Home

Kamis, 30 Juli 2009




Ya, tapi bukan itu yang penting sayang. Dan Aku makin sadar, mungkin kau akan lebih baik tanpaku.
.

Kini tak Ada yang meluluhkanku lagi,,
.
.
.memang haruskah kusendiri. paksa jiwa kosongkan raga?


Saat, jingga langit senja makin menghilang
Tertusuk cahaya lampu remang-remang.
Debu menimbunku dalam langkah yang berisik. Memantulkan irama alam,
kurung cintaku...
/

/
mfin mas ya sayang, mas tadi terlalu terbawa emosi,,
mas sayank... banget ma kamu,,
cinta kadang membuat orang kehilangan kedewasaan
,
'
.
Tiada yang bisa kuharapkan kecuali sendiri
Tiada yang bisa menolong kecuali sendiri
Aku tak boleh terlalu percaya padanya
karena ia jarang menyimpan kata-kataku.
Bersiaplah untuk kemungkinan yang pahit

yaah, haruslah diterima dengan lapang dada.. apa saja.. hehe

Anak Muda,,, sedihlah, menangislah,,, aku juga pernah mengalami hal itu,,
enak ya kali jadi orang dewasa....?
AKu mau menjadi yang ku mau, inginku harus kurengkuh...


Jumat, 24 Juli 2009

Hidup Sesudah Mati, Mau ngapain ya?



Oleh MS WIBOWO

Mati atau kematian adalah fakta. Tak seorangpun mampu menolaknya. Tapi sampai sekarang, hal ini masih misteri. Pasalnya, belum ada orang kembali dari alam kubur dan menceritakan keadaan di sana. Jika orang tak percaya adanya Tuhan atau akhirat, hal itu bisa dimaklumi atau ditolerir. Tapi kalau orang tak percaya akan kematian, hal ini tak mungkin bisa ditolerir. Sebab, kematian adalah fakta, sedangkan akhirat bukan fakta melainkan suatu keyakinan yang diperkuat dengan agumen-argumen logis.

Banyak pemikir menyibukkan diri dan berusaha mengungkap teori tentang kematian. Sigmun Freud misalnya, mengatakan bahwa hal yang paling ditakuti manusia adalah kematian. Karena kematian tak dapat ditolak, manusia mencari perlindungan kepada hal yang bersifat supranatural, yakni Tuhan. Tuhan, tutur Freud, adalah imajinasi manusia itu sendiri, yang seolah-olah bisa membantu menyelesaikan misteri yang paling ditakutinya. Jadi menurut Freud, manusia yang percaya Tuhan adalah manusia lemah yang butuh perlindungan dari zat yang lebih besar. Hal ini tak ubahnya seperti anak kecil yang masih butuh bimbingan dari kedua orang tuanya.

Sementara Sartre, seorang tokoh eksistensialis yang sangat menegaskan kebebasan manusia, pada ahirnya mengakui bahwa manusia tak bebas lagi manakala menghadapi kematian. Bagi Sartre maut adalah suatu yang absurd. Ia tak dapat ditunggu, melainkan hanya diharapkan kedatangannya. Tapi kapan datangnya maut, kita tak dapat memastikan. Lebih lanjut Sartre mengatakan, dengan kematian, eksistensi berakhir dan kita kembali ke esensi.

Konsep tentang kehidupan sesudah mati terdapat hampir di semua agama-agama besar di dunia. Baik agama samawi maupun agama ardi. Agama Budha misalnya, menekankan pada nirwana, yakni Keadaan yang tidak ada atau tidak bertepi. Menurut kepercayaan agama Budha, selama berada di dunia, jiwa manusia terpenjara di dalam tubuh. Untuk membebaskannya, ia harus menyucikan diri dari rayuan hawa nafsu agar dapat kembali ke alam spiritual yang tak bertepi.

Sementara dalam agama Hindu, kelahiran kembali atau reinkarnasi menjadi ajaran pokok karena kelahiran inilah yang menjadi ukuran bagi perbuatan manusia di dunia. Jika semasa di dunia tak dapat melepaskan diri dari keinginan duniawinya, maka ia akan terlahir kembali dalam bentuk manusia atau mahluk lainnya. Sebaliknya, jika ia mampu melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi, maka ia akan mengalami moksa, yakni bersatunya roh dengan Sang Hyang Widi. Moksa dalam ajaran Hindu merupakan tujuan hidup umat Hindu. Ketika moksa manusia tak hanya bersatu dengat zat tertinggi, tapi juga mengalami kebahagian dan ketentraman.

Dalam Agama Islam, kehidupan sesuadah mati adalah kehidupan yang hakiki. Karena diyakini bahwa kehidupan di akhirat, lebih tinggi dari kehidupan di dunia. Kitab Suci umat Islam, yakni al-Quran, banyak di dalamnya ayat yang menerangkan beberapa gambaran tentang kehidupan sesudah mati. Dimana, setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas segala perbuatan semasa hidup di dunia. Amal-amal perbuatan manusia akan ditimbang. Hasilnya, jika amal baik lebih berat dari amal buruknya, maka ia akan ditempatkan di surga. Sebaliknya, bila amal buruknya lebih berat, maka neraka menjadi suaka bagi mereka. Keyakinan-keyakinan semacam ini tak hanya ada dalam Islam, tapi terdapat pula dalam agama Kristen dan Yahudi.

Kehidupan Sesudah Mati Sebagai Doktrin Agama

Manusia, sebagai mahluk yang dikarunia akal dan nafsu, selalu memiliki keinginan-keinganan dan tujuan-tujuan tertentu dalam hidupnya. Tak jarang, tujuan dan keinginan tersebut saling bertentangan antara satu dan lainnya. Bahkan terkadang, demi mencapai hal yang diidam-idamkan, sifat rakus manusia menyetir untuk menghalalkan segala cara. Sehingga timbullah saling tindas menindas dan sebagainya. Kondisi tersebut, kerap menimbulkan ketidakadilan.

Ketidakadilan, juga sering terasa bila kita melihat golongan atau oknum yang berbeda dengan kita. Misalnya antara rakyat dan penguasa. Antara orang kaya dan dan orang miskin. Contoh kasus, seorang koruptor yang tak mendapat hukuman setimpal dengan perbuatannya, akibat politik uang dan kelicikannya memermainkan hukum. Sementara yang bekerja keras dan jujur tetap tersinggirkan, tapi yang malas dan tak jujur hidup mewah dengan harta melimpah dan menduduki jabatan yang tinggi. Keadaan semacam itu, membuat manusia ingin mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Keadilan semacam itu hanya bisa ditegakkan oleh Sang Maha Adil, yakni Tuhan. Dan bila keadilan di dunia tak terlaksana, kaum agamawan yakin bahwa keadilan Tuhan akan dilangsungkan di akhirat kelak.

Inilah doktrin hidup yang diajarkan hampir di semua agama. Tujuannya tak lain agar manusia berbuat baik dan berakhlak mulia. Meskipun kebenaran dari keadilan Tuhan di akhirat belum bisa dibuktikan secara riil, tapi siapapun orangnya pasti tak ingin disiksa dan dibakar dalam kobaran api neraka. Dan telah menjadi kodrat manusia, akan bahagia dan senang bila ditempatkan dalam surga, yang digambarkan penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan.

Penegakan keadilan di akhirat adalah argumen moral yang mendukung keabadian pribadi sesudah mati. Sebagaimana diungkapkan Immanuel Kant, setiap manusia memerjaungkan nilai moral yang tertinggi. Dengan matinya seseorang, tak semua kesempurnaan moral tercapai di dunia. Kesempurnaan itu hanya bisa dicapai kalau ada kelangsungan hidup sesudah hidup yang sekarang.

Wujud Manusia Ketika Bangkit Kembali

Mengenai bagaimana manusia dibangkitkan setelah mati nanti, para pemikir dan filsuf agama berbeda pendapat. Al-Ghazali menolak pandangan para filsuf tentang kebangkitan jiwa saja. Menurutnya, Tuhan mampu menciptakan manusia dari tiada menjadi ada. Maka, akan lebih mudah lagi membangkitkan yang pernah ada dari pada yang belum pernah ada.

Berbeda dengan Ibn Rusyd yang menyatakan bahwa yang dibangkitkan kelak hanyalah jiwa belaka. Penggambaran dalam al-Qur’an mengenai kebangkitan yang bersifat badani, menurut Ibn Rusyd hanyalah penjelasan untuk orang awam saja. Dalam kitabnya Tahafut at-Tahafut, ia menambahkan bahwa Nabi pernah menggambarkan akhirat dengan ungkapan yang lebih bersifat ruhani, ‘surga itu tidak dapat dilihat, didengar dan terlintas dalam hati manusia.’ Ibn Abbas juga pernah berkata, “di akhirat itu tidak ada yang seperti di dunia kecuali nama-nama.” Di pihak lain, Ibn Sina berpendapat bahwa yang bangkit setelah mati adalah jiwa manusia. Menurut Ibn Sina, jasad dan jiwa diciptakan bersamaan. Namun jiwa bersifat kekal. Jiwa tidak rusak dan tidak rusak. Sedangkan jasad sebaliknya.

Sains modern menyatakan, kepribadian atau kejiwaan manusia berpusat pada otaknya. Jika ia mati, maka otak tak berfungsi lagi. Dengan kata lain, kepribadian atau sifat kejiwannya pun ikut musnah. Tapi hipotesa ini tak memunyai bukti yang dapat menyatakan benar atau pun salah.Terkait hal ini, Harun Nasution menulis, selain memunyai fungsi produktif diantara benda-benda materi ada yang memiliki sifat transmitif (meneruskan). Di sini otak manusia memiliki fungsi transmitif bukan produktif. Otak tak memiliki fungsi produktif, melainkan di baliknya ada ada yang menggerakkan otak untuk membina manusia. Sebagaimana yang diungkapakan oleh Henri Bergson, otak adalah alat akal. Tanpa otak, akal tak dapat berfikir.

Percaya kepada kehidupan seseorang sesudah mati mungkin mempunyai arti lain. Ada kelangsungan hidup dalam arti biologi, yakni kelangsungan benih dari generasi ke generasi lain. Dalam arti ini, tak ada kelangsungan hidup di hari kemudian. Ada pula kelangsungan hidup secara sosial, atau warisan pengaruh atau sumbangan social. Hal ini biasanya tidak menjadi masalah. Terdapat sedikit orang yang menjadi tersohor dalam sejarah, pengaruhnya atau sumbangannya tetap berlangsung walaupun ia mati. Ada pula kelanggengan impersonal, yang berarti orang atau jiwa menjadi satu dengan asalnya, atau jiwa alam, atau zat yang mutlak.

Asketisme

Di samping itu, perbincangan persoalan-persoalan eskatologi melahirkan asketisme. Sebuah pandangan hidup yang menjadikan alam akhirat sebagai tujuan utama dalam hidupnya tanpa melupakan kewajibannya di alam dunia.
Begitu besar pengaruhnya perbincangan tentang eskatologi sehingga ia sering juga diartikan dengan realitas surga dan neraka. Bahkan, gambaran kronologis tentang keduanya telah diungkapkan di dalam Kitab Suci.

Berita-berita maupun tanda-tanda tentang hari akhir banyak disinggung di dalam al-Qur’ān. Banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan erat dengan kebangkitan dan kehidupan setelah mati. Bahasa-bahasa yang digunakan sebagai simbol yang menunjukkan kepastian Hari Akhir beragam sekali seperti Hari Penegasan (Yawm al-Qiyāmah), Hari Akhir (al-Yawm al-Ākhir), Hari yang Dijanjikan (al-Yawm al-Maw‘ūd), Hari Keputusan (Yawm al-Fashl), dan lain sebagainya. Seperti yang tercantum di dalam ayat yang berarti: “Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu ditup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”

Dari seluruh bahasa simbol tentang hari akhir (eskatologi) yang digunakan di dalam al-Qur’ān, pada hakekatnya, hanya mengandung satu pesan yakni keimanan. Dengan kata lain, eskatologi di dalam Kitab Suci tersebut selalu identik dengan keimanan. Banyak sekali ayat-ayat yang menyandingkan keimanan kepada Tuhan dengan hari akhir (eskatologi), di antaranya: “Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan akan adanya kehidupan (akhirat).