Home

Sabtu, 13 Maret 2010

Makan di Warteg Dinihari

Tiba-tiba semua barang di kamar kost-ku berbunga. Aku masih bingung kenapa aku di sini. Sejam yang lalu aku pergi, tembok triplex berwarna hitam dan lumutan. Poster-poster adu mulut berdebat tentang tuhan. Komputer bermenung mencari kata. Sound dan cicak berlomba menyuarakan aspirasi rakyat.
Semua berantakan. Kertas-kertas lecek, sajadah lusuh lunglai, galon kelaparan dan tembakau beruban. Acak-acakan, tak mau dibariskan. Buku-buku ada yang duduk, menyandar dan tidur-tiduran. Sementara baju-baju di cantelan punggung pintu berpaling muka. Belum lagi kalender, tak henti-henti belajar berhitung. Padahal jam tak lagi berdetak. Asap tak mau membumbung.
Aku tinggalkan mereka sendiri. Pergi bercanda dengan gadis penjaga warung. Tegal.

”Mas, belum tidur ya?”
“Belum.”
“Kenapa? Mikirin saya ya?”
“He eh.”
“Hihihihi, jadi ge er. Makanya ke sini ya mas?”
“He eh.”
“Hihihihi.”

Kulahap lunaknya padi dan teri yang mengeras. Menatap etalase warteg yang tembus pada dada. Ayam.

“Berapa mbak.”
“Ama apa?”
“Teri, gorengan dua.”
“Empat.”

Kuserahkan kepadanya selembar saja. Jangan banyak-banyak. Takut nggak habis.

“Ini, sisanya masih banyak, buat apa lagi? Susu? Rokok? Kopi?
“Buat besok aja.”
“Oh, buat besok.”

Nah, aku tinggalkan dia. Lelah telah mendapat kekuatannya dari kenyang. Kepala limbung. Jalanan goyang ke kanan tak ke kiri. Sebuah kotak berisi pompa air di emperan toko menarik mataku.

“Ah, sepertinya enak tidur di situ.”

Mataku lelah. Aku tak kuat berjalan. Tapi harus sampai kosan sebelum azan subuh. Ini sudah hampir jam empat. 600 meter lagi harus ku tempuh. Aku benar-benar tanpa tenaga. Sehari semalam mata tak pejam. Kini isi perut mengajak ke peraduan.
Ah, biarlah terus berjalan. Melewati toko-toko yang terpejam. Kedipan warnet dan teriakan rental PS. “Teng...!!!” suara keamanan memukul tiang. Kudengar mereka bersitegang. Seorang pemuda diperingatkan. Entah apa salahnya. Aku tak ikut campur. Biarlah aku tetap berjalan.
Kucing sudah pulas tertidur. Aku makin lemas. Biarlah aku lemas. Jangan kau pikirkan kapan kau akan sampai. Jalan saja. Karena jalanmu pada kesampaian itu.
Dan aku tiba. Kamarku, oh kamarku.... Tidak?!! Komputerku, sound-ku, poster-posterku, buku, serakan kertas, lusuhan sajadah, baju-baju yang berpaling, semua berbunga. Wangi. Kamarku jadi taman. Wangi. Wangi.
“Sudahlah.”

Sabtu, 06 Maret 2010

Ayat Tuhan Dalam Al-Qur’an Lebih Sedikit

MS WIBOWO – Jutaan tahun manusia menghuni bumi. Salama itu kehidupan tetap misteri. Kecuali bagi mereka yang menganggap misteri itu berakhir dengan pendapat agama atau kepercayaannya. Kedua hal ini merupakan keyakinan yang muncul di masa tertentu, merespon kegelisahan zaman. Hingga sekarang, keyakinan dari agama dan kepercayaan itu bertebaran di berbagai belahan dunia.

Tiap agama biasanya memiliki kitab suci berisi ayat-ayat Tuhan. Ayat-ayat tersebut adalah petunjuk dalam mengarungi samudra hayat yang penuh ketidakjelasan. Sebagai tanda, ayat bukanlah bukti. Butuh penafsiran untuk menyingkap maksad dari ayat-ayat yang diberikan Tuhan.

Karenanya, hingga kini banyak sekali tafsir-tafsir kitab suci yang dihasilkan manusia. Mengingat rata-rata kitab suci berupa ayat yang lahir ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya. Selain itu, agama telah meluber di berbagai tempat yang pasti berbeda dengan situasi dan kondisi berbeda dari tanah asalnya. Sehingga wajar jika maksud Tuhan dalam kitab suci harus sesuai dengan tempat, situasi, kondisi dan zaman yang berjalan.

*****

Selain kitab suci, Tuhan menabur ayat-ayatnya di tiap titik alam semesta. Bagi manusia yang mengunakan akalnya, ayat-ayat Tuhan tersingkap jelas di sekitarnya. Baik dalam diri manusia sendiri maupun isi langit dan bumi. Tentu jumlahnya lebih banyak dari ayat dalam al-Qur’an, Injil, Taurat, Veda dsb.

Terkait ayat yang berada dalam diri manusia, kadang sifatnya sangat subjektif dan tergantung dari kebiasaan yang dialami dan dipercaya penduduk setempat. Untuk sementara, tanda semacam itu sering dianggap irasional. Hal ini karena rasio kita belum bisa menalar tanda itu secara logis.

Misalnya, di kampung saya ada kepercayaan jika ada sepasang burung emprit atau prenjak yang bernyanyi di halaman rumah selama berjam-jam, itu berarti akan ada tamu datang. Begitupun jika ada kupu-kupu bermalam di rumah, ini biasa pertanda akan ada keluarga jauh yang burkunjung.

Sementara itu, ada tanda yang bersifat pribadi. Misalnya kedutan di mata. Selama bertahun-tahun, saya selalu mendapati hal membahagiakan jika kedutan di kelopak matan kanan. Dan sebalikknya di kelopak mata kiri. Tapi temanku berbeda, ia mengungkapkan bila kedutan di mata kiri justru akan mendapat duit.

Sekali lagi ini memang irasional. Bahkan ada kalangan menyatakan, memercayai hal demikian adalah bid’ah, sesat, kufur dsb. Tapi saya, keluarga dan orang-orang kampung saya telah berulang kali membuktikan pertanda itu. Tak tertutup kemungkinan itu adalah tanda-tanda yang dikirim Tuhan.

Bisa jadi pula ini adalah kekuatan otak manusia, baik individu atau kolektif. Telah kita tahu bahwa selama hidupnya, manusia hanya menggunakan 12% bagian otakknya. Sementara 88% bagian otak kita jarang digunakan dan belum diketahui kekuatannya. Kesimpulannya, ambil sendiri-sendiri yah.[]