Home

Sabtu, 29 Mei 2010

Setetes Embun Filsafat Barat

Rene Descrates

- Kesangsian Metodis. Sangsi akan segala hal, supaya tinggal diterima hal yang betul-betul pasti, sehingga dapat terjadi suatu sistem filsafat seperti suatu sistem ilmu pasti. Yaitu suatu sistem yang berdasarkan aksioma-aksioma, dan tersusun menurut langkah-langkah logis.
- Cogito ergo sum. Subyek yang sedang berfikir menjadi titik pangkal filsafat Descrates. Kata dia, kalau saya raga akan segalanya, saya masih punya kepastian tentang kesangsian saya. Maka, saya sedang berfikir.
- Subyek sebagai pusat. Manusia sendiri menjadi kekuasaan yang membawa, memikul kenyataan. Manusia yang berfikir merupakan pusat dunianya.
- Ide-ide yang jelas dan tegas. Ide tentang aku berfikir maka aku ada adalah ide yang jelas dan tegas. Dan semua hal yang saya punya sebagai ide-ide yang jelas dan tegas, itu pasti.Akal, rasio mencapai kepastian ini tanpa pertolongan apapun.
- Dualisme. Salah-satu dari ide-ide yang jelas dan tegas adalah memang ada tiga subtansi yakni, Allah, pemikiran (cogitatio), dan keluasan (extensio). Pemikiran itu bidang psikologi, bidang jiwa. Sedangkan keluasan itu bidang ilmu alam, bidang materi.

Baruch Spinoza

- Rasionalisme dan mistik.
- Allah = Alam = satu subtansi. Segala sesuatu itu termuat dalam Allah-Alam. Allah itu sama dengan aturan alam. Kehendak Allah, aturan Allah adalah kehendak alam, aturan alam dan hukum-hukum alam.penyelenggaraan itu sama dengan keperluan mutlak, sama dengan nasib. Cinta kepada Allah itu sama dengan cinta kepada nasib, Amor Dei = Amor Fati
- Etika. Kebahagian itu sama dengan kebebasan. Kebebasan memilih memang tidak ada. Kebebasan menurut Spinoza adalah kebebasan untuk perasaan. Perasaan ini dapat dicapai dengan pengertian. Kalau berkat pengertiannya manusia bebas dari semua gerak emosional, maka dia ‘merasa bebas’. Kebahagian itu kebebasan. Kebabasan itu mengerti keperluan dan mengerti keperluan itu kemerdekaan dari emosi-emosi. Kebebasan itu hanya menyesuaikan diri dengan keseluruhan.
- Ada tiga jenis pengetahuan. Pengetahuan pancaindera, pengetahuan akal budi dan pengetahuan intuitif. Yang ketiga ini adalah yang paling sempurna. Orang yang mencapai pengetahuan ini melihat sesuatu dengan perspektif keabadian. Pengetahuan ini, yakni kontemplasi, memberi persesuaian dengan keselurahan. Sebagai hasilnya ialah kebebasan dan kebahagiaan.



Gotfried Wilhelm Leibniz

- Monadologi. Spinoza mengakui hanya ada satu subtansi Alam atau Allah, Descrates mengakui tiga subtansi, Allah, Pemikiran dan Keluasan. Tidak demikian dengan Leibniz. Baginya jumlah subtansi itu tak terhingga besarnya. Kenyataan terdiri dari monade-monade: bagian-bagian paling kecil, yang semua merupakan subtansi-subtansi. Monade-monade itu seperti jiwa-jiwa, karena semua monade memunyai kesadaran. Namun monade dari taraf anorganik memunyai kesadaran hanya dalam keadaan mimpi. Monade-monade pada hewan dan tumbuhan sudah lebih tinggi. Manusia terdiri dari monade-monade yang sangat tinggi. Sementara Allah adalah monade yang paling tinggi.
- Theodicee. Lebniz menciptakan kata teodise, “Pembenaran Allah” terhadap kejahatan. Lebniz menerangkan kebaikan Allah tidak bertentangan dengan adanya kejahatan. Kebebasan manusia tidak bertentangan dengan kemahakuasaan Allah.
- Dinamisme. Segala sesuatu pada hakikatnya adalah energi, kehendak dan kekuatan.

Blaise Pascal

- Anti Rasionalisme. Ada yang lebih penting daripada rasio, yakni logika hati. Hati memunyai alasan-alasan yang sama sekali tidak diketahui oleh akal. Perbuatan paling tertinggi dari akal adalah mengakui bahwa kadang-kadang akal itu terbatas. Akal hanya salah-satu sumber pengetahuan. Ada sumberlain yang lebih penting yakni pengetahuan intuitif. Pengetahuan ini disebut hati (coeur), intelligence, dan logika hati. Pengetahuan ini adalah intuitif, irasional dan dapat dikenal melalui rasa kepastian yang selalu berhubungan dengan pengetahuan ini.
- Pascal tidak ingin mengadu domba antara filsafat dan teologi melainkan antara akal budi dan hati, raison dan couer. Pascal mau mengatakan, manusia bisa bertemu dengan Allah dalam hatinya.

Empirisme adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang menekankan peraman empiria (pengalaman inderawi). Empirisme di rintis oleh Francis Bacon dan Thomas Hobes. Kemudian menjadi penting berkat John Locke.

John Locke
- Segala sesuatu dalam pikiran saya berasal dari pengalaman inderawi, bukan dari akal budi. Otak seperti sehelai kertas putih. Melalui pengalaman, helai kertas itu diisi.
- Pengalaman lahiriah dan pengalaman batin. Menurut Locke, semua pengetahuan itu berasal dari pengalaman lahiriah (dari sense atau external sense) atau pengalaman batin (internal sense atau reflexion). Yang lahiriah memberi informasi tentang dunia di luar kita, yang batin tentang dunia dalam kita, yaitu jiwa. Pengalaman lahiriah, sensation itu dari sifat-sifat seperti ‘keluasan’, ‘bentuk’, ‘jumlah’ dan ‘gerak’. Pengalaman batin itu terjadi kalau kesadaran melihat keaktifannya sendiri. Dengan cara ini terjadi “ingat”, ‘memerbandingkan’, ‘menghendaki’ dan seterusnya.
- Simple ideas dan complex ideas. Isi otak ini terdiri dari ide-ide. Simple ideas berasal secara langsung dari pengalaman inderawi. Complex ideas hanya berupa hubungan-hubungan dari ide-ide tunggal. Misalnya sebab, relasi, dan sebagainya. Tidak dilihat secara langsung tapi dilihat melalui kombinasi ide-ide tunggal.

George Berkeley

- Plato telah mengajarkan bahwa kenyataan terdiri dari dua dunia, yakni dunia ide-ide dan dunia material, yang merupakan bayangan dari dunia ide-ide. Sejak itu, percobaan menerangkan antara keduanya, antara ide dan materi, jiwa dan badan, pemikiran dan keluasan, bentuk dan materi, spiritual dan material tersu dilakukan. Percobaa-percoabaan ini sering menghasilkan dualisme, yang sering berat sebelah. Pada Berkeley, ini hanya ada kesadaran saja. Karena itu, filsafatnya sering disebut ‘spiritualisme’.
- Pada Berkeley, maeri dikeluarkan. Perbedaan antara materi dan jiwa tidak ada. Locke yang mengatakan bahwa semua pengetahuan itu berasal dari pengalaman. Pikiran ini diteruskan Berkeley: pengalaman itu tidak disebabkan oleh sesuatu di luar kita. Sebab tak ada sesuatu di luar kesadaran kita. Benda-benda hanya ada kalau diamati. Sesuatu yang tidak diamati,sama sekali tidak ada.
- Esse est percipi. Apakah tidak ada kalau kita tidur? Matahari tetap ada karena ada masih tetap diamati oleh orang lain. Dan akhirnya segala sesuatu yang ada diamati oleh Allah. Sehinga kontinuitas tetap terjaga. Kalau saya tidak mengamati apa-apa, “kesadaran pada umumnya” masih tetap aktif. Sehingga benar-benar bahwa esse est percipi “ada itu: diamati”.

David Humu

- Skeptisisme. Hum meneruskan pikiran Locke dan Berkeley hingga batas di mana empirisme menjadi agak mustahil. Ia juga empiris terakhir. Filsafatnya skeptisistis. Dunia material sudah dicoret oleh Berkeley. Sekarang juga subjek yang sedang mengamati dicoret oleh Hume, Aku sebagai pusat pengalaman, kesadaran, pemikiran dan perasaan, menurut Hume hanya satu rangkaian ‘kesan-kesan’, impressions. Impressions ini merupakan ‘bahan’ dari mana isi pengetahuan tersusun. Pikiran-pikiran itu hanya sisa-sisa pengalaman inderawi. Dan sisa-sisa itu adalah kesan-kesan. Dari kesan-kesan itu dapat disusun connexions dan associations oleh keatifan kehendak kita. Namun keaktivan kehendak ini tidak berarti banyak. Sebab kesadaran manusiawi ini bukanlah ‘jiwa’, melainkan hanya deretan kontinue dari kesan-kesan. Berdasarkan pendapat ini, Hume disebut sebagai wakil pertama psikologi tanpa jiwa.
- Agama. Dalam bidang etika dan agama pun Hume cukup skeptis. Kata Hume, secara teoritis tidak dapat dibuktikan apa-apa dari perkataan tentang agama dan etika. Kepentingan agama hanya dapat dibuktikan secara teoritis. Dia membedakan agama menjadi dua. Natural religion yang berasal dari akal budi dan agama rakyat yang penuh fanatisme. Natural religion itu mempunyai nilai, tapi agama rakyat itu hanya berbahaya.

J.J Rouseau

- Kebudayaan melawan alam. Menurut Rouseau, manusia justru terasingkan dari dirinya sendiri oleh kemajuan ilmiah dan oleh kemajuan pada umumnya. Untuk menjadi sembuh dari alienasi ini manusia harus kembali ke keadaan alamiah.

Pengantar Jurnalisme Investigasi

Reportase Investigasi

Reportase berasal dari bahasa Latin, reportare, yang berarti membawa pulang sesuatu dari tempat lain. Bila dikaitkan dengan kegiatan jurnalisme, hal itu menjelaskan seorang jurnalis yang membawa laporan kejadian dari suatu tempat, di mana telah terjadi sesuatu.
Sedangkan investigasi berasal dari bahasa Inggris investigative, yang asalnya juga dari bahasa Latin, vestigum artinya jejak kaki. Pada sisi ini menyiratkan pelbagai bukti yang telah menjadi suatu fakta.
Reportase investigasi merupakan sebuah kegiatan peliputan yang mencari, menemukan, dan menyampaikan fakta-fakta adanya pelanggaran, kesalahan, atau kejahatan yang merugikan kepentingan umum.
Dalam bukunya “Jurnalisme Investigasi”, Septiawan Santana mengutip pernyataan Ullman dan Honeyman yang menggambarkan dan mendevinisikan reportase investigasi sebagai sebuah reportase, sebuah kerja menghasilkan produk dan inisiatif, yang menyangkut hal-hal penting dari banyak orang atau organisasi yang sengaja merahasiakannya.
Sementara Goenawan Mohamad, wartawan senior Indonesia menyatakan, investiasi adalah kegiatan jurnalisme yang hendak “membongkar kejahatan”. Hal ini ketika seorang jurnalis mengikuti naluri penciuman untuk membuka pihak-pihak yang menutupi suatu kejahatan. Karenanya, kegiatan peliputannya berbeda dengan reportase pada umumnya. Ciri peliputannya meliputi kegiatan pengujian berbagai dokumen dan rekaman, pemakaian informan, keseriusan dan penelusuran riset.
Reportase biasa hanya mengungkap apa yang terjadi dan tampak di permukaan. Sedangkan reportase investigasi berusaha untuk menyingkap sesuatu dibalik permukaan. Ia memiliki fokus tertentu yang dituju. Peliputan jenis ini membutuhkan perencanaan matang dan waktu yang cukup panjang dalam pengerjaannya. Selain itu, resiko dan bahaya yang mengancam jurnalis investigasi lebih besar. Sebab, ia berhadapan dengan kelompok atau organisasi yang tak ingin kejahatannya terbongkar.
Prinsip liputan investigasi mengindikasikan kegiatan penggalian informasi. Sebagaimana diketahui, di antara perkerjaan seorang wartawan ialah mengumpulkan informasi untuk membantu masyarakat memahami pelbagai kejadian yang memengaruhi kehidupan mereka.
Penggalian informasi ini membawa seorang reporter melakukan tiga kegiatan. Pertama, surface fact, yakni penelusuran fakta-fakta dari sumber orisinil, seperti rilis berita, catatan-catatan tangan, dan berbagai omongan. Kedua, reportarial enterprise, yang meliputi kerja memverifikasi, menyelediki dan meliputi kejadian-kejadian mendadak serta mengamati latar belakang. Ketiga, interpretation and analysis, yakni, coba mengukur akumulasi informasi berdasar tingkat signifikasi, dampak, penyebab dan konsekwensinya.




Jurnalis Investigatif

Perbedaan awal dari jurnalis investigasi dan jurnalis biasa terletak pada inisiatifnya. Seorang jurnalis investigasi selalu peka dan mengasah instingnya. Telah sering kita sebut, seorang jurnalis harus bermata elang, telinga ayam dan hidung anjing. Penglihatan, pendengaran dan penciuman jurnalis di atas rata-rata manusia dalam menghadapi realitas yang terjadi sehari-hari. Masyarakat umumnya, menerima kejadian dan kenyatan yang dikatakan dan terjadi sebagai kebenaran, tanpa memertanyakan lebih lanjut kenapa dan bagaimana suatu itu terjadi.
Jurnalis investigatif selalu punya inisiatif beda. Ia tidak selalu serta merta menerima yang ada dan yang telah berjalan sebagai kebenaran. Ia terus menelisik sampai kedalam dari sebuah realitas kehidupan. Ia tidak menunggu sampai suatu masalah atau peristiwa timbul atau diberitakan. Sebaliknya, ia justru menampilkan peristiwa baru atau sesuatu hal baru atau membuat berita.
Karena kerumitan dan kepelikan masalah yang dihadapi, jurnalis investigasi membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat mengungkap satu masalah. Berbeda dengan wartawan ‘ronda’ yang menjalin sebanyak mungkin pejabat resmi yang berpotensi sebagai sumber berita.
Jurnalis investigasi sangat seletif dan skeptis terhadap bahan berita resmi, meneliti dengan kritis setiap pendapat, catatan dan bocoran informasi, tidak serta merta membenarkan. Jika wartawan umum memberitakan apa yang terjadi atau yang diumumkan, jurnalis investigatif mengungkapkan, mengapa suatu hal diumumkan atau terjadi, mengapa terjadi lagi.
Jurnalis investigatif bukanlah jurnalis biasa yang hanya menjadi penyaluran dari berita-berita resmi. Jurnalis biasa umumnya hanya menghadiri jumpa-jumpa pers, rapat-rapat anggota dewan, seminar, pertemuan, sesuadah itu mencatatnya. Karenanya, wartawan macam ini tak lebih dari seorang pencatat saja.
Seorang jurnalis investigatif harus memiliki agresivitas tinggi terhadap data dan keterangan yang muncul dipermukaan, yang tersedia begitu saja di hadapannya. Punya kepekaan tinggi terhadap adanya persekongkolan, para penghasut rakyat, atau keculasan yang terjadi di masyarakat. Ia juga harus memiliki kamampuan untuk marah, menderita semacam kegusaran moral yang sungguh-sungguh terhadap suatu keculasan. Mereka mengamsalkan bahwa jurnalisme adalah memberikan kepada publik informasi yang oleh pemerintah dilarang keras untuk diketahui publik.
Sebab paling mendasar terkait dengan kaidah kerja investigasi ialah selalu memburu sesuatu. Pekerjaan investigasi wartawan berkaitan dengan nilai intensitas keingintahuan mengenai ‘how the world works or fails to work’. Seorang investigator tidak menerima mentah-mentah pernyataan sumber-sumber resmi. Ia melakukan riset mendalam, tekun mengontruksi suatu kejahatan dan tak kenal lelah mengejar sumber-sumber penting. Mereka tidak mau terbujuk untuk menuruti pandangan yang dikemukakan tokoh-tokoh publik atau orang-orang terkemuka atau pun kata-kata dari narasumber yang biasa mereka hubungi.
Ada tiga level atau tingkatan kerja dalam dunia jurnalisme. Level pertama, reporter melaporkan pelbagai kejadian masyarakat dan memaparkan apa yang terjadi. Level berikutnya, menginterpretasikan apa yang harus dilakukan. Pada level ketiga, mencari pelbagai bukti yang ada di balik sebuah peristiwa.
Untuk memeroleh laporan investigasi yang baik, harus selalu memiliki rasa ingin tahu, kemampuan untuk mendapatkan fakta, mampu memahami dan mampu menyampaikan kepada publik. Selain itu, ia harus bisa menimbulkan keinginan beraksi, peduli terhadap permasalahan orang lain, khususnya kaum tertindas. Untuk itu, ia memerlukan kecukupan pemilikan akan pengetahuan fakta-fakta, rasa iba, semangat melawan ketamakan dan perbaikan sosial. Di tambah lagi, seorang jurnalis investigasi harus mengembangkan tempramen dan talenta di dalam dirinya.


Proses Kerja Investigasi

Kehidupan berjalan dan kita ada di dalamnya. Jika kita terus mengikutinya tanpa ada rasa memertanyakan, semua seperti terjadi tanpa masalah. Padahal, jika kita mau merenung sejenak dan coba merefleksikan kehidupan secara mendalam, banyak permasalahan dan kejanggalan yang terjadi di sekitar kita. Karena itulah, butuh kecerdasan dan ketajaman pikiran seorang jurnalis untuk mengungkap ketidakberesan yang terjadi.
Seorang jurnalis harus memiliki rasa keingintahuan seperti anak-anak, ketahanan fisik seorang kuli bangunan dan kecerdasan seorang profesor. Ini terkait medan yang dihadapi membutuhkan ketiga hal tersebut. Tanpa itu, sulit bagi seorang untuk menjadi jurnalis yang sesungguhnya. Maka, salah-satu yang mungkin adalah terus mengembangkan, melatih dan mengasah, baik insting, fisik dan memerkaya ilmu dan pengetahuan.
Terkadang, kerja wartawan investigatif mirip dengan kerja seorang reserse atau intelejen. Ia menelusuri sebuah kejahatan sampai kedalam-dalamnya, yang bagi orang awam susah ditembus. Bahkan bila perlu ia harus melakukan penyamaran. Namun hal terakhir ini sebisa mungkin dihindari, kecuali memang tak ada jalan lain. Sebab, jurnalisme sangat menjunjung tinggi kejururan, baik dalam penulisan maupun peliputan.
Terkait proses kerja investigasi secara sederhana terbagi dalam dua bagian. Kegiatan awalnya ialah menelusuri pelbagai kasus/skandal/permasalahan yang mesti ditindaklanjuti. Jika dapat, maka pada tahap yang lebih serius, investigasi memulai kerjanya.
Wartawan investigasi dari Omaha, yang juga teoritisi di Ohio State University, Paul N. Williams memberikan sebelas langkah reportase investigatif.

1. Conseption
Unsur awal ini terkait dengan apa yang disebut pencarian berbagai ide/gagasan, yang menurut Williams merupakan proses unending. Ide atau gagasan ini bisa didapat darimana saja. Baik dari saran seseorang, menyimak pelbagai narasumber reguler, membaca, menyimak potongan berita, mengembangkan sudut pandang lain dari sebuah berita atau observasi langsung.

2. Fisibility Study
Langkah ini ialah mengukur kemampuan dan perlengkapan yang diperlukan. Hal ini karena investigasi berbeda dari liputan biasa, yang hanya mengungkap apa yang tampak dalam peliputan. Oleh sebab itu, liputan investigasi memerlukan penyiapan yang bukan sekadar perangkat yang harus dimiliki wartawan. Di sini, butuh upaya wartawan untuk menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi. Di antaranya, berbagai halangan yang harus dihadapi, perhitungan terhadap berbagai objek yang harus direportase serta menjaga kerahasian terhadap media lain.

3. Go-No-Go-Decision
Langkah ini merupakan pengukuran terhadap hasil investigasi yang akan dilakukan. Setiap liputan investigasi mesti memerhitungkan akhir dari proyek penyelidikan yang akan dikerjakan. Singkatnya, ada target dari kerja investigasi yang dilakukan.

4. Basebuilding
Upaya wartawan untuk mencari dasar pijakan dalam menganalisis sebuah kasus. Ini disebabkan, tiap kasus yang terjadi di masyarakat akan terkait dengan pemahaman dasar mengenai kehidupan manusia, institusi, atau isu-isu, yang biasanya berhubungan dengan berbagai wacana sejarah dan kontemporer. Sebab, untuk paham bagaimana sesuatu itu terjadi, adalah penting memelajari bagaimana sesuatu itu bisa terjadi.

5. Planing
Mengingat resiko dan ketelitian serta kerapihan kerja, perlu adanya perencanaan/planing yang terkait dengan pengumpulan dan penyusunan informasi, pembagian tugas dan sebagainya.
Proses penyusunan dilakukan setelah mengumpulkan berbagai isu yang merebak di masyarakat. Setelah itu, pengecekan dan penyusuan biasa dilakukan dengan menyilang-referensikan seluruh dokumen dan catatan wawancara dengan berbagai topik yang relevan.
Pembagian tugas meliputi, pengerjaan: peliputan, penulisan, copy-editing, fotografi, grafik, pengecekan akurasi dan penuduhan-penuduhan.

6. Original Reseach
Kegiatan ini umumnya terbagi menjadi dua, papers trails dan people trails. Papers trails adalah pencarian berbagai keterangan yang bersifat tekstual. Ini meliputi penggalian terhadap sumber-sumber skunder seperti surat kabar, majalah, selebaran, naskah-naskah, buku referensi, desertasi, tesis, database komputer, internet dan lain-lain.
Di samping itu yang lebih penting adalah dokumen-dokumen primer seperti, naskah, perjanjian, catatan administrasi, pajak, data-data kelahiran, kematian, keuangan, sampai database pemerintah.
Sementara itu, people trails meliputi pekerjaan mencarai dan mewawancarai sumber-sumber terkait.


7. Reevaluation
Setelah semua data terkumpul dan dievaluasi, kembali pertanyakan, haruskah investigasi dilanjutkan? Atau haruskah disusun sekarang? Atau ditunda dulu untuk sementara waktu?

8. Filling the Gap
Ini adalah fase kegiatan yang mengupayakan beberapa bagian yang belum terdata.

9. Final Evaluation
Tahap ini berbeda dengan tahap sebelumnya. Tahap evaluasi final ini ialah mengukur hasil investigasi dengan kemungkinan buruk atau negatif, seperti, menghitung apakah pekerjaan penelusuran ini berdasarkan pretensi jurnalisme atau politik atau lainya. Atau bahkan tidak terkait dengan kaidah dasar pekerjaan kewartawanan.
Bila diekspos, apakah tidak ada persoalan dengan privasi (hak privasi) dari seorang tokoh publik. Di sini juga diperhitungkan keamanan sumber-sumber yang tak mau disebutkan, atau diberitakan. Di tepi lain, perlu perhitungan apakah berita ini melanggar hukum atau tidak. Dan yang paling penting adalah mengevaluasi keakurasian pihak-pihak yang hendak diaporkan, sesuai dengan standar jurnalistik.

10. Writing And Writing
Menulis laporan investigasi memerlukan kesabaran, ketekunan dan kemauan untuk terus memerbaiki penulisan berita, secara terus menerus bila diperlukan.

11. Publication and Follow-Up Stories
Pelaporan berita investigasi biasanya tak hanya muncul dalam satu kali penerbitan. Masyarakat kerap menunggu dari masalah yang telah diungkap. Penyelesaian dari pihak-pihak yang terungkap dan sebagainya.


Pada peralihan abad 19 ke 20, berita dibuat menurut “apa yang dilakukan orang” bukan “apa yang terjadi pada orang”. Sejalan dengan perkembangan masyarakat, kerangka perumusan berita berkembang pula mengikuti tuntutan kebutuhan masyarakat. Konsep tradisional apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa pun mulai diubah ke penekanan tertentu. Pelaporan mementingkan jawaban mengapa, untuk memenuhi kebutuhan pemerintah masyarakat dan pemerintah akan penjelasan berbagai kejadian yang dilaporkan wartawan. Wartawan dituntut untuk mengangkat permasalahan dengan kriteria nilai berita yang yang berlatar belakang isu-isu kompleks. Mereka harus melaporkan peristiwa dengan kedalaman dan kelengkapan isu sosial yang akan memengaruhi kehidupan masyarakat.




Komponen Moral

Tujuan kegiatan jurnalisme investigasi adalah memberitahu kepada masyarakat adanya pihak-pihak yang telah berbohong dan menutup-nutupi kebenaran. Masyarakat diharapkan waspada terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan berbagai pihak.
Dari tujuan tersebut, dapat dilihat bahwa ada tujuan moral. Segala yang dilakukan wartawan investigasi dimotivasi oleh hasrat untuk mengoreksi keadilan dan menunjukkan adanya kesalahan.
Menurut Melvin Mencher, the moral component merupakan unsur penting dalam peliputan investigasi. Wartawan mengumpulkan segala bukti yang menguatkan fakta adalah didorong oleh motivasi moral. The desire to correct an injuctice, to right a wrong, and persuade the public to alter the situation. Pada akhirnya, pekerjaan jurnalisme investigasi mengajak masyarakat untuk memerangi pelanggaran yang tengah berlangsung dan dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

Mengembangkan Fakta dengan Dangerous Projects

Jurnalisme investigasi dialokasikan sebagai pekerjaan berbahaya atau dangerous projects. Para wartawannya berhadapan dengan kesengajaan pihak-pihak yang tidak mau urusannya diselidiki, dinilai, dan juga dilaporkan kepada masyarakat. Oleh karena itu, kewaspadaan dalam karier kewartawanan menjadi hal yang penting.
Dan harus diingat bahwa jurnalisme investigasi bukan hanya menyampaikan sebuah dugaan adanya sebuah persoalan pelanggaran, melainkan juga merupakan kegiatan memproduksi pembuktian konklusif terhadap suatu persoalan dan melaporkannya sejara jelas dan sederhana.
Kegiatan jurnalisme investigasi terkait dengan upaya mengembangkan bangunan fakta-fakta. Nilai mutu laporan jurnalistik ini terletak dalam membangun dasar fakta-fakta. Hasil liputannya mengeluarkan sebuah judgement yang didasari oleh fakta-fakta yang melingkupi persoalan yang dilaporkan wartawan. Untuk itulah pekerjaan ini mementingkan sekali kesiapan kerja wartawan untuk selalu mengecek fakta-fakta, tidak mudah menaruh kepercayaan kepada segala sesuatu,termasuk tidak langsung memercayai orang-orang yang memiliki kepentingan.
Kerja investigasi wartawan kerap menemukan area liputan yang mesti dibuka dengan sengaja. Berbagai narasumber bahkan diasumsikan mempunyai kemungkinan untuk memanipulasi data. Oleh sebab itu, berbagai data yang didapat memerlukan analisis kritis wartawan investigasi.

Paguyuban Sumarah

Sumarah adalah filsafat hidup dan suatu bentuk meditasi yang awalnya berasal dari Jawa. Praktek ini didasarkan pada pengembangan kepekaan dan penerimaan melalui relaksasi tubuh, perasaan dan pikiran. Tujuannya adalah untuk menciptakan ruang di dalam diri kita, batin dan kesunyian, yang diperlukan untuk mewujudkan jati diri.
Paguyuban ini berdiri di Yogyakarta pada 8 September 1935. Tercatat sebagai Pendiri dan Guru pertama Sumarah ialah R.Ng. Soekirnohartono, seorang pegawi Kesultanan Yogyakarta (Pak Kino). Penyebaran ajaran kebatinan Sumarah bermula ketika R.Ng. Soekirnohartono merasa menerima wahyu yang diturunkan padanya dari Tuhan YME. Setelah itu ia berkewajiban untuk menyampaikan ajaran sumarah kepada semua manusia.
Pada awal munculnya, Paguyuban Sumarah mengenal istilah Trio Pinisepuh yaitu Pak Kino, Pak Hardo, dan Pak H. Sutadi. Ketiganya mempunyai tugas berbeda namun tetap dalam koridor Sumarah. Pak Kino sebagai pengemban tugas Penerima dan sekaligus penjaga kemurnian Dawuh/Tuntunan Tuhan YME, Pak Hardo bertugas di bidang pendidikan warga dan Pak H. Sutadi sebagai pengembang organisasi.
Sejak tahun 1950, Paguyuban Sumarah membentuk sebuah organisasi. Inti kegiatan Organisasi Paguyuban Sumarah, tak lain mempelajari, mempraktekkan, sekaligus memerdalam ke-sumarah-an bagi seluruh anggotanya melalui bentuk ritual peribadatan rohani dan secara bersama-sama.
Perkembangan selanjutnya, Sumarah juga melahirkan banyak tokoh, baik pusat (sentral) maupun daerah. Tokoh-tokoh itu adalah sebagai berikut:

a. Tokoh sentral Organisasi:
1. Dari tahun 1935 - 1950 : Bp. R. Ng. Soekino Hartono, Pak Suhardo, Pak H. Sutadi
2. Dari tahun 1950 - 1966 : Bp. dr. Soerono ( selaku Pengurus Besar Paguyuban Sumarah)
3. Dari tahun 1966 - 1982 : Bp. Drs. Arymurti (selaku Ketua Umum DPP Pag. Sumarah)
4. Dari tahun 1982 - 1992 : Bp. Brigjen Zahid Husein (selaku Ket.Umum Pag. Sumarah)
5. Dari tahun 1992 - 1997 : Bp. Brigjen Soemarsono(selaku Ket. Umum Pag. Sumarah)
6. Dari Tahun 1997 -.......(kini) : Bp. Ir. Soeko Soedarso (selaku Ket.Umum Pag. Sumarah)
b. Tokoh daerah :
1. Bapak Soewondo (Surakarta) bersama Bapak Sri Sampoerno tokoh penghimpun WNA
2. Bapak Kyai Abdoel Hamid (Banjarsari - Madiun)
3. Bapak May. Purn. Soekardji (Jawa Timur)
4. Bapak Moestar (Gresik)
5. Bapak Sichlan dan Bapak Suyadi ( Ponorogo )

Selain tersebut di atas, menurut sumber yang pemakalah baca, masih banyak tokoh-tokoh lain di paguyuban ini.

B. Makna Sumarah

Kata Sumarah berarti menyerah total, menyerah percaya diri dan sadar ego ke diri universal. Penyerahan total pada kehidupan. Dalam bahasa Jawa, Sumarah memiliki arti pasrah atau berserah diri. Jika dikaitkan dengan perilaku hubungan antara manusia dengan Tuhan YME, maka sikap sumarah mengandung arti sikap batin yang pasrah total kepada Tuhan YME (Allah).
Sikap semacam ini tidak selalu harus berarti apatis atau masa bodoh, sebagaimana prinsip kaum Jabariyah dalam Islam. Namun lebih tepatnya sikap Paguyuban Sumarah ini diartikan sebagai sikap tunduk, takluk dan patuh (manut mbangun miturut) kepada Tuhan YME.
Sikap batin yang demikian hanya akan terwujud pada manusia yang memiliki keyakinan akan adanya Tuhan YME, yang telah memberi kita hidup dan kehidupan, Tuhan yang menciptakan dunia raya seisinya.
Tentu saja kadar ke-sumarah-an masing-masing orang akan berbeda satu sama lain, hal ini kiranya terjadi karena faktor tingkat keyakinan, tingkat kedewasaan jiwa, dan juga tingkat kesadaran yang dimiliki oleh masing-masing pribadi. Demikian pula latar belakang kondisi lingkungan, tingkat intelegensia serta keluasan wawasan juga ikut mempengaruhi kadar ke-sumarah-an tersebut disamping faktor-faktor yang lain.

C. Ajaran dan Ritual Paguyuban Sumarah

1. Konsep Manusia Sumarah

Manusia yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan YME adalah Adam dan Hawa. Namun keduanya tidak dipandang sebagai manusia riil, tetapi mereka adalah roh suci yang berasal dari Zat Yang Maha Esa dan badan nafsu yang berasal dari iblis.
Firdaus sebagai alam kehidupan Adam dan Hawa yang pertama, menurut ajaran Sumarah, diartikan sebagai Alam Suci. Godaan Iblis kepada Adam dan Hawa ketika masih bermukim di Firdaus, pada dasarnya adalah godaan badan nafsu untuk kepada roh suci agar menyekutukan Tuhan. Kemudian setelah iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa (roh suci dan badan nafsu), maka mereka diusir dari Alam Suci (Firdaus) dan masuk ke dalam alam rahim (kandungan) wanita. Adam dan Hawa setelah keluar dari Firdaus dalam keadaan telanjang bulat (sebagai lelaki dan perempuan), diartikan bahwa sesudah bayi lahir dalam keadaan telanjang baru dapat diketahui jenis kelaminnya.
Manusia menurut ajaran Sumarah terdiri dari: badan wadah (jasmani), badan nafsu, dan jiwa (roh). Badan wadah, merupakan unsur jasmani atau fisik manusia yang tersusun dari empat anasir, yaitu tanah, air, dan udara. Badan nafsu (emosiaonal body) merupakan percikan Tuhan dengan perantara iblis. Menurut ajaran Sumarah, manusia emiliki empat macam nafsu, pertama nafsu mutmainah, sebagai sumber semua perbuatan baik dan alat untuk menemukan Tuhan. Kedua, nafsu Amarah, yaitu sumber kemarahan dan kedurhakaan. Ketiga, nafsu Suwiyah, merupakan sumber erotik, pengundang birahi. Dan keempat, nafsu lawamah, sumber egoisme dalam diri manusia.
Disamping kelengkapan nafsu, manusia juga memiliki jiwa atau roh yang berasal dari Roh Suci (Tuhan). Rasa (dzauq) sangat terkait dengan jiwa, terdapat di dalam dada. Di dalam dada jantung, di dalam jantung terdapat Masjidil Haram, tempat Baitullah. di dalam Baitullah terdapat budi, nur. Dengan demikian, hakekat manusia bukan hanya wujud jasmani saja, tetapi juga memiliki wujud gaib dan wujud yang gaib lagi.

2. Sujud Sumarah

Sujud Sumarah adalah bentuk perilaku peribadatan (ritual) bagi para warga Paguyuban Sumarah dalam rangka berkomunikasi dengan Tuhan YME yang pada hakekatnya merupakan aktivitas batin/rohani/spiritual/jiwa si manusia untuk bermohon, menghaturkan bakti/sembah, menghaturkan puja dan puji serta serah diri total kepada Tuhan YME, melalui kehendak dan tuntunan /bimbingan Tuhan YME sendiri.
Karena sifatnya yang sangat spiritual (rohani) maka dalam pelaksanaannya Sujud Sumarah sama sekali tidak memerlukan persyaratan lahiriah baik tempat, waktu, pakaian, bebauan, gerakan-gerakan khusus ataupun persyaratan lain, seperti hafalan mantra dan sebagainya. Namun tentu saja sebagai manusia yang berbudaya, dalam berbusana maupun sikap tata lahir dalam sujud akan selalu mengikuti norma kewajaran dan kepantasan demikian pula akan selalu memperhatikan norma-norma sosial dan etika yang berlaku di sekelilingnya tanpa harus menonjolkan dirinya.
Sujud Sumarah memiliki jenjang atau tingkatan yang harus dilakukan oleh para pengikut secara bertahap. Adapun tingkatan tersebut adalah :

Tingkat pamagang, yaitu sujud yang dilakukan oleh para pemula sebelum resmi menjadi anggota, untuk menenangkan panca indra.
Tingkat satu, sujud ini merupakan sujud awal yang dilakukan oleh pengikut Sumarah setelah resmi dibaiat mengadi anggoata.
Tingkat dua, dilakukan setelah mahir pada sujud satu.
Tingkat tiga, dilakukan setelah mahir dalam sujud kedua.
Tingkat keempat, dilakukan setelah anggoat mahir sujud tingkat tiga.
Tingkat lima, sebagai tingkat paling akhir yang langsung dibimbing dan diimami oleh pemimpin (guru utama).

Dari jenjang atau tingkat sujud itu, para pengikut Sumarah dapat dikelompokkan dalam tiga martabat. Pertama. Martabat Tekad, yaitu martabatnya para pemagang, tingkat satu dan tingkat dua. Kedua, Martabat Imam, yaitu para pengikut yang sudah memasuki tingkat sujud tiga dan empat. Ketiga, Martabat Sumarah, yaitu mereka yang sudah memasuki tingka sujud kelima.

3. Etika Hidup Sumarah

Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran Sumarah mengajarkan pada umatnya untuk dituntut berbuat baik terhadap siapa saja, tanpa memandang agama, ras, etnis, atau bangsa. Berbuat baik terhadap siapa saja berarti berbuat baik terhadapa diri sendiri dan juga Tuhan. Oleh sebab itu ajaran etika yang sekaligus menjadi keyakinan Sumarah adalah mereka percaya penuh adanya karma (buah dari amal perbuatan).
Istilah karma (dari bahasa Sansekerta) yang berarti perbuatan dan pahala (hasil), akan didapat oleh setiap orang sesuai perbuatannya. Hasil atau karma dari setiap perbuatan akan diterima oleh si pelaku bahkan sampai keturunannya, baik dalam kehidupan di dunia sekarang atau setelah mati.
Selain ajaran karma, etika hidup Sumarah juga dilandaskan pada konsep reinkarnasi (kelahiran kembali). Ajaran reinkarnasi yang bermula dari ajaran agama Hindu, yaitu samsara yang berarti kelahiran manusia yang berulang-ulang atau disebetu juga menitis. Manusia akan mengalami kelahiran kembali ke alam dunia ini karena selama hidup di dunia dia lebih banyak bebuat buruk atau jahat. Inti jiwa manusia (jiwatman) yang masih lekat dengan urusan keduniaan tidak akan dapat bersatu kembali dengan asal mula hidupnya, yaitu Tuhan YME. Jika seseorang sudah mampu memebaskan jiwatman-nya maka dia akan mampu moksa, mencapai pelepasan untuk bersatu kembali dengan Tuhab sang sumber hidup.

4. Meditasi Sumarah

Sebagaimana tertera di pendahuluan, Sumarah merupakan filsafat hidup dan suatu bentuk meditasi. Dalam praksisnya, meditasi Sumarah mengembangkan kepekaan dan penerimaan melalui relaksasi tubuh, perasaan dan pikiran, agar tercipta ruang di dalam diri, batin dan kesunyian. Tujuannya tak lain untuk mewujudkan jati diri.
Pada dasarnya, menurut Paguyuban Sumarah, meditasi adalah sebuah alat untuk membantu kita berjalan di dunia dan melalui hidup dengan cara terbaik. Meditasi adalah alat yang berharga untuk membantu kita berhenti dan ingat bahwa memang hanya diam dan hanya secangkir teh.
Tapi yang dilakukan Paguyuban Sumarah, berbeda dengan meditasi pada umumnya, sebagaimana terdapat dalam agama dan kepercayaan lain. Tidak ada peran tetap, seperti cara tertentu pernapasan, teknik untuk membantu konsentrasi, posisi spesifik untuk terus, sambil meditasi dan sebagainya. Meditasi Sumarah hanya didasarkan pada penerimaan apa adanya. Maksudnya, berawal dari penerimaan bahwa kita tidak akan pernah menjadi sempurna dan bahwa kita akan selalu melakukan kesalahan. Hal ini mengajarkan bahwa komitmen diperlukan, tetapi upaya yang berlebihan tak bukan hanyalah wajah lain dari ambisi kami.
Paguyuban Sumarah berpandangan, hidup adalah gerakan yang berkelanjutan dan perubahan realitas sepanjang waktu. Karenanya, kita harus belajar untuk tahu dan menghargai apa yang ada bagi kita, dan dalam waktu yang sama untuk tidak terlalu melekat padanya. Sumarah tidak menawarkan solusi, tidak menjanjikan keselamatan, tidak menjamin kesuksesan.
Meditasi Sumarah adalah jalan, alat hidup, untuk hidup dan dalam kehidupan, bukan tujuan itu sendiri. Jadi, meditasi diibaratkan suatu alat yang membantu kita menuju ke suatu tempat. Begitu kita sampai di tujuan, maka alat tersebut harus kita lepaskan.
Praktek Sumarah tidak mengajarkan isolasi atau menghindari hal-hal duniawi. Sebaliknya hal itu mengajarkan kita untuk menerima hidup dalam totalitasnya, membenamkan diri di dalamnya untuk baik dan buruk. Inilah sebabnya mengapa Sumarah suka menggunakan ungkapan rame tapa, mundur bising, cara untuk belajar praktek yang benar perdamaian di tengah medan perang dan diam di tengah-tengah kebingungan bising.
Sumarah membagi meditasi menjadi dua, yakni meditasi khusus dan harian. Yang pertama, disebut 'khusus' untuk membedakannya dari kehidupan normal sehari-hari. Ini adalah waktu tertentu di mana kita duduk, santai dan terbuka untuk menerima energi ilahi. Ini adalah kesempatan untuk latihan dan melepaskan ketegangan dan pikiran. Membiarkan diri kita menyadari perasaan dan melepaskan konsep-konsep yang terlalu sering merupakan kendala bagi pengembangan diri sebenarnya.
Tapi meski disebut ‘khusus’, tetap saja tak ada aturan baku terhadap meditasi ini. Semua diserahkan kepada masing-masing individu, berapa kali atau berapa lama dalam sehari ia perlu melakukan meditasi.
Di sisi lain, meditasi harian adalah upaya memertahankan meditasi khusus. Dengan cara ini manusia belajar melihat kualitas luar biasa saat-saat biasa dan kualitas biasa saat-saat yang luar biasa. Biasanya antara meditasi khusus dan harian ada jurang yang nyata. Karenanya, praktek adalah tepat tentang mengurangi kesenjangan tersebut.
Keinklusifan cara meditasi Sumarah juga didasarkan atas kritiknya terhadap meditasi pada umumnya. Umumnya, para penganut agama atau kepercayaan tertentu menggunakan meditasi sebagai pelarian dari kenyataan setiap kali menemukan hal-hal yang tak disukai, saat dalam kesukaran atau takut pada malapetaka. Selain itu meditasi menjadi terlalu terikat dengan sebuah negara interior yang dengan mudah berubah menjadi kepuasan diri.
Sebaliknya, meditasi dalam kondisi sulit dan tidak menguntungkan, dalam keheningan maupun keramaian adalah pelatihan yang sangat baik. Setelah kita telah dalam gelap untuk sementara waktu, kita mulai melihat dan menghargai bahkan lampu kecil. Apa yang baik untuk ego biasanya buruk bagi jiwa, dan sebaliknya.

Menurut Sumarah, berada di meditasi berarti pertama-tama berada dalam keadaan kesadaran tinggi. Hal itu berarti santai secara fisik, emosional, dan mental. mengurangi hambatan yang biasanya datang di antara kita dan visi kita yang terbatas tentang diri kita sendiri dan realitas di sekitar kita.
Seringkali, ketika seseorang duduk untuk bermeditasi, benaknya penuh terisi harapan, berat dengan keinginan. Kondisi tersebut dengan sendirinya telah mencegah dari benar-benar bersantai. Sebuah kondisi dalam non-resistensi dan relaksasi bersatu dengan perhatian dan keterbukaan adalah syarat mutlak untuk kedua jenis meditasi.
Paguyuban Sumarah tidak punya kitab suci. Kitab suci kami adalah Hidup, Begitu kata mereka. Namun menurut Sumarah, orang sering kali lupa akan kehidupan itu sendiri. Sumarah berpegang pada prinsip, bahwa hidup hanya sebentar. Laksana orang istirahat di perjalanan untuk numpang minum saja. Di situlah ibarat meditasi berlaku. Semacam rehat dari jalan panjang mengingat perjalanan yang masih sangat panjang.

Tan Malaka, Gay?

“Apakah Tan Malaka seorang gay, mengingat selama hidupnya yang panjang, tokoh nasional ini tidak menikah?” Pertanyaan mengejutkan itu diungkapkan oleh Peneliti LIPI, Asvi Warman Adam sebagai salah-satu narasumber dalam “In Memoriam 61 Tahun Hilangnya Tan Malaka” di Aula Student Center UIN Jakarta, senin (8/3).
Mendengar hal tersebut, Hanafi, seorang peserta dialog, mengajukan keberatan. Menurut mahasiswa Perbandingan Madzhab dan Hukum UIN Jakarta ini, pernyataan Asvi Warman melecehkan Tan Malaka, sebagai pahlawan yang dicoret Orde Baru dari sejarah selama tiga dekade.
Atas keberatan ini Asvi menjelaskan, pertanyaan itu manusiawi. “Lepas dari masalah pemikiran dan gerakan politiknya, Tan Malaka adalah manusia biasa. Wajar jika kita memertanyakan hal demikian,” jelas Asvi.
Ia menambahkan, kadang pertanyaan sederhana macam itu diperlukan untuk mengungkap fakta dibaliknya. Misalnya peristiwa pidato Tan Malaka di Semarang. Ada yang mengatakan, pada kesempatan itu Tan Malaka berpidato dengan logat melayunya. Ada pula yang yakin mendengar logat melayu Tan Malaka sudah tak kentara. Hal terakhir karena kehidupan Tan Malaka yang sering hijrah ke berbagai tempat dan negara.
“Sekilas, ini sepele. Tapi perdebatan tentang ini akan memacu kita untuk menemukan kebenaran dari pidato tersebut. Kapan, di mana atau dalam peristiwa apa Tan Malaka berpidato, serta apa isinya,” papar Asvi.
Terkait masalah seksual Tan Malaka, lanjut Asvi, penelitian Harry A Pose menungkapkan Tan Malaka pernah menaksir dua gadis yakni, Syarifah Nawawi dan Paramita Abdurrahman. Tapi keduanya adalah cinta tak sampai. Dalam sebuah riwayat, Tan Malaka juga sempat mengatakan pernah jatuh cinta tiga kali. Masing-masing di Belanda, Filipina dan Indonesia. Tetapi cintanya terhadap Indonesia lebih besar. Sehingga masalah asmara dan seksualitasnya terkesampingkan. Kondisi ini sepertinya terjadi pula pada Mohammad Hatta, yang mengakhir masa lajangnya di usia 43 tahun.


Di samping Asvi, hadir sebagai pembicara Adnan Buyung Nasution. Dalam pemaparannya, Buyung mengungkapkan, Tan Malaka adalah orang yang bercita-cita, jika merdeka, Indonesia harus berbentuk republik. “Bentuk pemerintahan republik memungkinkan warga untuk mengembangkan diri. Bangsa kita adalah bangsa feodal. Hal ini membuat rakyat Indonesia bermental kawula, abdi. Karenanya yang pertama dilakukan Tan Malaka saat di Semarang adalah mendirikan Sekolah Rakyat.
Di kesempatan ini, Buyung juga menyinggung kasus Century yang kini tengah menjadi sorotan. “Saya adalah orang pertama yang bilang pada presiden, terbukalah! Sebab, semua yang dilakukan Menteri Keuangan, Gubernur BI adalah tanggung jawab Presiden. Setelah hasil rapat paripurna kemarin, Century akan menjadi bukti apakah penegakan hukum di Indonesia berjalan benar atau tidak. Mari kita saksikan,” kata Buyung berapi-api.[MS Wibowo]

Murtadha Muthahari

Sekilas Riwayat Hidupnya

Murtadha Muthahhari lahir pada tanggal 2 Februari 1919 di Khusrasan. Ayahnya Muhammad Husein Muthahhari adalah seorang alim yang sangat dihormati. Sejak menjadi mahasiswa di Qum, Muthahhari sudah menunjukkan minatnya pada filsafat dan ilmu pengetahuan modern. Di Qum ia belajar kepada Ayatullah Boroujerdi dan Ayatullah Khomeini. Dalam filsafat ia banyak belajar kepada Allamah Thabathabai.
Di usia yang relatif muda, Muthahhari sudah mengajar logika, filsafat dan fiqih di Fakultas Theologi Universitas Teheran. Ia juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Filsafat. Dengan itu, sesusungguhnya Murtadha Muthahhari bisa hidup nyaman dan tenang. Sebab di sisi lain, masih banyak kemampuan dan keilmuan yang menjadikannya amat disegani.
Tetapi ia lebih memilih badai daripada damai. Bersama Imam Khomeini, ia aktiv di dunia politik menentang rezim Pahlevi. Pada tahun 1963 ia mengambil alih kepemimpinan pergerakan dan perjuangan melawan pemerintah saat Khomeini di buang ke Turki. Ia juga mendirikan Husainya-yi Irsyad yang menjadi basis kebangkitan intelektual Islam. Muthahhari tercatat sebagai salah-seorang tokoh Revolusi Islam Iran. Pada saat Revolusi Islam Iran, 1979, ia menjadi anggota Dewan Revolusi.
Karakteristik yang menonjol pada seorang Muthahhari adalah kedalaman pemahamannya tentang Islam, keluasan pengetahuan tentang filsafat dan ilmu pengetahuan modern, dan keterlibatan yang non-kompromistis terhadap keyakinan dan ideologinya.
Muthahhari harus mengakhiri perjuangan dan hidupnya pada 2 Mei 1979 karena ditembak oleh kelompok ekstrem, Furqan.


Filsafat dan Ideologi

Muthahhari melihat filsafat sebagai senjata, yang ampuh untuk menghadapi ide-ide sekular yang tersebar cepat di Iran. Hal ini mengingatkan kita pada Al-Ghazali, yang menjadikan filsafat sebagai senjata untuk menangkal ide-ide filosofis. Sementara pada Muthahhari, serangan filsafatnya diarahkan untuk menghadapi ide-ide sekular Barat, khususnya Marxisme.
Demikian penting peran filsafat sebagai senjata ideologi, sehingga Muthahhari berusaha menghidupkan kembali tradisi filosofis yang secara aman telah jinak, dan ia percaya filsafat merupakan “prioritas utama dalam skala makna (signifikansi) diantara semua cabang ilmu pengetahuan.
Selain bicara tentang filsafat sebagai senjata ideologis yang ampuh untuk menghadapi ide-ide sekular Barat, Muthahhri juga menyatakan dengan tegas bahwa filsafat bukanlah hak istimewa Barat. Dia mengatakan dan percaya bahwa “Yunani kuno (sebagai lambang filsafat Barat) memperoleh asal keberhasilannya yang utama dari Timur. Sarjan-sarjana besar dari belahan dunia tersebut berulangkali melancong ke Timur, belajar banyak dari sarjana-sarjan Timur, dan ketika mereka kembali, mereka menyebarkannya di negeri mereka.”
Lebih lanjut bicara tentang ideologi Muthahhari menyatakan, sebagaimana agama, ideologi memerlukan defenisi intelektual maupun batasan filosofis. Seperti halnya agama, ideologi mensyaratkan adanya perspektif universal yang didasarkan pada logika dan wawasan khusus, yang juga didukung oleh argumentasi sistematis tentang dunia dan alam.
Agama, menurut Muthahhari, memberikan kekuatan kepada sebuah ideologi untuk menciptakan kasih sayangdan cinta terhadap tujuan-tujuan yang lebih tinggi dibanding tujuan-tujuan individualistik saja. Tujuan yang individualistik ini banyak kita temukan pada madzhab pemikiran modern seperti halnya eksistensialisme.
Bagi Muthahhari, ideologi yang tidak disandarkan pada agama dan hanya merujuk pada sistem intelektual saja, tidak akan mampu menumbuhkan cinta dan kasih sayang serta kehilangan landasan logis; walaupun terkadang ideologi semacam ini dapat dipaksakan dengan kekuatan atau sugesti.
Muthahari menyebut, sebuah madzhab pemikiran adalah sistem praktis tunggal, bukan hanya pemikiran yang bersifat teoritis. Sistem pemikiran ini berarti pemahaman tentang sesuatu yang ada. Karenanya, sebuah madzhab pemikiran haruslah berupa kumpulan ide-ide harmonis yang berhubungan dengan kehidupan nyata, yakni tentang apa yang diizinkan dan yang tidak. Adapun konsep yang bersifat teoritis itu menjadi rohnya. Karenanya, setiap ideologi harus berdasarkan pada perspektif universal, yang memandang alam ini pada perspektif universal, yang memandang alam ini sebagaimana mestinya dan memandang manusia sebagaimana harusnya.
Muthahari mengeritik pemahaman Marxisme, yang menurutnya menggunakan sudut pandang materialistis proses penyempurnaan dan cita-cita manusia. Mereka memerhitungkan segalanya dari sudut pandang ekonomi yang menawarkan semua bentuk kepentingan dari perampasan akibat perbedaan kelas sosial sebagai tujuan.


Landasan Etika Sosial dan Etika Personal

Dalam hidupnya, manusia memerlukan tujuan-tujuan non-material, baik sebagai individu maupun makhluk sosial. Ini berbeda dengan beberapa pandangan Barat. Bagi mereka, tujuan kehidupan bermasyarakat hanya materi semata.
Bertrand Russel misalnya, berpendapat bahwa dasar etika sosial adalah bentuk kesepakatan antarindividu dalam sebuah komunitas yang dengan kesepakatan ini mereka dapat melindungi kepentingan-kepentingan mereka. Russel percaya, dasar etika sosial adalah penghargaan atas hak-hak individu. Pemikiran ini mirip dengan pandangan Marxisme. Penekanan mereka hanya pada kepemilikan yang dianggap sebagai sumber penindasan dan kezaliman.
Tapi kenyataannya, dalam suatu masyarakat, kepemilikan pribad bukan satu-satunya faktor untuk mencapai status sosial yang tinggi. Banyak hal yang tak bisa dinilai dengan materi. Misalnya kecantikan, kemasyhuran, kedudukan dan sebagainya. Karenanya, akar segala bentuk penindasan dan kezaliman bukanlah hanya kekayaan. Dan ternyata, dalam sosialisme atau komunisme pun masih terdapat hal spiritualitas.
Bagi Muthahhari, manusia memiliki tanggung jaab yang sangat luas. Sebuah sistem nilai yang sangat fundamental bagi semua pemikiran. Sistem nilai inilah yang bisa memberikan bimbingan kepada manusia dalam melakukan tugas-tugasnya sebagai individu maupun makhluk sosial. Dan tentunya, sistem nilai itu tak akan berarti jika tak dilandasi keyakinan pada Sang Pencipta dan bahwa kearifan-Nya mewujud dalam penciptaan.

Tentang Gender

Saat ini gerakan feminisme dan sejumlah faham lainnya di Barat menilai ketergantungan istri kepada suami terkait masalah ekonomi, termasuk juga mahar dan nafkah, sama dengan diskriminasi dan ketidaksetaraan. Padahal, mahar dan nafkah ditentukan atas dasar karakteristik dan ketidaksamaan peran antara pria dan wanita. Tanggung jawab berat mengandung anak dan melahirkan secara alamiah berada di pundak wanita. Kondisi ini membuat wanita rentan terhadap gangguan fisik dan mental.
Jika pria dan wanita memiliki tanggung jawab dan peran yang sama untuk memenuhi kesejahteraan keluarga dan tidak ada hukum yang membela perempuan, maka perempuan akan menghadapi beban yang berat. Muthahhari menilai wanita berhak menerima nafkah karena mengemban tugas berat seperti mengandung, melahirkan, dan menyusui. Pria dan wanita tidak memiliki kondisi fisik yang sama untuk melakukan aktivitas dan kegiatan berat dalam mencari nafkah. Pria memiliki kemampuan lebih untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat. Allah Swt telah membagi urusan kehidupan, dan menentukan pemenuhan kebutuhan ekonomi wanita ada di pundak pria. Allah jugalah yang membuat pria memerlukan perempuan dari segi kejiwaan dan mental.
Selain itu, wanita membutuhkan ketenangan dan ketentraman untuk memainkan peran sebagai seorang istri dan ibu. Jika istri dipaksa untuk melakukan pekerjaan berat, maka ia akan cepat tua dan tidak mampu memenuhi kebutuhan mental suami dan anak-anaknya. Muthahhari meyakini bahwa: "Agar wanita bisa selalu tampil ceria, ia memerlukan ketenangan lebih dari pria. Aturan penciptaan telah mewujudkan kesesuaian dan keselarasan maksimal antara pria dan wanita dengan ada sejumlah perbedaan di antara mereka, sehingga pria dan wanita akan saling melengkapi. Oleh karena itu menurut pandangan Islam, istri tidak dipaksa bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan purta-putrinya dengan memikulkan kewajiban itu pada pundak suami. Islam tidak menganggap pekerjaan dan karir sebagai tujuan utama bagi wanita untuk menjaga kelembutan mental dan fisik mereka. Meski demikian, Islam menerima keputusan wanita untuk berkarir demi mengembangkan potensi dan memenuhi kebutuhan masyarakat."