Home

Senin, 25 Juli 2011

Rumput Teki

Lukanya belum digiring lagi
Dihalau keluar tak menerobos pagar
yang compang-camping bolong tepinya

Lukanya rumput teki
Tiada pati karena besikkan
Selagi akarnya berjabat tanah
saling mengait kuatkan trauma

Rumput teki jika tak dibasmi
satu akar seribu tunas
menyerap jatah gizi tanaman
yang buahnya kita makan

Rumput teki harus diracun
meski sisanya menerobos pagar
masuk perlahan membunuh kita


Siang di Kamar Instalasi, Le Goso Ciputat 24 Juli 2011

Yah

Katakan saja, Yah
Harapan terpendammu
Cita-cita yang belum usai kau bangun

Aku tahu kau tahu
Aku bukan investasimu
Aku bukan harta yang akan kau jual semau-maunya
Aku bukan modal
Aku tahu kau tahu itu

Maka jatuh ke tanah
Kau bebaskan aku
Entah terguling mendekat pohonnya
terseret aliran sungai
tertambat tumpukan batang rerumputan
atau angin menghempas
mengupas kulit dan dagingku
Sinarnya menyulap biji potensi
menjadi aksi berdiri
menjulang di tanah siapa
Tidak kau yang memetiknya
karena aku manusia
Aku tahu kau tahu itu

Sungai pasti bukan ke mata airnya
Aku sampai di samudra
melawan ombak
kadang harus berteman sampah dan rongsongkan yang kuat mengapung
hanya demi hasrat berjaya

Jika toh buah
Bagaimanapun mimpi purba
Pelatak...! bijinya memohon
Lalu membuah yang banyak lagi
Dan lagi.

Apakah itu harapanmu padaku?
Aku terlanjut ke tengah
Nanti setelah memantai
memasir di tanah
Kupenuhi harapanmu

Selasa, 19 Juli 2011

Jangan Kau Tanya

Seorang ksatria
laiknya kudu berkuda
sekadar pentium tiga
biar ku tunggangi walau sunyi

Ksatria musti punya pujaan hati
penyeka hampa
Aku telah memilihnya
Jauh di sana
Kuanggap menunggu juangku

Ksatria butuh abdi
Kutunjuk seorang pemuda lugu
Berambut gondrong acak-acakan
Kurus dan setia

Harus ada raja yang melantiknya
Dialah Baginda Cinta dari istana tersembunyi
sematkan tanda di topiku

Tujuan mulia jadi perjuangan
Itulah Cinta
Termaktub dalam piagam kehidupan

Biarku perjuangkan
Tampak awam dari novel dan kisah roman

Jangan kau tanya
besar mana
antara cinta dan nafsuku
padamu
Itu basi…!!!
Telah berulang kudengar
dari perempuan yang ujungnya menginjak-injak ketulusan
Memaksa beranji
lalu membayar sumpah dengan sejuta utas kata
maaf…. Aaah, tai kucing…!!!
Tapi aku takkan mundur.
Cinta tak harus nyata
Tugasku mewujudkan
Meski utopis
tak lantas menghadang laju optimis

Jangan kau tanya pula
Mengapa ku buang waktu
bukan untuk sajak pembela
nasinalisme juga keadilan
Karena saat ini
aku berada
Dalam limbo
nihilisme total

Sebentar, ada yang bertanya
katanya nihilisme total
kok masih percaya cinta?
Ada yang bias menjawab?

Sabtu, 16 Juli 2011

Sinarmu

Sejuk lumpur berlapis hijau semak-semak

Benamkan jejak terukir

aksara kasar luntur coklat-coklat

membentak penghuni sepi

Tak seterbangpun lalat

Tak sekelebatpun lindung

Tinggal gesek dinding rerumputan

Mengisak

Peradaban kian menepi

sehembus rotasi tanah mengapung

melambat cepat

lalu berhenti

Sudahkah saatnya berteriak?

Jika masih kau mendengar

kuurungkan niatku

Kemudian sepi di tengahnya

Meledak sendiri

membentuk tatasunyi

Telapakku mengepal terus memegar

Mendeteksi titik-titik sisa sinaran

Sekelip kunang-kunang pun berharga saja

Kupelihara

Mungkin kan hasilkan lingkar penerang

Tapi kunang-kunang

tetaplah kunang-kunang

Makin terang pendarnya

Makin gelap keadaan

Setetes air stalagmit goa

lantang melobang

berkat sunyi yang sempurna

Detik ini juga ku akan melayang ke sana

Le Goso, Kamar Instalasi, 16 Juli 2011

Pada Saat Itu

Lidah terkapak bisu
Udara ke rongga
tak sempat menoleh mulut yang terkatup
Entah lelah
termakan waktu mengecap rasa
ia pun bertanya
pada siapa kuucap sayang?
Cinta telah terkubur dalam-dalam
di tujuh lapis tanah hatiku
Barangkali setelah tiga peradaban
penggali gila
menunggu hancurnya dunia
Ia muncul bersinar

Cinta dewa dipuja
Cinta pelena dicuci
Cinta belahan dinanti
Bagi sebagian menjijikan
masuk telinga keluar caci
dicadangkan buat kenangan
musim kemarau nanti
tetes air mata sangat berharga
demikian proses penggilingan
cinta

el Goso, Kamar Instalasi, 15 Juli 2011

Minggu, 10 Juli 2011

Mendaki Puncaknya

Mendaki punggungnya aku merunduk

Menuju puncaknya, mewajahmu

Ia yang kau ciptakan lebih tua dariku

Yang selalu tunduk pada hukummu

Yang selalu mencipta berbuat dengan tujuan keseimbangan

Aku yang mendaki

Di bawah kadang tak ada tujuan

Perkembangan yang merusak

Menghasilkan sampah dan kerusakan

Ia kalau marah

tak peduli siapapun dimusnahkan

Dienyah kunyah berantakan

demi keseimbangan

Bukan membalas dendam

karena kesinambungan butuh korban

tak peduli siapanya

Jika tak mencapai

ku syukuri pucuk-pucuk sinar pagi

dari cermin biru berumbai dedaunan

Kembali ke bumi membawa tongkat penyangga

Semua ingatan yang melanda

ku bawa pulang

Berjalan dengan teman tak sejaman

Mengingatkanku

betapa cepat waktu berlalu

Walau harus berkorban asa dan rasa

semua telah ada dengan tujuan

10 Juli 2011