Home

Jumat, 30 Agustus 2013

Go Away Extremist



Kau pikir suci
merasa pejuang agama Allah
Tapi mulutmu kotor berbisa
menghujat
mencaci kerukunan antar perbedaan
Bagimu, perbedaan harus tetap
tidak mungkin satu
kecuali menjadi pengikutmu

Ah, sama saja kau
dengan para penjajah yang kau laknat
Aku tahu 
karena aku pernah di atas lantai picikmu
berdiri persis senaif kau
Kau takut atau bingung
Kenapa pikiranmu terhadap liyan selalu perang dan perang
Kau menghujat Amerika 
tapi mulutmu tak ubahnya George Bush
Pergi kau dari Indonesia-ku jika tak mampu menerima keragaman, perbedaan,
Pergi dan datangi musuh-musuhmu
Jangan berperang dan berhujat di tanah airku

Kutampar Kau


Aku bukan penantimu
Tidak juga mengharapmu
Terbukti dengan tak peduli
meski lelana kata melakonkan bisiknya
menyusup kuping-kuping ‘kepo’ yang tiada harap sensasi
hanya pengisi kesenjangan antar pribadi
tiada pula menghakimi
selain kadar membalutku dengan gunjingan
membuatmu merasa tereksekusi, terusik

kau berharap pergi
perkenalan dulu bencana buatmu
getah pisang di baju putih
simbol pengabdian duka atas kemerdekaan semu

Kau tak punya satu bukti pun
selebih peristiwa paling ‘dhaif’ serta puluhan saksi ragu
dan para para ‘rawi’ iseng pecanda
pengolok-olok santai
kemudian mengasihimu
karena merasa dikorbankan kobaran malam
yang meledak-ledak di langit awal putaran surya

Kalau memang kau ku trisna
jangan kira pada ‘bondol’ rambut dan aduhai tubuh yang diidam si Kacau berkutu
Bila cinta kusebut pas
sebelum namamu tertulis
maka mengacu perempuan ayu di sanggar khayal
Bukan padamu, walau kudu diakui
kaulah pemicu
terciptanya bayangan mulia yang kutentukan
Suguhkan pipimu di mukaku
Kepalan ini telah mekar siap menampar menyadarkanmu

Masih Kamar Instalasi, Legoso, 30 Agustus 2013