Home

Sabtu, 31 Desember 2011

Asal Mula Kembang Api Tahun Baru


Pukul 23.15, aku masih menatap langit yang temaram sedikit kemerah-merahan. Sambil menggaruk kepala, mencoba memaknai detik-detik pergantian tahun ini. Tahun berakhirnya sebuah periode kehidupan manusia. Karena desember mendatang, kiamat tiba. Itu menurut kalender Jawa. Eh salah, kalender Maya.
Meski pukul 00.00 masih 45 menit lagi, beberapa letup petasan kembang api mulai menyaingi gemerlap bintang-bintang langit. Apa arti semua itu? Mengapa kita latah merayakan pergantian tahun dengan kobar peperangan?
Semua pasti punya alasan. Tak ada tindakan tanpa tujuan. Dan, tak ada tujuan yang tak berarti, demikian tegas Jack Sparrow. Begitupun dengan gemuruh dan gemerlap kembang api tahun baru. Sebagaimana cerita yang akan kukisahkan di bawah ini kepadamu.
Dahula kala, ada seorang pemuda yang hidup dalam nyinyitnya sunyi. Hari dan malamnya begitu sepi. Hingga detak jantung, aliran darah, serta kelenjar tubuhnya terdengar nyata di telinga.
Pemuda itu heran terhadap apa yang ia rasa. Padahal ia tak kurang teman atau saudara. Sampai suatu hari, seorang berpenampilan antik, laksana pangeran dalam film-film kerajaan, datang menemuinya. Orang itu mengaku bernama Eros dari Yunani.
Kepada sang pemuda, Eros mengabarkan, sepi yang melanda adalah karena kosongnya hati. “Kau butuh cinta. Temukanlah belahan jiwamu. Agar damai senantiasa hatimu,” kata Eros sembari menyerahkan sebatang panah asmara, satu busur perasaan, dan satu lagi busur logika.
Eros menambahkan, panah tersebut sudah lama tak terawat. Karena itu jadi tumbul dan berkarat. “Asahlah panah ini hingga tajam.”
Dengan gigih sang pemuda menjalankan perintah Eros. Mengasah mata panah hingga sangat tajam untuk menembus hati seorang perempuan. Ia sangat gembira dan ingin segera merasakan pacaran layaknya remaja pada umumnya.
Pada suatu siang, di kebun binatang, ia bidik-bidikkan panah itu ke arah kumpulan rusa dan simpanse di kandang. Kemudian pada singa yang tidur bermalas-malasan. Tapi tetap, ia tak lepaskan. Karena memang bukan untuk itu panah asmara disediakan.
Tiba di hari bahagia. Pemuda melesakkan panah dengan busur logika. Begitu telak menanjam di hati perempuan pilihannya. Jadilah perempuan itu tergila-gila.
Setahun berjalan, sang pemuda masih berpacaran menggunakan logika. Perempuannya, yang perasa, selalu menuruti apa maunya. Namun seiring waktu, luluhlah logika sang pemuda. Kini perasaannya tumbuh menjulang. Dan ia sungguh-sungguh jatuh hati.
Sang perempuan, yang telah berjuang satu setengah tahun lamanya, tersenyum bangga. Jatuh bangunnya demi menumbangkan akal sang pemuda akhirnya menuai hasil.
Sang pemuda telah terseok dalam pusar perasaan. Ia jadi cemburuan. Terusik jika ada lelaki lain yang bilang cantik untuk perempuannya.
Ia lalu meninggalkan segala hanya untuk kekasihnya. Ia mantap hidup bersama dengan dan demi perempuannya. Mengarungi ketidakpastian masa depan.
Ia tak sadar, panah yang menancap di hati perempuannya telah berkarat. Dan mulailah berkurang rasa cinta dari kekasihnya itu.
Akhirnya, sang perempuan mengungkapkan kenyataan. Ia sebenarnya sudah punya pacar di seberang sana. Tapi tak kuasa menolak cinta sang pemuda, yang diutarakan dua tahun lalu. Dan karena sudah tak mampu mempertahankan, perempuan itu kembali pada pacar lamanya.
Sang pemuda begitu terpukul. Baru sadar bahwa selama dua tahun menjalin hubungan, ia dibohongi. Pasalnya, waktu ia lepaskan panah asamaranya dulu, perempuannya bilang bahwa ia punya lelaki lain, namun lelaki itu telah mati.
Dengan tergesa dan rasa kecewa, ia cabut batang panah berkarat itu. Begitu kuat ia kerahkan tenaga, hingga sang perempuan meronta kesakitan dan sang pemuda tersungkur ke belakang.
Sang pemuda menepi dari kehidupan. Menyumpahi sang perempuan dengan aneka macam kutukan. Dengan linangan air mata, ia sendiri. Kembali mengasah mata panahnya.
Saat itulah ia sadar bahwa busur logikanya telah hilang. Ia mencari ke semua penjuru ruangan kamar. Tapi yang ia temukan tinggal busur perasaan. Cuma itu satu-satunya alat, yang bisa ia gunakan untuk melesatkan panah asmara.
Mata panah telah tajam kembali. Lebih tajam dari sebelumnya. Sang pemuda menemukan lagi sosok perempuan, yang ia yakini sebagai takdir hidupnya.
Dengan segala kondisi yang berat, sang pemuda memungut busur perasaan. Ia berjalan menyusuri heningnya malam tahun baru. Di sana-sini melayang asap beraroma daging bakar. Juga asap dupa. Banyak orang melakukan refleksi dan resolusi.
Tiba di tempat, sang perempuan, yang menjadi target baru, mencium niat kedatangannya. Ia tampak ketakutan dan khawatir. Mampukah ia menerima cinta sang pemuda yang begitu besar dan luas?
Sang pemuda bersiap-siap. Ia pegang busur perasaan dengan tangan kanannya. Ia pasang panah asamara dan menariknya dengan tangan kiri penuh tenaga.
Melesatlah panah ke dada perempuan itu. Menghujam jauh dalam hatinya. Lalu tembus ke atas dan terus melesat, menancap di arsy langit tujuh.
Arsy bergetar, berguncang, dan menggelegar. Menyebabkan bintang-bintang saling bertumbukkan. Timbulah ledakan suara dan percikan api yang indah memesona di angkasa.
Sejak saat itu, malam tahun baru selalu dirayakan dengan petasan kembang api.
Sekian

Senin, 26 Desember 2011

Rindu dan Waktu

Bagaimana kau sebut keindahan

hanya sebab merindukan

Merindukan masa lalu

yang kau resah ketika di dalamnya


Begitulah kenangan

Manis pahitnya

digenggam waktu kini

untuk disumbang sebagai ingatan

pada saat mendatang


Acak berantakan

Acap bertaburan

Porakporandanya keping-keping

hanya untuk dikakukan

dibekukan

dipatungkan

diberhalakan

Selesailah di sana


Segala kepengaliran

badai berhembus

menghempas-hembas

atau lumut menjalar liar

adalah musuh

Menghancurkan

cepat perlahan

namun pasti


Kamar Instalasi-Legoso, Ciputat, 25 Desember 2011

Catatan Terakhir VI

Sudah terlalu banyak racun dalam jiwa dan ragaku.
Racun jiwa yang telah sekian lama mengendap dan menggerogoti hidupku.
Tak seorang dokter sudi kutemukan menyembuhkanku.
Apa mereka malu, atau meminta bayaran melulu...??

Catatan Terakhir V

Senjata ciptaan bangsa mana yang bisa aku gunakan. Menunggu kematian masih terlalu lama. Harus bermalam di lintasan matahari yang bosan. Di persinggahan kecepak bintang.

Air mata bukan hanya tak pantas. Melainkan kering tak berbekas. Masa depan adalah tujuan. Yang memiliki masa depan adalah mereka yang punya tujuan. Sedang masa lalu dan segala kodrat yang menjerat. Membuat kaki berkarat. Langkah semakin terasa berat.

Di mana kutemukan kembali tujuan. Segalanya telah hangus terbakar. Menjadi abu dari nihilisme total. Sedangkan para penyangga dan penjaga tangga-tangga instalasi struktural terus tertawa. Tertawa kasar. Omong kosong dengan isi, hakikat, dan tujuan. Begitu kata mereka.

Mungkin aku harus meminta

Minta maaf

Padaku,

Pada ibu dan adik-adikku

Pada tuhanku.

Aku tahu mereka maha pemaaf

Rabu, 21 Desember 2011

Sendiri

ampun Gusti
ampun
ampun ampun
ampun Gusti
ampun
ampun Gusti Allah
ampun ampun

Ciputat, 21-12-2011

Mesin Cetak

Dan tuhan tak lagi sangar

Kebenaran pun jadi samar

Tergeserkan masyarakat

Menuntut jadi pejabat

Mesin cetak uang dan anak

Drakula

Baiklah…
Kejujuran sesungguhnya memuakkan
Menjijikan.
Mengerikan.
Itu berlaku pada tindak
bukan lembah kata
Sebab tiada tafsir laku nyata

Kejujuran adalah alam
Mimpi yang memenjara
Memasung kaki
pada langkah realita

Kau yang di sana
sepertiku tak punya raga

Pada kenyataan terdapat mimpi
tapi tidak sebaliknya

Di situ aku berada

Cacimu menolong
ataukah melolong saja
seperti anjing-anjing penanda
telah tiba hantu-hantu
dalam neraka

Legoso, Ciputat, 21-12-2011

Senin, 19 Desember 2011

Yang, Telanjang, dan Penting

setiap yang dibungkus jadi indah

semakin berlapis penuh misteri

mencipta rasa penasaran

kepikiran

setiap yang dibungkus jadi penting

makin berlapis semakin penting

tapi yang penting bukan bungkusnya

yang sejati itu isinya

tapi *apa guna

kalau kebenaran berdiri di hadapanku

dingin dan telanjang

ia tak peduli aku mengenalnya atau tidak

dan malah membuatku takut

bukannya percaya

Legoso, Ciputat, 19 Desember 2011

*Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855)

Pertemuan

Datang, datanglah

Ungkapkan segala rasa yang ambigu

Dari semua aku-aku yang kau miliki

Tapi biarkan akuku salah tingkah

Cengar-cengir di sudut ruang

Merunduk malu mengganti tangan

Basah dengan basa-basi

Hingga kau jengah

Yang mempertemukan dan memisahkan

Yang menyatukan dan menceraikan

adalah luka


Legoso, Ciputat, 19 Desember 2011

Ingat

Seingatku,

Ya, aku ingat

Dostoyevsky pernah bilang

dalam Catatan Dari Bawah Tanah-nya

tak ada orang yang sanggup berduka lebih dari satu tahun

Dan, luka

yang kering dan mati

terhanyut sampai di kaki

tersangkut sesekali

menyambangi bilik

di otak sebelah kanan

seingatku,

seingat-ingatku

Dan, aku ingat

ingat kembali

ingin mencaci

Legoso, Ciputat, 19 Desember 2011

Dialog Keushuluddinan Piush


-->
Kamis (15/12) lalu, Pojok Inspirasi Ushuluddin (Piush) menggelar diskusi menyoal Ushuluddin dan Kebudayaan. Saya mewakili Yapentush, sebuah paguyupan intelektual di Indonesia, hadir sebagai salah-satu dari empat pembicara lainnya, Iman Firmansyah dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta, Yusuf Albana Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), dan M. Yan Anwar dari Fisip UIN Jakarta.
Diskusi berlangsung tanpa moderator. Panitia langsung menyerahkan mikrofon kepada saya jelang mulainya acara. Sebab itu agak gagap pula saya, bingung harus mulai darimana.
Satu hal yang masih selalu muncul pada tiap pembahasan kultur ushuluddin adalah soal gaya hidup mahasiswanya. Hingga awal angkat 2007/2008, mahasiswa ushuluddin masih terkenal dengan style yang nyleneh. Rambut gondrong, sandal jepit dan kaos oblong, yang mana hal itu bertentangan dengan kode etik mahasasiswa UIN Jakarta.
Sekilas hal macam itu dinilai hanya seperti sensasi kosong belaka. Namun perlu dicatat, apa yang dilakukan para mahasiswa ushuluddin tersebut merupakan sentakan atau teror guna menyadarkan, hendaklah kita kuliah atau belajar itu lebih mengandalkan otak bukan pakaian. Don’t judge book from the cover.
Rambut gondrong dan sandal juga bisa diartikan sebagai media pemberontakan atas kungkungan aturan-aturan yang kaku dan kurang manusiawi. Agar manusia sadar akan dirinya sebagai manusia, bukan mesin. Bahwa masing-masing kita sebagai manusia itu berbeda, tak bisa diseragamkan seperti sekelompok hewan atau tumbuh-tumbuhan tertentu.
Tak berhenti di pakaian, seloroh dan ucapan-ucapan yang terlontar dari mahasiswa ushuluddin kerap kontroversial. Misalnya ‘Tuhan telah mati’ sebagaimana dalam pemikiran Nietzsche, anjing-Hu akbar, dan lain sebagainya yang kerap membuat telinga serta perasaan kelompok tertentu merah dibuatnya.
Sekali lagi itu merupakan teror yang membuat kita berpikir dan perlu dikaji lebih dalam. Artinya tak semestinya kita berhenti di situ, pada makna denotatif kalimat tersebut.
Bermacam hal dan persoalan yang terkait dengan ushuluddin pun terkuak. Mulai dari masa depan kehidupan mahasiswa dan orang yang menggelutinya dan lain-lain. Perlu dicatat, ushuluddin yang dimaksud di sini bukan sekadar sebagai institusi atau salah-satu fakultas yang ada di UIN Jakarta. Lebih dari itu, ushuluddin adalah budaya, ruh kehidupan umat manusia, atau spirit of human being. Semangat yang diusung ushuluddin adalah semangat kesadaran dan perubahan.
Manusia bukanlah apa yang tampak dari raga, melainkan dibaliknya, yang membuat raga itu bergerak, berfikir dan bertindak. Itulah ushuluddin. Ushuluddin adalah kekuatan tak kasat mata, yang bisa diterima oleh manusia yang menggunakan akal dan terbuka hatinya. Sehingga untuk menjadi manusia unggul tak harus berstatus Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, melainkan cukup dengan mengintegrasi nilai dan semangat ushuluddin dalam diri. Tokoh-tokoh seperti Nabi Muhammad, Soekarno, Che Guefara, Galileo, Einsten, Newton dan sebagainya adalah contoh dari manusia yang memiliki jiwa Ushuluddin.

Reproduksi Realitas

Dengan lelah di tengkuk, langkahnya meninggalkanku. Mengabaikan resah sepagian berkamar saja. "Mau kemana?"
"Reproduksi realitas."

Minggu, 18 Desember 2011

Rasa

Pada hamparan tinta kaca
tak habis-habis tersentuh makna
terus meraba kata serupa nama sewarna rasa

Jumat, 09 Desember 2011

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bunuh Diri

Belum pernah kau dapatkan informasi yang benar-benar valid tentang bagaimana kejadian dari alam barzah. Semua cerita, di televisi maupun buku-buku dongeng, selalu bisa diragukan. Selalu memiliki perbedaan. Tapi kini, aku yang sudah mati, yang saat ini ada di alam barzah, akan mengabarkan padamu bagaimana keadaan di sini.
Mungkin kau tak percaya, sehingga beranggapan atau menyamakan kata-kataku dengan cerita tabloid horor religi, kisah-kisah di televisi, atau dongeng-dongeng lainnya. Itu semua hak Anda sebagai mahluk yang masih hidup. Boleh juga kau katakan bahwa aku frustasi. Bahwa sebenarnya aku masih hidup. Tapi terobsesi pada kematian. Sekali lagi kutegaskan itu hakmu. Baiklah, untuk mempersingkat tulisan, aku mulai saja ceritanya. Simak baik-baik.
Sebagaimana pernah ku katakan pada beberapa kawan, hidup lebih mudah daripada mati. Sebelum sampai di alam barzah ini, aku telah beberapakali melakukan eksperimen kematian. Salah-satunya saat lebaran 2011 lalu. Saat Ciputat sepi. Mayoritas warga mudik ke kampung masing-masing.
Aku tak ingin pulang kampung. Aku ingin merasakan sepinya Ciputat dan Jakarta. Ternyata tak sesepi yang kukira. Tak lebih sepi dari hati dan jiwaku. Aku justru mengalami kedamaian tiada tara. Selama hampir dua minggu aku sendiri di kamar. Tiada satu orangpun mengusik. Saat itulah ide bunuh diri menyeruak ke permukaan sadarku.
Ku pilah-pilah berbagai cara terbaik untuk mati, sebagaimana pernah dilakukan oleh para pendahuluku. Mulai dari gantung diri, terjun dari lantai 24, mengiris nadi pergelangan tangan, dan minum racun.
Untuk melakukan itu butuh keberanian ekstra. Karena sekali lagi, lebih banyak orang takut mati daripada hidup. Kebanyakan mereka takut akan siksa api neraka. Itu bagi orang Islam, Yahudi, dan Nasrani. Tapi bagi orang Hindu atau Budha, arwahnya pasti diyakini akan mengalami ketidakstabilan. Sehingga berbagai prosesnya, termasuk reinkarnasinya pun mengalami gangguan. Tak sesuai dengan ritme alam.
Tapi yang lebih mengerikan adalah kemampuan menahan rasa sakit yang disengaja. Kau pasti tahu rasa teriris pisau atau tertebas golok dibanding dengan menebas atau mengiris sendiri. Pasti yang kedua lebih sakit karena dilakukan dengan kesadaran penuh. Sementara teriris atau tertebas tanpa sengaja kadang tak terasa. Baru setelahnya nyeri dan perih. Aku pernah mengalami itu.
Salah-satu eksperimenku adalah menceburkan diri dalam air. Mula-mula kutahan napas. Sampai bermenit-menit. Hingga seluruh organ tubuhku berontak, mau muntah. Sungguh sakit rasanya. Juga gantung diri. Butuh waktu untuk tersengal-sengal beberapa lama. Tersiksa rasanya.
Kemudian minum racun. Ah, yang ini tambah parah. Aku harus menahan nyeri, sakit, dan panas di perut dan sekujur badan. Kejang dan sebagainya. Aku mesti menahan jeritan agar tak membuat onar. Hingga muntah-muntah keluar busa.
Kurasakan tubuhku melayang hingga ke atap kamar. Tak bisa kulihat badanku. Hanya pandangan yang tertuju pada sosok tubuh lemas yang tergeletak di lantai kamar.
Kubiarkan lama menatap sosok raga yang pernah memfasilitasiku menggapai berbagai keinginan itu. Lalu aku pergi. Menikmati hari-hari sunyi.
Libur lebaran telah usai. Semua telah balik dari mudiknya. Kusaksikan jalan macet kembali. Ciputat dan Jakarta ramai lagi. Aku coba ke kampus, melihat bagaimana teman-teman mahasiswa merespon kematianku. Sudah kusiapkan perasaan kacau hancur mendengar cibiran atau kecengan mereka.
Mula-mula aku ke Student Center, ke sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut. Alangkah terkejutnya aku, mereka tampak biasa-biasa saja. Tak muncul keinginan mengecengi atau kesedihan atas kematianku. Tabloid yang mereka terbitkan pun tak memuat liputan dan berita duka cita meninggalnya diriku yang tak wajar.
Aku sedih. Kenapa begitu, aku juga tak tahu. Ku coba memanggil mereka satu persatu. “Ibnu..., Nu, Ibnu..., Dika...!!! Lilis, Lis...!!! Ini aku, Bowo.”
Sia-sia, mereka tak mendengar. Kusaksikan mereka hendak rapat. Karena tak mau mengganggu aku pergi. Ngeloyor ke Kantush atau Kanshul alias Kantin Ushuluddin. Beberapa teman ada di sana. Mereka mahasiswa tua. Semester 11 dan 13. Tampak pusing membincang matakuliah yang belum keluar nilainya atau skripsi yang tak kunjung beres.
Ah, kenapa tak kusimak saja teman-teman LPM Institut rapat? Aku kan tak terlihat. Jadi tak mungkin mengganggu rapat mereka. Siapa tahu di edisi berikutnya, berita kematianku akan dimuat.
Aku kembali ke Student Center di Sekretariat LPM Institut. Asap rokok memenuhi ruang. Mengganggu para anggota perempuan yang makan cemilan. Aku masuk lewat fentilasi dan duduk di samping Haris yang tampak serius. Lilis di dekat whiteboard memimpin rapat dengan spidol di tangannya.
Ternyata itu rapat evaluasi. Bukan rapat redaksi. Mereka masih saja membahas Pedoman Organisasi Kemahasiswaan (POK). Isu basi seperti masalah korupsi untuk negeri ini. Aku jengah dengan itu.
Sabar aku duduk menunggu setiap perpindahan tema pembahasan. Mungkin ada niat mereka membahas kematianku. Atau setidaknya datang ke rumahku menyatakan rasa belasungkawa.
Kulihat Ibnu dan Umar nikmat menghisap berbatang-batang kretek Samsu. Ingin sekali aku minta join tapi tak bisa. Ini sungguh menyiksa. Mereka juga tampak sedap menyeruput kopi hitam.
Dua jam lebih aku menunggu sia-sia. Tak satupun dari mulut mereka punya niat membahas kematianku. Sampai pada kejadian yang sungguh mengejutkan. Terdengar sebuah nyanyian menggema dari tangga SC. Lagunya Jamica, Lagu Cinta judulnya. Makin lama suara itu makin dekat. Suara yang sangat akrab di telingaku.
Sungguh aku takut. Benar-benar terkejut. Seiring mendekatnya suara itu, dan sampai di depan pintu, sosok lelaki menghentikan langkah. “Weeiiitss, lagi pada rapat ya?”
“Hehe, iya kak...,” jawab Lilis tersenyum.
“Hey, Mas Bow, udah sehat? Malam ini ngejam yuk ke studio,” kata Ibnu.
“Udah. Jam berapa?”
“Ya habis rapat. Habis ini, kira-kira jam 09.00 lebih lah.”
“Okey,” jawab sosok yang mirip dengan ragaku itu. Kemudian dia turun tangga, sambil bernyanyi lagu Speak Softly Love menuju kantin. Di sana ia pesan segalas kopi dan dua batang kretek. Kuperhatikan dia, dari rambut yang belum lama dipotong, wajah yang kusam tapi berkarisma, hidung yang alhamdulillah mancung sampai kaki yang buluk karena memakai sandal jepit selalu. Betul-betul mirip denganku.
Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah itu raga yang aku tinggalkan beberapa minggu lalu?
Aku segera berlari menuju kamar. Kondisinya terkunci. Aku masuk dari lubang jendela. Keadaan berantakan. Buku-buku masih berserakan, baju di lemari tak dilipat, komputer yang kumal, penanak nasi, speaker active, stabilizer, dan tumpukan baju kotor di sudut ruangan. Semua masih seperti semula.
Tapi ada yang beda. Tak ada bekas muntahan saat aku minum racun waktu itu. Mungkin sudah dibersihkan. Di dekat galon, ada tiga bungkus obat-obatan dari Rumah Sakit UIN Syahid. Seperti ada yang baru sakit. Itukah aku? Kulihat cangkang kapletnya banyak yang kosong. Ada satu merk obat yang benar-benar kuhapal. Amoxilin. Obat segala penyakit. Dulu selagi aku hidup, tiap berobat pasti dapat obat itu. apapun sakitnya.
Kalau benar ragaku hidup kembali, sukma siapakah yang ada di dalamnya. Sedang aku masih melayang-layang, mengawang-awang seperti ini?
Lama aku termenung. Hingga teman kamarku, Abdullah Alawi datang. Ia menuruh tas, menyalakan komputer, memutar winamp, dan bermain Zuma. Sesekali kulihat ia bergidik, tengok sana-sini, lalu mengusap tengkuk. Buluguduknya merinding.
Aku pergi meninggalkannya tanpa pamit. Percuma, karena ia tak melihatku. Lalu ke Arizona Studio. Ternyata teman-teman LPM Institut sudah bubar latihan. Semua sudah berpencar ke alamnya masing-masing. Pada saat ini aku tahu ke mana harus menemukan ragaku. Warnet Tamita. Dia di PC 7.
Tepat sekali. Ia sedang menyeruput kopi di gelas plastik dan sebatang samsu di asbaknya. Kakinya diangkat melipat di kursi. Kuperhatikan layar monitor, ia membuka facebook dengan inesial Pagar Dewo. Juga membuka blogger dengan alamat http://mswibowo.blogspot.com.
Kepada siapa saja yang sempat membaca tulisan ini, jika kebetulan bertemu Pagar Dewo aka MS Wibowo baik di dunia Maya maupun Nyata, tolong tanyakan siapa sebenarnya yang ada dalam raganya. Sebab aku benar-benar resah dengan kondisi itu. Plys...
Oh iya, tadi aku bilang ingin menceritakan kondisi alam barzah. Tapi sepertinya terlalu panjang kalau harus dikisahkan di sini juga. Mungkin lain waktu. Di tulisan selanjutnya. Atau tengok saja catatan-catatan puisi kacangannya Pagar Dewo. Dia pernah menggambarkan alam barzah dengan cerdas dan tepat. Baiklah, untuk sekarang cukup sekian. Sampai ketemu lagi.

Bajingan

Kematian yang aku alami, ternyata tak menjadi solusi. Aku menulis dari alam barzah. Di sini bukan dosa yang dulu kulakukan yang aku sesali. Tapi ketidaktenangan.

Mungkin ada benarnya para ‘preman’ dan orang-orang yang dalam masyarakat mendapat cap bajingan. Sebejat-bejat mereka pun ingat pada tuhan. Mereka masih takut tuhan. Yang tidak mereka takutkan adalah himbauan ketuhanan yang ada dalam masyarakat. Yang keluar dari mulut para tokoh masyarakat. Atau ustadz-ustadz artis dan ustadz muda kampung mereka.

Mereka tetap melakukan dosa. Entah mencuri, memalak, berzina, atau minum alkohol. Mereka melakukan itu tanpa beban. Karena itu mereka lepas.

Dan aku sedikit sepakat, bahwa dosa itu ada dalam perasaan. Dosa itu imateri. Ia menjadi beban pikiran dan perasaan manusia. Jika benar begitu, manusia sebejat apapun, jika ia tidak merasa terbebani oleh tindak-tanduk kemaksiatan yang mereka lakukan berarti tidak berdosa.

Aku yakin mereka melakukan segala bentuk kemaksiatan itu lebih karena melawan kehendak masyarakat. Bukan kehendak Tuhan yang susungguhnya. Mereka adalah orang yang tak mau terkungkung kepalsuan. Mereka adalah manusia-manusia jujur. Musuh individu yang merupakan bagian dari masyarakat. Sebab masyarakat adalah kepalsuan. Semu. Kedok dari ketakutan hidup yang penuh dengan ketidakjelasan dan absurd. Sementara para bajingan adalah orang-orang yang berani mengafirmasi ketidakmungkinan, ketidakjelasan, dan keabsurdan.

Selasa, 06 Desember 2011

Catatan Terakhir IV

MS Wibowo (1985-2011)

Ciputat, Legoso, Kamar Instalasi 6 Desember 2011, 21.56

Apa aku begitu menjijikkan, memiliki perasaan peka yang berlebihan? Ah ya, ini menjijikkan. Aku pun muak dengan ini. Aku mudah marah, tapi mudah memaafkan.

Makanya, ketika kamu bertanya padaku tentang sesuatu, biasanya takkan mendapat jawaban tepat saat itu juga. Butuh endapan perasaan bagiku untuk menggodok jawaban dalam kobaran perasaan itu. Seminggu kemudian, barulah jawaban tepat itu akan kau temukan.

Catatan Terakhir III

MS Wibowo (1985-2011)

Ciputat, Legoso, Kamar Instalasi 6 Desember 2011, 21.43

Menyimpan dendam adalah menggenggam bara. Aku yang berperasaan amat peka, tak bertangan besi. Bara panas membakarku sendiri. Bara melunyah tanganku.

Sebab itu aku gampang memaafkan seseorang. Sebab itu aku diremehkan orang. Sebab itu aku mengutuki diri sendiri. Semua jadi salahku.

Tapi apa boleh buat. Kalau dendam kupertahankan, perasaanku yang terbakar berkobar-kobar, pikiranku dari bubuk mesiu meledak-ledak. Jiwaku terhuyung-huyung. Ragaku terkatung-katung.

Semestinya aku cinta damai. Dan asal kau tahu, orang yang cinta damai biasanya menyimpan dendam pada mereka pembuat onar. Itu ada padaku. Menyimpan dendam pada orang yang telah membuat onar suasana hatiku. Jika aku tak mampu memadamkan dendam ini, biarlah membakarku. Dan aku mati.

Walau cahaya semangat, entah dari mana asalnya, kurasakan sedang menyengat. Berteriak melarangku melakukan bunuh diri.

Salahku terlahir lemah, namun banyak pujian dan sanjungan terhadapku. “Masa seorang Bowo frustasi? Mana kehebatan Bowo yang dulu kusaksikan? Semangat Wo!!! Kamu hebat. Kamu Pintar. Kamu pasti bisa. Karena kamu pintar.” Sanjungan yang salah alamat. Aku dilihat luar begitu kuat, tapi rapuh di dalam. Aku membenci diri sendiri.

Aku juga tak paham, kenapa aku begitu terlihat punya kharisma bagi orang yang belum kenal dalamku. Terlihat begitu hebat dan kuat. Mereka menganggapku singa, aku menganggap diriku elang. Padahal aku adalah kucing. Kucing yang manis, imut, lucu, haus kasih sayang dan manja. Dan layaknya kucing, setiap kali berhubungan selalu membuat onar. Selalu bertengkar. Keributan yang mengundang pandang mata orang. mengganggu tidurnya hening. Aku membenci diriku sendiri.

Catatan Terakhir II

MS Wibowo (1985-2011)

Ciputat, Legoso, Kamar Instalasi 6 Desember 2011, 06.28 WIB

Aku muak dengan perpolitikan di kampus di masa-masa awal aku berkampus di UIN Jakarta. Aku muak dengan organisasi-organisasi yang mengotak-otakan mahasiswa. Walau sekarang sudah dihapus, tapi nodanya yang mengotori pikiranku tak terampuni oleh waktu. Aku apatis dengan negara.

Aku dendam pada seorang sobat suka duka yang menikamku dari belakang beberapa tahun lalu. Dan hingga kini ia hanya mau menolongku kalau menguntungkannya.

Aku dendam dengan teman-teman dari sebuah forum studi yang memfitnahku mencuri handphone tahun 2006 lalu.

Aku sayang sama ibuku, adik-adikku, pacarku Gusti Mustika Sari, tapi tak bisa merealisasikan sayang itu pada mereka.

Aku muak pada diriku sendiri.

Catatan Terakhir I


MS Wibowo (1985-2011)

Ciputat, Legoso, Kamar Instalasi 6 Desember 2011, 05.41 WIB


Jika aku mati tiba-tiba, entah di jalan atau di kamar kosan ini. Jl Legoso Raya No 24, aku cuma titip salam pada ibu dan adik-adikku. Sayangi mama.

Buku-bukuku aku ikhlaskan kepada sahabatku, Abdullah Alawi alias Abah. Dibaca coy, jangan buat bangga-banggan doang.

Komputer dan barang-barangku lainnya, tolong sampaikan pada adik-adiku, Siti Roliyah Wigati dan M Ikhwan Winoto.


Yang terjadi padaku, sebuah keresahan besar. Semua bersumber dari kenyataan bahwa saat ini, di umur jalan 27 aku belum lulus S1. Aku merasa begitu frustasi. Begitu berat beban dikepala. Terlebih aku seorang penakut dan orang yang sangat perasa. Mungkin karena itu aku sering membayangkan hal-hal yang akan terjadi di masa datang dengan sangat dramatis.

Nilai matakuliahku masih 14 lagi belum keluar. Semester 13.

Banyak hal yang aku sesali kenapa aku begitu bodoh. Dulu, waktu semester awal, tak sadar bahwa sesungguhnya aku telah telat tiga tahun masuk kuliah. Harusnya aku angkatan 2003. Tapi karena aku masuk SD pada usia 7 tahun, berhenti setahun pasca SMA, aku jadi masuk kuliah 2005.

Sayangnya aku baru sadar akhir-akhir ini. Sehingga banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul. Mulai dari bagaimana masyarakat kampungku memandangku. Sebab pasti ibu dan keluarga besar di sana telah membawa namaku kemana-mana sebagai seorang yang sedang kuliah di Jakarta. Sementara teman-temanku sebaya mayoritas sudah berkeluarga, bekerja, dan mapan ekonominya.

Aku di sini, masih menjadi parasit. Tapi mungkin aku dasar anak manja juga lemah. Dari kecil aku selalu ditertawakan lingkungan karena tak mampu mandiri dan kurang kreativitas. Kau tahu, bahkan untuk bisa menali sepatu, aku baru benar-benar bisa melakukannya saat kelas III SD.

Entah benar atau tidak, aku dikaruniai otak cerdas. Sejak SD sampai SMA, nilaiku selalu tinggi. Selalu peringkat satu. Sesekali turun paling rendah ya peringkat tiga.

Tapi untuk mendapatkan itu aku tak pernah bekerja keras. Cukup duduk diam di kelas mendengar penjelasan guru. Artinya, aku memang orang yang pasif.

Karena prestasi itu, banyak orang menyanjungku. Banyak orang menganggapku brilian. Lebih dari teman-teman yang kreatif lainnya.


Dan ternyata ketika kuliah, kecerdasanku tak terpakai. Aku yang mencoba untuk benar-benar mengandalkan usaha keras, sering gagal. Sementara untuk mengulang, menjadi seorang pasif seperti dulu sudah terlambat. Karena aku menyadarinya saat aku sudah semester 13.

Selain perasa, aku juga orang yang amat peka pendengarannya. Aku gampang terpengaruh terutama lewat kata-kata. Meski itu tak langsung menjadi tindakan. Biasanya aku, baru menyadari kemudian hari bahwa aku melakukan sesuatu yang dikatakan orang lain. Perkataan itu baik berupa larangan, perintah, anjuran, atau sekadar candaan. Itu biasanya terjadi.

Nah, ketika menyadari, biasanya juga aku coba untuk meyakinkan diri agar bisa kembali semula. Tapi itu sangat sulit. Tak semudah yang aku kira.

Di sini, di Jakarta, di Ciputat tepatnya, aku sendiri. Dalam kebingungan. Tak seorang bisa menolong. Atau segerombolan orang menolongku. Semua tergantung padaku. Orang pasti berpikir, aku harus berjuang mati-matian. Tapi yang lebih aku risaukan, bagaimana aku bisa menjinakkan pikiran agar mengalir tenang tanpa kekhawatiran. Sementara semua kenekatan yang dianggap orang sebagai keberanian, telah hilang padaku. Karena dominasi-dominasi kekhawatiran itu.

Pandangan masyarakat yang sering membuat jengah. Aku sebagai laki-laki dianggap semestinya menyerang semua kegelisahan ini. Tak pantas curhat atau berharap ada seorang perempuan tangguh yang mencintaiku atau sosok untuk memanajeri kehidupanku yang sudah kacau balau ini.

Pada semua, silakan anggap aku bodoh atas tindakan ini. Silakan kalian pintar dengan kehidapanmu masing-masing. Silakan tertawakan aku sepuasmu. Sampai ketemu di alam barzah. Lebih baik mati bunuh diri daripada jadi teroris Islam Fundamentalis, Nasrani Fundamentalis, Yahudi Fundamentalis.