Home

Rabu, 27 Maret 2013

Loneliness Effect



Ini efek dari kesunyian yang lahir dari kesendirian. Bukan tiada orang lain di sekelilingku, tapi aku tak terhubung dengan apapun. Baik mereka yang jauh maupun yang di sekitarku. Aku adalah planet yang berputar-putar di angkasa luar. Sendiri dan kegelapan, tanpa orbit tanpa bintang panutan.
Tak ada gravitasi yang memelukku. Tak ada cahaya yang menerangiku. Tak ada kehidupan di permukaanku. Aku beku.
Satu keinginanku adalah pergi jauh. Jauh sekali. Ke suatu tempat entah di mana.
Aku ingin melarikan diri.
Melarikan diri dari kesunyian.
Melarikan diri dari kesendirian.
Dari kesepian yang telah lama menjadi tempat aku tidur, bangun, makan, buang kotoran, berteriak, melamun dan merenung.
Aku hanya ingin pergi.
Pergi.

tanpa arah


Sejak senja kemarin, aku kedatangan nuansa dan suasana hati dari masa lalu. Mereka kelabu, sendu, dan selalu memelihara kesan asingnya. Meski begitu aku seperti telah akrab.
Mereka mengantarku ke titik waktu yang belum amat lama aku lewati. Kurang lebih satu tahun dari sekarang. Kurang lebih juga di bulan yang sama, yakni Maret 2012.
Kala itu, aku kehilangan harapan. Aku sama sekali tak menemukan alas an dan keyakinan kuat untuk apa dan kenapa aku harus mempertahankan hidup. Kuputuskan bunuh diri. Telah aku pesan dan kubeli racun tikus tanpa merek tapi cukup ampuh membunuh tanpa rasa pahit. Ternyata takdir masih memberiku kesempatan hidup. Ada secercah jalan keluar dari kebuntuan. Ada peristiwa-peristiwa janggal yang intinya masih mengikat nyawaku pada raga ini.
Mungkin aku putus asa saat itu. Aku berusaha melarikan diri. Aku merasa gagal dan tak tahu harus berbuat apa, kemana, atau bagaimana. Hidup tanpa tujuan, tanpa kegiatan dan rutinitas. Bisa kau bayangkan, bukankah itu sangat membosankan. Tiap hari hanya berada di kamar kost, mendengar musik, bermain di media sosial, atau sekadar ngopi dengan teman-teman yang bukan seangkatan.
Dapat kau dengarkan, betapa teriakan, cibiran, tertawaan, cercaan, dan sebagainya mengarah padaku. Aku seperti pecundang. Kuliah gagal, tak punya pacar dan pekerjaan. Aku hanya mengaku sebagai penulis. Aku memang berusaha untuk itu. Tapi aku mengulang berkali-kali, menulis cerpen, novel, atau semacamnya. Hasilnya, taka da yang sempurna. Berantakan dan tak memuaskan.
Menurutku sendiri, aku punya karisma. Tapi skill menulisku sangat kurang. Aku bahkan kesusahan membuat deskripsi. Menjelaskan detail ruang berukuran 4x5 pun kesulitan. Bisa kau bayangkan betapa aku ini penulis sialan.
Aku punya seorang yang aku anggap sebagai salah satu guru menulis. Tapi dia sendiri menyebutku tak punya bakat menjadi novelis, cerpenis, atau sajakis. Ya, aku sadar itu. Aku memang lemah. Otak kanan dan kiriku kurang baik berfungsi. Aku bahkan tak tahu apa bakatku.
Ah, sudahlah, aku telah memilih jadi penulis. Siapa yang mengakuiku sebagai penulis? Kupaksa diriku sendiri mengakui itu. Semoga merembet ke orang lain. Tapi yang kusedihkan, aku sudah amat tua. Orang seumuranku telah umum berkeluarga. Aku juga mestinya telah mampu membayar cicilan haji orangtua. Aku masih menyusahkan ibunda.
Entah mengapa dan bagaimana aku bisa sampai di sini. Tiba dan tinggal di sebuah pengalaman, perasaan, dan pemikiran yang menyatakan bahwa tak ada satupun yang lepas dari kemunafikan. Tengoklah karya-karya seni dan sastra. Tema-tema dalam novel, cerpen, film, lagu-lagu dan sebagainya. Semua mengagung-agungkan kejujuran, ketulusan, kebenaran, bukan kemunafikan, kebohongan dan kecurangan. Dalam kenyataannya semua itu terbalik. Bahkan semacam ada pengaminan bersama dengan adanya ruang privat dan ruang publik.
Secara pribadi atau di kelompok-kelompok atau organisasi khusus, orang boleh saja dan sah mengatakan bahwa tidak ada tuhan. Tuhan telah mati. Tapi di ruang publik mesti sebaliknya.
Secara pribadi, individu atau kelompok, korupsi, trik, tipuan, muslihat, dan segala akal-akalan boleh saja dilakukan. Tapi di depan public, apapun yang terjadi semua itu harus ditentang, dilawan, dibasmi, meski sekadar dalam bentuk kata-kata kosong.
Dan aku orang yang kecele. Orang yang ketipu. Aku tak bisa dan sangat tidak bisa basa-basi atau berpura-pura. Aku terlalu polos menapaki kehidupan. Kukira semua akan mudah dengan kejujuran. Tidak juga. Kepura-puraan sangat dibutuhkan untuk bertahan di kota hayat. Sedangkan untuk di kota, fisikku tidak terlalu kuat.
Lihatlah, apa yang aku tulis ini? Ketidakjelasan. Ketanpaarahan. Menyebalkan bukan? Sialan!!!

Senin, 11 Maret 2013

Sudah Tak "Masih Aja"













Jadi ingat masa lalu, katamu.
Bah...
Usang!
Kalau aku kangen kamu atau kamu kangen aku, bukan karena aku dan kamunya, tapi lebih pada yang terlalui. Jadi, yang dirindu, dengan cinta atau benci, itu momen, peristiwanya.
Kini dan esok, aku dan kau bukan lagi orang yang sama.

Yang kusebalkan! Masih saja kau mengulang ungkapan serta gelagat serupa tatkala sesekali waktu mempertemukan seperti ini. Seolah hatiku masih ada untukmu.
Hallo...!!! Jelas aku bukan yang dulu. Trisnaku padamu telah luntur gara-gara kau curangi sobatku kala itu. Meski akhirnya ia memaafkanmu, menerima tobatmu, tapi entah malah aku yang tak rela,
seraya bersyukur lantaran beban rasa atasmu hilang terhanyut ketaksetianmu. Dan aku bebas.

Kemudian, perpisahan memecah belah ruang. 

Sekarang, aku dan kau bagai ikan yang menghirupi udara air yang berbeda. Kujanjikan senyuman dan kutanyakan lain hal tempo nanti kita berjumpa. Aku yakin kau berubah. Begitu pun aku,
hingga kini tak pernah ada reinkarnasi cinta untukmu lagi. Demi Tuhan.

Marah

Aku khilaf
Aku lupa punya kata
Ketawa saja yang menggema
di telinga dada
Nyala emosi
telah pasti
Tapi kalimat tak kunjung padat
bulat
Maka Geram
ambil tindakan mengepal awan
menanti leleh sebab panasnya didih air mata
Jelas bukan tetes kesedihan
juga haru
tapi kesal yang tak berhak menyesal
Maka tataplah langit
Rasakan dingin cibir
teguh seiring jeda-jeda yang menganga
Ya sudah, selamat datang di jeda pekan
Jeda yang selalu memberi ruang tumbukan rasa-rasa
Hentikan ini semua
apa guna menjemur buah mentah?
Sepah...!!!


Cipuat, 5 Januari 2013

Lilin Kecil

menyibak gelap dengan lilin kecil
sinar rapuhnya bersikeras mencolok-colok pekat
kadang meredup lalu patah
bila padam tak terelak
tiada lain kecuali
meminta batu api membakar sumbunya
sang tuan harus tetap berjalan
persetan kelam menghujam
walau entah kapan terang terbit berjaya
tubuh lilin kecil meleleh putih di tengah hitam

Kamar Instalasi, Legoso, 24-2-2013