Home

Sabtu, 20 Desember 2008

Peta Dunia Kemahasiswaan UIN Jakarta

Oleh MS. Wibowo

Selamat datang wahai para pengembara ilmu, di kampus kebudayaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebuah tempat yang telah mengubah status Anda dari siswa menjadi mahasiswa. Status yang meneguhkan Anda sebagai kaum terpelajar, yang mengemban tugas terwujudnya masyarakat madani di Indonesia.

Ungkapan di atas mungkin agak sedikit terlambat kami utarakan. Namun tak ada salahnya kami terbitkan sekarang juga. Sebab saat ini merupakan masa-masa awal jengjang studi mahasiswa baru.

Tulisan ini penting dibaca, khususnya mahasiswa UIN Jakarta. Dan bagi orang di luar UIN Jakarta, tulisan ini bisa menjadi rujukan awal untuk mengetahui kondisi kampus UIN Jakarta, dari sudut pandang kejujuran yang kami rasakan selama menjalani studi di Kampus ini.

Setiap orang akan merasakan keterasingan saat menginjakan kaki di suatu tempat yang belum pernah ia singgahi. Meski kadar dan lama waktu keterasingan itu mungkin berbeda-beda. Sebagai pendatang baru di UIN Jakarta, wajar jika rasa ingin tahu sebagai mahasiswa baru terus terusik untuk menggali informasi mengenai medan yang dihadapi. Ibarat rimba yang lebat nan luas, mahasiswa baru akan dihadang cabang-cabang rute perjalanan sebagai seorang intelektul. Masing-masing rute memiliki alur dan tujuan ahir berbeda. Kebanyakan mahasiswa baru, sedikit mengalami kesulitan menentukan rute mana yang sesuai dengan jiwa dan tujuan yang mereka bawa dari rumah.

Sedikit gambaran, mahasiswa baru telah disuguhi realita kampus yang kental dengan nuansa politis. Sejak masa Propesa, para pejabat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), baik tingkat jurusan hingga universitas, telah berupaya memikat hati mahasiswa baru dengan kegagahannya menduduki kursi pemerintahan mahasiswa.

Sedikit atau banyak, itu akan menambah daftar tujuan para mahasiswa baru, yang tadinya semata-mata menuntut ilmu, bertambah satu item lagi, yakni duduk di kursi jabatan sebagaimana para senior. Maka muncullah pertanyaan dalam hati, bagaimana caranya agar sampai ke singgahsana BEM. Selain itu, konflik-konflik dalam kepanitiaan Propesa, antara panitia fakultas dan jurusan dengan panitia propesa tingkat universitas, akan membuat aroma politis kampus makin menyengat.

Tak lama pasca Propesa, hidangan kedua yang penuh dengan bumbu strategi dan intrik politik segera menyapa. Yakni pagelaran pesta demokrasi mahasiswa UIN Jakarta bernama Pemilu Raya (Pemira) yang belum lama usai. Ribuan slogan, visi, misi dan janji-janji tiap parpol telah membanjiri kampus ini untuk meraih simpati massa selama beberapa minggu lalu.

Selama menjalankan aksi kampanyenya, biasanya para calon presiden (Capres) mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, akan muncul Capres yang berpikir dan bertindak agar pengorbanan mereka bisa kembali setelah memenangi pemilihan.

Tak hanya itu, meja, bangku dan tong sampah ikut merayakannya dalam bentrok yang terjadi. Sampai detik ini, kisruh tersebut belum benar-benar selasai. Walau kita tahu, perhitungan suara telah dirampungkan oleh KPU.

Perlu diketahui, hampir semua parpol kontestan Pemira adalah jelmaan organisasi ekstra kampus seperti IMM, HMI, PMII, KAMMI dan sebagainya. Dari situlah massa ideologis Pemira berasal, disamping massa abu-abu yang biasanya ditaklukkan lewat ikatan emosional personal. Karena itu, selain menjadi unjuk kekuatan massa, kampanye juga membidik simpati mahasiswa baru, supaya bergabung memperkuat pijakan kaki-kaki partai dalam Pemira atau pergulatan politik lainnya di masa mendatang.

Sebelum atau sesudah Pemira berahir, umumnya organisasi, intra maupun ekstra, membuka stand-stand pendaftaran untuk merekrut anggota-anggota baru. Tiap organisasi mempunyai istilah berbeda dalam rekrutmennya. Misalnya di IMM, mereka menamai tahapan ini Masa Ta’aruf Anggota (MASTA). Sementara di HMI ada Latihan Kader (LK) 1, di PMII istilah yang di pakai adalah Masa Penerimaan Anggota (Mapaba), KAMMI memakai nama Dauroh Marhalah.

Hal serupa juga dilakukan oleh organisasi lain, termasuk organisasi yang biasa disebut sebagai organ gerakan. Tentu dengan berbeda teknis dan istilah. Organ-organ ini antara lain, Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI), Forum Kota (Forkot), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Kesatuan Aksi Mahasiswa Jakarta (KAM-JAK), Komite Mahasiswa Anti Kekerasan (Kompak) dan lain-lain.

Dalam pelatihan dan rekrutmen masing-masing organisasi, calon anggota baru akan menerima berbagai penjelasan tentang visi-misi, sejarah, berbagai seluk-beluk organsasi terkait dan lain-lain. Termasuk di dalamnya, akan diterangkan mengenai keunggulan organisasi tersebut dibanding dengan organsasi lainnya. Dan untuk mengambil simpati calon anggota, ada kalanya organisasi membeberkan prestasi dan jasa yang telah disumbangkan untuk negeri tercinta. Tak jarang pula mereka menjual nama-nama alumninya, yang telah sukses melanglang buana di berbagai bidang, layaknya memberi jaminan bahwa anda kelak juga akan sukses seperti para alumni itu.

Sekilas, paparan situasi di atas tak terlalu memunculkan problema. Terlebih bagi mereka yang telah tahu peta mahasiswa di UIN Jakarta. Namun bagi yang masih blank, problem yang mungkin muncul adalah menentukan organisasi mana yang tepat mereka pilih. Untuk itu, mahasiswa baru akan mencari tahu profil masing-masing organisasi. Dan bisa jadi timbul keinginan untuk mengikuti rekrutmen semua organisasi yang mereka kenal, dengan harapan mampu mengetahui lebih dalam dan mempertimbangkan mana yang cocok dengan diri dan jiwanya.

Tapi masalahnya, dalam kultur UIN Jakarta, organisasi ekstra kampus seperti telah menjadi agama atau identitas wajib individu. Seorang mahasiswa yang telah mengikuti rekrutmen di sebuah organisasi ekstra, akan dicap oleh mahasiswa lain, atau bahkan dosen dan para pejabat birokrasi kampus, sebagai orang dari organisasi itu. Cap ini, bisa selamanya tertempel pada diri mahasiswa hingga ia menapaki karir di masa depan. Misalnya Anda bernama Budi, tidak dilihat sebagai manusia bernama Budi, tapi akan dilihat dari organisasi ekstra mana Anda berasal.

Rata-rata, mahasiswa yang berpikir demikian, adalah mereka yang mengabdikan diri pada ranah politik. Selain di organisasi ekstra, BEM dan Parpol kampus merupakan lahan ekpresi mereka. Karenanya, seorang mahasiswa yang akan memilih dunia ini, harus benar-beanar berpikir matang. Serta harus tahu ke mana ia akan berjalan bersama organisasi pilihan nuraninya.

Hal lain yang menyebabkan masing-masing organ ekstra tersekat antara satu dan lainnya, terdapat maqom-maqom pelatihan kader, masing-masing hanya bisa diikuti oleh anggota yang telah mengikuti pelatihan di tingkatan sebelumnya. Misalnya di HMI ada LK II setelah LK I, di PMII ada Latihan Kader Dasar (LKD) setelah Mapaba dan sebagainya.

Kembali ke mahasiswa baru. Pada umumnya, mahasiswa baru cenderung memilih organ tertentu karena kedekatan orang pertama yang ia kenal di kampus ini, atau karena di fakultas dan jurusannya dikuasai oleh organ tertentu. Ada juga, mahasiswa yang berjiwa pemberontak, memilih organ oposisi dari partai berkuasa. Selain itu, terdapat pula mahasiswa yang menggantungkan pilihan berdasarkan background yang telah melekat padanya lahir. Semua itu merupakan pilihan yang harus kita hormati, tapi hal itu juga bisa membuat kita salah pilih. Karena objektivitas pilihan kita, dalam hal ini sedikit dikesampingkan.

Di tepi lain, ada organisasi yang iklim politiknya lebih lengang. Mereka adalah forum-forum diskusi, Unit-unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan organisasi seni kesusastraan. Di tempat inilah, mahasiswa dari berbagai organ ekstra mencoba menyucikan diri dan melebur jadi satu. Karena tak semua orang yang pernah masuk di organ ektra bersikap politis, ada juga yang lebih mengutamakan pengembangan kreativitas diri mereka. Meski tak jarang, ada segelintir oknum mahasiswa yang memanfaatkan nama organ ekstranya untuk menguasasi organ-organ yang harusnya seteril ini. Tapi kaprahnya, mereka yang berkecimpung di organisasi macam ini adalah mereka yang memilih menjadi intelektual atau seniman murni dan sebagainya. Kepuasan bantin dan ketentraman jiwa adalah tujuannya.

Telah tersebut di atas, UKM masuk dalam kelompok ini. Di kampus kebudayaan ini, ada 15 UKM, yang mewadahi minat dan bakat mahaiswa yang berbeda. Mereka adalah Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Federasi Olahraga Mahasiswa (Forsa), Komunitas Mahasiswa Fotografi (KMF) Kalacitra, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) INSTITUT, UKM Bahasa Flat, Komunitas Musik Mahasiswa (KMM) Riak, Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) Ranita, Himpunan Qori’ dan Qori’ah Mahasiswa (HIQMA), Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Pramuka, Resimen Mahasiswa (Menwa), Korp Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI), Koprasi Mahasiswa (Kopma) Teater Syahid dan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia.

Di pihak lain, masih bertebaran komunitas kreativitas dan seni di luar UKM. Diantaranya, lembaga semi otonom di berbagai fakultas seperti Pojok Seni Tarbiyah (Postar) dan Kampoeng Seni yang bernaung di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Komunitas Mahasiswa Audio Visual (Komka) di Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan lain-lain.

Terdapat pula komunitas yang tak terkait dengan birokrasi fakultas, misalnya Tabloid Teras Dekan, yang dikelola aleh kolaborasi mahasiswa dari berbagai fakultas. Kemudian ada Siklusitu, Sanggar Teater Altar, Teater EL Na’ma. Ada juga kelompok yang bergelut di dunia intelektualitas seperti forum diskusi misalnya, Formaci, Piramida Circle, Ciputat School dan lain-lain.

Semua itu adalah wahana pengemabangan diri di luar kelas bagi mahasiswa, yang bisa juga disebut secend university. Karena banyak hal yang tak kita peroleh di bangku kuliah, namun ada disini. Maka tak lengkap menjadi mahasiswa, kalau hanya menghabiskan waktu dengan mengejar SKS belaka.

Tapi, seluas apa pun jaringan dari organisasi yang anda punyai, tak akan berarti apa-apa tanpa kecakapan individu. Karena Anda-lah yang akan menulis sejarah Anda sendiri. Dan sebagai kaum intelektual, kemampuan menulis menjadi satu takaran wajib yang harus dimiliki, disamping kemampuan lainnya. Dan selalu ingatlah, tugas anda sebagai kaum terpelajar. Kaum yang dengan kemampuannya mampu memberi pencerahan kepada masyarakat awam.

Pegang erat tujuan hidup Anda, agar tak kehilangan kompas di tengah-tengah perjalanan. Tetapkan pos-pos yang akan Anda capai pada tiap bulan, semester dan tahun yang akan kamu lalui. Dengarkan nuranimu. Jangan kecewakan orang tua dan jangan sia-siakan kesempatan masa studi ini. Jalan kita masih panjang. Selamat berkelana.

Kamis, 18 Desember 2008

Wawancara Dengan Nabi Palsu Dari UIN Jakarta*

Oleh MS Wibowo

UIN Jakarta 2119-
Kampus UIN Jakarta telah sangat berbeda dengan seratus tahun sebelumnya. Kurang lebih pada tahun 2008 silam, suhu intelektual mahasiswa di Ciputat, yang dulu dikenal sebagai para pemikir dan agen pembaruan, mulai mendingin bahkan membeku.
Tak dipungkiri, salah-satu penyebabnya karena fakultas-fakultas agama di kampus ini, yang lebih fokus mengkaji wacana keislaman, kalah diminati mahasiswa dibanding fakultas umum.
Jumlah fakultas dan jurusan umum pun lebih banyak. Begitu pula dengan mahasiswanya. Jika pada awal tahun 2000-an budaya lama (diskusi dsb.) masih mendominasi, tapi lima hingga enam tahun kemudian kondisinya berbalik. Pelan tapi pasti, gaya dan budaya mahasiswa di fakultas umum, seperti ekonomi, sains, kedokteran dan sebagainya mulai mendominasi. Kehidupan mereka bisa dicirikan dengan corak ‘praktis’ dan ‘pragmatis’. Dalam arti sempit lainnya mereka kurang mempedulikan wacana pemikiran keislaman yang njelimet. Yang mereka priorotaskan adalah bagaimana supaya kuliah rajin masuk, cepat lulus, nilai bagus dan cepat kerja. Atau yang mereka sebut dengan rumus ISQ 184 (I=IP bagus, S=Semester delapan lulus, dan Q=Qerja cepet). Sedangkan angka 184 merupakan lambang proses perkuliahan mereka. 1-8= jumlah semester mereka, tak boleh lebih. Dan 4 merupakan IP yang harus mereka peroleh.
Keadaan ini akhirnya menimbulkan banyak korban. Diantara pihak yang merasa dirugikan pada masa itu adalah toko buku loak, yang menjual buku-buku lama tentang pemikiran. Seorang penjualnya kala itu mengatakan, mahasiswa saat ini hanya mau membeli buku-buku pengantar matakuliah belaka. Karena itu ia terpaksa tutup dan hanya menerima pesanan dari para penggila wacana keilmuan lewat SMS.
Situasi berbeda terjadi seratus tahun berikutnya. Pada tahun 2119 ini, fakultas-fakultas agama dan pemikiran menjadi serbuan dan pilihan utama para mahasiswa. Fakultas-fakultas umum seperti ekonomi dan sebagainya terancam tutup. Jika masih ada mahasiswanya tak lebih dari sembilan orang satu angkatan jurusan. Kondisi ini bermula sejak Indonesia menjadi negara adidaya pada 2110. Perekonomian nasional telah lama membaik. Dunia teknologi berkembang pesat. Telah banyak manusia Indonesia yang mengusai teknologi dengan perekonomian keluarga yang mapan. Akhirnya, semua orang haus akan kebutuhan intelektual berupa pemikiran-pemikiran. Beberapa tokoh yang mereka idolakan adalah para pemikir yang seratus tahun lalu bersusah payah menggeluti dunia pemikiran di tengah budaya yang berubah. Para tokoh itu diantaranya, Pandu nak Merdeka, M. Hajad, Mubarok Ghulam dan sebagainya.
Masa itu memang masa yang dinanti-nanti oleh para pecinta kebijaksanaan. Saking pesatnya, Fakultas Ushuluddin mencaplok gedung-gedung fakultas umum yang telah tidak ada penghuni. Nyaris seluruh kampus I UIN Jakarta menjadi milik Fakultas Ushuluddin dan Filsafat semua.
Di tengah euforia intelaktual itu, masyarakat sudah tak kaget lagi apabila muncul mahasiswa yang mengaku nabi atau menerima wahyu dari Tuhan. Mereka sudah sangat toleran atau memang telah lelah untuk heboh. Sebab hampir tiap minggu muncul seseorang yang mengaku telah menerima wahyu langsung dari Tuhan.
Tapi 18 Juni 2119 ini, masyarakat kembali terkejut atas munculnya seorang yang menobatkan dirinya sebagai nabi palsu. Selama ini orang yang mengatakan dirinya nabi, selalu mengaku bahwa gelar itu asli. Tapi ini beda, sosok baru itu secara terang-terangan mengaku dirinya palsu, tapi nabi. Nabi tapi palsu.
Sontak kehadiran nabi yang mengaku palsu ini menjadi perbincangan dan perdebatan hebat. Pasca pengakuannya sebagai nabi palsu di sebuah stasiun televisi, sang tokoh baru ini enggan muncul ke publik. Ia pun susah untuk dijumpai. Namun setelah melewati sebuah negosiasi yang begitu alot, ahirnya nabi palsu bersedia diwawancarai oleh sebuah majalah online bernama LMM OnSitu.com. Berikut petikan wawancaranya,
Selamat siang pak nabi?
Nabi palsu!
Oya, selamat siang nabi palsu?
Selamat siang.
Anda pernah menyatakan sebagai nabi palsu? kenapa?
Palsu itu singkatan, kepanjangannya “paling susah”.
Maksudnya paling susah?
Ya sekarang ini kita susah memilih orang yang jujur atau tidak. Semua pada mengaku benar.
Apakah Anda pernah menerima wahyu?

La wong namanya palsu yang enggak pernah to, gimana pak wartawan ini?
Mengapa Anda berani menyatakan diri sebagai nabi?
Ingat bukan nabi, tapi nabi palsu!
Ia nabi palsu?
Nabi palsu mempunyai satu keunggulan dari pada Nabi Asli, yakni membaca. Selebihnya kekurangan. Sebab yang saya tahu bahwa Nabi asli Muhammad SAW itu tak bisa membaca tulisan, ummiy.
Apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya? apakah ingin berdakwah mencari pengikut?
Tidak.
Kenapa?
Karena selanjutnya saya ingin jadi avatar palsu, biar menguasai empat elemen. Terus pengen jadi spongebob palsu. Pembaca juga jangan membaca tulisan ini terus. Karena bisa-bisa, saya akan menjadi pembaca palsu.
Gak Jelas Banget Boo.
*Tulisan ini terinspirasi dari buku Blakc Interview, karya Andrea Syahreza