Home

Senin, 30 Agustus 2010

Antara YaPentUsh dan Matahari Malam


-->
Minggu siang [29/8/2010], aku sendiri tak ada kerjaan. Tak ada kawan yang datang. Menanti waktu berbuka di kamar tercinta.
Aku lupa pemicunya apa, tiba-tiba ingin menyebarkan semangat Yapentush ke semua kawan di HP. Kebetulan provider nomor selulerku memberi bonus 100 sms ke semua operator. Akhirnya buru-buru kurangkai kata.
“Indonesia membutuhkan pemikir yang paham bangsa sendiri. Perubahan selalu bertolak dari pemikiran. Jangan selamanya mau jadi konsumen dan didikte oleh pemikiran bangsa asing. Salam YAPENTUSH”
Beberapa balasan masuk ke inbox HP-ku. Ada yang memforward tulisan tadi, ada yang bertanya ‘sapa nih?’ karena kebetulan nomorku terhitung belum lama ganti. Sehingga wajar jika ada yang belum tahu nomorku.
Selain itu terdapat balasan berindikasi tawa ‘hehe’, ada pula yang bernada semangat seperti kata ‘siap!’. Dan satu yang beda adalah jawaban dari Husni, alumni jurusanku, Aqidah Filsafat UIN Jakarta. Dia membalas smsku dengan sebuah tanya,
“Di bawah langit ini siapa sih yang luput dari cahaya matahari?”
Ini balasan yang paling berkesan, karena paling beda dari lainnya. Dan memang, sebelumnya aku sempat ragu untuk mengirim pesan singkatku padanya.
Aku tak langsung membalas sms-nya. Memori HP-ku yang jadul, Nokia 3315 tak cukup menyimpan banyak pesan. Aku sibuk menghapus laporan di inbox.
Setelah laporan-laporan di inbox-ku reda, seketika timbul kata dalam otakku, sebuah jawaban untuk Husni. Mungkin kurang tepat bagi kalian atau juga Husni. Tapi bagiku, hingga tulisan ini kuketik pukul 00.42, jawabanku masih pas. Oke, biar jelas kutulis ulang sms tanya Husni yang merupakan respon dari sms yang kusebarkan.
“Di bawah langit ini siapa sih yang luput dari cahaya matahari?”
Jawabku adalah:
“Malam”
[Tulisan ini selesai diketik, Senin, 30-8-2010 Dini Hari]

Sabtu, 21 Agustus 2010

Berbagai Alasan Kenapa Harus Ushuluddin....

INDONESIA, menemui titik kebangkitannya pada tahun 1980an. Ini ditandai dengan berdirinya Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (Ushuluddin) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di fakultas ini, mahasiswa memelajari berbagai disiplin ilmu tentang ushuluddin atau dasar-dasar dari agama dan spiritualitas, serta filsafat, yang merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan.
Karena itulah mengapa hingga kini, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat telah menghasilkan sarjana-sarjana berkualitas dari segi kepribadian, intelektualitas, spiritual dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Alumni-alumni IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sukses dan menjadi tokoh besar, umumnya berasal dari Ushuluddin.
Berbeda dengan fakultas dan jurusan lain di Indonesia, Ushuluddin tak memenjara manusia dengan mencetak sarjana tukang. Tidak ada spesialisi kerja yang dibebankan pada lulusan Ushuluddin. Karena itu, setiap manusia Ushuluddin bebas menentukan masa depannya sendiri, memilih apa yang mereka minati dan merealisasikan apa yang mereka mau.
Mungkin ini kedengarannya terlalu mengawang dan sedikit absurd. Tapi itu bagian dari pendidikan yang ada di Ushuluddin. Mahasiswa Ushuluddin tak dibiarkan instan dan manja. Sebaliknya, Ushuluddin menggembleng mahasiswa supaya mandiri dan mampu menentukan nasibnya sendiri. Oleh karena itu, cuma orang-orang tertentu dan berkemauan kuat serta ambisiuslah yang mampu menerima pendidikan di FUF.
Itu semua terkait dengan kebebasan. Ini adalah fitrah manusia. Manusia berbeda dengan tumbuhan atau binatang, yang segala kehidupannya seragam dan telah ditentukan dari awal. Manusia punya cita-cita dan harapan. Dalam memerjuangkan kehidupannya, manusia harus kreatif. Tak mentah-mentah menelan yang ada, sebagaimana hewan dan tumbuhan. Bagi manusia, semuanya harus diolah, dipikir, dirasa dan dikembangkan. Dari situ, tercipta berbagai kemungkinan-kemungkinan baru. Selanjutnya, terwujudlah proses penciptaan yang terus menerus menuju kesempurnaan.
Demikianlah, Ushuluddin sangat manusiawi. Hal sesederhana ini saja bisa membedakan Ushuluddin dengan fakultas lain, yang tentunya sangat tidak manusiawi. Bicara kemanusiawian, apa yang dipelajari di Ushuluddin pun selaras dengan hal itu. Contoh kecilnya adalah masalah ketuhanan, kehidupan, tujuan penciptaan atau kehidupan sendiri dan sebagainya.
Semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan asasi yang pasti ada di benak manusia. Setiap anak manusia, tak mungkin tidak menanyakan hal itu. Tak mungkin pula pertanyaan ini terjawab hanya dengan mengikuti rutinitas konvensional. Kehidupan manusia bukan sekadar lahir, kecil, dewasa, sekolah, kuliah, kerja, kawin, punya anak dan kecil lagi, begitu seterusnya, Terdapat hal besar di balik itu semua. Ini tak mungkin mampu terpikirkan oleh mahasiswa Fakultas Pendidikan, Komunikasi, Ekonomi, Saint maupun Ilmu Sosial dan Politik. Dan itulah kenapa, rata-rata alumni Ushuluddin atau yang berjiwa Ushuluddin selalu tampil jadi pemimpin.
Perlu dipahami bahwa Ushuluddin bukan hanya berdiri sebagai fakultas yang khusus ada di UIN, IAIN, Perguruan Tinggi Agama atau Theologi. Lebih dari itu, Ushuluddin adalah ruh atau semacam spirit, yang menyebabkan raga kita hidup. Manusia bukanlah apa yang tampak dari raga, melainkan dibaliknya, yang membuat raga itu bergerak, berfikir dan bertindak. Itulah Ushuluddin. Ushuluddin adalah kekuatan tak kasat mata, yang bisa diterima oleh manusia yang menggunakan akal dan terbuka hatinya. Sehingga untuk menjadi manusia unggul tak harus berstatus Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, melainkan cukup dengan mengintegrasi nilai dan semangat Ushuluddin dalam diri. Tokoh-tokoh seperti Nabi Muhammad, Soekarno, Che Guefara, Galileo, Einsten, Newton dan sebagainya adalah contoh dari manusia yang memiliki jiwa Ushuluddin.

Bersambung...


Yapentush \m/