Home

Rabu, 22 April 2015

Kartini dan Ayah Saya

“Selamat Hari Kartini.” Banyak yang menulis itu di media sosial. Beberapa menyematkan kutipan dan diakhiri nama Ibu Kita tersebut. “Habis Gelap Terbitlah Terang ~Kartini”, “Terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu ~Kartini", dan sebagainya.

Avatar, display picture, foto profil dan sebagainya berubah lukisan sang Raden Ajeng. Tanda pagar dibuat agar jadi topik tren. Di sekolah, anak-anak TK, khususnya perempuan, didandani dengan kebaya. Belakangan masih ada juga yang mengirim broadcast message berisi ucapan tentang hari itu.

Ini tentang 21 April. Hari lahir Pahlawan Perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Semarak yang patut kita sama-sama apresiasi.

Tentu sudah basi untuk bertanya, apakah mereka yang penuh euforia mengucapkan selamat Hari Kartini itu kenal Kartini? Dalam arti tahu betul siapa itu Kartini? Apa saja yang telah dia lakukan atau perjuangkan? Membaca karyanya? Kenapa ia jadi salah satu pahlawan nasional?  Dan sebagainya.

Basi saya katakan atas dasar dua alasan. Pertama, saya yakin minimal 70% akun di gawai saya agak kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Setidaknya jika tidak kesulitan, jawaban yang keluar masih mengandung keraguan. Kedua, kalau memang benar ada yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, solusinya cuma satu, Google. Klik langsung ketemu di Wikipedia. Basi kan?

Oke, karena itu, saya akan bercerita tentang Kartini dan almarhum ayah saya.

Sebagai warga negara yang wajib mengenyam pendidikan sembilan tahun, saya tahu siapa Kartini. Saya sering melihat gambarnya di tembok ruang kelas, dari SD-SMA. Di kelas saat Universitas tidak lagi.

Selain dari gambar, pengetahuan tentang pejuang wanita ini saya dapat dari buku pelajaran sejarah dan lagu ciptaan W.R. Supratman berjudul “Ibu Kita Kartini”. Belakangan, materi tentang Kartini juga mengendap di kepala akibat bahan stand up comedy yang sempat dibawakan Dodit Mulyanto beberapa waktu silam. Lain dari pada itu, saya kira tidak ada lagi.

Kaitan dengan ayah, ini cukup mengherankan. Khususnya bagi saya kala itu. Saya tidak ingat persis tanggal, bulan dan tahun kejadiannya. Yang pasti bukan di Hari Kartini. Status saya masih belajar di Sekolah Dasar, kelas III.

Tiada angin tiada hujan, di sela-sela santai siang, sambil melepas lelah di ruang tengah, Ayah bertanya, “Le, tanggal lahir Ibu Kita Kartini itu tanggal berapa ya?”

Tak hanya diajukan pada saya, tapi ibu dan adik saya juga. 

Waktu itu saya lupa atau malah tidak tahu tanggal berapa Ibu Kita Kartini lahir. Dan saya masih ingat betul nada pertanyaan ayah serius, bukan ngetes atau bercanda. Adik saya yang masih Kelas I SD dan Ibu pun tak ingat.

Maka saya langsung membuka lemari, mencari buku sejarah dan membuka halaman demi halaman. Juga catatan-catatan. Kebetulan masa itu saya belum kenal si dukun pintar, mbah Google. Sayang sekali, ketika saya telah menemukan jawaban, ayah sudah duluan. Entah dari mana dia dapat.

Yang sampai sekarang jadi pertanyaan saya adalah untuk apa ayah mencari tanggal lahir Kartini. Mau menyelenggarakan karnaval kebaya? Tidak mungkin. Ayah bukan seorang pamong desa. Lagi pula kejadian itu bukan pada bulan April. Untuk bahan ujian? Tidak juga. Ia sudah tidak sekolah.

Hingga ayah meninggal, saya tetap tidak tahu untuk apa ia menanyakan tanggal lahir Ibu Kita Kartini waktu itu.

Dan, di Hari Kartini ini, 21 April 2015, saya teringat kembali almarhum ayah tercinta. 

Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa ayah, menerima semua amal baik ayah dan semoga ayah mendapat sebaik-baik tempat di sisi-Nya. Alfatihah.


Pesanggrahan-Ciputat, 21 April 2015

Rabu, 15 April 2015

Sakaratul Cinta















Melepas orang yang dicinta, kau tahu
seperti sakaratul maut
Rasanya kulit dibesat
disilangi hidup-hidup

Jangan sia-siakan orang yang mencintaimu
siapapun itu
Lakukan yang terbaik
selagi dia masih ditakdirkan ada
hidup di dunia
bersamamu


Matraman, 15 April 2015 

Gambar

Senin, 06 April 2015

Bismillah, bangun, dan beranjak.


Aku tak ingin bangun terluka. Aku akan membuka mata hati pagi bahagia. Mari berlari. Karena jika terus di sini aku akan sendiri. Ikhlas lepas masa lalu. Waktu terus berjalan ke masa depan. Genggam angan, cita, dan impian menjadi kejayaan. Nyata.


Legoso, Kamar Transisi, 6 April 2015