Home

Rabu, 25 November 2009

Hsun Tsu; Sang Rasionalis China 300 SM

Kodrat Asli Manusia Adalah Buruk

Hsun Tzu adalah salah-satu pemikir dan filsuf China yang lahir di Negara Chao sekitar tahun 300 SM. Meski berabad-abad lalu, namun pemikirannya masih berpengaruh dan relevan dengan zaman sekarang. Salah-satu buah pikir kontraversial ialah ketika secara tegas Hsun Tzu menyatakan, kodrat manusia adalah buruk. Hsun Tzu mengawali pembahasan tersebut sebagai berikut:


“Kodrat manusia adalah buruk. Apapun kebaikan yang baik yang terdapat dalam dirinya adalah akibat latihan yang diperolehnya. Manusia lahir dengan kesukaan atas keuntungan. Jika kecenderungan ini diikuti, maka mereka akan gemar bertengkar serta rakus, sama sekali tidak mengenal basa-basi dan tidak memperhatikan orang lain. Sejak lahir mereka penuh dengan sifat iri dan benci terhadap orang lain. Apabila sifat-sifat ini dikekang mereka menjadi ganas serta keji, sama sekali tidak memunyai ketelusan dan i’tikad baik. Saat dilahirkan, manusia membawa serta kesenangan melalui telinga dan mata, kesukaan akan bunyi dan warna. Jika ia berbuat seperti apa yang ia diinginkan oleh hal-hal tersebut, maka ia akan menjadi jangak serta resah, dan tidak memperhatikan li atau keadilan atau sikap tengah-tengah.”

Bagi Hsun Tzu, berbuat sesuai kodrat manusia adalah sejalan dengan naluri yang menimbulkan kesukaan bertengkar, ketamakan dan keresahan yang menyebabkan umat manusia mengalami suasana penuh kekerasan. Menurut Hsun Tzu, hanya dengan bimbingan para guru dan hukum serta li atau keadilan, manusia dapat menemukan basa-basi serta kebijaksanaan. Atas dasar ini, Hsun Tzu menyimpulkan kodrat asli manusia adalah buruk. Ia menjadi baik hanya bila melalui latihan yang diperolehnya. Sebagaimana pedang yang majal, harus digosok atau diasah supaya menjadi tajam. Begitu halnya manusia, harus digarap para guru dan hukum serta dilengkapi li agar menjadi manusia yang jujur dan tertib. Tanpa guru dan hukum, manusia akan mementingkan diri sendiri, jahil dan tidak adil. Tanpa mengenal li serta keadilan, mereka susah diatur, suka memberontak dan resah.

Hsun Tzu menyangkal argumen Mencius (pemikir sezamannya) yang mengatakan, kenyataan manusia dapat belajar membuktikan kodrat asali manusia adalah baik. Lebih lanjut hemat Hsun Tzu, Mencius tak paham apa itu kodrat manusia. Mencius tak mampu membedakan secara lihai antara kodrat asli dengan watak yang diperoleh kemudian. Kodrat manusia adalah apa yang telah dikarunikan Tuhan sejak lahir. Ini tak dapat diupayakan, pun dipelajari. Sesuatu yang bisa dipelajari dan diupayakan adalah watak yang diperoleh kemudian, bukan asali.

Kodrat manusia yang dimaksud Hsun Tzu setara dengan orang yang lapar pasti ingin menjejali mulutnya dengan makanan, orang bekerja yang harus istiraha. Akan tetapi ada beberpa orang yang menahan laparnya demi mendahulukan orang yang lebih tua atau kurang mampu. Hal ini bertentangan dengan kodrat manusia. Jika ia menuruti kodratnya, maka saat ia lapar, ia akan melahap saja makanan dihadapannya tanpa peduli orang tua atau yang kurang mampu.

Pemuja Rasionalitas

Hsun Tzu hampir sepenuhnya mengesampingkan faktor keagamaan. Hal ini bukan hanya dari wawasannya mengenai li tapi juga seluruh pemikirannya. Hantu, menurutnya hanya dibayangkan oleh mereka yang pikirannya rancu, padahal mereka tidak benar-benar melihatnya. Hsun Tzu juga memberi contoh, jika seseorang berdoa meminta turun hujan lalu hujan pun turun, itu bukan karena doanya. Meskipun orang tidak berdoa hujan juga akan turun.

Tak hanya itu, Hsun Tzu menertawakan Mo Tzu (pemikir China juga) yang menganggap, hasil panen yang baik dan kemujuran merupakan pertanda Tuhan membenarkan kebijakan seorang penguasa yang baik. Sebaliknya jika bencana berulang kali melanda sebuah negara. Bag Hsun Tzu yang harusnya diamati dan diselidiki ialah bagaimana seorang penguasa memerintah. Sudahkah sesuai dengan keinginan rakyat, apakah rakyat sejahtera atau menderita. Bukan dengan mengamati datangnya bintang berekor atau gerhana bulan.
Rasinalitas Hsun Tzu juga tampak dalam menyikapi upacar-upacara kurban. Baginya, itu tak ada bayang-bayangnya (pahala di akhirat kelak). Upacara ini layak dihargai karena nilai kemasyarakatannya untuk menyalurkan perasaan dengan cara yang sudah diakui dan bermanfaat.

Tuhan dan Li

Hsun Tzu tidak mengesampingkan gagasan ketuhanan. Tapi ia mendefinisikan ulang konsep ketuhanan itu. Menurutnya, Tuhan sekadar tatanan alam. Dia tak pernah campur tangan dalam menjalankan hukumnya, melalui mu’jizat misalnya. Tuhan adalah tatanan alam dan orang harus memelajari hukum-hukum Tuhan dan berbuat sesuai dengan hukum-hukum tersebut.

Sementara itu Li, menurut Hsun Tzu diciptakan para raja bijaksana, namun bukan diciptakan dengan semau-maunya. Li memberikan keindahan, kepentingan, irama serta pengendalian terhadap seluruh aktivitas manusia.

Kelas Masyarakat Dalam Negara Adalah Keniscayaan

Hsun Tzu sepakat dengan pembagian kelas masyarakat. Pembagian ni bukan dalam rangka penindasan terhadap yang lemah. Melainkan menjaga negara dari kekacauan. Sebab bagi Hsun Tzu, jika semua orang berada pada kekuasaan yang sama, maka sama halnya tak ada kekuasaan/pemerintahan. Pengandaian lain, jika setiap orang punya kekuasaan yang sama, lalu menyukai atau tidak menyukai hal yang sama, maka akan terjadi perebutan dan kekacauan. Pembagian kelas itu sudah sewajarnya, sebagaimana ada langit ada bumi.

Gagasan Hsun Tzu tentang pemerintahan pada dasarnya sama dengan Confusicianisme, pemerintahan adalah untuk rakyat bukan untuk penguasa. Tindakan penguasa yang memelaratkan rakyat dan para sarjana, berarti memancing malapetaka. Fungsi penguasa adalah memilih mentri yang bajik dan mempu menjalankan tugasnya secara baik tanpa melihat hubungannya dengan dia dan tanpa pilih kasih. Seorang yang bajik tak dapat diganggu gugat. Sebaliknya, penguasa yang jahat bukan lagi penguaasa dan harus diturunkan dari singgahsana.

Demikianlah, semoga kita mampu mengambil hikmah yang mungkin belum kita temukan. Walau mungkin kita, anda, saya dan mereka beda keyakinan, tapi aku yakin kita sepakat bahwa hikmah merupakan barang hilang yang harus terus kita cari. Dan resume ini tak lepas dari kekurangan. Bila ada yang sudi menambahkan, dengan lapang senyum kusambutnya.

Sumber Bacaan: Alam Pikiran Cina, H. G. Creel

Minggu, 01 November 2009

Menjadi Muslim Tangguh Ala Setan

Bercerminlah Pada Setan

MSW-Siapa bilang setan selalu mengarahkan manusia pada keburukan. Siapa bilang setan adalah biang segala perbuatan keji dan mungkar. Yang pada ujungnya,karena setanlah manusia bisa masuk neraka. Tak selamanya setan itu menakutkan. Terdapat hal-hal positif yang melekat pada sifat dan tabiat setan. Tentu saja, ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang berfikir.
Pertama, sebagai penghargaan atas intelektualitas, setan adalah makhluk yang cerdas. Tanpa kecerdasan, ia pasti kehabisan akal untuk menggoda manusia.
Kedua, Tabiat setan yang patut ditiru adalah sifat pantang menyerah. Ini sudah pasti. Sebagaimana petuah mereka yang berada di atas angin, ‘orang sukses adalah orang yang mampu memertahankan semangat.’ Di sinilah kunci sukses besar setan di planet bumi. Sepanjang sejarah, setan selalu menjadi sasaran cacimaki dan hujatan. Bahkan para ulama dan guru ngaji telah memastikan setan masuk neraka, dan kekal selama-lamanya. Sering pula, orang-orang dewasa memakai kata ‘setan!’ untuk mengungkapkan kemarahan dan kebencian pada sesuatu.
Sangat jarang bahkan tak pernah, orang menggunakan kata ‘setan’ untuk menggambarkan sebuah keindahan atau kenikmatan. Biasanya, untuk pengungkapan sesuatu yang indah, orang lebih memilih kata ‘wow’, ‘anjrit’, ‘anjing’ dan sebagainya. Misalnya, ketika anda lagi ber-make up dan melihat wajah Anda dikaca begitu keren dan tampan, mungkin Anda bisa berkata, ‘Wow ganteng banget gue’ atau ‘Anjiiing keren banget gue’. Tapi rasanya tak mungkin mengatakan, ‘Setan! Ganteng banget gue’.
Bisa kita rasakan betapa berbeda rasa yang timbul dari kalimat di atas. Kata ‘Setan’ lebih cocok dipakai untuk penyesalan. Sementara kata ‘Anjing, wow dan anjrit’ pantas dipakai untuk mengungkapkan kebanggaan atau kehebatan.
Namun demikian, setan tak pernah minder dan putus asa. Ia tahu, banyak manusia membencinya. Entah karena hasutan siapa. Tapi semangatnya tak pernah kendur. Ia terus saja menggoda manusia sepanjang masa. Agar, katanya, nanti masuk neraka.
Ketiga, Setan adalah lambang profesionalitas, disiplin dan totalitas. Secara takdir, setan telah dicipta dan ditugaskan Tuhan untuk menggoda dan menjerumuskan manusia. Selama masa karirnya, setan melakukan tugas tersebut secara disiplin dan penuh totalitas. Ia fokus mengemban amanah Tuhan sebagai mahluk penggoda. Ia tak pernah menyeleweng dari perintah Tuhan. Hal itu menjadikan ia makhluk yang profesional dan ahli di bidangnya.
Keempat, Tak ada kebajikan dan kebaikan tanpa adanya setan. Sebagai komandan pasukan keburukan, keberadaan setan mempertegas adanya kebaikan dan kebajikan. Coba pikir, apakah ‘kebaikan’ itu akan ada tanpa adanya ‘keburukan.’ Sama halnya, jika seluruh penduduk bumi pandai apakah mereka disebut pandai? Karenanya, adanya keburukan mempertegas adanya kebaikan. Semakin buram keburukan, maka buramkan kebaikan.
Itulah, sekelumit pelajaran dari setan. Semoga kita tergolong mahluk yang berfikir. Sehingga mampu menangkap pesan dan spirit moral yang ada pada setan. Terlepas ada tidaknya setan, di sini kita andaikan setan itu ada. Meski mungkin wujudnya tak berupa materi. Melainkan energi atau semacam wujud cahaya yang belum bisa kita lihat. Sebagaimana signal HP yang tak bisa kita lihat, raba maupun terawang. Setan adalah lambang survive kehidupan.