Home

Minggu, 17 Juni 2012

Profesi Baru

Gulung Tikar Kenangan

Menyedihkan. Senja itu aku sendiri keluar kamar. Bukan mencari udara segar. Mungkin cukup secangkir kopi. Menyeruputnya demi sedikit, diasapi samsu, dan satu lagi, mendengarkan cerita. Cerita apa saja, dari seorang teman atau kenalan. Kupikir itu sejenak membantu melupakan diri sendiri yang kacau. Mungkin juga, Pendengar Cerita adalah profesi baru yang belum banyak orang tahu. Barangkali.

Langit cerah sore itu. Setelah adzan magrib, ku saksikan jejak surya berupa mega kemerah-merahan. Seperti wajah pengantin baru malu-malu mau masuk kamar.

Tapi sudahlah, yang penting akhirnya ada satu teman ngopi dan siap ku dengarkan ceritanya. Cerita apa saja.
Kami berdua meluncur, menyeberangi deras lintas jalanan, mencari sebuah angkringan, yang kalau tak salah berlokasi di Jl. Pisangan. Ternyata tutup. Mungkin bangkrut.

Kami meluncur lagi, berbalik arah, memotong jalan, menuju daerah Mabad. Menurut temanku itu, ada sebuah angkringan juga di sana. Ia pernah ngopi bersama pacar yang telah berubah mantan, beberapa waktu silam.

Aku setuju. Sekalian mengantarnya ke muara nostalgia. Mengusap-ngusap pudaran memori, dan apa sajalah.
Apapun bisa mengikat kenangan. Entah suara, warna, tempat, juga bau Termasuk angkringan yang kami tuju.
Hmm, pasti temanku ini akan bolak-balik cerita tentang mantannya, melebihi panjang jarak tempuh roda motor atau sekuat dan setabah semburan lumpur Lapindo. Mengingat akhir kisah mereka kurang stabil. Begitu yang ku terima menurut kesaksian beberapa teman dan saksi kunci.

Di atas motor yang kami kangkangi, muter-muter tak ketemu. Angkringan itu tanpa bekas. Tutup pun tidak. Tak ada jejak. Mungkin gulung tikar.

Begitulah, kenangan seorang teman yang gulung tikar.

Selasa, 05 Juni 2012

Nirkomunikasi

Lanjut bahasa apa lagi?
Tiada abjad
kalimat
terentang sepanjang abad
bernyali dikemudi
menego masa lalu
melobi masa depan

Terjebak kekinian
alas paling dasar
segala kesadaran
mewaktu selamanya
tanpa kenal keabadian

Sendiri
dan mati

Mei 2012

Hujan di Sore Hari


Di ujung hari yang mendung
serombongan anak-anak angin yang nakal
mulai berisik
menggelisahkan semedi daun-daun
Biru langit tertutup pelan
katak-katak tersenyum
menanti datangnya hujan

Lendir seharian menyumbat penciuman
mengingatkan aroma
hadirkan masa lalu

Ketika tersentak teriak lembut ibu
membangunkan tidur
Kucing belang menunggu di depan tungku
usai sembahyang
ku nikmati teh hangat
bersamanya dan sepotong roti pagi (ini memang tak biasa di desa-desa, spesial buatku)
Ingus di hidung merekatkan kesan kuatnya nuansa

Kini hadir kembali
Di taburi wangi balsem menghangati dada
Balur minyak kayu putih di kepala
Ah sore yang gerah

April 2012