Home

Sabtu, 17 November 2012

Lima Menit ke Puncak



Lima meter dari kamar kost yang kusewa adalah jalan raya. Meski bukan jalan utama, aktivitasnya tak tak kalah padat di pagi dan sore hari. Ribuan mobil dan motor menyemarakan pesta kehidupan. Ribuan pula nyawa berdesak ketegangan demi menghilangkan rasa bosan jika tanpa kegiatan. Demi membayar ongkos hidup. Guna mencantumkan papan nama pada dinding kebanggaan.

Hanya itu sudah cukup membuatku bosan. Raung kendaraan, asap kenlpot yang hitam, setiap waktu menghantui. Aku bersyukur kalau hujan tiba. Udara tercuci bersih, meski tak mungkin bertahan lama. Selain itu, dinginnya aku suka. Kamarku yang tanpa AC membuat udara panas Jakarta terus mendidihkan darahku, mempercepat detak-detak jantungkuLima meter dari kamar kost yang kusewa adalah jalan raya. Meski bukan jalan utama, aktivitasnya tak tak kalah padat di pagi dan sore hari. Ribuan mobil dan motor menyemarakan pesta kehidupan. Ribuan pula nyawa berdesak ketegangan demi menghilangkan rasa bosan jika tanpa kegiatan. Demi membayar ongkos hidup. Guna mencantumkan papan nama pada dinding kebanggaan.

 Andai di Jakarta, dan sekitarnya, turun salju. Aku pasti bilang, “wow…!”, mengungkapkan kegirangan. Sambil koprol dan salto berguling-guling atau sujud, rukuk, takbiratul ikram, dan sebagainya. Kubayangkan duduk di teras mengenakan jas tebal, yang menjuntai sampai lutut. Menikmati kopi, yang cangkirnya kudekap-dekap supaya darah di tangan tak menggigil kedinginan. Ah, itu sekadar khayalan. Layak umat merindukan Messiah atas frustasi sebab kenyataan.

Satu-satunya cara paling dekat, sebagai simulasi hidup sehari seperti di negeri Barat, adalah pergi ke Puncak, Bogor. Kebetulan 15 November 2012 hari Kamis adalah tangal merah. Libur. Memperingati tahun baru hijriah. Seyogyanya cuti bersama digelar hingga hari Minggu. Tapi sayang, hari Sabtu ada kewajiban piket. Jadi ingin kumanfaatkan dua hari sebelumnya untuk merealisasikan keinginanku. Bersama teman-teman terdekat.

Entah kenapa rasa ragu susah hilang dari benakku. Sudah kukabarkan pada seorang teman rencana itu lewat media sosial, Twitter. Tapi mungkin karena aku ragu, yang tanpa sebab, membuat temanku itu juga ragu atas ajakanku. Ia baru datang tanpa kuduga, bersama lima teman lainnya, di malam Sabtu. Niatnya hanya bersambang saja.  Jelang dia mau pamit karena sudah larut malam, aku ingat dua hari sebelumnya kita niat ke Puncak. Aku utarakan saja hal itu padanya. Dia antusias. Aku kebingungan. Bingung tanpa sebab. Seperti ada yang mengganjal. Tapi entah apa.

Tanya-tanya soal villa, ada teman yang punya. Siap disinggahi tanpa uang sewa. Kamipun sepakat semua. Namun satu orang di antara kita, tampak mengikuti keraguanku. Ia masih mikir-mikir kalau harus berangkat ke Puncak sekarang juga. Aku dan empat teman lain memberinya waktu untuk berpikir memutuskan. Ternyata hanya soal biaya dan motornya, yang tanpa STNK. Berarti itu bisa kami atasi.

Lima menit kami bersiap berangkat. Sudah terbayang hawa dingin Puncak. Aku baru ingat, hari Sabtu itu besoknya. Aku piket. Lima menit itupula hawa dingin Puncak menghilang. Kita bubar ke rumah masing-masing. Ke kamar kost masing-masing. Sungguh perjalanan yang sangat cepat.

Jumat, 02 November 2012

Menggenggam Dunia



Setiap syair yang tertuang adalah jelmaan air mata
Di dalamnya sedih dan bahagia mengalir
pelan menelusup celah-celah kekosongan
Sepekat rimba menjaring awan
Mencipta rasa aneka warna
yang terpisah merindukan asal Esa
Sebab tiada satu tanpa jumlah
Tiada waktu tanpa ruang
Seluas aku mencari diri 
sendiri yang telah pergi
Sebesar itu kebahagiaanku
Maka ku tegaskan,
Walau tanpa bantuan sekian banyak orang, dunia tetap akan mampu ku genggam