Home

Selasa, 19 April 2016

Baca Berita Apa Ngobrol?

Namanya Wastiyo. Dia empat tahun lebih tua dariku ketika aku masih SMP. Sekarang juga mungkin dia tetap lebih tua empat tahun dariku.
Nah, ketika aku masih SMP itu, anak-anak masjid di kampung sering ngumpul di rumahku. Mereka kadang menginap dan bangun pagi hingga nonton berita bersama pagi hari di tivi.
Namanya Wastiyo dia orang pertama di telingaku yang mengomentari presenter berita. Dia bilang, "aku benci banget kalau ada pembawa berita ngobrol. Mereka itu mau menyampaikan berita apa nongkrong. Kalau nongkrong, ya ke sini sama kita. Masa kita disuruh nonton orang ngobrol. Ganti channel-nya!"

Senin, 18 April 2016

Melihat dalam Gelap

Dalam gelap
kau masih bisa melihat
dengan cara yang berbeda

Jumat, 15 April 2016

Kesalahan

Kesalahan itu harus dibayar, sekalipun mahal. Tapi jangan disesali. Karena penyesalan dapat membunuhmu

Kamis, 07 April 2016

Keberanian

Kemana keberanian akan membawamu? Kau tak tahu. Tapi kau akan mencari tahu

Selasa, 05 April 2016

Koran Minggu, Seorang Ibu, dan Pemuda Gondrong

Aku tidak pernah langganan koran. Belum mungkin. Bukan berarti menganggap itu tidak penting. Bukan pula karena sudah marak media online. Beberapa kali niat, tapi selalu gagal. Mungkin tekadnya setengah-setengah. Lagi juga setelah dipikir-pikir, sempat selama beberapa hari rutin beli koran, ternyata tidak dibaca. Hanya ada rasa lega ketika menggenggam segepok koran. Jika pun membaca, paling berita olahraga. Itu pun jika berkaitan tim sepakbola yang aku suka.

Entah kenapa, sering ada rasa muak membaca berita, khususnya politik, kriminal, atau kejadian yang hanya ada di kota-kota dan pusat pemerintahan. Bagiku gitu-gitu saja. Tak ada yang baru. Kaku. Bisa jadi aku tak peka sebagai warga atau apatis.

Hanya satu rubrik yang biasa kubaca sampai habis. Cerpen. Sayang, ini hanya ada tiap sepekan. Karena itu pada hari Minggu aku selalu ngacir ke kios koran di jalan raya sana. Tempatnya di samping belokan jalan menuju sebuah area kompleks dosen kampus negeri.

Dari sekian tempat penjual lain, kios itu yang aku pilih. Penjaganya seorang ibu. Kadang-kadang kalau dia lagi tidak di tempat, anaknya atau suaminya yang ganti melayani pembeli. Anaknya perempuan, suaminya laki-laki.

Di samping kios itu, ada satu ruang sempit berukuran 1x3 m yang ditempati seorang pemuda berambut gondrong. Ruang itu merupakan tempat usaha jasa pembuatan plakat, stempel, dan semacamnya. Aku dan pemuda rambut gondrong itu selalu saling senyum dan sapa, “hai bro” ketika berjumpa. Meski sebetulnya aku tidak pernah kenal siapa dia.

Dulu sekali, tempat usahanya tidak di situ, tapi di seberang jalan dari yang sekarang. Ketika ke kampus, dulu aku sering lewat di depan dereten ruko semi permanen yang kini tinggal kenanangan. Salah satu dari deretan itu adalah kios plakat dan stempel milik pemuda tadi.

Aku tak ingat siapa di antara kami yang pertama kali menyapa hingga akhirnya jadi kebiasaan. Sekadar menyapa tanpa lanjut obrolan, sampai sekarang begitu kalau ketemu. Parah kan? Ia pindah karena penggusuran. Konon, mau ada pembangunan apartemen atau apa. Kabarnya, tanah itu dulunya punya pemerintah. Tapi tak tahulah. Biarkan saja.

Aku tak sempat mengamati apakah tempat usahanya lebih ramai dulu atau sekarang. Muncul keinginanku untuk sekadar mengobrol basa-basi. Sayangnya, ruang sempit bercat orange itu sering kosong ditinggal tanpa orang. Entah kebetulan, tiap ketemu pemuda itu selalu sedang akan pergi. Belakangan aku melihat fotonya di akun facebook salah satu teman. Entah dia atau bukan, belum juga pernah aku tanyakan.

Minggu malam itu hampir usai. Orang-orang sudah siap dengan Senin yang sama seperti sebelumnya. Aku menyela motor. Sampai di kios, si Ibu tetap saja masih bertanya, aku mau beli koran Sabtu apa Minggu. Mungkin di matanya aku selalu tampak seperti seorang pencari kerja atau kurang kerjaan. Padahal sudah jelas, aku tak pernah membeli koran selain koran Minggu. Tapi biarlah, dia tetap seorang ibu.

“Bro,” sapa pemuda itu yang kini sudah tidak gondrong.
“Hey,” balasku. Ia tampak bergegas membawa segepok barang, entah apa.

Selesai transaksi dengan si Ibu, aku tak langsung menggapai motor. Aku mengejar si pemuda yang dulu gondrong itu. Telat. Dia sudah tidak ada. Sepertinya dibawa angkot ke arah Ciputat.

Ya sudah. Aku langsung ke kosan dengan membawa koran. Tiba di kamar, koran aku lempar di lantai begitu saja. Aku bikin kopi, menyalakan laptop, nonton film. Keesokan pagi baru cerpen aku baca.

Minggu depannya, begitu juga. Aku meluncur ke kios, ditanya mau beli koran Sabtu apa Minggu.

Kali ini, Minggu sampai ketemu Minggu, cerpen tak juga aku baca. Dan hasrat untuk membeli koran pada hari Minggu mengantarku ke kios itu lagi. Tiba di kamar, aku buka rubrik cerpennya. Tapi baru dua paragraf, gaya bahasa penulisnya membuatku tak berselera. Akhirnya dua koran Minggu mangkrak sia-sia.

Minggu berikutnya, aku berpikir ulang perlukah membeli koran? Tapi siapa tahu, kalau sekarang belum minat membaca, mungkin hari-hari berikutnya. Jadi aku tetap ke kios itu. Ternyata sama saja. Tiga koran Minggu mangkrak tertumpuk di sudut ruangan. Apa seleraku yang hilang atau memang penulis cerpennya selama tiga pekan berturut-turut tak sealam denganku, aku tak paham.

Minggu esoknya, aku mengatur strategi biar tidak rugi. Yakni dengan harus baca dulu di kios sana. Kalau sekira cerpennya kurang sreg, mending gak usah dibeli. Tapi pas tiba di tempat, si Ibu nanya, “Koran Sabtu apa Minggu?” aku jawab “Minggu. Mau tak mau harus bayar dan tak jadi dibaca.

Begitu seterusnya, berulang dan terus berulang sampai sekarang. Aku dan koran hanya saling menyapa tanpa membaca. Layak aku dan si pemuda itu. Kenapa? ()