Senin, 29 Oktober 2018

Meluncur ke Banten Lama part 6: Benteng Speelwijk



Dari Keraton Kaibon yang dihancurkan Belanda pada 1832 M, kita mundur ke kampung Pamarican, Serang, Banten. Di sana ada benteng Speelwijk. Belanda mendapat lampu hijau pembangunan benteng ini pada 1585 sebagai balas jasa karena telah membantu Sultan Haji merebut tahta dari ayahnya Sultan Ageng Tirtayasa.
Sebenarnya, benteng ini tegak bukan di atas tanah kosong. Terdapat reruntuhan sisi utara tembok keliling kota Banten. Belanda sengaja menimpanya juga sebagai simbol bahwa mereka telah memiliki kuasa di wilayah ini.
Nama Speelwijk sendiri disematkan sebagai penghormatan kepada GubernurJenderal Cornellis Janzoon Speelman yang bertugas di sana antara tahun 1681-1684. Dia tentu orang yang dianggap punya jasa besar bagi Belanda.
Setelah ratusan tahun lamanya, Benteng Speelwijk masih tegak dengan menyisakan beberapa bangunan utama. Bahan baku benteng ini adalah batu, pasir dan karang. Di bagian tertentu ada yang menggunakan batu bata.

Ada empat buah bastion, ruang jaga, gudang penyimpanan logistik, serta ruang bawah tanah atau bawah benteng. Untuk masuk ke sana kita melewati lorong yang cukup panjang dengan dua kali belokan. 
Ada yang menyebut sebagai gudang amunisi, ada juga yang meyakini sebagai penjara.  Pada atapnya, terdapat dua lobang berbentuk kotak untuk sirkulasi udara selebar kurang lebih 30x30cm. Di atas atap itu pula terdapat terhampar ruang cukup luas di kelilingi benteng. Di bagian sudut sebuah menara. Entah itu kapel tempat berdoa atau menara pengintai.
Benteng ini berbentuk segi empat dengan tiap sudut terdapat ruang pengintai. Benteng ini juga dikelilingi sungai. Area dalam benteng cukup luas terhampar kosong. Masyarakat setempat memanfaatkannya sebagai lapangan bola.



Jumat, 26 Oktober 2018

Meluncur ke Banten Lama part 5: Keraton Kaibon, Titik Venesia-nya Jawa




Gerbang Bentar berdiri tegar berjajar, mengucap selamat datang dengan sebuah bahasa dari ratusan tahun silam. Kusam tapi penuh keagungan. Di dalamnya, struktur fondasi, sisa-sisa bangunan tua, serta reruntuhan klasik kompleks istana terhampar di area luas 4 hektar.

Lewat imajinasi, semua itu bukan benda mati. Mereka hidup. Megah, lengkap hiruk pikuk dan prilaku penghuninya sehari-hari. Dayang-dayang, prajurit, dan abdi dalem berkativitas seperti biasa. Seakan mereka ada untuk selamanya. Albert Einstein bilang, imajinasi Lebih penting daripada (sekadar) ilmu pengetahuan. Dengan imajinasi, pengetahuan tentang kejayaan masyarakat dari ratusan tahun lalu selalu aktual dan hidup kembali.



Perjalan menyusuri masa lama Banten kita teruskan. Saya tiba di Keraton Kaibon, berlokasi di kampung Kroya, desa Kasunyatan, kecamatan Kasemen, Serang. Ini adalah istana yang dibangun untuk Ratu Asiyah, ibunda dari Sultan Syafiudin, pewaris tahta Kesultanan Banten yang kala itu masih belia.



Berbeda dengan keraton lain pada umumnya, yang mana tahta atau singgahsana sultan dan raja menjadi bangunan utama, inti Keraton Kaibon adalah masjid.


Di sekeliling keraton, terdapat kanal. Salah satu fungsinya sebagai jalur transportasi yang menghubungkan dengan Surosowan dan seluruh kawasan keraton di Banten Lama. Dengan pola dan tata wilayah macam itu, Banten Lama sempat dijuluki Venesia-nya Jawa, terlebih ketika warga kolonial Belanda menetapi kota ini.
Seandainya semua jaringan kanal itu masih lestari sampai sekarang, alangkah indahnya. Berdasarkan peta-peta jaman dulu, wilayah Banten Lama sangat padat serupa Amsterdam.

Gerbang Bentar Keraton Kaibon

Keraton Kaibon punya dua macam gerbang yang jadi ciri khasnya dan kini masih berdiri. Pertama, Gerbang Bentar, yakni gerbang terbuka tanpa atap sebagai pintu masuk dari pagar, setebal satu meter, mengelilingi keraton. Sesuai bentuknya, filosofi gerbang bentar adalah keterbukan, welcome terhadap tamu dan siapapun. Dari coraknya tampak pengaruh arsitektur Hindu-Budha.

Gerbang Bentar berjajar sebagai pagar juga menegaskan, keraton Kaibon tidak didesain sebagai benteng pertahanan. Di keraton Surosowan, misalnya, tebal bentengnya hampir mencapai 5 meter. Sebaliknya, Kaibon lebih menonjolkan sisi fungsi artistik, karena memang difungsikan hanya untuk tempat tinggal ibunda sultan. Kota Serang menggunakan Gerbang Bentar sebagai lambangnya. Dan memang, seluruh logo pemerintahan di provinsi Banten saat ini memakai simbol-simbol yang diambil dari peninggalan Banten Lama.

Gerbang Paduraksa Keraton Kaibon Banten
Kedua, ada Gerbang Paduraksa. Bentuknya konon terpengaruh seni arsitektur dari Makassar. Posisinya di dalam keraton, menghubungkan bagian depan dan area menuju kamar ibunda ratu. Beda dengan Bentar, atap Paduraksa tertutup. Filosofinya, wilayah keluarga bersifat privat. Berjumlah dua dan berdekatan memunyai arti “hidup berdampingan tidak boleh bertengkar”. Pesan ini untuk orang dalam keraton. Menurut catatan, konflik antar saudara kerap pecah di keluarga pembesar Banten.



Selanjutnya ke kamar ibunda Sultan, terdapa juga kamar-kamar lain di sana. Berupa ruangan persegi empat, dengan bagian dasarnya menjorok ke dalam tanah. Itu teknologi pendingin dengan cara mengalirkan air di dalamnya. Kemudian di bagian atas ‘kolam’ tersebut diberi balok kayu sebagai dasar lantai ruangan. Bekas penyangga papan masih utuh sampai sekarang.

Setelah Surosowan dihancurkan, Belanda menjadikan Keraton Kaibon sebagai pusat Keresidenan Banten. Namun, masyarakat Banten sering melancarkan aksi-aksi pemberontakan sehingga membuat pemerintah kolonial Hindia-Belanda gerah. Tak ingin repot berkelanjutan, Kantor Keresidenan Banten pindah ke Gedung yang saat ini menjadi Museum Negeri Banten.



Keraton Kaibon pun kosong. Belanda lalu membongkar dan menghancurkannya pada 1832 M. Sejak itu, Banten Lama mulai ditinggalkan dan pesonanya kian pudar.



Tapi Belanda tidak pergi dari Banten Lama dengan tangan kosong. Mereka membawa harta dan pusaka peninggalan Kesultanan Banten dari Keraton Surosowan dan Kaibon, berupa mahkota, keris, dan sebagainya. Mereka menyimpan harta pusaka tersebut di Batavia, pada sebuah lembaga kesusasteraan dan kebudayaan Hindia Belanda, bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Sekarang menjadi Museum Nasional Indonesia atau lebih dikenal dengan Museum Gajah.

Oke. Sampai di sini. Berikutnya saya bersama tim dari @cagarbudayadanmuseum Kemdikbud RI  akan ke Benteng Speelwijk. Benteng imbalan dari Sultan Haji kepada Belanda yang membantunya mengkudeta sang ayah, Sultan Ageng Tirtayasa.

Rabu, 24 Oktober 2018

Meluncur ke Banten Lama part 4: Rumah Dunia



Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan Kata-kata.

Masih di masa kini. Dari sukaria membatik, kami melaju ke suka cita menulis. Di sebuah rumah dan dunia yang dibangun dengan cita-cita mulia.

Tanah masih basah. Hujan baru selesai saat kami tiba di halaman Rumah Dunia, di kampung Ciloang, Sumurpecung, Serang, Banten, Sabtu (13/10/2018). Sekilas saya merasa seperti berada di lokasi sebuah pesantren. Ya, mungkin ini memang pesantren literasi di Indonesia. Banyak bangunan berdiri di lahan seluas 3000 m2 ini. Ada yang serupa saung, pondok atau asrama, ada pula lapangan serta taman bermain. Tapi di antara semua bangunan itu ada dua yang langsung menyulut perhatian. Pertama, gedung yang atapnya berbentuk trapesium, bernama auditorium Surosowan. Tinggi fondasi sekirar setengah meter. Di bagian tangga depan terpasang tulisan “Rumah Dunia”.

Tulisan serupa juga menempel di sisi kiri gedung dekat sebuah ruangan sejenis kantor, dengan kalimat dan keterangan tambahan. Siapa membacanya akan langsung teringat sosok penggagas kompleks ini. Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan Kata-kata (Gol A Gong Prasasti 1996-2001).

Kedua, perpustakaan. Sepertinya bangunan ini juga jadi ruang belajar anak-anak. Atap segitiga memayungi teras yang sekaligus jalan masuk. Dua buah mesin ketik bekas tergantung menghiasi sisi kanan dan kiri, di tengahnya tergantung papan putih. Lagi-lagi bertuliskan “Rumah Dunia. Rumahku Rumah Dunia Kubangun Dengan Kata-kata”.

Tiga meter depan perpustakaan, dua buah tong berlukis warna-warni tegak di atas panggung kecil setinggi 30 cm, menyambung tempat duduk penonton yang melingkar. Di antara perpustakaan dan auditorium, ada saung dengan empat tiang penyangga atap. Luas lantainya sekira 10x5 m.

Kedatangan kami, teman-teman blogger dan tim @cagarbudayadanmuseum dari Kemdikbud RI, disambut adik-adik yang belajar dan bermain di sana. Ramon Y Tungka, aktor dan treveller yang turut dalam rombongan, langsung mengajak mereka bermain serta memberikan pengetahuan seputar dunia akting.

Sesudah itu, Ramon juga mengisi sesi khusus ngobrol santai di Auditorium Surosowan Rumah Dunia. Pembahasannya seputar “Travel Foto”. Obrolan bersama Ramon Y Tungka ini akan saya ulas di artikel berikutnya.

Rumah Dunia Masuk Peta

Malam hari, kami bercengkrama dalam Panggung Kampung Rumah Dunia. Anak-anak, komunitas lokal, dan relawan Rumah Dunia menyuguhkan aneka hiburan dari bernyanyi, teater, dan lain-lain. Hadir pula Tias Tatanka, istri Gol A Gong.

Pada kesempatan ini, Tias menceritakan kisahnya dan Gol A Gong mendirikan Rumah Dunia pada 2002, bersama Toto ST Radik dan (alm) Rys Revolta Maulana Wahid Fauzi, dan Andi ST Trisnahadi. Dua orang tersebut dan Gol A Gong adalah tiga sekawan. Sejak bujangan, mereka keliling ke sekolah-sekolah mengajarkan jurnalisme.

Ketika menikah, Gol A Gong mengungkapkan keinginan pada istrinya. “Mau nggak nanti membuat tempat yang ketika orang datang ke situ belajar tentang sesuatu yang bermanfaat?”

Tias setuju. Keduanya sama-sama sepakat mendirikan perpustakaan. Hanya saja, gambaran perpustakaan di kepala masing-masing berbeda. “Saya ingin perpustakaan yang modern, megah, computerize, banyak buku. Ada corner anak-anak, buku impor, anak-anak boleh berkreasi apapun. Saya ingin bangun gedung dulu, nanti baru kita isi,” kata Tias.

Namun Gol A Gong malah membangun saung. Katanya, biar anak-anak datang ke sini. Ia juga bilang ke Tias, kalau membangun perpustakaan yang canggih, computerize, sementara tempatnya di tengah kampung yang belum melek literasi, nggak ada yang akan masuk.

“Ketika kami punya rejeki membeli tanah, (belum seluas sekarang) yang saat ini bangunan di bagian belakang komplek Rumah Dunia. Itulah semacam basecamp yang kami sebut Madrasah Kebudayaan. Sebuah tempat yang menggerakan literasi sebagai koor utama,” ungkap Tias.

Karena Gol A Gong masih bekerja di sebuah TV swasta di Jakarta, Tias sendiri yang mengurus saung, mengajar anak-anak yang datang untuk bermain, membaca dan sebagainya.

“Setiap sore, saya harus mengeluarkan buku di saung itu, nungguin anak-anak baca, sudah hampir magrib kukut lagi, balik lagi ke rumah, besok lagi seperti itu siang sampai sore. Terus begitu. Dan saya nggak bosan,” ungkap Tias.  “Saya bilang, saya capai. Nggak boleh, nggak boleh capai, kata Mas Gong.”

Tak hanya rutinitas itu, Tias juga diwajibkan menulis apa saja yang ia jalani sehari-hari. Satu tulisan per hari. Tiap Gol A Gong pulang dari Jakarta seminggu sekali, Tias harus setor tujuh cerita.

“Hari pertama apa? Hari kedua apa? Sampai hari ketujuh. Kadangkala kalau capai saya bohongin. Iya, kadang capai harus mendongeng ke anak-anak. Kalau capai saya tinggalkan, saya kasih tugas, boleh menggambar apapun. Lalu saya tinggal ke rumah, nonton tv dan sebagainya. Tapi saya tuliskan itu, hasil anak-anak menggambar adalah ini, ini, dan seterusnya.”

Ada misi di balik permintaan menulis ke Tias tersebut. Gong merangkum laporan harian kegiatan istrinya menjadi tulisan yang ia sebarkan via mailing list. “Waktu itu belum ada media sosial atau semacamnya. Yang saya tahu mailing list. Itu efeknya besar. Tempat kami ini masih sangat sepi sekali. Kalau malam, jalan masih gelap. Tapi mas Gong bilang, kita akan menempatkan tempat ini di peta.”

Rumah Dunia dan PRD

Sejak awal, Gol A Gong sudah punya semacam blueprint di kepalanya bahwa nanti akan ada Banten Membaca, Banten Menulis dan sebagainya. Dari kisah yang dirangkum dari cerita harian istrinya, Rumah Dunia terbaca di mana-mana. Saat itu diberi nama Pustakaloka Rumah Dunia disingkat PRD. Sebuah singkatan persis inisial sebuah partai, yang identik dengan ideologi kiri di masa awal reformasi. “Saya khawatir, jangan pakai nama itu. Nanti orang bilang kita di kiri,” ujar Tias.

Tapi justru itu malah menyedot perhatian. Dari kantor tempat kerjanya, Gong menyebar broadcast rangkuman cerita Tias tiap Senin. Lalu, berduyun-duyun feedback datang. “Ada yang tiba-tiba datang membawa karung. ‘Mbak ini alat tulis untuk hadiah anak-anak.’ Katanya. ‘Tahu dari mana?’ ‘Itu mas Gong yang bilang, mau ada acara lomba untuk anak-anak,” kisah Tias.

Kadang juga orang memberikan sesuatu tanpa bilang. “Ketika kami sedang pergi, tiba-tiba di belakang rumah sudah menggantung satu set alat tulis lengkap dengan crayon yang waktu itu masih mahal sekali, kami belum sanggup beli. Ada alamat emailnya, saya balas ucapan terimakasih. Saya juga tanya dari mana tahu PRD ini? Mas Gong yang bilang.”

Satu titik ke titik lain, dari mulut ke mulut, kabar keberadaan Rumah Dunia menyebar. Kunjungan pun berdatangan. Tak hanya bantuan materi, tapi juga ilmu dan tenaga. “Kami tidak sendiri, banyak teman datang. Saya tidak bisa teater, ada teman, saya minta untuk ajari anak-anak. Saya tidak bisa menggambar, ada yang bisa menggambar, saya minta untuk ajari anak-anak.”

Rumah Dunia Tanpa Pagar

Gol A Gong sengaja membiarkan kompleks Rumah Dunia tak berpagar. Tujuannya agar tak menghalangi jalan warga yang ingin ke sungai di belakang area tersebut. Di sana warga masih suka mencuci. Selain itu, ada rumah warga yang berbatasan Rumah Dunia. “Jadi biarkan mereka ikut menikmati kegiatan yang ada di rumah dunia. Lapangan juga sering dipakai hajatan warga sebagai kontribusi dari Rumah Dunia.”

Dalam aktivitasnya Tias dan Gol A Gong dibantu para relawan yang direkrut per angkatan. Saat ini ada tujuh orang yang tinggal. “Bersama merekalah kami menggerakkan Rumah Dunia sampai seperti ini. Kami (Tias dan Gol A Gong) hanyalah meletikkan api untuk menggerakan mesin, teman-teman inilah yang membantu kami bergerak berkegiatan. Rumah Dunia sampai sebesar ini, sampai dikunjungi teman-teman dari berbagai daerah, itu juga karena mereka,” paparnya.

Para relawan umumnya mahasiswa yang kuliah dengan biaya sendiri. “Untuk studi dan lain-lain di luar kegiatan Rumah Dunia, mereka pakai biaya sendiri dari hasil menulis. Karena relawan di Rumah Dunia ini biasanya direkrut dari hasil kelas menulis 10 Dunia. Sekarang angkatan 32.”

Minggu, 21 Oktober 2018

Meluncur ke Banten Lama part 3: Batik Banten



Batik dengan Motif Tebaik se-Dunia.

Perjalanan menyusuri waktu lampau, ke tahun 1940-an sampai tahun 1880-an dan akan terus ke belakang di Banten Lama, kita tunda sejenak. Mari kembali ke masa kini, Sabtu (13/10/2018). Setelah makan siang, saya bersama tim @cagarbudayadanmuseum meluncur ke Sentra Industri dan Pelatihan Batik Banten.

Uke Kurniawan menyambut langsung. Ia adalah Guru Batik Nasional yang mengembangkan Batik Banten. Bersamanya kami mendapatkan pengetahuan seputar batik, khususnya Batik Banten. Ia menjelaskan, ada tiga hal yang menjadi ciri sekaligus kelebihan Batik Banten. Pertama, motifnya diambil dari benda-benda purbakala serta sejarah, salah satunya artefak terwengkal, para arkeolog ada yang menyebut tembikar.

Kedua, dari sisi warna. Batik Banten selalu cenderung abu-abu soft. Ini tak lepas dari pengaruh air yang mengandung zat besi tinggi. Uke mengetahui itu berdasarkan pengalaman melanglang buana ke berbagai penjuru tanah air, meneliti, mengajar, dan mengembangkan batik. Setidaknya ada lima jenis perbedaan warna paling mencolok yang dipengaruhi oleh kadar air di tiap-tiap daerah.

“Di Banten abu-abu soft karena airnya mengundung zat besi yang tingggi. Di Sumatera, Papua, Pekalongan, ketiganya hampir sama. Warnanya ngejreng karena airnya mengandung minyak dan emas. Beda lagi di Sulawesi dan Kalimantan. Di Madura, itu (harga batik) lebih mahal karena prosesnya harus sampai 5-6 bulan direndam pakai gentong sehingga warna lebih pekat,” papar Uke.

“Kalau di Banten, karena air yang mengandung zat besi, kalau direndam seminggu saja sudah agak kuning karena karatnya keluar. Apabila kita pakai warna kuning, maka kuningnya tidak jelas, ada hitamnya,” imbuh Uke, yang saat ini juga mengajar batik di Jakarta (UI), Kalimantan, Makassar, hingga Toraja.

Ciri ketiga Batik Banten, pada filosofinya. Di beberapa daerah atau kerajaan-kerajaan nusantara, terdapat batik dengan filosofi berbeda-beda yang dikhususkan untuk masing-masing orang dengan status tertentu. Mulai raja, permaisuri, hingga dayang-dayangnya. Di Banten, semua motif batik memakai filosofi dari peninggalan-peninggalan sejarah, misalnya dari nama sultan atau gelar kesultanan Banten. Ini ada terkait juga dengan penjualan. Karena biasanya, kata Uke, batik yang diambil dari yang motif lain, misal kuliner, kurang baik untuk pemasaran.

Berkat kegigihan dan manajeman yang baik, Uke Kurniawan sukses melambungkan Batik Banten ke level nasional hingga internasional. Ia pun dipercaya dalam pengembangan batik nasional. “Kita dipercaya membuat batik se-Indonesia. Kita juga mengajarkan seni wirausaha bagaimana menjual atau memasarkan batik. Karena ini salah satu masalah umum yang dihadapi industri batik di Indonesia. Berdasarkan hasil survei, Batik Banten mendapat 80 % yang terbesar penjualannya di Indonesia.”

Tak hanya itu, dua orang nomor satu di Indonesia telah mengganjar Uke Kurniawan penghargaan. Upakarti dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Paranakarya dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Batik Banten telah dipatenkan, tercatat sebagai yang pertama membuat Haki di Indonesia dari tahun 2003. Pendaftarannya masuk 2004, kemudian disahkan menjadi sertifikat pada 2005. Saat itu juga, bersama para arkeolog nasional dan internasional, pada pengkajian motif di Malaysia-Singapura yang dihadiri 62 negara termasuk arkeolog dari Prancis, salah satu motif batik Banten dinyatakan sebagai motif terbaik sedunia.
Kesuksesan Uke menyedot perhatian Balai Batik Nasional, yang pada akhirnya meminta Uke menerapkan sistem pengajarannya. Sejak itu pula ia ditunjuk menjadi guru batik nasional. “Begitu saya hadirkan sistem mengajar di Batik Banten, mereka mengakui bahwa sistem kami lebih baik,” ungkap Uke.

Salah satu permasalahan di Indonesia, dalam proses belajar-mengajar, semua ingin instan langsung mengasilkan karya yang baik dan cepat. Bagi Uke, hal itu tidak mungkin. Oleh karena itu, dalam proses belajar ia tidak memuali dari batik tulis, melainkan batik cat. Meski, di Sentra Batik Banten sendiri ketiga macam batik tersebut ada.

“Kalau mengajar dengan batik tulis, kapan mau berhasil dan kapan mau siap dipesan dengan volume yang banyak? Planning batik Banten ini, kita mengerjakan dengan cara cat dulu. Karena dalam peraturan yang sudah di-Haki-kan kementerian perindustrian juga, batik itu ada tiga macam. Batik tulis, batik cat, dan batik kombinasi tulis dan cat. Saya dalam pengajaran mengambil yang cat dulu. Kalau soal menulis, nanti. Itu ala bisa karena biasa. Ambil yang cat dulu, yang penting menghasilkan dulu, yang disukai oleh orang-orang. Kita kan butuh uang untuk menggaji mereka.”

Batik Baten juga punya buku yang berisi cerita, sejarah, sampai tata cara membuat batik dan seterusnya. Uke menerima siapa saja dari semua kalangan, untuk belajar batik di Sentra Batik Banten ini. Tak hanya dari dalam negeri, sedikitnya 32 negara pernah menimba ilmu batik di sini. Uke juga sering diundang untuk presentasi tentang batik di luar negeri, salah satunya ke Yordania. 

Batik Printing Bukan Batik

Batik adalah kain yang bergambar, yang ditulis atau dicat dengan canting menggunakan lilin malam. “Jadi batik printing itu bukan batik. Itu hanya kain yang bermotif. Printing pakai bahan apa saja bisa. Termasuk kain yang berbahan polyester atau plastik (bukan batik) karena dia memakai cat. Kalau batik sesungguhnya harus memakai lilin malam. Pewarnaannya pun ada warna alam ada warna batik. Yang namanya sintetik di sini juga ada, cuma presentasinya kecil,” papar Uke.

Ia menegaskan, batik asli harus memakai 100 % kain cotton agar warna bisa langsung melekat pada kain. “Untuk menentukan batik asli atau bukan itu biasanya dilihat dari bagian luar dan dalam itu warnanya sama. Kalau yang depannya bagus, belakangnya putih itu printing. (Batik) yang palsu cepat luntur, cepat bladus. Kalau yang asli, cucian yang pertama itu pasti ada yang keluar kotoran, tapi bukan lunturan. Setelah itu pasti tidak akan luntur,” jelas Uke.

Setelah diskusi, tanya jawab, dan membahas seputar tips membangun usaha batik, kami langsung praktik di ruang pembuatan batik. Para peserta membatik pada kain yang telah disediakan. Hasilnya bisa dibawa pulang. Mantab. Tidak hanya hasilnya, ada salah satu teman kami yang membawa serta sisa cat atau bahan pewarna dan pola batiknya untuk diteruskan di rumah. []

Jumat, 19 Oktober 2018

Meluncur ke Banten Lama part 2: 1880-an Museum Negeri Banten

Museum Negeri Banten

Dari tahun 1940-an (part 1) kita melaju lebih jauh ke belakang. Museum Negeri Banten, berlokasi di Jl. Brigjen KH Samun No.5, Serang. Pemerintah Hindia-Belanda membangunnya pada 1880-an sebagai pusat Keresidenan Banten. Pada masa Gubernur Ratu Atut Chosiyah (2005-2014), gedung ini menjadi kantor pemerintahan provinsi. Setelah seluruh aktivitas pemprov pindah ke Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Jl. Syech Nawawi Al-Bantani, kompleks bangunan ini kosong.  Rano Karno, gubernur Banten (2014-2017) yang menggantikan Ratu Atut, mengalih fungsingkannya sebagai museum, tepatnya pada 29 Oktober 2015.

Museum Negeri Banten

Museum Negeri Banten

Berkeliling komplek kawasan museum, kita akan mendapati area luas dan penuh pepohonan.

Museum Negeri Banten

Museum Negeri Banten

Banyak gedung-gedung tua lain masih berdiri. Beberapa dibiarkan kosong kurang terawat, ada yang dimanfaatkan sebagai galeri seni serta kantor DPD RI, dan kantor Dewan Kerajinan Nasional Provinsi Banten. 
Museum Negeri Banten

Bekas penjara era Hindia-Belanda juga tampak kokoh. Sebelumnya, terpancang tiang gantungan (hukum gantung) di halaman depan, namun sekarang sudah tidak ada.

Penjara Keresidenan Banten
Bekas penjara era kolonial Belanda di area Museum Negeri Banten

Masuk ke museum, ruang pameran bertajuk “Siapa Orang Banten” menyambut pengunjung. Sosok hologram Nong Banten berkebaya menerangkan ragam suku, budaya, agama, etnis, profesi hingga serba-serbi masyarakat Banten. Tinggal pencet-pencet saja, dia akan menjelaskan semua.

Hologram Museum Keluar ruang “Siapa Orang Banten”, masih di bagian depan, tersedia Virtual Reality yang mengantar kita area Kota Lama Banten. Cukup pakai kacamata khusus, kita akan meluncur ke sana. Semua itu merupakan adaptasi pihak museum terhadap perkembangan teknologi.

Golok Ciomas BantenDi aula museum ada berbagai koleksi seperti keramik serta envil atau pelandas yang digunakan proses salah satu teknik pembuatan keramik untuk membentuk lambungan badan serta menipiskan dinding keramik. Ada pula patung arca Ganesha Pulau Panaitan (replika) dari abad X Masehi. Arca ini pertama kali ditemukan oleh Bupati Caringin, R. Adipati Koesoemaningrat pada 1894.

Selanjutnya ada Golok Ciomas Banten. Ini bukan sembarang golok. Bikinnya ribet. Mesti puasa 40 hari. Besinya juga gak sembarangan. Ada jin yang memilihkannya. Setelah jadi, jin tersebut lalu bersemayam di golok. Karena itu, golok ini harus dimandikan dengan ritual khusus.

Tegel purba arkeologiKemudian berjajar empat buah tegel/ubin dari jenis yang berbeda. Ada yang terbuat dari tanah liat dan ada yang dari batu. Tegel/ubin menjadi indikator penting yang memperlihatkan status sosial golongan elit. Sebab, tidak semua rumah memilikinya.

Karang bahan bangunan keraton di Banten
Yang vital dalam pembangunan fondasi dan benteng istana adalah karang atau yang disebut organisme aquatik. Jika mengunjungi situs-situs cagar budaya keraton di Banten, misal Keraton Kaibon atau Keraton Surosowan, kita akan menemukan karang yang masih kokoh menempel dan memperkuat benteng dan bangunan yang ada. Karang yang adaptif terhadap air, dibentuk sebagai balok dengan ukuran tertentu atau bongkahan tanpa ukuran dan disusun menjadi dinding. Selain itu juga orang-orang masa itu menggunakan karan untuk fondasi bangunan, dinding sumur, penyangga tiang, panel penghias bangunan dan dilebur sebagai kapur untuk bahan campuran perekat yang disebut dengan istilah lepa.

Duta besar Banten untuk Inggris
Memandang sekeliling dinding aula, terpajang foto-foto berukuran sedang memperlihatkan bangunan dan benda bersejarah. Misalnya lukisan sosok Duta Besar Kesultanan Banten untuk Kerajaan Inggris, Excellency Kiai Nebbe Aria Wirapraja, foto gedung Bank Banten tahun 1958, foto situs-situs keraton di Banten dan banyak lagi.


Fosil BadakOiya jangan lupa, ada fosil badak yang gede banget. Terus mesin cetak uang beserta uang-uang jaman dulu. Banyak deh ilmu dan pengetahuan yang bisa kita dapat di sana. Keren dan nggak nyesel. Mantab pokoknya.

Itulah sekilas dari saya saat ke Museum Negeri Banten. Buat yang belum pernah ke sini, siapkan jadwal, luangkan waktu.

Bangsa kita adalah bangsa besar. Kita punya sejarah panjang. Jangan abai. Jangan kira kita adalah masyarakat pertama yang memiliki dan mendiami tanah Nusantara. Jauh sebelum kita, ada peradaban, kejayaan, suka cita, tangis perjuangan hingga kemajuan teknologi yang sebenarnya masih sangat relevan bila lestari hingga sekarang.

Sebagai mahluk yang berbahasa, kita tidak hanya berkomunikasi dengan orang-orang yang hidup satu masa. Melalui peninggalan-peninggalan yang masih terjaga, ada kata, kalimat, serta pesan-pesan penting yang ingin disampaikan oleh para pendahulu kita. Mereka bicara.

Postingan berikutnya, kita akan meluncur lebih jauh lagi ke kawasan Banten Lama.

Blogger bersama tim Cagar Budaya dan Museum Kemendikbud RI

Mari kunjungi, lindungi, dan lestarikan cagar budaya Indonesia.
@cagarbudayadanmuseum "Pesona Cagar Budaya Indonesia"
Hari Museum Indonesia, Banten, 12 Oktober 2018

Selasa, 16 Oktober 2018

Meluncur ke Banten Lama part 1: 1940-an


Perjalanan bersama teman-teman blogger dari Jakarta ke Serang dan kawasan Banten Lama, mengingatkan saya akan pengalaman Gil, tokoh di film Midnight in Paris. Gil, yang pengarang novel asal Amerika, mengalami time travel tiap tengah malam. Ia yang hidup di 2010 melaju ke tahun 1920-an. Malam berikutnya, time travel-nya makin jauh ke tahun 1890-an sebagai masa yang disebut La Belle Èpoque Paris. Di tiap masa, ia berjumpa tokoh-tokoh besar idolanya, para penulis, pengarang dan seniman.

Imajinasi saya pun kurang lebih demikian, saat turut tim @cagarbudayadanmuseum Kemendikbud RI dalam kegiatan bertajuk “Pesona Cagar Budaya Indonesia”, di Serang dan kawasan Banten Lama, 12-14 Oktober 2018. Bedanya, perpindahan waktu Gil berlangsung tiap tengah malam, sedangkan saya mulai di siang hari. Berangkat sekitar pukul 15.00 dari Jakarta, tiba di Serang hari sudah gelap. Saya tidak tahu apa yang terjadi selama perjalanan. Macet atau apa, saya tidak menyadari karena tidur.

Kami makan malam di Sop Ikan Taktakan. Kenyang. Sembari menuju tempat menginap, kami berjalan kaki melakukan City Tour, menikmati petang di Kota Serang.

Nama Serang adalah sebuah kata bahasa Sunda yang berarti sawah atau persawahan. Ini merujuk cerita saat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yang kala itu sedang melakukan perjalanan, sampai di suatu daerah dengan hamparan padi menguning, di sini. Ia pun berseru senang mengucap lega penuh syukur, “Serang...”

Di banding kota lain di Banten, seperti kawasan Bintaro atau BSD di Tangerang Selatan, Serang mungkin kalah mewah. Tapi kota ini punya nilai lebih. Terdapat beberapa bangunan yang menunjukan karakter wilayah Banten. Sayang, tak sedikit situs cagar budaya itu raib akibat ketidakpedulian masyarakat dan kepentingan ekonomi pengembang.

Misalnya, tak jauh dari tempat kami makan malam, berdiri sebuah pusat perbelanjaan, Ramayana. Di situ dulunya Hotel Vos yang diambil alih menjadi Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0602 Serang. Di tempat inilah, Sri Sahuli dari Angkatan Pemuda Indonesia (API) Putri bersama rekannya Jimambang, mempelopori penurunan bendera Jepang, lalu untuk pertama kalinya mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Banten pada 22 Agustus 1945.

Namun, disahkannya Undang-undang Nomor 23 tahun 2000 tentang Provinsi Banten malah jadi awal petaka bagi bagunan yang berusia lebih dari 100 tahun itu. Dengan dalih peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hanya mengandalkan sektor jasa dan perdagangan, sisi lain kota seperti fungsi sosial dan fungsi budaya diabaikan. Bukannya memosisikannya sebagai “land mark” yang menjadi ciri serta karakter daerah sebagaimana kota-kota besar di dunia, pemerintah Banten pada 2005 malah meratakannya dengan tanah. Patung harimau, tembok bertuliskan ”Markas Komando Distrik Militer 0602 Serang”, dan pilar penyangga bangunan turut dihancurkan. Padahal, telah diteliti bahwa pilar-pilar tersebut masih asli, artinya tidak boleh dihancurkan.

Sebenarnya, masyarakat tidak diam atas tindakan penghancuran itu. Mereka melancarkan protes sejak rencana pembumihangusan bangunan bersejarah itu bergulir. Dari unjuk rasa, aksi melukis, hingga berbagai upaya negosiasi dengan para pejabat Pemerintah Kabupaten Serang kala itu. Namun semua sia-sia. Hingga malam jelang peletakan batu pertama Mal Serang, sebagai perlawanan terakhir masyarakat dengan sisa-sisa tenaganya memutar film dokumenter berjudul “A Story of Makodim”, yang diinisiasi oleh Rumah Dunia. Film itu mengingatkan kembali perjuangan masyarakat Serang dalam menggagalkan rencana pembongkaran bangunan Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0602 Serang.
Karena foto di atas gelap akibat malam,  di bawah ini saya unggah foto dari website: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/gedung-juang-45-serang-banten/


Langkah kami sampai di Jl. Ki Mas Jong, tak jauh dari seberang Alun-alun Kota Serang. Di sini masih berdiri Gedung Juang '45 Serang. Ini adalah markas Kompetai (semacam tentara elit atau polisi militer) di masa pendudukan Jepang. Pada 10 Oktober 1945, pemuda Banten menyerbu tempat ini. Setelah berhasil dikuasai, gedung ini beralih fungsi menjadi markas Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dulu bangunan terdiri dari tiga bangunan utama, dengan seni arsitektur bergaya Indis.

Baiklah, kami mau istirahat dulu. Perjalanan hari berikutnya saya akan ke Museum Negeri Banten. 

Ini juga bangunan cagar budaya. Ada yang tahu dulu sebagai apa? Tahun berapa? Ikuti cerita selanjutnya. Selain itu kami juga akan ke Museum Batik serta praktik langsung membuatnya. Kunjungan hari kedua nanti akan ditutup di Rumah Dunia yang didirikan Gol A Gong. Sampai tersenyum kembali.

Rabu, 10 Oktober 2018

Jalan Lengang

Jalanan yang lengang
Kau melewatinya dengan suka cita
Hanya sedikit ingatan menyimpannya
Bagimu yang penting tujuan di sana
Dan berdua agar tiada ngeri berkendara
Sampai tiba
jalanan lengang tak lagi punya makna
Hilang


Memang jalanan yang lengang 
itu hanya untuk kau lewati 
bukan untuk disinggahi apalagi destinasi

Jalan lengang itu adalah
Jalan Jenderal Sudirman
pukul 02.00 malam
Mungkin pula
jalan lengangmu adalah aku
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html