Home

Selasa, 21 April 2009

Terapi Bete Ala Super Postmodern

Oleh MS Wibowo
Seri UIN Jakarta Seabad Mendatang

Tahun 2149 diperingati sebagai tahun BT (Boring Time) sedunia. Di tahun ini, sebagaimana dibayangkan kebanyakan orang 100 tahun lalu, kehidupan di dunia sudah super duper canggih. Serba mudah dan ultra mewah. Teknologi membantu manusia keluar dari segala masalah yang ada, serta selalu mampu mewujudkan impian dan keinginan.
Surga misalnya, yang pada tahun 2009 silam dikatakan ada setelah mati, ternyata bisa diciptakan di dunia dengan teknologi yang telah memadai. Tahun 2149 ini, semua gambaran tentang surga, bisa dibuat dan diadakan di dunia dengan sangat mirip sekali.
Bayangkan saja, siapapun orangnya yang menginginkan sesuatu pasti terkabul. Ingin punya mobil, tinggal pesan. Harga mobil seperti harga sebatang rokok tahun 1998 silam. Mau makan ini, itu, ada robot gratis dari pemerintah yang dibagikan ke semua warga negara. Robot ini bisa menyediakan ratusan ribu menu masakan dunia, bahkan resep masakan yang terbersit dibenak kita yang belum ditemukan oleh koki manapun.
Bidadari di surga, bisa diciptakan. Karena dengan bantuan teknologi, istri kita bisa berubah menjadi seribu macam wanita cantik. Begitu juga dengan gambaran Kitab Suci tentang surga yang di bawahnya mengalir sungai (Jannatin tajri min tahtihal anharu), bisa dibuat pula oleh manusia. Teknologi ini memanfaatkan tragedi bencana global warming yang melanda dunia pada tahun 2022. Ketika itu, hampir seluruh pulau di Indonesia terendam air laut. Namun karena canggihnya teknologi, manusia Indonesia bisa hidup di atas air, laksana istana nabi Sualaiman AS, saat menyambut kedatangan Ratu Bilqis.
Di tahun 2149 ini, nyaris tak ada keinginan manusia yang tak bisa dituruti, keculai untuk tidak mati. Tapi lama-kelamaan, setelah mencapai puncak kemauan yang tak pernah habis, manusia merasa kangen dengan rasa BT (Boring Time).
Adalah Ciputat (sebuah kecamatan/distrik yang terletak di pinggir selatan kota Jakarta) yang mendobrak semua kebahagiaan itu. Sebuah kelompok bernama Komunitas BT Abis, membuat terapi BT Super Postmodern atau Terapi BT Super Postmo. Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah, agar manusia bisa menikmati, rasa BT, Pusing, Bingung dengan segala masalah yang ada seperti seratus tahun lalu.
Memanfaatkan bantuan teknologi pula, manusia yang ingin memakai fasilitas BT Super Postmo dihadapkan dengan berbagai persoalan dan keadaan sehingga ia akan merasa BT, Pusing, Bingung dan sebagainya. Tiap orang bebas memilih BT macam apa. Ada BT karena diputusin pacar, pacar selingkuh, nggak ada kegiatan, dihadapkan dengan berbagai pikiran, disuruh ngerjain banyak tugas oleh dosen, guru, bos dan sebagainya.
Dalam menikmati paket-paket BT ini, para BTer (sebutan buat orang yang ingin BT) tidak diperkenankan menggunakan teknologi macam apapun, supaya bisa benar-benar bingung dan tak tau harus ngapa dan gimana.
Hari berganti, kian lama komunitas ini makin banyak peminatnya. Banyak orang ketagihan dengan bermacam paket BT. Apalagi registrasinya cuma Rp.10.000 sekali BT. Namun karena keseringan memakai fasilitas BT Super Postmo ini, timbul efek negatif yang diderita para pelanggan, yaitu banyak yang kebablasan pusing terus jadi gila. Bahkan telah memakan korban jiwa bunuh diri karena tak kuat menahan rasa BT. Namun anehnya, orang-orang tak merasa ngeri tapi malah tertantang. Walhasil kisruhlah Indonesia disesaki orang-orang BT.
Pemerintah RI berusaha menenangkan kondisi ini. Tapi selama dua tahun tak mampu menemukan siapa penggagas awal ide gila itu. Akhirnya, pihak birokrasi Universitas Negeri Ciputat (dulu UIN Jakarta) tampil sebagai pahlawan. Ternyata otak sang empunya ide pertama itu adalah mahasiswa FISIP semester VII bernama Sumanso. Ditangkaplah dia. Setelah dibawa ke pos Satpam, ia dilarikan ke Polsek Ciputat untuk diintrograsi lebih lanjut. Saat ditanya, kenapa dia menciptakan ide gila itu sehingga banyak menelan korban gila? Sumanso menjawab, Biasa aja kaleeeee.

**Tulisan ini terinspirasi dari buku Blakc Interview, karya Andrea Syahreza

Jumat, 17 April 2009

Tuhan, kenapa Engkau Minta Tumbal

MS WIBOWO-Tuhan, Oh Tuhan. Engkau adalah tempat berteduh dari kegersangan dan keabsurdan hidup. Kau selalu jadi tempat meminta. Engkau tempat curhat di tiap malam sunyi. Kau selalu diharapkan memberi ketenangan dan menerangi hati hambamu.
Tapi mengapa, manusia tega menghalalkan darah manusia lainnya atas nama-Mu? Perang yang hingga kini berkobar juga atas tajuk membela-Mu. Bahkan kawan-kawan ormas Islam, yang menamakan Pembela agamamu, dengan tanpa rasa bersalah merusak rumah ibadah dan memukuli serta menghalalkan darah manusia lainnya. itu semua atas dasar mengagungkan nama-Mu ya Tuhan.
Apakah itu semua merupakan tumbal yang harus kami serahkan kepadamu demi mendapat ketentraman jiwa. Demi menghilangkan dahaga rohani, apakah kawan-kawan kami sesama manusia yang beda agama harus kami halalkan darahnya. Demi Engkau ya Tuhan. Atau kami harus menghancurkan badan ini, yang berakibat menghancurkan sekitar kami seperti Imam Samudera dan kawan-kawan? Hanya demi Engkau ya Tuhan?
Perang Palestina-Israel berkobar juga atas nama-Mu ya Robbi. Pasti Engkau tak akan mau disebut biang kekacauan dunia kan? Begitu pula hamba-hambamu. Aku yakin, Engkau ada di dalam hati setiap orang. Tak peduli agamanya. Karena agama dalam sejarahnya selalu menjadi alat politik untuk menggerakkan manusia agar saling bunuh. Dengan pedang mereka, dengan bom mereka, dengan senapan mereka dan dengan tank-tank baja.

Caleg Stress Karena Tak Kenal Tuhan

MS Wibowo-Uuuuooghhh, aku buka Facebook, ternyata banyak kawan-kawan yang sibuk ngobrolin caleg stres. Baik stres karena menang atau yang shock karena kalah.
Tapi ya sudahlah, itu tandanya calon-calon wakil rakyat kita memang tak siap menghadapi kenyataan hidup. Apalagi kenyataan bangsa yang semrawut ini. Bbeeerhhh, pasti tambah mumet.
Mereka mungkin kurang mengerti makna hidup. Bisa jadi juga karena mereka tak punya orientasi hidup yang jelas. Padahal rata-rata caleg itu orang beragama. Tapi, agama yang kerap menjadi dasar setiap individu dalam menjalani hidup, tak mampu menentramkan jiwa mereka. Sehingga sampai ada diantara mereka yang gila bahkan sampai mati.
Daripada ikutan stress membincang mereka, lebih baik kita membincang tuhan. Rabu (15/4/09) kemarin, aku mendapat jatah presentasi makalah di kelas pada matakuliah Filsafat Agama. Kami membahas tema “Aliran-Aliran Dalam Ketuhanan”. Aku menyuguhkan makalah yang isinya membahas beberapa isme ketuhanan yang ada dalam sejarah manusia. Antaralain Theisme, Deisme, Pantheisme, Panantheiseme.
Selesai melakukan presentasi, diskusi terbuka pun digelar. Tibalah kita pada pembahasan tentang bagaimana manusia mengenal atau berkenalan dengan Tuhan. Padahal Tuhan itu sendiri tak pernah memerkenalkan diri pada manusia.
Sejak lahir, manusia hanya mengenal Tuhan lewat tradisi dan doktrin-doktrin yang terpaksa harus dipercayai. Tapi dengan cara itu, benarkah manusia benar-benar mengenal Tuhan. Jika agama dijadikan pembenaran akan adanya Tuhan, tiap-tiap agama memunyai konsep ketuhanan yang berbeda. Oleh sebab itu, menurut Karen Amstrong, jika kita harus percaya bahwa Tuhan itu satu, maka konsep tentang Tuhan-lah yang tidak satu.
Para teolog yang coba memerkenalkan Tuhan lewat argumen-argumennya, tak lebih hanya berupa kecakapan berbahasa (hanya problematika bahasa). Nyatanya mereka malah terjebak dalam definisi. Dan jelas, para teolog dari masing-masing agama, berusaha sekuat argumennya untuk membenarkan agama dan tuhannya masing-masing.
Kadang mereka mengatakan bahwa manusia takkan sanggup untuk mengetahui Tuhan. Karena dzatnya sangat agung, maha besar dan sebagainya. Tuhan tidaklah seperti apapun yang kita bayangkan. Pernyataan seperti demikian secara tak langsung telah membatasi Tuhan itu sendiri. Yang juga berarti sotoy tentang Tuhan.
Untuk memecahkan masalah ini, ada tawaran yang berasal dari para kaum sufi. Umumnya mereka tak memunyai konsep tentang cara peribadatan dan ketuhanan. Namun mereka mengenal Tuhannya dengan cara mereka sendiri-sendiri (individu). Bahkan tak jarang, antara sufi satu dengan lainnya memunyai cara berbeda dalam menyatu, mendekat, mengenal dan berhunungan dengan Tuhan.
Perbedaan tersebut tak jarang terjadi dalam satu sekte atau kelompok tasawuf itu sendiri. Para filsuf muslim mengategorikan cara untuk menemukan kebenaran dengan jalan ini sebagai metode intuisi. Metode ini tak bisa didefinisikan dengan pasti. Apalagi dijabarkan cara atau langkahnya. Sebab intuisi sangat bersifat indifidualistik. Tak bisa dimengerti, diketahui atau dirasakan, kecuali oleh seorang yang menjalani itu sendiri. Ya, intuisi adalah metode huduri, yakni menghadirkan Tuhan dalam diri.
Namun apakah pencapaian para sufi itu bisa dipertanggungjawabkan? Apa jaminannya? Siapakah yang akan menjamin mereka tidak berbohong? Atau dalam arti bahwa mereka tidak akan salah?
Mungkinkah tuhan itu ada, atau tak ada? Bagaimana cara mengenalinya? Benarkah alam semesta ini bukti adanya Tuhan? Bagaimana kita bisa percaya adanya Tuhan kalau kita tak pernah kenal dengannya?
Manusia selalu ingin mewujud apa yang ia pikirkan. Contohnya, hingga sekarang banyak hal yang dulu seolah tak mungkin menjadi mungkin. Misalnya manusia ingin terbang, sekarang bisa terlaksana dengan pesawat terbang. Bisa jadi, manusia purba zaman dulu, yang merasa sebagai mahluk lemah kemudian memikirkan sesuatu dzat yang maha kuat dan menjadi penolong dari kesulitan-kesulitannya. Dan dzat itu adalah yang disebut dengan istilah Tuhan.
Karena itu, spiritualitas itu bersifat individual/personal. Tak bisa diajarkan, tak bisa disebarkan, dan tak boleh merasa paling benar atau merasa paling diridhoi Tuhan.[]

Minggu, 12 April 2009

Misteri Double Angka 22:22, 23:23, 01:01


MS Wibowo - Percaya atau tidak, hal inilah yang aku alami dalam hidupku akhir-akhir ini. Sejak dua tahun lalu, aku secara kebetuan sering melihat angka double antara jam dan menit di HP-ku, manakala aku merogohnya dari kantong.
Awalnya, aku merasa ini hanya kebetulan saja. Namun dalam sehari aku menjumpai angka tersebut sebanyak lima hingga sepuluh kali. Sehingga aku merasa aneh sendiri. Angka yang aku maksud misalnya, pas ketika aku memungut HP-ku dari kantong, entah karena ada sms, melihat jam atau cuma iseng, kebetulan pula angka menunjukan angka double. Seperti 22:22, 23:23, 01:01 dan seterusnya.
Setahun lalu, aku iseng dengan perasaan aneh menanyakan hal ini kepada seorang seniorku di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut. Aku menduga ia akan menjawab, ‘ah itu hanya perasaan kamu saja yang terlalu mendramatisir’. Tapi tidak. Ia justru menjawab, ‘sama aku juga sering mengalami seperti itu’. Ia juga menambahkan, berdasarkan pengalamanku, kamu akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit dan mengharuskan kamu untuk memilih. Pilihan itu akan membawamu pada perubahan yang ekstrim dalam hidupmu. Dan tentu berpengaruh dalam kehidupan yang kamu jalani. Yakin sajalah pada kemampuanmu. Begitulah jawaban pertanyaan yang aku lontarkan melalui layanan short mesege service (sms).
Apa yang aku alami itu, tak terjadi terus menerus selama dua tahun terahir ini. Ada kalanya hari-hari dan minggu-mingguku dihantui oleh jam double angka itu. Dan adakalanya aku terbebas dari perasaan aneh, risau campur galau, karena angka yang demikian jarang aku jumpai lagi. Tapi beberapa bulan lagi, angka-angka itu muncul dan kembali menerorku.
Aku tak tahu apakah ini benar atau salah. Tapi pada seringnya, ketika hari-hariku ditandangi angka-angka double itu, segera atau lambat aku akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit tentang dua hal. Keduanya sangat susah aku ketahui mana yang baik dan buruk. Membawa penyesalan atau sebaliknya, aku jarang bahkan belum pernah tahu.
Walau kondisi tersebut telah sering aku alami dan terpaksa harus aku jalani, tapi rasa aneh, khawatir, takut dan sebagainya selalu mengerubungi hati saat kujumpainya di HP-ku. Aku takut pilihanku salah atau bodoh, yang akan mengujung pada penyesalan dan keburukan. Telah kucoba pasrah, tapi senjata ini kupikir kurang ampuh.
Baru-baru ini, terhitung kira-kira sejak tiga hari yang lalu sampai sekarang, angka-angka itu datang lagi padaku. Aku takut. Aku telah merasa pilihan-pilihan sulit telah mengetuk pintu. Aku bingung, mana yang sebenarnya terbaik. Tolong, beri aku solusi… Disamping istikharoh, apa lagi?

Nyataku



Oleh MS Wibowo
Keteguhan ketudahnmu
Menyamankan diri dikala luka
Menyibak sedih
Menghalau duka
Menanamkan benih semangat hidup

Sejuk bagai air kehidupan
Engkaulah harapan
Memberiku asa pengobar gembira

Hanya dirimu yang bisa
Hanya dirimu yang nyata
Pernah ku menyakitimu
Pernah ku salah padamu
Tapi kau setia
Tetap setia padaku
Dengan ketulusanmu

Sejuk bagai air kehidupan
Engkaulah harapan
Memberiku asa pengobar gembira

Semua kosong terisi
Semua hampa terceraikan dari jiwa
Tetaplah bersamaku juwitaku

Abab



Oleh MS Wibowo

Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Sesekali matamu pasrah terobek pandanganku
Tingkahmu beberapa kali serba salah
Entah ada persaaan yang aku tak tahu itu apa
Jantungmu berdetak dibenakku

Sama

Dialog masih berlanjut
Kedalam yang harusnya diam
Menurutmu semua orang memerhatikan kita
Bagiku berdua
Tapi aku kalah dengan udara
Tersengat kenyamanan bila kulit ini sedikit menyentuh
Butur-butir magnet membara
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Tapi ini udara berkuasa,
Aku tak punya arti jika
Tak boleh menentukan
Harus bersembunyi
Harus di tempat sunyi
Jika
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga
Kau bukan untukku
Di sini
Dengus napas dari mulutmu membuat ingin menciumu sekarang juga

Pendekatan disingkat PDKT


MS Wibowo-Pendekatan disingkat PDKT, adalah sebuah tahapan awal yang lumrah dijalani seseorang sebelum mengungkapkan cinta pada pujaan hatinya. Berbagai macam cara bahkan teori PDKT banyak berkeliaran. Umumnya hal ini dilakukan oleh seorang pria terhadap wanita.
Hal ini dilakukan pula oleh Supriadi atau akrab disapa Dodoy. Ia tengah kasmaran dengan seorang wanita yang ia ketahui nama dan suaranya melalui temanya, Wildan. Wanita inceran Dodoy ini adalah seorang qori’ah atau wanita yang mahir mengumandangkan ayat-ayat Qur’an dengan nada-nada indah. Ia telah meraih segudang prestasi dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) baik tingkat daerah maupun nasional.
Suatu hari, di kampung Wildan ada sebuah hajatan besar. Wildan terhitung sebagai salah-seorang panitia. Karena Wildan dan Qoriah tadi adalah mahasiswa di satu kampus, yakni UIN Jakarta, maka ia ditugaskan untuk menjemput Qoriah tersebut dari Ciputat ke kampungnya.
Sampai di Ciputat, Wildan masih punya waktu luang. Ia pun menyempatkan diri mampir di kamar kost Dodoy. Dodoy pun menanyakan perihal kedatangan Wildan di Ciputat. Pasalnya, itu adalah hari minggu. Tak mungkin ia ada kuliah di hari libur.
Terungkaplah bahwa Wildan hendak menjemput seorang Qoriah itu. Dodoy pun memaksa meminta nomor mahasiswi pelantun kalam ilahi itu. Tapi Wildan tak mengizinkannya. Dodoy pantang menyerah. Ia ajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai keberatan Wildan memberitahu nomor wanita itu.
“Ayolah Dan, lagian nggak mungkin gue macem-macem ma dia. Lo tahu gue kan,” harap Dodoy.
Dengan sedikit terpaksa Wildan memberikan nomor tersebut. Tentu dengan syarat agar Dodoy tak menyalahgunakannya. Selain itu, kedekatannya dengan Dodoy karena satu alumni di salah-satu Pondok Modern terbesar di Indonesia, membuat Wildan yaqin bahwa temannya tak akan menyalahgunakan nomor tersebut.
PDKT pun berlanjut. Tak disangka ternyata sang qori’ah enak juga diajak ngobrol lewat telepon. Beberapakali Dodoy rela merogoh kocek untuk membeli pulsa demi wanita dambaannya itu.
Diantara percakapan yang sempat terekam oleh memory kawan-kawannya di kamar kost, ialah saat mereka berdua bertelepon ria membincang masalah qira’at. Meski hanya terdengar suara dan kata-kata Dodoy, tapi dua kawan yang kebetulan lewat di samping Dodoy terpingkal-pingkal mendengarkannya. Berikut potongan percakapan mereka:

Qori’ah (menurut perkiraan) : Kak Dodoy bisa Qiraat juga nggak?”
Dodoy : Nggak.
Qori’ah (menurut perkiraan) : Lho, katanya alumni pesantren, kok nggak bisa Qira’at? Memang nggak ada pengajaran Qira’at di pesantren kakak?
Dodoy : Ada sih. Tapi di sana tuh, pengajaran qira’at itu, waktunya sehabis shalat magrib.
Qori’ah (menurut perkiraan) : Lah memang kenapa kalau ba’da magrib?
Dodoy : Begini, di pondokku habis magrib itu jadwalnya makan malam, jadi kakak nggak konsentrasi belajar qira’at. Makanya sampai sekarang nggak bisa.

Kamis, 09 April 2009

Shalat Sendiri Lebih Utama



Beberapa hari lalu, ketika menginap di Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Aspirasi UPN Veteran Jakarta, seorang teman dari LPM Didaktika UNJ mengajak diskusi mengenai shalat berjamaah.
Ia menanyakan, apa sih sebenarnya inti dari shalat itu? Bukankah itu merupakan saat-saat kita berhubungan dengan Tuhan. Antara mahluk dan Tuhannya?
Pertanyaan itu kemudian menjalar ke masalah shalat berjamaah. Kenapa shalat berjamaah itu lebih diutamakan. Bahkan dengan iming-iming pahala 27 kali lipat dari shalat biasa.
Padahal kalau disadari, shalat berjamaah justru mengurangi kekhusuan dan keintiman hubungan antara mahluk dan Tuhannya. Konsentrasi yang harusnya terjadi menjadi sedikit tercemari.
Karena pertama, Dalam Shalat berjamaah seorang ma'mum, selain berkonsentrasi dan memantapkan hati serta pikiran menghadap Tuhan, ia juga harus berkonsentrasi mengikuti imam. Makmum dilarang khusu' sekhusu'-khusu'nya, sampai tak menghiraukan imam.
Kedua, pakaian-pakaian yang beraneka-ragam dari setiap makmum, apalagi terdapat tulisan macam-macam dipunggung, akan memecah konsentrasi dan melayangkan pikiran untuk membaca. Terlebih jika pemakai kaos semacam itu, berada dalam shof tepat di depan kita.
Ketiga, kadang terbersit perasaan lebih baik dari orang lain, yang itu artinya kita tidak ikhlas dalam beribadah.
Keempat, yang paling parah adalah, ketika usai shalat jamaah, tak jarang ada beberapa oknum yang memanfaatkan hal ini menjadikan ajang kampanye, baik lewat tausiyah atau selebaran dan sebagainya.
Pada zaman Nabi SAW, shalat berjamaah memang sangat dianjurkan. Banyak terdapat sabda-sabda Nabi SAW tentang keutamaan tersebut. Tapi lain dulu dan sekarang. Masa Nabi dulu, adalah masa awal-awal Islam lahir. Pasti banyak sekali goncangan dari sana-sini untuk menghambat dakwah Nabi SAW. Selain itu, karena Islam masih baru, masyarakat Arab tempo itu pasti masih banyak yang kurang paham dengan ajaran Islam.
Demi memermudah dakwah dan sosialisasi ajaran Allah SWT, maka sangat efektif Nabi menggunakan doktrin dan iming-iming pahala lebih bagi orang yang mau berjamaah. Tentu saja, hal ini agak mengesampingkan nilai ikhsan dari shalat itu sendiri.
Di sisi lain, beberapa dari ulama sufi mengatakan bahwa shalat sendiri justru lebih baik. Karena dengan itu, itu bisa lebih dekat dan khusu' menghadap kepada Tuhan.
Namun tak ada salahnya dan tak ada buruknya shalat berjamaah. Dan pasti itu bernilai positif bersyarat. Kenapa bersyarat?
Karena, umat Islam saat ini banyak yang tak mendapatkan esensi dari beragama itu sendiri. Agama justru sering menjadi alat politik. Menjadikan manusia dengan buas menghalalkan darah manusia lain yang berbeda agama. Dan Hingga kini, perang yang masih menyala adalah perang yang mengatasnamakan agama. Kenapa agama malah jadi pembuat kacau? Katanya agama itu turun dari Tuhan. Tapi kenapa menjadi sumber kekacauan dunia?
Pasti jawabannya, ya itu bukan salah agamanya, tapi salah orangnya. Lah, nyatanya para pejuang-pejuang agama itu selalu mendasarkan tindakannya atas doktrin-doktrin agama. Kenapa agama membiarkan demikian?
Agama yang terlembaga memang sangat mudah dijadikan mainan oleh politik segelintir orang. Makanya, beragama, bertuhan, itu cukuplah hubungan individu dengan Tuhannya. wallahu a'lam bishshawab.

Sabtu, 04 April 2009

Toto AR; kesetiaan Pada Seni Memertemukannya Dengan Nike Ardila



By MS Wibowo
Baginya, seni bukan hanya nafas, melainkan nyawa atau ruh dalam hayat. Ia telah mengabdikan hidupnya pada seni. Gitar, merupakan salah-satu sahabat paling setia dikala suka dan duka. Hingga kini, tak seharipun cemarinya terlewati tanpa belaian senar. Dari sentuhan mesranya, mengalun irama syahdu yang mampu meluluh-lantahkan gugusan hati manusia. “Seni itu suci, jangan menodainya dengan perbuatan dan prilaku kotor”, itulah pesan yang senantiasa ia sampaikan kepada murid-muridnya di setiap kesempatan.

Toto Budiono atau oleh para seniman sebayanya akrab dengan sebutan Toto AR. Lelaki supel dan luwes ini telah bergeleut dengan dunia seni sejak SD. Waktu itu, keterlibatannya pada sebuah acara tarik suara, membawanya lebih dalam ke ranah kedamaian dan keindahan ini. Adalah seorang guru seni SD-nya yang menyarankan Om Toto (begitu biasa ia dipanggil oleh para muridnya sekarang), agar memelajari alat musik, di samping vocal.

Bermodal gitar butut, diam-diam ia belajar gitar pada guru seninya tadi. Tiap pertemuan non formal itu,,Om Toto membawakan sebungkus rokok kretek kesukaan gurunya. Hasilnya sang guru mengajarkan tiga kord kunci, yakni A, G dan D. Tiga kunci gitar itu membawa Om Toto berani menyanyikan musik-musik dangdut yang lagi ngetrend saat itu, dalam tongkrongan anak-anak muda di kampungnya.

Perjuangan memang tak mudah. Ketika beranjak SMP, jejak awal romantisme Om Toto dengan gitar terganggu. Pasalnya, saat percumbuan dengan kekasih barunya itu berlangsung, senior-senior di kampung suka mengganggu dan menghardiknya. Jika sudah demikian, rumpun bambu belakang rumah adalah persembunyian aman untuk mengekspresikan diri dengan harmoni nada-nada.

Ketekunan dan kesetiannya pada gitar berbuah manis. Suatu ketika, manajemen (Alm) Nike Ardila mengadakan audisi gitaris pengiring tour Nike Ardila se-Indonesia. Dan kereta api jurusan Surabaya-Bandung-lah yang menjadi saksi bisu ketulusan cinta Om Toto pada seni musik.
Tiba di Bandung, ia harus mengahadapi pesaing / gitaris-gitaris handal dari segala penjuru tanah air. Usai audisi, ia pun segera angkat koper tanpa menunggu pengumuman terpilih. Dengan lepas, perasaan dan benaknya tak berharap muluk. Ia jadikan moment ini sebagai pengalaman dan kenangan yang akan hidup selama jantung berdetak.

Namun sebagaimana yang sering ia utarakan kepada sahabat dan murid-muridnya, dunia musik itu kadang bersifat mistis / penuh misteri. Apa yang akan terjadi, belum tentu bisa kita ramalkan. Satu minggu kemudian, rumahnya ditandangi surat dari Bandung. Isinya, ia terpilih sebagai gitaris pengiring Nike Ardila. Seiring itu, karirnya sebagai musisi pun terus menanjak. Dan kini, ia merupakan salah-satu gitaris terhandal di Indonesia. Tak sedikit musisi ternama yang selalu meminta masukan, wejangan dan sebagainya darinya. Walau ia lebih sering memilih kurang show up di media.

Di sisi lain, Om Toto juga aktif menjalin komunikasi dengan para seniman di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Blok-M Jakarta Selatan. Tak ketinggalan ia pun akrab dengan kalangan selebritis dan beberapa produser musik di Ibu Kota.

Sampai saat ini, jalur yang ia tempuh tak berubah, yakni seni musik. Selain mengajar hampir segala jenis alat musik dan olah vokal, baik di sekolah maupun privat untuk musisi-musisi junior dan pemula, tak jarang pula, permintaan less privat yang datang dari musisi yang sedang atau telah naik daun, Diantara muridnya yang kini belajar kepadanya adalah Apoy (Gitaris Wali Band), dan Rhaden (Vokalis @munizi Band).

Padatnya jadwal dan kegiatan itu tak menjadikan Om Toto angkat dagu. Ia tetap hidup bersahaja dan selalu ramah menerima siapa saja. Ia selalu siap menemani dan melakukan sharing pada semua orang. Setiap tamu yang sowan ke rumahnya di daerah Pondok Kranji, selalu ia terima dengan pintu terbuka.

Pengalaman dan ketulusan hati yang mendalam, dapat dirasakan setiap orang yang mendengarkan ucapannya. Di tepi lain, ia juga sosok yang humoris serta memunyai banyak cerita lucu, dari Sabang sampai Merauke yang dikumpulnya dari sahabat-sahabatnya dari berbagai penjuru tanah air pula. Anak-anak dari @munizi Band adalah mereka diantara yang sering melakukan share hingga menjelang subuh. Sepanjang sepi malam itu, cerita, wejangan, diskusi musik mewarnai kebersamaan. Tak jarang, Om Toto menyempatkan waktu bertandang ke kamp @munizi atau melihat anak-anak band itu latihan di studio.

Di usianya menjelang kepala empat, Ia telah dikaruniai dua sosok jagoan. Anak pertamanya tengah belajar di kelas IV SD. Sementara anak keduanya, masih berusia balita. Tapi bulan-bulan ini, Om Toto masih diliputi suasana duka. Karena kurang lebih dua bulan yang lalu, sang istri meninggalkannya di dunia. Istri yang begitu tabah mengarungi kerasnya hidup ini. Bahkan saking merasa kehilangan, Om Toto mengatakan telah kehilangan permata yang sangat berharga. Yang entah mungkin akan ia dapatkan lagi tidak dari perempuan manapun selain almarhumah istrinya. Semoga ia diterima di sisi Allah SWT, dengan sebaik-baik tempat dan diampuni segala dosa dan kesalahannya. Amin.

Suroto Dan Jebolnya Tanggul Situ Gintung

MS WIBOWO-Jebolnya tanggul Situ Gintung, mengingatkanku pada masa kecil dulu. Permah suatu hari, kala aku masih kelas IV SD, saat jam pelajaran menginjak masa injury time, guru kelasku menanyakan pada seluruh murid di kelas, tentang cita-cita kami nanti di masa depan. Rata-rata, semua anak menjawab dengan cita-cita tinggi, muluk, aneh hingga yang abstrak. Mulai dari ingin jadi guru, dokter, astronot, superhero hingga orang yang berguna bagi nusa, bangsa, agama dan keluarga.
Namun ada satu siswa yang jawabannya menyulut gelak tawa seluruh kelas, termasuk aku. Bahkan aku membawanya dalam obrolanku dengan ibuku. Tak hanya aku, mayoritas teman-temanku dulu mengejek cita-cita seorang teman bernama Suroto.
Giliran guruku menunjuknya untuk mengutarakan cita-citanya dengan lugu ia menjawab, “ingin jadi ili-ili (jaga tirta). Sontak seluruh kelas tertawa sembari mengejek cita-cita Soroto yang dianggap tak pantas menjadi sebuah cita-cita. Kondisi itu diperparah dengan omelan guru SD kami, yang menganggap cita-cita Suroto itu terlalu rendah. Suroto, yang bergigi agak tonggos, hanya bisa terdiam seperti kebingungan. Sesekali ia menengok kanan-kiri sambil berusaha mingkem rapat untuk menutupi ketidak-pede-annya.
Sedikit penjelasan, Jaga Tirta atau ili-ili adalah sebuah jabatan petugas irigasi, yang dipilih berdasarkan musyawarah Rukun Warga (RW). Dialah yang akan mengatur pengairan ke sawah-sawah warga. Tujuannya agar air terbagi adil dan merata. Sebab di desa dan kampung yang bermata pencaharian bercocok tanam, masalah pengairan kerap menjadi pemicu cek-cok antar warga.
Meski dipilih dan diangkat oleh masyarakat, pada prakteknya, jaga tirta atau ili-ili masih sering melakukan KKN. Ia bisa disuap atau kadang pilih kasih dalam menjalankan tugasnya. Karenanya banyak pula warga yang tak puas dan merasa terdzalimi. Hal inilah yang dialami keluarga Suroto, sehingga ia bercita-cita menjadi petugas pengairan yang adil.
Dipandang secara sederhana, sesuai dengan konteks mayoritas masyarakat desaku, cita-cita Soroto bisa jadi sebenarnya cukup realistis. Karena, kebanyakan warga desa yang hidupnya bergantung pada sebidang sawah, tak terlalu berharap anaknya akan menjadi ini itu. Mereka selalu mengajari anak-anak mereka agar pandai menggarap sawah. Selain untuk bekal di hari dewasa nanti, ini juga ditujukan untuk menggencet rasa malu kepada warga lain. Sudah umum di sana kala itu, seorang pemuda yang tak bisa bekerja di sawah akan menjadi bahan olok-olokan. Sebaliknya, seorang pemuda yang tekun dan rajin bekerja keras di sawah atau diladang, pasti pujian akan berdatangan dari mana-mana.
“Anak muda tu kaya’ si Anu tu, rajin bekerja, pintar mengerjakan kerjaan di sawah……” begitulah kira-kira pujian untuk anak yang rajin.
Sementara anak yang kurang mahir di sawah, kira-kira akan mendapat ejekan seperti ini, “Ih, si Anu tu, klelar-kleler kerjaannya, suruh kesawah nggak becus, mau jadi apa nanti kalau gede. Apalagi kalau udah nikah, mau dikasih makan apa anak istrinya?”
Dalam situasi dan kondisi masyarakat kala itu di sana, Suroto mungkin mencoba jujur. Karena sebagian besar teman kelas SD-ku saat itu memang dikemudian hari kalau tak punya atau bisa menggarap sawah dikatakan pengangguran. Meski tentu beda dengan konteks sekarang.
Bila menilik lebih lebar, Negara kita memang kurang memerhatikan atau mementingkan masalah pengelolaan air. Negara kita ini, wilayah perairannya lebih luas dari daratannya. Kalau ini dikelola dengan baik, mulai garis pantai, laut sungai dan sebagainya, pasti akan memberikan penghasilan yang luar biasa.
Ironisnya, negeri kita justru sering bermasalah dengan air. Baik pencemaran maupun tidak maksimalnya pengelolaan hingga yang murni bencana. Sebagaimana terahir jebolnya tanggul Situ Gintung yang menelan ratusan korban jiwa dan milyaran materi.
Mungkin Suroto kini telah lupa dengan perisitiwa itu. Ia kini sibuk dibawah terik mentari dan belepotan lumpur sawah. Tapi darinya ada sebuah pelajaran yang patut untuk bangsa Indonesia. Sebuah wejangan yang mengatakan, “wahai bangsa Indonesia, air itu sember kehidupan. Tapi air juga bisa menjadi sumber malapetaka. Sebab tak jarang ditemui dikampung, orang berkelahi hingga bunuh-bunuhan. Indonesia yang diliputi penuh air seharusnya bersyukur karena sember kehidupan berlimpah. Kini, dunia tengah terancam krisis air global. Tapi Indonesia malah kerap menyia-nyiakan sumber hidup ini.”