Home

Jumat, 30 Oktober 2009

Aku Dia dan Tuhan*

Ku hisap pesonamu
Kuremas bumi yang mengkerut
ku masukan dalam kantong-kantong jiwa
Matamu penuh energi

Mengejutkan

Ujung rambutmu tak habis kurayapi
Senyummu bertabur pelangi

Memijar
Berfusi memadat.
Menyala

Bulan Terpesona mengitarimu
Siapa sanggup menolak keindahan subjektif ini

Sungguh
Pesonamu merambat
kuserap
Jumud mematikan tiap cicak yang mendekat
Kau hanya pembunuh tanpaku
Aku
mayat tanpamu

*Judul Ini memang sama persis dengan Judul cerpen Pandi Merdeka, yang dimuat di Tabloid Institut edisi III. Namun isi tulisan ini beda. Sengaja ku pilih judul itu karena tiba-tiba ia menonjokku di depan gerbang metafisika yang tersingkap ini. Tanks Pandi Merdeka atas kedatangan kalimatmu... Semoga Tuan Kost Dunia Ini memberkatimu.....

17

Panas dingin udara itu
Hari tak terlupakan
Bagiku entah orang lain
Kau tahu
Aku tak sanggup mengungkap kata-kata
Bukti diri pada hati

Dia datang
membawa secangkir kilau air
Di tengah tak menentunya hati langit

Bumi Ganjing

Jantung bumi menyanyikan cord angin
mawar merekah di wajahnya
Diukirnya otakku
Menyulam jala intan

Dan mawar itu
Tak segera bersayap
Meminta keabadian
tanpa materi

Tangan mata mengalir di rambutnya
Jatuh di depan teras nol
Kutuang magnet dalam bejana kosong
Dia hanya tanah
Pohon anggur yang tak habis ku petik
Melihatnya tanpa sadar
Menangkap bayangmu di sungai yang tenang

Kau tanggalkan cemari
Langit pun mengangkat airnya
Tapi cord angin telah memilikiku
Kau salib kalbuku di alun-alun
Dan aku jadi tuhan
Aku atau Kau yang menyembah

Minggu, 25 Oktober 2009

Lorong

Benarkah tak ada jalan selain jalan raya
Salahkah pembuat lorong-lorong kecil dalam gang
Yang berpesta di sana semut dan kalajengking
Memiara gajah dan memberi makan singa

Kenapa aku di tilang karena tak pakai helm
Aku di jalan setapak
Melepas kebisingan roda-roda besar
Mewah katanya
Aku benci bising motor
Erangan mobil
Busuk asap kenalpot
Siapa yang mau memberiku izin lewat jalan ini
Ku bayar dengan hidupku
Benarkah
Mudah-mudahan
Asal aku bahagia
Apa? Bahagia?
Kata apa itu, ku tak tahu
Aku benci jalan raya
Aku mau mendaki gunung saja.
Siapa yang sanggup peduli
Siapa yang sanggup memberi izin
Siapa yang mau menemani
Mendaki
Ya,, orang ini yang akan ku bayar
Ku bayar dengan hidupku semampu
Temaniku mendaki gunung
Berat tapi indah
Nikmat sejuk dan alami
Tak ada kemunafikan
Tak ada dalam keranjang hitam
Pohon itu selalu menjawab pertanyaanku
Di mendengarku dan memberiku segarnya angin
Huuuu Pohon

0

Tak bisa ku ingkari nurani

Dia Ada dalam aku

Sebaliknya sebaiknya

Luka sembuh tak berbekas

Semua ringan

Semua baik

Semua orang

Tak ada yang menenangkan dan memuakkan

Di titik nol ini jalan lurus

Meniti jembatan sirotolmustaqim

Keseimbangan penuh

Tak berat kanan kiri

Hanya ada nikmat tanpa asal tujuan

Itukah

Mendaki gunung-gunung ABC

Lembah xyz

Ayunkan lengan kibaskan tapak

Rumah berdiri

cukup