Home

Senin, 20 Februari 2017

Kresek

Kresek. Aku disebut seperti itu. Aku tidak punya kuping untuk mendengarnya. Tapi sebagai buatan manusia yang punya rasa, aku mewarisi perasaan. Mungkin karena itu aku memiliki alat pencerna segala hal, baik yang berasal dari pendengaran, yang terlihat, yang teraba, yang terkecap dan tersentuh, melalui rasa yang diwariskan dari tangan-tangan buruh di perusahaan pembuatan kantong plastik. Termasuk mendengar manusia memanggilkan kresek.
Aku makhluk yang hina dina. Sehabis pakai buang. Di samping itu aku juga kerap dimusuhi karena dianggap sebagai biang perusak alam.
Tubuhku amat kuat tak lekang ruang dan waktu. Aku bisa bertahan ratusan tahun di dalam tumpukan sampah atau di antara sempit himpitan bumi. Para serangga dan semua binatang penghancur tak mampu melukaiku.
Sampai sekarang aku juga tak tahu mengapa manusia menciptakanku, memanfaatkanku, kemudian memusuhiku. Mereka menghujatku tapi tetap saja memproduksi makhluk sepertiku sambil terus menerus mengalamatkan kutukan.
Aku tahu, manusia berusaha menciptakan alat pembawa barang jenis lain yang mudah hancur dalam tanah. Mungkin manusia menyesal atas keberadaanku yang mereka butuhkan tapi juga mereka benci. Aku tak masalah. Toh bagiku, aku tak ada di dunia ini juga bukan soal.
Aku ada karena manusia. Seandainya manusia tidak ada aku juga tidak mungkin tercipta. Tuhan telah mendakdirkan manusia hidup bersamaku. Melalui manusia, Tuhan menciptakanku.

Bisa jadi, kalaupun alam harus hancur karena keberadaanku, itu pasti takdir Tuhan. 

Kamis, 16 Februari 2017

1000 Kebaikan Tidak Berarti, 1 Kejahatan Melekat di Hati

Ketika kau melakukan kebaikan, jangan bangga, masih banyak orang lain yang bisa melakukan kebaikan lebih darimu yang membuat kebaikanmu tak lagi berarti.
Tapi ketika kau melakukan kesalahan/kejahatan, kau adalah satu2nya. Tak ada lagi sosok lebih jahat darimu di matanya.

Read : Jahat Mengikat, Baik Terlupa 

Jahat Mengikat, Baik Terlupa

Jangan mengungkapkan kesedihan dengan kemarahan. Kesedihan terlalu indah untuk harus mengenakan baju jaket kemarahan. Ia seperti bayi yang manis dan lucu. Kesedihan tidak bersalah.
Posisi yang tepat untuk kesedihan bukanlah penyerang. Ia penjaga gawang. Karena itu kesedihan harus dijaga baik-baik oleh sepuluh pemain dalam posisi lainnya.
Biarkan kesedihan berperan sebagai kesedihan. Jangan diambil alih oleh kemarahan atau kesenangan pelampiasan. Biarkan. Biarkan. Biarkan kesedihan meneteskan air mata, yang genanganannya luber mengaliri celah-celah rongga materi. Menelusup pori-pori tanah, terserap akar-akar, dan naik menuju batang pohon. Kemudian ia, biarkanlah, menguap melalui serat-serat hijau daun atau gugur bersama putik bunga, kering dan jatuh menyatu tanah kembali.
Jangan pula menempeli kesedihan dengan label pengorbanan. Bahwa kebaikan sesungguhnya bukan milik manusia. Tak perlu merasa paling berjasa dan paling baik.

Ingat saat melakukan suatu kebaikan, masih ada orang lain yang dapat mengungguli kebaikan yang kita lakukan. Tapi kejahatan itu satu-satunya. Jika kau jahat pada seseorang, tak ada pihak lain yang mengungguli kejahatanmu. Kamu menjadi satu-satunya manusia jahat dalam hidup orang yang kau jahati. Karena itu kau diingat, diikat, tak akan dilepas, ditakuti sekaligus dicintai. Bukankah ketakutan dan rasa sakit tak pernah gagal? Tapi kebaikan mudah terlupakan.