Home

Minggu, 22 April 2012

Kabut

Slide 5
Kabut aku merindumu
di tangan terik terang
penuh polusi
tak sedikitpun kau datang
Hanya rintik-rintik hujan
malas dan terpaksa
mengabarkan kesan kelabu

Kabut masihkah kau di kampung
atau enggan turun gunung
bersembunyi di balik rimbun pepohonan
yang basah karena embun
mendinginkan gelora magma bumi
Terang pendar-pendar cahaya
tak nyata tanpamu
gelap gulita
sepah di lidah sepi
Ciputat, Januari 2012

Kamis, 19 April 2012

Alamat

Harus berkabar

jengahku tanpa sketsa

Di mana menemukanmu bila tak tahu tepatnya aku

Umpama rindu membalas suratmu

alamat siapa yang kan kau pinjam

sedang trotoar telah dikuasai pedagang

juga kebisingan

dan persinggahan dibeli coret-coret liar

membawa pesan dari masa silam, buram

Trans

Ketika hati mencapai puncak tertinggi

sementara akal masih saja memijak bumi

tiada lebih ngeri ketimbang hilangnya arah dan tujuan

Kalau tiap jangkah itu ke depan

mundur pasti ke belakang

karena jagad yang bulat

tujuanmu adalah kepergiannya

sampai tiba di titik sana

rindu kan memaksa menjenguk peristiwa, waktu, ruang, dan pernak-pernik gambar

yang telah menjadi silam

Apa arti perjalanan, jika hanya meninggalkan dan untuk kembali mula?

Apa pula ketenangan

berdiri memaku waktu di tengah segala silih berputar?

Diam dan gerakmu berpeluk pelapukan

Jadi hidup sekadar membuang rasa bosan

Kamis, 12 April 2012

Maaf Ernest Hemingway

Maaf Tuan Hemingway
Pestaku bukan pesta bergerak
yang berjalan menuju penyelesaian.
Temanku, panggillah Abah. Ia masih muda. Hanya lantaran pernah berteater di Madrasah Aliyah dengan peran dukun yang dipanggil Abah, tanpa bubur merah dan upacara selametan, nama itu terus melekat padanya. Selamanya.
Dari Abah kudengar, tak ada pesta yang tak berakhir.
Seperti itulah pestamu Tuan Hemingway. Pesta yang bergerak menuju sunrise. Ketika moncong-moncong bintik cahaya menghisap embun dengan lahapnya, pestamu berubah bayangan hancur perlahan, tertimbun oleh pejaman.
Tapi pestaku tidak Tuan Hemingway. Pestaku pesta yang diam. Pesta yang tenang tanpa kegaduhan para tukang bangunan di samping kamar yang dengan ototnya memaksakan paku pada kayu yang kaku.
Apakah pestaku juga akan berakhir seperti kata Abah?

Penyatuan

Sampai bulan setengah

di angkasa hitam membiru

campur awan berurai diam

hanyut meluncuri kelok blues

makin dalam makin diam

Kian keras telinga mendengar

tak lagi punya lidah berputar

Di bawah paling macam warna

bening takkan terlukis

Asap melebur udara bukannya sirna

Mata terpejam meluaslah batas pandang

Hilang adalah Ada