Home

Sabtu, 29 Oktober 2011

Ngoceh Pagi-Pagi

Sebentar, sebentar. Banyak hal yang semestinya menjadi pemenang. Tapi nyatanya semua sibuk cari uang. Cari kebahagiaan. Berkelompok dan kemudian mencari lawan. Perdamaian, kemajuan, kemakmuran hanya bahan diskusi. Seperti tuhan yang kita puja, untuk diharapkan bukan diterapkan.

Ah, bagaimana aku tak apatis. Semua mencari makna dengan menghalalkan berbagaicara. Melanggar peraturan dengan cara yang elegan.

Ah, sebentar. Aku lama menjadi pembenci hal-hal formal. Menurutku itu tidak subtansial, basa-basi dan munafik. Tidak apa adanya.

Tapi mungkin kebenaran dan kejujuran hakikat sejati. Tak mungkin nyata tanpa bingkai formalitas. Seperti nyawa tanpa raga. Seperti Tuhan tanpa semesta.

Lalu berarti, perjuanganku perjuangan semu. Aku memperjuangakan esensi, mengabaikan eksistensi. Tapi ternyata terjebak pula pada kosongnya subtansi.

Sekali esensi itu nyata, segalanya adalah dusta. Yang pantas dihujat, namun dilakukan sampai sekarat zaman.

Kamis, 27 Oktober 2011

Obsesi Ketuhanan

Dia sangat berobsesi menjadi tuhan. Terus mempertanyakan. Berawal kegemarannya menatap bintang-bintang. Takjub pada luasnya jagad. Akalnya selalu gelisah. Kepercayaan warisan memaksa pada suatu kepastian untuk berhenti. Ia tak puas hati. Terus mencari. Terus berlari.

Tiba di sebuah gang. Pertiggaan. Angkuh seluas terminal. Ia mendapatkan banyak teman. Yang sepakat siap membunuh tuhan. Bersama mereka niat itu dilaksanakan. Tanpa menghiraukan segala akibat di hari depan. Untuk menjadi tuhan, ia harus membunuh tuhan.

Rencana yang telah matang, segera dijalankan. Parang-parang yang tajam. Bara obor siap membakar. Puluhan pamphlet penghujatan dan pemberontakan terpajang di tiap sudut dan pinggir jalan.

Tuhan yang duduk angkuh di arsy, tak siap menghadapi para pemberontaknya yang tiba-tiba. Tertusuklah ia dan terbakar. Bersamanya, redup pula semua cahaya. Satu pelita, yang menerangi kegelisahan karena ketidakpastian hidup manusia.

Dengan penuh galau dan keraguan, jasad tuhan dimakamkan. Di dekat trotoar. Tampak kucing hitam berkabung duka.

Segerombol pemuda tadi telah pulang ke terminal. Gelap tetaplah gelap. Tanpa tuhan mereka hidup. Tanpa cahaya sudah pasti redup. Kini langkah mereka tak panjang. Bolak-balik ke seberang jalan. Mengisi kebosanan. Tanpa tuhan, tanpa pengekang, semuanya sia-sia. Semuanya hampa. Dalam ketakpastian, mereka coba melangkah tanpa keraguan. Tapi hanya dia yang bertahan. Selebihnya bergelimpang. Memilih duduk karena pasti. Daripada berjalan tanpa henti. Menjadi tuhan ternyata tak gampang. Perlu perjuangan dan penuh penderitaan.

Kamis, 20 Oktober 2011

Senin, 17 Oktober 2011

langkah

Sejanak berdiri
sejenak melangkah
lari
menyusuri ruang di tiap jengkal waktu
dalam hidup yang tak pasti

Jumat, 14 Oktober 2011

Damai

Mengambil sebatang cinta dari kotak kehidupan

Kempot dan sobek ujung kirinya

Semangat menyala dari batu rahasia

Membakar

Menghisap dan menghembuskan

Damai

Tercipta menjulangkan asap bahagia

Melambung di sekitar bulan

Venus dan mercurius

Merah kuning mengerjap di langit yang hitam

Merona di fajar senja

Kau adalah cinta

Sabtu, 08 Oktober 2011

Sigar Et

Mustahil
takkan pernah kau hisap sebatang yang sama
untuk ulang kedua
waktu membakar peristiwa
melayang
atau luntur sehitam-hitamnya
abu mengitar celah terkecil tubuh kenangan

bila di hari depan upayamu
suguhkan semangkuk hangat yang diam
yang gurih bibirmu basahi selalu
peluklah mimpi layu itu jelang pejam
biar segar di timur sana