Home

Rabu, 30 Desember 2009

"Kesetian Itu Hanya Milik Perempuan, Bukan Untuk Laki-Laki"


Seorang Kawan yang sekaligus sebagai kakak dan orang tuaku berkata, "Kesetian Itu Hanya Milik Perempuan, Bukan Untuk Laki-Laki" Awalnya aku kurang sepakat. Sebab walau aku juga laki-laki, tapi aku kurang sepakat jika ada pembedaan hak dan kewajiban dalam gender.
Tapi sebuah Peristiwa terjadi dalam proses hidupku. Dulu, aku menembak hati seorang wanita. Dia sangat bahagia bersamaku. Sebeb denganku, ia menemukan kenyamanan tak terhingga. Ia sangat takut kehilangan aku. Terlebih setelah ia tahu bahwa sisa cintaku terhadap wanita, yang dulu ku kejar-kejar sebelum dia, masih berarak di dalam hatiku.
Dia pun selalu bertanya padaku, apakah aku akan setia padanya, mau menikahinya, dan akan selalu cinta dia, bagaimanapun kondisi dia, masa lalunya dan keluarganya.
Aku hanya bisa menjawab dengan lagu Bang Iwan, "... hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini. Entah esok hari, atau lusa nanti, Entah..."
Berbeda dengannya yang terus berjanji setia padaku. Ia ucap sumpah setia atas nama Yang Maha Suci dalam hidupnya, Tuhan, Ibu, nenek dan binatang kesayangannya. berulangkali ia nyatakan bisa menerima aku apa adanya. pastinya dengan segala kekuranganku. Bahkan ia sempat menyuruhku mengejar wanita yang dulu jadi idamanku. jika nanti gagal mendapatkannya, kembalilah padanya. Keinginannya nanti setelah menikah, ia akan memelukku tiap libur kerja akhir pekan.
Kemanapun aku pergi, selalu ia awasi. Jika aku tak ada kabar, ia menghubungi teman-temanku dan marah-marah padaku. Ia selalu ingin tahu semua kegiatanku. Bahkan ia sempat menculikku karena menurutnya aku tak punya waktu jika ia tak melakukan itu.
Ia memaksaku untuk mengucap janji setia padanya, ataas nama yang suci Bagiku, yakni Ibuku.

Aku Ucapkan Itu.

Saat datang wanita-wanita menggodaku, aku palingkan muka. Datang pula hati seorang wanita yang dulu kukejar-kejar, namun ku abaikan dia. semua hanya demi cintaku yang pertama.
Walau sibuk, capai dsb, ku sempatkan sms tlp dan menerima panggilan dia... bukan aku pamrih, tapi karena merasa ini kewajiban dan kebutuhan jalinan cinta kita berdua. Ku kurangi aktivitasku demi memberinya sekuntum waktu. Dengan nyaman ia mengungkap semua aib dan masa lalunya padaku. Walau menyakitkan, aku terima segalanya. Justru kekurangannya membuatku semakin cinta. Ku cintai kekurangannya, bukan kelebihan. sebab siapapun bisa mencintai kelebihan. tapi tak semua orang bisa mencintai kekurangan.

Tapi

Saat ia temukan dunia baru, kawan baru, aktivitas baru, ia abaikan aku. Saat aku mengcomplinenya, ia tak terima. Menurutnya aku tak paham dia. Aku cuma mau dia ada waktu untukku,, hatinya tetap padaku.. walau mungkin agak berlebihan tapi bukankah itu maunya. Siapa wanita yang tak mau dicintai setulushati oleh kekasihnya?
Dia bilang itu mengganggu. Dia bilang aku psikopat. Aku bodoh. karena telah sering disakiti masih saja mau mencintai. Aku jatuh cinta lagi padanya untuk kesekian kalinya. Jatuh cinta berulang-ulang pada orang yang sama. Tapi saat kutanyakan, "Kamu cinta dan sayang aku g?" Jawabnya, "itu pertanyaan konyol, dua tahun pacaran masih bertanya seperti itu."
Saat kuminta ia untuk berjanji atas nama yang suci-suci, ia tak berani. Padahal aku telah membelanya dihadapan ibuku yang dulu tak setuju aku pacaran dengannya.... Di dunia ini hanya ibuku yang aku keramatkan... dia adalah sosok tersuciku...
Aku memang belum punya banyak uang untuk dikorbankan untuk kekasihku.. Tapi Atas Nama Ibuku itu sudah sangat terlalu.
Kini dia acuhkan aku.. Ia ajukan putus.. dan menunggu jawaban 'ya' dariku. Tak pernah sms atau terima tlpku. Tak ingat janji atas nama Ibu, Nenek, Binatang kesayangan dan adik2nya.
Salahkah aku setia padanya? kenapa dia bilang aku bodoh mencintainya yang banyak kekurangan.
Beberapa telpon dan sms nya terhadapa cowok lain tak boleh kulihat. Dia tak mau kutelpon pukul 01.00 dengan alasan ngantuk, tapi jam 02.00 menelpon lelaki lain. Berulang kali ia berbohong padaku atas aktivitasnya. dan aku tak boleh mengcompline-nya.
Tak bisakah Wanita mencintai orang yang tulus mencintainya...
kenapa rata2 wanita terpesona pada lelaki playboy yang jelas2 sering menyakiti hati. benarkah wanita sebenarnya tak butuh kesetian dan ketulusan? Wallahu a'lam
Jika benar demikian, nyatalah bahwa "Kesetian Hanya Milik Perempuan, Bukan Untuk Laki-Laki"
Kini ia tak pernah nyaman bersamaku....
Aku hanyalah pengganggu, pengusik hari-harinya....
Aku menagih Janji atas nama yang suci. Aku tak rela karena nama ibuku telah ku angkat...
Kembalilah kasih...
Kepergianmu dariku adalah malapetaka...
Doakan aku pembaca

Rabu, 23 Desember 2009

Tumben


Senin itu aku jumpa pukul tujuh

Tanpa lemas kusapu ilerku

Lolong anjing tak berganti kicau

Ku hampar kasur pada sinar

Keringat yang telah jadi bagiannya melayang

Duduk di tepi

Menyalakan melodi gitar tua

Sesajen hitam dan sekepul kretek menghiasi

Jalan raya membuka bajunya

Mobil sedan menggebu dengan tuannya

Ke kantor katanya

Pemuda lesu terburu membawa sebungkus makalah

Mau presentasi

Pembantu tua menyapu halaman

Pembantu muda menyuapi anak majikan

Anak itu nakal

Kelak ia akan Menikah juga

Pergi tiap pagi Juga

Sekolah juga

Menyapu juga

Punya anak lagi

Anak yang Nakal pula

Mobil tak pernah berhenti di tengah jalan raya

Angin enggan tidur di kamar saja

Kemana mereka semua menuju

Untuk apa semua mereka berjalan

Apakah dunia yang sempurna itu nikmat

Ketika semua yang kita ingin kita dapat

Minggu, 20 Desember 2009

Menagih janji yang belum terucap.

Radar nalarku menyasak dinding kamar
Membelah tulang kepala
Menjamah nuansa kosong

Lagu kenangan telah usai
Melempar ruang waktu yang hilang
Menyisa sayatan di ujung hati

Darah berlari sia-sia
Birahi memanjat tak ada guna

Kemana arwahku merayap

Janji-janji tak lagi bermahkota sumpah
Perbandingan nyata menindas pujian buta
Telapak hatinya tengkurap
Berpisau nalar menatap hina
Mengumpan sekeping koin
Yang terbungkus selembar kulit basah
Membeli ikrar lusuh yang lacur
Mengganti belai jiwa
Yang terampas senyum munafikin

Nanar mata duduk menyala
Nuansa yang kutunggu tak jua pulang
Sejak pamit ke Alaska
Tak sepucuk memori pun ia titipkan
Bakal mentahan nostalgia sepah
Memeluk senyum kekhawatiran

Menepi
Berontak dari air yang mengulum dadaku
Melompat dari raga
Berteriak di padang simpati

Setelah massa menyembah berhalaku
Nuansa menusuk perutnya karena malu
.
Bulir-bulir waktu jatuh
Sesal bersujud di kaki yang menggantung
Meneduh muka
Merapat meratap
Kuayun sebilah dendam di pipi betonnya
Menagih janji yang belum terucap.

Jumat, 04 Desember 2009

Kurangi Budaya Gotong Royong

gotong royongIni adalah secuil rekaman obrolan santai Sokre, Aris, Jame dan Deskro mahasiswa Filsafat UIN Jakarta.di Kantin Ushuluddin, Rabu 2/12/09. Sebagaimana mafhum, kantin adalah tempat perjumpaan dan pergumulan warga kampus dengan segala ide yang ditenteng di kepala. Kopi setengah gelas plastik menjadi saksi senyum Sokre. Tak tahu berawal darimana, tibalah ia melontarkan pembahasan tentang pendidikan di Indonesia.

Sokre mengatakan, kalau jadi Mentri Pendidikan, saya akan menghapus pendidikan jenjang SMA. Itu hanya buang-buang waktu dan umur. Jadi seperti di luar negeri, misalnya Prancis, sesudah jenjang SMP langsung ke perguruan tinggi.

Aris menyepakati Sokre. Ia ikut bicara. “Betul juga, banyak mata pelajaran SMP diulang di SMA. Itu pemborosan. Banyak pelajaran seperti Bhs Arab (untuk MTs), Indonesia dsb, sama dengan di MA/SMA. Masuk ke Perguruan Tinggi, pelajaran itu terulang lagi. Tapi anehnya banyak yang nilainya tetap jelek. Berarti pembelajaran di SMP dan SMA gagal/percuma. Mendingan dipadatkan tiga tahun, pasti lebih efektif.”

Jame menolak pendapat itu dan berujar, “Kenapa sih harus selalu meniru barat. Sistem pendidikan yang cocok dengan Indonesia itu adalah pesantren. Ini budaya kita dari zaman kerajaan sampai sekarang. Kelemahan banyak pesantren mungkin hanya terletak pada kurangnya keterbukaan pada dunia luar. Perhatikanlah, rata-rata santri pesantren lebih barhasil menyerap apa yang mereka pelajari. Karena di pesantren mereka langsung mengaplikasikan apa yang mereka dapat sebagai bagian dari keseharian.”

Akhirnya, Deskro angkat suara. “Sebenarnya manusia Indonesia butuh pengutan karakter individu. Kalau secara individu kita kuat, maka bayangkan jika bersatu. Otomatis akan lebih kuat. Selama ini dari jenjang pendidikan SD-Perguruan Tinggi, kita selalu didoktrin bahwa bangsa kita punya budaya gotong-royong. Kita harus melestarikan budaya tersebut. Karena ini bagian dari jati diri bangsa.

Banyak yang menyebut, nilai-nilai itu telah terkikis. Tapi kenyataannya, doktrin itu bersemayam dalam jiwa manusia Indonesia. Padahal gotong-royong punya sifat negatif, yang membuat masing-masing individu tegantung pada kekuatan massa. Kita merasa menjadi pribadi lemah, jika tanpa kawan. Ketika individu-individu lemah itu bersatu, berbuahlah persatuan yang lemah, terutama pada jiwa dan pikiran.

Dalam kerumunan massa yang besar, individu telah hilang. Mereka tak lagi menjadi individu, melainkan telah menyatu dalam massa. Lebih lagi jika mereka secara pribadi memang lemah.

Kita pasti paham, bahwa massa tak kenal pengetahuan, etika atau akhlak. Massa hanya butuh perintah dan komando saja. Mereka siap gebuk siap pukul tanpa pertimbangan rasio dan etika.

Karenanya, yang paling bangsa Indonesia butuh adalah penguatan karakter Individu. Selama ini, doktrin gotong-royong terlampau dilebih-lebihkan. Sehingga menciptakan pribadi-pribadi berkualitas lemah. Bukan berarti gotong-royong sepenuhnya buruk. Ini perlu ada sebagai penyeimbang. Tapi jangan berlebihan.

Jangan terlalu khawatir/merasa kita telah kehilangan budaya gotong-royong. Sebab, manusia secara naluriah memilikinya. Sedangkan kekhawatiran hilangnya budaya ini hanya akan memengaruhi alam bawah sadar/jiwa bangsa Indonesia menjadi manusia lemah yang takut sendirian... hehehe

pic source : http://teresakok.com

Selasa, 01 Desember 2009

Iklan Gratis; Percayakan Produk Anda Di Sini

Salam Kreatif

“Kebahagiaan hanya akan nyata jika dibagai.” Bagitu ungkap Alexander Supertramp menjelang akhir hidupnya dalam pengembaraan ke alam buas di Alaska. Tentu makna dan kalimat di atas tak berakhir di situ. Silakan lanjutkan sendiri.

Baiklah kawan,

Berkembangnya teknologi dan informasi, tidaklah harus mengikis nilai kemanusian kita. Sebagai insan berakal, manusia adalah mahluk kreatif. Dalam setiap raga terdapat jiwa kreatif yang mampu mencipta. Ciptaan kita tak berarti jika hanya terpajang di kamar.

Karenanya, Bermodal Page Rank 2 dan jalinan komunikasi dengan berbagai komunitas dan organisasi di kampus-kampus se-Jabotabek, kami membuka kesempatan kawan-kawan dari dunia nyata dan maya untuk mengiklankan kreatifitas dan produknya. Untuk bulan pertama, pemasangan benner iklan di blog ini gratis. Selanjutnya, hanya akan dipungut biaya Rp.10.000. Pemasangan banner iklan bisa langsung hubungi sdr Pandi Merdeka atau saya sendiri. Bisa juga ketemu di facebook Pagar Dewo. Baik online maupun offline.

Demikian, sebagaimana tersebut di atas, tujuan kami tak lain untuk mengembangkan semangat kreatifitas

Berwisata Ke Kawah Putih Lembang Bandung



Tiba-tiba mataku terbuka. Sadar bahwa mentari telah tinggi, segera kugapai HP-ku. Tertera di layar 32 panggilan tak terjawab dan empat pesan pendek. Ini gawat jam 08.30. Aaah, telat. Aku sudah ikhlas dan siap kalau ditinggal. Sebab bukan hanya aku dan kekasihku yang berangkat dan ikut dalam rencana. Melainkan tiga teman cewekku, yakni Heni, Ahdika, Rika dan satu lagi Iyang, sepupu cewekku yang nunggu di Bandung.
Dengan muka natural bangun tidur, kuangkat telpon.
“Halo, udah berangkat ya?”
“Udah, nih udah di Lebak Bulus.. Kamu ngapain aja sih semalem? Tidur jam berapa? Nggak enak ama anak-anak...”
“Ya udah ga papa, kamu sama teman-teman berangkat aja.”
Telpon tertutup. Ku hisap sebatang puntung rokok sisa semalam. Bersiap mendengarkan cerita dari Bandung. Sepuluh menit kemudian, telpon berdering. Icha, cewekku menyuruh segera ke Lebak Bulus. Nggak usah mandi. Cuci muka saja. Buruan.
Kukemas mukaku semanis mungkin. Setengah jam berdandan tanpa mandi, sampailah aku di Lebak Bulus. Kami Berangkat dengan Bus Primajasa Jurusan Garut. Kata kondekturnya kita bisa ke Bandung naik bus ini. Nanti sampai Cibaduyut kita turun lalu naik angkot ke Luwi Panjang. Dan ternyata, dari Luwi Panjang ke Lembang, Kawah Putih jauh sekali. Belum lagi dari pintu masuk menuju kawah putih masih 5 km lagi. Tapi tak apa, seluruhnya menakjupkan. Mulai dari jalanan yang berkelok. Sopir angkot yang handal. Dengan kecepatan tinggi melewati jalan berkelok-kelok. Kebun-kebun stroberi dan macem-macem lah.



Sampai di Kawah Putih jam setengah tiga. Tak lama kabut mulai menyelimuti. Bareng dengan gerimis. Aku benar-benar menikmati pemandangan ini. Serasa bukan berada di planet bumi. Wauow sungguh luar biasa.
Menjelang magrib kami beranjak. Belum puas sebenarnya foto-foto. Tapi mau apalagi, kabut makin tebal. Telapak tangan makin tak terasa. Apalagi Rika sudah mulai batuk-batuk. Sesuai peringatan, kalau sudah menjumpai gejala batuk-batuk, maka segera menghindar dari kawah.
Setelah makan stroberi berbagai olahan. Kami menutup jalan-jalan ini berbelanja. Otomatis ke Cibaduyut lagi. Jam sembilan malam, berangkat lagi deh ke Jakarta. Masih pengen lagi ke Kawah Putih. Semoga bisa ke sana lagi.... bagi yang belum, kesanalah.. di jamin g rugi.




Sebenarnya, wisata ke Kawah Putih ini berawal dari ajakan Vina, mahasiswi Tafsir Hadits FUF UIN Jakarta. Katanya tempat wisata satu ini sangat mempesona. Kemudian ide itupun aku sampaikan pada kekasihku. Beberapa bulan kemudian, tersusunlah rencana. Bulatnya tekad kami pun kusampaikan pada Vina. Tapi ia masih menunggu konfirmasi dari boy friend-nya. Hingga satu hari menjelang keberangkatan, belum ada kepastian darinya. Maafin Aku ya Fin..... Kapan2 kita Ke Kawah Putih lagi dengan banyak kawan