Home

Jumat, 31 Desember 2010

Pesan Jiwamu

Siapa bilang raga tak hidup tanpa jiwa
Tanpa nyawa
Di malam menghampar
Tak seorangpun tahu
Walau perempuan pujaanku
Karbon menyudahi iris atas udara
Oksigen tidur kelelahan
Ruangku mati
Saintis filsuf tak bangkit dari kubur berbuku
Buruh-buruh jantung giat angkut kilo-kilo darah
Di jalan utama pembuluh dan arteri
Mereka kedengar gaduh
Mengirim cair merah segala arah
Telinga tersiksa suara
Detak mengeras
Darah cecer di jalan
Mencipta gemelontang tak keruan
Suara itu sungguh berat
Mata tak tega jerit telinga
Memejam perlahan
Tambah dalam
Menggelap di antara dada
Di sana
Jiwa bersandar merangkul lutut
Ia bingung
Kukunci ruang kutanya jiwa
Kenapa kau selalu menyiksa raga
Ia bingung
Mengapa kau tak konsekwen
Ia bingung
Apa yang kau butuhkan
Ia bingung
Sekarang kau mau ke mana
Ia bingung
Ruang senyap sesaat
Tiba-tiba jiwa membuka mata
Menatap tajam ke arah raga
Katup mulut mulai ternganga
Suara kerasnya berteriak
Tak jelas
Gagap dan cadel
“Keluarkan Aku dari dirimu…………..!!!’
Seketika mata raga terbuka
Kutuliskan pesan dari tiap jiwamu.

Jumat, 10 Desember 2010

Secangkir Malam Hitam


Aku selalu sorak kegirangan

Tiap maghrib dengan sopan

menghidangkan secangkir kopi hitam bernama malam

Pekat malam sehitam kopi di gelasku

Sering kuoploskan lelah di adukannya

Kadang kutumpahkan karena luapnya luka, duka pula cinta

Mungkin juga harta benda

Uh ekonomi

Nyaman saja tiap secangkir malam hitam tiba

Kepul polusi beriring asap rokok

Tak mampu kujelantrahkan

Ingin tutup telinga tutup mata

Tak tega

dengar jerit teriak subuh

Khawatir tanpa dasar

Malam hitam harus kusiramkan di wajah timur

Demi tumbuh mega-mega

yang mudah layu

Bingung menangis sedu

Tak kuasa tatap cahaya

Mesti terima panggang mentari

Walau sakit coba nikmati

Biar kulawan sinarnya

mendidih darahku

cipta kopi senja

Rabu, 08 Desember 2010

Andai Dendam Temanku

Aku headline
Yang terbit sekali
Bersandar pekat peristiwa
Cuil beling dari beraduannya
Gundu-gundu emosi
Chaosnya lengking bentakan
Bertubruk di udara yang merah
Tersingkirkan
Sendiri membuang
Andai-andai
Bisa bersahabat
Tentu dendam kupelihara

Aku tanah tandus
Bertabur racun sesal
Limbah pembuangan
Andai-andai
Bisa bersahabat
Tentu kupupuk hingga menjulang

Benci yang lelah membenci
Api di basah sekam
Yang tak tega membakar
Andai-andai
Bisa berteman dendam
Tentu menjelma kekuatan besar
Andai-andai
Hemat kutabung luka