Home

Jumat, 18 Mei 2012

Aku Hanya (Seperti) Seorang Nabi

-->Kemarin, aku pulang sangat larut. Nyaris pukul 00.00. Jalan Legoso Raya mulai sepi pelintas saat aku meninggalkan sebuah kafe, tempat nongkrong bersama beberapa kawan muda. Hanya sekitar seratus meter, langkahku menyeberangi jalan untuk mencapai sebuah gang ke kamar kostku, 10m dari jalan raya.
Tak seperti kamar kost atau kontrakan umumnya, yang berderet rapat dengan lorong utama menghadapkan pintu dengan pintu lainnya. Kamarku punya halaman. Meski tak seluas halaman rumah di kampung, tapi cukup buat parkir 10—15 motor.
Tepat di belokan mengiri, ada gerbang di sebelah kanan dengan empat buah anak tangga turunan. Begitulah kamarku berada. Malam itu ada dua motor berjajar. Pertanda tamu telah tiba sebelum kedatanganku. Pintu terbuka. Cukup senyum untuk menyapa dua orang teman dan seorang teman se-kost-ku.
Mereka bicara banyak hal. Menyaruk-nyaruk masalah seni dan sastra, diiringi lagu-lagu Led Zeppelin di media player komputer pentium III. Komputer yang tak sesuai zaman sekarang. Tapi slow saja, Led Zepplin masih bisa konser di situ.
Aku yang lelah, berlagak authis, tak terlalu larut menanggapi obrolan mereka. Kecuali menghisap beberapa batang samsu, menyeduh kopi baru, menambahkan tiga buah reggea Bob Marley, lagu-lagu sountrack Into The Wild-nya Eddie Vedder, dan lagu-lagu sountrack The Boat That Rock seperti Elenore, Stay With Me Baby dan lainnya. Lalu aku berbaring di sela-sela serunya obrolan mereka.
Kurang lebih dua jam berebah, sayup-sayup kusimak obrolan mereka. Aku langsung ingat cerita Gus Mus tentang Gus Dur saat keduanya menjalani studi di Mesir. Gus Mus yang selalu belajar dan Gus Dur tidur saja. Tapi apa yang dipelajari Gus Mus, ditangkap lebih dalam oleh Gus Dur yang tidur.
Serunya pembahasan ketiga teman itu layak nyamuk-nyamuk yang terbang hinggap berputar di kaki tanganku telanjang. Membuat aku bangun sekitar pukul 03.00. Setelah cuci muka, aku bergabung. Teman sekamarku minta maaf karena telah membuat tidurku terganggu. “Slow…,” kataku.
Aku menyimak sampai di mana mereka. Masih seputar sastera dan metodelogi ilmu pengetahuan. Begitu kurang lebih yang boleh ku ceritakan padamu. Tapi obrolan mereka sangat liar. Wajar, karena memang tak ada rencana dan alur kesepakatan kemana arah pembicaraan. Sebentar singgah di ranah kecengan, candaan. Singgah lagi di wilayah culture studies, meluncur ke masa klasik Islam saat terbunuhnya para khulafaurasyiddin. Dan pada suatu menit, singgah lagi ke kamar. Menyorot kehidupan asmara seorang dari kami. Di sinilah yang akan ku ceritakan. Karena memang sedikit erat dengan konsep kenabian.
Aku berkontribusi menggunakan analisa dan saran atas dasar zodiak. Aku mencoba memahami bagaimana seorang yang berzodiak sama denganku. Menganalisa kepribadiannya dan memberi solusi atas permasalahan yang terjadi.
Seketika itu, kedua teman yang malam itu berstatus tamu agung, meminta pendapatku menjelaskan bagaimana masing-masing pribadi dengan takdir zodiaknya.
Aku langsung berkilah. Kalau mereka mau tahu, cari saja di internet atau buku-buku mitos tentang karakter zodiak masing-masing. Selama ini, aku hanya mencari tahu, menelusuri, semua hal, baik tentang zodiak atau perhitungan yang berkaitan denganku. Aku hanya seperti seorang nabi, bukan rasul. Di dunia ini ada banyak nabi ketimbang rasul. Nabi hanyalah orang yang mendapat pengetahuan dari tuhan untuk diri sendiri, sementara rasul mendapat pengetahuan dari tuhan untuk dan wajib disebarkan kepada seluruh umat manusia.
Langsung pula, satu di antara kami ingat akan pernyataan Yazid, seorang teman yang tak ada di sini. Pernah Yazid mengatakan, semua pengetahuan yang kita dapat hendaknya hanya untuk diri sendiri, untuk menilai dan mengukur diri sendiri. Bukan sebaliknya untuk mengukur dan menilai orang lain atau masyarakat. Karena kalau demikian, akibatnya kita akan gampang men-judge, mengafirkan, menyalahkan, atau menganggap sesat orang lain.
Demikianlah, aku mendapat, memperoleh, mengunduh, dan menelusuri pengetahuan tentang zodiak, primbon, weton, jumlah tanggal, hari, bulan, dan tahun kelahiran hanya untuk diriku. Menilai dan mengukur diri sendiri. Sehingga jangan tanya bagaimana hubungan zodiakmu dengan zodiak pacarmu, jika tak sama dengan zodiakku. Kalau toh sama, aku hanya akan memaparkan sejauh yang ku tahu tentangku, tentang zodiakku, sejauh berkait dengan pengalamanku. Tidak untuk memaksamu memakai penilaianku atas diriku untuk menilai dirimu. Dan karena itu pula, tak perlu kuceritakan apa yang kutangkap saat tidur atas obrolan ketiga kawanku malam itu.

Pagi yang tak ku harapkan

Bayang-bayang hitam teralis pada lembar kain yang menutup rapat jendala kaca kamarku jelas condong ke barat. Hari selasa masih muda. Mobil dan motor nyaring di telinga. Kamarku berposisi tepat di belokan sebuah gang,10m dari jalan raya.
Sejak memutuskan untuk mengakhiri semua, ini adalah pagi kesekian kalinya yang ku jumpa. Pagi yang dulu teramat sulit aku temui. Apakah berarti semua setan dan iblis telah pergi? Cuma lantaran aku memutuskan tujuan akhir hidupku dengan bunuh diri?
Entahlah. Tujuh tahun lalu, ketika sedang getol-gotolnya mengejar fajar, demi duduk di bangku kuliah tepat waktu, aku kesulitan tidur malam. Seperti ada yang menarik-narik pikiran. Melayang, mengawang, penuh dengan keresahan. Akibatnya mataku tak bisa terpejam hingga lantang suara adzan berdatangan dari segala penjuru. Dan aku kelabakan. Kuliahku berantakan. Terus menerus berulang.
Kalau tidak begitu, kesehatanku rentan terganggu. Entah perut, entah kepala, entah paru-paru, demam berdarah, liver, typus, dan segala macam penyakit menghadang siang. Tubuhku penuh kelemasan. Semua itu memaksaku untuk berikhtiar ketat menjaga pola makan, berjuang keras menghindari hal-hal yang membahayakan kesehatan. Caranya macam-macam. Sesempatnya aku joging, olahraga, minum vitamin, pakai lotion anti nyamuk DBD, banyak minum air putih, memaskeri hidung dari asap-asap komplek kehidupan, dan sebagainya.
Ah, tapi musibah datang dari mana saja. Selalu ku syukuri masa sembuh dari penyakit yang beberapa kali nyaris membunuhku. Hingga saat ini, ku sesali semua usaha penyembuhan itu. Menyesal karena tak memanfaatkan penyakit-penyakit ganas menjemput ajalku. Dengan begitu aku bisa mati normal, bukan bunuh diri.
Sekarang, aku tak tahu kemana perginya semua penyakit yang mengelukan itu. Setelah banyak cita dan harapan ku tanggalkan, mengabaikan segala prosedur hidup sehat, berharap sekarat datang, tapi malah sebaliknya yang ku dapat. Aku baik-baik saja. Tak ada lemas, tak ada nyeri di perut, kepala, dada, dan seluruh anggota badan. Kepala yang selalu berkeringat pertanda gejala sakit jantung, kini kerontang. Racun yang ku minum dan ku makan berubah kecing dan berak belaka. Di mana perahu-perahu yang bisa mengantarku ke pulau baka itu?
Malah pagi yang ku jumpa. Pagi yang bising. Klakson di jalan memekikkan kebenaran masing-masing. Mereka bilang pergi karena uang, pulang karena cinta. Ah bullshit…!!! Kalau ku tanya, untuk apa mereka bergelut dan memutari semua? Untuk apa mereka hidup dan memabrikkan manusia? Tak ada jawabannya.
Lalu mereka balik tanya, mengapa aku tak ingin hidup? Membuang asa? Mengharap-harap alam baka segera menyapa? Jawabku, mengapa tidak? Dan mereka pun menilai dan memandangku sebagai penyakit. Padahal mata mereka sakit. Hidup untuk pengulangan, sok tahu perihal kematian.
Atau aku yang memang tak tahu apa itu tujuan? Mungkin tak tahu bagaimana cara berjalan? Kaki-kaki jiwaku lumpuh, sebab tiada dataran keras pijakan. Hanya orang tolol yang mau menolongku. Mengangkatku dari lumpur dengan resiko tenggelam bersama.
Kalau sekadar kata-kata mutiara, seperti super mario bross itu aku pun punya. Tak ingatkah kau, berapa orang yang meminta saranku, dan mereka menjalankannya, mengamininya, dan hidup lebih berharga, setidakknya menurut masyarakat yang gila dan kaku. Yang dengan struktur, aturan, dan kotak-kotaknya melelehkan Sang Aku. Fuck, soceity, crazy ending.
Apa? Kau  mau tanya, kenapa aku tidak menjalankan kata-kataku? Lihat, kakiku! Kaki jiwaku! Mana?! Dan kau hanya mengumpatku. Apa yang bisa kau tawarkan agar aku tetap memilih hidup dan membuang jauh-jauh asa akan kematian? Kau ingin menjadikanku tuan? Atau menawariku jadi budakmu? Jadi kawanmu? Itu saja? Aah, aku juga punya. Aku punya tuan, aku juga punya budak. Kawan? Apalagi..
Nah, sekarang kau mencoba membohongiku. Kau bilang, aku, kau, dan mereka, kita semua pernah punya perjanjian dengan tuhan untuk tunduk dan menjadikan ia sebagai tujuan? Perjanjian yang mana? Kapan? Aku benar-benar tak ingat. Sama-sekali. Aku yakin kau juga. Cuma karena ketakutan pada bayangan neraka dan mengharap bayangan surga itu kau paksa akal dan hatimu untuk percaya. Ah, seperti anak kecil saja kau, mengharap hadiah dan takut siksa.
Eh, tapi sebentar. Perjanjian itu adalah hukum. Ada aturannya. Aku benar-benar tak ingat kapan, dimana, bagaimana kondisinya, siapa saksinya, dan segala macam yang terkait dengan perjanjian itu. Apakah aku berdosa dan bodoh? Aku benar-benar tak ingat. Lalu tiba-tiba saja kau menyodorkan sebuah kisah, yang asing bagiku. Mana tanda tanganku di situ? Mana bukti kesepakatan antara aku dan tuhan?
Oke, kalau memang hidup ini tujuannya untuk tuhan, mengapa aku tak boleh segara mengakhiri kefanaan ini? Hidup kan fana? Dan hidup itu bukan tuhan? Iya toh? Kalau hidup itu bagian dari tuhan, maka orang-orang yang mengakhiri hidupnya itu berarti mengakhiri tuhan? Bukan?
Aku tahu, kau sedang ketakutan. Takut siksa neraka. Dan benakmu, memohon ampun tuhan berulang-ulang. Hanya lantaran membaca tulisan ini sampai di sini. Baiklah aku maafkan. Nah, mau lanjut?
Sudahlah, banyak cara menggapai kebenaran. Ada yang berjalan, berlari, atau melompat. Biarkan aku melompat. Kalau tak sampai ya nggak apa-apa. Toh, di manapun aku berada nggak akan lepas dari tuhan. Begitu kan keyakinanmu?
Oke, kembali ke kamarku. Kenapa aku malah sering bangun bagi akhir-akhir ini? Di kala fajar tak lagi menarik minatku. Di kala mataku begadang sampai tarkhim berteriakan. Di kala badan ku buat capai tak ketulungan, kenapa tetap saja di pagi harinya aku bangun? Kenapa nggak tidur selamanya?
Tapi ya sudahlah. Jalani saja. Nanti juga tiba saatnya minum baygon. Dan beberapa kali ku baca di beberapa media, itu berhasil. Oke bradah… sampai jumpa, entah di mana… bye…