Home

Senin, 23 Maret 2009

MUI Majelis Ulama Indonesia / Irasional

MS WIBOWO-Tahukah Anda, Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah biang keladi pemicu munculnya ajaran dan aliran sesat di Indonesia. Tapi ironis, MUI merasa menjadi pemegang otoritas kebenaran Tuhan. Karenanya, MUI selalu sewenang-wenang memfatwa sesuatu atau aliran tertentu dengan label haram, sesat dan sebagainya.
Parahnya, banyak umat Islam yang mengimani fatwa MUI sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan, pengerusakan, pengusiran, pemukulan kepada aliran yang difatwa sesat. Sehingga ini menambah daftar hitam MUI. Selain pemicu munculnya aliran-aliran yang difatwa sesat, MUI juga merupakan penyulut terjadinya kekerasan, keonaran dan anti perdamaian. Dialah yang mengerdilkan jiwa anak bangsa. Membuat orang anti toleransi serta penghancur keberagaman, yang telah diciptakan Allah SWT.
Mungkin sebenarnya, nama MUI lebih tepat menjadi singkatan dari Majelis Ulama Irasional, sebagaimana yang dikatakan KH. Abdurrahman Wahid. Sebab mereka sering mengeluarkan fatwa-fatwa yang tak rasional.
MUI selalu menginginkan manusia seragam dibawah pemahaman mereka, tanpa ruang gerak bebas akal untuk berfikir dan bertanya. Padahal, merupakan kodrat manusia yang berakal, untuk selalu menanyakan sesuatu. Termasuk mengenai masalah keyakinan.
Karenanya tak heran, jika muncul banyak aliran-aliran tertentu karena ketidakpuasan terhadap Islam ala MUI. Bahkan mungkin sekali terjadi kaum muslim yang berpindah agama, karena tak menemukan kebenaran dalam Islam yang tak bisa dipertanyakan dan dipikirkan.
Seharusnya MUI lebih terbuka dan berusaha dewasa menghargai karunia Tuhan yang bernama akal. Sebab dengan akallah manusia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan Akal, manusia berusaha memahami wahyu Tuhan. Akallah yang telah memberitahu manusia bahwa 1 + 1 = 2. Dan itu adalah benar. Tapi MUI menyalahkannya.

Jadi Superman Biar Nggak Melanggar RUU Pornografi


-->
Jendela berengsel atas itu terbuka dengan rongga bawah yang lebih lebar. Vina duduk di mulut jendela dengan ceria. Ia mengibas-ibaskan buku tulis ke arah tubuhnya untuk mengusir gerah dan panas. Sesekali ia menggeser pantat agar duduknya berasa nyaman.
Di ruang kost pacarnya itu Vina tak sendiri. Tiga pria personel band pacarnya, berada di sana melepas lelah pasca kuliah. Sementara sang pacar sedang sibuk di kamar mandi. Baru bangun tidur dan hendak menjalankan shalat dzuhur.
Agar tak terserang mati gaya, karena menunggu pacarnya keluar dari kamar mandi, Vina meminta salah-seorang personel band lain, yang tak lain adalah aku sendiri, untuk menemaninya. Aku oke-oke saja. Kan udah kenal lama, sejak di Play Group Ushuluddin. Kami pun asyik mengobrol hal-hal yang tak penting. Kemudian Vina menyapu sekeliling ruang depan kamar dengan matanya.
“Kok di sini banyak banget stiker Batman sama KungFu Panda sih?” Tanya Vina kepadaku.
“Terserah kita dong, ini kamar siapa?” Jawabku balik dengan pertanyaan yang nggak penting.
Vina pun tersenyum kecut. Lalu ia mengatakan, teringat masa lalunya gara-gara melihat stiker Super Hero Batman tadi.
“Tau nggak Bowo, dulu aku tuh terobsesi banget jadi Super Hero-Super Heroan gitu,” kata Vina.
“Waktu masih kecil?” Tanyaku.
“Iya,” jawab Vina. Dulu tuh, lanjut Vina, aku pengen jadi Superman. Padahal aku kan cewek ya. Tapi aku nggak mau jadi Super Women. Soalnya pakaiannya nggak menutupi aurat alias pornoaksi. Aku sering mencoba terjun dari ketinggian lima meter gitu. Pas mendarat, kakiku salah posisi. Jadinya terkilir. Pas pulang dengan jalan pincang, sampai pintu langsung diintrogasi mama.
“Kenapa itu kakinya.”
“Jatuh ma.”
“Iya jatuh kenapa?”
“Jatuh aja.”
“Iya jatuh gimana, kok bisa bengkak kaya gini, memangnya ngapain aja?”
“Jadi Superman-Supermanan,” jawab Vina polos.
Kembali ke kamar kost…
Aku yang tertarik dengan kisah-kisah masa kecil seseorang pun segera bertanya pada Vina.
“Waktu jadi Superman-Supermanan itu kelas berapa Vin?”
“Kelas III SMA,” jawa Vina polos juga.
“Kelas III SMA?! Itu mah bukan masa anak-anak, itu dah gede.”
“Iya bener kelas III SMA,” timpal Vina meyakinkan dengan sedikit senyum heran kepadaku.[]

Sabtu, 21 Maret 2009

Jendil-Jendil Merah

MS Wibowo -Di Sebuah kampung di daerah Jawa, tinggal sepasang suami isri yang kaya raya. Harta mereka adalah warisan dari orang tua sang suami. Semua itu tak membuat dua sejoli tersebut lantas bahagia. Ada yang ganjil meski tinggal serumah genap berdua. Sampai pada tiga tahun berikutnya, barulah mereka dikarunia seorang anak laki-laki.
Semua cinta dan perhatian pun kontan tercurah pada anak yang begitu lucu itu. Ketawanya seakan menghancurkan penat ayah sepulang kerja.
Rasa syukur meningkat manakala terdengar sang anak bisa meniupkan kata-kata. Itu pertama kali setelah usianya menginjak dua tahun. Entah ia dapat dari mana, kata yang keluar dari mulutnya pertama kali adalah ‘Jendil-jendil merah’. Ketika beranjak tiga tahun, kedua orang tua itu bertanya pada anaknya, mau hadiah apa di ultah ke tiga ini. Sang anak mengatakan, “aku mau jendil-jendil merah.”
Kedua orang tua itu pun bingung. Mereka tak tahu apa itu jendil-jendil merah. Ditanyalah anak semata wayangnya itu.
“Jendil-jendil merah itu apa nak,” Tanya ibunda.
“Jendil-jendil jendil merah ya jendil-jendil merah,” jawab sang anak dengan polos.
Akhirnya daripada bingung-bingung memikirkan apa itu jendil-jendil merah, mereka membelikan mobil-mobilan. Beberapa bulan kemudian, mobil-mobilan itu rusak dan membekaskan luka pada anak semata wayang tersebut. Pasalnya, mainan itu hendak dipinta oleh seorang temannya. Karena tak boleh, terjadilah perebutan dan saling tarik-menarik. Ujungnya, mobil-mobilan itu patah. Sang anak menangis. Temannya pun jengkel, lalu memukulkan patahan mobil mainan itu kemuka anak tadi.
Menginjak usia 10 tahun, suami istri tadi kembali merayakan ultah anaknya. Mereka berdua pun tak lupa bertanya kepada sang anak, mau hadiah apa di ultah ke 10 ini?
Tapi anak itu, masih seperti tujuh tahun yang lalu, ia tetap meminta jendil-jendil merah. Kedua orang tua pun bertanya lagi, “Jendil-jendil merah itu apa sih nak, ayah nggak tau nggak paham.” Anak itu tetap bilang, “jedil-jendil merah ya jendil-jendil merah.”
Tetap tak mau pusing, kedua orang tua itu membelikan sepeda BMX untuk hadiah ultah anak tercintanya. Dua minggu kemudian, sang anak pulang sekolah dengan kondisi lutut berdarah. Ternyata ia baru saja terjatuh dari sepeda hadiah ultahnya.
Pada hari lahirnya yang ke-20, anak itu kembali meminta hadiah ultah “Jendil-Jendil merah”. Berhubung sang anak tak mau atau tak bisa menjelaskan apa itu jendil-jendil merah, maka ayah dan ibunya membelikan sepeda motor. Menurut kedua orang tua tersebut, hadiah motor cukup pantas diberikan untuk anaknya di usia ini. Tak lupa, motor tersebut berwarna merah, dengan harapan itulah yang dimaksud dengan jendil-jendil merah.
Dua minggu kemudian, anak tersebut harus dirawat di UGD karena jatuh dari motor. Rupa-rupanya, keadaannya cukup kritis. Kedua orang tua itupun menunggu anaknya dengan setia dan sabar.
Melihat kondisi sang anak begitu kritis, ayah dan ibu anak itu teringat akan permintaan anaknya sejak kecil hingga kini. Sebuah permintaan yang membuat penasaran. Yang hingga kini belum mereka ketahui, apa yang dimaksud ‘Jendil-Jendil Merah’.
Mereka berdua menghampiri anaknya yang terkulai ditempat tidur UGD. Sang ibu memijit-mijit tangan anaknya, sementara sang ayah berdiri sambil mengelus-elus rambut buah hatinya itu. Dengan suara pelan, sang ayah bertanya, “Nak, sebenarnya ‘Jendil-Jendil Merah’ itu apa sih?”
Kali ini sang anak mau menjawab. Ia berkata, “Jendil-Jendil Merah adalah ..” plek, anak itu tak bernapas lagi.
Akhirnya ‘Jendil-Jendil Merah’ tetap menjadi misteri bagi kedua orang tua tersebut dari dunia hingga akhirat.[]

Selasa, 10 Maret 2009

Ketika Teman Menjadi Terpuruk, Hina, dianggap Nista, masihkah kau anggap temanmu?

Pernah suatu hari, aku nimbrung dalam tongkrongan dengan kawan-kawanku di sekitar Jl Pesanggrahan. Saat itu, kondisi lagi tinggi. Ibarat di udara sedang terbang, ibarat dilaut sedang menyelam. Salah-seorang temanku bertanya kepadaku perihal seseorang yang ia anggap buruk dan tak bermoral. “eh mana tuh si ****? Kemana dia nggak berani nongol, takut? Lo mau aja kerja bareng dia?”
Mendengar pertanyaan+pernyataan itu, entah kenapa tiba-tiba aku emosi. Menurutku, akulah yang lebih dekat dengan orang yang dia jelek-jelekkan itu. Dan aku tahu orang yang mencela itu tak lebih baik dari yang dicela. Dari segi keilmuan dan pengetahuan serta jaringan dan masih banyak lagi, orang yang dicela lebih baik dari pada teman yang mencela tadi. Hanya saja, temanku yang dicela itu melakukan kesalahan yang tidak dilakukan oleh sang pencela. Dan itu pun, sepengetahuanku tak murni kesalahan teman yang dicela. Di situ aku sudah mau marah saja. Dan ingin aku pukul saja teman pencela tadi. Tapi kawanku yang lain menghalangi.
Di kesempatan berikutnya, pencela tadi mengatakan, menanyakan dan menyatakan hal serupa. Ia tambah kuat ketika teman yang kemarin menahan amarahku ikut mendukungnya.
Tapi kali ini aku jawab dengan santai, hee Eng, El, yang namanya teman itu tetap teman. Seburuk apa pun ia tetap teman gue. Teman itu, bukan hanya kalau kelihatan baik (dalam arti moral) dan menguntungkan bagi kita. Tapi disaat ia dihina orang, di saat dia terpuruk tetap teman. Lo juga, meskipun gue tau kejelekan lo, sejelek-jelek lo tetep temen gue. Bagaimanapun orang menghina lo, gue tetap menganggep lo temen. Nggak usah ngejelek-jelekin temanlah. Lihat lo sendiri deh, masih punya kejelekan kaga? Lo banyak melakukan keburukan yang tidak dia lakukan. Sementara dia melakukan keburukan yang nggak lo lakukan. Ingat, sejelek-jelek, sehina-hina teman, tetap teman.
Mereka pun nggak membahas itu lagi, sampai sekarang. Mereka baru nyadar kali kalo kita sama-sama jelek kok. kitaaaa? eLo aja kalee ama beruk.

Menyikapi pernyataan Bang Adli Badrun

Menyikapi pernyataan Bang Adli Badrun, mantan Wapresma UIN Jakarta 2005-2006. Ini hanya sekadar luapan hati tak bermakna. Yang tercecer lewat papan ketik dan layar monitorku. Senin, 9 Maret 2009 dini hari, di kamar kostku dibilangan Semanggi II Cempakaputih Ciputat.
Tengah malam, kira-kira pukul 23.00 (masih tanggal 8), ada tamu dari Malang. Dia kawanku Roli. Kami sama-sama aktivis pers mahasiswa. Aku di UIN Jakarta, sedangkan dia di UIN Malang. Kami juga sama-sama ex. pengurus.
Usai melepas kangen di warung pecel lele Cak Agung di jl pesanggrahan, pukul 12 kurang aku ajak dia dan satu temannya lagi menginap di kamar kost-ku. Kamar yang merupakan basecamp sebuah band bernama @_munizi. Tapi kawan-kawan musisi tak ada di tempat saat itu.
Sampai di kamar, tidur tak segera digelar. Kami larut dalam obrolan tentang pers mahasiswa, kondisi dan keadaan kampus, Negara dan dunia. Beberapa saat kemudian Bang Adli masuk dan aku kenalkan dengan dua tamuku dari Malang itu. Bang Adli pun ikut dalam kelanjutan obrolan kami.
Sampailah kami pada tahap membicarakan poitik kampus. Kemudian membahas para player-player-nya. Salah-satunya adalah seorang alumni pers mahasiswa dari UIN Jakarta. Saya tak mau menyebutkan namanya. Alasannya satu, nggak enak, titik. Yang jelas dia mantan ketua. Dan yang pasti lagi dia alumni UIN Jakarta.
Kami saling membahasnya dengan asyik. Sampai pada kesimpulan bahwa sang tokoh yang kami bahas ini adalah orang cerdik, licik dan licin. Namun saya langsung menutup ijtihad bahwa sang tokoh adalah orang yang selalu meninggalkan image buruk di mana-mana. Roli pun mengiyakan itu. Sebab ia juga pernah mendengar cerita tentang tokoh ini dari orang-orang pers dan juga orang-orang Pantau (sebuah organisasi nirlaba yang diantaranya bergerak di bidang advokasi jurnalisme). Bahkan salah-satu orang Pantau mengatakan hubungan pers mahasiswa UIN Jakarta dengan Pantau menjadi buruk gara-gara sang tokoh yang kami bicarakan ini.
Tak hanya itu, semua sepak terjang sang tokoh di kampus, di organisasi, baik LPM maupun UKM atau yang lebih luas lagi, selalu meninggalkan kesan buruk. Ia banyak meraih untung untuk dirinya sendiri. Terutama dari segi materi. Tapi ia selalu mewariskan ketidakjelasan dan menempelkan image buruk bagi generasi setelahnya. Sebab bagaimanapun juga, generasi selanjutnya itu, kasarnya dianggap murid-murid dia.
Namun Bang Adli bilang, itu tak jadi soal bagi Bang Adli sendiri. Baginya itu lumrah dan dapat dimaklumi, kecuali dia melakukan sebuah tindakan pelecehan seksual atau perbuatan mesum atau semacamnya.
Pembahasan berhenti sampai di sini tentang tokoh itu. Dan setelah Bang Adli tidur, baru aku teringat bahwa tokoh yang kita bicarakan tadi juga punya noda buruk terhadap wanita. Tak hanya satu. Sebagaimana saya ketahui, satu orang berinesial S merasa pernah dilecehkan olehnya. S adalah junior sang tokoh. Kemudian, ada yang berinesial NO, setelah itu NA dan sebelumnya IS.
Kesimpulannya, Bang Adli tetap benar kalau berpendapat maneuver-manuver kelicikan politik itu ia benarkan. Ya itu terserah bang Adli lah. Tapi seandainya Bang Adli tahu perihal terahir, masihkah ia akan mengatakan tokoh yang kita bicarakan benar. Lagi pula, antara politik dan kelicikan individu dan seksualitas adalah dua hal yang berbeda. Kenapa Bang Adli tadi mengungkit masalah kemesuman dan pelecehan seksual? Tanya kenapa? Terserahlah.
Dan kalau pembaca bertanya kenapa saya menulis ini, atau kenapa aku tak langsung mengklarivikasi. Jawabannya ya, gw mau tanang aja. Lagi pula, pemhasan kamarin bukan pembahasan formal atau rutin. Jadi ya kapan-kapan kalau ada tiba-tiba dalam obrolan santai membahas dia lagi, akan gw mentahkan. Hehe. Silakan berkomentar.[]

Jumat, 06 Maret 2009

Tuhan Bersemayam Dalam Diri Kita

Dalam sebuah hadits qudsi Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, yang artinya kurang lebih demikian, "Barang siapa mengetahui dirinya sendiri, niscaya dia pasti akan mengetahui Tuhannya."

Tuhan, setiap manusia beragama pasti percaya akan keberadaan dan kekuasaan-Nya. Tuhan bisa diartiakan sebagai sesuatu yg diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia. Ia juga merupakan dzat yg Mahakuasa, Mahaperkasa dan sebagainya.
Tuhan erat kaitannya dengan keyakinan, kebenaran. Atau bisa dikatakan sesuatu Yang Mahakuasa,dan diyakini kebenarannya.

Setiap manusia dikarunia akal masing-masing. Persepsi setiap orang tentang segala sesuatu pasti berbeda. Tak ada yang benar-benar sama persis. Begitu pula, Tuhan menurut keyakinan dan pandangan setiap manusia. Pasti berbeda. Walaupun berada dalam satu agamu,tiap orang pasti memikirkan, mempersepsi, bahkan membayangkan Tuhan dalam abstraksi yang berbeda. Misalnya kita sama-sama beragama Islam. Kita sama-sama memunyai Tuhan yang Satu, yakni Allah SWT. Namun Islam menurut keyakinan hati dan fikiran saya pasti tak sama persis dengan yang ada pada keyakinan dan pikiran Anda. Tuhan yang saya sembah, belum tentu sama dengan apa yang Anda bayangkan.

Mungkin kita tak akan mampu membayangkan wujud Tuhan. Bahkan dalam agama, sebagian ulama melarang hal yang demikian. Tapi otak manusia selalu berjalan dan menggambarkan apa yang ia tuju, ia sebut, ia ucap dan seterusnya. ketika kita menyebut nama Allah, sengaja atau tidak, disadari atau tidak, tulisan lafadz Allah minimal terlintas di benak kita, walau setitik debu.
Dan kalau kita berusaha berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak sama dengan semua yang ada di dunia dan apa yang kita lihat, tak bisa dibohongi masih ada bayangan terbersit di pikiran dan benak kita. Sekeras apapun kita tak membayangkan sesuatu apapun, pasti masih ada bayangan dalam hati kita.

Karena itu, Tuhan adalah apa yang kita yakini benar. Keberadaanya selalu kita rasakan. Ia selalu memerintahkan dan melarang kita dari dalam diri kita bagi orang yang menyadari. Ia akan menentang bila kita berbuat tak seperti maunya. kegelisahan akan didapat manakala tutunannya dilanggar. Bahagia akan diberikannya dan kita rasakan saat kita melakukan yang sesui dengan-Nya.
Tuhan, adalah Tuntunan Hati Nurani. Ia ada dalam diri sendiri. Bukan dalam orang lain. Meski kadang kenampakan-Nya pada kita melalui orang lain. Tuhan Bersemayam Dalam Diri Kita

Sailormoon Ke VI

Oleh MS Wibowo

Masa kecil kadang dilalui manusia dengan berbagai tingkah, prilaku atau imajinasi, yang tak jarang bersifat konyol. Sering pula, masa lalu itu lucu dan menggelikan. Seperti yang diceritakan oleh Titin, mahasiswa semester VIII Farmasi Fakultas Kedokteran UIN Jakarta. Selagi SD (Sekolah Dasar), ia adalah penggandrung setia serial kartun Sailormoon.
Titin menonton serial ini sejak munculnya Sailormoon I sampai Sailormoon V. Ia tak pernah beranjak dari TV setiap minggunya. Layaknya orang yang menunggu pembagian zakat massal, ia melongo ke arah TV.
Titin bangga melihat para jagoan itu mengalahkan musuh-musuhnya. Apalagi kalau Sailormoon sudah mengeluarkan kekuatan bulannya. Detak jantung yang tadinya berdebar, langsung jadi normal.
Namun yang membuat titin gelisah dan tak mau melewatkan satu episode pun dari film kartun ini adalah petuah guru Sailormoon, yang berwujud kucing. Kepada setiap Sailormoon, dari I hingga kedua sebelum akhir, guru kucing selalu mengatakan, ‘akan muncul Sailormoon berikutnya’.
Nah, kata-kata itulah yang membuat Titin menyatu dengan para pahlawan wanita tersebut. Ia yakin, bahwa yang dimaksud Sailormoon berikutnya itu adalah dirinya. Maka dia selalu menanti-nantikan kemunculannya TV.
Keyakinan Titin bahwa dirinya adalah Sailormoon telah mendarah-daging. Sebagaimana yang ia utarakan kepada ibunya. Ketika itu sang ibu marah. “Ayo belajar! Masih kecil males belajar, mau jadi apa nanti kalau udah gede?” kata ibu Titin.
Dengan enteng Titin menjawab, “Jadi Sailormoon…”
Begitulah, dan harapan tinggalah harapan. Karena hingga Sailormoon kelima, ternyata Titin tak termasuk dalam kelompok pahlawan itu. Tapi Titin belum menyerah. Ia tunggu kemunculannya sebagai Sailormoon ke VI. Tetapi belum sempat ia menampakkan diri dilayar kaca, serial kartun ini tamat. Ia pun hanya manyun menahan rasa kecewa, sambil berucap, “Yaaah, kok sudah tamat.”[]

Pesawat Tempur Pribadi



By MS Wibowo


Anda pernah kecil? Pasti. Sebab Kera Sakti yang lahir dari batu saja pada awal lahirnya juga kecil. Tapi pernahkah Anda punya khayalan ultra aneh pada masa kecil? Jawabannya mey. May be yes, may be no.
Ini kisah nyata yang telah dilalui Supriadi, gitaris @munizi Band, yang juga mahasiswa UIN Jakarta semester VIII. Saat dia berada di jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), ia memunyai khayalan dan angan-angan yang beda dari teman sejawatnya.
Entah dari mana inspirasi itu datang. Ia berkhayal dan bercita-cita memunyai pesawat tempur pribadi. Dodoy, sapaan akrab Supriadi, segera membayangkan terbang mengitari angkasa, melakukan manuver-manuver canggih. Mendarat, lepas landas, ke sekolah dengan pesawat tempur dan sebagainya. Keinginan itu pun ia sampaikan kepada ayahnya. Sang ayah hanya tersenyum mengiyakan.
Ketika ditanya kawan-kawannya di @munizi Band, masihkah ia yakin khayalan itu akan terkabul, Supriadi menjawab, ya itu bisa saja terjadi. Kalau kita benar-benar menjadi orang super kaya di dunia, lalu mengajukan permohonan ke Negara untuk memiliki pesawat tempur pribadi. Tentu dengan syarat bayar pajak, dan tidak dilengkapi dengan senjata lengkap.
Dodoy memberi misal, dahulu ketika masih duduk di bangku kelas I SMP, ia telah sering melihat video-video gitaris dunia yang memainkan aksinya. Kala itu ia berjanji dalam hati 10 tahun kemudian, ia akan mengungguli para gitaris dunia itu. Dan sekarang di @munizi merupakan salah-satu proses memenuhi janjinya tersebut.
Itulah khayalan Dodoy. Kalau Anda, apa khayalanmu di masa kecil?