Home

Senin, 26 Juli 2010

Cinta Selanjutnya, Ari Kurnia Sari.



Special Post Theme "Cinta Monyet"

Di MTs, aku menyukai seorang siswi bernama Desiana. Perjumpaan kami terjadi saat MOS. Namun cintaku bertepuk sebelah tangan. Ia hanya menganggapku teman. Lagipula sainganku berat, yakni seorang Siswa Madrasah Aliah di lembaga dan kompleks sekolah yang sama. Aku harus mundur. Selain itu, faktor yang menghalangiku adalah pemisahan jam sekolah. Kelas I ada enam kelas, A-F. Kelas D-F adalah kelas dengan jam belajar siang, mulai pukul 13.30 hingga 17.45. Sedangkan aku, terpilih masuk di kelas unggulan I A, yang pasti masuk pagi. Halanganku bertambah karena sainganku yang juga baru masuk kelas I MA masuk di jam belajar siang hari. Terputuslah harapanku. Cintaku terkatung-katung. Tak ada seseorang yang nyantol di hatiku.
Di MTs ini, aku adalah seorang aktivis pramuka di MTs-ku. Pada libur kenaikan kelas III, aku bersama para anggota pramuka lain mengikuti lomba lintas alam dan halang rintang, yang diadakan oleh Saka Bayangkara. Gugus Depan MTs-ku Pasukannya, yang terbagi dalam lima kelompok. Aku menjadi Pinru dengan lima personel termasuk aku.
Dalam perjalanan lomba, kami tersesat di sebuah bulak panjang. Kami semua kebingungan. Tak ada yang membawa Hp waktu itu. Di situlah aku bertemu dengan seorang bernama Ari Kurnia Sari. Aku memerkenalkan diri padanya bukan dengan namaku sebenarnya. Waktu itu Cuma ingin gaya-gayaan. Kubilang padanya namaku Feri. Memang sih, dulu waktu MTs, kata teman-teman tampangku mirip Feri pembawa acara Tralala-Trilili bersama Agnes Monica kecil.
Beberapa panitia mengetahui ketersesatan kami. Kira-kira ada 10 regu yang tersesat bersamaku. Setelah mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar dan sesuai dengan rute, aku dan Ari terpisah. Apalagi habis ini, libur panjang menyambut. Sudahlah, aku hanya bisa berharap pada tuhan atas jalinan kasihku dengan Ari Kurnia Sari. Dan aku masih menyimpan betul wajah ayunya. Mirip Nia Paramitha waktu muda. Cakep kan??? Hahahah.
Libur panjang berakhir. Kelas III MTs ada perombakan kelas. Semua siswa-siswa bandel masuk karantina di kelas III F. Aku tetap di Kelas A, tempatnya siswa berprestasi dan berkelakuan baik. Di kelas inilah, aku kembali bertemu Desiana. Tapi cintaku sudah tak ada padanya. Meski aku masih mengakui dia cantik sekali. Saking cantiknya, sampai tak ada satupun artis Indonesia yang mirip dia. Aku dan Desiana berteman baik. Dia anak Lampung asli. Akupun juga gaul bersama teman-temannya.
Suatu hari ketika jam sekolah berakhir, aku berencana langsung pulang. Kutuntun sepeda Janky-ku keluar gerbang sekolah. Saat itulah, mataku terbelalak. Aku melihat Ari Kurnia Sari bersama Desiana dan kawan-kawan.
“Eh, itu Feri kan?” tanya Ari kepada Desi.
“Mana?” tanya balik Desi.
“Itu,” Ari Kurnia Sari menunjuk ke arahku.
“Bukan, itu Bowo teman kelasku,” jawab Desi mantap.
“Itu Feri. Aku kenalan sama dia waktu lomba kemarin,” kata Ari yakin.
“Yeee, dibilangin nggak percaya, itu Bowo. Aku sama dia sekelas.”
Akhirnya Desiana memanggilku. Aku menghampiri mereka.
“Kamu Feri kan?” tanya Ari.
“Bukan, aku Bowo,” jawabku mesam-mesem.
“Tapi kita pernah ketemu waktu lomba lintas alam itu kan?,” tanya Ari penasaran.
“Iya, kamu Ari Kurnia Sari kan?”
“Iyalah, huh dasar, namanya Bowo juga ngaku-ngaku Feri,” kata Ari dengan senyum.
“Hehehe, biar keren aja.”
Sejak hari itu, aku sering mendapat salam dari Ari yang ia titipkan lewat Desi and the genk. Kabar aku dan Ari pacaran pun menyebar ke dua sekolah, MTs dan SMPN, sekolahnya Ari.
Aku juga heran, kenapa gosip antara aku dan Ari berpacaran cepat menyebar luas. Padahal aku belum menyatakan cinta padanya. Cuma aku pernah mengutarakan ini pada Desi dan teman-teman. Begitupula Ari, Lewat Desi dkk, ia menyuruhku segera menembak hatinya.
Tapi beberapa minggu berlalu aku belum berani menyatakan cinta. Padahal aku mengalami perasaan yang amat berbeda dan sangat spesial terhadap Ari Kurnia Sari. Lagi-lagi entah kenapa, aku masih ragu. Benarkah cewek secantik Ari Kurnia Sari mau kepada cowok kecil, kurus dan legam sepertiku?? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di benakku.
7 November 2000, saat aku ulang tahun, Ari memberiku sebuah kado pulpen dengan tinta wangi, yang beberapa saat kemudian pulpen semacam itu dilarang pemerintah. Pasalnya, ada beberapa oknum yang menyebarkan narkoba. Pulpen itu tetap aku simpan. Aku suka menciumnya, serasa mencium Ari Kurnia Sari, yang memang mirip dengan Nia Paramitha waktu muda. Saat itu aku jadi nge-fans sama Nia Paramitha.
Tekadku sudah bulat pada 3 Desember 2000. Aku telah siap menyambut cinta Ari dengan sebuah pernyataan yang kupikir matang-matang. Hari itu adalah hari ulang tahun Desiana. Semua teman-temannya diundang dalam pesta, termasuk aku dan Ari. Aku berfikir, inilah saat tepat untuk kuutarakan cintaku. Mungkin seusai pesta Desi, ya seusai pesta akan kuajak Ari ke tempat yang nyaman, lalu kutembak hatinya.
Aku datang membawa kado untuk Desi. Wajahku berbunga-bunga, meski aku agak telat datang ke pesta. Aku datang bersama saudara cowok sepupuku, yang juga termasuk Desi’s Genk.
Sampai di sana, pesta telah mulai, tapi belum tiup lilin. Saat kutatap wajahnya, Ari berpaling muka. Tampak sebuah kesedihan atau kebencian aku tak bisa membaca rautnya.
Tak lama, Lia mendekatiku. Dia adalah salah-satu cewek dalam genk Desi yang cukup dekat denganku.
“Ari penghianat Wo,” kata Lia lirih. Kulihat Desi memerhatikanku. Ari menuju ke belakang, seperti menangis. Lia sinis menatapnya.
“Kenapa? Ada apa ini? Tanyaku penasaran.
“Dia balikan lagi dengan Adi. Ari dan Adi itu sudah pacaran sejak kelas III SD. Mereka putus nyambung, putus nyambung. Dan kamu kemarin hanya menjadi tempat pelarian Ari. Dia sengaja menyebarkan gosip kalian sudah jadian, untuk manas-manasin Adi. Tapi ya sudahlah Wo, masih banyak cewek lain yang lebih baik dari dia,” Lia menutup pembicaraan. Pesta akan dilanjutkan dengan joget bersama..
Panitia mengundi antara cowok dan cewek untuk berdansa. Dan curangnya panitia sengaja mengatur agar aku dan Ari menjadi pasangan dansa. Ah, ini benar-benar menyebalkan.
Aku pulang dari pesta Ultah Desi dengan suasana hati kacau. “Ari, kenapa kau menipuku. Kenapa kalau memang hanya untuk bikin panas Adi, kamu dulu seperti sangatkan mengharapkan cintaku. Aku memang sejak awal cinta kamu. Tapi dulu tak ada keinginanku menjadi pacarmu. Aku hanya ingin bersahabat saja. Karena aku tahu siapa aku. Tapi harapanmu padaku yang begitu tinggi, membuatku ingin mendeklarasikan cinta kita. Dan ketika kudatang, kau ternyata pergi menipuku,” begitu hatiku berkata dulu. Ah... memang monyet dasar cinta, cinta monyet...
Sampai saat ini, belum ada luka yang sama dari yang kurasa pada Ari Kurnia Sari. Mungkin karena zodiak kami cocok. Aku scorpio, dia aquarius. Kini ia telah memiliki seorang anak dan menjadi Guru di MTs-ku. Sementara aku masih bergelut dengan bangku kuliah di UIN Jakarta. Kami sudah terpisah kurang lebih 10 tahun tanpa komunikasi... apakah dia masih ingat aku? aku tak tahu... ya sekarang berteman sajalah kalau ingat.. ya nggak

Aku, Setyo Rini dan Power Rangers.

Special Post Theme "Cinta Monyet"
Pasca berebut rautan, cintaku pada Indri Restu Sestiani hilang entah kemana. Tak ada rasa bahagia, senang, gembira dan sebagainya saat menjumpanya. Aku juga heran dengan rasa ini. Kenapa sampai ada kondisi di mana aku berada dalam keadaan vacuum of love.
Kelas III SD, itu benar-benar aku merasa tak mencintai seseorangpun. Meski beberapa gosip tentang kedekatanku dengan Lina sedikit merebak. Tapi aku tak merasakan adanya chemistry antara aku dan dia. Bahkan aku sering jengkel ketika ada teman yang meledekku, tentang kedekatanku dengan Lina.
Tak tahan dengan isu itu, aku pun menjauhi Lina. Sesekali kulihat Lina agak keberatan dengan sikapku. Itu bisa kulihat dari ekspresi mukanya. Tapi maaf ya Lina, bukan berarti aku benci kamu. Aku hanya tak ingin digosipin pacaran sama kamu oleh teman-teman. Walaupun aku tahu, sebenarnya kamu memang suka sama aku.
Kelas IV SD, aku kembali mencintai Lisnawati. Cewek yang kusuka sebelum masuk sekolah. Tapi itu tak bertahan lama. Karena ia tampak tak suka dengan sikap cintaku.
Beranjak ke kelas V, aku punya komunitas baru. Ada beberapa siswa pindahan dari SD desa tentangga. Mereka adalah Winarno, Neneng, dan Sakeh. Mereka bertiga duduk di depan bangku sebaris denganku. Aku bersama Tri Basuki. Sementara di belakangku ada Siswoyo dan Setio Rini. Yang terakhir ini adalah siswi yang mulai kelihatan menonjol intelegensinya sejak kelas IV. Kini dia menjadi sainganku memerebutkan ranking I.
Kami berenam membentuk geng yang identik dengan Power Rangers. Aku berperan sebagai Tomy Ranger Putih, Rini sebagai Trini, Ranger Kuning, Tri sebagai Jack, Ranger Hitam, Neneng sebagai Kimberly Ranger Pink, Siswoyo sebagai Billy Ranger Biru, Sakeh Ranger Merah dan Winarno sebagai Alpa 5.
Di antara keenam temanku itu, aku paling dekat dengan Sakeh, sang Ranger Merah. Untuk ceweknya, aku dekat dengan Rini, sainganku merebut juara kelas. Kedekatan kami ini sedikit ternodai. Ternyata Sakeh juga menyukai Rini. Padahal dialah yang mengumbar isu ke seluruh penjuru sekolah bahwa aku dan Rini tengah menjalin pacaran. Meski aku tak pernah mengutarakan cinta atau nembak hati Rini. Tapi kami sama-sama tahu bahwa masing-masing sama-sama suka. Jaman dulu, di SD-ku memang nggak jaman nembak cewek. Karena itu, geng Power Rangers di SD-ku. Namun hubunganku dengan Setyo Rini masih harmonis. Hubungan kami berakhir usai lulusan. Aku kalah dengannya. Dia mendapatkan NEM tertinggi nomor I dan nomor II.
Sebenarnya, aku punya kesempatan untuk tetap bersamanya jika aku melanjutkan sekolah di SMP Negeri I. Namun orang tua memasukkanku di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Usailah sudah kisah cintaku dengan Setyo Rini.

Senin, 19 Juli 2010

Indri, Cintaku Kelas I SD


Special Post Theme "Cinta Monyet"

Di kelas I SD, aku mengenal seorang siswi bernama Indri Restu Sestiani. Dia anak seorang guru, Wali Kelas III, Bu Darti namanya. Selain itu, Indri adalah siswa dengan nama terpanjang kedua setelahku. Hal itu membuat Indri menjadi pusat perhatian. Aku suka melihat rambutnya bergelombang sebahu dan kulitnya hitam manis. Aku tertarik padanya, begitupula sepertinya ia padaku.
Sejak hari kedua sekolah, aku ditunjuk menjadi ketua kelas oleh Bu Yusniar, Wali Kelasku. Itu jabatan formal pertama dalam hidupku. Akupun menjadi pusat perhatian.
Karena sama-sama populer, aku dan Indri saling penasaran. Dan singkat cerita, akhirnya kami menjadi teman dekat. Ini membuatku sangat bahagia. Aku telah menemukan cinta baru. Cinta yang kurasa sama dengan perasaan cinta yang kurasa saat umur 24 saat ini.
Aku selalu mencari kesempatan untuk dekat dengannya. Waktu istirahat adalah saat yang sering kupakai berdua dengannya. Karena begitu dekatnya, gosip sekolahpun menyebarkan isu bahwa kami telah menjalin hubungan yang disebut pacaran. Ada orang yang tak diketahui identitasnya, menuliskan nama kami berdua di beberapa sudut tembok dan meja kelas. “Bowo dan Indri”. Hanya seperti itu tulisannya. Tapi jaman dulu di tempatku, tulisan tersebut mampu membuat dua orang lelaki dan perempuan malu dibuatnya. Dan pertama kali dalam hidupku rasa malu itu muncul seketika.
Akhirnya aku memutuskan untuk jaga jarak dengan Indri. Kami biasanya mencuri-curi waktu untuk bertemu di luar jam sekolah. Sehabis dzuhur. Hanya sekadar berdua, main kelereng atau main karet. Cuma berdua. Tapi lagi-lagi kami sial. Amin, siswa kelas tiga yang telah tahu tentang gosip itu, memergoki kami. Ia kemudian mengejak kami berdua.
“Hayooo…. Ngapain kalian berdua… pacaran ya… hayooo.. ihhh masih kecil udah pacaran… hayooo???”
“Enggak kok, kita cuma main karet. Kita nggak pacaran,” elakku dengan suara ketakutan.
“Masa main karet cuma berdua. Hayooo pasti kalian pacaran ya… kecil-kecil pacaran,” goda Amin lagi.
“Nggak…!!! Aku nggak pacaran!!! Aku nggak pacaran!!!” teriak Indri sambil pergi berlari meninggalkan aku dan amin, menuju rumahnya yang tak jauh dari tempat bermain.
“Hayoo loh, dilaporin kamu sama ibunya Indri. Mampus... tuh. Besok kamu pasti disetrap di kelas,” kataku menakut-nakuti Amin.
Amin langsung kabur ketakutan meninggalkanku sendiri.
Aku berjalan gontai ke rumah. Usai magrib, aku ikut ngaji di masjid. Ternyata mulut Amin sangat comel. Ia menyebarkan gosip tentang aku dan Indri. Gosip itu terdengar oleh mamaku. Untungnya, mama tak menanggapi serius. Ia hanya tertawa renyah malu-malu. Aku tak tahu apa yang mama pikirkan.
Tiba pada pembagian raport pasca Ulangan Umum Catur Wulan (Cawu) I, secara mengejutkan aku mendapat peringkat ranking pertama. Padahal aku tak pernah sadar, kapan ulangan / ujian Cawu diadakan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Indri mendapat peringkat ranking kedua.
Terbakar Cemburu.
Naik kelas II, hatiku mulai terbakar api cemburu. Pasalnya, Wali Kelas kami yang baru, Bu Sulis menentukan tempat duduk kami. Ada empat siswa baru pindahan dari SD lain yang menyebabkan jumlah siswa dan siswi seimbang. Masing-masing 20 orang. Karenaya, Bu Sulis mengatur tiap bangku diisi oleh cowok dan cewek. Bu Sulis tak menjelaskan maksud pengaturan itu.
Jantungku tiba-tiba berdebar saat Bu Sulis membacakan absen. Aku berharap, Indri duduk bersamaku. Tapi Kenyataan berkata lain. Ia duduk bersama dengan Tri Basuki. Siswa yang cukup aku benci. Pasalnya ia sering mengerjaiku. Ia sok superior, merasa paling kuat dan suka ribut di kelas saat tak ada guru. Aku sebagai ketua kelas I kemarin sering memeringatkan dia agar jangan membuat gaduh. Tapi ia malah menantangku berkelahi.
Kekhawatiranku seperti menjadi nyata. Gosip yang semula menerpaku lenyap perlahan. Berganti dengan isu yang berkata bahwa “Indri dan Tri Basuki pacaran.”
Hubunganku dengan Indri kian jauh. Kami jarang bertemu atau bermain bersama. Cintakupun bertepuk sebelah tangan. Pada masa inilah, seorang siswi bernama Lina mulai mendekatiku. Ia kerap membelikan aku jajan di waktu istirahat. Awalnya aku merasa senang. Kerena memang mama dan papaku jarang mengasihku uang jajan. Kata mama, “jajan itu bikin goblok.” Dan aku percaya itu. Tapi aku tak menolak, saat Lina mengajakku beli gorengan. Dia anak orang kaya. Uang sakunya lebih dari yang lain. Lina juga sering dengan tiba-tiba memasukkan uang seribu rupiah ke dalam kantong bajuku. Aku hanya melongo melihat tingkahnya.
Gosippun segera berkembang. “Bowo dan Lina”, tulisan itu aku jumpai di sudut tembok kelas. Semua teman kelas, meledek Lina dan aku. Aku kesal, karena merasa ini sebagai fitnah. Tapi Lina tampaknya senang-senang saja. Akupun menjauhi Lina, karena aku tak suka dia.
Saat pelajaran dimulai, sesekali aku melirik Indri. Aku ingin tahu apakah dia terpengaruh dengan isu tentang aku dan Lina. Tapi tak ada respon. Esoknya aku kembali menanti respon Indri. Kali ini aku mencoba mendekatinya. Datang ke mejanya. Tak peduli ada Tri Basuki yang duduk di sampingnya. Tapi aku hanya bisa terpaku menatap mata Indri yang polos. Ia tersenyum padaku. Dan akupun gembira. Bagiku itu tanda bahwa Indri mencintaiku. Hatiku berjingkrak keras.
Pertengahan Cawu III, aku sangat bahagia. Bu Sulis kembali melakukan rolling tempat duduk. Dan coba tebak, aku duduk dengan siapa? Ya benar, aku duduk dengan Indri. Kami pun dekat kembali. Gosip tentang kami bergulir lagi. Aku tak peduli perasaan Lina yang membenci kami. Yang Penting Heppy.
Sebuah tragedi terjadi menjelang Ulangan Cawu III. Aku dan Indri merasa kehilangan rautan yang sama-sama kami butuhkan. Kebetulan warna rautan kami sama. Saat itu pula di kolong meja kami sebuah rautan warna hijau tergeletak tak bernyawa. Tangan kami bersamaan menggapainya. Aku dan Indri berebut dan saling klaim sebagai pemilik rautan itu di kolong meja. Hingga kepalaku membentur meja. Aku marah. Aku kesal. Seiring itu pula cintaku pada Indri musnah. Aku tak peduli lagi Indri dekat dengan siapa saja. Sampai sekarang.

Minggu, 18 Juli 2010

Cinta Monyetku Kandas Karena Orang Tua


Special Post Theme "Cinta Monyet"
Cinta monyetku yang ini lebih jelas daripada kisah sebelumnya. Sebab ini terjadi ketika usiaku menginjak enam tahun. Pada masa itu, aku iri melihat kawan-kawan masuk sekolah. Tapi keirian itu tertahan. Ibuku belum mau mandaftarkan aku ke sekolah. Alasannya, beliau takut aku belum mampu.
Dalam kondisi demikian, aku hanya bisa bertanya pada teman-teman tentang apa yang mereka alami di sekolah. Jawaban yang kudapat tak ada yang menyenangkan. Bagi mereka sekolah itu membosankan. Harus belajar itung-itungan, membaca, mengerjakan PR, distrap di depan kelas dsb.
Namun sesuatu yang beda kutemukan pada sosok Lisnawati. Ia baru kelas I SD. Baginya sekolah menyenangkan. Ia juga sangat menyukai belajar. Kabarnya ia berhasil memeroleh juara kelas pada ulangan Catur Wulan (Cawu) I. Aku juga sering mendengar dia belajar membaca. Suaranya amat lantang melafalkan pelajaran Bahasa Indonesia tiap malam usai Isya.
Penasaranku terhadap Lisnawati yang beda dari teman lainnya ini berbuah keakraban. Ia selalu menemuiku untuk main bersama sepulang sekolah. Tapi dia tak sendirian. Jumariyah, tetangga Lisnawati beberapa hari terakhir selalu ikut main bersama. Aku memerhatikan saja ketika mereka berdua mulai mengasingkanku dengan mainan khas perempuan. Sebuah mainan kertas, berupa gambar-gambar orang yang bisa diganti-ganti pakaiannya mereka keluarkan. Kami menyebut mainan khas cewek itu BP atau Bongkar Pasang.
Walau aku tak ikut main, tapi aku senang bisa memerhatikan dari dekat wajah ayu Lisnawati. Aku merasakan kebahagiaan luar biasa. Apakah ini namanya cinta?
Keasyikanku sedikit terusik dengan hadirnya beberapa orang anak lainnya. Mereka rata-rata kelas III dan IV. Pe’i adalah satu dari mereka. Ia mencandai kami.
“Hayoooo... pacaran ya…? Ih masih kecil sudah pacaran…” kata Pe’i.
Aku hanya diam tak tahu harus berbuat apa. Marahkah? Senangkah? Atau nangiskah? Tapi lagi-lagi, timbul rasa PD, bahwa ledekan Pe’i itu adalah pengakuan masyarakat akan cintaku terhadap Lisnawati. Ini berarti aku harus senang menyikapi Ledekan seniorku itu.
Pandangan kuarahkan pada dua perempuanku yang asyik dengan mainannya. Mereka tampak tak peduli dengan kehadiran Pe’i. Apakah mereka tak mengerti cinta? Atau mereka, terutama Lisnawati, merasakan hal sama sepertiku, yakni senang karena dapat pengakuan dari senior bahwa kita sedang pacaran?
Belum selesai aku berfikir, Sri Wahyuni, siswa kelas IV yang datang bersama Pe’i tadi, mengajak kami semua bermain “manten-mantenan” atau pengantin-pengantinan. Permainan ini semacam simulasi pernikahan. Aku, Lisnawati dan Jumariyah adalah pengantinnya. Kelima seniorku mendandani kami bak seorang raja dan permaisuri. Aku berperan sebagai seorang pengantin lelaki yang menikahi dua perempuan. Pe’i dan Udin menyiapkan tiga kursi. Setelah siap, aku dipersilakan duduk di tengah. Sedangkan Lisnawati di samping kananku dan Jumariyah di sebelah kiri.
Tak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat itu. Yang jelas aku melihat kedua istri-istrianku itu sangat cantik luar biasa. Aku pun benar-benar merasakan untuk kali kedua, jatuh cinta pada dua hati dalam waktu yang sama.
Esok harinya, Lisnawati mendatangiku. Kabarnya ia kena marah orang tuanya karena main manten-mantenan dengan make up sembarangan. Ya memang, make up yang kami gunakan adalah make up ala rimba. Para seniorku mendandani kami dengan dedaunan, bedak dari batu-bata yang dileburkan dan sebagainya. Parah memang. Hahahaha.
Tapi cerita Lisnawati itu tak membuat teman-teman seniorku kapok. Mereka mengajakku dan Jumariyah untuk kembali bermain itu lagi. Hingga hari ketiga kami bosan dan tak lagi mau diajak main itu lagi. Kami berganti main dagang-dagangan. Aneka dedaunan dan batang pisang kami jadikan barang dagangan. Daun becah belah adalah uangnya. Semakin lebar semakin besar nilainya. Dalam masa ini, cintaku pada Jumariyah berkembang pesat. Nyaris menyisihkan cintaku pada Lisnawati yang tak lagi mau main bersama kami karena larangan orang tua.
Sore menjelang maghrib kami baru bubar. Sampai di rumah, ayah memarahiku karena terlalu sore pulang. Lagi pula badanku gatal-gatal akibat alergi terhadap bermacam dedaunan yang kami mainkan. Sama seperti ayahnya Lisnawati, ayahku juga melarang aku kembali bermain dagang-dagangan. Akhirnya intensitasku bertemu dengan Jumariyah maupun Lisnawati berkurang drastis dan nyaris tak ada. Cinta kami akhirnya terhalang oleh kedua orang tua… hahahahaha

Cinta Monyetku Pada Dua Santri Ayahku.

Special Post Theme "Cinta Monyet"
Aku masih ingat dengan jelas saat pertama kali aku menyukai seorang perempuan. Rasa suka yang kuyakin nyaris sama kadarnya ketika aku mencintai seorang wanita saat ini. Waktu itu umurku 4 tahun. Aku yang terlahir sebagai anak seorang kiyai, sangat akrab dengan para santri atau remaja masjid di kampungku. Tiap malam para pemuda, datang ke masjid dan mengikuti pengajian kitab-kitab layaknya di pesantren. Ba’da isya adalah jadwal mengaji bagi mereka yang berusia 10 tahun ke atas. Ayah turun langsung sebagai pengajar sentral. Tempat pengajiannya adalah di pendopo rumahku.
Sebagai anak kiyai yang masih balita, aku bebas mengganggu ayah yang tengah mengajar. Sembari mengganggu ayah, mataku nakal memerhatikan santri-santri putri. Dalam pengajian ini tak ada pemisah antara santri putri dan putra. Mereka hanya membuat blok. Santri putri sebelah kanan dan putra sebelah kiri. Jumlah mereka cuma sembilan orang. Lima diantaranya perempuan.
Dari lima santri putri itu, dua orang yang menurutku paling cantik adalah Lastri dan Sudharmi. Lastri saat itu duduk di kelas III SMP. Sementara Sudharmi kelas I SMP. Aku senang ketika dekat dengan mereka. Sebuah rasa senang bercampur malu ketika menatap wajah mereka.
Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Karena kutahu, keduanya juga senang dengan ulahku, yang sering mengaku sebagai pacar mereka. Mungkin bagi mereka itu lucu. Padahal aku benar-benar suka sama mereka berdua. Terutama Lastri. Para santri lain dan beberapa tetangga sering menggodaku.
“Le, Tole* pacarmu siapa?” goda mereka.
“Mbak Lastri sama Mbak Dharmi,” jawabku bangga dan sedikit malu-malu.
“Mbak Lastri sama Mbak Dharmi, cantikan mana?” ini juga pertanyaan yang sering mereka pakai untuk menggodaku.
“Cantik dua-duanya, eh cantikan Mbak Lastri deng” jawabku biasanya.
Tawa riang selalu keluar dari mulut para penggodaku. Mereka tak pernah bosan mengulang bertanya. Padahal jawabanku tetap itu-itu juga. Bagi mereka, itu suatu hiburan. Sedang bagiku, pertanyaan macam itu merupakan semacam pengakuan publik atas kepemilikan cintaku.
Beberapa bulan kemudian, cintaku mengendap. Menyisakan satu C-I-N-T-A hanya untuk Mbak Lastri. Namun, setelah lulus SMP Mbak Lastri dipinang seorang ustadz dari kampung sebelah. Usia suaminya tujuh tahun lebih tua.
Aku datang di pesta perkawinan mereka, karena ibuku ikut rewang*. Melihat Mbak Lastri bersanding di pelaminan, aku sama sekali tak merasakan kesedihan. Malah aku sangat senang. Gaun pengantin dan make up yang ia pakai membuatnya seperti bidadari. Aku tak menghiraukan teman-teman yang asyik bermain dan menyantap kue. Kesempatan ini aku gunakan untuk berlama-lama menatap Mbak Lastri yang lagi cantik-cantinya.
Pesta usai, hari berlalu. Aku mulai merasakan sesuatu yang hilang. Mbak Lastri tak lagi datang mengaji di rumah selesai isya. Aku juga sering melihat suaminya memboncengnya dengan sepeda.
Pernah suatu saat mereka berdua lewat depan rumahku dengan sepeda ontanya. Sepuluh meter sebelum mereka tiba, aku telah mengintai. Setelah menguatkan tekad dan keberanian, aku coba menyapa mbak Lastri.
“Mbak Lastri...” sapaku.
“Eh, Bowo,” jawab mbak Lastri kaku.
“Ah, mbak Lastri sekarang beda. Nggak kaya’ dulu yang ramah sama aku. Dia sudah nggak sayang sama aku. Apalagi tatapan suaminya padaku, seperti tatapan seekor alien. Aku benci dia, aku benci dia, aku benci mereka,” gumamku dalam hati menatap mbak Lastri dan suaminya yang kian menjauh.
Sejak itu aku benar-benar merasakan kehilangan amat dalam. Aku kehilangan cinta monyet indahku. Cinta yang kukenal pertama kali. Bahkan itu adalah cinta yang kusadari, sebelum aku menyadari cinta terhadap orang tua.


*Tole: panggilan Jawa untuk seorang anak kecil laki-laki.
*Rewang: Dalam tradisi orang Jawa di kampung, ketika sebuah keluarga mengadakan acara hajatan besar, seperti nikahan, selamatan dan sebagainya, mereka biasanya mengundang keluarga dan tetangga-tetangga dekatnya untuk menjadi penyelenggara. Ketua akan membagi tugas kepada seluruh orang-orang yang diundang untuk rewang, tegantung spesialisasinya. Ada yang bertugas memasak, penerima tamu, pramusaji dsb. Kegitan ini disebut rewang.

Selasa, 13 Juli 2010

Pasrah IV


-->
Lanjutan Kisah Cinta Bunda Dan Om
Sampai di rumah, Bunda mulai memikirkan pertanyaan yang nyeletuk dari bibir Om Budi. “Memangnya aku nggak baik?” kalimat ini terus terngiang di hati Bunda. Berulang-ulang hingga tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 04.00. “Ah, aku harus segera tidur. Esok pagi aku harus ngajar. Anak-anak TK muridku menunggu” kata Bunda cepat-cepat menyadari kondisi pikirannya.
Detik berguling, hari makin berlalu. Singkat cerita, Bunda dan Om Budi akhirnya sepakat melangsungkan pernikahan. Keduanya melakukan resepsi tanpa pesta. Babak baru dalam hidup mereka jelang bersama.
Bahagia menyelemuti. Tetapi ada satu hal yang mulai mengusik Bunda. Sikap Om Budi yang cemburuan dan cenderung protektif serta selalu ingin tahu masa lalunya, membuat Bunda tak nyaman.
Cemburu Om Budi terhadap laki-laki yang mengirim pesan ke inbox Bunda juga belum hilang. Ia terus mengorek masa lalu Bunda. Tindakan Om Budi sampai berbuah pertanyaan yang tak penting. “Kamu dulu waktu pacaran sama dia, kalau pulang diantar dia, ciuman nggak?”
Pertanyaan semacam itu membuat Bunda diam. Hatinya tertawa geli campur kesal. Reaksi Bunda membuat Om Budi geram. “Kok diam?” tanyanya.
“Kalau aku jawab ‘nggak’, kamu pasti tak percaya. Kalau aku jawab ‘ya’, kamu pasti marah. Jadi lebih baik aku diam,” jawab Bunda sewot.
“Ya udah jawab saja. Aku mau tahu aja.”
“Ya sudah. Tapi jangan marah. Jawabannya ‘Ya’, puas?”
Mendengar itu Om Budi diam, marah dan meninggalkan Bunda. Ia mengambil gitar dan duduk di teras hingga pukul 03.00 dini hari. Bunda tahu, suaminya minta perhatian. Namun ia tetap membiarkan tindakan suaminya itu.
Sebenarnya hati Bunda juga tak tenang. Sampai ia pun tak sanggup memejamkan mata. Akhirnya ia coba menyisihkan ego, keluar menuju ruang tamu. Daun pintu terbuka bebeapa senti, Om Budi tampak terkantuk-kantuk memeluk gitarnya.
Bunda mengambil segelas air dari dispenser. Ia meletakkan gelas di atas meja kaca. Dari tempat duduknya, sesakali ia menatap sang suami yang curi-curi pandang cari perhatian.
“Jadi, tak mau peduli nih?” suara tanya itu berjalan pelan masuk lewat sela daun pintu, merambat ke telinga dan beristirahat di hati.
Bunda bangkit dari duduknya. Ia tanggalkan keragu-raguan yang muncul dari selubung ke-Aku-annya. Ia menghampiri Om Budi, lalu mengalungkan tangan di pundak lelaki tersebut.
“Kita sudah membuka lembar baru kehidupan. Tak usahlah kita terus menengok ke belakang. Kita hidup untuk masa depan kita, masa depan anak-anak,” kata Bunda pelan. Di tenggorakannya tersembunyi rasa amarah atas ulah suaminya itu. Sang suami hanya diam.
“Ya, sudah,” kata suaminya.
“Ya sudah gimana?”
“Ya sudah, ayo ke dalam.”
“Oh. Tapi aku tak mau lagi membahas masalah ini. Nggak penting! Sekali lagi kamu tanya tentang hal ini, aku pergi dari sini,” ancam Bunda serius.
Sejak saat itu, Om Budi tak lagi berani menanyakan kisah-kisah lalu istri barunya ini. Mereka mantap menatap masa depan. Tapi rasa penasaran yang amat dalam kadang tak terbendung. Selalu saja ada momen yang mengingatkan Om Budi tentang masa lalu itu. Sehingga ia terpaksa harus menanyakan hal itu pada Bunda. Namun, pertanyaan tersebut selalu layu sebelum berkembang. Sebab Bunda selalu tahu gerak-gerik dan kalimat yang akan menjurus pada pertanyaan-pertanyaan seperti tadi. Jika itu terjadi, Bunda langsung memotongnya. “Hayoo!!! Mau nanya itu lagi?!”
Om Budi pun diam. Tak berani bertanya lagi. Rupanya ancaman Bunda cukup sukses meredam gejolak penasaran yang tak perlu diungkapkan itu.
Dua tiga hari, keadaan ini mampu membuat keduanya berlabuh di taman bahagia. Namun berikutnya, giliran Bunda meraskan ada sesuatu yang hilang. Sebuah kondisi di mana ia selalu diserang oleh tanya penasaran suaminya. Kehilangan itupun mengendap di dinding waktunya. Endapan yang kemudian berbalik memantulkan penasaran dalam jiwa. Untuk kali pertama Bunda merasa penasaran besar pada masa lalu suaminya.
Bunda sadar, mengutarakan penasaran ini hanya akan menambah masalah. Tapi ia tak mampu membohongi diri sendiri. Rasa itu makin memuncak dan tak tertahan. Setiap kali ia memeluk suaminya menjelang tidur, tiap itupula hatinya mual, ingin memuntahkan segala tanya dalam dada. Buru-buru ia menahan diri dengan kabur ke kamar mandi.
“Kemana?” tanya suaminya.
“Ke kamar mandi,” jawab Bunda setengah berlari.
“Kenapa? Kamu sakit?”
Bunda tak lagi menghirukan tanya suaminya yang telah di bekap kelelahan. Di kamar mandi, ia diam sejenak. Membasuh muka dan mengambil napas panjang lalu berwudhu.
Ia tak langsung menuju ranjang. Diambilnya mukena, lalu dengan penuh kekhusyu’an ia melakukan sembahyang. Memohon ketenangan dan pasrah pada Tuhan.
Ketenangan yang menyelimuti tiba-tiba, membuat Bunda terlelap cepat. Namun hanya beberapa jam saja, gelisah kembali mengobrak-abrik padang ilalang mimpinya. Ia terbangun pukul tiga. Tak ada jalan lain kecuali memohon pertolongan Tuhan atas situasi psikis yang ia alami.
Tiga hari dalam perasaan jiwa yang tak tenang, Bunda tak sekalipun mengungkapkan itu pada suaminya. Hingga suatu malam, seorang wanita dengan rambut panjang berombak mendatanginya dalam mimpi. Mimpi yang begitu jelas. Sangat jelas hingga seperti nyata. Perempuan itu datang dengan wajah bengis.
“Kamu ngapain di sini? Kamu nggak akan bahagia sama Budi. Budi cuma sayang sama aku. Dia nggak sayang sama kamu. Kamu akan kecewa. Kamu akan menderita. Budi akan meninggalkanmu, menyia-nyiakanmu,” ujar perempuan itu dengan ekspresi mengancam.
Bunda segera terbangun. Diambilnya air wudlu dan shalat dua rakaat. Paginya, Bunda bertanya-tanya, siapa perempuan yang menemuinya tadi malam? Apakah ia almarhum istri suaminya?
“Mas, minta kunci lemari itu dong,” Bunda menunjuk sebuah lemari kecil yang menyimpan beberapa album keluarga.
“Buat apa?” tanya Om Budi.
“Nggak apa-apa? Aku mau lihat-lihat foto almarhum.”
Om Budi diam sejenak. Membiarkan tanya hatinya tak terjawab. Setelah yakin takkan ada masalah, ia mengambil sebuah rentengan kunci. Lalu ia serahkan rentengan kunci itu pada Bunda.
Bunda membuka album keluarga tersebut dengan hati-hati. Namun berjam-jam ia amati foto almarhum, tak satupun kemiripan yang ia jumpai dengan perempuan di mimpi itu. Lalu siapakah dia? Bunda tak berani bertanya pada Om Budi yang sedari tadi heran mengamati tindakannya.
Menjelang magrib, saat Om Budi dan Encang (panggilan orang tua almarhum, yang tinggal di rumah ini) santai di ruang tamu menonton TV, Bunda memberanikan bercerita tentang mimpinya. Mendengar detail cerita Bunda, Om Budi pergi begitu saja tanpa basa-basi. Kemudian Encang mulai angkat bicara. Encang meyakinkan, bahwa perempuan di mimpi Bunda itu adalah perempuan yang pernah membuat keluarga Om Budi dengan almarhum istrinya berantakan. Bahkan keduanya sempat bercerai gara-gara perempuan itu.
Menjelang tengah malam, Bunda tak segera memejamkan mata. Pikirannya kosong. Terlintas kembali mimpi yang ia alami malam kemarin. Tanpa sadar, lamunannya berujung pada mimpi yang hampir sama. Tapi di sini yang muncul bukan saja perempuan itu. Ada Om Budi di samping perempuan rambut panjang bergelombang itu. Mereka berdiri di sebuah tempat yang asing, tapi terasa sangat dekat. Pohon-pohon berjajar, beberapa perangkat out bond, rerumputan dan danau merupakan dekorasi mimpi itu.
Tak lama, Bunda melihat almarhum mendatangi Om Budi yang bergandeng tangan dengan perempuan tadi. Almarhum tampak ingin mengatakan sesuatu.
Bunda tercengang kaget, saat kedua perempuan di depannya itu saling memaki dan saling menjambak rambut panjang mereka. Bunda juga tertegun menyaksikan Om Budi hanya diam tak melerai. Almarhum kemudian mundur. Matanya tajam menatap Om Budi.
“Kamu pilih aku atau dia? Kalau pilih aku, tinggalkan dia. Kalau pilih dia, pegilah tinggalkan aku,” tegas almarhum.
Om Budi pergi berlalu bersama perempuan itu sambil menatap almarhum yanng menangis tersedu-sedu dengan tatapan penuh rasa bersalah. Mimpi ini berakhir menjelang subuh.
Usai menyiapkan sarapan, Bunda kembali menceritakan mimpinya pada Suaminya dan Encang. Dan seperti kemarin, Om Budi meninggalkan Encang dan Bunda yang tengah berkisah tentang mimpi semalam.
Encang membenarkan, mimpi itu adalah kejadian nyata yang terjadi beberapa waktu lalu. Tempat kejadiannya di Situ Gintung. Persis seperti apa yang ada dalam mimpi.
Malam-malam berikutnya, masa lalu Om Budi tetap menghampiri Bunda lewat mimpi. Saking seringnya, Om Budi tak lagi mau mendengar dan melarang Bunda bercerita. Akhirnya Bunda pun selalu diam terhadap mimpi yang datang padanya. Berbagai peristiwa, tangisan, perempuan rambut panjang bergelombang yang terus menebar ancaman, pertengkaran Om Budi dengan almarhum istrinya dsb, selalu datang tiap malam selama enam hari. Hingga pada malam ke tujuh Bunda bermimpi, almarhum datang ke rumah.
“Hai Pie,” sapa almarhum pada Bunda yang sama-sama punya panggilan Opie.
“Ya Pie,” sambut Bunda. Keduanya tampak seperti sudah saling mengenal sejak lama. “Mampir ke dalam lah,” Bunda menawari almarhum untuk masuk ke rumah.
“Enggak, aku buru-buru kok,” jawab almarhum. “Titip anak-anak ya, titip Mas Budi juga,” kata almarhum berpesan.
“Ya,” jawab bunda singkat dengan makna yang sangat padat.
“Oya Pie, ada payung hitam nggak? Pinjam dong,” pinta almarhum pada Bunda.
“Kalau payung hitam nggak ada. Ada di belakang payung merah. Itupun sudah agak rusak,” jawab Bunda serius.
“Payung hitam ah, besok mau hujan nih,” pinta almarhum memaksa.
“Oh ya sudah, coba aku cariin,” jawab Bunda yang langsung terbangun.
Paginya, Bunda belum berani bercerita pada Om Budi tentang mimpi semalam. Karena seperti sebelumnya, Om Budi tak mau mendengar masa lalunya yang terbongkar lewat mimpi Bunda.
“Ncang, tadi malam aku mimpi, Mbak Opie minta payung hitam. Katanya hari ini mau hujan deras,” papar Bunda pada Encang.
“Ya elah ntu anak, udah mati ya udahlah, pakai minta-minta payung segala. Ngapain sih ntu anak? Jawab Encang ngasal. “Ya sudah sono bilang sama Budi,” lanjut Encang.
Dengan hati-hati Bunda menyampaikan permintaan almarhum kepada Om Budi. Pagi itu, menjelang pukul 10.00, Om Budi pergi ke toko. Ia kembali ke rumah dengan dua buah payung hitam. Usai menaruh satu payung di dapur, Om Budi segera meluncur ke makam almarhum. Ia mengucap salam dan berdoa kepada Tuhan, agar almarhum mendapat tempat yang baik di sisi-Nya. Kemudian Om Budi mengembangkan payung hitam di tangannya, lalu menancapkan tepat di makam almarhum.
Sampai di rumah, ia menjumpai Bunda. Tak ada kata terucap dari istrinya itu. Bunda hanya terpaku di pintu. Ia menunggu kata-kata yang sepertinya akan diucapkan sang suami.
“Aku sudah taruh payung itu di makam almarhum,” kata Om Budi.
Seketika itu pula, hujan turun dengan derasnya. Air hujan tempias ke rumah Om Budi, membuat seluruh buluguduk Bunda merinding, teringat mimpi semalam.
Setelah kejadian terakhir, mimpi-mimpi Bunda berjalan normal. Tak ada lagi masa lalu suaminya menghampiri. Tapi jika mengingat kejadian dan mimpi yang ia alami, buluguduknya tak dapat tertahan.