Home

Rabu, 30 November 2011

Kamis, 24 November 2011

Zaman 2

Apapun

jatuh selalu lebih gampang

itu mudah dipahami

Namun aku layang-layang

putus dari benang

terbang gemetar

dan berhasil menembus angkasa hampa

terkatung-katung tanpa hinggapan

Sementara puing-puing sampah antariksa

menebar bahaya

Di bawah sana

di atas putaran gemuruh bumi

segenap pertikaian, penghianatan penuh kebencian

dan lumuran darah mengunyah korban

sekarang tampak sebagai kekeliruan

kebodohan konyol

Padahal waktu itu mutlak benar

Ku ikat diri

sepenuh hati

menjalankannya penuh

pertaruhan nyawa

Karena kebenaran tak pernah langsung nyata

*Besok

mereka akan keliru dengan segala konsekwensi pribadi

zaman selalu salah sesudah mati, selalu benar selagi hidup.

Kutuklah ia kelak kemudian hari, jika kau suka

tapi zaman mengandung cara bergelora untuk mencintai dirinya.

Ia punya selera sendiri,

yang dirasakannya sendiri,

tak dapat diperbaiki

selayak kalimat yang kau baca adalah buah-buahan yang telah mati, bukan yang hidup, yang masih menyusu ranting pohonnya


LeGoso, Ciputat, 24 Nov 2011, dini hari

*Jean Paul Sartre, Menulis Untuk Zamannya, dalam kumpulan esai kepengarangan, YOI, 2000

Kamis, 10 November 2011

Sajak Hari Ini Sejak Saat Itu

Mendaki

Leleh keringat darah

mengelus sekucur kulit badan

Diiringi debu daki

merayapi langkah gontai

di bebatuan yang berlumut

Tiada tongkat berseimbang

bertambatkan rintik hujan

Kilat petir yang menyambar

Mengulur depa gelap

depan mata


Melesat

Bermodal pembakaran

ruh kudusku meluncur lebur di semesta

Kukaitkan jari tangan pada siku pucuk bintang

penuh kabut tajam

mengurai pelita tembus hatimu

Keliling pandang mata

yang sepi di tengahnya

tertimbun asa hampa

dari seberang bawah

yang lelap dengan tegap

menata tidur sampai mati

Legoso Ciputat, 8 November 2011, 16.18

Kamis, 03 November 2011

Perang

“Kenapa? Kau sakit?”
Kau hanya diam. Sambil menahan batuk susulan.
“Astaga, kau muntah. Itu darah.”
Kau terbatuk-batuk lagi. Dari mulutmu keluar cairan kental.
“Ah, warnanya jingga. Seperti senja. Tidak, ini sedikit ungu. Ayo ke dokter.
Aku memapahmu sampai ruang periska. Dokter bekerja. Matanya miring ke kiri. Tapi hanya sebentar. Lebih lama saat menunjuk sudut atas kanan. Dia pasti menghayal. Berimajinasi. Kemudian memberi resep biasa.
“Saya sakit apa dok,” tanyamu.
“Cuma kelelahan. Kamu merokok?”
“Tidak, dok.”
“Banyak-banyak minum air putih ya.”
Aku mengiringmu hingga apotik. Ku saksikan obat biasa yang kau terima. Amoxilin dan sebagainya. Di seberang rumah sakit kembali kau terbatuk darah. Keluar dari mulutmu warna jingga unggu.
“Ah, aku yakin ragamu baik-baik saja.”
“Tapi kau tahu, aku begitu lemas.”
“Coba kau pejamkan mata. Lihatlah ke dalam jiwa. Mungkin kau akan dapat jawaban.”
Sebuah medan gersang. Porak-poranda karena perang. Bau hangus letupan meriam. Asap hitam mengepul. Membumbung menjadi awan. Telah terjadi pertempuran besar dalam jiwamu. Tujuh dari sembilan jiwa sedang siaga. Menghadapi pertempuran selanjutnya dengan senjata rahasia.

Ciputat, Student Center-UIN Jakarta, 2 Nov 2011, 09.40

Rabu, 02 November 2011

Mimpi


“Lama sekali kau tak datang ke sini?”
“Itu bukan berarti aku lupa?”
“Seingatku kau seorang pedagang. Ya, aku tak mungkin lupa itu. Kau saudagar kondang yang tak terbatas ruang dan waktu pekan. Karenanya tak pernah tertangkap razia polisi pamong praja. Padahal kau tak pernah mau menyewa ruko permanen. Lapakmu cuma kaki lima. Tapi nama lebih menjual ketimbang barangmu.”
“Hmm.”
“Kau tak susah menarik pembeli. Mereka yang mencarimu. Kemana kau berpindah lapak, kabar tersiar sekencang angin. Mereka berhutang padamu karena kepindah-pindahanmu. Berkat itu mereka tahu tempat baru.”
“Hmm.”
“Oya, aku lupa barang apa yang kau dagangkan selama ini. Aku hanya kenal namamu.”
“Hmm.”
“Apa kau hanya menjual namamu?”
“Hmm.”
“Ah ya, aku ingat. Salah-satu barang sekunder daganganmu adalah mimpi. Hanya mimpi. Bayang-bayang. Hitam, semu. Seperti dalang memainkankan wayang. Bayang-bayang hitam bergerak, berperang, bercinta, bicara, dan hanya bayang-bayang.
“Hmm.”
“Kau ke sini hanya sekadar mampir atau menawarkan sesuatu padaku? Ah, tak mungkin itu. Kau tak perlu mengejar pembeli. Tapi memang, aku sudah lelah mengejarmu. Aku sudah malas bermimpi. Makanya aku tak seperti dulu, mengejarmu dari Pasar Rebo ke Pasar Baru. Balik lagi ke Pasar Minggu, lalu Pasar Senen.”
“Hmm.”
“Asu...! Kenapa kau jadi diam?!! Hammm Hmmm Hammm Hmmm. Kalau ketahuan Muri, kamu pasti telah tercatat sebagai pengucap Hmmm terbanyak.”
“Hmm.”
“Sudahlah, aku mau berangkat. Kau mau tetap di sini dengan hmm-mu itu? terserah.”
Kau hanya diam.
“Hmm, aku tahu kenapa kau datang kepadaku. Semua mimpimu telah habis terjual. Ah tidak, kau habis kerampokan atau kecurian. Semua barang-barang yang kau jual, mimpi dan namamu telah hilang. Dicuri orang. Kini kau tak punya lagi apa-apa. Kau tak punya nama dan mimpi untuk dijual lagi. Ya kan?
“Hmm.”
Kau masih diam. Mematung.
“Maaf, sebelumnya. Bukannya apa. Aku tak bisa memberikan modal mimpiku ini padamu. Baru saja kubaca berita di Kompas, mimpi tak lagi diminati pembeli. Menurut mereka, penjual adalah pembual. Dan aku tinggal punya satu mimpi. Makanya tidak kujual. Kalau mau, kita bisa miliki bersama. Untuk berbagi mimpi aku rela.
“Hmm. Terimakasih.
“Sudahlah, aku pergi. Mau ikut?”

Kamar Instalasi, Legoso-Ciputat, 2 November 2011

Selasa, 01 November 2011

Tuhan dan Budak

Berelimpang sudah

satu per satu

dari milyar trilyun sel yang selalu memaksa mendaur nyawa

dari berat kilo langkah menempuh asa

mengabdi tuan

raja yang hilang

di tepi waktu tertinggal

Sebab tuan kebebasan

tak kutemu wujud nyata

Sebab raja sekadar

hasrat timbul sekejap

sesaat kemudian

sesaat terus yang berulang

Maka

Aku menjadi tuhan

tak ketumu budak nyata

Ciputat, 1 November 2011, 08.33