Maaf Tuan Hemingway
Pestaku bukan pesta bergerak
yang berjalan menuju penyelesaian.
Temanku, panggillah Abah. Ia masih muda. Hanya lantaran pernah berteater di Madrasah Aliyah dengan peran dukun yang dipanggil Abah, tanpa bubur merah dan upacara selametan, nama itu terus melekat padanya. Selamanya.
Dari Abah kudengar, tak ada pesta yang tak berakhir.
Seperti itulah pestamu Tuan Hemingway. Pesta yang bergerak menuju sunrise. Ketika moncong-moncong bintik cahaya menghisap embun dengan lahapnya, pestamu berubah bayangan hancur perlahan, tertimbun oleh pejaman.
Tapi pestaku tidak Tuan Hemingway. Pestaku pesta yang diam. Pesta yang tenang tanpa kegaduhan para tukang bangunan di samping kamar yang dengan ototnya memaksakan paku pada kayu yang kaku.
Apakah pestaku juga akan berakhir seperti kata Abah?

Penyatuan

Sampai bulan setengah

di angkasa hitam membiru

campur awan berurai diam

hanyut meluncuri kelok blues

makin dalam makin diam

Kian keras telinga mendengar

tak lagi punya lidah berputar

Di bawah paling macam warna

bening takkan terlukis

Asap melebur udara bukannya sirna

Mata terpejam meluaslah batas pandang

Hilang adalah Ada

Senin, 26 Maret 2012

Bunuh Diri


Bob berusaha membuka mata saat jam di ponselnya menunjukkan pukul 13.00. Komputer di sudut kamar kost-nya masih menyala. Melalui speaker aktif, winamp melantunkan sayatan gitar musik-musik blues. Semalam suntuk pemuda kurus berambut gondrong ini menenggelamkan diri dalam larik kalimat buku-bukunya. Sampai mentari mengintai, barulah ia merasakan letih di badan. Ia sengaja tak mematikan komputer Pentium III-nya itu, dengan harapan ketika terbangun ia bisa cepat mengganti lagu di winamp-nya dengan lagu-lagu keras agar segera tersadar dan tak bermalas-malasan.
***
Begadang menjadi kebiasaan sejak ia mulai mengenal teman-teman mahasiswa serauntauan. Semula, di semester-semester awal kuliahnya, Bob masih membawa kebiasan lama. Ia tak pernah tidur di atas jam 22.00. Kebiasaan ini terjaga, karena di awal-awal studinya, Bob tak punya tempat tinggal. Ia menjalani hidup sebagai mahasiswa gembel, yang tiap malamnya tidur di emperan sebuah masjid. Dingin, nyamuk dan gumaman para pengurus masjid menjadi menunya sehari-hari. Tapi demikian, Bob tetap merasa tenang. Entah kenapa ada sebuah rasa tenang, bahagia dan bebas tinggal ilegal di sebuah masjid yang terletak di seberang kampusnya. Kebiasaan itu luntur dan lenyap jelang masuk semester IV, gara-gara sering dipaksa begadang malam oleh teman-teman seangkatan dan senior atasannya, untuk sengaja membaca dan menelaah buku dan karya-karya filsafat. Yang lebih parah, sejak ketemu teman-teman seperantauan. Karena merasa sama-sama anak seberang, mereka banyak menggumamkan bermacam rencana dan impian. Hingga tak terasa malam pun menghilang.
***
Bob mulai menggeser tubuh dan menggerakkan tangan menggapai mouse. Ia mengisi plylist winamp dengan lagu-lagu System Of Down. Setelah irama menyala keras, Bob duduk melepas selimut sarungnya. Kemudian ia merapihkan buku-buku yang berserak di samping kanan kiri tempatnya berbaring.
Seperti biasa, pasca tersadar dari mimpi siangnya, Bob langsung menyalakan dispenser. Hanya dengan cuci muka dan rambut acak-acakkan, ia melangkah ke warung yang berjarak sepuluh meter dari kamarnya. Pak Dahlan, lelaki tua penunggu warung dengan rambut beruban, sudah tahu apa yang akan Bob beli.
“Kopi item, rokok kretek setengah bungkus, sama kue putunya berapa buah?” tanya Pak Dahlan tanpa menunggu kata dari Bob.
Bob tersenyum dengan muka khas kucel. Ia mengacungkan dua jari, yang berarti dua buah kue. Sekembalinya di kamar, dispenser menjalankan tugas dengan baik. Air telah panas. Bob menyedu kopi instan dan menggulung bungkus kopi untuk dijadikan pengaduk.
Beberapa saat mata Bob menerawang kosong. Seperti ia tak peduli dengan kemegahan langit biru dan terangnya siang yang baru ia temui di luar kamar. Debu dari udara luar perlahan membelai poster-poster di kamarnya. Buku-buku filsafat yang tertumpuk berantakan menatapnya heran. Dengan penuh perasaan, Bob menghabiskan tiga batang kretek pertama tanpa aktivitas lain.
Kopi di gelas tinggal setengah. Hati Bob tak ingin mandi sebelum menghabiskan seisi gelas kopi dan semua batang kretek yang tersisa. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada sebuah buku kecil, yang terselip di antara Critique of Pure Reason­-nya Immanuel Kant dan Memahami Negativitas-nya F. Budi Hardiman.
Ia merengkuh buku kecil terjemahan berjudul Islam dan Pembebasan itu, yang tak lain berisi kumpulan tulisan Asghar Ali Anginer tentang tema terkait. Tiga tahun lalu, Bob tak sengaja lewat di depan pelataran parkir kampus. Ternyata ada bazar. Ia menyempatkan waktu untuk melihat-lihat, tanpa niat beli. Namun buku bersampul hitam itu sepertinya berjodoh dengannya. Ia muncul saja di hadapan Bob. Harganya pun terjangkau. Jadilah buku itu kini di tangan Bob.
Bob menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia membuka secara acak lembar-lembar buku tersebut. Beberapa garis pena mewarnai larik-larik kalimat dengan lekuk yang semrawut. Seluruh halamannya sudah tak perawan lagi. Bob selesai mengobrak-abrik isi buku ini sehari setelah pembelian. Namun keisengannya yang sekadar ingin mengingat jejak pembacaannya sirna seketika. Matanya terpaku pada kalimat yang tertera di halaman 43.
“... Sesungguhnya kata kafir dalam al-Qur’an (Kitab Suci Umat Islam) merupakan istilah fungsional bukan formal. Orang kafir yang sesungguhnya adalah orang yang arogan dan penguasa yang menindas, merampas dan melakukan perbuatan-perbuatan yang salah, dan tidak menegakkan yang ma’ruf dan justru sebaliknya, membela Yang munkar. ... orang mu’min sejati bukan hanya mereka yang mengucap dua kalimat syahadat. Melainkan mereka yang menegakkan keadilan bagi kaum tertindas dan yang tidak menyalahgunakan posisi mereka, menindas orang lain ...”
Bob tak menyelesaikan bacaannya. Ia tak niat lagi mengulang buku yang telah khatam dibacanya dua tahun lalu. Ia paham betul apa isinya. Ia sepakat dengan penulisnya, yang menyatakan bahwa kelahiran Islam di Mekah memiliki semangat pembebasan. Ketika itu, kota Mekah merupakan titik pusat pertemuan para pedagang di Timur Tengah. Orang-orang kaya semakin jaya dan kaum miskin terpinggirkan. Muhammad datang dengan spirit mengubah kehidupan masyarakat Mekah. Terutama penindasan orang-orang kaya yang menumpuk kekayaan dan hanya mementingkan sukunya, tanpa peduli kaum miskin.
Setelah mandi, Bob bersiap menuju Kampus. Tak ada kuliah hari ini. Ia sengaja ingin bersantai dan membaca buku di kantin. Selebihnya mengajak kawan-kawan yang bersedia untuk sekadar berdiskusi ringan.
Setelah mengunci pintu kamar, ia melangkah santai dengan sweater menutup rambutnya. Jarak tempuh ke kampus hanya 100m. Jalanan ramai seperti biasa. Beberapa pedagang kaki lima berjajar berantakan. Motor hilir mudik memekak telinga. Semua tak menyisakan keanehan bagi Bob. Ia kenal betul jalan Pesanggrahan ini. Tapi entah kenapa, terasa ada yang berbeda. Ia tak menjumpai teman fakultasnya seorang pun. Padahal biasanya, teman-teman bertebaran menyapanya.
Kepenasarannya makin bertambah setelah kakinya menginjak kampus. Puluhan polisi tampak berjaga-jaga. Ambulan merengek-rengek memecah kebisingan.
“Ada apa boy? Kok banyak polisi masuk kampus? Ada demo?” tanya Bob pada seorang mahasiswa yang tak dikenalnya.
“Kamu mahasiswa mana?” mahasiswa itu balik tanya sambil memerhatikan rambut gondrong Bob.
“Ushuluddin.”
“Tuh di fakultasmu ada yang bunuh diri.”
“Hah...!!! bunuh diri?!”
“Iya, dua orang terjun dari lantai tuhuh,” jawab mahasiswa itu.
Bob buru-buru memercepat langkah, tak memeduli ratusan mahasiswa yang berkerumun dan polisi berjaga-jaga. Ingatannya langsung tertuju pada dua temannya, Doni dan Hanif. Kedua nama itu adalah senior Bob, yang lebih tua empat semester. Baru kemarin sore Bob nongkrong di kantin dengan keduanya. Mereka resah dengan kebijakan kampus yang akan men-drop-out (DO) mahasiswa semester XIV ke atas.
Beberapa hari sebelumnya juga kepada Bob, Doni dan Hanif pernah menyatakan diri sebagai korban sistem. Dulu, tahun 2003, saat Hanif dan Doni masuk sebagai mahasiswa baru, tak ada peraturan DO untuk semester XIV. Tahun 2006, muncul peraturan yang sedikit berat, berupa pelucutan status sebagai mahasiswa reguler. Mereka tetap menjadi mahasiswa, namun dari program non-reguler.
Non-reguler adalah program perkuliahan bagi semua kalangan. Tak terbatas usia maupun umur ijazah. Tak ada batas formal masa belajar. Syarat menjadi mahasiswa non-reguler hanya satu, punya ijazah asli SMA.
Program non reguler ini diadakan sejak tahun 2001 dan hampir terdapat di semua fakultas. Di antara manfaatnya adalah, Kampus bisa diakses oleh siapa saja yang memiliki ijazah SMA. Sehingga tak ada kata terlambat untuk belajar di UIN. Selain itu, bagi mereka sudah bekerja, perkulihan ini tak akan mengganggu. Sebab jam kuliah baru dimulai pukul 16.30-21.00. Selain itu, banyak dosen yang tak mendapatkan layak gaji. Padahal kompetensi keilmuan mereka cukup bagus. Mereka bisa menjadikan program non-reguler ini sebagai tempat untuk mencari penghasilan tambahan dengan tetap mengabdi pada dunia keilmuan.
Program ini juga merupakan angin segar bagi mahasiswa yang fokus dalam kajian ilmu sosial, seperti ushuluddin, filsafat, sosiologi dan sebagainya. Pasalnya, tugas mereka bukanlah seperti mahasiswa dari fakultas keguruan, kedokteran, ekonomi sebagai calon buruh di bidangnya. Bagi mahasiswa ilmu sosial yang idealis, menjadi tukang di sebuah bank atau perusahaan bukanlah tujuannya. Itulah pikiran Doni dan Hanif yang sempat mereka ungkapkan pada Bob.
Namun rektor yang baru terpilih tahun 2006, menghapus program non-reguler pada tahun itu juga. Alasannya, program ini tak menguntungkan kampus. Dan justru membuat mahasiswa meremehkan masa studinya, karena kesempatan berlama-lama di kampus menjadi tak terbatas. Selain itu, adanya kelas malam, membuat tagihan listrik kampus membengkak, serta mengedarkan gosip tak sedap tentang prilaku mahasiswa Islam di malam hari dalam kampus.
Doni dan Hanif termasuk dua orang yang paling mengecam penghapusan program ini. Menurut mereka, kebijakan itu sebenarnya bertujuan menghancurkan para pemikir di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Sebab, di fakultas ini paling banyak mahasiswa yang memasuki semester XIV ke atas, dan berharap bisa menyelesaikan beban matakuliah di program non reguler.
“Tugas kita adalah berpikir mencari solusi terhadap masalah-masalah yang bergelimangan di masyarakat. Indonesia merupakan laboratorium sosial yang sangat besar. Aku harus benar-benar matang sebelum terjun ke masyarakat. Tak cukup dengan modal nilai bagus tanpa keilmuan yang mumpuni,” begitu ungkap Doni beberapa waktu lalu dalam obrolan santai di kantin dengan Bob.
“Di Indonesia, para pemikir sangat tidak dihargai. Dan kita lihat saat ini, fakultas-fakultas pemikiran semakin dimarjinalkan. Banyak orang mengalamatkan isu buruk serta cap sesat terhadap mahasiswa di fakultas sosial seperti ushuluddin dan filsafat. Padahal, masa depan masyarakat ada di otak para pemikir ini. Ketika para pemikir semakin disudutkan bahkan dimusnahkan, maka bersiaplah menyongsong kehancuran Indonesia. Bangsa-bangsa asing akan mendikte kita dengan teori-teori asing milik mereka,” papar Hanif panjang lebar sore kemarin saat bertemu Bob dan teman-teman jurusannya.
Belum jelas, apakah tindakan kedua sahabat Bob mengakhiri hidup itu karena peraturan kampus atau karena hal lain. Yang pasti kini, kedua orang itu tergeletak bersebelahan dan berlumur darah. Tulang-tulang mereka patah dan retak, dan sebagian menyeruak keluar dari kulit. Bob tak tahan membendung kucuran air mata. Ia ingin memeluk tubuh dua sahabat itu. Namun puluhan polisi dengan police line menghalanginya.
Sejauh ini polisi belum memastikan sebab kematian mereka. Ada dugaan pembunuhan, perkelahian, dan yang paling kuat bunuh diri. Polisi melakukan sterilisasi di seluruh area Fakultas Ushuluddin. Tertutama lantai VII dan tempat kedua mayat terkapar. Pemandangan ini membuat pikiran Bob kacau. Ia melangkah menuju kantin membeli segelas kopi. Berharap kafein bisa menenangkan pikiran.
“Eh, Bob,” sapa Burhan, teman satu fakultas Bob, mengagetkan kegelisahan.
“Ya, kamu dari tadi di sini, Han? Gimana sih kejadiannya? Jam berapa?” tanya Bob.
“Ya aku sejak pagi di sini. Malah aku sempat ngobrol sama mereka berdua tadi di meja ini. Iiih, aku jadi ngeri nih.”
Ngeri kenapa? Takut hantu mereka nyatronin kamu? Atau takut diminta jadi saksi?”
“Ya dua-duanya.”
“Ya sudahlah, nggak perlu takut. Nanti aku dampingi kamu kalau dipanggil jadi saksi. Apa saja yang kalian bicarakan tadi?”
Burhan terdiam. Matanya kosong menatap keramaian. Ambulan dan mobil polisi meraung-raung menghentak udara dengan sirenennya. Wartawan berkeliaran dengan pakaian dan peralatan khas mereka mencari sosok yang tepat untuk diwawancara.
“Heh, Han! Sudah, santai saja. Jangan bengong. Everything gona be ok, you know?” ujar Bob sambil memegang pundak Burhan. Burhan tersentak kaget.
“Gimana mau santai. Aku ngobrol jelas dengan mereka setengah jam sebelum mereka mati.”
Bob diam sejenak, mencari kalimat yang tepat untuk bertanya agar Burhan leluasa bercerita.
“Ayo kita keluar. Kita ngopi di warkop saja. Biar santai dulu,” ajak Bob.
Burhan mengangguk. Bersama mahasiswa berambut kriting itu, Bob kembali melewati keriuahan orang yang membincang tragedi ini. Polisi dan wartawan masih melakukan tugasnya. Burhan tampak kaku ketakutan.
“Han, santai. Jangan terlihat gugup gitu. Nanti kalau mereka curiga denganmu, malah bisa berabe urusannya. Bayangkan wajah Julia Astuti yang cantik itu. Biar kamu bisa tersenyum.”
“Ha ha ha h..., upss sory,” Burhan hampir tertawa lepas gara-gara aku mengingatkannya pada seorang perempuan yang lagi ia dekati itu.
“Heeeh... kontrol dong kontrol bro....”
“Oke, oke, sory-sory,” ujar Burhan tersenyum senang.
Sampai di warkop samping kampus, Bob langsung memesan segelas kopi hitam untuk berdua. Televisi yang terpasang di sudut atas warkop menayangkan Headline News tentang peristiwa yang terjadi. Semua orang menatap fokus pada layar kaca itu.
Bob memerhatikan mimik sahabatnya yang kelu melihat siaran berita itu.
“Eh bro, gimana Julia Gilard, Eh Julia Astuti? hehehe,” tanya Bob coba mencairkan ketegangan.
Burhan bergeming. Matanya kosong tembus ke balik cahaya televisi.
“Yeeh... dikacangin nih.”
“Eeemm, eh apa? Apa? Julia? Ya gitulah bro. Seniorku masih tetap ngedeketin dia. Dan parahnya, Julia nggak sadar kalau seniorku tuh punya maksud tertentu. Dia tahunya, maksud seniorku tulus mau membimbingnya belajar menulis. Tak tahu lah bro, aku hanya bisa pasrah. Tapi tetap, aku mau bersaing secara sehat,” papar Burhan dengan lepas.
“Tapi kamu kok kelihatan ragu untuk bersaing sama dia? Dia kan sudah punya istri anak dua. Lagipula dia punya trackrecord buruk dalam percintaan. Eeem, apa katamu kemarin, penjahat kelamin?”
“Enak aja penjahat kelamin, penjahat wanita. Gitu-gitu juga seniorku, jago nulis, punya karya nggak seperti kamu” sambar Burhan sewot sedikit.
“Hahahaha, ,” Bobl tertawa ngakak.
“Sialan,” kata Burhan.
“Iya, benar kan, penjahat? Buktinya, Julia, kecengan juniornya mau diembat juga,” Bob tertawa kembali.
“Sudah, sudah ah, kita bahas Julia tanpa dia, titik,” Burhan benar-benar kesal.
“Oke-oke, jangan marah dong. Mukamu itu sudah lebih tua dari usianya. Kalau sering marah, tambah parah nanti. Oke, jadi gimana?”
“Gimana apanya?” tanya Burhan.
“Ya itulah, Julia.”
“Kita sama-sama tahu, seniorku sudah mapan dan punya pacar yang siap nikah pula. Usianya pun sudah lumayan tua. Tapi sampai sekarang dia masih suka dan jago menaklukkan hati setiap wanita. Ia sangat berpengalaman dalam hal ini. Julia takkan percaya dengan penjelasanku. Karena seperti yang kamu bilang, cewek takkan menyukai cowok yang menjelek-jelekkan cowok lain. Meskipun itu fakta dan niat kita demi kebaikan cewek tersebut. Niat baik kan tak selalu diterima dengan baik, bukan begitu?” papar Burhan. Bob hanya mengangguk.
“Aku tak percaya dengan niat tulus seniorku ngedeketin Julia untuk bimbingan menulis. Karena dari cerita Julia dapat kusimpulkan, dia sudah mengincar Julia sejak lama. Lagipula, Ia mendapatkan nomor Julia dengan cara yang kubenci, yakni mencuri dari HP-ku. Apalagi coba? Meski ia bilang padaku niat ngedeketin Julia itu agar aku dan Julia bisa jadian, aku tak percaya. Ya, aku cuma bisa pasrah bro sambil berdoa. Apalagi, seniorku itu punya ilmu kebatinan untuk memelet cewek,” papar Burhan.
“Bilang saja ke seniormu itu, ‘Bang, Abang mundur dong’, ini sudah bukan jamannya orang tua seperti dia. Sekarang kan saatnya ‘Yang Muda Yang Kreatif’?”
“Sudah, tapi dia bilang, ngedeketin Julia agar aku cepat jadian.”
“Ya sudahlah bro, kelebihan dia dari kamu adalah dia sudah punya banyak pengalaman menjalin hubungan asmara. Sehingga dia tahu bagaimana memerlakukan wanita. Apalagi ia terkenal suka selingkuh. Beda dengan kamu yang baru sekali pacaran seumur hidup. Selain itu, ia juga punya ilmu kebatinan. Mendingan lo belajar ama dia baik-baik, bagaimana cara yang baik dan benar mendapatkan wanita idaman. Hahaha.. Tapi tenanglah, kelemahanmu adalah kelebihan,” papar Bob.
“Maksudmu?” tanya Burhan.
“Ya, pikir sendirilah. Kamu ini, kuliah sudah menyusahkan orang tua, masa cuma berpikir saja harus menyusahkan orang lain,” jawab Bob.
Burhan terdiam. Tapi tampak di wajahnya ketenangan mengalir pelan. Orang-orang di warkop masih membincang tentang bunuh diri di kampus tadi. Dari kejauhan, sirene polisi juga masih terdengar.
“Oya Han, kamu ngomongin apa saja sebelum Hanif sama Doni bunuh diri?”
“Ya seperti biasa, tentang kampus,” kata Burhan tenang. “Tapi tadi pagi Hanif kelihatan seperti menahan beban. Ia juga bilang, sejak semester IX sudah tak mendapat kiriman dari orang tua. Bapaknya menyuruh cepat-cepat lulus dan kerja. Adik-adiknya butuh biaya lebih untuk sekolah. Hasil bertani orang tuanya sangat minim. Tapi Hanif tak mau pulang ke kampung karena teman-teman sebayanya sering mencemooh. Mereka menganggap Hanif hanya menghambur-hamburkan uang dan waktu saja. Mereka tak percaya dan tak bangga, Hanif sedang memikirkan bangsa. Orang-orang kampung Hanif akan bangga jika ia pulang kampung berstatus sebagai anggota dewan atau kaya raya. Tak peduli apakah kekayaan itu hasil korupsi. Seperti pada umumnya, masyarakat menganggap kuliah adalah ajang untuk mencari pekerjaan dan penghasilan yang lebih tinggi dan lebih besar,” papar Burhan.
“Kamu tahu alamat blog atau web-nya Hanif sama Burhan?” tanya Bob.
“Ada, di FB mereka juga ada kok, lihat saja.”
“Ya. Okelah kalau begitu. Aku mau cari tahu penyebab bunuh diri mereka.”
“Mau jadi detektif nih ceritanya?” ledek Burhan. Bob terkekeh.
Bob berdiri menghampiri abang warkop. Ia merogoh kantong celana mengambil recehan. Tapi belum sempat membayar kopi yang tadi ia minum, mata Bob kembali tertarik ke arah televisi. Polisi menemukan secarik kertas di lantai VII Ushuluddin. Nama Hanif dan Doni tertera di bagian bawah sebagai tertanda penulisnya. Bob terpaku memerhatikan layar kaca saat seorang petugas membacakan isi tulisan di kertas tersebut.
“Jika negara dan kampus tidak segera sadar bahwa ada salah dalam kehidupan ini dan terus masih menjalankan sistem seperti sekarang, maka tunggulah para pemuda terbaik yang segera menyusul kami berdua. Wahai mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat, janganlah kalian berpikir untuk menjadi tukang, buruh atau budak seperti mahasiswa di fakultas-fakultas lain. Di dunia ini hanya ada dua fakultas, Ushuluddin dan Bukan Ushuluddin. Dan demi ketentraman batin kita, bergabunglah kawan-kawan di Aliran Jomblo Kebatinan yang didirikan oleh Pagar Dewo. Salam ketenangan untuk Pagar Dewo, teruskan perjuangan kami. Jangan khawatir, kami sudah menemukan ketenangan batin yang sesungguhnya.”
Bob terkejut bukan kepalang mendengar inisial FB-nya, Pagar Dewo, disebut dalam tulisan itu. Ia mulai risau. Polisi pasti akan mencarinya, sebagai saksi dan bisa jadi tersangka. “Ah, kawan, kenapa kalian tak bilang-bilang kalau mau bunuh diri. Kenapa pula kalian bawa-bawa namaku?” ujar Bob dalam hati.
Setalah membayar kopi, Bob langsung pergi menuju warnet. Berbagai celoteh pertanyaan Burhan tak ia hiraukannya lagi.
Bersambung...
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html