Home

Rabu, 24 Agustus 2011

Catatan Rindu IV

Bau segar tanah dan rerumputan

bercampur angin menghembus kesunyian.

Di sebuah jurang yang melembah,

seorang bocah jongkok memeluk lutut.

Air matanya membasahi dua siku.

Tangis yang melolong

mirip jerit kesakitan seekor kambing kurban

digorok batang lehernya

di hari besar.

Perlahan waktu menjadi teman.

Pagi dan siang sama saja.

Si bocah pun tak segera tua.

Rumput dan tanah tetap segar.

Kicau burung berpacaran

berpencar mencari makan membangun sarang

pamerkan telornya.

Si bocah makin pilu

karena waktu nyata berlalu.

Tiap coba ia mendaki

akar muda yang meretel getas pangkalnya.

Ingat aneh sampai dulu

serombongan tiba menyerta

berjanji senyum dan angsuran.

Tiba gelap semua tiada.

Tinggal bocah di jurang sunyi.

Sewaktu-waktu macan menerkam.

Bukan mati kelaparan yang menyiksa

bukan pula ketakutan

tapi rindu.

Kenapa harus bisa kubayangkan hiruk-pikuk keramaian dan tawa

dan aku sendiri di lembah tanpa siapa? tanya bocah menangis di lututnya.

Ah, cengeng! Cengeng kamu! Ini tak seberapa dibanding penipuan. Mereka yang memikat. Aku kan membalas.

Tapi di mana mereka? Bagaimana aku membalasnya?

Lututnya basah kembali

Catatan Rindu III

Kosongkan perasaan itu

dari hatimu

Tak ada tempat menerima

Kemana lagi

kalau bukan bersandar kesal

sambil menggoreskan tulisan

di cadas batu hati

Jangan pernah ungkap

sekalipun lewat pesan singkat

Takkan mengental jiwanya

tercemar waktu

Jangan pula titipkan

meski dipikul sejuta kata

Hampa kuasa

kecuali dia sendiri.

Catatan Rindu II

Langkah Rindu


Bagaimana mengucapkan

rindu menggulung-gulung

menjatuhkan benak badai

menghardik damai batin

Aku bukan penyair ulung

Pendekatan kata mudah diterka

Terlalu nyata

Mungkin apa adanya

Tak seksi kucing tanpa bulu

Sama gila orang tanpa baju

Penggombal tangguh

mengurungkan jaring penasaran

Tak setetes luka dianggap nyata

sebelum perginya

Pada siapa kutitipkan

rindu berlembar-lembar

Tukang pos libur lebaran

note, facebook, email

sapah, hampa

sambal dan lada tak beda di sana

atau rendang

hmm, kemarin aku sahur pakai rendang

nendang rasanya

apa kau kecap dari tulisan ini?

sudah

kubiarkan rinduku melangkah

lewati malam yang gelisah

di tanganya peta

menunjuk jalan

arah hatimu

jika tiba

kabari aku

tak kubekalinya ponsel

lagipula jarinya kelu

memencet berlingkar-lingkar rindu

hanya untukmu

Kamar Instalasi LeGoso, 22 Agustus 2011, 03.03

Catatan Rindu I

Salam Noter’s

Kebahagiaan bersamamu selalu

Catatan ini lahir pada 24 Agustus 2011, di penghujung subuh. Sejak dalam rahimnya memang kurang sempurna. Sehingga langkah kata dan kalimat sedikit pincang. Atau malah gederik, seperti berjalan dengan satu kaki.

Catatan ini lahir terpaksa. Bermula dari peristiwa yang kurang manis didengar. Perkawinan silang antara Rindu dan Kesendirian.

Menurut sebuah riwayat dan silsilahnya, Kesendirian mewarisi jutaan gen dan karakter, yang bersemayam ada padanya. Sepi, Sunyi, Resah, Galau, Penat, Bingung, Merdeka, Merana, Bebas, Lepas dan banyak lagi. Bagai siklus berputar, semua bergilir acak menyusupi wujud Kesendirian. Hingga tiba masa ia berjumpa dengan sosok manis penuh pesona, penuh warna, dan menjanjikan makna. Namanya Rindu.

Singkatnya mereka kawin. Menikah. Rindu hamil. Lahirlah kata-kata di balai-balai benakku.

Sampai catatan ini dibuat, proses kelahiran itu belum selesai. Rindu masih terus melahirkan ribuan kata yang belum pernah ada di dunia. Benakku kewalahan menanganinya. Leher sebelah kiriku sampai nyeri. Kepalaku berat dan berat sekali.

Meminjam istilah Abdullah Alawi, dalam Catatan Rindu Untuk Nyi Antasarah, kondisi ini seperti Nabi yang sedang menerima wahyu. Begitu berat hingga meriyang dan menggigil karenanya. Berikut kutipan dari Abdullah Alawi alias Grandong,

Rindu adalah beban. Barangkali seperti wahyu Tuhan yang melimpahi para Nabi. Begitu beratnya, hingga Muhammad saja meriang tak terperi, dan berkeringat menerimanya. Setelah itu, timbul juga masalah lain yang lebih berat: menyampaikannya. Bagaimana tidak, dia mesti menyampaikannya kepada kaum yang jelas-jelas akan menentangnya. Dia ditertawakan, dihina, disiksa dan dianggap orang gila. Tapi, dengan bimbingan Tuhan, dia tetap menyampaikannya. Dua puluh tiga tahun, barulah sempurna beban itu.
Sekarang aku dilimpahi beban. Berat rasanya. Muhammad masih mending, seberat apa pun beban itu, dia langsung dibimbing Tuhan, dan dijamin keselamatannya. Dan Khadijah serta sahabat-sahabat selalu ada di sampingnya. Menghibur di kala sedih. Membela dikala luka. Dan seberat apa pun, dia lebih beruntung karena memiliki “ruang” kepada siapa beban itu disampaikannya.
Sedang aku, membawa beban ini sendirian. Hanya sendiri! Selalu sendiri! Dan tak tahu haru ke ruang mana aku lempar. Mungkin kubunuh saja!*

Aku sendiri.Tapi mungkin tak seberat Muhammad, yang banyak musuhnya. Aku sendiri tanpa musuh tanpa kawan. Seperti tak hidup memang. Hanya mengelola engelola atau menahan anak-anak Rindu, agar tak keluar kendali pikiranku. Kalau diakalkan memang tak masuk. Kalau dirupiahkan pasti tak ternilai, yang pada satu sisi sama dengan tak berharga, bukan?

Aku masih bingung, harus bagaimana mengasuh anak-anak Rindu ini. Mereka ribut dan terus berkecamuk. Bertengkar dan merengek. Benar-benar anak kecil yang sedang minta sesuatu. Padahal kita, sebagai orang dewasa tahu, apa yang mereka rengekkan itu tak berharga. Nggak penting...!!!

Tapi apakah dunia ini benar-benar sebuah mega pasar yang besar? Segala ada harus dibandrol? Termasuk kebaikan, kecantikan, kejujuran, cinta, kasih, sayang, keindahan, kehormatan, kedudukan dan sebagainya?

Juga memang manusia susah hidup tanpa harga. Semua ingin dihargai. Setidaknya dianggap ada. Karena bila tidak, masa hanya sendiri yang tahu keberadaan diri?

Sudahlah. Anak-anak Rindu ini memang susah diatur. Susah pula dituliskan. Ajari aku bagaimana mengasuh Rindu. Tapi kalau memang sudah tak kuasa lagi mengontrolnya, biar kukembalikan pada bundanya.

---------

Pukul 07.30 waktu instalasi, anak-anak Rindu membentuk shaf. Mereka shalat dhuha bareng. Berdoa untukku agar dilimpahi rejeki yang berkah. Aku tersenyum. Padahal setengah jam lalu, mereka ku bentak-bentak. Ku marahi. Hingga mukanya melas. Mau nangis. Aku tak peduli. Mereka benar-benar rewel.

Mereka hanya diam. Meratapi kelahirannya. Yang ku anggap tak berharga. Karena aku membentak-bentaknya. Tadi. Sebenarnya kasihan. Rasa bersalah mereka membuatku ingin menangis. Tapi aku tahan. Aku tak mau tampak lemah. Apa jadinya kalau mereka melaporkan pada kedua orang tua mereka? Malulah aku.

Anak-anak Rindu itu berjajar rapih. Mulai dari yang paling tua hingga yang muda. Sambil menunggu kedatangan adik-adiknya yang masih juga dilahirkan oleh Rindu di balai-balai pikiranku.

Makin banyak saja anak Rindu. Tak terhitung. Lama-lama penuh balai-balai pikiranku ini. Sementara ayahnya, yakni Kesendirian, masih di luar. Menunggu proses berjalan lancar. Padanya aku bilang, “Anak-anakmu terus merengek. Apakah jika kuturuti maunya, mereka akan diam?”

Kesendirian tetaplah sendiri. Walau menikahi Rindu hingga beranak-pinak ia tetap sepi. Ia bicara. Namun satu katanya berjuta makna. Tak sanggup ku wadahi. Membuatku tuli.

“Hey..!!! Kau, Kesendirian!!! Kenapa diam? Benarkah anak-anak yang dilahirkan Rindu itu buah perkawinan denganmu?! Kenapa sebegitu banyaknya?? Jangan-jangan kau berkomplot dengan Sepi, Sunyi, Resah, Galau, Penat, Bingung, Merdeka, Merana, Bebas, Lepas dan banyak lagi, ramai-ramai memerkosa Rindu?? Ayo jawab..!!! Jawab....!!!

“Tapi sudahlah. Biar kucoba asuh dan membesarkan anak-anak Rindu. Biar kubawa dalam tidur dan bangun. Kupanggul hingga leher kiriku nyeri. Tapi ingat, jangan salahkan aku jika mereka kelak akan melawanmu. Menghajarmu habis-habisan. Hingga kau susah bernapas. Harus ke laut lepas, atau ke kotak gunung. Dan, dimanapun kau berada, mereka akan mengintai, memata-mataimu. Meminta tanda tangan sebagai pernyataan bahwa kau adalah ayah mereka. Camkan itu...!!!

Rabu, 17 Agustus 2011

R

bahkan jika kau dengar

tubuhku dirambat dingin yang bergetar

kehausan di tepi lain menyegarkan

kerongkongan pun digelontor berteguk-teguk

harapan

yang sebenarnya cadar

sangkar keputusasaan

yang sayapnya terus menggelepar

Kamar Instalasi, Le Goso 17 Agustus 2011

Modernis

Orang modern merasa mempunyai harga diri yang tinggi. Ia begitu kuasa dan sombong. Bahkan ia merasa telah membunuh Tuhan dan menggantikan tempat-Nya. Tapi pada saat yang sama, mengapa ia merasa begitu tidak mampu sampai ia membenci dirinya?

Otonomi dan harga diri membawa janji, orang akan makin luhur dan memiliki martabat diri. Tapi janji itu ternyata palsu. Sebaliknya yang terjadi, orang makin kehilangan harga diri, tersudut dan terasing, sepi sendiri.

Persoalan akan menjadi ringan, jika tiap orang bisa merasa bahwa orang lain juga mengalami kepahitan yang sama. Dia tidak sendiri, semua orang sebenarnya bernasib seperti dia. Tapi justru hal itulah yang tidak dimungkinkan oleh hasrat segitiga. Hasrat segitiga menghadapkan orang pada kenyataan: Ini hanya nasibku, bukan nasib orang-orang lain. Kata tokoh dari Note From the Underground (karya Dostovjesky): “Aku tidak percaya, hal yang sama juga menimpa orang lain, dan sepanjang hidup aku menyembunyikan pengalamanku ini sebagai rahasia.”

… pada bayangannya orang lain begitu luhur, begitu mulai, begitu bahagia. Sehingga harus dibenci atau ditiru. Namun tak mungkin dikalahkan atau disamai.

Masih dari Note From The Underground, dosa asal manusia serta akibatnya hanya mengenai dirinya bukan orang lain. “I am alone, and they are together”.

*Dikutip dari Kambing Hitam, Shindunata, Gramedia Pustaka Utama, 2007, hal 48-49

Selasa, 09 Agustus 2011

Gusti

Bismillah
dengan nama Tuhan...

Kini mulai terbuka semua kepicikan yang berkedok idealisme. Kemalasan yang berjubah keagungan. Kesenangan sementara. Menerima masa lalu dan masa kini tanpa bersandar ke masa depan.
Tak ada kebiaran dalam limbo hitam ini. Satu persatu celah kutemui menyela celah. Kembali ke permukaan. Bersamamu.