Home

Selasa, 29 September 2015

Tempat


Ini ruangmu
Tempatmu telanjang dan telentang
Ini kotakmu
Tempatmu bebas bertingkah
Ini rumahmu
Tempatmu berubah
Ini berandamu
Tempatmu tersenyum selalu
Ini kotamu
Tempatmu berpolah
Ini duniamu
Tempatmu berkata


Legoso, 29 September 2015

Gambar : kvltmagz.co

Minggu, 27 September 2015

Akhir Tahun

Akhir adalah tanda segera munculnya awal baru. Akhir tahun selalu menjadi saat khusus. Pada tanggal 7 November aku berulang tahun. Itu berdasarkan catatan di rapor dan akta kelahiranku.

Cepat sekali waktu memvonisku tua.

Baiklah, kata orang dan memang kenyataannya, tua itu pasti. Karena itu haruskah segera aku memilih menjadi dewasa? Karena dewasa adalah pilihan.

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.

Berarti adalah hakku untuk memilih tetap menjadi anak-anak atau mungkin kekanak-kanakan. Penuh keceriaan dan lebih emosional. Segalanya riang, penuh tantangan, menarik perhatian. Gembira. Selalu mencoba hal-hal baru.

Bukankah dunia ini luas? Jagad raya tak terbatas? Pasti masih ada hal-hal baru senajan kita sudah tua. Asal jangan dewasa. Karena dewasa adalah membatasi diri bahwa dunia seperti ini seperti itu, sebegini sebegitu, saklek. Sedangkan bagi anak-anak, dunia tetap indah berisi petualangan menarik perhatian.

Atau aku harus golput? Maksudnya tidak memilih untuk dewasa juga kanak-kanak?

Selasa, 15 September 2015

Petualangan Air


Selaku setetes air,
siapa tak ingin bersatu samudera.
Tempat kumpul berjuta-juta
sumber kehidupan.
Berbagi cerita petualangan.
Pelayaran mengarungi inci per inci lobang di daratan.
Menyusuri lorong-lorong dalam
sela rongga tubuh manusia,
pori-pori pepohonan,
beceknya tanah,
diinjak-injak bersama rerumputan
yang ceria, tertawa, tempat anak-anak bermain bola.

Perjalanan normal adalah aliran
sungai menuju muara.
Tiap tepinya menyimpan persimpangan
menyesatkan penuh tantangan.
Kau yang terserap oleh tepian
 akan menjalani pengembaraan panjang.
Sebelum menguap ke udara menjadi awan.
Melayang-layang dalam ekstase di ketinggian biru.
Jatuh bersorak ke lautan,
atau terserak keruh selokan,
mungkin pula terserap bergelinjang akar-akar pohon
di rimba hutan.
Memadamkan api yang mengumbar asap menyesakan paru-paru bumi.
Menanti peluang
pulang ke bahari.

Tarumanegara, 15 September 2015

Minggu, 13 September 2015

Aku?

Aku?

Ya kau. Tak perlu melakukan apapun. Diam tak usah kata. Kosong tanpa hasrat. Beku tanpa teori. Jangan ada pergerakan. Itulah sedahsyat-dahsyat perubahan. Kekuatan diam. Kekuatan yang membisu. Tak ada yang perlu dikagumi di luar dirimu. Tak ada yang harus diresahi. Tak ada yang khusus diperhati. Kau makhluk terberkah. Terbaik. Bahwa tahta tertinggi ialah tanpa tahta. Cinta sejati ialah tanpa cinta

Kamis, 10 September 2015

Simulasi Waktu

Lupakan mimpi tentang Eropa.
Di Nusantara kau dan aku
tak butuh daratan baru.

Gemercik klasik sungai dari pedesaan, kicau burung di dahan pohon yang tenang,
biarlah bermutasi bising kendaraan, teriak klakson di kemacetan.
Sementara kau dan aku cukup bersemayam dalam pikiran.

Jarum jam di luar sana meliar.
Melingkar-lingkar
menjerat leher orang yang senang pada ketakutan.

Jika tak cukup pula keberanianmu, aku sajalah yang gila
memeluk rapuhnya waktu. Bukankah, kata Sapardi, ia fana?
Sekejap hancur
diganti detik-detik baru lainnya.
Tak seorang bisa menyeberang sungai sama untuk kedua kalinya.

Menit-menit belia tak paham sejarah.
Merasukan dentang-dentang lonceng hitungan ke dalam sum-sum tulang
dan aliran darah. Anti abadi.
Jasad kan memudar
lenyap menghadap kumpulan masa binasa.

Di tepi gaduh ruang, waktu, dan massa fatamorgana
Hanya kita yang nyata

Tarumanegara, Legoso, 10 September 2015, 09.06

Waktu

Waktu ada tanpa wujud. Ia adalah perpindahan dari suatu gerak kondisi ke kondisi, keadaan ke keadaan, ruang ke ruang. Ia ada tapi tidak rill.

Dalam waktu, orang bisa saja tersesat di gurun, di tengah-tengah samudera, di hutan atau dimana saja, tapi tubuhnya masih ada di rumah, di kamar, atau mengikuti aktivitas sehari-hari. Karena waktu memang tidak nyata hanya ada.
Sejati waktu tidak melingkar berjalan