Home

Kamis, 24 November 2016

Pikir Dulu Sebelum Kau Ucap Kasihan, Sekadarkah Solek Kata atau Citra di Social Media?

Ketika kau melihat saudara-saudaramu teraniaya di seberang negeri sana
Kau bilang, "sini, ke sini, tinggallah bersama kami."
Seriuskan perkataanmu?
Aku yakin, itu hanya emosi sesaatmu.
Kau tidak tahu betul pahitnya derita
Yang kau punya hanya rasa iba, yang menurutmu tuntas dengan bermanis-manis kata di media sosial
Ketika kutanya, apa tindakan nyatamu untuk menolongnya
Jawabmu, semampuku, jika tak ada harta benda hanya doa
Baiklah. Doa, cukup.
Tak usah banyak cakap bermanis ria menunjukan kepedulianmu
Mungkin saja kamu sanggup menampung mereka, tapi tak mungkin untuk derita
Mungkin saja hartamu cukup menafkahi mereka, tapi tidak luka batinnya
Mungkin saja kau bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka, tapi tidak dengan pikiran yang telah melalui jalan lalu dan berkelana di jalan depan mereka.
Turunlah ke jalan. Menggelandang di negeri antah berantah. Maka kau akan dapatkan apa yang mereka rasakan

Selasa, 22 November 2016

Transit atawa persinggahan


Pintu yang akan dibuka adalah pintu sebelah kiri dari arah datangnya kereta. Stasiun transit Manggarai. Dari pintu sebelah kiri pula kita melanjutkan perjalanan. Turut dalam laju kereta.

Turun lewat pintu kanan di stasiun yang sama. Hati pun mungkin serupa, penuh kedongkolan. Tapi tak semua sama bisa menyambungkan kata-kata kita, bukan?

Apalah arti keberangkatan dan tujuan tanpa sebuah persinggahan? Tanpa dunia, akhirat yang dipuja-puja tanpa makna.

Tapi dunialah yang bengal. Bikin kesal.
Transit bikin sembelit
Mana beruntung banyak luang dan sedikit

Kubelah dadaku menganga neraka
Buanglah segala benci dan risihmu ke sana jangan biarkan ia singgah terlalu lama mendera-dera karena derita
Jangan! Jangan bilang, sudahlah. Itu biasa.

Senin, 21 November 2016

Mimpi usai bangun tidur



Ujung pistol menempel di pelipis kanan. Sebiji peluru tajam berwarna keemasan bersiap dengan kuda-kuda. Menunggu aba-aba sang pelatuk yang telah pasrah kepada ibu jari dan telunjuk yang saling bekerja sama dalam sepersekian detik.
Satu hentakan memercik api kecil, mendorong sebutir peluru menuju moncong pistol. Ujung runcingnya membuat lubang di pelipis tengkorak kanan lalu bersarang di otak.
Selesai
Kita sudah hidup kembali. Kita punya waktu sekitar 20 jam ke depan sebelum mati.
Setelah mati berkali-kali, apa yang kau takuti di hidup ini?

Melawan Tindakan Rasis

Mengutuk pembantaian Rohingnya itu bukan karena mereka Muslim. Tapi tentang kemanusian.
Apakah Anda bersuara hanya karena orang Rohingnya itu Muslim?
Dan ketika mereka bukan Muslim, Anda akan diam dan mendukung pendindasan serta pembantaian?

Bicara soal SARA, misalnya tindakan atau perkataan rasis, apapun alasannya jelas tidak dibenarkan. Kalau ada orang lain yang bertindak/bersikap/berprilaku/berkata rasis terhadap kita, bukan berarti itu membolehkan kita melakukan hal yang sama yakni rasis juga kepada dia atau mereka. 

Janganlah tindakan mereka mengatur tindakan kita.
 

Seperti kasus pembantaian Muslim Rohingnya. Kita mestinya membela orang Rohingnya bukan lantaran mereka Muslim, tapi karena kemanusiaan. 

Kalau membela hanya karena mereka Muslim, apakah bila mereka bukan Muslim kita cuek-cuek saja? Tidak dong. Kalau kita cuek orang Rohingnya ditindas karena misalnya mereka non-Muslim, berarti kita tidak ada bedanya dengan penindas itu.

Minggu, 20 November 2016

Buat Lu, Normal Nggak Perlu

Mata terbuka. Dari jendela, di luar tampak gelap.
Adzan baru saja sayup-sayup ku dengar dalam keadaan setangah tidur.

Aku bangun dan bergerak ke ruang depan. Melihat jam.
Jarum menunjuk pukul 06.15.

Dua orang teman telanjang dada beraktivitas biasa. Mereka tampak habis kegerahan.

"Gua tidur jam sepuluh pagi, bangun jam enam sore. Normal, kan?" tanyaku.

"Buat lu mah nggak perlu normal lah," jawab salah satu dari mereka.

Lalu semua berjalan seperti sebelum-sebelumnya. Aku mulai menyeduh kopi, ke warung sebelah membeli sebungkus rokok kretek dari Surabaia. Menyalakan komputer mendengarkan musik. Buka media sosial dan menulis.

Beberapa jam kemudian dua orang teman tadi beranjak istirahat untuk siap-siap menghadapi Seninnya masing-masing.



Jumat, 18 November 2016

Manusia, Setan dan Tuhan

Di hadapan Tuhan, kita semua sama*
Berhadapan dengan setan, kita masing-masing
Meskipun sedang berdua
Strategi kompromi atau pilih tanding



*tergantung derajat ketakwaan yang tak seorang pun dapat menilainya.