Home

Kamis, 29 Mei 2014

Ternyata Tinggi Badan Bisa Menyusut


Kelas I Sekolah Dasar. Di dalam kelas, entah sedang menjelaskan mata pelajaran apa, aku lupa. Itu terjadi sekitar 23 tahun silam. Guruku mengatakan bahwa kami, para murid, harus sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Hal itu agar di kelas dapat belajar dengan sehat dan bersemangat. Selain itu makanan juga harus bergizi. Empat sehat lima sempurna. Ini mengingat kami adalah anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Sehingga kebutuhan jasmani kita terpenuhi. Jangan lupa pula untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalsium. Nanti, di atas usia 21, tinggi seseorang akan berhenti. Tidak akan bertambah atau berkurang, kecuali gemuk atau kurus.


Aku percaya penjelasan itu. Tapi aku tak mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Makanku apa adanya. Bahkan aku ketika menginjak masa kelas IV sudah hobi puasa. Tambah lagi saat masuk SMA, aku tinggal di pesantren paman. Tirakat adalah hobiku. Aku merasa menjadi lebih dari orang lain saat sanggup melakukannya.

Bisa jadi karena itu, pertumbuhanku kurang maksimal. Mungkin. Karena tak sedikit juga orang yang hobi tirakat tapi pertumbuhannya bagus.

Aku baru sadar bahwa tinggi badanku kurang dari teman-teman pada umumnya, ketika duduk di bangku 
kuliah semester VIII. Saat itu aku berkunjung ke kampus lain dalam suatu pertemuan antar pers mahasiswa. Seusai acara kami berfoto bareng. Tampaklah dalam gambar bahwa aku paling kurus dan pendek. Kesimpulannya, tubuhku kecil di antara yang lain.

Beberapa tahun setelah lulus kuliah, saat aku menginjak usia 27 tahun, aku beli celana. Ukuran pinggang 29 tapi ukuran panjang harus dipotong kurang lebih 2-3 cm. Dengan begitu aku mendapatkan ukuran yang sesuai.

Tapi dua tahun kemudian, aku sadari dari hari kehari, celanaku semakin memanjang. Terpikir olehku bahwa ukuran tinggi badanku menyusut. Seketika juga aku ingat penjelasan guru SD-ku bahwa tinggi badan, setelah lewat masa pertumbuhan tidak bisa bertambah maupun berkurang.

Aku pun tenang dan mencoba mengecoh pikiran bahwa celana yang aku pakai saat ini bukanlah celana yang aku potong dua tahun lalu.

Kian hari kian penasaran. Aku heran kenapa semua celanaku harus aku lipat bagian bawahnya. Semua celanaku. Inilah yang membuatku mulai meragukan penjelasan guru SD-ku. Sebab ukuran tinggiku menyusut. Setelah aku perhatikan dengan seksama, benang jahitan celana yang aku kenakan saat ini di bagian bawah berbeda dengan atas. Inilah celana yang dulu pas ukurannya setelah aku potong di tukang jahit.

Makin lama makin memanjang celanaku. Tiap bulan bertambah beberapa mili. Ini jelas bahaya. Aku harus sering-sering naik angkutan Kopaja sambil berdiri menggantungkan tangan pada besi pegangan yang ada di atas langit-langit bus. Semoga saja ini dapat kembali mendongkrak tinggi badanku. Karena kalau memang bisa menyusut berarti masih bisa sebaliknya.

Aku gerah dengan semua ini. Semakin gundah dan khawatir. Tapi buat apa? Sebab guruku memang benar. Aku tidak lagi bisa bertambah tinggi, menyusut tambah rendah pun tidak. Aku hanya bertambah kurus dari hari ke hari. Sehingga celanaku melorot dari ukuruan sebelumnya. Pinggangku yang mengecil. Aku makin kurus. Saat itulah aku kembali percaya dengan pernyataan guruku.