Home

Senin, 26 Maret 2012

Bunuh Diri


Bob berusaha membuka mata saat jam di ponselnya menunjukkan pukul 13.00. Komputer di sudut kamar kost-nya masih menyala. Melalui speaker aktif, winamp melantunkan sayatan gitar musik-musik blues. Semalam suntuk pemuda kurus berambut gondrong ini menenggelamkan diri dalam larik kalimat buku-bukunya. Sampai mentari mengintai, barulah ia merasakan letih di badan. Ia sengaja tak mematikan komputer Pentium III-nya itu, dengan harapan ketika terbangun ia bisa cepat mengganti lagu di winamp-nya dengan lagu-lagu keras agar segera tersadar dan tak bermalas-malasan.
***
Begadang menjadi kebiasaan sejak ia mulai mengenal teman-teman mahasiswa serauntauan. Semula, di semester-semester awal kuliahnya, Bob masih membawa kebiasan lama. Ia tak pernah tidur di atas jam 22.00. Kebiasaan ini terjaga, karena di awal-awal studinya, Bob tak punya tempat tinggal. Ia menjalani hidup sebagai mahasiswa gembel, yang tiap malamnya tidur di emperan sebuah masjid. Dingin, nyamuk dan gumaman para pengurus masjid menjadi menunya sehari-hari. Tapi demikian, Bob tetap merasa tenang. Entah kenapa ada sebuah rasa tenang, bahagia dan bebas tinggal ilegal di sebuah masjid yang terletak di seberang kampusnya. Kebiasaan itu luntur dan lenyap jelang masuk semester IV, gara-gara sering dipaksa begadang malam oleh teman-teman seangkatan dan senior atasannya, untuk sengaja membaca dan menelaah buku dan karya-karya filsafat. Yang lebih parah, sejak ketemu teman-teman seperantauan. Karena merasa sama-sama anak seberang, mereka banyak menggumamkan bermacam rencana dan impian. Hingga tak terasa malam pun menghilang.
***
Bob mulai menggeser tubuh dan menggerakkan tangan menggapai mouse. Ia mengisi plylist winamp dengan lagu-lagu System Of Down. Setelah irama menyala keras, Bob duduk melepas selimut sarungnya. Kemudian ia merapihkan buku-buku yang berserak di samping kanan kiri tempatnya berbaring.
Seperti biasa, pasca tersadar dari mimpi siangnya, Bob langsung menyalakan dispenser. Hanya dengan cuci muka dan rambut acak-acakkan, ia melangkah ke warung yang berjarak sepuluh meter dari kamarnya. Pak Dahlan, lelaki tua penunggu warung dengan rambut beruban, sudah tahu apa yang akan Bob beli.
“Kopi item, rokok kretek setengah bungkus, sama kue putunya berapa buah?” tanya Pak Dahlan tanpa menunggu kata dari Bob.
Bob tersenyum dengan muka khas kucel. Ia mengacungkan dua jari, yang berarti dua buah kue. Sekembalinya di kamar, dispenser menjalankan tugas dengan baik. Air telah panas. Bob menyedu kopi instan dan menggulung bungkus kopi untuk dijadikan pengaduk.
Beberapa saat mata Bob menerawang kosong. Seperti ia tak peduli dengan kemegahan langit biru dan terangnya siang yang baru ia temui di luar kamar. Debu dari udara luar perlahan membelai poster-poster di kamarnya. Buku-buku filsafat yang tertumpuk berantakan menatapnya heran. Dengan penuh perasaan, Bob menghabiskan tiga batang kretek pertama tanpa aktivitas lain.
Kopi di gelas tinggal setengah. Hati Bob tak ingin mandi sebelum menghabiskan seisi gelas kopi dan semua batang kretek yang tersisa. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada sebuah buku kecil, yang terselip di antara Critique of Pure Reason­-nya Immanuel Kant dan Memahami Negativitas-nya F. Budi Hardiman.
Ia merengkuh buku kecil terjemahan berjudul Islam dan Pembebasan itu, yang tak lain berisi kumpulan tulisan Asghar Ali Anginer tentang tema terkait. Tiga tahun lalu, Bob tak sengaja lewat di depan pelataran parkir kampus. Ternyata ada bazar. Ia menyempatkan waktu untuk melihat-lihat, tanpa niat beli. Namun buku bersampul hitam itu sepertinya berjodoh dengannya. Ia muncul saja di hadapan Bob. Harganya pun terjangkau. Jadilah buku itu kini di tangan Bob.
Bob menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia membuka secara acak lembar-lembar buku tersebut. Beberapa garis pena mewarnai larik-larik kalimat dengan lekuk yang semrawut. Seluruh halamannya sudah tak perawan lagi. Bob selesai mengobrak-abrik isi buku ini sehari setelah pembelian. Namun keisengannya yang sekadar ingin mengingat jejak pembacaannya sirna seketika. Matanya terpaku pada kalimat yang tertera di halaman 43.
“... Sesungguhnya kata kafir dalam al-Qur’an (Kitab Suci Umat Islam) merupakan istilah fungsional bukan formal. Orang kafir yang sesungguhnya adalah orang yang arogan dan penguasa yang menindas, merampas dan melakukan perbuatan-perbuatan yang salah, dan tidak menegakkan yang ma’ruf dan justru sebaliknya, membela Yang munkar. ... orang mu’min sejati bukan hanya mereka yang mengucap dua kalimat syahadat. Melainkan mereka yang menegakkan keadilan bagi kaum tertindas dan yang tidak menyalahgunakan posisi mereka, menindas orang lain ...”
Bob tak menyelesaikan bacaannya. Ia tak niat lagi mengulang buku yang telah khatam dibacanya dua tahun lalu. Ia paham betul apa isinya. Ia sepakat dengan penulisnya, yang menyatakan bahwa kelahiran Islam di Mekah memiliki semangat pembebasan. Ketika itu, kota Mekah merupakan titik pusat pertemuan para pedagang di Timur Tengah. Orang-orang kaya semakin jaya dan kaum miskin terpinggirkan. Muhammad datang dengan spirit mengubah kehidupan masyarakat Mekah. Terutama penindasan orang-orang kaya yang menumpuk kekayaan dan hanya mementingkan sukunya, tanpa peduli kaum miskin.
Setelah mandi, Bob bersiap menuju Kampus. Tak ada kuliah hari ini. Ia sengaja ingin bersantai dan membaca buku di kantin. Selebihnya mengajak kawan-kawan yang bersedia untuk sekadar berdiskusi ringan.
Setelah mengunci pintu kamar, ia melangkah santai dengan sweater menutup rambutnya. Jarak tempuh ke kampus hanya 100m. Jalanan ramai seperti biasa. Beberapa pedagang kaki lima berjajar berantakan. Motor hilir mudik memekak telinga. Semua tak menyisakan keanehan bagi Bob. Ia kenal betul jalan Pesanggrahan ini. Tapi entah kenapa, terasa ada yang berbeda. Ia tak menjumpai teman fakultasnya seorang pun. Padahal biasanya, teman-teman bertebaran menyapanya.
Kepenasarannya makin bertambah setelah kakinya menginjak kampus. Puluhan polisi tampak berjaga-jaga. Ambulan merengek-rengek memecah kebisingan.
“Ada apa boy? Kok banyak polisi masuk kampus? Ada demo?” tanya Bob pada seorang mahasiswa yang tak dikenalnya.
“Kamu mahasiswa mana?” mahasiswa itu balik tanya sambil memerhatikan rambut gondrong Bob.
“Ushuluddin.”
“Tuh di fakultasmu ada yang bunuh diri.”
“Hah...!!! bunuh diri?!”
“Iya, dua orang terjun dari lantai tuhuh,” jawab mahasiswa itu.
Bob buru-buru memercepat langkah, tak memeduli ratusan mahasiswa yang berkerumun dan polisi berjaga-jaga. Ingatannya langsung tertuju pada dua temannya, Doni dan Hanif. Kedua nama itu adalah senior Bob, yang lebih tua empat semester. Baru kemarin sore Bob nongkrong di kantin dengan keduanya. Mereka resah dengan kebijakan kampus yang akan men-drop-out (DO) mahasiswa semester XIV ke atas.
Beberapa hari sebelumnya juga kepada Bob, Doni dan Hanif pernah menyatakan diri sebagai korban sistem. Dulu, tahun 2003, saat Hanif dan Doni masuk sebagai mahasiswa baru, tak ada peraturan DO untuk semester XIV. Tahun 2006, muncul peraturan yang sedikit berat, berupa pelucutan status sebagai mahasiswa reguler. Mereka tetap menjadi mahasiswa, namun dari program non-reguler.
Non-reguler adalah program perkuliahan bagi semua kalangan. Tak terbatas usia maupun umur ijazah. Tak ada batas formal masa belajar. Syarat menjadi mahasiswa non-reguler hanya satu, punya ijazah asli SMA.
Program non reguler ini diadakan sejak tahun 2001 dan hampir terdapat di semua fakultas. Di antara manfaatnya adalah, Kampus bisa diakses oleh siapa saja yang memiliki ijazah SMA. Sehingga tak ada kata terlambat untuk belajar di UIN. Selain itu, bagi mereka sudah bekerja, perkulihan ini tak akan mengganggu. Sebab jam kuliah baru dimulai pukul 16.30-21.00. Selain itu, banyak dosen yang tak mendapatkan layak gaji. Padahal kompetensi keilmuan mereka cukup bagus. Mereka bisa menjadikan program non-reguler ini sebagai tempat untuk mencari penghasilan tambahan dengan tetap mengabdi pada dunia keilmuan.
Program ini juga merupakan angin segar bagi mahasiswa yang fokus dalam kajian ilmu sosial, seperti ushuluddin, filsafat, sosiologi dan sebagainya. Pasalnya, tugas mereka bukanlah seperti mahasiswa dari fakultas keguruan, kedokteran, ekonomi sebagai calon buruh di bidangnya. Bagi mahasiswa ilmu sosial yang idealis, menjadi tukang di sebuah bank atau perusahaan bukanlah tujuannya. Itulah pikiran Doni dan Hanif yang sempat mereka ungkapkan pada Bob.
Namun rektor yang baru terpilih tahun 2006, menghapus program non-reguler pada tahun itu juga. Alasannya, program ini tak menguntungkan kampus. Dan justru membuat mahasiswa meremehkan masa studinya, karena kesempatan berlama-lama di kampus menjadi tak terbatas. Selain itu, adanya kelas malam, membuat tagihan listrik kampus membengkak, serta mengedarkan gosip tak sedap tentang prilaku mahasiswa Islam di malam hari dalam kampus.
Doni dan Hanif termasuk dua orang yang paling mengecam penghapusan program ini. Menurut mereka, kebijakan itu sebenarnya bertujuan menghancurkan para pemikir di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Sebab, di fakultas ini paling banyak mahasiswa yang memasuki semester XIV ke atas, dan berharap bisa menyelesaikan beban matakuliah di program non reguler.
“Tugas kita adalah berpikir mencari solusi terhadap masalah-masalah yang bergelimangan di masyarakat. Indonesia merupakan laboratorium sosial yang sangat besar. Aku harus benar-benar matang sebelum terjun ke masyarakat. Tak cukup dengan modal nilai bagus tanpa keilmuan yang mumpuni,” begitu ungkap Doni beberapa waktu lalu dalam obrolan santai di kantin dengan Bob.
“Di Indonesia, para pemikir sangat tidak dihargai. Dan kita lihat saat ini, fakultas-fakultas pemikiran semakin dimarjinalkan. Banyak orang mengalamatkan isu buruk serta cap sesat terhadap mahasiswa di fakultas sosial seperti ushuluddin dan filsafat. Padahal, masa depan masyarakat ada di otak para pemikir ini. Ketika para pemikir semakin disudutkan bahkan dimusnahkan, maka bersiaplah menyongsong kehancuran Indonesia. Bangsa-bangsa asing akan mendikte kita dengan teori-teori asing milik mereka,” papar Hanif panjang lebar sore kemarin saat bertemu Bob dan teman-teman jurusannya.
Belum jelas, apakah tindakan kedua sahabat Bob mengakhiri hidup itu karena peraturan kampus atau karena hal lain. Yang pasti kini, kedua orang itu tergeletak bersebelahan dan berlumur darah. Tulang-tulang mereka patah dan retak, dan sebagian menyeruak keluar dari kulit. Bob tak tahan membendung kucuran air mata. Ia ingin memeluk tubuh dua sahabat itu. Namun puluhan polisi dengan police line menghalanginya.
Sejauh ini polisi belum memastikan sebab kematian mereka. Ada dugaan pembunuhan, perkelahian, dan yang paling kuat bunuh diri. Polisi melakukan sterilisasi di seluruh area Fakultas Ushuluddin. Tertutama lantai VII dan tempat kedua mayat terkapar. Pemandangan ini membuat pikiran Bob kacau. Ia melangkah menuju kantin membeli segelas kopi. Berharap kafein bisa menenangkan pikiran.
“Eh, Bob,” sapa Burhan, teman satu fakultas Bob, mengagetkan kegelisahan.
“Ya, kamu dari tadi di sini, Han? Gimana sih kejadiannya? Jam berapa?” tanya Bob.
“Ya aku sejak pagi di sini. Malah aku sempat ngobrol sama mereka berdua tadi di meja ini. Iiih, aku jadi ngeri nih.”
Ngeri kenapa? Takut hantu mereka nyatronin kamu? Atau takut diminta jadi saksi?”
“Ya dua-duanya.”
“Ya sudahlah, nggak perlu takut. Nanti aku dampingi kamu kalau dipanggil jadi saksi. Apa saja yang kalian bicarakan tadi?”
Burhan terdiam. Matanya kosong menatap keramaian. Ambulan dan mobil polisi meraung-raung menghentak udara dengan sirenennya. Wartawan berkeliaran dengan pakaian dan peralatan khas mereka mencari sosok yang tepat untuk diwawancara.
“Heh, Han! Sudah, santai saja. Jangan bengong. Everything gona be ok, you know?” ujar Bob sambil memegang pundak Burhan. Burhan tersentak kaget.
“Gimana mau santai. Aku ngobrol jelas dengan mereka setengah jam sebelum mereka mati.”
Bob diam sejenak, mencari kalimat yang tepat untuk bertanya agar Burhan leluasa bercerita.
“Ayo kita keluar. Kita ngopi di warkop saja. Biar santai dulu,” ajak Bob.
Burhan mengangguk. Bersama mahasiswa berambut kriting itu, Bob kembali melewati keriuahan orang yang membincang tragedi ini. Polisi dan wartawan masih melakukan tugasnya. Burhan tampak kaku ketakutan.
“Han, santai. Jangan terlihat gugup gitu. Nanti kalau mereka curiga denganmu, malah bisa berabe urusannya. Bayangkan wajah Julia Astuti yang cantik itu. Biar kamu bisa tersenyum.”
“Ha ha ha h..., upss sory,” Burhan hampir tertawa lepas gara-gara aku mengingatkannya pada seorang perempuan yang lagi ia dekati itu.
“Heeeh... kontrol dong kontrol bro....”
“Oke, oke, sory-sory,” ujar Burhan tersenyum senang.
Sampai di warkop samping kampus, Bob langsung memesan segelas kopi hitam untuk berdua. Televisi yang terpasang di sudut atas warkop menayangkan Headline News tentang peristiwa yang terjadi. Semua orang menatap fokus pada layar kaca itu.
Bob memerhatikan mimik sahabatnya yang kelu melihat siaran berita itu.
“Eh bro, gimana Julia Gilard, Eh Julia Astuti? hehehe,” tanya Bob coba mencairkan ketegangan.
Burhan bergeming. Matanya kosong tembus ke balik cahaya televisi.
“Yeeh... dikacangin nih.”
“Eeemm, eh apa? Apa? Julia? Ya gitulah bro. Seniorku masih tetap ngedeketin dia. Dan parahnya, Julia nggak sadar kalau seniorku tuh punya maksud tertentu. Dia tahunya, maksud seniorku tulus mau membimbingnya belajar menulis. Tak tahu lah bro, aku hanya bisa pasrah. Tapi tetap, aku mau bersaing secara sehat,” papar Burhan dengan lepas.
“Tapi kamu kok kelihatan ragu untuk bersaing sama dia? Dia kan sudah punya istri anak dua. Lagipula dia punya trackrecord buruk dalam percintaan. Eeem, apa katamu kemarin, penjahat kelamin?”
“Enak aja penjahat kelamin, penjahat wanita. Gitu-gitu juga seniorku, jago nulis, punya karya nggak seperti kamu” sambar Burhan sewot sedikit.
“Hahahaha, ,” Bobl tertawa ngakak.
“Sialan,” kata Burhan.
“Iya, benar kan, penjahat? Buktinya, Julia, kecengan juniornya mau diembat juga,” Bob tertawa kembali.
“Sudah, sudah ah, kita bahas Julia tanpa dia, titik,” Burhan benar-benar kesal.
“Oke-oke, jangan marah dong. Mukamu itu sudah lebih tua dari usianya. Kalau sering marah, tambah parah nanti. Oke, jadi gimana?”
“Gimana apanya?” tanya Burhan.
“Ya itulah, Julia.”
“Kita sama-sama tahu, seniorku sudah mapan dan punya pacar yang siap nikah pula. Usianya pun sudah lumayan tua. Tapi sampai sekarang dia masih suka dan jago menaklukkan hati setiap wanita. Ia sangat berpengalaman dalam hal ini. Julia takkan percaya dengan penjelasanku. Karena seperti yang kamu bilang, cewek takkan menyukai cowok yang menjelek-jelekkan cowok lain. Meskipun itu fakta dan niat kita demi kebaikan cewek tersebut. Niat baik kan tak selalu diterima dengan baik, bukan begitu?” papar Burhan. Bob hanya mengangguk.
“Aku tak percaya dengan niat tulus seniorku ngedeketin Julia untuk bimbingan menulis. Karena dari cerita Julia dapat kusimpulkan, dia sudah mengincar Julia sejak lama. Lagipula, Ia mendapatkan nomor Julia dengan cara yang kubenci, yakni mencuri dari HP-ku. Apalagi coba? Meski ia bilang padaku niat ngedeketin Julia itu agar aku dan Julia bisa jadian, aku tak percaya. Ya, aku cuma bisa pasrah bro sambil berdoa. Apalagi, seniorku itu punya ilmu kebatinan untuk memelet cewek,” papar Burhan.
“Bilang saja ke seniormu itu, ‘Bang, Abang mundur dong’, ini sudah bukan jamannya orang tua seperti dia. Sekarang kan saatnya ‘Yang Muda Yang Kreatif’?”
“Sudah, tapi dia bilang, ngedeketin Julia agar aku cepat jadian.”
“Ya sudahlah bro, kelebihan dia dari kamu adalah dia sudah punya banyak pengalaman menjalin hubungan asmara. Sehingga dia tahu bagaimana memerlakukan wanita. Apalagi ia terkenal suka selingkuh. Beda dengan kamu yang baru sekali pacaran seumur hidup. Selain itu, ia juga punya ilmu kebatinan. Mendingan lo belajar ama dia baik-baik, bagaimana cara yang baik dan benar mendapatkan wanita idaman. Hahaha.. Tapi tenanglah, kelemahanmu adalah kelebihan,” papar Bob.
“Maksudmu?” tanya Burhan.
“Ya, pikir sendirilah. Kamu ini, kuliah sudah menyusahkan orang tua, masa cuma berpikir saja harus menyusahkan orang lain,” jawab Bob.
Burhan terdiam. Tapi tampak di wajahnya ketenangan mengalir pelan. Orang-orang di warkop masih membincang tentang bunuh diri di kampus tadi. Dari kejauhan, sirene polisi juga masih terdengar.
“Oya Han, kamu ngomongin apa saja sebelum Hanif sama Doni bunuh diri?”
“Ya seperti biasa, tentang kampus,” kata Burhan tenang. “Tapi tadi pagi Hanif kelihatan seperti menahan beban. Ia juga bilang, sejak semester IX sudah tak mendapat kiriman dari orang tua. Bapaknya menyuruh cepat-cepat lulus dan kerja. Adik-adiknya butuh biaya lebih untuk sekolah. Hasil bertani orang tuanya sangat minim. Tapi Hanif tak mau pulang ke kampung karena teman-teman sebayanya sering mencemooh. Mereka menganggap Hanif hanya menghambur-hamburkan uang dan waktu saja. Mereka tak percaya dan tak bangga, Hanif sedang memikirkan bangsa. Orang-orang kampung Hanif akan bangga jika ia pulang kampung berstatus sebagai anggota dewan atau kaya raya. Tak peduli apakah kekayaan itu hasil korupsi. Seperti pada umumnya, masyarakat menganggap kuliah adalah ajang untuk mencari pekerjaan dan penghasilan yang lebih tinggi dan lebih besar,” papar Burhan.
“Kamu tahu alamat blog atau web-nya Hanif sama Burhan?” tanya Bob.
“Ada, di FB mereka juga ada kok, lihat saja.”
“Ya. Okelah kalau begitu. Aku mau cari tahu penyebab bunuh diri mereka.”
“Mau jadi detektif nih ceritanya?” ledek Burhan. Bob terkekeh.
Bob berdiri menghampiri abang warkop. Ia merogoh kantong celana mengambil recehan. Tapi belum sempat membayar kopi yang tadi ia minum, mata Bob kembali tertarik ke arah televisi. Polisi menemukan secarik kertas di lantai VII Ushuluddin. Nama Hanif dan Doni tertera di bagian bawah sebagai tertanda penulisnya. Bob terpaku memerhatikan layar kaca saat seorang petugas membacakan isi tulisan di kertas tersebut.
“Jika negara dan kampus tidak segera sadar bahwa ada salah dalam kehidupan ini dan terus masih menjalankan sistem seperti sekarang, maka tunggulah para pemuda terbaik yang segera menyusul kami berdua. Wahai mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat, janganlah kalian berpikir untuk menjadi tukang, buruh atau budak seperti mahasiswa di fakultas-fakultas lain. Di dunia ini hanya ada dua fakultas, Ushuluddin dan Bukan Ushuluddin. Dan demi ketentraman batin kita, bergabunglah kawan-kawan di Aliran Jomblo Kebatinan yang didirikan oleh Pagar Dewo. Salam ketenangan untuk Pagar Dewo, teruskan perjuangan kami. Jangan khawatir, kami sudah menemukan ketenangan batin yang sesungguhnya.”
Bob terkejut bukan kepalang mendengar inisial FB-nya, Pagar Dewo, disebut dalam tulisan itu. Ia mulai risau. Polisi pasti akan mencarinya, sebagai saksi dan bisa jadi tersangka. “Ah, kawan, kenapa kalian tak bilang-bilang kalau mau bunuh diri. Kenapa pula kalian bawa-bawa namaku?” ujar Bob dalam hati.
Setalah membayar kopi, Bob langsung pergi menuju warnet. Berbagai celoteh pertanyaan Burhan tak ia hiraukannya lagi.
Bersambung...

Minggu, 18 Maret 2012

Pujangga

Tatkala Angin Selatan menyelesaikan langkah kembaranya
demi misi pencarian pengendali dunia
ia bertanya pada waktu yang mulai renta. Rambutnya putih. Matanya rabun karena serpihan radiasi kepung kepingan peristiwa yang menggulung bagai gelombang tsunami senjata,
manusia melawan kemanusiaan.
Atas kehendak apa dan siapa para raja di dunia berkuasa?
Satu kata yang mewakili adalah cinta.
Manusia macam apa yang dapat mengendalikan dan memiliki pengetahuan mendalam tentang cinta?
Dialah para pujangga. Para penasihat raja. Membisiki telinga-telinga manusia dengan suara angin, yang berhembus menembus masa. Mengatakan segala yang telah ada, juga segala yang seharusnya.

Kamis, 15 Maret 2012

Mari Berbenah

Merangkai fondasi

merajut tepi-tepi

menikmati jerit tangis

yang selalu menghampiri

karena sesal dan masa lalu

hanya sebatas ilusi

Ilusi yang berbuah mimpi

Bersegera maju tanpa peduli

sekali lagi

mereka akan meninggalkanmu