Home

Minggu, 28 Juni 2009

UIN Jakarta Dan Kiamat


MS Wibowo - Di sela waktu Ujian Akhir Semester Rabu (24/6) lalu, seorang teman bertanya, mengapa banyak orang takut dan ngeri akan hari kiamat? Mengapa banyak manusia risau akan datangnya bencana global warming yang akan menghancurkan dunia? Bukankah jika semua hancur, segala masalah di dunia akan berakhir pula? Dan kita tak perlu menanyakan lagi, kenapa ketimpangan sosial masih terjadi? Termasuk apa atau siapa yang salah, manusianyakah atau sistem negaranya, semisal demokrasi?
Teman tersebut menambahkan, hidup ini sungguh tak jelas. Manusia selalu dihadapkan pada masalah. Padahal kalau kita mau kompak, semua masalah itu akan tiada. Misalnya, seluruh dunia bergotong-royong merakit nuklir secara paralel mengelilingi bumi lalu diledakkan bersamaan. Hancurlah bumi beserta kemiskinan dan masalah-masalah lainnya. Termasuk pusing memikirkan bayaran kuliah dan kebutuhan hidup?
Kenapa mesti takut akan hancurnya dunia ini? Kehidupan manusia itu membosankan. Perhatikanlah, rantai kehidupan manusia tak ubahnya pengulangan-pengulangan yang telah terjadi sejak zaman purba. Manusia lahir, kecil, lalu dewasa terus sekolah, kuliah, kerja, kawin, punya anak, kecil yang akan mengulang hal sama?
Ungkapan teman tadi mungkin ada benarnya. Karena manusia adalah makhluk yang dikutuk untuk memaknai. Di manapun dan kapanpun, indera manusia selalu mengalami perjumpaan dengan hal di luar dirinya. Dalam perjumpaan itu, manusia selalu memaknai apa yang ia jumpai. Termasuk kehidupan yang telah berlangsung sejak jutaan tahun silam ini.
Teman tersebut di atas memaknai hidup sebagai rutinitas yang berulang-ulang. Itu karena dia memandang hidup secara umum. Padahal kalau kita terjun langsung pada kehidupan secara lebih spesifik, tak demikian adanya. Sama halnya dengan kita melihat wilayah geografis Indonesia beberapa puluh kaki di atas angkasa. Maka yang terlihat hanya seonggok bongkahan-bongkahan hijau yang tersembul di atas perairan. Padahal kalau kita mendarat di atas bongkahan pulau-pulau itu, kenyataan akan berubah. Menjadi komplek, begitu ribet penuh perjuangan dan tantangan.
Perjuangan menjalani rute yang berulang-ulang tadi menjadi berdarah-darah. Aktivitas mengungkap makna kehidupan menjadi sangat rumit dan penuh gesekan antar sesama makhluk. Namun itu merupakan fitrah manusia. Sebagaimana kita tahu, manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan berbeda-beda pola hidup, pikiran, perasaan dan lain-lain. Beda dengan malaikat, binatang, tumbuhan dan sebagainya. Mereka semua satu tipe, satu pola hidup. Serba satu, tanpa beda kecuali wujud fisiknya.
Soal mengenai hidup, adalah masalah klasik yang hingga kini tak ada jawaban memuaskan tentangnya. Dan hidup memang bengal. Kadang terasa indah, tapi tak jarang begitu memuakkan dan terlihat tak penting. Aku sering yakin, rata-rata manusia, terutama kaum awam umat beragama, memandang hidup ini merupakan ujian. Ujian yang akan mengakibatkan manusia mendapat hasil dua macam. Surga dangan segala nikmatannya, dan neraka dengan segala siksanya. Jadi kesusahan hidup coba dihalau dengan ketakutan masuk neraka.
Tapi tetap saja kehidupan ini menjadi misteri. Kenapa ada kehidupan? Apakah Tuhan merasa kesepian, sehingga menciptakan makhluk bernama manusia untuk menghibur kesendiriannya? Atau benarkah pandangan para saintis, bahwa dunia dan kehidupan di dalamnya ini hanya berupa serangkaian kejadian yang terjadi secara acak tanpa ada tujuan di balik adanya dunia?
Ketidakjelasan ini pun dimiliki manusia. Rutinitas berulang-ulang jalan hidup manusia seperti terpapar di atas adalah salah-satunya. Lalu masalah ekonomi juga menjadi hal penting yang diperebutkan manusia. Masih banyak lagi persoalan manusia. Antara lain, karena orang kaya selalu bisa menikmati fasilitas lebih daripada orang miskin, munculah pertanyaan apakah uang/harta merupakan sarana mutlak untuk menjadikan hidup menjadi penting? Pertanyaan ini dijawab tidak karena nyatanya orang kaya juga banyak yang hidup susah dan menderita secara batin.
Salah-seorang dosenku mengatakan, hidup ini menjadi penting manakala kita bisa menjadi bermakna/berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Intinya masalah kepuasan batin. Tapi seperti apa sebenarnya yang disebut bermakna. Kadang kita merasa bahwa keberadaan kita dalam sebuah komunitas begitu dibutuhkan. Orang di sekitar kita merasa bahagia dengan adanya kita. Itulah kadang yang disebut bermakna.
Memang kadang saat kita merasa berarti bagi orang lain hidup kita terasa indah dan penting. Tapi toh, kegiatan semacam itu hanya berlalu sesaat saja. Selebihnya kita lebih banyak sendiri. Dalam kesendirian yang lebih lama inilah hidup kita kembali tak berarti. Padahal kondisi ini lebih lama dari pada saat kita membantu orang lain, misalnya.
Manusia memang benda atau makhluk yang tak henti-henti memaknai. Kegiatan memaknai itu laksana mengisi gelas tanpa alas alias bolong. Sampai kapanpun kita mengisi, gelas itu takkan pernah penuh. Dan karena itu manusia sering frustasi. Seolah tak ada hal lain yang bisa kita jalani.
Dalam hidup ini selalu ada kemungkinan dan selalu banyak pilihan. Oleh sebab itu, hidup ini takkan pernah terasa hambar. Selalu ada pilihan lain dan banyak jumlahnya. Misalnya kita terancam akan sesuatu. Kita bisa melawan atau menghancurkan ancaman itu. Atau kita bisa kabur atau juga bunuh diri agar terhindar dari ancaman itu. Satu-satunya pilihan yang tak punya kemungkinan lain untuk dipilih manusia hanyalah mati.
Sumber gambar: http://himastron.as.itb.ac.id/

Senin, 08 Juni 2009

Frustasi




Titik Jenuh, koma kejenuhan.
tanda seru tanda tanya
garis finis, finish,,, atau tengah lapangan,

Berabaring melayang bersama angin,, burung-burung dan awan
menari, tarian penghibur diri
tertawa seolah-olah

Atas tak terlihat, Bawah Kabur
diujung sana, kanan kiri hanya biru langit
termasuk di atas kepalaku,,,
karena aku terbaring,,, di angkasa
Bawahku hitam kelam, kadang ada berkas putih berkilau
kadang krumunan buasa riak laut, sepertinya...

Tak Ada yang tahu aku, tak ada yang mau peduli,, karena tak tahu,, barangkali...
Atau buat apa peduli,,
Ya, aku yakin mereka ada,,
sama sepertiku, melayang
meski mengatakan suatu kepastian mematikan
Empat tambah empat delapan

[MS Wibowo]