Home

Jumat, 28 Agustus 2009

UIN Lebih Baik dari IAIN, Segala-galanya...


-->
Siapa Bilang, zaman IAIN lebih baik dari zaman UIN jakarta. Siapa bilang konfersi IAIN ke UIN Jakarta merupakan biang kemunduran kualitas intelektual mahasiswa Ciputat. UIN Jakarta dengan segala kemewahan gedungnya sangat lebih bagus ketimbang IAIN Jakarta tempo dulu.
Itulah pernyataan Otong, mahasiswa semester akhir Fakultas Dirosat Islamiyah UIN Jakarta. Menurutnya, Nilai lebih UIN Jakarta terlihat pada banyak aspek. Diantaranya gedung-gedungnya yang megah dan lingkungan kampus yang rapih dan bersih. "Dulu semasih IAIN dan belum ada gedung baru belum dibangun, kampus ini sangat kumuh. Apalagi kalau hujan, pasti becek sekali. Ditambah dengan toilet umum, yang kira-kira dulu terletak di jalalanan dekat fakultas tarbiyah, tak terurus dan bau sekali. Kondisi macam itu pasti memengaruhi psikologis mahasiswa," tutur Otong.
Berbeda dengan zaman UIN sekarang, lanjut Otong, gedung bagus, bersih, makin banyak fakultas dan bangunan megahnya, dan hingga sekarang masih terus membangun. Secara langsung ini adalah nilai tambah bagi kampus kita.
Terkait kualitas mahasiswa, yang menurut banyak kalangan mengalami kemunduran, Otong tak sepakat. "Siapa bilang kualitas mahasiswa sekarang mundur? Kita semua masih dalam proses. Hasilnya akan terlihat beberapa tahun ke depan. Menurut saya Mahasiswa Jaman UIN lebih bagus dari pada zaman IAIN. Salah satu contohnya, MAHASISWA DARI ZAMAN IAIN JAKARTA belum ada yang bisa JADI PRESIDEN RI. Tapi lihat mahasiswa (dari masa) UIN Jakarta, INSYAALLAH ada yang jadi Presiden.

Rengekan Ala Muda (RAM)

Rengekan ala muda, remaja kekanak-kanakan memelukku. Dekapan mesra hina tapi memabukkan.. Aku mabuk kepayang.
Aku ikut menikmatinya. Dia memelukku erat dari belakang. Tak tahu, sebelumnya ia datang dari mana.
Di dapur hati ini aku sendiri. Semua penghuni rumah jiwa telah pergi. Sebagian terlelap dalam tidur pagi nan panjang. Saat aku termenung di depan kompor itu, dia menyergapku. Aku menoleh dan menengok, mencari tahu siapa dia. Alangkah kagetnya, di usia tua ini rengekan ala remaja masih berani menggodaku. Melankolis.
Tepat kala ku menolehkan wajah, dia menusuk mulutku dengan pisau tak bertulang. Lidahnya.
Ah…, bau mulut itu membuatku makin bernafsu.
Aku kuasai diri. Ku ayunkan pukulan ke perutnya agar dia menjauh. Tapi hatiku memeluknya erat. Ia semakin beringas.
Ia menangkapku, merebahkankanku di atas ranjang lamunan. Kini hatiku menolak, berusaha menendang-nendang dia. Tapi sekucur tubuhku pasrah tak terkira. Gemetar dan berkucur keringat tak terkira. Aku semakin terbang tak tauu entah kemana entah dimana. Penasaran atas apa yang terjadi
An…
Aku nggak kuat, aaaaaaaaaa ..ing
Aku sudah tua, Dunia menantiku
Aaaaaaaaah jantungku berdegup keras.
Mati aku, oh tidak o ya ooooh ya oh yaaaaa
Annnnn….ing…….

Sabtu, 08 Agustus 2009

Nasib Patahan Budaya IAIN/UIN Jakarta Ciputat

MS Wibowo - Puluhan mahasiswa saling berkomplot di bawah rindangnya pohon, teras-teras fakultas dan rerumputan. Asap rokok mengepul makin tinggi. Terdapat segelas kopi hitam di tengah lingkaran para pecandu diskusi itu. Bila kopi tinggal beberapa milli dari dasar gelas, pertanda diskusi terancam putus. Kecuali bila diisi ulang.

Situasi tersebut membuat buku menjadi lubang penyimpan kekayaan dan persenjataan individu, yang kapanpun bisa diambil. Barangsiapa menjauhi buku, konsekwensi paling minimnya ialah akan tampak culun, berwawasan sempit dan lingkungan akan menganggapnya pemalas.

Dalam kondisi ini, ratusan teori dan wacana berevolusi menjadi karya tulis atau opini yang dimuat media lokal maupun nasional. Hal ini adalah syarat yang harus dicapai jika ingin dianggap sebagai manusia yang layak disebut mahasiswa.

Teori dan wacana yang diadon matang, mewujudkan gagasan dan solusi bagi kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama. Tak hanya sebatas wacana, hal itu juga selalu coba diaplikasikan dan didakwahkan. Meski kadang masyarakat malah mencaci dan membenci.

Masyarakat awam biasanya selalu ingin memertahankan apa yang sudah turun-temurun dari zaman dulu. Padahal kehidupan selalu berkembang dan berubah. Karenanya para intelektual selalu berusaha menangkap hakikat sesuatu atau misalnya ajaran Nabi, agar selalu kontekstual dengan zaman.

Kultur di atas terjaga sejak kepemimpinan Rektor Harun Nasution. Laiknya sebuah batang panjang yang tak diketahui ujung akhirnya. Tapi pada kisaran tahun 2000 batang itu retak dan patah sekitar tahun 2004. Sebuah patahan yang meninggalkan puing atau kepingan.

Kepingan itu adalah angkatan 2005 (selanjutnya disebut keping). Sekeping generasi yang mewarisi tradisi patahan pertama (zaman Harun Nasution-2004), tapi jatuh terjebak dalam lingkungan dan kultur baru di patahan kedua (angkatan 2006 - ). Keping ini terus menerus terbawa arus zaman dan melebur bersamanya tapi tak menyatu. Terbawa keterasingan bagi yang ingin memaksakan kembali dalam patahan pertama, dan mengalami kebingungan bagi berusaha menyatu dengan patahan kedua.

Dari hari ke hari, masa ke masa, keping makin terasing terhadap zaman, ruang dan budaya yang ada. Tak mungkin kembali ke patahan pertama. Karena seiring estafeta waktu, patahan kedua makin menjauh dari patahan pertamanya. Dan patahan kedua menawarkan banyak kesenangan dan kesuksesan semu. Tawaran-tawaran itu membuat banyak orang bergabung dengan gaya hidup dan budayanya. Dan Keping pertama makin menderita dengan keterasinganya. Ia meratap dan terus meronta...

Bersambung...

Kerabo

MS WIBOWO - Kerabo. Aku belum pernah kesana. Tapi tempat itu menyadarkanku bahwa dia muak dengan semua jalan yang telah kita lalui. Jalan yang berulang. Dia yang pertama kali mengajakku kesana. Tapi aku yakin dia akan mengelak pernyataan terahir ini. Dia pasti akan menyatakan, akulah yang dulu mengajak dia kesana.

Dan kami saling berdebat menuduh. Ujung perdamaian kami akan berkata, bukan aku dan dia yang berjalan ke situ. Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu seperti api. Dan dalam hati masih saling menuduh satu sama lain. Oh.., apakah ini harus diakhiri dengan keotentikan diri? Aku belum sanggup. Tapi coba kupersiapkan. Karena jawaban-jawaban dinginnya yang tak bersahabat. Oke.

Senin, 03 Agustus 2009

Pengganti Imamku, Iblis

MS Wibowo - Aku tahu dan aku sadar, Iblis atau setan atau apalah namanya, telah bersarang lama di otakku, di hatiku dan menyatu dengan jiwaku.
Ia sering menjadi pengganti Jiwa Murniku untuk memimpin ragaku. Aku ingin sekali mengurungnya, agar tak semena-mena menjadi imam ragaku. Keinginan ini ada sejak kecil. Sejak masa sebelum aku usia TK. Sebab selama itulah ia selalu datang menengokku, lalu membimbingku. Dan sebagai martir aku patuh, meski sesudahnya aku menyesal.
Biasanya, seorang yang berkuasa, akan melukai atau menciderai orang yang diperintah, bila perintahnya tak diindahkan. Tapi Iblisku beda. Sebaliknya ia akan menciderai hati dan ragaku kala aku tunduk menjalankan perintahnya.
Aku sadar itu. Walau begitu, aku tetap menjalankan perintahnya. Kau tahu kan, aku adalah martir.
Jiwa murniku atau Raja Jiwaku, sebenarnya dendam padanya. Tahukah engkau bahwa Raja Jiwaku seorang wanita? Dan Iblisku adalah seorang pria? Mereka melakukan perselingkuhan terlarang. Perselingkuhan memang terlarang kan? Mereka sering melakukan perbuatan mesum. Kau tahu itu apa? Ya, mereka sering ML.
Aku tahu, sebenarnya Raja Jiwa sering menolak saat diajak berhubungan. Tapi juga kadang pasrah bahkan mengharapkan. Tapi baik terpaksa atau tidak, raja jiwaku pasti selalu menikmati hubungan itu. Batinnya menolak, tapi satu sisi ia tak sanggup menyingkirkan dan menyembunyikan rasa senangnya.
Gelagat Sang Raja Jiwa itu tak dapat disembunyikan. Iblis pun mengetahuinya. Maka tanpa rasa bersalah, ia pura-pura memaksa Raja Jiwa agar mau menuruti nafsunya. Padahal tanpa paksaan pun Raja Jiwa mau. Pemaksaan itu hanya syarat belaka.
Setelah hilangnya rasa nikmat itu, Raja Jiwa merasa apa yang terjadi itu salah. Tapi tak mungkin dipungkiri bahwa ia sering menginginkan hubungan itu kembali secepatnya. Menunggu Iblis melakukan paksaannya. Eh, maksudku pura-pura memaksa.
Nah, ketika Raja Jiwa benar-benar sadar bahwa dirinya diperalat, ia melapor pada martir-martirnya, seperti Aku. Lalu memerintahkan kami mengusir Iblisku. Tapi percuma, rumah ini telah menjadi milik Iblis juga. Selain Raja Jiwa, Iblis juga pemimpin kami. Kami tak bisa menolak saat ia memerintah.
Raja Jiwaku terjebak dalam perasaan salah dan menyalahkan. Akupun menyalahkannya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Sebab Iblis selalu menerorku dan juga Raja Jiwa. Iblisku datang tak kenal waktu. Sesering mungkin. Tak peduli kala ramai atau sepi.
Dia pandai. Tak peduli kala ramai atau sepi, ia datang saat aku dan Raja Jiwa melupakan kebencian padanya. Dia datang untuk memperbarui kebencian yang sebentar nanti musnah. Lalu ia munculkan kembali dan seterusnya.
Dia datang dengan senyuman dan tongkat sabitnya. Mengenakan jubah hitam panjang yang menutup kepala hingga ujung kaki. Tak ada yang melihatnya selain aku. Raja Jiwa bahkan tak pernah benar-benar sadar ia datang, sebelum tiba-tiba iblis itu menyergapnya. Dan langsung mengambil alih kekuasaan.
Raja Jiwa kadang setengah meronta. Tapi ya percuma. Iblis menyergapnya bukan setengah-setengah. Akhirnya, terulanglah tragedi itu. Karena mereka sama-sama menikmati.